Dead and Alive
by Zadie Smith · April 2026 · 14 min read
Pertanyaan yang Mengubah Cara Anda Melihat Dunia
Table of contents
Pertanyaan yang Mengubah Cara Anda Melihat Dunia
Bayangkan Anda berusia 50 tahun, berdiri di tengah kehidupan yang sudah Anda bangun dengan susah payah.
Anda adalah penulis terkenal. Profesor di universitas bergengsi. Orang mendengarkan ketika Anda berbicara. Buku-buku Anda dibaca jutaan orang.
Tapi setiap kali Anda melihat karya seni baru, membaca buku baru, menonton film baru, atau bertemu orang baru—ada satu pertanyaan yang selalu Anda tanyakan pada diri sendiri:
"Apakah ini membuat saya merasa hidup?"
Bukan "Apakah ini bagus?" atau "Apakah ini penting?" atau "Apakah ini populer?"
Tapi: Apakah ini membuat saya merasa hidup?
Karena Zadie Smith—novelis brilian yang meledak ke dunia sastra di usia 25 tahun dengan "White Teeth"—sekarang berusia 50. Dan pada usia 50, Anda menyadari sesuatu yang menakutkan dan membebaskan sekaligus:
Waktu tidak menunggu. Kehidupan berlalu dalam sekejap mata. Dan jika Anda tidak hidup dengan sepenuhnya—jika Anda hanya melakukan gerakan, hanya mengikuti arus, hanya menjadi versi "profesional" dari diri Anda—maka Anda sebenarnya sudah mati meskipun masih bernapas.
"Dead and Alive" adalah koleksi 30 esai yang ditulis antara 2016 dan 2025—dekade yang penuh dengan perubahan politik yang mengerikan, pandemi global, kematian para penulis legendaris, dan pertanyaan mendalam tentang bagaimana kita hidup di dunia yang semakin digital, semakin terpolarisasi, semakin... tidak manusiawi.
Tapi ini bukan buku pesimis. Ini buku tentang memilih untuk tetap hidup—untuk tetap penasaran, untuk tetap terbuka, untuk tetap melihat dengan mata yang benar-benar melihat—bahkan ketika dunia memberikan Anda seribu alasan untuk menutup mata dan menyerah.
Mari kita masuk ke museum pikiran Zadie Smith—di mana setiap esai adalah ruangan baru, setiap ide adalah lukisan yang menantang Anda untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Bagian 1: Eyeballing—Seni Melihat dengan Benar
Melihat Seni sebagai Cermin Kemanusiaan
Zadie Smith memulai dengan mengajak kita melihat—benar-benar melihat—karya seni.
Bukan dengan cara kritikus yang sudah tahu semua jawaban. Bukan dengan cara turis yang hanya berfoto untuk Instagram. Tapi dengan mata yang terbuka, rentan, dan tidak takut untuk berubah.
Dia membawa kita ke galeri untuk melihat karya Toyin Ojih Odutola—seniman Nigeria-Amerika yang menggambar potret dengan detail yang menakjubkan. Tapi ini bukan sekadar potret. Ini adalah eksplorasi tentang identitas, tentang bagaimana kita melihat tubuh kulit hitam, tentang bagaimana seni bisa menantang asumsi kita tentang siapa yang "layak" untuk diabadikan dalam seni tinggi.
Dia mengajak kita merenungkan karya Kara Walker—seniman yang menggunakan siluet hitam untuk menggambarkan sejarah perbudakan Amerika dengan cara yang indah sekaligus mengerikan. Dan Smith bertanya: Bagaimana kita melihat sejarah yang menyakitkan? Apakah kita bisa menghadapinya dengan jujur, ataukah kita lebih suka menutup mata?
Film "Tár" dan Kegagalan Moral Setiap Generasi
Salah satu esai paling cemerlang dalam buku ini adalah tentang film "Tár"—tentang konduktor orkestra wanita yang jatuh dari kekuasaan karena pelecehan.
Smith tidak tertarik pada pertanyaan sederhana "Apakah dia bersalah?"
Yang dia tanyakan lebih dalam: Mengapa setiap generasi yang datang dengan idealisme dan janji untuk memperbaiki dunia—selalu berakhir mengulangi kesalahan yang sama dengan generasi sebelumnya?
"Setiap generasi membuat aturan baru," tulis Smith. "Tapi setiap generasi menghadapi kegagalan etis yang sama dari binatang manusia."
Para radikal memperbaiki kesalahan ayah mereka. Mereka tumbuh gemuk dan berkuasa. Dan kemudian generasi baru datang dan mengungkap titik buta mereka sendiri.
Ini bukan pesimisme. Ini realisme yang jujur. Dan dalam kejujuran itu, ada harapan—karena jika kita bisa melihat pola ini, mungkin kita bisa memutusnya.
Stormzy di Glastonbury—Momen yang Membuat Kita Hidup
Tapi Smith juga tahu kapan harus merayakan.
Dia membawa kita ke panggung Glastonbury, di mana Stormzy—rapper muda kulit hitam dari London—tampil di hadiran puluhan ribu orang. Dan untuk pertama kalinya, semua orang—tua, muda, putih, hitam—bernyanyi bersama, bergerak bersama, merasakan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
"Ini adalah momen," tulis Smith, "di mana Anda ingat mengapa musik penting. Bukan sebagai hiburan. Tapi sebagai pengingat bahwa kita semua manusia. Bahwa kita semua hidup. Bahwa kita semua bisa merasakan."
Dan itulah yang Smith cari dalam setiap karya seni: Apakah ini membuat saya merasa hidup?
Bagian 2: Considering—Berpikir Tentang Dunia yang Berubah
Generasi X vs Gen Z—Kesenjangan yang Tidak Bisa Dijembatani?
Smith adalah bagian dari Generasi X—generasi yang tumbuh tanpa internet, yang ingat dunia sebelum smartphone, yang membaca buku kertas dan mendengarkan CD.
Sekarang dia punya anak remaja. Dan dia melihat Gen Z—generasi yang tumbuh dengan infinite scroll, yang nilai seumur hidupnya untuk Facebook adalah $270 per orang, yang hidupnya dimediasi oleh layar sejak mereka bisa berbicara.
Dan Smith bertanya: Bagaimana kita bisa memahami satu sama lain ketika kita hidup di dunia yang sangat berbeda?
Tapi dia tidak jatuh ke dalam jebakan "generasi muda ini rusak" atau "generasi tua tidak mengerti."
Sebaliknya, dia mencoba melihat dengan jujur: Gen Z menghadapi kecemasan yang generasinya tidak pernah bayangkan. Mereka melihat bumi terbakar, demokrasi runtuh, masa depan mereka dijual untuk keuntungan korporasi—dan semua ini dimainkan di layar mereka 24/7.
Tentu saja mereka cemas. Tentu saja mereka marah. Tentu saja mereka lelah.
Dan tugas Generasi X, tulis Smith, bukan menghakimi. Tapi mendengarkan. Dan melindungi ruang di mana imajinasi masih bebas—di mana kesadaran tidak sepenuhnya dikontrol oleh algoritma.
"The Commons"—Ruang Bersama yang Semakin Hilang
Smith menulis tentang konsep "the commons"—ruang publik yang menjadi milik kita semua.
Dulu, commons adalah taman kota, perpustakaan, jalan, alun-alun. Tempat di mana orang dari semua latar belakang bisa bertemu, berbicara, hidup bersama.
Tapi sekarang? Commons sedang menghilang.
Ruang publik diprivatisasi. Percakapan publik terjadi di platform yang dimiliki oleh miliarder. Bahkan pikiran kita tidak sepenuhnya milik kita—karena algoritma memutuskan apa yang kita lihat, apa yang kita baca, apa yang kita percaya.
Smith tidak menawarkan solusi mudah. Tapi dia memperingatkan: Jika kita kehilangan commons, kita kehilangan demokrasi. Kita kehilangan kemampuan untuk hidup bersama. Kita kehilangan kemanusiaan kita.
Politik dan Kekecewaan—Trump, Brexit, dan Kehancuran yang Tidak Bisa Dihindari
Smith menulis selama periode yang brutal dalam politik—kemenangan Trump, Brexit, kebangkitan otoritarianisme di seluruh dunia.
Dan dia jujur tentang kekecewaannya. Tentang bagaimana rasanya menyaksikan dunia yang Anda pikir bergerak maju tiba-tiba berbalik mundur.
Tapi dia juga menolak untuk jatuh ke dalam despair total.
"Kita tidak punya pilihan selain terus hidup," tulisnya. "Kita tidak punya pilihan selain terus berpikir, terus berbicara, terus berjuang. Karena alternatifnya adalah menyerah. Dan menyerah adalah bentuk kematian."
Bagian 3: Reconsidering—Memikirkan Ulang Apa yang Kita Yakini
Kritik Seni di Era Cancel Culture
Salah satu esai paling kontroversial dalam buku ini adalah tentang bagaimana kita mengkritik seni di era cancel culture.
Smith bertanya: Apakah kita masih bisa mengkritik karya seni tanpa menghancurkan seniman?
Dia melihat museum yang menambahkan label peringatan di depan lukisan lama: "Karya ini mencerminkan pandangan dunia Eropa-sentris yang bermasalah."
Dan Smith bertanya: Apakah ini membantu? Atau justru memperkuat Eurosentrisme dengan memaksa kita selalu memulai dengan Eropa—bahkan jika hanya untuk mengkritiknya?
Dia tidak mengatakan kita tidak boleh mengkritik. Sebaliknya—kritik adalah bentuk cinta. Kritik adalah bentuk perhatian. Kritik adalah mengatakan "karya ini penting bagi saya, jadi saya ingin terlibat dengannya dengan serius."
Tapi ada perbedaan antara kritik dan penghancuran. Antara engagement dan pembatalan.
Protes Kampus dan Israel-Palestina—Etika yang Tidak Kontingen
Smith menulis tentang protes mahasiswa terhadap perang Israel di Gaza—salah satu topik paling terpolarisasi di zaman kita.
Dan dia tidak mengambil jalan mudah. Dia tidak mengatakan "kedua sisi sama buruknya" atau "saya tidak akan berkomentar."
Sebaliknya, dia berpendapat untuk etika yang foundational, bukan kontingen.
Artinya: Ada prinsip moral dasar—seperti "bunuh sipil adalah salah"—yang tidak bergantung pada siapa yang melakukannya atau mengapa. Etika ini tidak berubah tergantung pada narasi politik atau identitas korban.
Ini posisi yang berani—dan yang membuat banyak orang marah dari semua sisi spektrum politik.
Tapi Smith tidak peduli dengan populer. Dia peduli dengan jujur.
Revisi Biografi—Apakah Kita Menjaga Muse Tetap di Tempatnya?
Smith juga merenungkan tren "revisionary biographies"—biografi yang mengkritik seniman hebat dan mengangkat peran wanita yang diabaikan dalam hidup mereka.
Dia setuju bahwa banyak seniman pria adalah orang yang menyebalkan. Bahwa banyak wanita berbakat diabaikan.
Tapi dia juga bertanya: Apakah dengan terus-menerus menulis tentang betapa buruknya seniman pria dan betapa korbannya wanita di sekitar mereka—apakah kita secara tidak sengaja menjaga "muse tetap di tempatnya, mengorbit pria hebat"?
Mungkin cara terbaik untuk menghormati wanita seniman bukan dengan menulis tentang bagaimana mereka menderita di bawah pria—tetapi dengan menulis tentang karya mereka sendiri. Dengan membuat mereka menjadi subjek, bukan objek.
Sekali lagi: Smith tidak memberikan jawaban mudah. Dia memberikan pertanyaan yang lebih baik.
Bagian 4: Mourning—Kehilangan Para Raksasa
Joan Didion—Menulis dengan Jarak yang Dingin dan Hati yang Hangat
Bagian paling indah dari buku ini adalah ketika Smith menulis tentang penulis yang telah meninggal—orang-orang yang membentuk cara dia melihat dunia.
Dia menulis tentang Joan Didion dengan reverence yang dalam. Didion—master esai yang menulis dengan kalimat yang tajam seperti pisau, yang bisa membedah masyarakat Amerika dengan presisi bedah.
Tapi yang Smith kagumi bukan hanya ketajaman Didion. Tapi jaraknya.
Didion tidak pernah membiarkan emosinya mengaburkan pengamatannya. Dia melihat dengan jelas, dengan dingin—tapi dengan hati yang tetap hangat.
"Inilah yang saya pelajari dari Didion," tulis Smith. "Bahwa Anda bisa peduli dengan mendalam tentang dunia tanpa tenggelam dalam sentimentalitas. Bahwa kejernihan adalah bentuk kasih sayang."
Hilary Mantel—Memasuki Pikiran Orang Lain
Tentang Hilary Mantel, Smith menulis dengan kesedihan yang nyata.
Mantel adalah novelis sejarah yang bisa memasuki pikiran orang yang hidup 500 tahun lalu dan membuat mereka terasa seperti tetangga Anda.
"Hadiah terbesarnya," tulis Smith, "adalah empatinya yang tanpa batas. Kemampuannya untuk melihat dunia melalui mata orang lain—bahkan orang yang sangat berbeda darinya, bahkan orang yang hidupnya dia tidak setujui."
Ini adalah tema berulang dalam buku Smith: kemampuan untuk berempati dengan orang yang sangat berbeda dari Anda adalah salah satu keterampilan paling penting—dan paling sulit—dalam hidup.
Martin Amis, Philip Roth, Toni Morrison—Generasi yang Pergi
Smith juga menulis tentang Martin Amis, Philip Roth, dan Toni Morrison—tiga penulis besar yang meninggal dalam periode yang relatif singkat.
Ketika Smith masih remaja, semua penulis Inggris terasa sudah mati. Satu-satunya penulis hidup yang terasa penting adalah Martin Amis. Semua orang lain hidup di Amerika.
Sekarang, semua generasi itu pergi. Dan Smith merasa seperti yatim piatu secara sastra.
Tapi dia juga tahu: Ini adalah siklus alami. Generasi baru datang. Penulis baru muncul. Dan tugas generasi lama adalah melepaskan—bahkan ketika itu menyakitkan.
Bagian 5: Confessing—Pengakuan Jujur
Usia Paruh Baya—Menjadi 50 dalam Sekejap Mata
Di bagian terakhir, Smith menjadi lebih pribadi.
Dia menulis tentang menjadi 50—tentang bagaimana Anda bisa menjadi 20 tahun di satu momen, berkedip, dan tiba-tiba Anda 50.
"Satu hal yang saya tahu sekarang yang tidak saya tahu di 20 adalah: Anda menjadi 50 dalam sekejap mata," tulisnya.
Tidak ada persiapan. Tidak ada warning. Tiba-tiba Anda punya anak remaja, orang tua Anda sudah tua (atau sudah meninggal), dan Anda adalah "generasi tua" yang dibicarakan anak muda.
Tapi ada juga kebebasan dalam ini.
Di 20, Smith takut mati. Dia obsessed dengan waktu yang berlalu, dengan semua yang dia belum lakukan.
Di 50? Dia masih peduli tentang waktu. Tapi dia tidak takut lagi.
"Saya hidup dengan melankoli," katanya. "Itu bagian permanen dari cara saya berada. Tapi saya tidak punya ketakutan luar biasa tentang kematian yang saya miliki ketika saya lebih muda."
Karena pada akhirnya—satu-satunya pertanyaan yang penting adalah: Apakah saya hidup?
Kilburn High Road—Rumah yang Berubah
Smith mengajak kita berjalan di Kilburn High Road—jalan di North West London di mana dia tumbuh, di mana dia masih tinggal.
Ini bukan jalan yang glamor. Ini bukan tempat turis datang berkunjung.
Tapi ini rumahnya. Dan meskipun Kilburn telah berubah—toko-toko lama tutup, wajah-wajah baru datang—ada sesuatu tentang tempat ini yang tetap sama.
"Rumah," tulis Smith, "bukan tentang hal-hal yang tidak berubah. Rumah adalah tempat di mana Anda bisa melihat perubahan dan masih merasa Anda milik."
Mengapa Esai Penting—Kebebasan Tanpa Kaki untuk Berdiri
Smith mengutip dirinya sendiri dari koleksi esai sebelumnya: "Esai tidak punya kaki untuk berdiri. Yang mereka punya hanya kebebasan mereka."
Novel harus punya plot. Harus punya karakter. Harus punya struktur.
Tapi esai? Esai bebas untuk berkeliaran. Bebas untuk berubah pikiran. Bebas untuk bertanya tanpa menjawab.
Dan di dunia yang menuntut jawaban pasti untuk setiap pertanyaan—di dunia yang ingin semua orang punya "take yang panas" tentang semua hal—esai adalah ruang di mana ketidakpastian masih diperbolehkan.
"Kita bebas untuk melakukannya," tulis Smith. "Kebebasan ini adalah beban kita."
Bagian 6: Pelajaran dari Museum Pikiran Zadie Smith
1. Tetap Tanyakan: "Apakah Ini Membuat Saya Merasa Hidup?"
Di dunia yang penuh dengan distraksi, dengan konten tanpa akhir, dengan tuntutan perhatian dari semua arah—mudah untuk hidup dalam autopilot.
Membaca tanpa benar-benar membaca. Melihat tanpa benar-benar melihat. Hidup tanpa benar-benar hidup.
Pelajaran: Setiap kali Anda menghadapi sesuatu—karya seni, buku, film, percakapan—tanyakan: Apakah ini membuat saya merasa hidup? Jika tidak, mengapa saya menghabiskan waktu saya untuk ini?
2. Berempati Bukan Berarti Setuju—Tapi Berusaha Memahami
Smith dikritik karena "terlalu simpatik pada pihak yang paling tidak simpatik."
Tapi itu bukan kelemahan. Itu kekuatan.
Pelajaran: Kemampuan untuk melihat dunia melalui mata orang yang sangat berbeda dari Anda—bahkan orang yang Anda tidak setujui—adalah salah satu keterampilan paling penting dalam kehidupan demokratis. Tanpa empati, hanya ada tribalisme.
3. Kritik Adalah Bentuk Cinta—Bukan Penghancuran
Kita hidup di era di mana kritik sering disamakan dengan pembatalan.
Tapi Smith mengingatkan: Kritik sejati adalah bentuk perhatian. Anda mengkritik sesuatu karena itu penting bagi Anda.
Pelajaran: Belajarlah membedakan antara kritik yang datang dari cinta (yang ingin membuat sesuatu lebih baik) dan kritik yang datang dari kebencian (yang hanya ingin menghancurkan). Dan terima kritik terhadap hal yang Anda cintai—karena itu tanda bahwa orang lain juga peduli.
4. Lindungi "The Commons"—Ruang di Mana Kita Semua Milik
Dalam dunia yang semakin terprivatisasi—di mana setiap percakapan terjadi di platform milik korporasi, di mana setiap ruang publik dijual ke penawar tertinggi—commons menghilang.
Pelajaran: Berjuanglah untuk ruang di mana orang dari semua latar belakang bisa bertemu. Perpustakaan. Taman. Jalan. Sekolah publik. Ini bukan hanya fasilitas—ini adalah fondasi demokrasi.
5. Anda Akan Menjadi 50 dalam Sekejap Mata—Jadi Hiduplah Sekarang
Waktu tidak menunggu. Kehidupan berlalu lebih cepat dari yang Anda bayangkan.
Pelajaran: Berhenti menunda hidup. Berhenti menunggu "waktu yang tepat" atau "ketika saya punya cukup uang" atau "setelah saya pensiun." Hidup sekarang. Dengan sepenuhnya. Karena sekejap mata, Anda akan 50, 60, 70—dan waktu tidak pernah kembali.
Penutup: Memilih untuk Tetap Hidup
Zadie Smith menulis "Dead and Alive" sebagai meditasi tentang bagaimana tetap hidup di dunia yang memberikan Anda seribu alasan untuk mati.
Mati secara metaforis—untuk berhenti peduli, untuk berhenti berpikir, untuk berhenti merasakan.
Mudah untuk jatuh ke dalam autopilot. Mudah untuk membiarkan algoritma memutuskan apa yang Anda lihat. Mudah untuk berhenti bertanya pertanyaan sulit dan hanya mengikuti arus.
Tapi Smith menolak kemudahan itu.
Dia memilih untuk tetap penasaran. Untuk tetap terbuka. Untuk tetap melihat dengan mata yang benar-benar melihat.
Dan dia mengajak kita untuk melakukan hal yang sama.
Pertanyaan untuk Anda
Zadie Smith meninggalkan kita dengan pertanyaan yang tidak nyaman tapi perlu:
- Apakah Anda hidup—atau hanya bergerak? Kapan terakhir kali Anda benar-benar merasakan sesuatu? Kapan terakhir kali sesuatu membuat Anda merasa hidup?
- Siapa yang Anda tutup mata terhadapnya? Siapa orang atau ide yang Anda tolak untuk memahami karena mereka "tidak seperti Anda" atau "di sisi yang salah"?
- Apakah Anda melindungi commons? Apakah Anda berkontribusi pada ruang di mana semua orang bisa bertemu dan hidup bersama—ataukah Anda berkontribusi pada fragmentasi?
- Bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda? Jika Anda akan menjadi 50 (atau 60, atau 70) dalam sekejap mata—apakah Anda menghabiskan waktu Anda untuk hal yang membuat Anda merasa hidup, ataukah untuk hal yang hanya mengisi waktu?
Dan yang paling penting:
Apakah Anda bersedia untuk hidup dengan pertanyaan tanpa jawaban?
Karena seperti yang Smith tunjukkan:
Esai tidak punya jawaban pasti. Yang mereka punya hanya kebebasan mereka.
Dan kehidupan—kehidupan sejati—bukan tentang menemukan semua jawaban.
Kehidupan sejati adalah tentang hidup di dalam pertanyaan, dengan mata terbuka, dengan hati yang rentan, dengan pikiran yang bebas.
Dead or alive?
Pilihan selalu ada di tangan Anda.
Tentang Buku Asli
"Dead and Alive" diterbitkan pada tahun 2025 dan langsung menjadi salah satu buku esai paling dipuji tahun ini—masuk daftar Best Books of 2025 oleh The New Yorker, TIME, Vanity Fair, dan bahkan favorit Barack Obama.
Zadie Smith adalah novelis Inggris yang menjadi sensasi di usia 25 dengan "White Teeth" (2000). Novel-novel lainnya termasuk "On Beauty," "NW," "Swing Time," dan "The Fraud." Tapi banyak yang berpendapat bahwa Smith paling cemerlang dalam bentuk esai—di mana dia bebas untuk berkeliaran, bertanya, dan berubah pikiran tanpa tuntutan struktur novel.
Buku ini dibagi menjadi lima bagian—Eyeballing, Considering, Reconsidering, Mourning, dan Confessing—dengan total 30 esai yang mencakup seni, politik, budaya pop, dan refleksi pribadi.
Untuk pengalaman penuh—ketajaman prosa Smith, humor ironisnya, dan kedalaman pemikirannya—sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi, tetapi keajaiban penuh dari cara Smith berpikir hanya bisa dirasakan esai demi esai.