The Best Man
by Malcolm D. Lee & Jayne Allen · April 2026 · 17 min read
Tiga Hati, Tiga Benua, Satu Kebenaran
Table of contents
Tiga Hati, Tiga Benua, Satu Kebenaran
Bayangkan Anda baru saja memenangkan Pulitzer Prize—penghargaan paling bergengsi dalam dunia jurnalistik. Karir cemerlang. Penthouse mewah di Brooklyn. Kebebasan total setelah perceraian yang menyakitkan.
Tapi mengapa Anda masih merasa kosong?
Mengapa setiap kali duduk di depan laptop untuk menulis, layar tetap putih selama berjam-jam? Mengapa carousel kencan dengan wanita-wanita cantik terasa seperti bermain peran? Mengapa ketika berkumpul dengan sahabat-sahabat, Anda merasa seperti roda ketujuh yang tidak pas?
Ini adalah Harper Stewart. Penulis brilian yang tidak bisa menulis. Pria bebas yang merasa terjebak. Pemenang yang merasa kalah.
Sekarang bayangkan Anda telah meninggalkan kehidupan korporat yang mencekik di New York. Rumah pantai di Malibu. Yoga setiap pagi. Terapi rutin. Instagram penuh dengan foto sunset dan caption tentang "healing" dan "finding yourself."
Tapi di malam hari, sendirian, Anda masih merasakan tarikan magnetis dari seseorang yang seharusnya sudah Anda lupakan. Seseorang yang tinggal di seberang negara. Seseorang yang seharusnya menjadi masa lalu.
Ini adalah Jordan Armstrong. Wanita yang lari sejauh mungkin tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Dan bayangkan Anda akhirnya menemukan kedamaian di tempat yang tidak terduga—Ghana, Afrika Barat. Anda membuka restoran impian. Putri Anda tumbuh dengan budaya yang kaya. Anda bahkan bertemu pria lokal yang menarik.
Tapi ada rahasia yang Anda sembunyikan—rahasia yang begitu besar sampai putri Anda diam-diam menelepon mantan suami Anda untuk minta tolong.
Ini adalah Robyn Stewart. Ibu yang kuat yang menolak terlihat lemah.
Tiga orang. Tiga benua. Satu kebenaran yang tidak bisa mereka hindari: Beberapa cinta terlalu kuat untuk diputus. Beberapa urusan tidak pernah benar-benar selesai.
Malcolm D. Lee—sutradara yang membawa kita franchise "The Best Man" selama 25 tahun—sekarang membawa karakter-karakter ikonik ini ke halaman buku untuk pertama kalinya. Bersama penulis bestseller Jayne Allen, mereka menyelami lebih dalam ke dalam pikiran, hati, dan perjuangan karakter yang telah kita cintai selama seperempat abad.
Ini bukan hanya sekuel. Ini adalah babak kedua—dan kadang babak kedua adalah yang paling jujur.
Mari kita masuk.
Bagian 1: Harper—Kejayaan yang Terasa Hambar
Pulitzer dan Kekosongan
Harper Stewart telah mencapai apa yang setiap penulis impikan: Pulitzer Prize.
Artikel investigasi yang dia tulis—karya yang memakan waktu dua tahun penelitian, ratusan wawancara, dan tekad yang tak tergoyahkan—diakui sebagai jurnalisme terbaik tahun ini.
Ada pesta. Ada pujian. Ada tawaran buku. Bahkan ada pembicaraan untuk mengadaptasi karyanya menjadi film.
Tapi ketika pesta berakhir dan semua orang pulang, Harper duduk sendirian di penthouse Brooklyn-nya yang luas, menatap piala Pulitzer di atas rak, dan merasakan... kekosongan.
"Ini seharusnya terasa lebih dari ini," pikirnya.
Kemenangannya terasa hambar karena ada yang hilang. Atau lebih tepatnya, ada seseorang yang hilang—dua orang sebenarnya.
Robyn, mantan istrinya, tidak ada di sana untuk merayakan. Dulu, dia akan menjadi orang pertama yang dia panggil. Dulu, senyumnya akan membuat penghargaan itu terasa nyata.
Dan Jordan... Jordan bahkan tidak mengirim pesan selamat.
Kehidupan Bujangan yang Palsu
Harper mencoba menjadi Lance—sahabatnya yang terkenal dengan kehidupan kencan yang aktif.
Kencan Senin dengan editor majalah. Kencan Rabu dengan kurator seni. Kencan Jumat dengan pengacara startup.
Semua wanita cantik, cerdas, sukses. Tapi setiap kencan terasa seperti wawancara kerja. Setiap percakapan terasa dipaksakan. Setiap ciuman terasa kosong.
Harper menyadari: Dia tidak mencari koneksi. Dia mencari distraksi.
Distraksi dari kenyataan bahwa perceraiannya dari Robyn masih melukai. Distraksi dari kenyataan bahwa dia tidak bisa berhenti memikirkan Jordan. Distraksi dari pertanyaan yang dia takut untuk jawab: "Siapa Harper Stewart tanpa pernikahan, tanpa Jordan, tanpa orang lain untuk mendefinisikannya?"
Writer's Block yang Tidak Masuk Akal
Yang paling frustrating: Dia tidak bisa menulis.
Setelah Pulitzer, penerbit menginginkan buku berikutnya. Produser film menginginkan naskah. Editor menginginkan artikel tindak lanjut.
Tapi Harper duduk di depan laptop berjam-jam dan tidak ada yang keluar. Tidak ada ide. Tidak ada kata. Hanya layar putih yang mengejek.
Ironis, bukan? Pria yang baru saja memenangkan penghargaan menulis tertinggi tidak bisa menulis satu kalimat pun.
Teman-temannya punya teori. Quentin berpikir dia overworked. Lance berpikir dia butuh lebih banyak kencan. Murch menyarankan liburan.
Tapi Harper tahu kebenarannya: Dia tidak bisa menulis karena dia tidak jujur dengan dirinya sendiri tentang apa yang benar-benar dia rasakan.
Menulis membutuhkan kejujuran. Dan Harper telah menghabiskan berbulan-bulan—bertahun-tahun—menyembunyikan kebenaran tentang apa yang dia inginkan.
Bagian 2: Jordan—Pelarian yang Tidak Cukup Jauh
Malibu: Surga yang Hampa
Jordan Armstrong memiliki segalanya yang orang bayangkan tentang "healing journey."
Rumah pantai yang menghadap Samudra Pasifik. Yoga sunrise setiap pagi. Green smoothies. Terapi dua kali seminggu. Jurnal gratitude yang diisi setiap malam.
Instagram-nya penuh dengan foto yang sempurna: meditasi di pantai, sunset dramatis, quote inspirational tentang "letting go" dan "new beginnings."
Dari luar, Jordan telah sembuh. Dia telah move on dari Harper. Dia telah menemukan kedamaian.
Tapi itu semua fasad.
Di malam hari, sendirian, Jordan menatap laut dan merasakan tarikan yang sama—tarikan ke New York, ke Brooklyn, ke Harper.
Dia meninggalkan New York bukan hanya untuk melarikan diri dari kehidupan korporat yang toxic. Dia meninggalkan New York untuk melarikan diri dari Harper—dari perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang, dari sejarah yang terlalu rumit untuk dijelaskan, dari cinta yang seharusnya sudah berakhir puluhan tahun lalu.
Kebenaran di Balik Terapi
Dalam sesi terapi, Jordan berbicara tentang "pertumbuhan pribadi" dan "menemukan jati diri."
Tapi terapisnya tidak bodoh. "Jordan," dia bertanya suatu hari, "Kamu melarikan diri ke Malibu untuk menemukan diri sendiri, atau untuk melarikan diri dari seseorang?"
Jordan terdiam. Lama.
"Apa bedanya?" dia akhirnya menjawab.
"Bedanya sangat besar," terapis menjawab lembut. "Menemukan diri sendiri berarti menghadapi kebenaran. Melarikan diri berarti menghindarinya."
Kata-kata itu menusuk. Karena Jordan tahu kebenarannya: Dia tidak sembuh dari Harper. Dia hanya mencoba berpura-pura telah sembuh.
Karir yang Tidak Memuaskan
Jordan meninggalkan pekerjaannya di perusahaan Fortune 500—jabatan VP yang dia perjuangkan selama bertahun-tahun.
Sekarang dia konsultan independen. Jadwal fleksibel. Klien pilihan. Tidak ada boss toxic. Tidak ada politik kantor.
Tapi ada sesuatu yang hilang: tujuan.
Dulu, meskipun pekerjaannya stressful, dia merasa seperti dia membangun sesuatu. Sekarang, dia merasa seperti dia hanya... ada.
Dia punya kebebasan. Tapi kebebasan tanpa tujuan terasa seperti mengapung di laut tanpa arah—nyaman, tapi tidak tahu kemana pergi.
Bagian 3: Robyn—Kekuatan yang Menyembunyikan Keretakan
Ghana: Awal yang Baru atau Pelarian?
Robyn Stewart membuat keputusan berani: meninggalkan Amerika dan pindah ke Ghana.
Tidak ada yang mengharapkannya. Harper shock. Teman-temannya bingung. Bahkan orang tuanya ragu.
Tapi Robyn sudah muak dengan kehidupan yang "seharusnya"—pekerjaan yang stabil tapi membosankan, rumah yang bagus tapi kosong setelah perceraian, rutinitas yang aman tapi tanpa passion.
Jadi dia mengambil risiko terbesar dalam hidupnya: membuka restoran di Accra, Ghana.
Robyn's Table—restoran yang menggabungkan soul food Amerika dengan masakan West African. Tempat di mana diaspora bisa merasakan rumah, dan lokal bisa mencicipi sesuatu yang baru.
Dan untuk sementara waktu, itu bekerja. Restoran ramai. Ulasan bagus. Putrinya, Mia, menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.
Robyn akhirnya merasa seperti dia mengendalikan hidupnya sendiri—bukan hanya mengikuti apa yang orang harapkan.
Kwesi: Pria yang Datang di Waktu yang Salah (atau Tepat?)
Lalu Kwesi masuk ke hidupnya.
Entrepreneur lokal yang tampan, cerdas, dan perhatian. Dia membantu Robyn menavigasi bisnis di Ghana. Mereka menghabiskan waktu bersama—bicara tentang makanan, budaya, mimpi.
Dan perlahan, Robyn merasakan sesuatu yang dia kira sudah mati: ketertarikan.
Bukan seperti dengan Harper—bukan cinta yang kompleks dan bersejarah. Ini lebih sederhana. Lebih ringan. Lebih... aman.
Tapi Robyn ketakutan. Dia tidak siap untuk membuka hatinya lagi. Tidak setelah sakit hati yang Harper tinggalkan.
Jadi dia menjaga jarak. Mempertahankan dinding.
Dan Kwesi, dengan sabar, menunggu.
Rahasia yang Robyn Sembunyikan
Tapi ada sesuatu yang Robyn tidak ceritakan kepada siapa pun—bahkan tidak kepada Kwesi, bahkan tidak kepada sahabat-sahabatnya.
Restorannya dalam masalah.
Cashflow negatif. Hutang yang menumpuk. Supplier yang belum dibayar. Dia sudah menghabiskan semua tabungannya. Dan dia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Setiap malam, setelah Mia tidur, Robyn duduk dengan laporan keuangan dan merasakan panic yang dia tidak bisa tunjukkan kepada siapa pun.
Dia telah membangun reputasi sebagai wanita kuat yang tidak butuh bantuan. Wanita yang meninggalkan Harper dan memulai hidup baru dengan berani.
Tapi sekarang, ketika dia benar-benar butuh bantuan, pride-nya terlalu besar untuk meminta.
Telepon dari Mia
Lalu suatu malam, tanpa sepengetahuan Robyn, Mia mengambil keputusan sendiri.
Dia menelepon Harper.
"Dad," dia berbisik, suaranya penuh kekhawatiran, "Mom dalam masalah. Dan dia terlalu keras kepala untuk memberitahu siapa pun."
Telepon itu adalah bom yang akan mengubah segalanya.
Bagian 4: Benturan yang Tidak Bisa Dihindari
Harper Terbang ke Ghana
Ketika Harper menerima telepon dari Mia, dia tidak berpikir dua kali.
Dalam 24 jam, dia ada di pesawat menuju Accra.
Teman-temannya mempertanyakan keputusannya. "Kamu dan Robyn sudah selesai," Quentin mengingatkan. "Jangan bikin rumit lagi."
Tapi Harper tidak peduli. Robyn dalam masalah. Mia membutuhkannya. Itu cukup.
Ketika dia tiba di Ghana dan melihat Robyn lagi—pertama kali sejak perceraian mereka finalized—semua memori datang kembali.
Kenangan baik: tawa mereka, passion mereka, cara mereka dulu mengerti satu sama lain tanpa kata.
Kenangan buruk: pertengkaran, pengkhianatan (emosional, bukan fisik, tapi tetap menyakitkan), jarak yang tumbuh sampai mereka menjadi orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Dan sekarang, berdiri di restoran Robyn, melihatnya mencoba menjaga semuanya tetap bersama dengan keberanian dan ketekunan yang dia selalu kagumi, Harper merasakan sesuatu yang mengejutkan:
Dia masih peduli. Sangat peduli.
Konfrontasi yang Tidak Bisa Dihindari
Robyn marah ketika melihat Harper.
"Siapa yang meneleponmu?" dia menuntut.
"Itu tidak penting. Yang penting adalah kamu dalam masalah dan tidak memberitahu siapa pun."
"Aku tidak butuh penyelamat, Harper. Aku bisa menangani ini sendiri."
"Aku tahu kamu bisa," Harper menjawab lembut. "Tapi kamu tidak harus melakukannya sendirian."
Kata-kata itu menembus armor Robyn. Karena dia lelah—lelah berpura-pura kuat, lelah menyelesaikan semuanya sendiri, lelah tidak punya siapa pun untuk bersandar.
Dan meskipun dia membenci dirinya sendiri untuk itu, ada bagian dari dirinya yang lega bahwa Harper di sana.
Jordan Mendengar Kabar
Di Malibu, Jordan melihat Instagram Robyn.
Foto baru: Robyn dan Harper, di depan restoran, tersenyum. Caption: "Teman lama yang membantu dalam waktu sulit. #Gratitude"
Sesuatu di dada Jordan berkontraksi.
Dia tahu dia tidak punya hak untuk merasa cemburu. Harper dan Robyn adalah masa lalu—keduanya. Dia yang memilih untuk pergi. Dia yang memilih jarak.
Tapi melihat mereka bersama lagi—bahkan hanya sebagai teman—membuat sesuatu dalam dirinya bergolak.
Dia menatap ponselnya. Jempolnya melayang di atas nama Harper di kontak.
Berapa lama sejak mereka bicara? Berbulan-bulan. Mungkin setahun.
Apa yang akan dia katakan? "Hai, aku melihat kamu di Ghana dengan Robyn dan aku tidak suka perasaan ini?"
Terlalu jujur. Terlalu vulnerable.
Jadi Jordan melakukan apa yang selalu dia lakukan: dia tidak melakukan apa-apa.
Tapi keputusan untuk tidak bertindak juga adalah keputusan. Dan kadang, itulah keputusan yang paling kita sesali.
Bagian 5: Crew—Keluarga yang Kita Pilih
Quentin dan Shelby: Pasangan Baru yang Belajar
Quentin dan Shelby baru menikah—newlywed bliss, seperti kata orang.
Tapi "bliss" tidak selalu mudah.
Quentin belajar bahwa menikah dengan Shelby berarti menikah dengan ambisinya. Shelby adalah pengacara yang naik cepat di firm-nya, bekerja 70 jam seminggu, selalu di ponsel.
Dia mencintai dedikasinya. Tapi kadang dia merasa seperti nomor dua setelah karir.
Dan Shelby belajar bahwa menikah dengan Quentin berarti menikah dengan teman-temannya. The crew—Harper, Lance, Murch—adalah keluarga Quentin. Mereka datang sebagai paket.
Dia mencintai persahabatan mereka. Tapi kadang dia ingin waktu hanya untuk mereka berdua.
Mereka belajar: Pernikahan bukan tentang menemukan orang sempurna. Pernikahan tentang belajar berkompromi dengan orang yang tidak sempurna.
Lance: Karir di Persimpangan
Lance—mantan bintang NFL yang kehidupan pribadinya pernah jadi scandal—sekarang mencoba transisi ke karir baru.
Broadcasting. Dia punya tawaran untuk menjadi analis olahraga di jaringan TV besar.
Tapi ada masalah: mereka ingin dia menjadi "versi bersih" dari Lance—tidak ada kontroversi, tidak ada komentar controversial, hanya analisis aman yang tidak menyinggung siapa pun.
"Mereka ingin aku jadi boneka," Lance komplain kepada Harper.
"Atau mereka ingin versi profesional dari kamu," Harper menjawab.
"Apa bedanya?"
"Bedanya adalah satu adalah kamu yang berkembang, yang lain adalah kamu yang mati."
Lance bergulat dengan pertanyaan: Berapa banyak dari diri kamu yang harus kamu korbankan untuk sukses? Dan pada titik mana kompromi menjadi pengkhianatan terhadap diri sendiri?
Murch dan Candace: Keluarga yang Sibuk
Murch dan Candace punya dua anak sekarang—dan hidup adalah chaos yang indah dan melelahkan.
Murch bekerja keras untuk menyediakan. Candace menjonggling karir dan parenting. Mereka jarang punya waktu untuk satu sama lain.
Romance? Hampir tidak ada. Kencan malam? Mimpi. Percakapan yang tidak diganggu anak? Kemewahan.
Suatu malam, setelah anak-anak tidur, mereka duduk di sofa dalam keheningan yang jarang.
"Aku mencintaimu," Candace berkata.
"Aku juga mencintaimu," Murch menjawab.
"Tapi kadang aku merasa seperti kita lupa bagaimana menjadi pasangan, bukan hanya orang tua."
Murch memegang tangannya. "Mungkin kita perlu belajar lagi."
Pelajarannya: Cinta bukan hanya tentang jatuh cinta. Cinta tentang memilih untuk tetap jatuh cinta, bahkan ketika hidup membuat itu sulit.
Bagian 6: Urusan yang Belum Selesai
Harper dan Jordan: Percakapan yang Ditunda 20 Tahun
Ketika Harper kembali dari Ghana, dia menemukan email dari Jordan.
Bukan pesan panjang. Bukan konfrontasi dramatis. Hanya: "Kita perlu bicara."
Mereka bertemu di kafe Brooklyn—tempat netral, publik, aman.
Awalnya canggung. Chitchat tentang cuaca, tentang pekerjaan, tentang teman-teman.
Lalu Jordan mengambil napas dalam dan berkata: "Mengapa kita tidak pernah jujur satu sama lain?"
Harper terdiam.
"Dua puluh tahun, Harper. Kita sudah saling mengenal dua puluh tahun. Dan kita tidak pernah benar-benar jujur tentang apa yang kita rasakan."
"Aku jujur—"
"Kamu menikahi Robyn ketika kamu masih punya perasaan untukku," Jordan memotong. "Itu tidak jujur."
"Dan kamu melarikan diri ke Malibu daripada menghadapi apa yang kita miliki," Harper balas. "Itu juga tidak jujur."
Mereka berdua terdiam, kebenaran menggantung di antara mereka.
"Jadi apa sekarang?" Jordan bertanya. "Kita terus bermain permainan yang sama? Berpura-pura kita tidak peduli ketika kita jelas peduli?"
Harper menatap matanya—mata yang dia kenal lebih baik dari miliknya sendiri, mata yang menyimpan dua dekade sejarah.
"Atau," dia berkata pelan, "kita akhirnya jujur. Tentang segalanya."
Robyn Menghadapi Kebenarannya Sendiri
Di Ghana, Robyn duduk dengan laporan keuangan.
Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba memperbaikinya sendiri. Dia menelepon Harper.
"Aku butuh bantuan," dia berkata—tiga kata yang paling sulit dalam hidupnya.
"Aku tahu," Harper menjawab lembut. "Dan aku di sini."
Bukan sebagai mantan suami. Bukan sebagai penyelamat. Tapi sebagai teman—sesuatu yang mereka tidak pernah benar-benar berhasil menjadi ketika menikah.
Harper membantu Robyn merestrukturisasi keuangan restoran. Mereka membuat rencana. Mereka berbicara dengan investor. Mereka menemukan solusi.
Tapi yang lebih penting: mereka berbicara. Benar-benar berbicara.
Tentang mengapa pernikahan mereka gagal. Tentang apa yang mereka sesali. Tentang apa yang mereka hargai.
Dan Robyn menyadari sesuatu: Melepaskan Harper sebagai suami adalah satu-satunya cara mereka bisa menjadi teman.
Beberapa hubungan tidak bisa diselamatkan dalam bentuk aslinya. Tapi mereka bisa ditransformasi menjadi sesuatu yang baru—sesuatu yang mungkin lebih sehat.
Bagian 7: Pelajaran dari The Best Man
1. Urusan yang Belum Selesai Tidak Hilang dengan Jarak
Jordan lari ke Malibu. Harper sibuk dengan karir. Robyn pindah ke Ghana.
Tapi jarak geografis tidak menyembuhkan luka emosional. Kamu bisa lari ke ujung dunia, tapi kamu tidak bisa lari dari perasaanmu sendiri.
Pelajaran: Masalah yang tidak dihadapi tidak hilang—mereka hanya tertunda. Dan semakin lama kita menunda, semakin besar mereka menjadi.
2. Kejujuran Membutuhkan Keberanian
Harper dan Jordan menghabiskan dua puluh tahun tidak sepenuhnya jujur—kepada satu sama lain dan kepada diri mereka sendiri.
Mengapa? Karena kejujuran menakutkan. Jujur berarti vulnerable. Jujur berarti risiko penolakan. Jujur berarti menghadapi kemungkinan bahwa apa yang kita inginkan mungkin tidak mungkin.
Pelajaran: Tapi tanpa kejujuran, tidak ada hubungan yang nyata. Kita hanya bermain peran, berpura-pura, dan akhirnya merasa kesepian bahkan ketika bersama orang lain.
3. Kekuatan Bukan Berarti Menolak Bantuan
Robyn hampir menghancurkan restorannya—dan kesehatannya—karena dia terlalu bangga untuk meminta bantuan.
Pelajaran: Kekuatan sejati bukan tentang melakukan segalanya sendiri. Kekuatan sejati adalah tahu kapan untuk meminta bantuan, untuk mengakui keterbatasan, untuk membiarkan orang lain peduli.
4. Babak Kedua Bisa Lebih Baik dari Babak Pertama
Harper di awal buku: sukses tapi kosong, terputus, tidak tahu apa yang dia inginkan.
Harper di akhir: masih belum punya semua jawaban, tapi jujur tentang pertanyaan—dan itu membuat semua perbedaan.
Pelajaran: Hidup kita tidak berakhir di 40 atau 50 tahun. Babak kedua—hubungan kedua, karir kedua, versi kedua dari diri kita—bisa menjadi yang terbaik jika kita cukup berani untuk jujur tentang apa yang kita pelajari dari babak pertama.
5. Keluarga yang Kita Pilih Sama Pentingnya dengan Keluarga yang Kita Lahir
The crew—Quentin, Shelby, Lance, Murch, Candace—adalah keluarga pilihan Harper, Jordan, dan Robyn.
Mereka saling mendukung melalui perceraian, krisis karir, masalah kesehatan, keraguan diri. Mereka tidak sempurna. Mereka kadang bertengkar. Tapi mereka hadir.
Pelajaran: Kita tidak bisa memilih keluarga yang kita lahir. Tapi kita bisa memilih orang-orang yang kita biarkan menjadi keluarga kita—dan pilihan itu sama pentingnya.
Penutup: Apa yang Masih Belum Selesai?
Novel ini berakhir bukan dengan semua jawaban—tapi dengan kemungkinan.
Harper dan Jordan akhirnya jujur tentang perasaan mereka. Tapi apakah mereka akan bersama? Itu tidak dijawab.
Robyn menyelamatkan restorannya dengan bantuan Harper dan Kwesi. Tapi apa yang akan terjadi dengan Kwesi? Itu masih terbuka.
Lance mendapat tawaran pekerjaan. Quentin dan Shelby belajar tentang pernikahan. Murch dan Candace menemukan kembali romance mereka.
Tapi semua ini adalah awal, bukan akhir.
Dan mungkin itu yang Malcolm D. Lee dan Jayne Allen ingin katakan: Hidup adalah tentang urusan yang belum selesai.
Kita tidak pernah sepenuhnya "selesai" dengan masa lalu kita. Kita tidak pernah sepenuhnya "sembuh" dari luka kita. Kita tidak pernah mencapai titik di mana segalanya "sempurna."
Tapi kita bisa terus tumbuh. Terus belajar. Terus memilih kejujuran, keberanian, dan cinta—bahkan ketika itu menakutkan.
Pertanyaan untuk Anda
Seperti Harper, Jordan, dan Robyn, kita semua punya urusan yang belum selesai:
- Hubungan apa dalam hidup Anda yang masih punya pertanyaan yang tidak terjawab?
- Kebenaran apa yang Anda hindari karena terlalu menakutkan untuk dihadapi?
- Bantuan apa yang Anda butuhkan tapi terlalu bangga untuk minta?
- Babak kedua apa yang Anda takut untuk mulai?
Harper menghabiskan bulan berpura-pura dia baik-baik saja. Jordan menghabiskan tahun lari dari perasaannya. Robyn hampir kehilangan segalanya karena tidak bisa meminta bantuan.
Anda tidak harus melakukan hal yang sama.
Urusan yang belum selesai tidak hilang dengan diabaikan. Mereka hanya tumbuh lebih besar, lebih berat, lebih complicated.
Tapi ketika kita akhirnya menghadapinya—dengan kejujuran, dengan keberanian, dengan dukungan dari orang-orang yang kita cintai—kita menemukan sesuatu yang mengejutkan:
Urusan yang belum selesai bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kita bayangkan.
Tentang Buku Asli
"The Best Man: Unfinished Business" diterbitkan pada 1 Juli 2025 oleh Storehouse Voices, sebuah imprint dari Crown Publishing Group (Penguin Random House).
Malcolm D. Lee adalah sutradara pemenang penghargaan yang karyanya termasuk "The Best Man" (1999), "Girls Trip", "Night School", dan "The Best Man: The Final Chapters". Ini adalah novel debut-nya.
Jayne Allen adalah penulis bestselling dari seri "Black Girls Must Die Exhausted" dan "The Most Wonderful Time". Dia membawa keahliannya dalam menulis hubungan kompleks dan karakter yang relatable.
Bersama-sama, Lee dan Allen menciptakan novel yang terasa seperti reunion dengan teman lama—karakter yang kita kenal dan cintai, sekarang lebih tua, lebih bijaksana, tapi masih sangat manusiawi dalam kekurangan dan perjuangan mereka.
Buku ini adalah buku pertama dari trilogi, dengan dua buku berikutnya dijadwalkan terbit pada 2026. Jadi perjalanan Harper, Jordan, dan Robyn belum selesai—seperti urusan mereka yang belum selesai.
Untuk pengalaman lengkap dari dialog yang cerdas, karakterisasi yang mendalam, dan eksplorasi nuansa hubungan dewasa, sangat disarankan membaca buku aslinya. Novel ini juga tersedia dalam format audiobook dengan narator luar biasa (Jakobi Diem, January LaVoy, dan Zenzi Williams) yang membawa karakter-karakter ini hidup dengan cara baru.
Sekarang pergilah dan hadapi urusan Anda yang belum selesai.
Karena seperti yang ditunjukkan The Best Man: Kadang hal terbaik dalam hidup kita adalah hal yang belum selesai—karena itu berarti masih ada kemungkinan, masih ada harapan, masih ada kesempatan untuk babak kedua yang lebih baik.
Dan babak kedua? Itu bisa menjadi yang terbaik dari semua.