Skip to main content

Evolutionary Psychology

by David M. Buss · December 2025 · 15 min read

Pertanyaan yang Jarang Kita Tanyakan

Table of contents

Pertanyaan yang Jarang Kita Tanyakan

Pernahkah Anda bertanya-tanya: 

Mengapa kita takut laba-laba kecil yang tidak berbahaya, tetapi tidak takut menyetir mobil dengan kecepatan 100 km/jam—padahal kecelakaan mobil jauh lebih mematikan? 

Mengapa pria cenderung tertarik pada wanita dengan pinggang ramping dan pinggul lebar, sementara wanita lebih tertarik pada pria dengan status dan sumber daya? 

Mengapa kita merasa cemburu? Mengapa kita suka gosip? Mengapa kita peduli tentang reputasi? 

Mengapa bayi terlihat lucu—kepala besar, mata bulat, pipi chubby—dan mengapa ini membuat kita ingin melindungi mereka? 

Pertanyaan-pertanyaan ini tampak acak. Tapi menurut David M. Buss, profesor psikologi di University of Texas dan pelopor bidang psikologi evolusioner, semuanya punya satu jawaban yang sama: 

Evolusi

Bukan dalam artian kita berevolusi secara individu selama hidup kita. Tapi dalam artian bahwa pikiran kita—cara kita berpikir, merasa, dan bertindak—adalah produk dari ribuan generasi seleksi alam. 

Otak Anda adalah mesin yang dirancang oleh evolusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi nenek moyang Anda. Dan memahami ini adalah kunci untuk memahami mengapa Anda melakukan apa yang Anda lakukan. 

Selamat datang di dunia Psikologi Evolusioner.


Bagian 1: Logika Evolusi—Bagaimana Pikiran Terbentuk

Mesin Waktu Evolusi 

Mari kita lakukan perjalanan waktu. 

Bukan ke masa depan—ke masa lalu. Sangat jauh ke masa lalu. 

Sekitar 2 juta tahun yang lalu, nenek moyang kita hidup di sabana Afrika. Mereka berburu, mengumpulkan makanan, menghindari predator, mencari pasangan, dan membesarkan anak. 

Kehidupan sangat keras. Tidak ada supermarket. Tidak ada rumah sakit. Tidak ada polisi. Jika Anda tidak bisa menemukan makanan, Anda mati kelaparan. Jika Anda tidak bisa menghindari singa, Anda dimakan. Jika Anda tidak bisa menarik pasangan, gen Anda tidak diteruskan. 

Seleksi alam bekerja seperti ini: Individu dengan karakteristik yang membantu mereka bertahan hidup dan bereproduksi akan meneruskan gen-gen mereka. Individu tanpa karakteristik itu akan mati tanpa keturunan. 

Generasi demi generasi, karakteristik yang "bekerja" terakumulasi. Karakteristik yang tidak bekerja menghilang. 

Dan inilah bagian yang penting: ini tidak hanya berlaku untuk tubuh fisik, tetapi juga untuk pikiran. 

Adaptasi Psikologis 

Pikiran Anda adalah kumpulan dari adaptasi psikologis—mekanisme mental yang dirancang oleh seleksi alam untuk menyelesaikan masalah spesifik yang dihadapi nenek moyang kita. 

Contoh sederhana: rasa takut akan ketinggian. 

Nenek moyang yang takut jatuh dari tebing lebih mungkin bertahan hidup dibandingkan yang tidak takut. Mereka yang tidak takut? Mereka jatuh dan mati sebelum punya anak. Gen "takut ketinggian" diteruskan. Gen "tidak peduli ketinggian" menghilang. 

Sekarang, 2 juta tahun kemudian, Anda takut ketinggian—meskipun Anda tinggal di gedung pencakar langit yang aman dengan pagar pembatas. 

Otak Anda tidak tahu bahwa Anda aman. Otak Anda masih berpikir Anda di sabana Afrika, dan jatuh dari tebing berarti mati. 

Ini adalah prinsip kunci psikologi evolusioner: Pikiran kita dirancang untuk dunia nenek moyang kita, bukan dunia modern

Dan ini menjelaskan begitu banyak tentang perilaku "irasional" kita.


Bagian 2: Survival—Masalah Pertama yang Harus Diselesaikan 

Sebelum Anda bisa bereproduksi, Anda harus bertahan hidup. Dan nenek moyang kita menghadapi ancaman survival yang konstan. 

Makanan—Terobsesi dengan Kalori 

Pernahkah Anda merasa sulit menolak makanan manis dan berlemak—es krim, cokelat, burger, kentang goreng? 

Ini bukan kelemahan karakter. Ini adalah adaptasi. 

Di lingkungan nenek moyang, makanan tinggi kalori sangat langka dan sangat berharga. Gula (dari buah matang) dan lemak (dari hewan buruan) memberikan energi paling banyak. Mereka yang sangat menyukai rasa manis dan berlemak akan berusaha lebih keras untuk mendapatkannya—dan karena itu lebih mungkin bertahan hidup. 

Sekarang kita hidup di dunia dengan McDonalds di setiap sudut. Tapi otak kita masih berpikir makanan langka. Jadi setiap kali kita melihat donat, otak berteriak: "MAKAN SEKARANG! Kamu tidak tahu kapan akan dapat lagi!" 

Ini mengapa diet sangat sulit. Anda tidak melawan kebiasaan buruk—Anda melawan jutaan tahun evolusi. 

Predator—Takut pada Hal yang Salah 

Mengapa kita takut laba-laba dan ular, tetapi tidak takut mobil dan stop kontak listrik? 

Karena laba-laba dan ular adalah ancaman dalam lingkungan nenek moyang selama jutaan tahun. Gen yang membuat kita waspada terhadap mereka bertahan. 

Mobil dan listrik? Baru ada 100 tahun. Evolusi butuh ribuan generasi untuk "mendesain" rasa takut baru. Belum cukup waktu. 

Jadi kita takut pada ancaman kuno yang sekarang tidak terlalu berbahaya, dan tidak cukup takut pada ancaman modern yang jauh lebih mematikan. 

Penyakit—Kenapa Kita Jijik 

Perasaan jijik adalah sistem kekebalan psikologis. 

Anda merasa jijik melihat kotoran, muntahan, daging busuk, atau luka bernanah. Mengapa? Karena semua itu bisa membawa penyakit.

Nenek moyang yang merasa jijik dan menghindari hal-hal ini lebih mungkin bertahan hidup. Yang tidak merasa jijik? Mereka terinfeksi dan mati. 

Bahkan sekarang, penelitian menunjukkan bahwa orang dengan sistem kekebalan yang lebih lemah cenderung merasa jijik lebih mudah—tubuh mereka perlu ekstra hati-hati.


Bagian 3: Pemilihan Pasangan—Permainan Paling Penting 

Setelah bertahan hidup, tantangan berikutnya adalah bereproduksi. Dan di sinilah psikologi evolusioner menjadi sangat menarik—dan kontroversial. 

Mengapa Pria dan Wanita Mencari Hal yang Berbeda 

Buss melakukan studi di 37 negara, melibatkan lebih dari 10.000 orang, menanyakan: "Apa yang Anda cari dalam pasangan jangka panjang?" 

Hasilnya mengejutkan dalam konsistensinya—di seluruh budaya, benua, dan agama:

Pria cenderung lebih mementingkan: 

  • Kecantikan fisik dan tanda-tanda kesuburan (muda, kulit sehat, pinggang-pinggul ratio tertentu)
  • Keperawanan atau jumlah pasangan seksual sebelumnya (lebih rendah lebih baik)

Wanita cenderung lebih mementingkan: 

  • Status sosial dan sumber daya ekonomi
  • Ambisi dan kerja keras
  • Usia (sedikit lebih tua dari mereka)

Mengapa perbedaan ini? 

Teori Investasi Parental 

Jawabannya ada di investasi parental—berapa banyak waktu, energi, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menghasilkan keturunan. 

Untuk pria, investasi minimal adalah beberapa menit—waktu yang dibutuhkan untuk kopulasi. Secara teori, seorang pria bisa punya ratusan anak dalam hidupnya jika dia kawin dengan banyak wanita. 

Untuk wanita, investasi minimal adalah 9 bulan kehamilan + bertahun-tahun menyusui. Seorang wanita hanya bisa punya sekitar 15-20 anak maksimal dalam hidupnya, dan itu dengan biaya fisik yang sangat tinggi. 

Konsekuensinya: 

Pria yang kawin dengan banyak wanita bisa meneruskan lebih banyak gen. Jadi evolusi "mendorong" pria untuk mencari banyak pasangan—atau setidaknya, untuk tertarik pada banyak wanita.

Wanita tidak mendapat keuntungan dari banyak pasangan (satu pria atau seratus pria, dia tetap hanya bisa hamil satu kali dalam 9 bulan). Jadi evolusi "mendorong" wanita untuk lebih selektif—memilih pria yang bisa menyediakan sumber daya untuk mendukung anak-anaknya. 

Kenapa Kecantikan Penting (Secara Evolusioner) 

Ini akan terdengar dangkal, tapi ada logika evolusioner di baliknya. 

Apa yang kita anggap "cantik" bukanlah arbitrer. Hampir universal di semua budaya: 

  • Kulit bersih dan sehat (tanda tidak ada penyakit)
  • Rambut berkilau dan tebal (tanda nutrisi baik)
  • Simetri wajah (tanda perkembangan yang sehat)
  • Pinggang-pinggul ratio sekitar 0.7 (tanda kesuburan optimal)

Semua ini adalah tanda kesuburan dan kesehatan. Pria yang tertarik pada tanda-tanda ini lebih mungkin memilih pasangan subur yang bisa melahirkan anak sehat. Gen mereka diteruskan. 

Ini bukan pembenaran untuk objectification atau diskriminasi. Ini hanya penjelasan tentang mengapa preferensi ini ada. 

Kenapa Status Penting (Secara Evolusioner) 

Wanita tertarik pada status dan sumber daya karena, dalam lingkungan nenek moyang, pria dengan sumber daya lebih bisa: 

  • Menyediakan makanan lebih baik
  • Menawarkan perlindungan lebih baik
  • Membantu anak-anak bertahan hidup

Wanita yang memilih pria dengan sumber daya memiliki anak yang lebih mungkin bertahan hidup. Gen mereka diteruskan. 

Sekarang, di dunia modern, "sumber daya" tidak selalu berarti uang. Bisa juga berarti pendidikan, keterampilan, koneksi sosial, atau bahkan karakteristik seperti kebaikan dan stabilitas emosional—yang semuanya membantu dalam membesarkan anak.


Bagian 4: Cemburu—Emosi yang Dibenci tapi Dibutuhkan 

Cemburu adalah salah satu emosi yang paling kuat dan paling dibenci. Tapi dari perspektif evolusioner, cemburu ada karena alasan yang sangat baik. 

Cemburu Pria vs Wanita 

Buss menemukan perbedaan menarik: 

Pria lebih cemburu terhadap infidelitas seksual. Mereka lebih terganggu membayangkan pasangan mereka berhubungan seks dengan pria lain. 

Mengapa? Ketidakpastian keturunan. Seorang wanita selalu tahu bahwa anak yang dia lahirkan adalah anaknya. Tapi pria tidak punya kepastian itu. Jika pasangannya berhubungan seks dengan pria lain, dia bisa saja membesarkan anak orang lain tanpa tahu—investasi besar untuk gen orang lain. 

Pria yang cemburu terhadap infidelitas seksual lebih waspada dan lebih mungkin mencegahnya. Gen mereka diteruskan. 

Wanita lebih cemburu terhadap infidelitas emosional. Mereka lebih terganggu membayangkan pasangan mereka jatuh cinta dengan wanita lain. 

Mengapa? Pengalihan sumber daya. Jika pria jatuh cinta dengan wanita lain, dia mungkin mengalihkan waktu, perhatian, dan sumber daya dari dia dan anak-anaknya. Ini ancaman survival. 

Wanita yang cemburu terhadap infidelitas emosional lebih waspada terhadap ancaman ini. Gen mereka diteruskan. 

Cemburu Bukan Justifikasi 

Penting untuk dipahami: Menjelaskan cemburu secara evolusioner bukan membenarkan perilaku posesif, kontroling, atau kasar. 

Kita juga punya adaptasi untuk agresi kekerasan, tapi itu tidak berarti kita boleh memukul orang. Memahami asal-usul evolusioner emosi membantu kita mengenali dan mengelolanya—bukan membiarkannya mengendalikan kita.


Bagian 5: Parenting—Investasi Terbesar 

Mengapa Bayi Dirancang untuk Lucu 

Bayi manusia sangat bergantung—mereka tidak bisa jalan, berburu, atau melindungi diri selama bertahun-tahun. Mereka butuh perawatan intensif. 

Jadi evolusi membuat bayi sangat sulit untuk diabaikan: 

  • Mata besar dan bulat
  • Kepala besar relatif terhadap tubuh
  • Pipi chubby
  • Kulit lembut
  • Suara tinggi

Semua ini memicu respons nurturing pada orang dewasa. Kita ingin melindungi, memeluk, dan merawat mereka. Ini bukan kebetulan—ini adalah desain. 

Konflik Orangtua-Anak 

Ini mungkin mengejutkan, tapi dari perspektif evolusioner, kepentingan genetis orangtua dan anak tidak selalu selaras. 

Contoh: Menyapih. 

Anak ingin terus menyusui selama mungkin (dapat nutrisi tanpa usaha). Ibu ingin menyapih setelah waktu tertentu (agar dia bisa hamil lagi dan meneruskan lebih banyak gen). 

Anak dan ibu berbagi 50% gen. Jadi dari perspektif anak, anak ini 100% penting. Dari perspektif ibu, anak ini 50% penting—dan anak-anak masa depan juga 50% penting. 

Ini menjelaskan mengapa anak menangis dan tantrum ketika disapih. Ini bukan anak "nakal"—ini adalah strategi evolusioner untuk mendapat lebih banyak investasi. 

Ayah—Keputusan Investasi 

Karena pria tidak punya kepastian keturunan yang sama dengan wanita, mereka menghadapi dilema investasi: Apakah anak ini benar-benar anakku? 

Penelitian menunjukkan bahwa ayah lebih mungkin menginvestasikan waktu dan sumber daya ketika: 

  • Anak terlihat mirip dengan mereka
  • Mereka yakin dengan kesetiaan pasangan
  • Mereka dalam hubungan jangka panjang yang stabil

Ini juga menjelaskan fenomena menarik: Ibu dan keluarga ibu lebih sering mengatakan "anaknya mirip ayahnya" dibandingkan sebaliknya—bahkan ketika kemiripan tidak jelas. 

Mengapa? Untuk meyakinkan ayah bahwa anak ini benar-benar anaknya, sehingga dia akan berinvestasi.


Bagian 6: Kerjasama dan Konflik—Dua Sisi Manusia

Altruisme—Mengapa Kita Baik 

Dari perspektif seleksi alam yang brutal, altruisme membingungkan. Mengapa Anda membantu orang lain dengan biaya untuk diri sendiri? 

Tiga penjelasan evolusioner: 

1. Altruisme Kekerabatan (Kin Selection) 

Anda berbagi 50% gen dengan saudara kandung Anda, 25% dengan sepupu, dan seterusnya. Jadi membantu kerabat sebenarnya membantu gen Anda sendiri bertahan. 

Ini mengapa kita lebih mungkin mengorbankan diri untuk keluarga dibandingkan orang asing. Dan mengapa ada pepatah: "Darah lebih kental dari air." 

2. Altruisme Timbal Balik (Reciprocal Altruism) 

"Kamu garuk punggungku, aku garuk punggungmu." 

Jika saya membantu Anda hari ini dengan harapan Anda akan membantu saya besok, kita berdua mendapat keuntungan dalam jangka panjang. 

Tapi ini butuh memori—mengingat siapa yang membantu dan siapa yang "curang" (menerima bantuan tapi tidak membalas). Ini mengapa kita punya memori sosial yang sangat baik dan sangat sensitif terhadap ketidakadilan. 

3. Altruisme Reputasi (Indirect Reciprocity) 

Jika orang lain melihat Anda membantu seseorang, Anda mendapat reputasi sebagai orang baik dan kooperatif. Orang lain akan lebih mau bekerja sama dengan Anda di masa depan. 

Ini mengapa kita peduli dengan reputasi. Ini mengapa kita berbuat baik di depan orang lain. Dan ini mengapa gosip begitu universal—gosip adalah cara kita berbagi informasi tentang siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak. 

Agresi—Sisi Gelap 

Psikologi evolusioner tidak hanya menjelaskan perilaku baik—juga perilaku buruk. 

Agresi ada karena kadang kekerasan adalah strategi yang "berhasil" dalam kompetisi sumber daya, pasangan, atau status. 

Tapi ada pola menarik:

Pria jauh lebih agresif secara fisik daripada wanita—terutama dalam konteks kompetisi seksual. Mengapa? Karena kekerasan adalah strategi berisiko tinggi-imbalan tinggi yang lebih "masuk akal" untuk pria (yang bisa mendapat banyak keturunan dari kemenangan) dibandingkan wanita (yang tidak). 

Agresi paling tinggi di antara pria muda tanpa pasangan dan tanpa status. Ini masuk akal: mereka punya paling banyak untuk mendapat dan paling sedikit untuk hilang. 

Memahami ini tidak membenarkan kekerasan. Tapi membantu kita merancang intervensi yang lebih efektif—misalnya, memberikan jalur alternatif untuk status dan penghargaan bagi pria muda.


Bagian 7: Emosi—Dashboard Psikologis 

Dari perspektif evolusioner, emosi adalah sistem sinyal yang memberi tahu kita tentang masalah dan peluang penting. 

Takut—Sistem Alarm 

Takut memberi tahu Anda: "Ada ancaman! Ambil tindakan sekarang!" 

Terlalu banyak takut (anxiety disorder) adalah masalah. Tapi terlalu sedikit takut juga masalah—Anda akan mengambil risiko bodoh dan mati. 

Marah—Sinyal Pelanggaran 

Marah memberi tahu Anda: "Seseorang melanggar aturan! Saya diperlakukan tidak adil!" Kemarahan memotivasi kita untuk menegakkan norma sosial dan mencegah eksploitasi.

Sedih—Sinyal Kehilangan 

Kesedihan memberi tahu Anda: "Saya kehilangan sesuatu yang berharga." 

Kesedihan yang dalam (depresi) bisa menjadi sinyal: "Strategi hidup saya tidak bekerja. Saya perlu berhenti dan mengevaluasi ulang." 

Bahagia—Sinyal Sukses 

Kebahagiaan memberi tahu Anda: "Apa yang saya lakukan bekerja! Lanjutkan!" 

Tapi perhatikan: kebahagiaan sementara. Mengapa? Karena jika Anda bahagia selamanya setelah satu kesuksesan, Anda akan berhenti berusaha. Evolusi ingin Anda terus berusaha. 

Ini menjelaskan hedonic treadmill—mengapa kita kembali ke baseline kebahagiaan setelah kejadian besar (menang lotre, promosi, menikah). Otak kita dirancang untuk tidak pernah puas sepenuhnya.


Bagian 8: Implikasi untuk Hidup Modern 

Mismatch Problem—Otak Kuno di Dunia Modern 

Masalah terbesar yang kita hadapi: Otak kita dirancang untuk lingkungan nenek moyang, bukan dunia modern. 

Contoh mismatch: 

Makanan: Otak kita menginginkan kalori tinggi (langka di masa lalu), tapi sekarang kalori ada di mana-mana. Hasil: obesitas. 

Media sosial: Otak kita peduli dengan status sosial dalam kelompok kecil (150 orang). Sekarang kita membandingkan diri dengan jutaan orang di Instagram. Hasil: anxiety dan depresi. 

Pornografi: Otak pria dirancang untuk tertarik pada banyak pasangan. Sekarang ada akses unlimited ke rangsangan seksual. Hasil: addiction dan masalah hubungan. 

Berita: Otak kita sangat perhatian pada ancaman. Berita 24/7 terus membombardir kita dengan ancaman dari seluruh dunia. Hasil: anxiety berlebihan tentang hal-hal yang sangat tidak mungkin (terorisme, penculikan) dan kurang perhatian pada hal-hal yang lebih mungkin (penyakit jantung, kecelakaan). 

Bagaimana Menggunakan Pengetahuan Ini 

Memahami psikologi evolusioner bukan berarti menyerah pada "instink" kita. Justru sebaliknya—memahami membantu kita membuat pilihan lebih baik. 

1. Kenali bias Anda 

Anda sekarang tahu bahwa Anda akan: 

  • Terlalu menghargai makanan manis dan berlemak
  • Terlalu takut pada ancaman yang salah
  • Membandingkan diri dengan orang lain secara berlebihan

Awareness adalah langkah pertama untuk perubahan. 

2. Desain lingkungan Anda 

Jika Anda tahu otak Anda akan menginginkan junk food, jangan simpan junk food di rumah. Buat pilihan sehat menjadi pilihan default. 

Jika Anda tahu media sosial membuat Anda tidak bahagia, batasi penggunaan. Delete apps dari ponsel.

3. Fokus pada lingkungan evolusioner, bukan modern 

Otak Anda dirancang untuk: 

  • Kelompok sosial kecil dan dekat (bukan 1000 "teman" Facebook)
  • Aktivitas fisik teratur (berburu dan mengumpulkan)
  • Paparan alam dan sinar matahari
  • Tidur ketika gelap

Semakin dekat Anda hidup dengan "gaya hidup nenek moyang," semakin bahagia dan sehat Anda.


Penutup: Kita Adalah Mesin Evolusi—Tapi Kita Punya Pilihan 

David Buss menulis dengan jelas: Memahami psikologi evolusioner bukan determinisme.

Ya, kita punya kecenderungan yang dibentuk oleh evolusi. Tapi kita juga punya: 

  • Kesadaran diri
  • Kemampuan untuk berpikir jangka panjang
  • Kebebasan untuk memilih

Kita tidak harus mengikuti setiap dorongan evolusioner. Kita bisa: 

  • Diet meskipun otak menginginkan donat
  • Setia meskipun otak tertarik pada orang lain
  • Altruistik kepada orang asing yang tidak berbagi gen kita
  • Bahagia meskipun tidak kaya atau cantik

Tapi untuk membuat pilihan ini, kita perlu memahami dorongan yang kita lawan. 

Seperti yang Buss katakan: "Kita adalah satu-satunya spesies yang bisa memahami mesin evolusi yang menciptakan kita—dan dengan pemahaman itu, kita bisa melampaui pemrograman kita." 

Pertanyaan untuk Anda 

Setelah memahami psikologi evolusioner, pertanyaan untuk refleksi: 

1. Dorongan evolusioner mana yang paling kuat dalam hidup Anda? Apakah itu kebutuhan akan status? Ketakutan akan penolakan? Keinginan untuk makanan tinggi kalori? 

2. Di mana otak kuno Anda bertentangan dengan tujuan modern Anda? Mungkin Anda ingin sehat tapi terus makan junk food? Ingin fokus tapi terus scroll media sosial? 

3. Bagaimana Anda bisa mendesain lingkungan untuk bekerja dengan otak Anda, bukan melawannya? 

Memahami diri sendiri adalah langkah pertama untuk mengubah diri sendiri. 

Dan memahami bahwa kita semua adalah produk dari proses yang sama—evolusi—membantu kita lebih berempati terhadap kelemahan orang lain.

Kita semua dipersenjatai dengan otak kuno di dunia modern, mencoba yang terbaik untuk menavigasi mismatch. 

Jadi berbaik hatilah—pada diri sendiri dan orang lain. 

Dan ingat: Anda bukan budak dari evolusi Anda. Anda adalah pilot.


Tentang Buku Asli 

"Evolutionary Psychology: The New Science of the Mind" pertama kali diterbitkan pada tahun 1999 dan sekarang dalam edisi keenam (2019), menjadi textbook standar untuk kursus psikologi evolusioner di universitas di seluruh dunia. 

David M. Buss adalah profesor psikologi di University of Texas di Austin dan salah satu peneliti paling berpengaruh dalam bidang psikologi evolusioner. Dia telah menerbitkan lebih dari 300 artikel ilmiah dan beberapa buku, termasuk "The Evolution of Desire" dan "The Dangerous Passion." 

Buku ini unik karena mengintegrasikan teori evolusi dengan penelitian psikologi modern, memberikan framework komprehensif untuk memahami sifat manusia. Buss menggunakan data dari studi lintas budaya, eksperimen laboratorium, dan observasi perilaku untuk mendukung argumennya. 

Untuk pemahaman mendalam tentang mengapa kita menjadi seperti sekarang, sangat disarankan membaca buku aslinya. Textbook ini penuh dengan studi kasus, data penelitian, dan nuansa teoritis yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Buku ini kontroversial di beberapa kalangan karena implikasinya tentang perbedaan seks dan perilaku manusia. Tapi Buss sangat hati-hati untuk membedakan antara deskripsi (bagaimana sesuatu adalah) dan preskripsi (bagaimana sesuatu seharusnya)—serta menekankan bahwa memahami biologi tidak sama dengan membenarkan perilaku bermasalah. 

Sekarang pergilah dan amati dunia dengan lensa baru. Setiap perilaku "aneh" yang Anda lihat—pada diri sendiri atau orang lain—tanyakan: "Masalah apa yang perilaku ini dirancang untuk selesaikan di lingkungan nenek moyang?" 

Jawabannya mungkin mengejutkan Anda. 

Kita semua adalah mesin evolusi yang luar biasa—hasil dari miliaran tahun trial and error. Dan memahami mesin itu adalah kunci untuk menguasainya.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Stolen Focus
Back to top

Similar books