The Book of Hope
by Jane Goodall & Douglas Abrams · December 2025 · 13 min read
Wanita Tua dan Simpanse yang Mengubah Dunia
Table of contents
Wanita Tua dan Simpanse yang Mengubah Dunia
Juli 1960. Hutan Gombe, Tanzania.
Seorang wanita muda berusia 26 tahun duduk sendiri di tepi sungai, memperhatikan sekelompok simpanse dari kejauhan. Dia tidak punya gelar PhD. Tidak punya pelatihan formal dalam primatologi. Bahkan tidak punya ijazah universitas.
Yang dia punya hanyalah keingintahuan yang luar biasa, kesabaran yang tidak terbatas, dan sesuatu yang akan mengubah sains selamanya: keyakinan bahwa simpanse adalah individu dengan kepribadian, emosi, dan pikiran mereka sendiri.
Nama wanita itu? Jane Goodall.
Suatu hari, dia melihat sesuatu yang mengejutkan dunia sains: seekor simpanse bernama David Greybeard menggunakan ranting untuk menangkap rayap dari sarangnya. Lalu dia memodifikasi ranting itu—melepaskan daunnya—untuk membuatnya lebih efektif.
Simpanse membuat alat.
Sampai saat itu, manusia mendefinisikan diri mereka sebagai "pembuat alat." Itu yang membedakan kita dari hewan. Tapi David Greybeard membuktikan kita salah.
Ketika Jane melaporkan temuannya ke mentornya, Louis Leakey, dia mendapat respon yang akan menjadi terkenal: "Now we must redefine tool, redefine Man, or accept chimpanzees as humans."
Penemuan itu meluncurkan karir Jane yang akan berlangsung enam dekade—mengubah cara kita memahami hewan, alam, dan diri kita sendiri.
Fast forward ke 2020. Dunia dalam krisis.
Pandemi COVID-19 mengunci miliaran orang di rumah. Kebakaran hutan melanda Amazon dan Australia. Spesies punah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi. Perubahan iklim mengancam peradaban kita. Polarisasi politik memecah masyarakat.
Dan di tengah semua ini, Jane Goodall—sekarang berusia 86 tahun, yang biasanya bepergian 300 hari setahun untuk berbicara tentang konservasi—terkunci di rumah masa kecilnya di Inggris.
Douglas Abrams, penulis dan editor, menghubunginya dengan pertanyaan sederhana namun mendesak:
"Jane, bagaimana Anda tetap punya harapan?"
Percakapan mereka menjadi buku ini—"The Book of Hope."
Ini bukan buku tentang optimisme naif yang mengabaikan kenyataan pahit. Ini adalah buku tentang harapan yang dilahirkan dari pengalaman, data, dan kebijaksanaan 60 tahun mengamati kehidupan.
Jane tidak menawarkan jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang dia tawarkan adalah sesuatu yang lebih powerful: empat alasan kuat mengapa kita bisa—dan harus—tetap punya harapan.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Kecerdasan Luar Biasa Manusia—The Amazing Human Intellect
Ketika Kecerdasan Kita Hampir Menghancurkan Kita
Jane memulai dengan paradox yang menyakitkan:
"Kita adalah makhluk paling cerdas yang pernah berjalan di planet ini. Dan kita menggunakan kecerdasan itu untuk menghancurkan satu-satunya rumah yang kita punya."
Kita punya otak yang bisa mengirim roket ke Mars, memecahkan kode DNA, menciptakan internet. Tapi kita juga menggunakan otak yang sama untuk menciptakan senjata nuklir, meracuni lautan, dan mengubah atmosfer dengan cara yang mengancam kelangsungan hidup kita sendiri.
Jadi bagaimana ini memberikan harapan?
Jane menjawab: "Karena kecerdasan yang sama yang menciptakan masalah ini bisa—dan sedang—menciptakan solusinya."
Cerita Lubang Ozon—Ketika Kita Selamatkan Planet
Tahun 1980-an. Ilmuwan menemukan lubang menganga di lapisan ozon di atas Antartika—disebabkan oleh CFC (chlorofluorocarbons) dalam aerosol dan pendingin.
Ini adalah krisis eksistensial. Tanpa lapisan ozon, radiasi UV akan meningkat drastis. Kanker kulit akan meledak. Ekosistem akan runtuh.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya mengejutkan:
Dalam waktu dua tahun, 197 negara—termasuk musuh politik—menandatangani Montreal Protocol untuk menghentikan produksi CFC.
Industri yang awalnya menolak akhirnya menemukan alternatif yang lebih baik dan lebih murah.
Dan hari ini, 30+ tahun kemudian, lubang ozon sedang menutup.
Jane berkata: "Ini membuktikan ketika kita menghadapi ancaman nyata dengan data yang jelas, manusia bisa bertindak cepat dan efektif—bahkan dalam skala global."
Kecerdasan + Hati = Harapan
Tapi Jane menambahkan peringatan penting:
"Kecerdasan tanpa hati adalah berbahaya. Kita perlu menghubungkan kepala dengan hati—logika dengan empati."
Contoh dia berikan: teknologi AI.
Kecerdasan manusia menciptakan AI yang bisa mengalahkan grandmaster catur, mendiagnosis penyakit lebih akurat dari dokter, mengemudi mobil.
Tapi bagaimana kita menggunakannya? Untuk kebaikan atau manipulasi? Untuk memecahkan masalah atau menciptakan senjata otonom?
Pilihan ada di tangan kita.
Dan dalam pilihan itu—kemampuan kita untuk memilih bagaimana menggunakan kecerdasan kita—terletak harapan.
Bagian 2: Ketangguhan Alam—The Resilience of Nature
Tempat yang Seharusnya Mati
Tahun 1991. Gunung Pinatubo di Filipina meletus—salah satu letusan terbesar abad ke-20. Abu vulkanik menutupi segalanya. Hutan hancur. Sungai menjadi lahar. Tanah menjadi tandus.
Ilmuwan memperkirakan akan butuh ratusan tahun untuk pulih—jika pulih.
Tapi 10 tahun kemudian, ketika Jane mengunjungi area itu, dia menemukan sesuatu yang menakjubkan:
Hutan telah kembali.
Pohon-pohon muda tumbuh di antara batu vulkanik. Burung-burung bernyanyi. Monyet bermain di kanopi. Kehidupan menemukan jalan.
Jane menulis: "Alam memiliki kemampuan luar biasa untuk menyembuhkan—jika kita memberinya waktu dan ruang."
Kisah Mr. H—Simpanse yang Memberinya Harapan
Jane selalu membawa boneka simpanse kecil bernama "Mr. H" ke mana-mana. Boneka itu diberikan oleh seorang pria buta bernama Gary Haun yang tidak pernah melihat simpanse, tapi mencintai karya Jane.
Suatu hari di Gombe, Jane menceritakan bagaimana dia melihat hutan yang pernah dia kenal sedang mati. Penebangan liar. Perburuan. Degradasi.
Dia merasa putus asa.
Tapi kemudian dia ingat percakapannya dengan masyarakat lokal. Mereka bergantung pada hutan untuk bertahan hidup. Mereka tidak merusak karena jahat—tapi karena miskin dan putus asa.
Jane membuat keputusan radikal: Alih-alih hanya fokus pada simpanse, dia harus membantu manusia.
Dia memulai program TACARE (Take Care)—membantu masyarakat dengan pertanian berkelanjutan, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan.
Hasilnya? Dalam 10 tahun:
- Pendapatan masyarakat meningkat
- Anak-anak pergi ke sekolah
- Dan hutan mulai tumbuh kembali
Karena ketika manusia punya alternatif, mereka memilih untuk melindungi alam.
Pelajaran dari Alam
Jane berbagi tiga pelajaran dari mengamati alam selama 60 tahun:
1. Alam lebih tangguh dari yang kita kira
Tempat yang kita anggap "mati" bisa pulih jika diberi kesempatan. Sungai yang tercemar bisa jernih lagi. Hutan yang gundul bisa hijau lagi. Spesies yang hampir punah bisa pulih.
Contoh: Bald Eagle (elang botak) Amerika hampir punah di tahun 1960-an—tinggal 417 pasang. Hari ini? Lebih dari 71,000 pasang. Karena kita stop menggunakan DDT dan melindungi habitat mereka.
2. Kita adalah bagian dari alam, bukan terpisah
Kesehatan planet adalah kesehatan kita. Ketika kita meracuni sungai, kita meracuni diri kita. Ketika kita menyembuhkan hutan, kita menyembuhkan diri kita.
3. Setiap tindakan kecil penting
Menanam satu pohon mungkin terlihat tidak berarti. Tapi satu pohon x satu juta orang = satu juta pohon. Dan satu juta pohon mengubah ekosistem.
Bagian 3: Kekuatan Anak Muda—The Power of Young People
Roots & Shoots—Gerakan yang Dimulai dari 12 Anak
1991. Dar es Salaam, Tanzania.
Sekelompok siswa SMA mengunjungi Jane dengan frustrasi: "Kami belajar tentang semua masalah—polusi, deforestasi, kepunahan. Tapi tidak ada yang memberitahu kami apa yang bisa kami lakukan!"
Jane mendengar kemarahan mereka. Dan dia punya ide sederhana:
"Bagaimana kalau kita mulai grup di mana kalian memilih proyek untuk membuat perbedaan—untuk manusia, hewan, dan lingkungan?"
12 siswa itu membentuk grup pertama. Mereka menyebutnya Roots & Shoots—Akar & Tunas. Mengapa nama itu?
"Karena," Jane menjelaskan, "akar dan tunas terlihat lemah. Tapi untuk mencapai cahaya dan air, mereka bisa menembus dinding batu. Bayangkan dinding itu adalah semua masalah yang kita hadapi—kemiskinan, perang, degradasi lingkungan. Ratusan, ribuan, jutaan akar dan tunas—ratusan, ribuan, jutaan anak muda di seluruh dunia—bisa menembus dinding itu dan mengubah dunia."
30 Tahun Kemudian
Hari ini, Roots & Shoots ada di lebih dari 60 negara dengan ratusan ribu anggota—dari taman kanak-kanak hingga universitas.
Proyek mereka beragam:
- Anak-anak di Amerika membersihkan pantai dan mengedukasi tentang plastik
- Remaja di Uganda menanam pohon dan melindungi habitat simpanse
- Siswa di Tiongkok menyelamatkan anjing dari festival daging anjing
- Mahasiswa di India menciptakan solusi sanitasi untuk desa miskin
Jane bercerita tentang seorang gadis kecil di Congo yang menyelamatkan simpanse bayi dari pemburu. Gadis itu tidak punya uang. Tidak punya kekuasaan. Tapi dia punya keberanian dan empati.
Simpanse itu sekarang hidup di sanctuary yang aman.
Mengapa Anak Muda Memberikan Harapan?
Jane menjelaskan tiga alasan:
1. Mereka belum sinis
Orang dewasa sering berkata: "Dunia terlalu rusak. Tidak ada yang bisa kita lakukan."
Anak muda berkata: "Belum selesai. Mari kita coba."
2. Mereka akan mewarisi planet ini
Ini bukan abstrak bagi mereka. Ini adalah masa depan mereka. Dan mereka tidak akan diam-diam menerima planet yang rusak.
3. Mereka punya kreativitas dan energi
Generasi muda melihat masalah dengan mata segar. Mereka tidak terikat pada "bagaimana sesuatu selalu dilakukan." Mereka menemukan solusi baru, inovatif.
Greta dan Gerakan Iklim
Jane berbicara tentang Greta Thunberg—gadis remaja dari Swedia yang memulai school strike untuk iklim sendirian di depan parlemen.
Satu orang. Satu papan. Satu tindakan.
Dalam setahun, jutaan anak muda di seluruh dunia bergabung. Mereka memaksa pemimpin dunia untuk mendengarkan.
Jane berkata: "Jangan pernah meremehkan kekuatan individu untuk memulai gerakan."
Bagian 4: Semangat Juang Manusia yang Tak Terkalahkan—The Indomitable Human Spirit
Kisah yang Membuat Jane Menangis
Jane menceritakan kisah seorang pria bernama Rick Swope.
1990. Detroit Zoo. Rick sedang berkunjung dengan keluarganya ketika dia melihat sesuatu yang mengerikan: seekor simpanse bernama Jo-Jo jatuh ke parit berisi air di kandangnya—dan simpanse tidak bisa berenang.
Jo-Jo tenggelam.
Penjaga kebun binatang berteriak: "Jangan masuk! Simpanse bisa membunuhmu!"
Tapi Rick tidak berpikir. Dia melompat ke air yang dalam dan dingin, menyelam, dan mengangkat Jo-Jo—yang beratnya 60 kg dan dalam kepanikan bisa merobek lengannya—ke permukaan.
Ketika ditanya mengapa dia mengambil risiko, Rick berkata sederhana: "Aku melihat matanya. Dan aku tidak bisa membiarkan dia mati."
Jane menulis: "Itulah semangat manusia yang tak terkalahkan—kemampuan untuk bertindak dengan keberanian dan empati bahkan ketika ada risiko personal."
Dari Neraka ke Harapan
Jane berbagi kisah lain—tentang seorang pria bernama Marc.
Marc dibesarkan dalam kemiskinan dan kekerasan. Ayahnya pecandu alkohol yang menganiayanya. Di usia 15, dia hidup di jalanan, terlibat dalam geng, kecanduan narkoba.
Dia seharusnya jadi statistik—anak yang "hilang."
Tapi ada satu guru yang percaya padanya. Satu orang yang melihat potensinya dan berkata: "Kamu bisa lebih dari ini."
Kata-kata itu—dan empati yang datang bersamanya—mengubah hidupnya.
Hari ini, Marc adalah pekerja sosial yang membantu anak-anak jalanan. Dia memberikan harapan yang pernah dia terima kepada generasi berikutnya.
Jane berkata: "Inilah yang membuat saya percaya pada manusia: kemampuan kita untuk bangkit dari kegelapan, untuk mengubah rasa sakit menjadi purpose, untuk mengubah penderitaan kita menjadi service untuk orang lain."
Nelson Mandela—Simbol Semangat yang Tak Terkalahkan
Jane mengingat pertemuannya dengan Nelson Mandela setelah dia dibebaskan dari penjara.
27 tahun dipenjara. 27 tahun dicuri dari hidupnya. Setiap alasan untuk membenci.
Tapi ketika dia keluar, dia tidak membawa dendam. Dia membawa visi untuk rekonsiliasi.
Jane bertanya padanya: "Bagaimana Anda tidak membenci?"
Mandela menjawab: "Kebencian adalah penjara. Jika saya membenci, saya masih dipenjara—bahkan setelah bebas. Saya memilih kebebasan."
Itulah kekuatan semangat manusia: kemampuan untuk memilih bagaimana merespons—bahkan dalam keadaan terburuk.
Bagian 5: Dari Harapan ke Tindakan
Harapan Bukan Pasif
Jane menekankan dengan kuat: "Harapan bukan wishful thinking. Harapan adalah ACTION."
Duduk di sofa sambil berharap dunia akan berubah—itu bukan harapan. Itu fantasi.
Harapan sejati adalah berkata: "Aku melihat masalahnya. Aku tidak tahu apakah usahaku akan cukup. Tapi aku akan bertindak anyway."
Setiap Hari Kita Membuat Perbedaan
Jane memberikan konsep sederhana namun powerful:
"Setiap hari, setiap orang membuat perbedaan—dan kita memilih jenis perbedaan apa yang kita buat."
Pilihan kecil yang kita buat setiap hari memiliki dampak:
Makanan yang kita beli:
- Apakah dari pertanian berkelanjutan atau pabrik yang merusak lingkungan?
- Apakah kita mendukung produk lokal atau korporasi besar yang tidak peduli?
Cara kita bergerak:
- Apakah kita berjalan/bersepeda/transportasi publik ketika bisa, atau selalu naik mobil pribadi?
Apa yang kita pakai:
- Apakah kita membeli fast fashion yang mengeksploitasi pekerja dan merusak lingkungan?
- Atau kita memilih kualitas yang tahan lama dan ethically made?
Bagaimana kita menggunakan suara kita:
- Apakah kita menyebarkan kebencian dan disinformasi?
- Atau kita menyebarkan kebenaran dan kebaikan?
Jane berkata: "Jangan meremehkan kekuatan pilihan individual Anda. Kalikan dengan miliaran orang, dan itu mengubah ekonomi, politik, dan budaya."
Three Things You Can Do Today
Jane memberikan tiga langkah praktis:
1. Make Ethical Choices
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan:
- Apakah ini merusak lingkungan?
- Apakah ini melibatkan penderitaan hewan?
- Apakah ini mengeksploitasi orang?
Jika ya untuk salah satu, cari alternatif.
2. Speak Up
Gunakan suara Anda. Bicara dengan teman dan keluarga. Tulis kepada politisi. Dukung organisasi yang melakukan pekerjaan baik. Gunakan media sosial untuk edukasi, bukan polarisasi.
3. Connect with Nature
Habiskan waktu di alam—bahkan jika hanya taman lokal. Ketika kita terputus dari alam, kita tidak peduli untuk melindunginya. Ketika kita merasakan keajaibannya, kita akan berjuang untuknya.
Bagian 6: Pertanyaan Paling Penting
"Tapi Apakah Sudah Terlambat?"
Ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan kepada Jane.
Jawabannya sederhana dan jujur:
"Saya tidak tahu. Tapi satu hal yang saya tahu: jika kita menyerah, kita pasti gagal. Jika kita bertindak, kita punya kesempatan."
Jane mengutip antropolog Margaret Mead:
"Never doubt that a small group of thoughtful, committed citizens can change the world; indeed, it's the only thing that ever has."
Setiap gerakan besar dimulai dengan sekelompok kecil orang yang menolak menerima status quo.
Harapan di Saat Gelap
Jane mengakui: ada hari-hari ketika dia merasa kewalahan. Ketika berita terlalu buruk. Ketika kemajuan terlalu lambat.
Tapi kemudian dia ingat:
- Simpanse yang dia selamatkan yang sekarang bebas
- Hutan yang tumbuh kembali
- Anak-anak yang dia temui yang penuh energi dan komitmen
- Orang-orang biasa yang melakukan hal luar biasa
Dan dia ingat sesuatu yang penting:
"Harapan bukan tentang percaya semuanya akan baik-baik saja. Harapan adalah tentang bertindak seolah-olah apa yang kita lakukan penting—karena memang penting."
Penutup: Warisan yang Kita Tinggalkan
Jane Goodall sekarang berusia 80-an. Dia telah menghabiskan lebih dari 60 tahun berjuang untuk alam, hewan, dan manusia.
Ketika ditanya apa yang membuatnya terus bergerak, dia menjawab:
"Saya punya 22 cicit. Dan saya tidak bisa melihat mata mereka dan mengatakan saya tidak melakukan semua yang saya bisa."
Itulah inti dari harapan: tanggung jawab kepada generasi yang akan datang.
Pertanyaan untuk Anda
Jane meninggalkan kita dengan pertanyaan sederhana namun powerful:
"Seratus tahun dari sekarang, apa yang Anda ingin orang-orang katakan tentang generasi kita?"
Apakah kita akan diingat sebagai generasi yang tahu tentang krisis tapi tidak melakukan apa-apa?
Atau generasi yang bangkit, yang membuat pilihan sulit, yang mengubah arah—meskipun terlambat?
Jawabannya bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.
Pesan Terakhir Jane
Di akhir buku, Jane berbagi pesan yang dia berikan di setiap pembicaraannya:
"Kita tidak bisa menyelamatkan planet sendiri. Tapi bersama-sama—dengan kecerdasan kita, dengan ketangguhan alam, dengan energi anak muda, dan dengan semangat juang yang tak terkalahkan—kita punya kesempatan."
Dan kesempatan itu dimulai dengan pilihan sederhana:
Harapan atau putus asa? Tindakan atau kelumpuhan? Masa depan atau kepasrahan?
Jane telah membuat pilihannya. Dia memilih harapan. Dia memilih tindakan. Setiap hari, sampai napas terakhirnya.
Sekarang pertanyaannya:
Apa yang akan Anda pilih?
Karena seperti Jane suka katakan:
"Hanya jika kita memahami, kita akan peduli. Hanya jika kita peduli, kita akan membantu. Hanya jika kita membantu, kita akan diselamatkan."
Waktu untuk memahami sudah berlalu. Sekarang waktu untuk peduli dan membantu.
Masa depan menunggu keputusan kita.
Tentang Buku Asli
"The Book of Hope: A Survival Guide for Trying Times" diterbitkan pada Oktober 2021, hasil dari percakapan antara Jane Goodall dan penulis Douglas Abrams di Inggris selama pandemi COVID-19.
Dame Jane Goodall adalah primatolog terkemuka dunia, antropolog, dan aktivis lingkungan. Pada usia 26 tahun tanpa gelar formal, dia memulai penelitian groundbreaking tentang simpanse liar di Gombe, Tanzania—penelitian yang berlanjut hingga hari ini sebagai studi lapangan terpanjang tentang hewan liar di dunia.
Dia adalah Messenger of Peace PBB, telah menerima lebih dari 100 penghargaan internasional, dan mendirikan Jane Goodall Institute yang bekerja untuk konservasi dan kemanusiaan di seluruh dunia.
Untuk pengalaman lengkap dari kebijaksanaan, kehangatan, dan insight mendalam Jane Goodall, sangat disarankan membaca buku aslinya. Format percakapan membuat buku terasa intim dan personal, seolah Anda sedang duduk dengan Jane di kebunnya sambil minum teh.
Ringkasan ini menangkap pesan-pesan inti, tetapi buku asli penuh dengan anekdot personal, detail ilmiah, dan nuansa yang mengubah cara kita melihat hubungan kita dengan alam dan satu sama lain.
Sekarang pergilah—dengan harapan, dengan tujuan, dengan tindakan.
Karena seperti Jane katakan: "Yang paling Anda butuhkan adalah harapan—harapan bahwa upaya Anda akan membuat perbedaan."
Dan mereka akan. Jika kita bertindak bersama.