Skip to main content

The Dictionary of Lost Words

by Pip Williams · April 2026 · 14 min read

Kata yang Jatuh ke Lantai

Table of contents

Kata yang Jatuh ke Lantai 

Bayangkan Anda adalah anak kecil berusia enam tahun, duduk di bawah meja besar di sebuah gudang tua yang penuh dengan lembaran kertas. Setiap kertas berisi satu kata—hanya satu kata—dengan definisi dan kutipan yang menjelaskan bagaimana kata itu digunakan. 

Di atas meja, para pria berdebat. Mereka adalah kumpulan ilmuwan bahasa terpilih, sedang melakukan pekerjaan paling ambisius dalam sejarah: membuat kamus bahasa Inggris yang paling komprehensif yang pernah ada—Oxford English Dictionary. 

"Kata ini terlalu vulgar," kata satu pria, membuang selembar kertas. 

"Kata ini tidak cukup penting," kata yang lain, mengabaikan kertas lain yang terjatuh.

"Tidak ada cukup bukti tertulis," tambah yang ketiga. 

Dari bawah meja, Anda melihat kertas-kertas itu jatuh seperti salju. Setiap kertas adalah kata. Setiap kata adalah suara seseorang. Setiap suara yang diabaikan adalah kehidupan yang tidak dianggap penting. 

Lalu selembar kertas jatuh tepat di depan Anda. Kata itu: bondmaid—budak perempuan. 

Anda mengambilnya. Anda menyembunyikannya. Dan tanpa Anda sadari, Anda baru saja memulai sebuah revolusi kecil yang akan mengubah cara dunia melihat kata-kata, perempuan, dan siapa yang berhak untuk didengar. 

Ini adalah cerita Esme Nicoll. 

Pip Williams menulis "The Dictionary of Lost Words" bukan hanya sebagai novel sejarah tentang pembuatan kamus. Dia menulis tentang kekuatan kata-kata untuk mendefinisikan realitas—dan bagaimana selama berabad-abad, realitas perempuan tidak pernah benar-benar didefinisikan, karena para pria yang menulis kamus tidak pernah berpikir pengalaman perempuan cukup penting untuk dimasukkan. 

Mari kita masuk ke Scriptorium—gudang besi di halaman belakang Oxford di mana kamus terbesar dunia dikompilasi, dan di mana seorang gadis kecil mulai menyadari: tidak semua kata diciptakan setara.


Bagian 1: Dunia di Bawah Meja—Kehidupan Esme di Scriptorium 

Anak Tanpa Ibu, Ayah yang Mencintai Kata 

Esme Nicoll tidak punya ibu. Lily Nicoll meninggal saat melahirkan Esme, dan nama itu—Lily—menjadi kata paling berharga yang Esme kenal. Kata yang tidak bisa dia miliki, kecuali dalam ingatan ayahnya. 

Suatu hari, Esme yang masih berusia empat tahun melihat ayahnya membakar selembar kertas di perapian. Dia berlari untuk menyelamatkannya, membakar tangannya. Kata di kertas itu: lily. 

"Mengapa kamu membuang kata Mama?" tanyanya. 

Harry tidak bisa menjawab. Bagaimana dia menjelaskan bahwa melihat kata itu terlalu menyakitkan? Bahwa kadang kata-kata—betapapun indahnya—bisa membawa terlalu banyak kehilangan? 

Ayahnya, Harry Nicoll, adalah leksikografer—ahli bahasa yang bekerja untuk Dr. James Murray, editor kepala Oxford English Dictionary. Setiap hari, Harry membawa Esme ke Scriptorium, gudang besi bergelombang di halaman rumah Dr. Murray di Banbury Road, Oxford. 

Di sinilah Esme tumbuh—bukan di sekolah biasa, bukan di taman bermain, tetapi di bawah meja penyortiran, dikelilingi oleh puluhan ribu kata. Dia belajar membaca dari slip-slip kata. Dia belajar tentang dunia dari definisi. Dia belajar bahwa kata-kata punya kekuatan—kekuatan untuk menjelaskan, untuk menyembuhkan, untuk membuat yang tidak terlihat menjadi terlihat. 

Scriptorium adalah dunia yang teratur. Ada aturan yang jelas: setiap kata harus punya bukti—kutipan dari buku, surat kabar, atau dokumen tertulis yang menunjukkan bagaimana kata itu digunakan. Jika tidak ada bukti tertulis yang cukup, kata itu tidak masuk kamus. Jika kata itu dianggap terlalu vulgar, terlalu rendah, atau hanya digunakan oleh orang-orang yang "tidak penting," kata itu dibuang. 

Dan Esme, dari posisinya di bawah meja, melihat semuanya. 

Bondmaid—Kata Pertama yang Diselamatkan 

Suatu hari, selembar kertas jatuh. Kata: bondmaid

Esme mengambilnya. Dia membacanya: budak perempuan, seseorang yang terikat untuk melayani tanpa upah sampai mati. 

Kata itu membuatnya berpikir tentang Lizzie—pelayan rumah keluarga Murray yang hanya beberapa tahun lebih tua dari Esme, tetapi sudah bekerja sejak kecil. Lizzie yang tidak punya pilihan tentang hidupnya. Lizzie yang, seperti kata itu, terikat untuk melayani.

Esme menyembunyikan kertas itu di celemeknya. Malam itu, dia menunjukkannya pada Lizzie.

"Itu aku," kata Lizzie dengan tenang. "Bondmaid. Itu kata untuk aku." 

"Tapi kata ini buruk," kata Esme. "Kamu bukan budak." 

"Mungkin bukan menurut hukum," kata Lizzie. "Tapi apa bedanya? Aku bekerja dari pagi sampai malam. Aku tidak bisa pergi. Aku tidak punya pilihan lain. Kata itu benar, Esme. Kamus atau tidak, bondmaid akan selalu ada." 

Esme menaruh kertas itu di peti kayu tua milik Lizzie, di bawah tempat tidurnya. Dan dengan begitu, dimulailah koleksi rahasia: The Dictionary of Lost Words.


Bagian 2: Tumbuh dengan Kesadaran—Kata yang Diabaikan 

Ketika Kata Tidak Cukup untuk Menjelaskan Perempuan 

Esme tumbuh di lingkungan yang tidak biasa. Dia tidak punya ibu untuk mengajarinya tentang hal-hal yang dialami perempuan. Ayahnya mencintainya dengan tulus, tetapi dia tidak tahu bagaimana berbicara tentang tubuh perempuan, tentang perasaan perempuan, tentang pengalaman perempuan. 

Ketika Esme berusia 11 tahun, ayahnya—dengan saran dari Ditte, godmother Esme—mengirimnya ke boarding school di Skotlandia. Cauldshiels School for Girls. 

Dia pikir ini akan baik untuk Esme. Dia pikir Esme butuh teman perempuan, pengaruh perempuan, pendidikan yang tepat untuk anak perempuan. 

Tapi boarding school itu adalah neraka. 

Guru-guru di sana keras, menghukum setiap kesalahan kecil dengan pukulan, penghinaan, isolasi. Esme dihukum karena bertanya terlalu banyak. Dihukum karena membaca buku yang "tidak pantas untuk anak perempuan." Dihukum karena tidak cukup feminin, tidak cukup pendiam, tidak cukup patuh. 

Bertahun-tahun kemudian, Esme menyadari: boarding school itu dirancang bukan untuk mendidik perempuan—tetapi untuk mematahkan mereka, membuat mereka patuh, mengajari mereka bahwa suara mereka tidak penting. 

Ketika Esme mengalami menstruasi pertamanya di usia 14 tahun—sendirian, ketakutan, di sekolah yang kejam—dia panik. Dia pergi ke kamus untuk mencari jawaban, seperti yang selalu dia lakukan. 

Dia menemukan kata menstruation. Tapi definisinya membuatnya sakit hati: "periode di mana wanita dianggap tidak murni." 

Tidak murni? Kotor? Bukan penjelasan ilmiah. Bukan penjelasan yang membantu. Hanya judgment—penilaian moral tentang fungsi biologis yang tidak bisa dikontrol perempuan. 

Esme menyadari sesuatu yang mengubah hidupnya: kamus tidak netral. Kamus mencerminkan bias orang yang membuatnya—pria kelas atas yang tidak pernah mengalami, tidak pernah peduli, dan tidak pernah berpikir pengalaman perempuan cukup penting. 

Kata-kata yang digunakan perempuan setiap hari—kata-kata tentang mengasuh anak, tentang pekerjaan rumah tangga, tentang tubuh perempuan—tidak ada. Atau jika ada, didefinisikan dengan cara yang merendahkan.

Diasingkan dari Scriptorium 

Esme mulai mempertanyakan. Dia bertanya kepada para leksikografer: "Mengapa kata ini tidak masuk? Mengapa kata yang digunakan perempuan dianggap tidak penting?" 

Mr. Crane, salah satu asisten yang tidak menyukai kehadiran Esme, melaporkan "perilakunya yang tidak pantas" kepada Dr. Murray. Esme dilarang masuk Scriptorium. 

Tapi larangan itu justru membebaskan dia. 

Jika dia tidak bisa berada di dalam Scriptorium, dia akan keluar—ke tempat di mana kata-kata yang diabaikan masih hidup.


Bagian 3: Covered Market—Menemukan Kata-Kata yang Hilang 

Dunia di Luar Scriptorium 

Dengan bantuan Lizzie, Esme mulai mengunjungi Covered Market—pasar tradisional Oxford di mana pedagang, penjual bunga, tukang daging, dan perempuan pekerja berbicara dengan bahasa mereka sendiri. 

Di sini, Esme mendengar kata-kata yang tidak pernah dia dengar di Scriptorium. Kata-kata yang kasar, vulgar, tetapi hidup. Kata-kata yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dengan cara yang tidak pernah ada di buku-buku yang dibaca para profesor. 

Esme bertemu Mabel O'Shaughnessy, seorang pemahat kayu di pasar. Mabel mengajarinya kata-kata tentang pekerjaan tangan, tentang kerajinan, tentang kebanggaan dalam pekerjaan yang dianggap rendah oleh dunia akademis. 

Esme membuat slips—lembaran kertas kecil—untuk setiap kata yang dia dengar. Dia mencatat siapa yang mengatakannya, dalam konteks apa, apa artinya bagi mereka. 

Dan dia menyimpan semuanya di peti Lizzie. Kamus rahasia. The Dictionary of Lost Words.

Persahabatan dengan Tilda—Suara Gerakan Suffragette 

Esme bertemu Tilda Taylor, seorang aktris yang energik, vokal, dan terlibat dalam gerakan suffragette—perjuangan untuk hak pilih perempuan. 

Tilda membawa Esme ke pertemuan Women's Social and Political Union. Di sana, Esme mendengar perempuan berbicara tentang kesetaraan, tentang keadilan, tentang hak untuk didengar. 

Tapi Tilda juga percaya pada "deeds, not words"—tindakan, bukan kata-kata. Dia percaya bahwa untuk mendapatkan perhatian, perempuan harus melakukan sesuatu yang dramatis—bahkan jika itu berarti membakar bangunan, merusak properti, ditangkap. 

Esme tidak yakin. Dia percaya pada kekuatan kata-kata. Dia percaya bahwa jika kata-kata bisa didefinisikan dengan benar, jika suara perempuan bisa didengar, dunia bisa berubah tanpa kekerasan. 

Tapi ketika Tilda ditangkap dan dipaksa makan melalui selang karena melakukan aksi mogok makan di penjara, Esme menyadari: dunia tidak selalu mendengarkan dengan baik. Terkadang, Anda harus berteriak.


Bagian 4: Kehilangan dan Keputusan—Harga dari Hidup Berbeda 

Kehamilan dan Anak yang Hilang 

Esme jatuh cinta pada Bill, kakak Tilda. Mereka menjalani hubungan singkat. Esme hamil. 

Di tahun 1900-an, ini adalah skandal yang bisa menghancurkan reputasi perempuan selamanya. Esme tidak menikah. Tidak ada ayah yang akan mengakui anak itu. 

Esme mencoba mencari aborsi, tapi sudah terlambat. Dia harus melahirkan. 

Dengan bantuan Ditte—godmother-nya—Esme melahirkan di tempat terpencil. Bayinya, seorang perempuan, diadopsi oleh keluarga yang akan membawanya ke Australia. 

Esme tidak pernah memegang anaknya lebih dari beberapa jam. Dia bahkan tidak memberi nama—hanya menyebutnya "Her" dalam pikirannya. 

Kehilangan ini menghancurkan Esme. Dia mundur dari kehidupan sosial, tinggal di cottage pedesaan bersama Lizzie, mencoba mengumpulkan kembali dirinya yang hancur. 

Tapi bahkan dalam kesedihan, dia terus mengumpulkan kata-kata. Karena kata-kata adalah satu-satunya hal yang masuk akal ketika hidup tidak masuk akal.


Bagian 5: Cinta, Perang, dan Warisan Kata 

Gareth—Cinta yang Lembut 

Kembali ke Oxford, Esme bertemu Gareth Owen, seorang kompositor—orang yang menyusun huruf-huruf timah untuk mencetak kamus. Gareth adalah pria yang lembut, pendiam, tetapi memahami cinta Esme untuk kata-kata. 

Gareth adalah orang pertama yang benar-benar melihat kamus rahasia Esme—dan tidak menertawakannya. Sebaliknya, dia tergerak. 

Dia menggunakan koneksinya di percetakan untuk mencetak kamus Esme—kecil, sederhana, tetapi nyata: Women's Words and Their Meanings. 

Esme dan Gareth menikah. Untuk pertama kalinya, Esme merasa dia punya rumah—bukan tempat, tetapi seseorang. 

Tapi Perang Dunia I meletus. Gareth dipanggil untuk berperang. 

Perang dan Kata-Kata yang Tidak Bisa Dijelaskan 

Gareth dikirim ke garis depan di Prancis sebagai penyensor surat—tugasnya adalah menghapus bagian-bagian dari surat tentara yang bisa membahayakan moral atau memberikan informasi kepada musuh. 

Tapi Gareth tidak bisa menghapus tanpa membaca. Dan apa yang dia baca menghancurkan dia: kata-kata tentara muda yang mencoba menjelaskan horor perang—bom, mayat, rasa takut yang tak bisa dijelaskan. 

Anak laki-laki yang едва bisa menulis mencoba menjelaskan kepada ibu mereka bagaimana rasanya melihat sahabat mereka meledak di depan mata. Mereka mencoba menjelaskan bau mayat yang membusuk di parit. Mereka mencoba menjelaskan mimpi buruk yang tidak pernah berhenti bahkan saat mata terbuka. 

Tapi tidak ada kata yang cukup untuk perang. Kamus yang dikompilasi di Scriptorium yang tenang, oleh pria yang tidak pernah melihat kematian—bagaimana mereka bisa mendefinisikan war? Bagaimana mereka bisa mendefinisikan trauma? Bagaimana mereka bisa mendefinisikan terror

Gareth mengirim salinan kata-kata itu ke Esme. "Kamu yang paling bisa menghormati kata-kata mereka," tulisnya. "Kamu yang memahami bahwa setiap kata penting, bahkan kata-kata dari anak laki-laki yang едва bisa menulis. Mereka tidak bisa mengatakan ini kepada ibu mereka. Tapi kata-kata mereka perlu dicatat. Seseorang harus mengingat."

Esme menyimpan setiap kata. Setiap kalimat. Setiap suara. Ini adalah kata-kata yang tidak akan pernah masuk kamus resmi—terlalu kasar, terlalu jujur, terlalu menakutkan. Tapi kata-kata ini adalah kebenaran perang yang sesungguhnya. 

Lalu berita datang: Gareth tewas di pertempuran. 

Esme kehilangan suaminya sebelum mereka sempat membangun kehidupan bersama. Dia kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar memahami misinya.


Bagian 6: Penolakan dan Penerimaan—Pertarungan untuk Didengar 

Women's Words Ditolak 

Setelah Dr. Murray meninggal, editor baru mengambil alih. Esme memberikannya salinan Women's Words and Their Meanings—harapan bahwa kamus kecilnya bisa diakui, mungkin bahkan diterbitkan lebih luas. 

Editor itu menolak dengan tegas. "Ini bukan karya ilmiah," katanya. "Ini bukan topik yang penting." 

"Anda bukan penilai pengetahuan, Pak," kata Esme dengan tenang. "Bukan tugas Anda untuk menilai pentingnya kata-kata ini. Tugas Anda hanya membiarkan orang lain melakukannya." 

Tapi dia tahu: dalam dunia yang dikontrol pria, suara perempuan tidak akan pernah didengar dengan mudah. 

Bodleian Library—Tempat Akhir untuk Kata yang Hilang 

Esme menyumbangkan salinan kamus kecilnya ke Bodleian Library—perpustakaan terbesar Oxford. Pustakawan pria awalnya menolak, meremehkan. 

Tapi Esme bersikeras. Dan akhirnya, kamus kecilnya mendapat tempat di rak—di antara karya-karya besar yang ditulis pria. 

Mungkin tidak banyak orang akan membacanya. Tapi kata-kata itu sekarang ada di sana. Tercatat. Tidak bisa dilupakan.


Bagian 7: Epilog—Warisan yang Berlanjut 

Esme meninggal di usia 46 tahun, tertabrak truk di Westminster Bridge saat mewawancarai perempuan pekerja tentang bagaimana Equal Franchise Act akan mempengaruhi mereka. 

Sampai akhir hidupnya, dia mengumpulkan kata-kata. Mendengarkan suara. Memberikan tempat bagi yang diabaikan. 

Bertahun-tahun kemudian, surat dari Ditte sampai ke Australia—kepada Megan, anak yang Esme tidak pernah kenal. 

Di dalam paket: peti kayu tua Lizzie. Di dalamnya: ribuan slip kata. The Dictionary of Lost Words yang lengkap. 

Megan tumbuh menjadi leksikografer. Dia mengabdikan hidupnya untuk mempelajari kata-kata yang hilang, suara-suara yang diabaikan. 

Dan di akhir karirnya, dia memberikan kuliah yang dimulai dengan kata: bondmaid—kata pertama yang ibunya selamatkan puluhan tahun lalu. 

Lingkaran sempurna. Warisan yang berlanjut.


Pelajaran dari The Dictionary of Lost Words

1. Kata-Kata Membentuk Realitas—Siapa yang Mendefinisikan Penting

Kamus bukan hanya daftar kata. Kamus adalah cermin dari siapa yang dianggap penting. 

Selama berabad-abad, kamus disusun oleh pria kelas atas yang menulis tentang pengalaman mereka—dan mengabaikan pengalaman perempuan, orang miskin, orang yang tidak punya akses ke pendidikan. 

Hasilnya? Bahasa yang tidak sepenuhnya menggambarkan kehidupan setengah populasi. 

Pelajaran: Perhatikan siapa yang mendefinisikan kata-kata. Siapa yang membuat aturan tentang apa yang "benar" dan apa yang "salah." Karena bahasa bukan netral—bahasa adalah kekuatan. 

2. Suara yang Hilang Adalah Suara yang Sengaja Diabaikan 

Esme menemukan bahwa kata-kata tidak "hilang" begitu saja. Kata-kata diabaikan karena orang yang menggunakannya dianggap tidak penting. 

Perempuan pekerja. Penjual pasar. Pelayan rumah. Orang-orang yang berbicara setiap hari tetapi tidak pernah menulis—karena mereka tidak punya waktu, tidak punya pendidikan, tidak punya akses. 

Pelajaran: Ketika kita tidak mendengarkan suara tertentu, itu bukan kebetulan. Itu adalah pilihan—pilihan untuk mengabaikan, untuk tidak peduli, untuk tidak menganggap mereka cukup penting. 

3. Keluarga Bukan Hanya Darah—Tetapi Siapa yang Berdiri Bersamamu 

Esme kehilangan ibunya sejak lahir. Kehilangan anaknya karena adopsi. Kehilangan suaminya karena perang. 

Tapi dia tidak pernah sendirian. Karena ada Lizzie—sahabat sejati yang berdiri bersamanya sejak kecil. Ada Ditte—godmother yang melindungi. Ada Gareth—yang melihat dia sebagai manusia utuh. 

Pelajaran: Keluarga adalah orang yang memilih untuk tinggal. Yang melihat Anda ketika dunia mengabaikan. Yang percaya pada misi Anda bahkan ketika dunia menertawakan. 

4. Pekerjaan Kecil Bisa Jadi Warisan Besar 

Esme tidak pernah melihat kamus besarnya diterbitkan secara luas. Dia tidak pernah terkenal. Tidak pernah diakui secara resmi.

Tapi puluhan tahun kemudian, anaknya—yang tidak pernah dia kenal—melanjutkan pekerjaannya. 

Pelajaran: Anda mungkin tidak melihat hasil dari pekerjaan Anda di masa hidup Anda. Tapi jika pekerjaan itu penting, jika pekerjaan itu memberi suara pada yang tidak bersuara, warisan itu akan berlanjut. 

5. Kata-Kata Memiliki Kekuatan—Gunakan dengan Bijak 

Sepanjang novel, Williams menunjukkan bagaimana kata-kata bisa menyembuhkan atau melukai. Bisa memberdayakan atau merendahkan. Bisa membuka pintu atau menutupnya. 

Pelajaran: Setiap kali Anda berbicara, Anda memilih kata-kata. Pilih kata-kata yang melihat manusia sebagai manusia. Pilih kata-kata yang memberi ruang, bukan yang menutup. Pilih kata-kata yang akan Anda bangga untuk diwariskan.


Penutup: Kata-Kata yang Tidak Boleh Hilang 

Pip Williams menulis "The Dictionary of Lost Words" untuk mengingatkan kita: setiap kata penting. Setiap suara layak didengar. Setiap pengalaman—terutama pengalaman mereka yang diabaikan—berharga untuk dicatat. 

Esme menghabiskan hidupnya menyelamatkan kata-kata yang jatuh. Kata-kata yang orang lain buang karena dianggap tidak penting. 

Tapi bagi Esme, tidak ada kata yang tidak penting. Karena setiap kata adalah suara seseorang. Dan setiap suara adalah kehidupan. 

Pertanyaan untuk Anda 

Williams mengajak kita bertanya: 

  • Suara siapa yang Anda abaikan dalam kehidupan sehari-hari?
  • Kata-kata apa yang Anda gunakan tanpa berpikir—dan apakah kata-kata itu merendahkan seseorang?
  • Siapa yang mendefinisikan "penting" dan "tidak penting" di dunia Anda?
  • Apa yang akan Anda lakukan untuk memastikan suara yang diabaikan mendapat tempat untuk didengar?

Dan yang paling penting: Jika Anda punya kekuatan untuk menyelamatkan kata—untuk memberi suara pada yang tidak bersuara—akankah Anda melakukannya? 

Karena seperti yang ditunjukkan Esme: kadang tindakan paling revolusioner adalah tindakan yang paling sederhana—mendengarkan, mencatat, dan mengatakan: "Suara Anda penting. Kata-kata Anda penting. Anda penting."


Tentang Buku Asli 

"The Dictionary of Lost Words" diterbitkan tahun 2020 dan segera menjadi New York Times bestseller dan pilihan Reese's Book Club. Novel ini memenangkan Australian Book Industry Award dan diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. 

Pip Williams, penulis asal Australia, menghabiskan bertahun-tahun meneliti arsip Oxford English Dictionary untuk novel ini. Dia menemukan fakta bahwa kata "bondmaid" memang benar-benar hilang dari edisi pertama kamus—dan dari penemuan itu, cerita Esme lahir. 

Novel ini mendapat pujian karena riset historis yang mendalam, representasi gerakan suffragette yang nuanced, dan eksplorasi kekuatan bahasa yang memukau. Williams berhasil membuat topik yang bisa terasa kering—pembuatan kamus—menjadi cerita yang penuh emosi tentang kemanusiaan, kesetaraan, dan pencarian untuk didengar. 

Untuk pengalaman lengkap dari keindahan bahasa Williams, detail historis yang kaya, dan perjalanan emosional Esme yang mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi keajaiban penuh dari prosa Williams dan kemampuannya membuat Anda jatuh cinta pada kata-kata hanya bisa dirasakan dari novel lengkapnya. 

Sekarang pergilah dan dengarkan—benar-benar dengarkan—suara di sekitar Anda. 

Karena setiap orang punya cerita. Setiap orang punya kata-kata mereka sendiri. Dan tugas kita adalah memastikan tidak ada satu pun yang hilang.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Voices From Chernobyl
Back to top

Similar books