Daftar isi
Gym Kosong di Pagi Buta
5:30 pagi. Parkiran sekolah masih sepi. Anak-anak masih tidur di rumah. Stephen Curry menyetir mobilnya masuk ke area sekolah menengah yang hanya dia—dan sangat sedikit orang—tahu kodenya untuk masuk ke gym.
Ini gym rahasia. Salah satu dari beberapa tempat di mana dia bisa berlatih musim panas tanpa ada yang tahu. Tanpa kamera. Tanpa fans. Tanpa distraksi.
Dia menekan kode. Pintu terbuka. Lampu fluorescent berkedip hidup satu per satu, menerangi lapangan kayu yang mengkilap.
Dia mengambil bola. Men-dribble keras sekali. Suara bola memantul bergema di gym kosong. "Intensity dan intention," katanya dalam hati. "Bahkan di gym latihan kosong, ini penting."
Biasanya, dia bertemu pelatih personalnya Brandon Payne di sini. Mereka fokus pada detail teknis dari satu jenis tembakan spesifik yang ada di pikiran Steph.
Mereka tidak latihan sampai dia bisa melakukannya dengan benar.
Mereka latihan sampai dia tidak bisa melakukannya dengan salah.
Ada perbedaan besar di sana.
Inilah rahasia Stephen Curry—pria yang mengubah permainan basketball dengan tembakan tiga angka yang mustahil, yang memimpin Golden State Warriors meraih empat championship NBA, yang dipilih sebagai MVP dua kali berturut-turut, yang memegang rekor sepanjang masa untuk tembakan tiga angka terbanyak dalam sejarah NBA.
Rahasianya bukan bakat semata. Bukan keberuntungan. Bukan gen dari ayah yang juga pemain NBA.
Rahasianya adalah persiapan yang tidak kenal kompromi.
Di gym kosong ini, jauh sebelum lampu stadion menyala, jauh sebelum 20,000 fans berteriak, jauh sebelum momen championship di garis—Steph membangun fondasi yang membuatnya shot ready: siap mengambil tembakan kapan pun dibutuhkan.
"Shot Ready" bukan hanya buku tentang basketball. Ini adalah filosofi tentang bagaimana mempersiapkan diri untuk momen-momen penting dalam hidup. Bagaimana tetap tenang di tengah chaos. Bagaimana menemukan kegembiraan di tengah tekanan. Bagaimana terus berkembang meskipun sudah di puncak.
Mari kita masuk ke gym bersama Steph.
Bagian 1: Rookie—Menemukan Jalan Anda
Terlalu Kecil, Terlalu Lemah, Terlalu Underrated
Steph Curry tidak selalu menjadi superstar.
Ketika draft NBA 2009, banyak scout meragukan dia. Terlalu kecil (183 cm untuk point guard NBA adalah di bawah rata-rata). Terlalu kurus. Tidak cukup atletis. Dari college yang "tidak prestisius" (Davidson, bukan Duke atau North Carolina).
"Dia tidak akan bertahan di NBA," kata para analis.
Golden State Warriors memilihnya di pick ke-7—bukan pick pertama, kedua, atau ketiga. Bahkan timnya sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Tapi Steph punya sesuatu yang tidak terlihat di combine test atau statistik: hunger (kelaparan untuk membuktikan) dan work ethic (etos kerja) yang luar biasa.
Sejak hari pertama sebagai rookie, dia tahu: "Saya harus bekerja lebih keras dari semua orang untuk bertahan."
Pelajaran dari Rookie Year: Tunnel Vision
Tahun pertama Steph di Warriors tidak glamor. Tim mereka buruk. Kalah lebih banyak dari menang. Media mengkritik. Fans frustrasi.
Steph mengingat nasihat dari mentor veterannya: "Potong tanganmu dekat dengan mata. Kamu harus punya tunnel vision di awal karir. Meskipun tim belum siap untuk sukses, kamu harus menemukan cara untuk terus berkembang."
Tunnel vision artinya:
- Fokus pada apa yang bisa kamu kontrol: Latihanmu. Dietmu. Recovery-mu. Skillmu.
- Blokir semua noise: Kritik media. Ekspektasi. Perbandingan dengan draft pick lain.
- Bangun habit yang benar: Sehingga ketika kesempatan datang, kamu siap.
Pelajaran: Ketika kamu rookie di bidang apa pun—pekerjaan baru, bisnis baru, skill baru—jangan terganggu oleh hasil tim atau lingkungan yang belum mendukung. Fokus pada daily improvement.
Rise Into Your Shot—Mekanik yang Sempurna
Steph menulis: "Plant those arches—knees bent behind those 10 toes pointing at the hoop, hips squared with your shoulders—and draw your power up so you explode off the ground and rise into your shot."
Ini adalah mekanik dasar tembakan yang dia latih ribuan kali.
Tapi inilah yang brilian: Mekanik yang sama untuk tembakan di depan ring adalah mekanik yang sama untuk tembakan dari logo (setengah lapangan).
Kamu tidak bisa tembak sempurna dari tiga angka jika kamu tidak bisa tembak sempurna dari dua meter.
Kamu tidak menambah range dengan mengubah mekanik. Kamu membangun mekanik yang benar dulu, baru menambah range.
Aplikasi dalam hidup: Kuasai fundamentals terlebih dahulu. Sebelum kamu mencoba "moonshot" besar, pastikan kamu bisa melakukan hal-hal dasar dengan sempurna. Foundations yang kuat memungkinkan growth yang sustainable.
Making Practice Harder Makes Life Easier
Di musim panas, Steph latihan dengan cara yang lebih sulit dari pertandingan sebenarnya:
- Dribbling dengan dua bola sekaligus sambil seseorang berteriak dan mengganggu
- Shooting dengan orang yang melambaikan tangan di depan wajahnya
- Sprints dengan sandbag di dada untuk melatih recovery pernapasan
Mengapa membuat latihan lebih sulit?
Karena ketika kamu sudah terbiasa dengan yang ekstrem, yang normal terasa mudah.
Steph bisa menurunkan heart rate-nya dari sprint penuh kembali ke resting dalam 90 detik—durasi timeout NBA.
Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari berlatih breathwork dengan sandbag di dada setelah sprint.
Pelajaran: Jangan cari jalan mudah dalam latihan. Embrace the difficult. Ketika kamu latihan di kondisi yang lebih keras dari kompetisi, kamu akan unggul ketika waktunya tiba.
Bagian 2: Pro (Leader)—Dari Pemain Menjadi Pemimpin
Joy is the Differentiator
Ketika semua orang di level elite bekerja keras—dan mereka semua bekerja keras—apa yang membedakan?
Joy.
Steph menulis: "Ketika semua orang committed to excellence dan bekerja keras, kegembiraan akan menjadi pembeda."
Perhatikan Steph bermain. Dia tersenyum. Dia tertawa. Dia menari kecil setelah tembakan masuk. Dia nikmati permainan.
Ini bukan karena dia tidak serius. Ini karena dia sangat serius sehingga dia bisa rileks.
"Ease only comes from discipline," katanya. "Saya latihan cukup keras sehingga saya mencapai semacam kebebasan. Dalam flow state itu, saya bisa membiarkan kegembiraan dan kreativitas mengambil alih."
Bayangkan: Di detik-detik terakhir pertandingan final. 20,000 orang berteriak. Defender melambai-lambaikan tangan di wajahmu. Tekanan maksimal.
Tapi Steph? Dia tersenyum.
Bukan karena dia tidak merasa tekanan. Tapi karena persiapannya sangat solid sehingga dia trust the process.
Aplikasi dalam hidup: Kalau kamu stress dan tidak nikmati apa yang kamu lakukan, mungkin kamu belum cukup siap. Persiapan yang baik menciptakan confidence. Confidence menciptakan calm. Calm memungkinkan joy.
Calm in the Midst of Chaos
Dalam momen high-pressure, tubuh Steph bereaksi berbeda dari kebanyakan orang.
Dia jelaskan: "Airways saya terbuka, menambah oksigen ke darah, karena paru-paru saya sudah supercharged dari breathwork yang saya praktikkan. Jantung saya tidak berdebar—hanya berdetak lebih cepat untuk memompa darah beroksigen. Adrenalin bahkan pergi ke mata saya, yang melebar untuk melihat setiap kemungkinan. Otak saya memproses informasi visual lebih cepat dari kecepatan pikiran dan menggerakkan otot mengikuti plan yang sudah proven."
Ini bukan magic. Ini hasil dari training the nervous system.
- Breathwork: Latihan pernapasan untuk mengontrol response adrenalin
- Visualization: Membayangkan skenario high-pressure berulang kali
- Repetition: Ribuan repetisi sehingga muscle memory mengambil alih
Pelajaran: Kamu bisa melatih dirimu untuk tetap tenang dalam tekanan. Bukan dengan menghindari pressure, tapi dengan repeatedly expose yourself to it dalam setting yang controlled.
From Phenom to Leader
Ketika Steph masih rookie, dia fokus pada game sendiri. Tapi ketika Warriors mulai menang dan dia menjadi face of the franchise, dia harus transform dari pemain individual menjadi leader.
Perbedaan antara star player dan leader:
Star Player:
- Fokus pada statistik personal
- "Bagaimana saya bisa score lebih banyak?"
- Individualistic
Leader:
- Fokus pada sukses tim
- "Bagaimana saya bisa membuat semua orang di sekitar saya lebih baik?"
- Collaborative
Steph belajar: "Leadership bukan tentang being the loudest voice in the room. Leadership is about actions, consistency, and making your teammates feel valued."
Dia mengundang rookie untuk bertanya. Dia share knowledge—bahkan dengan competitor di tim lain. Dia membuat lingkungan di mana semua orang merasa bisa berkembang.
Aplikasi dalam hidup: Ketika kamu naik ke level leadership—apakah di pekerjaan, bisnis, atau komunitas—shift dari "What can I achieve?" menjadi "Who can I help achieve?"
Protect Your Passion
Di tengah kesuksesan, tekanan meningkat. Ekspektasi naik. Media menuntut. Jadwal padat. Sponsor meminta waktu.
Steph menulis pesan penting: "Protect your passion."
Apa artinya?
- Jaga api yang membuat kamu jatuh cinta dengan apa yang kamu lakukan
- Jangan biarkan external pressures kill internal motivation
- Kembali ke akar—ke gym kosong, ke alasan pertama kamu mulai
Banyak athlete atau professional burnout bukan karena terlalu banyak bekerja, tapi karena mereka lupa mengapa mereka mulai.
Steph tetap kembali ke gym-gym kecil yang kosong di musim panas. Tidak ada kamera. Tidak ada fans. Hanya dia dan bola.
"Being here now grounds me in the memory of my earliest lessons," katanya.
Pelajaran: Semakin sukses kamu, semakin penting untuk protect your why. Temukan waktu untuk reconnect dengan passion murnimu, jauh dari spotlight dan ekspektasi.
Bagian 3: Veteran—Sustaining Excellence
How to Sustain High Levels of Performance
Veterans talk to Steph sepanjang waktu dengan satu pertanyaan: "Bagaimana kamu sustain performa tinggi begitu lama? Bagaimana kamu stretch your prime?"
Jawabannya ada di beberapa principle:
1. Recovery is Part of Training
Rookie berpikir: "Semakin banyak latihan, semakin baik."
Veteran tahu: "Training recovery makes the recovery more effective."
Steph tidak hanya latihan keras—dia recovery dengan intensity yang sama.
- Ice baths
- Stretching protocols
- Sleep hygiene (tidur cukup dan berkualitas)
- Nutrition yang dioptimalkan
"Kalau kamu hanya fokus pada training dan mengabaikan recovery, kamu akan breakdown," kata Steph.
2. Constant Improvement, Never Complacency
Bahkan setelah menjadi juara empat kali dan memegang rekor all-time untuk tiga angka, Steph masih mencari cara untuk improve.
Di musim panas, dia fokus pada satu aspek spesifik:
- Tahun ini: Finish dengan tangan kiri di traffic
- Tahun lalu: Off-ball movement untuk create space
- Tahun sebelumnya: Defensive positioning
"Ketika kamu berhenti improve, kamu mulai decline," katanya.
Pelajaran: Tidak peduli seberapa sukses kamu, selalu ada skill baru untuk di-master, weakness untuk di-address, dimension baru untuk explore.
3. Adapt to Changing Circumstances
Ketika Steph lebih muda, dia bisa mengandalkan pure athleticism. Ketika umur bertambah, dia harus adapt.
Alih-alih melawan realitas aging, dia embrace it:
- Fokus lebih pada skill dan IQ daripada speed
- Lebih efisien dalam pergerakan
- Lebih smart dalam konservasi energi di pertandingan
"Things will happen to you, and sometimes you won't see that they're happening for you," tulis Steph.
Injury yang memaksanya miss games? Kesempatan untuk develop aspek lain dari game-nya.
Team yang struggling? Kesempatan untuk develop leadership.
Aplikasi dalam hidup: Circumstances berubah. Umur bertambah. Kondisi tidak selalu ideal. Alih-alih resist, adapt. Find the gift in the challenge.
The Logo Shot—Same Mechanics, Different Range
Steph terkenal dengan tembakan dari logo—setengah lapangan, 50+ feet dari ring.
Orang bertanya: "Bagaimana mekanikmu untuk tembakan dari sana?"
Jawabannya mengejutkan: "Persis sama dengan tembakan dari depan ring."
Dia tidak mengubah form. Dia tidak pakai teknik spesial. Dia hanya menggunakan mekanik dasar yang sama yang dia latih sejak anak-anak, dengan lebih banyak power.
"If you're not shooting right in front of the basket, there is no way you are going to be perfect behind that 3-point line. You add range to your mechanics. It doesn't work the other way around."
Pesan powerful di sini: You can't skip fundamentals and go straight to flashy.
People want shortcut. Mereka mau hasil instant tanpa foundation.
Tapi Steph membuktikan: Greatness is built on boring fundamentals yang dilakukan dengan sempurna, ribuan kali.
Pelajaran: Jangan tergoda untuk loncat ke advanced stuff sebelum kamu master the basics. Fundamentals yang kuat adalah foundation untuk semua achievement di atasnya.
Sharing Knowledge—Elevating the Game
Steph dikenal sebagai pemain yang generous dengan knowledge-nya.
Rookie datang kepadanya untuk advice. Rising stars bertanya bagaimana adjust. Bahkan competitor dari tim lain kadang bertanya.
People outside the league bertanya: "Kenapa kamu kasih mereka edge? Bukankah itu bikin mereka lebih berbahaya?"
Steph menjawab: "Kami cinta permainan dan ingin melihatnya berkembang. Kami selalu berbagi sedikit wisdom. Better players membuat better games."
Tapi dia tambahkan dengan senyum: "Sekarang, I'm not trying to give them everything. But I'll give them something they can use. At the end of the day, we are still competitors."
Balance ini adalah kunci: Generous dalam sharing, tapi tetap competitive di lapangan.
Aplikasi dalam hidup: Rising tide lifts all boats. Ketika kamu share knowledge dan help others improve, kamu tidak melemahkan dirimu—kamu menaikkan level seluruh industry atau field. Dan ironisnya, teaching others adalah cara terbaik untuk deepen your own understanding.
Bagian 4: Shot Ready—Philosophy of Success
What Does "Shot Ready" Mean?
Di akhir buku, Steph distill everything menjadi satu konsep: Shot Ready.
"Success may not always look the way you expect, but it's attainable for all of us when the rigor of our preparation and the depth of our belief meet the urgency of the moment. That's what it means to be shot ready."
Mari break down formula ini:
Rigor of Preparation = Kerja keras yang tidak kenal kompromi. Latihan ribuan kali. Attention to detail. Recovery yang serius. Study lawan. Mental preparation.
Depth of Belief = Confidence yang datang dari preparation. Trust pada process. Faith bahwa kamu sudah lakukan everything yang bisa kamu lakukan.
Urgency of the Moment = Ketika waktunya tiba—final seconds, big meeting, critical decision—kamu siap.
Shot ready bukan tentang tidak merasa nervous. Steph masih merasakan adrenalin, excitement, pressure.
Tapi dia ready. Bodynya tahu apa yang harus dilakukan. Mindnya clear. Dan dia bisa eksekusi dengan calm intensity.
Life Has Put You Somewhere You Need to Be
Steph menulis: "Life has put you somewhere you need to be. It's up to you to be ready to take your shot."
Ini powerful reminder: Kamu tidak selalu kontrol situasi, tapi kamu selalu kontrol preparation.
Mungkin kamu tidak dipilih untuk tim impian. Mungkin kamu tidak dapat funding yang kamu harap. Mungkin kamu tidak dapat recognition yang kamu rasa deserve.
Tapi di mana kamu sekarang adalah starting point-mu. Dan dari sana, dengan preparation yang benar, kamu bisa ready untuk shot berikutnya.
Stretching Your Imagination
"You can get better at whatever you want. I'm inviting you to stretch your imagination as you think about what that means to you."
Steph mengundang kita untuk dream big tapi juga work specifically.
What do you want?
- Mungkin life equivalent dari layup dan free-throws—fundamentals yang solid
- Mungkin dream dari hitting game-winners from the logo—big moonshot
Either way, success is not an accident.
Success adalah hasil dari:
- Preparation yang rigorous
- Belief yang deep
- Readiness ketika moment datang
Bagian 5: Pelajaran dari Steph untuk Hidup Kita
1. Practice Until You Can't Get It Wrong
Jangan puas dengan "bisa melakukannya." Target adalah "tidak bisa melakukannya salah."
Ada level mastery di mana muscle memory mengambil alih. Di mana kamu tidak perlu berpikir—kamu hanya execute.
Aplikasi: Apakah itu presentasi, coding, menulis, atau skill apa pun—latihan sampai kamu bisa melakukannya dalam tidur.
2. Joy is the Differentiator
Di level tinggi, semua orang kerja keras. Yang membedakan adalah attitude.
Apakah kamu nikmati prosesnya? Atau kamu hanya fokus pada hasil?
Steph nikmati setiap practice, setiap game, setiap moment. Dan itu membuatnya sustainable.
Aplikasi: Temukan cara untuk inject joy dalam daily work-mu. Kalau kamu tidak enjoy the journey, kamu akan burnout sebelum sampai destination.
3. Prepare for Pressure
Kamu tidak bisa expect untuk perform under pressure kalau kamu tidak pernah practice under pressure.
Aplikasi:
- Public speaking? Practice di depan orang
- Interview? Mock interview berkali-kali
- Pitching bisnis? Practice di depan kritikus yang tough
Expose yourself to uncomfortable situations secara controlled, sehingga ketika real thing datang, kamu sudah siap.
4. Protect Your Passion
Success membawa pressure, expectation, distraction. Sangat mudah untuk lose sight dari why you started.
Aplikasi: Regularly reconnect dengan alasan pertama kamu jatuh cinta dengan apa yang kamu lakukan. Find your "empty gym"—tempat di mana kamu bisa kembali ke essence tanpa noise.
5. Master Fundamentals First
Kamu tidak bisa logo shot tanpa perfect form di depan ring.
Aplikasi: Jangan skip basic. Jangan tergoda shortcut. Build strong foundation. Excellence adalah boring fundamentals yang dilakukan dengan perfect, berkali-kali.
6. Constant Improvement, Never Complacency
Even at the top, Steph cari cara untuk improve.
Aplikasi: Selalu identifikasi satu area untuk growth. Every month, every quarter, every year—what's one thing you're going to get better at?
7. Recovery is Part of Excellence
Hustle culture sering glorify "never stop grinding." Tapi Steph tahu: recovery adalah bagian dari process.
Aplikasi:
- Sleep enough
- Take breaks
- Recharge mentally dan physically
- Sustainability beats intensity dalam long run
8. Share Generously, Compete Fiercely
Help others grow. Share knowledge. Tapi ketika waktunya compete, give your all.
Aplikasi: Jangan hoard knowledge. Mentor others. Build community. Tapi juga jangan takut untuk compete dan menang.
Penutup: Your Shot is Coming
Steph Curry mengakhiri bukunya dengan undangan:
"Wherever you're at in life, I'm glad you're in this gym with me now. I'm passing the ball to you. Let's go."
Dia sudah share formula-nya:
- Preparation yang rigorous
- Belief yang deep
- Joy dalam process
- Calm dalam pressure
- Constant improvement
- Protection terhadap passion
Sekarang bola ada di tangan kamu.
Pertanyaan untuk Refleksi:
1. Apa "logo shot" kamu? Apa goal besar yang terasa mustahil tapi secretly kamu mau achieve?
2. Apakah fundamentals kamu solid? Sebelum kamu aim untuk yang besar, apakah kamu sudah master the basics?
3. Seberapa rigorous preparation kamu? Apakah kamu practice sampai "bisa" atau sampai "tidak bisa salah"?
4. Apakah kamu still enjoy the process? Atau kamu sudah kehilangan joy karena terlalu fokus pada pressure dan expectation?
5. Kapan terakhir kali kamu ke "empty gym" kamu? Tempat di mana kamu bisa reconnect dengan passion murni, tanpa noise dan distraction?
6. Apakah kamu ready untuk shot kamu? Ketika moment datang—apakah itu big presentation, important interview, crucial decision—apakah preparation dan belief kamu sudah cukup dalam untuk execute dengan calm?
The Final Shot
Steph menulis sesuatu yang sangat profound:
"I firmly believe that success is not an accident."
Dari luar, kesuksesan Steph bisa terlihat seperti magic. Tembakan yang mustahil. Gerakan yang impossible. Timing yang sempurna.
Tapi sekarang kamu tahu rahasianya: Tidak ada magic. Hanya preparation.
Gym kosong di jam 5:30 pagi. Ribuan repetisi. Breathwork yang membosankan. Recovery yang disiplin. Study film yang melelahkan.
Dan kegembiraan. Jangan lupakan kegembiraan.
Karena tanpa joy, semua preparation itu just another grind. Dengan joy, preparation menjadi love letter kepada craft-mu.
Ambil Tembakan Kamu
Life has put you somewhere right now. Mungkin bukan di mana kamu harap. Mungkin lebih sulit dari expected. Mungkin penuh dengan doubt dan skepticism.
Tapi seperti Steph yang dijadikan pick ke-7, yang dibilang terlalu kecil, yang di-underestimate—position awal kamu bukan destiny kamu.
Yang menentukan adalah: Apakah kamu akan ready ketika shot kamu datang?
Mulai hari ini:
- Week 1: Identifikasi satu fundamental yang perlu kamu master. Practice every day.
- Month 1: Build routine yang include preparation DAN recovery.
- Quarter 1: Find your "empty gym"—tempat dan waktu untuk practice tanpa distraction.
- Year 1: Track improvement. Celebrate small wins. Protect your passion.
Dan remember Steph's final words:
"That's what it means to be shot ready. I'm passing the ball to you. Let's go."
Bola sekarang di tangan kamu.
Gym sudah terbuka.
Lampu sudah menyala.
Waktunya untuk practice.
Tentang Buku Asli
"Shot Ready" diterbitkan pada September 2024 dan langsung menjadi New York Times Bestseller. Buku ini adalah memoir pertama Stephen Curry yang mengungkap full story-nya untuk public.
Dengan lebih dari 400 halaman dan 100+ foto behind-the-scenes yang mayoritas belum pernah dilihat public, buku ini adalah rare look ke dalam mindset seorang champion.
Stephen Curry adalah 11-time NBA All-Star, four-time NBA Champion, two-time NBA MVP, dan Olympic Gold Medalist. Dia widely recognized sebagai greatest shooter dalam sejarah basketball dan telah revolutionize sport dengan mastery-nya terhadap three-point shot.
Beyond basketball, Curry adalah CEO dari Thirty Ink, purpose-driven collective yang include:
- Unanimous Media (multimedia company)
- UNDERRATED (brand yang committed untuk provide equity dan opportunity untuk underrepresented communities)
- Gentleman's Cut (premium Kentucky Straight Bourbon Whiskey)
- Eat. Learn. Play. (nonprofit dengan wife-nya Ayesha untuk unleash potential setiap anak)
Buku ini dibagi menjadi tiga bagian—Rookie, Pro (Leader), dan Veteran—masing-masing mengeksplorasi lessons yang dia pelajari di different stages karirnya, grounded dalam reality sehingga applicable untuk siapa saja regardless of discipline.
Untuk pemahaman lengkap tentang philosophy of success dari greatest shooter of all time, sangat disarankan membaca buku aslinya. Kombinasi dari intimate storytelling, practical wisdom, dan stunning photographs membuat pengalaman yang tidak bisa fully ditangkap dalam ringkasan.
Ringkasan ini memberikan framework dan key lessons, tapi buku asli memberikan texture, emotion, dan visual journey yang will inspire you di level yang berbeda.
Sekarang pergilah dan be shot ready dalam area hidup kamu.
Karena seperti Steph proven: With rigorous preparation and deep belief, when the moment meets you, you'll be ready.
Take your shot.