Coming Up For Air
by George Orwell · March 2026 · 15 min read
Gigi Palsu dan Hidup Palsu
Table of contents
Gigi Palsu dan Hidup Palsu
Bayangkan Anda berdiri di depan cermin, memasang gigi palsu Anda untuk hari yang baru.
Tidak, bukan gigi asli Anda. Gigi yang sudah dicabut satu per satu—karena pembusukan, karena waktu, karena kehidupan yang menggerus Anda perlahan. Sekarang Anda punya gigi palsu yang sempurna, putih, rata. Terlalu sempurna. Terlalu palsu.
Dan tiba-tiba, sambil memasang gigi itu, Anda menyadari sesuatu yang mengerikan:
Bukan hanya gigi Anda yang palsu. Seluruh hidup Anda palsu.
Rumah suburban Anda yang sempit. Istri yang terus mengomel tentang uang. Anak-anak yang Anda hampir tidak kenal. Pekerjaan sebagai salesman asuransi yang Anda benci. Hipotek yang mencekik. Tagihan yang tidak ada habisnya. Kehidupan yang terasa seperti penjara tanpa jeruji.
Ini adalah George Bowling—protagonis dalam "Coming Up For Air," novel George Orwell yang ditulis tahun 1939, tepat sebelum dunia meledak dalam Perang Dunia II.
George Bowling berusia 45 tahun, gemuk, botak, kehilangan semua gigi aslinya. Dia adalah everyman—orang biasa yang terjebak dalam kehidupan yang tidak pernah dia pilih. Dan suatu hari, dia memutuskan untuk melarikan diri.
Bukan melarikan diri dari istri atau pekerjaan—itu terlalu klise. Dia ingin melarikan diri ke masa lalu. Kembali ke Lower Binfield, desa tempat dia tumbuh, tempat di mana—menurut ingatannya—hidup itu sederhana, indah, dan bebas.
Tapi apa yang dia temukan di sana akan menghancurkan semua ilusinya.
"Coming Up For Air" adalah novel tentang nostalgia yang berbahaya, tentang masa lalu yang tidak bisa dikembalikan, dan tentang masa depan yang menakutkan. Ditulis tepat sebelum perang, novel ini adalah teriakan terakhir seseorang yang tahu badai mendekat—dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Bagian 1: Terjebak di Suburbia—Hidup yang Tidak Diinginkan
Pagi yang Sama Setiap Hari
George Bowling bangun di rumah suburban yang sama. Kamar tidur yang sama. Kasur yang sama yang pegas-pegasnya sudah kendur. Istri Hilda yang sama yang wajahnya sudah berubah menjadi topeng kekesalan permanen.
Sarapan yang sama: roti panggang yang gosong, teh yang terlalu kental, suara anak-anak bertengkar di latar belakang.
Kereta yang sama ke kantor. Wajah-wajah yang sama di gerbong—semua pucat, lelah, setengah hidup.
Pekerjaan yang sama: menjual polis asuransi jiwa kepada orang-orang yang tidak mampu membelinya. Tersenyum palsu. Berbicara dengan antusias palsu tentang "keamanan finansial di masa depan" sementara dia sendiri tenggelam dalam hutang.
Setiap hari sama. Setiap hari sedikit lebih buruk.
George menggambarkannya seperti tenggelam—perlahan, inci demi inci, dalam air keruh. Hipotek. Tagihan toko kelontong. Premi asuransi. Pakaian anak-anak. Perbaikan rumah. Tidak pernah ada uang yang cukup. Tidak pernah ada napas yang cukup.
Ini adalah kehidupan kelas menengah bawah di Inggris tahun 1930-an—terjebak antara kemiskinan dan kemakmuran, tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tidak cukup kaya untuk merasa aman.
Istri yang Tidak Dikenalnya Lagi
Hilda dulunya berbeda. Atau mungkin George yang mengingat dengan salah?
Dua puluh tahun menikah telah mengubah mereka berdua. Hilda sekarang adalah wanita yang terobsesi dengan uang—atau lebih tepatnya, dengan tidak adanya uang. Setiap percakapan tentang tagihan. Setiap makan malam tentang penghematan. Setiap malam tentang kekhawatiran.
Mereka tidak pernah berbicara tentang hal-hal yang penting lagi. Tidak tentang perasaan. Tidak tentang mimpi. Hanya tentang apakah mereka mampu membeli karpet baru atau tidak.
Dan seks? Sudah bertahun-tahun. Mereka tidur di kasur yang sama tapi hidup di dunia yang berbeda.
George melihat Hilda dan bertanya-tanya: Kapan kami berhenti saling mencintai? Atau kami tidak pernah benar-benar mencintai sejak awal?
Ancaman Perang—Bayangan yang Mendekat
Tapi ada yang lebih buruk dari kehidupan yang membosankan: ketakutan akan apa yang akan datang.
Tahun 1938. Hitler sudah berkuasa. Jerman mempersenjatai kembali. Perang sudah terasa di udara—seperti bau hujan sebelum badai.
George pergi ke rapat politik. Kaum kiri bicara tentang revolusi proletariat. Kaum kanan bicara tentang ancaman Bolshevik. Semua orang berteriak. Semua orang marah. Semua orang yakin mereka benar.
Tapi George melihat pola yang sama: totalitarianisme.
Tidak peduli kiri atau kanan, semua ideologi baru ini ingin hal yang sama—kontrol total. Tidak ada ruang untuk individu. Tidak ada ruang untuk kebebasan. Tidak ada ruang untuk orang biasa seperti George Bowling yang hanya ingin hidup damai.
Dia tahu perang akan datang. Bom akan jatuh. Kota-kota akan hancur. Dan kehidupan kecil, sederhana, membosankan yang dia benci ini akan terlihat seperti surga dibandingkan dengan apa yang akan datang.
Tapi sebelum neraka itu tiba, dia ingin satu hal: mengingat seperti apa rasanya menjadi bebas.
Bagian 2: Kenangan Lower Binfield—Masa Lalu yang Bercahaya
Desa yang Hilang
Lower Binfield. Tempat George Bowling tumbuh sebelum Perang Dunia I. Sebelum segalanya berubah.
Dalam ingatannya, Lower Binfield adalah surga. Desa kecil di Oxfordshire dengan sungai yang jernih, padang rumput hijau, pohon-pohon besar yang teduh. Tempat di mana semua orang saling kenal. Tempat di mana waktu berjalan lambat.
Ayahnya punya toko benih—bisnis kecil yang cukup untuk hidup nyaman tapi tidak kaya. Ibu yang lembut. Kehidupan yang sederhana tapi stabil.
Dan yang paling penting: kebebasan.
Ikan Mas Raksasa—Simbol Keajaiban yang Hilang
Kenangan paling vivid George adalah tentang ikan.
Saat remaja, dia sering memancing di kolam besar milik orang kaya di pinggir desa. Kolam itu tersembunyi di belakang pepohonan, hampir tidak ada yang tahu.
Suatu hari, dia melihatnya: ikan mas raksasa—sebesar lengannya, berwarna oranye keemasan, berenang di kedalaman kolam yang gelap.
George tidak pernah berhasil menangkapnya. Dia mencoba berkali-kali, tapi ikan itu terlalu pintar, terlalu kuat. Tapi dia tahu ikan itu ada di sana—monster yang indah, rahasia yang hanya dia yang tahu.
Ikan itu menjadi simbol dari masa kecilnya: keajaiban, misteri, kemungkinan tak terbatas.
Dunia waktu itu masih punya rahasia. Masih ada tempat yang belum dijelajahi. Masih ada keajaiban yang menunggu.
Inggris Sebelum Perang—Dunia yang Tidak Akan Pernah Kembali
Lower Binfield dalam ingatan George adalah Inggris Edwardian—stabil, percaya diri, optimis.
Raja Edward VII di tahta. Imperium Britania di puncak kekuasaan. Tidak ada yang membayangkan bahwa dalam beberapa tahun, jutaan orang akan mati di parit Perang Dunia I.
Tapi bukan politik yang George ingat. Yang dia ingat adalah:
- Bau rumput yang baru dipotong di musim panas
- Rasa roti segar dari toko roti lokal
- Suara lonceng gereja di Minggu pagi
- Perasaan bahwa waktu itu tidak terbatas—bahwa dia punya seluruh hidup di depannya
Ini adalah nostalgia dalam bentuk paling murni—dan paling berbahaya.
Karena George tidak hanya merindukan tempat. Dia merindukan waktu. Dia merindukan dirinya yang muda. Dia merindukan dunia yang tidak lagi ada.
Bagian 3: Keputusan Melarikan Diri—Seventeen Pounds
Rejeki Nomplok
Suatu hari, George menerima surat dari perusahaan asuransi lama—dia lupa bahwa dia punya polis kecil. Polis itu sekarang jatuh tempo.
Tujuh belas pound. Uang yang tidak tercatat. Uang yang Hilda tidak tahu.
Bagi kebanyakan orang, tujuh belas pound bukan banyak. Tapi bagi George Bowling, ini adalah kebebasan.
Dia tidak memberitahu Hilda. Dia tidak akan menggunakannya untuk membayar tagihan atau membeli barang rumah tangga. Ini uangnya. Untuk sekali dalam hidupnya, dia akan melakukan sesuatu hanya untuk dirinya sendiri.
Dia akan kembali ke Lower Binfield.
Rencana Pelarian
George merencanakan dengan hati-hati. Dia memberitahu Hilda bahwa dia harus pergi untuk konferensi pekerjaan selama seminggu. Dia mengemas tas kecil. Dia menyewa mobil.
Tapi ini bukan hanya perjalanan fisik. Ini adalah pelarian dari kehidupan modernnya yang menyesakkan.
Dia ingin melihat apakah Lower Binfield masih seperti yang dia ingat. Dia ingin menemukan kolam dengan ikan mas raksasa itu. Dia ingin, hanya untuk beberapa hari, merasa seperti George Bowling muda lagi—bebas, penuh harapan, penuh kemungkinan.
Dia tahu ini mungkin bodoh. Dia tahu dia tidak bisa benar-benar kembali ke masa lalu. Tapi dia harus mencoba.
Karena alternatifnya adalah terus tenggelam—hari demi hari, tahun demi tahun—sampai dia mati tanpa pernah benar-benar hidup lagi.
Bagian 4: Kembali ke Lower Binfield—Kehancuran Surga
Kota yang Asing
George menyetir mobil sewaan ke Lower Binfield dengan jantung berdebar. Dia sudah tidak kembali selama lebih dari 20 tahun.
Saat mendekati desa, ada sesuatu yang salah.
Lower Binfield tidak lagi desa kecil yang tenang. Itu sekarang kota kecil yang berkembang—atau lebih tepatnya, yang dikembangkan dengan buruk.
Rumah-rumah baru di mana-mana. Bukan rumah yang indah—rumah-rumah suburban yang identik, dibangun cepat dan murah. Baris demi baris rumah yang sama dengan taman kecil yang sama.
Toko-toko lama sudah hilang. Digantikan oleh rantai toko besar. Woolworth. Boots. Sainsbury's. Tidak ada yang unik lagi. Tidak ada yang lokal.
Jalanan diperlebar untuk mobil. Lampu lalu lintas dipasang. Keramaian dan kebisingan di mana dulu ada ketenangan.
Lower Binfield telah menjadi seperti setiap tempat lain—generik, soulless, modern.
Rumah Masa Kecilnya—Sekarang Bank
George mencari toko benih ayahnya. Gedung itu masih ada—tapi sekarang menjadi cabang bank.
Dia berdiri di depannya, menatap jendela kaca besar yang dipenuhi poster tentang suku bunga dan pinjaman. Di belakang kaca itu dulunya adalah toko ayahnya—dengan kantong-kantong benih, alat-alat berkebun, bau tanah dan pupuk.
Sekarang hanya ada meja-meja kantor, pegawai dengan seragam, dan atmosfer yang steril.
Masa lalunya telah dihapus. Ditimpa. Digantikan dengan sesuatu yang lebih "efisien."
Kolam Ikan—Kehancuran Terakhir
Tapi George masih punya harapan: kolam dengan ikan mas raksasa.
Dia berjalan ke luar kota, mencari tempat yang tersembunyi di ingatannya. Dia menemukan jalan setapak. Dia melewati pepohonan.
Dan dia menemukan kolam.
Atau apa yang tersisa darinya.
Kolam itu sekarang adalah tempat pembuangan sampah.
Air yang dulu jernih sekarang keruh dan berbau. Sampah mengapung di permukaan. Kaleng, botol, puing-puing. Tidak ada ikan. Tidak ada kehidupan. Hanya kematian dan pembusukan.
George berdiri di tepi kolam yang hancur itu dan menyadari kebenaran yang menghancurkan:
Ikan mas raksasa itu tidak pernah benar-benar ada. Atau jika pernah ada, sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Keajaiban masa kecilnya hanyalah ilusi—kenangan yang diperindah oleh waktu.
Dia tidak bisa kembali. Tidak ada yang bisa.
Bagian 5: Bom yang Jatuh—Masa Depan Datang Lebih Cepat
Latihan Perang
Pada hari terakhir George di Lower Binfield, sesuatu terjadi yang akan mengubah segalanya.
Royal Air Force sedang melakukan latihan pengeboman di dekatnya. Pesawat-pesawat terbang rendah di atas kota.
Lalu satu bom—bom latihan, seharusnya tidak berbahaya—jatuh di tempat yang salah.
Meledak tepat di tengah High Street.
Tidak ada yang tewas, tapi bangunan-bangunan rusak. Kaca pecah. Orang-orang berteriak. Chaos.
George berdiri di antara reruntuhan, debu, dan kepanikan, dan dia menyadari:
Inilah pratinjau dari apa yang akan datang. Perang sudah hampir tiba. Dan tidak ada tempat untuk bersembunyi.
Lower Binfield tidak akan menyelamatkannya. Masa lalu tidak akan melindunginya. Nostalgia adalah kemewahan yang tidak akan ada dalam dunia yang akan datang.
Pulang dengan Tangan Kosong
George kembali ke rumah suburbannya. Ke Hilda yang mengomel. Ke anak-anak yang acuh. Ke pekerjaan yang membosankan. Ke hipotek dan tagihan.
Hilda curiga. "Kamu pergi ke mana sebenarnya?"
George berbohong. Katanya dia menghadiri konferensi. Tapi dia tahu Hilda tidak percaya.
Dan yang lebih buruk: dia tidak peduli lagi.
Pelarian ke masa lalu gagal. Masa lalu sudah mati dan dikubur di bawah beton dan modernitas. Masa depan akan menjadi bom dan kehancuran.
Yang tersisa hanya masa kini—kehidupan yang membosankan, menyesakkan, tidak memuaskan. Tapi setidaknya itu nyata.
Bagian 6: Pesan Orwell—Profesi untuk Masa Depan
Tidak Ada Tempat untuk "Coming Up For Air"
Judul buku ini—"Coming Up For Air"—adalah metafora seseorang yang tenggelam dan muncul ke permukaan untuk bernapas.
George Bowling merasa tenggelam dalam kehidupan modernnya. Dia pikir dengan kembali ke Lower Binfield, dia bisa "muncul ke permukaan" dan bernapas bebas lagi.
Tapi yang dia temukan adalah tidak ada permukaan. Tidak ada udara bersih. Dunia lama sudah tenggelam sepenuhnya.
Orwell menulis novel ini tahun 1939 dengan kesadaran penuh bahwa perang akan segera datang. Dan dia benar—enam bulan setelah buku ini diterbitkan, Perang Dunia II dimulai.
Tapi buku ini bukan hanya tentang perang. Ini tentang kehilangan yang lebih dalam—kehilangan individualitas, kebebasan, dan koneksi dengan masa lalu.
Kehancuran Kelas Menengah
George Bowling mewakili kelas menengah Inggris—bukan kaya, bukan miskin, terjebak di tengah.
Di era Edwardian, kelas menengah punya stabilitas. Tapi setelah Perang Dunia I, semuanya berubah. Inflasi. Depresi ekonomi. Ancaman perang lagi.
Dan yang lebih buruk: munculnya ideologi-ideologi totalitarian.
Orwell melihat fasisme di Jerman dan Italia. Dia melihat komunisme Stalinis di Rusia. Dan dia menyadari bahwa ideologi-ideologi ini—meskipun berlawanan secara politik—punya satu kesamaan: mereka ingin menghancurkan individu.
George Bowling adalah individu. Dia tidak peduli tentang revolusi proletariat atau kemurnian ras. Dia hanya ingin memancing, makan enak, dan dibiarkan sendiri.
Tapi dunia baru tidak punya tempat untuk orang seperti dia. Anda harus memilih sisi. Anda harus loyal pada ideologi. Tidak ada ruang untuk orang biasa yang hanya ingin hidup damai.
Nostalgia Berbahaya
Orwell juga memperingatkan tentang bahaya nostalgia.
George Bowling mengidealkan masa lalunya. Dia pikir Lower Binfield adalah surga. Tapi ketika dia kembali, dia menemukan bahwa ingatannya telah memalsukan realitas.
Kolam itu tidak seindah yang dia ingat. Ikan mas raksasa mungkin tidak pernah ada. Masa lalu yang "indah" itu sebagian besar adalah konstruksi imajinasinya—cara untuk melarikan diri dari kepahitan masa kini.
Pelajaran: Nostalgia adalah bentuk penyangkalan. Masa lalu tidak pernah sebaik yang kita ingat. Dan lebih penting lagi—kita tidak bisa kembali.
Satu-satunya pilihan adalah menghadapi masa kini, tidak peduli seberapa buruknya.
Bagian 7: Relevansi Hari Ini—Mengapa Buku Ini Masih Penting
Kita Semua George Bowling
Berapa banyak dari kita yang merasa seperti George Bowling?
- Terjebak dalam pekerjaan yang tidak kita cintai
- Tenggelam dalam hutang dan tanggung jawab
- Merindukan masa lalu yang "lebih sederhana"
- Takut akan masa depan yang tidak pasti
George Bowling adalah everyman tahun 1939. Tapi dia juga everyman tahun 2025.
Kita masih merasa mati lemas dalam kehidupan modern. Masih merindukan masa kecil kita. Masih mencari "kolam dengan ikan mas raksasa"—sesuatu yang ajaib, sesuatu yang membuat hidup terasa berharga lagi.
Modernitas yang Menghancurkan
Lower Binfield yang berubah menjadi kota suburban yang generik adalah metafora untuk apa yang terjadi di mana-mana.
Kota-kota kecil yang unik digantikan oleh mall dan rantai toko yang identik. Budaya lokal tergantikan oleh budaya global yang homogen. Rumah-rumah dibangun dengan cepat dan murah, tanpa karakter, tanpa jiwa.
Kita semua hidup di Lower Binfield yang sudah hancur.
Dan seperti George, kita merindukan sesuatu yang hilang—otentisitas, keunikan, koneksi dengan tempat dan sejarah.
Totalitarianisme Baru
Ketakutan Orwell tentang totalitarianisme menjadi nyata setahun setelah buku ini dengan Perang Dunia II. Dan empat tahun kemudian, dia akan menulis "1984"—distopia tentang kontrol total negara.
Tapi pesan "Coming Up For Air" lebih subtle: totalitarianisme tidak selalu datang dalam bentuk kediktatoran terang-terangan. Kadang datang sebagai modernitas yang perlahan menghancurkan kebebasan individu.
Surveillance capitalism. Social media yang adiktif. Debt trap. Kehidupan yang dirancang untuk membuat kita tergantung, lelah, dan tidak punya waktu atau energi untuk berpikir.
George Bowling pada tahun 1939 tidak punya smartphone. Tapi dia sudah merasa seperti tenggelam, seperti kehilangan kontrol atas hidupnya sendiri.
Berapa banyak dari kita yang merasa sama?
Penutup: Pelajaran dari Ikan yang Tidak Pernah Tertangkap
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Masa Lalu Tidak Bisa Dikembalikan—Dan Itu Oke
George Bowling mencoba kembali ke Lower Binfield dan menemukan bahwa tempat itu sudah tidak ada. Ikan mas raksasa itu tidak pernah benar-benar ada—atau jika pernah, sudah mati.
Pelajaran: Hentikan mengidealkan masa lalu. "Masa-masa yang baik" tidak sebaik yang Anda ingat. Anda tidak bisa kembali—dan bahkan jika bisa, Anda akan kecewa.
Yang bisa Anda lakukan adalah menciptakan sesuatu yang bermakna di masa kini.
2. Kehidupan Biasa Punya Nilai—Jangan Meremehkannya
George membenci kehidupannya yang membosankan. Tapi setelah bom jatuh, dia menyadari bahwa kehidupan "biasa" itu—rumah, keluarga, pekerjaan yang stabil—adalah kemewahan yang tidak akan ada di masa perang.
Pelajaran: Kehidupan yang tenang dan membosankan adalah hak istimewa. Jangan tunggu sampai kehilangan untuk menghargai apa yang Anda punya.
3. Pelarian Bukan Solusi—Anda Harus Menghadapi Realitas
Perjalanan George ke Lower Binfield adalah pelarian. Dia lari dari Hilda, dari tagihan, dari ancaman perang. Tapi pelarian itu tidak menyelesaikan apa-apa.
Pelajaran: Anda tidak bisa lari dari masalah Anda. Anda harus menghadapinya. Bahkan jika masa depan menakutkan, satu-satunya jalan adalah maju—bukan mundur.
4. Jangan Biarkan Sistem Menenggelamkan Anda
George merasa tenggelam dalam hutang, tanggung jawab, ekspektasi. Tapi dia tidak sepenuhnya pasif—dia melakukan satu tindakan pemberontakan kecil dengan menggunakan tujuh belas pound untuk dirinya sendiri.
Pelajaran: Dalam sistem yang dirancang untuk membuat Anda tergantung dan lelah, tindakan pemberontakan kecil itu penting. Simpan sedikit untuk diri Anda sendiri. Jangan tenggelam sepenuhnya.
5. Keajaiban Masih Ada—Tapi Bukan di Masa Lalu
Ikan mas raksasa adalah simbol keajaiban. Tapi George mencarinya di tempat yang salah—di masa lalu.
Pelajaran: Keajaiban dan makna masih ada. Tapi Anda harus mencarinya di masa kini, dalam hubungan yang nyata, dalam tindakan yang berarti—bukan dalam nostalgia tentang dunia yang sudah tidak ada.
Pertanyaan untuk Anda
George Orwell menulis "Coming Up For Air" sebagai teriakan terakhir sebelum dunia tenggelam dalam perang.
Sekarang pertanyaan untuk Anda:
- Lower Binfield Anda apa? Masa lalu apa yang Anda idealkan—dan mengapa Anda takut menghadapi masa kini?
- Apa "gigi palsu" dalam hidup Anda—bagian dari diri Anda yang sudah tidak asli, yang sudah Anda korbankan untuk "hidup normal"?
- Jika Anda punya tujuh belas pound (atau waktu, atau kebebasan kecil)—apakah Anda akan menggunakannya untuk pelarian, atau untuk mengubah sesuatu yang nyata?
George Bowling tidak menemukan ikan mas raksasanya. Tapi dia menemukan sesuatu yang lebih penting: keberanian untuk melihat realitas apa adanya—tidak peduli seberapa buruknya.
Itulah satu-satunya cara untuk benar-benar "coming up for air"—bukan dengan melarikan diri ke masa lalu, tapi dengan menghadapi masa kini dengan mata terbuka.
Tentang Buku Asli
"Coming Up For Air" diterbitkan pada Juni 1939, tiga bulan sebelum dimulainya Perang Dunia II.
George Orwell menulis buku ini di Marrakech, Maroko, saat pulih dari tuberkulosis. Dia tahu bahwa perang akan segera datang—dia baru saja kembali dari Perang Saudara Spanyol di mana dia bertarung melawan fasisme.
Buku ini kurang terkenal dibandingkan "1984" atau "Animal Farm," tapi banyak kritikus menganggapnya sebagai novel paling personal Orwell—refleksi tentang kehilangan, nostalgia, dan ketakutan akan masa depan.
Protagonis George Bowling adalah alter ego Orwell sendiri—orang biasa yang terjebak antara kehidupan yang tidak memuaskan dan masa depan yang mengerikan.
Untuk pemahaman penuh tentang visi Orwell tentang modernitas yang menghancurkan, sangat disarankan membaca buku aslinya. Orwell menulis dengan prosa yang sederhana tapi powerful, dengan humor gelap, dan dengan kejujutan yang brutal tentang kondisi manusia.
Sekarang pergilah dan hadapi realitas Anda—tidak peduli seberapa tidak sempurnanya.
Karena seperti yang George Bowling pelajari dengan susah payah: Anda tidak bisa berenang kembali ke masa lalu. Anda hanya bisa muncul ke permukaan dan bernapas di masa kini.
Dan kemudian, entah bagaimana, terus berenang maju.