The Art of Living
by Epictetus · December 2025 · 14 min read
Pelajaran dari Seorang Budak yang Menjadi Filsuf
Table of contents
Pelajaran dari Seorang Budak yang Menjadi Filsuf
Romawi, abad pertama Masehi.
Seorang budak lumpuh berdiri di sudut ruangan, mendengarkan tuannya—seorang pejabat tinggi Kaisar Nero—berdebat dengan tamu-tamunya tentang kekuasaan, kekayaan, dan kebahagiaan.
Mereka berbicara tentang tanah yang mereka kuasai, budak yang mereka miliki, pengaruh yang mereka miliki di istana.
Budak itu mendengarkan dalam diam. Namanya Epictetus—yang secara harfiah berarti "yang diperoleh" atau "budak."
Dia tidak memiliki apa-apa. Bahkan namanya sendiri bukan miliknya. Kakinya lumpuh—ada yang bilang karena tuannya mematahkannya dalam kemarahan, ada yang bilang karena penyakit sejak lahir.
Tapi sementara tuannya dan para tamu sibuk mengkhawatirkan hal-hal yang bisa mereka kehilangan kapan saja—kekayaan, kekuasaan, kesehatan—Epictetus menemukan sesuatu yang tidak bisa diambil siapa pun darinya:
Kebebasan pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah dimerdekakan, Epictetus menjadi salah satu filsuf paling berpengaruh di Romawi. Kaisar Marcus Aurelius sendiri mempelajari ajarannya. Dan 2.000 tahun kemudian, kebijaksanaannya masih mengubah hidup jutaan orang.
Apa yang membuat seorang budak lumpuh lebih bebas daripada kaisar yang berkuasa atas seluruh dunia?
Jawabannya ada dalam buku kecil yang dia tinggalkan—sebuah panduan praktis untuk hidup yang disebut "Enchiridion" (Handbook).
"The Art of Living" adalah interpretasi modern dari ajaran Epictetus ini, diterjemahkan oleh Sharon Lebell untuk pembaca kontemporer.
Dan pesannya sesederhana ini: Anda tidak bisa mengontrol apa yang terjadi pada Anda. Tapi Anda selalu bisa mengontrol bagaimana Anda merespons.
Mari kita pelajari seni hidup dari seorang pria yang tidak memiliki apa-apa, tapi menemukan segalanya.
Bagian 1: Dikotomi Kontrol—Rahasia Ketenangan
Dua Kategori yang Mengubah Segalanya
Epictetus memulai ajarannya dengan pembedaan paling fundamental dalam hidup:
Ada hal-hal yang berada dalam kontrol kita. Dan ada hal-hal yang tidak.
Sesederhana itu. Tapi ini adalah kebijaksanaan yang kebanyakan orang habiskan seumur hidup tanpa pahami.
Apa yang BISA Anda kontrol:
- Pendapat Anda
- Dorongan Anda
- Keinginan Anda
- Keengganan Anda
- Respons Anda terhadap apa yang terjadi
- Pilihan Anda
- Perspektif Anda
Apa yang TIDAK BISA Anda kontrol:
- Tubuh Anda (kesehatan, penuaan, kematian)
- Properti/harta Anda
- Reputasi Anda
- Posisi Anda dalam masyarakat
- Apa yang orang lain pikirkan atau katakan tentang Anda
- Cuaca
- Hasil akhir dari usaha Anda
Epictetus menulis: "Kita menderita bukan karena peristiwa dalam hidup kita, tetapi karena penilaian kita tentang peristiwa itu."
Cerita Dua Pedagang
Bayangkan dua pedagang yang kapalnya tenggelam dalam badai, membawa semua barang dagangan mereka.
Pedagang pertama berteriak kepada langit: "Mengapa ini terjadi padaku? Aku sudah bekerja keras! Sekarang aku kehilangan segalanya! Hidupku hancur!"
Dia menghabiskan bertahun-tahun dalam kepahitan, menyalahkan nasib, terpuruk dalam depresi.
Pedagang kedua berdiri di pantai, menatap laut yang tenang kembali. Dia berkata pada dirinya: "Oke. Kapal tenggelam. Itu di luar kontrolku. Yang bisa aku kontrol adalah apa yang aku lakukan sekarang. Aku masih punya tangan, otak, dan kemauan. Aku akan mulai lagi."
Enam bulan kemudian, pedagang kedua sudah punya bisnis baru. Lebih kecil dari sebelumnya, tapi dia hidup dengan tenang.
Pedagang pertama masih duduk di tavern, menceritakan betapa tidak adilnya hidup.
Perbedaannya bukan pada apa yang terjadi. Perbedaannya pada di mana mereka fokuskan energi mereka.
Prinsip Emas Stoicism
Epictetus mengajarkan:
"Jangan minta agar peristiwa terjadi sesuai keinginanmu. Sebaliknya, inginkan peristiwa terjadi sebagaimana adanya, dan hidupmu akan berjalan dengan baik."
Ini bukan tentang pasrah. Ini tentang memfokuskan energi Anda pada hal yang benar.
Anda tidak bisa kontrol apakah akan hujan hari ini. Tapi Anda bisa kontrol apakah Anda membawa payung.
Anda tidak bisa kontrol apakah orang akan menyukai Anda. Tapi Anda bisa kontrol apakah Anda bertindak dengan integritas.
Anda tidak bisa kontrol apakah Anda akan sakit. Tapi Anda bisa kontrol bagaimana Anda menghadapi penyakit itu.
Kebebasan sejati dimulai ketika Anda berhenti mencoba mengontrol yang tidak bisa dikontrol, dan mulai menguasai yang bisa dikontrol—diri Anda sendiri.
Bagian 2: Keinginan dan Keengganan—Akar Penderitaan
Jebakan Keinginan
Epictetus mengamati sesuatu yang radikal: Sebagian besar penderitaan kita berasal dari menginginkan hal yang tidak kita miliki, dan menghindari hal yang sudah terjadi.
Contoh sederhana:
Anda ingin promosi. Anda kerja keras. Anda berharap. Anda bayangkan bagaimana hidupnya nanti. Lalu promosi diberikan ke orang lain.
Anda menderita. Bukan karena tidak dapat promosi itu sendiri. Tapi karena kesenjangan antara apa yang Anda inginkan dan apa yang terjadi.
Atau ini: Anda menghindari kritik. Takut dikritik. Menghabiskan energi untuk menyenangkan semua orang. Lalu seseorang mengkritik Anda.
Anda hancur. Bukan karena kritik itu benar atau salah. Tapi karena Anda sangat ingin menghindarinya, tapi itu tetap terjadi.
Reformasi Keinginan
Epictetus tidak mengatakan "jangan menginginkan apa-apa." Dia mengatakan: "Inginkan hal yang tepat."
Jangan inginkan:
- Hal yang di luar kontrol Anda
- Hal yang bergantung pada keberuntungan atau orang lain
- Hal yang temporer dan pasti akan hilang
Inginkan:
- Karakter yang baik
- Kebijaksanaan
- Keberanian
- Keadilan
- Moderasi
- Respons yang tepat terhadap apa pun yang terjadi
Contoh praktis:
Buruk: "Aku ingin semua orang menyukaiku." (Ini di luar kontrol Anda. Anda akan selalu kecewa.)
Baik: "Aku ingin bertindak dengan cara yang terhormat dan autentik." (Ini sepenuhnya dalam kontrol Anda.)
Buruk: "Aku ingin tidak pernah sakit." (Mustahil. Tubuh akan sakit.)
Baik: "Aku ingin menghadapi penyakit dengan keberanian dan tidak menyalahkan siapa pun." (Ini bisa Anda kontrol.)
Latihan: Negative Visualization
Epictetus mengajarkan latihan powerful yang dia sebut "premeditatio malorum"—merenungkan hal buruk yang bisa terjadi.
Ini bukan pesimisme. Ini persiapan.
Setiap pagi, bayangkan:
- "Hari ini, seseorang mungkin kasar padaku. Aku akan tetap tenang."
- "Hari ini, rencana mungkin tidak berjalan sempurna. Aku akan fleksibel."
- "Suatu hari, aku akan kehilangan orang yang aku cintai. Aku akan menghargai mereka sekarang."
Ketika Anda sudah merenungkan kemungkinan buruk, ketika itu benar-benar terjadi, Anda tidak terkejut. Anda sudah siap.
Dan jika itu tidak terjadi? Anda bersyukur.
Bagian 3: Perspektif—Kekuatan untuk Mendefinisikan Ulang
Tidak Ada Fakta, Hanya Interpretasi
Seorang murid datang kepada Epictetus: "Guru, seseorang menghina saya di pasar hari ini!"
Epictetus bertanya: "Apakah dia mengatakan sesuatu yang salah?"
"Tidak, tapi cara dia mengatakannya sangat kasar!"
"Jadi masalahnya bukan apa yang dia katakan, tapi nada suaranya?"
"Ya!"
"Dan apakah nada suaranya bisa melukai tubuhmu? Mematahkan tulangmu? Mengambil propertimu?"
"Tidak..."
"Lalu bagaimana dia melukai kamu?"
Murid itu terdiam. Lalu dia mengerti: Dia tidak terluka oleh kata-kata orang itu. Dia terluka oleh interpretasinya sendiri bahwa kata-kata itu harus menyakitkan.
Reframing: Seni Mendefinisikan Ulang
Epictetus mengajarkan bahwa kita selalu punya pilihan dalam bagaimana kita membingkai sebuah peristiwa.
Versi 1: "Aku kehilangan pekerjaanku. Hidupku hancur. Aku gagal total."
Versi 2: "Aku kehilangan pekerjaanku. Ini kesempatan untuk mengeksplorasi karir yang lebih sesuai dengan nilai-nilaiku. Atau untuk belajar keterampilan baru. Atau untuk akhirnya memulai bisnis yang selama ini kutunda."
Peristiwanya sama. Tapi perspektif mengubah segalanya.
Contoh dari Epictetus sendiri:
Ketika tuannya mematahkan kakinya (atau penyakit melumpuhkannya), dia bisa berkata: "Aku orang paling malang di dunia. Budak lumpuh. Tidak ada yang lebih buruk."
Tapi dia memilih: "Kaki bukan dalam kontrolku. Tapi pikiran dan karakter dalam kontrolku. Aku akan fokus pada apa yang bisa kukontrol."
Satu perspektif menciptakan penderitaan seumur hidup. Yang lain menciptakan kebebasan yang mengubah dunia.
Latihan: Pause dan Tanya
Setiap kali sesuatu "buruk" terjadi, berlatih ini:
1. Pause - Jangan reaktif langsung
2. Tanya - "Bagaimana cara lain melihat ini?"
3. Pilih - Perspektif mana yang paling membantu?
Bukan tentang self-delusion. Tentang memilih interpretasi yang memberdayakan, bukan yang melumpuhkan.
Bagian 4: Hubungan—Mencintai tanpa Tergantung
Cinta dengan Tangan Terbuka
Epictetus punya ajaran yang keras tapi penuh kasih tentang hubungan:
"Jangan pernah katakan tentang apa pun, 'Aku kehilangan itu.' Katakan, 'Aku mengembalikannya.'"
Ini termasuk orang yang kita cintai.
Dia menulis: "Ketika kamu mencium anak atau istrimu, katakan pada dirimu sendiri bahwa kamu mencium makhluk fana. Maka ketika dia mati, kamu tidak akan hancur."
Kedengarannya kejam? Sebenarnya ini adalah cinta terdalam yang mungkin.
Karena ketika Anda sadar bahwa orang yang Anda cintai tidak kekal, Anda tidak akan menganggap mereka given. Anda akan menghargai setiap momen. Anda tidak akan menyia-nyiakan hari bertengkar tentang hal kecil.
Jangan Kontrol Orang Lain
Sumber terbesar konflik dalam hubungan: mencoba mengontrol orang lain.
"Dia harus lebih perhatian." "Dia harus lebih rajin." "Dia harus lebih menghargai aku."
Epictetus akan bertanya: "Apakah perasaan dan tindakan orang lain dalam kontrolmu?"
Tidak.
Jadi mengapa kamu habiskan energi untuk mengubah mereka?
Yang bisa Anda kontrol:
- Bagaimana Anda memperlakukan mereka
- Bagaimana Anda merespons tindakan mereka
- Apakah Anda memilih tetap dalam hubungan atau pergi
- Bagaimana Anda berkomunikasi
Yang tidak bisa Anda kontrol:
- Apakah mereka akan berubah
- Apakah mereka akan mencintai Anda
- Apakah mereka akan menghargai Anda
Paradoksnya: Ketika Anda berhenti mencoba mengontrol orang lain, hubungan justru membaik. Karena orang merasa dihormati, bukan dipaksa.
Ketika Seseorang Kasar pada Anda
Epictetus memberikan nasihat brilian:
"Ketika seseorang berperilaku buruk padamu, segera tanyakan pada dirimu sendiri: 'Apakah mungkin untuk hidup di dunia di mana tidak ada orang buruk?'
Tidak mungkin.
Maka jangan minta yang mustahil. Orang ini adalah salah satu dari 'orang buruk' yang pasti ada di dunia. Perlakukan dia dengan kebijaksanaan, kesabaran—tapi jangan berharap dia berubah hanya karena kamu ingin."
Ini membebaskan. Anda tidak perlu memperbaiki semua orang. Anda hanya perlu merespons dengan kebijakan.
Bagian 5: Kematian—Memento Mori
Berteman dengan Kematian
Dalam budaya Stoic, ada praktik harian yang disebut "memento mori"—ingatlah bahwa kamu akan mati.
Bukan untuk membuat hidup muram. Tapi untuk membuat hidup bermakna.
Epictetus mengajarkan: "Tidak ada yang mati sebelum waktunya. Waktu yang kamu terima, apa pun panjangnya, adalah cukup."
Jangan Tunggu Sampai Terlambat
Berapa banyak orang yang menunda mengatakan "aku cinta" sampai terlambat?
Berapa banyak yang menunda mengejar impian sampai "waktu yang tepat"—dan waktu itu tidak pernah datang?
Berapa banyak yang hidup seolah mereka punya waktu tak terbatas—lalu terkejut ketika waktu habis?
Epictetus tidak menyuruh kita takut mati. Dia menyuruh kita hidup dengan kesadaran penuh bahwa waktu terbatas.
Ketika Anda sadar besok mungkin terakhir kali Anda melihat seseorang, Anda tidak akan menyia-nyiakan hari ini dengan hal sepele.
Ketika Anda sadar bulan depan mungkin tidak datang, Anda akan fokus pada yang penting sekarang.
Kematian bukan musuh. Kematian adalah guru yang mengajarkan kita untuk hidup sepenuhnya.
Latihan: Bayangkan Hari Terakhir
Setiap malam sebelum tidur, bayangkan ini adalah hari terakhirmu.
Tanyakan:
- "Apakah aku hidup hari ini sesuai nilai-nilai terbaikku?"
- "Apakah ada yang perlu kuperbaiki besok?"
- "Jika aku tidak bangun lagi, apakah aku menyesal?"
Bukan untuk membuat Anda cemas. Tapi untuk membuat Anda hidup dengan intensi.
Bagian 6: Karakter—Satu-satunya Harta yang Sejati
Apa yang Benar-Benar Anda Miliki?
Epictetus bertanya kepada murid-muridnya: "Apa yang benar-benar kamu miliki?"
"Rumahku," kata satu orang. "Uangku," kata yang lain. "Keluargaku," kata yang ketiga.
Epictetus menggelengkan kepala.
"Rumah bisa terbakar. Uang bisa dicuri. Keluarga bisa meninggalmu—atau meninggal. Tidak ada dari itu yang benar-benar milikmu.
Satu-satunya yang benar-benar kamu miliki—yang tidak bisa diambil oleh api, pencuri, atau kematian—adalah karaktermu."
Empat Kebajikan Utama
Dalam Stoicism, ada empat kebajikan kardinal:
1. Kebijaksanaan (Wisdom)
- Kemampuan untuk melihat dengan jelas
- Membedakan apa yang penting dan tidak
- Membuat keputusan yang baik
2. Keberanian (Courage)
- Tidak hanya fisik, tapi moral
- Berani melakukan yang benar meskipun sulit
- Menghadapi ketakutan dengan tenang
3. Keadilan (Justice)
- Memperlakukan orang lain dengan adil
- Memberi setiap orang haknya
- Tidak merugikan orang lain untuk keuntungan sendiri
4. Moderasi (Temperance)
- Pengendalian diri
- Tidak berlebihan dalam apa pun
- Keseimbangan
Epictetus mengajarkan: "Jika kamu ingin meningkatkan, buang pikiran seperti: 'Jika aku tidak fokus pada bisnisku, aku tidak akan punya penghasilan.' Lebih baik tidak punya penghasilan tapi kehilangan karaktermu."
Ini radikal. Tapi pikirkan: Berapa banyak orang yang kaya tapi tidak bahagia? Sukses tapi kosong? Punya segalanya tapi kehilangan diri mereka sendiri?
Karakter adalah investasi satu-satunya yang selalu menghasilkan return.
Bagian 7: Latihan Praktis—Hidup sebagai Stoic
1. Journal Pagi dan Malam
Pagi: "Hari ini, aku mungkin akan bertemu orang yang tidak menyenangkan, tidak jujur, atau kasar. Tapi aku tidak akan membiarkan itu mengganggu ketenangan pikiranku. Aku akan merespons dengan kebijaksanaan."
Malam: "Apa yang aku lakukan hari ini? Apa yang aku lakukan dengan baik? Apa yang bisa kuperbaiki besok?"
2. Pause Sebelum Reaksi
Setiap kali ada stimulus—email yang menyebalkan, kritik, kabar buruk—jangan langsung bereaksi.
Pause. Tarik napas. Tanya: "Apakah ini dalam kontrolku? Respons apa yang sejalan dengan nilai-nilaiku?"
3. Visualisasi Negatif
Setiap minggu, luangkan 10 menit untuk membayangkan hal buruk yang bisa terjadi:
- Kehilangan pekerjaan
- Kehilangan kesehatan
- Kehilangan orang terkasih
Bukan untuk menjadi pesimis. Tapi untuk menghargai apa yang kamu punya sekarang dan mempersiapkan diri.
4. Voluntary Discomfort
Sesekali, sengaja alami ketidaknyamanan:
- Puasa satu hari
- Tidur di lantai
- Mandi air dingin
- Jalan kaki dalam hujan
Mengapa? Untuk melatih diri bahwa ketidaknyamanan tidak mengerikan. Anda lebih kuat dari yang Anda kira.
5. View from Above
Ketika masalah terasa besar, bayangkan melihatnya dari luar angkasa.
Dari sana, pertengkaran dengan pasangan terlihat kecil. Kesalahan di kantor terlihat sepele. Bahkan hidup kita hanya titik kecil dalam waktu yang luas.
Ini bukan untuk meminimalkan masalah. Tapi untuk melihat dengan perspektif.
Bagian 8: Kebebasan Sejati
Definisi Ulang Kebebasan
Kebanyakan orang pikir kebebasan adalah:
- Punya banyak uang untuk beli apapun
- Tidak punya bos
- Bisa pergi ke mana saja kapan saja
Epictetus, yang pernah menjadi budak, punya definisi berbeda:
"Kebebasan adalah tidak menginginkan apa pun yang tidak dalam kontrolmu, dan tidak menghindari apa pun yang tidak bisa kamu hindari."
Dengan definisi ini:
- Seorang kaisar yang takut kehilangan kekuasaan adalah budak
- Seorang miliarder yang haus lebih banyak adalah budak
- Seorang selebriti yang bergantung pada validasi publik adalah budak
Tapi:
- Seorang budak yang menguasai pikirannya sendiri adalah bebas
- Seorang tahanan yang tidak bisa dipatahkan jiwanya adalah bebas
- Siapa pun yang tidak bergantung pada hal eksternal untuk kebahagiaan adalah bebas
Kebebasan dari Opini Orang Lain
Epictetus menulis: "Jika kamu terluka oleh sesuatu eksternal, rasa sakit bukan dari hal itu sendiri, tapi dari estimasimu tentang hal itu. Dan kamu punya kekuatan untuk mencabut estimasi itu kapan saja."
Orang lain bisa mengkritik Anda. Tapi mereka tidak bisa memaksamu percaya kritik itu.
Orang lain bisa menolak Anda. Tapi mereka tidak bisa membuat Anda merasa tidak berharga—kecuali Anda izinkan.
Opini orang lain tentang Anda bukan urusan Anda. Yang menjadi urusan Anda adalah apakah Anda hidup sesuai dengan standar Anda sendiri.
Penutup: Menjadi Artisan dari Hidup Anda Sendiri
Epictetus menutup ajarannya dengan ini:
"Ingatlah: kamu adalah aktor dalam drama yang dipilih oleh sutradara. Jika perannya pendek, pendeklah. Jika panjang, panjanglah. Jika dia ingin kamu main sebagai pengemis, mainkan dengan sebaik mungkin. Begitu juga jika sebagai raja, atau orang biasa. Karena ini tugasmu: main peranmu dengan baik. Memilih peran adalah tugas orang lain."
Lima Pelajaran Inti untuk Hidup
1. Fokus Hanya pada Yang Bisa Anda Kontrol
Berhenti mengkhawatirkan cuaca, opini orang, masa lalu, atau masa depan. Fokus pada respons Anda, pilihan Anda, karakter Anda—sekarang.
2. Ubah Keinginan Anda, Bukan Dunia
Dunia tidak akan berubah untuk menyenangkan Anda. Tapi Anda bisa mengubah apa yang Anda inginkan—dari hal eksternal ke kebajikan internal.
3. Perspektif Adalah Kekuatan
Tidak ada yang objektif "baik" atau "buruk." Semua tergantung bagaimana Anda melihatnya. Pilih perspektif yang memberdayakan.
4. Cintai Tanpa Ketergantungan
Hargai orang yang Anda cintai sepenuhnya—tapi ingat mereka bukan milik Anda. Mereka adalah pinjaman dari alam semesta, yang suatu hari akan dikembalikan.
5. Karakter Adalah Satu-satunya Harta Sejati
Segalanya bisa diambil—kecuali integritas, kebijaksanaan, keberanian, dan keadilan Anda. Investasikan di sana.
Pertanyaan Terakhir untuk Anda
Marcus Aurelius, murid ajaran Epictetus, menulis dalam jurnalnya: "Kamu bisa hidup dengan baik di sini dan sekarang. Jika tidak bisa di sini, pergilah. Jika tidak bisa hidup sama sekali, tinggalkan hidup. Tapi lakukan semuanya dengan tenang."
Jadi pertanyaannya untuk Anda:
Apakah Anda hidup? Atau hanya ada?
Apakah Anda membuat pilihan sadar setiap hari? Atau hanya bereaksi terhadap apa yang terjadi?
Apakah Anda membangun karakter? Atau hanya mengumpulkan hal-hal?
Apakah Anda bebas? Atau budak dari keinginan, ketakutan, dan opini orang lain?
Seni hidup bukan tentang menghindari kesulitan. Tentang menghadapinya dengan ketenangan.
Bukan tentang mendapatkan segalanya. Tentang menginginkan hal yang tepat.
Bukan tentang hidup lama. Tentang hidup dengan baik.
Epictetus, budak lumpuh dari 2.000 tahun lalu, hidup lebih bebas daripada kebanyakan orang hari ini yang punya segalanya.
Karena dia mengerti satu kebenaran sederhana:
Kebebasan bukan tentang apa yang Anda miliki. Tentang apa yang Anda tidak butuhkan.
Sekarang pergilah. Dan praktikkan seni hidup.
Tentang Buku Asli
"The Art of Living" adalah interpretasi modern oleh Sharon Lebell (1995) dari "Enchiridion" karya Epictetus, yang ditulis sekitar tahun 125 M oleh muridnya, Arrian.
Epictetus (55-135 M) lahir sebagai budak di Hierapolis (sekarang Turki). Setelah dimerdekakan, dia mendirikan sekolah filosofi di Nicopolis, Yunani. Dia tidak menulis apa pun—semua ajarannya dicatat oleh murid-muridnya, terutama Arrian.
"Enchiridion" (yang berarti "handbook" atau "manual") adalah ringkasan singkat dari ajaran Epictetus yang lebih panjang dalam "Discourses" (Percakapan). Buku ini menjadi salah satu teks Stoic paling berpengaruh dan dipelajari oleh para filsuf, kaisar, dan pemimpin selama berabad-abad.
Sharon Lebell mentranslasi ajaran kuno ini ke dalam bahasa modern yang accessible, membuatnya relevan untuk pembaca kontemporer tanpa kehilangan esensi kebijaksanaan aslinya.
Untuk pemahaman lengkap tentang Stoicism dan filosofi Epictetus, sangat disarankan membaca:
- "The Art of Living" oleh Sharon Lebell (untuk pengenalan modern)
- "Enchiridion" (terjemahan klasik untuk teks asli)
- "Discourses" oleh Epictetus (untuk ajaran lengkap)
- "Meditations" oleh Marcus Aurelius (untuk aplikasi Stoicism oleh seorang kaisar)
Ajaran Epictetus bukan untuk dibaca sekali. Untuk dipraktikkan setiap hari, sampai menjadi bagian dari cara Anda hidup.
Sekarang tutup buku ini. Dan mulai hidup.
Karena seperti yang Epictetus katakan: "Jangan jelaskan filosofimu. Wujudkan."