Daftar isi
Kutukan Tantalus Modern
Bayangkan ini: Anda duduk untuk mengerjakan proyek penting. Laptop terbuka. Kopi di samping. Fokus penuh.
Lalu...
Ding. Email masuk.
Anda buka "sebentar saja"—30 menit berlalu.
Kembali fokus. Mulai lagi.
Buzz. Pesan WhatsApp dari grup keluarga.
Baca sekilas, ikut ngobrol—20 menit hilang.
Fokus lagi. Kali ini serius.
Tapi otak Anda berkata: "Cek Instagram dulu, cuma 5 menit." Satu jam kemudian, Anda masih scroll tanpa henti.
Akhir hari: Anda sibuk seharian, tapi tidak menyelesaikan apa-apa yang penting.
Ini adalah kutukan Tantalus modern.
Dalam mitologi Yunani, Tantalus dikutuk berdiri di kolam air dengan buah menggantung di atas kepalanya. Setiap kali dia mencoba meraih buah, cabang menjauh. Setiap kali dia membungkuk untuk minum, air surut.
Selalu hampir. Tidak pernah cukup.
Kehidupan kita hari ini seperti itu. Produktivitas yang tampak dekat tapi selalu luput. Waktu berkualitas dengan keluarga yang selalu tertunda. Proyek penting yang tidak pernah selesai.
Bukan karena kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita tahu. Masalahnya adalah kita terus terganggu.
Nir Eyal, penulis bestseller "Hooked" yang mengajarkan cara membuat produk adiktif, sekarang menulis kebalikannya: bagaimana tidak menjadi korban dari produk-produk itu.
Dan inilah insight pertamanya yang mengejutkan:
Teknologi bukan musuh utama. Ketidaknyamanan internal kita yang sebenarnya menjadi akar masalah.
Mari kita mulai perjalanan untuk menjadi indistractable—orang yang mengontrol perhatian mereka sendiri.
Bagian 1: Traction vs Distraction—Memahami Perbedaannya
Dua Jenis Tindakan
Setiap tindakan yang Anda lakukan masuk dalam salah satu dari dua kategori:
Traction (Tarikan) = Tindakan yang membawa Anda lebih dekat ke tujuan. Yang Anda ingin lakukan.
Contoh:
- Bekerja pada proposal penting
- Bermain dengan anak tanpa ponsel
- Berolahraga sesuai rencana
- Belajar skill baru
Distraction (Gangguan) = Tindakan yang membawa Anda menjauh dari tujuan. Yang tidak Anda inginkan tapi tetap lakukan.
Contoh:
- Scroll media sosial saat seharusnya bekerja
- Main game saat seharusnya tidur
- Memeriksa email setiap 5 menit
- Nonton Netflix episode ke-7 padahal besok harus presentasi
Yang penting: Traction dan distraction tidak ditentukan oleh aktivitasnya, tapi oleh konteksnya.
Membuka Instagram bisa jadi traction jika Anda social media manager yang sedang bekerja. Tapi jadi distraction jika Anda seorang akuntan yang seharusnya audit laporan keuangan.
Triggers: Pemicu Tindakan
Semua tindakan—traction atau distraction—dimulai dari trigger (pemicu).
Ada dua jenis trigger:
1. Internal Triggers = Pemicu dari dalam diri (emosi, perasaan, pikiran)
2. External Triggers = Pemicu dari luar (notifikasi, orang lain, lingkungan)
Kebanyakan orang berpikir masalahnya adalah external triggers—ponsel yang selalu berbunyi, rekan kerja yang mengganggu, email yang tak henti.
Tapi Nir Eyal menemukan kebenaran yang tidak nyaman:
90% distraksi kita berasal dari internal triggers, bukan eksternal.
Mari kita bedah ini lebih dalam.
Bagian 2: Akar Masalah—Internal Triggers
Mengapa Kita Terganggu?
Coba ingat terakhir kali Anda scroll Instagram tanpa alasan jelas.
Apa yang Anda rasakan sesaat sebelumnya?
- Bosan?
- Cemas?
- Kesepian?
- Tidak yakin harus mengerjakan apa?
- Lelah mental?
Ini adalah internal triggers.
Nir Eyal mengutip penelitian psikologi yang menunjukkan: Semua perilaku manusia pada dasarnya adalah upaya untuk menghindari ketidaknyamanan.
Kita tidak membuka ponsel karena ponsel menarik. Kita membuka ponsel karena kita merasakan ketidaknyamanan—dan ponsel adalah pelarian tercepat.
Ketidaknyamanan adalah Normal
Inilah yang kebanyakan orang tidak mengerti: Ketidaknyamanan adalah bagian normal dari pekerjaan dan kehidupan.
- Menulis itu sulit—makanya kita prokrastinasi
- Olahraga itu tidak nyaman—makanya kita skip
- Percakapan sulit dengan pasangan itu canggung—makanya kita hindari
Otak kita dirancang untuk mencari kenyamanan dan menghindari rasa sakit. Ini evolusi. Ini membantu nenek moyang kita bertahan hidup.
Tapi di dunia modern, mekanisme ini bekerja melawan kita. Setiap kali kita merasa sedikit tidak nyaman, ada distraksi yang siap memberikan kelegaan instan:
- Merasa bosan → buka TikTok
- Merasa cemas → cek berita
- Merasa kesepian → scroll Instagram
- Merasa overwhelmed → main game
Masalahnya: Kelegaan itu sementara. Ketidaknyamanan asli tidak pernah diselesaikan.
Cara Mengatasi Internal Triggers
Langkah 1: Notice the Trigger (Sadari Pemicunya)
Ketika Anda merasa ingin membuka ponsel atau distraksi lain, berhenti sejenak. Tanyakan:
"Apa yang saya rasakan sekarang?"
Bukan "Apa yang saya pikirkan"—tapi "Apa yang saya rasakan."
Tulis dalam jurnal:
- Waktu
- Apa yang sedang dilakukan
- Emosi yang dirasakan
Contoh: "10:30 AM. Sedang menulis laporan. Merasa cemas karena tidak tahu harus mulai dari mana. Ingin buka Instagram."
Langkah 2: Explore the Sensation (Jelajahi Sensasi)
Alih-alih langsung menghindar, amati ketidaknyamanan dengan rasa ingin tahu—bukan penghakiman.
Teknik sederhana: 10-Minute Rule
Ketika Anda merasa ingin distraksi, katakan pada diri sendiri:
"Oke, aku boleh melakukan itu—tapi tunggu 10 menit dulu."
Dalam 10 menit itu:
- Amati perasaan Anda
- Biarkan itu ada tanpa bereaksi
- Biasanya, urge akan melemah atau hilang
Langkah 3: Reimagine the Task (Bayangkan Ulang Tugas)
Alih-alih melihat tugas sebagai siksaan, reframe:
Bukan: "Aku harus menulis laporan yang membosankan ini." Tapi: "Ini adalah kesempatan untuk menyelesaikan sesuatu dan merasa accomplished."
Bukan: "Olahraga itu menyakitkan." Tapi: "Aku sedang melatih tubuhku menjadi lebih kuat."
Langkah 4: Master the Internal Trigger (Kuasai Pemicu Internal)
Semakin sering Anda mempraktikkan langkah 1-3, semakin kuat kemampuan Anda menghadapi ketidaknyamanan tanpa pelarian.
Ini bukan tentang menghilangkan ketidaknyamanan—itu mustahil. Ini tentang mengubah relasi Anda dengan ketidaknyamanan.
Bagian 3: Make Time for Traction—Jadwal Berdasarkan Nilai
Masalah dengan To-Do List
Kebanyakan orang hidup berdasarkan to-do list:
- Email ke klien
- Rapat dengan tim
- Revisi proposal
- Dst.
Masalahnya: To-do list tidak pernah selesai. Selalu ada tugas baru. Anda merasa sibuk tapi tidak fulfilled.
Nir Eyal mengusulkan pendekatan radikal: Buang to-do list. Gunakan timeboxing berdasarkan nilai.
Timeboxing: Alokasikan Waktu, Bukan Tugas
Timeboxing artinya menjadwalkan kapan Anda akan melakukan sesuatu, bukan sekadar membuat daftar apa yang harus dilakukan.
Setiap blok waktu dalam kalender Anda adalah komitmen. Apapun yang terjadi di luar jadwal itu—bahkan hal "produktif"—adalah distraksi.
Contoh:
Bukan ini: To-do: Menulis artikel, olahraga, main dengan anak
Tapi ini:
- 8:00-10:00 AM: Menulis artikel
- 6:00-7:00 PM: Olahraga
- 7:30-9:00 PM: Main dengan anak
Jika Anda mengecek email pada pukul 8:30 AM (saat seharusnya menulis), itu adalah distraksi—meskipun email itu penting.
Tiga Domain Kehidupan
Jadwal Anda harus mencerminkan tiga tanggung jawab utama:
1. You (Diri Sendiri)
Waktu untuk diri sendiri sering kali yang pertama dikorbankan. Tapi tanpa ini, Anda akan burnout.
Alokasikan waktu untuk:
- Self-care (olahraga, meditasi, hobi)
- Belajar dan pertumbuhan personal
- Refleksi dan planning
2. Relationships (Hubungan)
Keluarga dan teman adalah prioritas tinggi—tapi sering tidak tercermin di kalender.
Jadwalkan:
- Waktu dengan pasangan (tanpa gangguan)
- Waktu dengan anak-anak
- Waktu dengan sahabat
- Tanggung jawab rumah tangga
3. Work (Pekerjaan)
Baru setelah You dan Relationships, jadwalkan pekerjaan.
Jangan biarkan pekerjaan memakan semua waktu dan mengabaikan dua domain lainnya.
Sync dengan Stakeholders
Setelah membuat jadwal berdasarkan nilai Anda, share dengan orang-orang yang relevan:
- Pasangan perlu tahu kapan Anda available
- Anak-anak perlu tahu kapan "waktu mereka"
- Boss dan rekan kerja perlu tahu kapan Anda fokus dan kapan available
Transparansi mencegah ekspektasi yang salah dan konflik.
Bagian 4: Hack Back External Triggers
Setelah menguasai internal triggers dan membuat jadwal, saatnya tackle external triggers.
Not All External Triggers Are Bad
Ada dua jenis external triggers:
1. Serving Triggers = Membantu Anda mencapai traction
Contoh:
- Alarm untuk bangun pagi
- Kalender reminder untuk meeting
- Timer untuk fokus kerja
2. Distracting Triggers = Menarik Anda ke distraction
Contoh:
- Notifikasi media sosial
- Email yang masuk terus-menerus
- Rekan kerja yang interrupt tanpa alasan penting
Pertanyaan kunci untuk setiap trigger:
"Apakah trigger ini melayani saya, atau saya melayani trigger ini?"
Defend Your Focus: Hack Back Technology
1. Turn Off Semua Notifikasi yang Tidak Penting
Secara default, matikan semua notifikasi. Lalu nyalakan hanya yang benar-benar penting.
Pertanyaan filter:
- Apakah notifikasi ini time-sensitive dan urgent?
- Apakah saya perlu tahu ini dalam 5 menit setelah terjadi?
Kalau tidak, matikan.
2. Gunakan App Blocker
Install extension atau app yang memblokir situs/app mengganggu selama waktu fokus:
- Freedom
- Cold Turkey
- Forest
3. Declutter Your Phone
- Hapus app yang tidak perlu
- Pindahkan app mengganggu (Instagram, TikTok) ke folder tersembunyi
- Nonaktifkan badge notifications (angka merah)
- Gunakan mode grayscale untuk membuat ponsel kurang menarik
4. Taming Email
Email adalah salah satu sumber distraksi terbesar. Strategi:
- Check Email pada Waktu Terjadwal: Misalnya 10 AM, 2 PM, 5 PM. Jangan biarkan email mengontrol hari Anda.
- Kirim Lebih Sedikit, Terima Lebih Sedikit: Setiap email yang Anda kirim mengundang balasan.
- Unsubscribe Agresif: Jika tidak membaca dalam 2 minggu, unsubscribe.
- Use Templates: Buat template untuk email berulang—hemat waktu dan energi mental.
5. Group Chat: Masuk dan Keluar dengan Cepat
Slack, WhatsApp grup, dan group chat adalah distraksi kronis. Aturan:
- Cek pada waktu terjadwal (misalnya setiap 2 jam)
- Jangan gunakan untuk "berpikir keras"—write thoughtfully sebelum kirim
- Minimize grup yang Anda ikuti
Defend Your Focus: Hack Back People
Orang lain—rekan kerja, teman, keluarga—bisa jadi sumber distraksi terbesar.
1. Signal Your Unavailability
Gunakan visual cue bahwa Anda sedang fokus:
- Headphone (bahkan jika tidak mendengarkan musik)
- Sign di meja: "Deep Work Mode—Available at 2 PM"
- Close office door (jika punya)
- Status di Slack: "Focusing—respond after 3 PM"
2. Have a "Do Not Disturb" Schedule
Komunikasikan ke tim dan keluarga:
"Setiap hari pukul 9-11 AM, saya deep work. Kecuali emergency, tolong jangan ganggu."
3. When Interrupted, Ask: "Is Everything OK?"
Ketika seseorang mengganggu dengan ponsel atau gangguan lain, tanyakan dengan genuinely:
"Saya lihat kamu sedang buka ponsel. Ada yang perlu dibantu?"
Ini membuat orang sadar tanpa konfrontatif.
Bagian 5: Prevent Distraction with Pacts
Setelah menguasai internal triggers, membuat jadwal, dan menghilangkan external triggers, langkah terakhir adalah precommitment—membuat perjanjian dengan diri sendiri.
Apa Itu Precommitment?
Precommitment adalah menghilangkan pilihan di masa depan ketika Anda dalam kondisi jernih sekarang.
Contoh klasik: Ulysses mengikat dirinya ke tiang kapal agar tidak tergoda nyanyian Siren.
Dalam konteks modern: Membuat distraksi sulit atau mahal sebelum godaan datang.
Tiga Jenis Pacts
1. Effort Pact (Perjanjian Usaha)
Membuat distraksi memerlukan usaha ekstra.
Contoh:
- Simpan ponsel di laci terkunci saat bekerja
- Logout dari semua media sosial—butuh effort untuk login lagi
- Hapus app games dari ponsel—butuh effort untuk download lagi
- Kerja di coffee shop tanpa WiFi password
2. Price Pact (Perjanjian Harga)
Membuat distraksi menjadi mahal—secara finansial atau sosial.
Contoh:
- Taruhan dengan teman: "Jika saya cek Instagram saat kita makan siang, saya traktir $50"
- Menggunakan app seperti Beeminder yang charge uang jika Anda tidak capai goal
- Join accountability group—jika tidak deliver, harus bayar denda
3. Identity Pact (Perjanjian Identitas)
Yang paling powerful: membuat "indistractable" bagian dari identitas Anda.
Orang bertindak konsisten dengan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri.
Contoh:
- "Saya bukan orang yang scroll media sosial saat makan dengan teman"
- "Saya adalah orang yang menyelesaikan apa yang saya katakan akan saya lakukan"
- "Saya indistractable"
Ketika ini bagian dari identitas, Anda tidak perlu willpower—Anda hanya "jadi diri sendiri."
Urutan Penting
CRITICAL: Pacts hanya bekerja jika Anda sudah menguasai 3 langkah sebelumnya:
1. Master internal triggers
2. Make time for traction
3. Hack back external triggers
Jika tidak, pacts akan gagal. Mengapa? Karena Anda akan menemukan cara lain untuk distract yourself.
Bagian 6: Indistractable di Tempat Kerja
Budaya "Always On" yang Meracuni
Banyak perusahaan secara tidak sengaja menciptakan budaya distraksi:
- Ekspektasi respons email dalam hitungan menit
- Rapat yang tidak perlu dan tidak efisien
- Slack/chat yang aktif 24/7
- "Open door policy" yang artinya siapa saja bisa ganggu kapan saja
Ini bukan budaya produktif. Ini budaya reactive—semua orang terus bereaksi, tidak ada yang fokus.
Psychological Safety: Kunci Produktivitas
Nir Eyal mengutip penelitian Google's Project Aristotle yang menemukan faktor terpenting tim yang efektif: psychological safety.
Artinya: orang merasa aman untuk berkata "tidak," untuk fokus pada deep work tanpa dihakimi, untuk set boundaries tanpa dianggap tidak komit.
Tanpa ini, orang takut untuk:
- Ignore email "urgent"
- Bilang "saya sedang fokus, bisa nanti?"
- Push back pada rapat yang tidak perlu
Cara Menciptakan Budaya Indistractable
1. Leadership by Example
Pemimpin harus modeling perilaku indistractable:
- Jangan kirim email tengah malam (atau use delayed send)
- Hormati waktu fokus tim
- Jangan interupsi tanpa alasan jelas
- Publicly commit pada deep work time
2. ScheduleSync
Buat kalender tim visible. Semua orang tahu kapan rekan kerja sedang fokus dan kapan available.
3. Default to Asynchronous Communication
Tidak semua perlu respons instant. Default ke komunikasi asynchronous:
- Email untuk non-urgent
- Slack untuk semi-urgent
- Call/meeting untuk truly urgent
4. Meeting Hygiene
- Setiap meeting harus punya agenda jelas
- Invite hanya orang yang benar-benar perlu
- Batas waktu ketat
- No-device rule (kecuali untuk note-taking)
Bagian 7: Raising Indistractable Kids
Mitos yang Berbahaya
Banyak orang tua panik tentang screen time anak. Tapi Nir Eyal menantang asumsi umum:
Teknologi bukan masalahnya. Konteks dan kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi yang menjadi masalah.
Sama seperti orang dewasa, anak-anak distracted bukan karena ponsel menarik—tapi karena mereka melarikan diri dari ketidaknyamanan.
Tiga Kebutuhan Psikologis
Menurut Self-Determination Theory, semua manusia (termasuk anak-anak) punya tiga kebutuhan psikologis dasar:
1. Autonomy (Otonomi)
Perasaan punya kontrol atas hidup mereka.
Jika orang tua terlalu kontrol, anak akan rebel atau melarikan diri ke teknologi untuk mendapatkan sense of control.
2. Competence (Kompetensi)
Perasaan mampu dan berkembang.
Jika anak merasa tidak kompeten di sekolah atau aktivitas lain, mereka akan cari validasi di game atau media sosial.
3. Relatedness (Keterkaitan)
Perasaan terhubung dengan orang lain.
Jika anak merasa kesepian atau disconnected dari keluarga/teman, mereka akan cari koneksi online.
Strategi Praktis
1. Jangan Larang, Tapi Ajari
Alih-alih: "Tidak boleh main gadget!" Coba: "Mari kita bicara tentang bagaimana menggunakan gadget dengan sehat."
Anak perlu belajar self-regulation, bukan hanya patuh pada aturan eksternal.
2. Libatkan Mereka dalam Membuat Aturan
Jangan dictate. Diskusikan bersama:
- "Menurutmu berapa lama screen time yang wajar?"
- "Kapan waktu yang tepat untuk gadget dan kapan tidak?"
Ketika anak involved dalam membuat aturan, mereka lebih commit.
3. Pacts untuk Anak
Sama seperti orang dewasa, anak bisa membuat pacts:
- Effort pact: Simpan tablet di lemari orang tua setelah pukul 8 PM
- Price pact: Jika melanggar screen time limit, kehilangan privilege tertentu
- Identity pact: "Aku bukan anak yang rude pakai ponsel saat makan keluarga"
4. Model Behavior
Anak belajar dari apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda katakan.
Jika Anda terus main ponsel saat makan malam, jangan harap anak tidak melakukannya.
5. Create Indistractable Spaces
Tetapkan area dan waktu bebas gadget:
- Meja makan saat makan bersama
- Kamar tidur (untuk semua anggota keluarga)
- Family time di malam hari
Bagian 8: Indistractable Relationships
Social Media: Musuh atau Teman?
Nir Eyal berpendapat: Social media bukan musuh. Cara kita menggunakannya yang menentukan.
Riset menunjukkan:
- Passive consumption (scroll tanpa interaksi) = membuat kita lebih sedih dan cemas
- Active engagement (komentar, chat dengan teman) = bisa meningkatkan well-being
Kuncinya: Intentional use vs mindless scrolling.
When with Others, Be Present
Salah satu bentuk distraksi paling merusak adalah ketika kita physically present tapi mentally absent.
Anda makan dengan teman, tapi terus cek ponsel. Anda main dengan anak, tapi pikiran di email kantor.
Ini disebut phubbing (phone + snubbing)—dan research menunjukkan itu merusak hubungan.
Strategi sederhana:
1. Phone-Free Zones
Tetapkan waktu dan tempat di mana ponsel tidak boleh ada:
- Saat makan bersama
- Saat quality time dengan pasangan/anak
- Saat ngobrol serius dengan teman
2. The Basket Rule
Ketika teman/keluarga berkumpul, semua ponsel masuk ke basket di tengah meja. Yang pertama ambil ponsel harus traktir semua orang.
3. Ask, Don't Assume
Ketika seseorang dengan Anda tiba-tiba main ponsel, jangan langsung marah. Tanyakan:
"Aku lihat kamu buka ponsel. Ada yang urgent? Atau ada yang bisa aku bantu?"
Mungkinmerekacemastentangsesuatu. Mungkinadaemergency. Komunikasi lebihbaikdari asumsi.
Penutup: Dua Jenis Manusia di Masa Depan
Nir Eyal menutup bukunya dengan prediksi:
"Di masa depan, akan ada dua jenis manusia: mereka yang membiarkan perhatian dan hidup mereka dikontrol orang lain, dan mereka yang dengan bangga menyebut diri mereka 'indistractable.'"
Ini bukan tentang menjadi sempurna. Ini tentang secara konsisten memilih traction daripada distraction.
Pelajaran Kunci
1. Distraksi Dimulai dari Dalam
Bukan teknologi. Bukan lingkungan. Tapi ketidaknyamanan internal yang kita hindari.
Solusi: Belajar duduk dengan ketidaknyamanan tanpa pelarian instan.
2. Schedule Your Values
Jangan hidup berdasarkan to-do list atau reaktif terhadap email/chat.
Jadwalkan waktu berdasarkan nilai Anda—diri sendiri, hubungan, dan pekerjaan.
3. Hack Back Triggers
Tidak semua trigger buruk. Tapi tanyakan: "Apakah ini melayani saya?"
Jika tidak, hilangkan atau kurangi.
4. Precommitment Is Powerful
Buat perjanjian dengan diri sendiri sebelum godaan datang.
Effort pact, price pact, dan identity pact—gunakan semuanya.
5. Culture Matters
Di tempat kerja dan di rumah, ciptakan budaya yang mendukung fokus dan psychological safety.
6. Teach, Don't Control
Untuk anak-anak (dan diri sendiri), ajari self-regulation, jangan hanya kontrol eksternal.
7. Indistractable Is a Skill
Bukan bakat bawaan. Bukan tentang punya willpower super. Ini skill yang bisa dipelajari.
Dan seperti skill lain, semakin sering dipraktikkan, semakin kuat.
Pertanyaan untuk Anda
Sebelum menutup ringkasan ini, refleksikan:
- Apa internal trigger terbesar Anda? (Bosan? Cemas? Kesepian?)
- Apakah jadwal Anda mencerminkan nilai Anda, atau hanya reaktif terhadap urgencies?
- External trigger mana yang bisa Anda eliminasi hari ini?
- Pact apa yang bisa Anda buat dengan diri sendiri?
Ingat kata-kata Nir Eyal:
"Menjadi indistractable adalah tentang menghormati komitmen Anda—kepada diri sendiri dan orang lain. Ini tentang menjadi orang yang Anda katakan akan Anda jadi."
Teknologi tidak akan hilang. Distraksi tidak akan berhenti datang.
Tapi Anda bisa memilih: Apakah Anda akan menjadi korban, atau master dari perhatian Anda sendiri?
Pilihan ada di tangan Anda.
Mulai dari hari ini. Mulai dari satu langkah kecil.
Jadilah indistractable.
Tentang Buku Asli
"Indistractable: How to Control Your Attention and Choose Your Life" diterbitkan pada tahun 2019 dan segera menjadi panduan praktis bagi siapa saja yang berjuang dengan fokus di era digital.
Nir Eyal adalah penulis bestseller "Hooked: How to Build Habit-Forming Products" yang mengajarkan perusahaan teknologi cara membuat produk adiktif. Ironi yang menarik: setelah membantu menciptakan masalah, dia kini memberikan solusinya.
Tapi ini bukan kontradiksi. Justru karena Eyal memahami psikologi habit formation dan teknologi persuasif, dia bisa memberikan antidote yang efektif. Dia tahu persis bagaimana produk-produk ini dirancang untuk menarik perhatian—dan karena itu, dia tahu bagaimana melawannya.
Eyal juga adalah dosen di Stanford Graduate School of Business dan konsultan untuk berbagai perusahaan teknologi. Dia menulis untuk publikasi terkemuka seperti Harvard Business Review, TechCrunch, dan Psychology Today.
Untuk pemahaman lengkap dengan lebih banyak riset, studi kasus, dan teknik praktis, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap framework dan ide-ide inti, tapi buku lengkap memberikan depth, nuance, dan banyak contoh praktis yang akan membantu Anda benar-benar menjadi indistractable.
Sekarang pergilah dan mulai menguasai perhatian Anda. Dunia penuh dengan distraksi, tapi Anda punya kekuatan untuk memilih.
Your attention is yours. Take it back.