Skip to main content

Fates and Furies

by Lauren Groff · April 2026 · 13 min read

Pernikahan yang Semua Orang Iri

Table of contents

Pernikahan yang Semua Orang Iri 

Bayangkan Anda di pesta pernikahan yang paling romantis yang pernah Anda hadiri. 

Pengantin pria: tinggi, tampan seperti model, karismatik, dari keluarga kaya Florida. Pengantin wanita: cantik misterius, anggun seperti model Prancis, dengan tatapan yang dalam. 

Mereka baru kenal dua minggu. Semua orang bilang mereka gila. Teman-teman mereka bertaruh berapa lama pernikahan ini akan bertahan—satu tahun? Dua tahun? Paling lama lima tahun. 

Tapi mereka salah. 

Lotto dan Mathilde tetap menikah selama 24 tahun. Dan di permukaan, pernikahan mereka sempurna. Mereka masih bercinta dengan passion yang sama. Mereka masih saling menatap seperti tidak ada orang lain di ruangan. Mereka masih jadi pasangan yang paling diiri di setiap pesta. 

Teman-teman mereka berkata: "Bagaimana mereka bisa begitu bahagia? Apa rahasia mereka?"

Dan memang ada rahasia. Banyak sekali rahasia. 

Karena seperti yang akan Anda pelajari: Kadang kunci pernikahan yang hebat bukan kebenarannya—tapi rahasianya. 

Lauren Groff menulis Fates and Furies sebagai novel yang dibagi dua bagian: "Fates" (Takdir) dari perspektif Lotto, dan "Furies" (Amarah) dari perspektif Mathilde. Dan ketika Anda membaca kedua bagian itu, Anda akan menyadari: 

Dua orang bisa hidup dalam pernikahan yang sama—tapi tinggal di realitas yang sama sekali berbeda. 

Mari kita masuk ke dalam pernikahan yang glamor ini. Dan bersiaplah—karena apa yang terlihat sempurna dari luar, dari dalam adalah sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih kompleks, dan lebih manusiawi.


Bagian 1: Fates—Dunia Menurut Lotto yang Beruntung

Lancelot Satterwhite: Anak Emas yang Dilahirkan Beruntung 

Lotto—nama panggilan untuk Lancelot—lahir dalam "mata badai yang tenang." Bahkan cara dia lahir sudah seperti metafora: di tengah kehancuran, dia adalah ketenangan. Keberuntungan. Takdir. 

Dia dibesarkan di mansion mewah di Florida. Ayahnya kaya. Ibunya, Antoinette, cantik dan protektif. Dia adalah anak yang dicintai, dimanja, dipuja. 

Lalu ayahnya meninggal tiba-tiba ketika Lotto masih remaja. Dunia Lotto hancur. Tapi seperti selalu, dia bangkit—karena itulah yang orang beruntung lakukan. 

Dia pergi ke boarding school di New Hampshire. Lalu ke perguruan tinggi Vassar. Dan di sanalah—di pesta kampus, di bawah lampu redup, dengan musik berdentum—dia bertemu dengan Mathilde. 

Pertemuan yang Mengubah Segalanya 

Mathilde berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah Lotto temui. 

Dia tidak tertawa terlalu keras. Dia tidak berusaha keras untuk menarik perhatian. Dia hanya... ada. Tenang. Misterius. Dengan mata yang sepertinya menyimpan seluruh lautan rahasia. 

Lotto jatuh cinta seketika. Dan dengan impulsivitas yang hanya dimiliki oleh orang yang selalu beruntung, dia berkata: "Marry me." 

Dua minggu kemudian, mereka menikah. 

Semua orang berpikir mereka gila. Ibu Lotto sangat marah—dia memotong akses Lotto ke warisan keluarga. Teman-teman mereka skeptis. Tapi Lotto dan Mathilde tidak peduli. 

Karena mereka punya cinta. Dan cinta, menurut Lotto, adalah satu-satunya hal yang penting.

Tahun-Tahun Sulit—Tapi Tetap Sempurna 

Tanpa uang keluarga, Lotto dan Mathilde hidup di apartemen satu kamar kecil di West Village, New York. 

Lotto mencoba karir sebagai aktor. Dia tampan, karismatik, punya presence di panggung. Tapi industri tidak memberinya break yang dia butuhkan. Audisi demi audisi gagal. Peran-peran kecil yang tidak membawa ke mana-mana.

Mathilde bekerja untuk mendukung mereka. Dia mengambil pekerjaan di galeri seni milik Ariel—pria yang pernah... well, kita akan bahas itu nanti. 

Di mata Lotto, tahun-tahun ini sulit tapi indah. Karena dia punya Mathilde. Setiap malam, mereka bercinta dengan passion. Setiap pagi, Mathilde membuatkan kopi untuknya. Dia adalah muse-nya, anchor-nya, segalanya. 

Transformasi menjadi Playwright 

Suatu malam, Lotto menulis sesuatu—bukan untuk audisi aktor, tapi sebuah naskah drama.

Dan ternyata, dia brilian dalam menulis. 

Naskah pertamanya diproduksi. Kemudian yang kedua. Yang ketiga. Dalam beberapa tahun, Lancelot Satterwhite menjadi nama besar di dunia teater New York. 

Kritikus memuji karya-karyanya. Broadway meminta naskahnya. Uang mulai mengalir. Mereka pindah ke rumah pedesaan yang indah di luar kota—tempat di mana Lotto bisa menulis dengan damai, dengan Mathilde di sampingnya. 

Lotto percaya bahwa semua kesuksesannya karena Mathilde. "Kamu adalah alasan aku bisa menciptakan," katanya pada Mathilde. "Kamu adalah segalanya." 

Dan Mathilde tersenyum—senyum yang lembut, penuh cinta, dan menyembunyikan begitu banyak hal yang Lotto tidak akan pernah tahu. 

Satu-Satunya Kesedihan: Tidak Punya Anak 

Lotto ingin anak. Dia membayangkan keluarga besar, rumah penuh dengan tawa anak-anak.

Tapi Mathilde... tidak pernah hamil. 

Tahun demi tahun berlalu. Mereka mencoba. Tapi tidak pernah terjadi. 

Lotto sedih, tapi dia menerimanya. "Mungkin ini bukan takdir kita," katanya. "Mungkin kita hanya ditakdirkan untuk berdua." 

Dia tidak tahu—dan tidak akan pernah tahu—bahwa Mathilde telah menjalani ligasi tuba bertahun-tahun sebelumnya. Bahwa dia tidak ingin anak. Bahwa dia tidak pernah mengatakan padanya. 

Ini adalah salah satu dari banyak rahasia yang Mathilde simpan. 

Kecelakaan dan Krisis Kreativitas

Di puncak kesuksesannya, Lotto mengalami kecelakaan pesawat kecil. Dia selamat—tapi terluka parah. 

Pemulihan lambat. Dan yang lebih buruk: dia kehilangan kemampuan menulis. Kata-kata tidak datang lagi. Kreativitas menguap. 

Lotto jatuh ke dalam depresi. Dia minum terlalu banyak. Dia merasa seperti dia kehilangan tujuan hidupnya. 

Mathilde mencoba segala cara untuk membuatnya bahagia—bahkan membeli anjing untuk menemaninya. Tapi tidak ada yang bekerja. 

Sampai suatu hari, Lotto memutuskan untuk pergi ke koloni seniman. Dan di sana, dia bertemu Leo Sen—komposer muda berbakat yang akan bekerja sama dengannya untuk menciptakan opera. 

Leo Sen—Ancaman Pertama terhadap Pernikahan Mereka

Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun pernikahan, Mathilde merasa terancam. 

Bukan karena Leo adalah wanita. Leo adalah pria. Tapi cara Lotto berbicara tentang Leo—dengan antusiasme, dengan kegembiraan, dengan cara yang biasanya dia hanya berbicara tentang Mathilde—membuat Mathilde takut. 

Apakah Lotto jatuh cinta pada Leo? Bukan secara romantis, tapi secara emosional, artistik?

Mathilde pergi ke Thailand—meninggalkan Lotto untuk pertama kalinya. 

Tapi dia kembali. Karena meskipun ada ketakutan, ada keretakan kecil—dia masih mencintai Lotto lebih dari apa pun. 

Akhir dari Lotto—Kematian yang Tiba-Tiba 

Tahun-tahun berlalu. Lotto terus menulis. Kritikus terus memuji. Kehidupan kembali ke ritme yang nyaman. 

Lalu suatu hari, di usia 40-an, Lotto meninggal—aneurisma yang tiba-tiba. Tidak ada peringatan. Tidak ada goodbye. 

Dan Mathilde—Mathilde yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk Lotto—ditinggalkan sendirian. 

Ini adalah akhir dari "Fates." Akhir dari cerita menurut Lotto. 

Tapi cerita sebenarnya—cerita yang Lotto tidak pernah tahu—baru saja dimulai.


Bagian 2: Furies—Kebenaran Menurut Mathilde

Masa Kecil yang Tidak Lotto Ketahui 

Mathilde tidak lahir dengan nama Mathilde. 

Dia lahir sebagai Aurelie—seorang gadis kecil di desa kecil di Prancis. 

Dan di usia empat tahun, dia melakukan sesuatu yang akan menghantui sisa hidupnya: Dia mendorong adik bayinya menuruni tangga. Leher bayi itu patah. Dia meninggal. 

Apakah itu kecelakaan? Apakah itu kesengajaan? Bahkan Mathilde sendiri tidak yakin. Tapi orang tuanya yakin—mereka melihat kegelapan di dalam dirinya. 

Mereka mengirimnya ke Paris untuk tinggal dengan neneknya—seorang wanita yang bekerja sebagai pelacur. Dan di Paris, Aurelie belajar bahwa dunia adalah tempat yang kejam. Bahwa kecantikan adalah senjata. Bahwa untuk bertahan hidup, Anda harus menjadi lebih keras dari dunia. 

Dari Aurelie menjadi Mathilde 

Ketika neneknya meninggal, gadis yang dulunya bernama Aurelie sendirian di dunia. Dia pindah ke Pennsylvania. Dia mengubah namanya menjadi Mathilde. 

Dan untuk membayar kuliah di Vassar, dia menjadi—ada baiknya kita sebut dengan apa adanya—sugar baby dari Ariel, pemilik galeri seni yang kaya dan berkuasa. 

Ariel memberinya uang. Mathilde memberikan... well, apa yang Ariel inginkan.

Ini bukan cinta. Ini transaksi. Tapi ini adalah cara Mathilde bertahan hidup.

Pertemuan dengan Lotto Bukan Kebetulan 

Ketika Mathilde bertemu Lotto di pesta kampus—itu bukan kebetulan. 

Mathilde telah melihatnya sebelumnya. Dia telah merencanakan pertemuan itu. Dia tahu siapa Lotto—anak kaya, ganteng, dengan masa depan yang cerah. 

Dan ketika Lotto jatuh cinta padanya, Mathilde melihat kesempatan: Pelarian. Kehidupan baru. Kesempatan untuk meninggalkan masa lalu yang gelap. 

Jadi dia menikah dengannya. Bukan hanya karena cinta—meskipun cinta itu ada—tapi karena kebutuhan untuk bertahan hidup. 

Rahasia yang Dijaga Selama 24 Tahun

Selama pernikahan mereka, Mathilde menyimpan banyak sekali rahasia: 

Rahasia #1: Masa lalunya dengan Ariel. Lotto pikir dia adalah perawan ketika mereka menikah. Dia tidak tahu tentang Ariel, tentang transaksi, tentang semua yang Mathilde lakukan untuk bertahan hidup. 

Rahasia #2: Perannya dalam kesuksesan Lotto. Lotto pikir naskah-naskahnya murni dari genius-nya sendiri. Dia tidak tahu bahwa Mathilde diam-diam mengedit naskahnya, memberi ide, bahkan menulis beberapa adegan. Dia adalah co-author yang tidak pernah mendapat kredit. 

Rahasia #3: Perang dengan ibu Lotto. Antoinette, ibu Lotto, membenci Mathilde. Dan Mathilde—Mathilde membalas dengan cara yang licik. Dia mencegat surat-surat dari Antoinette. Dia membuat Lotto percaya bahwa ibunya tidak peduli. Selama bertahun-tahun, mereka terpisah—bukan karena kebetulan, tapi karena manipulasi Mathilde. 

Rahasia #4: Ligasi tuba. Mathilde tidak ingin anak. Jadi dia menjalani operasi untuk memastikan dia tidak akan hamil—tanpa pernah memberitahu Lotto. Dia membiarkan Lotto percaya bahwa mereka "hanya tidak beruntung." 

Mengapa Dia Menyimpan Semua Itu? 

Mathilde tidak jahat—setidaknya tidak sepenuhnya. 

Dia menyimpan rahasia karena dia takut. Takut bahwa jika Lotto tahu siapa dia sebenarnya—seorang gadis yang mungkin membunuh adiknya, yang pernah menjadi sugar baby, yang datang dari kegelapan—dia akan meninggalkannya. 

Dan Mathilde tidak bisa kehilangan Lotto. Karena meskipun pernikahan mereka dibangun di atas rahasia, cinta yang dia rasakan adalah nyata. 

Dia mencintai Lotto dengan cara yang fierce, yang desperate. Dia akan melakukan apa saja untuk menjaga pernikahan mereka—bahkan jika itu berarti berbohong, manipulasi, menyembunyikan. 

Setelah Lotto Meninggal—Kesepian yang Menghancurkan

Ketika Lotto meninggal, Mathilde hancur. 

Tanpa Lotto, dia kembali menjadi gadis kecil yang sendirian. Semua rahasia yang dia jaga selama 24 tahun—untuk apa? Lotto tidak akan pernah tahu. Dia tidak akan pernah bisa menjelaskan. 

Mathilde jatuh ke dalam kesedihan yang gelap. Dia punya one-night stands dengan orang asing—mencoba merasakan sesuatu, apa pun, selain kekosongan.

Dan kemudian suatu hari, seorang pemuda datang ke rumahnya. Namanya Land. Dia adalah penggemar karya Lotto yang ingin bertemu dengan janda sang playwright besar. 

Mereka mengobrol. Mereka tertawa. Dan kemudian—mereka tidur bersama.

Twist Terakhir yang Menghancurkan Hati 

Mathilde menemukan sesuatu setelahnya: Land bukan hanya penggemar acak.

Land adalah anak Lotto. 

Ketika Lotto berusia 15 tahun, dia punya hubungan dengan seorang gadis bernama Gwennie. Gwennie hamil. Bayi itu diadopsi. Lotto tidak pernah tahu dia punya anak—ibunya menyembunyikannya darinya. 

Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, anak itu—sekarang sudah dewasa—muncul. Dan Mathilde, tanpa menyadarinya, telah tidur dengan anak tiri yang tidak pernah dia kenal. 

Ini adalah ironi yang kejam. Tapi juga, dalam cara yang aneh, adalah hadiah: Mathilde mendapatkan sepotong dari Lotto yang dia pikir telah hilang selamanya.


Bagian 3: Pelajaran dari Pernikahan yang Sempurna (Tapi Penuh Rahasia) 

1. Setiap Pernikahan Punya Dua Versi Cerita 

Lotto melihat pernikahan mereka sebagai fairytale—cinta sejati, partnership yang sempurna, takdir. 

Mathilde melihat pernikahan yang sama sebagai perjuangan—untuk bertahan hidup, untuk menyembunyikan, untuk melindungi dirinya dari kehilangan satu-satunya hal yang membuat hidupnya berharga. 

Pelajaran: Dua orang dalam pernikahan yang sama bisa hidup dalam realitas yang sama sekali berbeda. Apa yang Anda lihat dari luar—bahkan apa yang pasangan Anda lihat—mungkin bukan keseluruhan cerita. 

2. Kadang Rahasia Melindungi—Tapi Juga Merusak 

Mathilde menyimpan rahasia untuk melindungi pernikahannya. Dia takut bahwa kebenaran akan menghancurkan cinta Lotto. 

Tapi rahasia-rahasia itu juga berarti bahwa Lotto tidak pernah benar-benar mengenal istrinya. Dan Mathilde tidak pernah bisa sepenuhnya bebas. 

Pelajaran: Rahasia bisa membuat pernikahan bertahan—tapi dengan harga. Harganya adalah otentisitas, keintiman sejati, dan kemampuan untuk sepenuhnya dikenal dan dicintai untuk siapa Anda sebenarnya. 

3. Cinta dan Manipulasi Bisa Hidup Berdampingan 

Mathilde memanipulasi Lotto—tidak ada cara lain untuk mengatakannya. Dia menyembunyikan, berbohong, mengontrol narasi. 

Tapi dia juga mencintainya dengan tulus. Kedua hal itu ada bersamaan. 

Pelajaran: Manusia kompleks. Seseorang bisa mencintai Anda dengan tulus dan masih memanipulasi Anda. Cinta bukan jaminan kejujuran atau kebaikan. 

4. Kesuksesan Jarang Murni Individual 

Lotto dipuji sebagai genius. Tapi tanpa Mathilde—yang mengedit, yang memberi ide, yang mendukung secara emosional dan finansial—apakah dia akan sukses?

Pelajaran: Di balik setiap "orang sukses" seringkali ada pasangan, asisten, mentor yang tidak terlihat. Kesuksesan jarang murni individual—tapi kita jarang mengakui kontributor yang tidak terlihat. 

5. Kadang yang Kita Tidak Tahu Tidak Menyakiti Kita 

Lotto meninggal tanpa pernah tahu tentang Ariel, tentang ligasi tuba, tentang manipulasi Mathilde terhadap hubungannya dengan ibunya. 

Apakah dia lebih bahagia karena tidak tahu? Mungkin. 

Pelajaran: Ada argumen untuk "ignorance is bliss." Kadang, mengetahui seluruh kebenaran bisa menghancurkan sesuatu yang indah. Tapi ada juga argumen bahwa keindahan yang dibangun di atas kebohongan adalah keindahan yang rapuh.


Penutup: Fates atau Furies—Mana yang Benar?

Lauren Groff memberi kita dua narasi yang sangat berbeda tentang pernikahan yang sama. 

Fates (Takdir): Cerita Lotto adalah cerita tentang keberuntungan, cinta, dan takdir. Dia adalah pria yang diberkati—yang menemukan cinta sejati, yang menemukan karir yang brilian, yang hidup dengan bahagia (sebagian besar) sampai akhir. 

Furies (Amarah): Cerita Mathilde adalah cerita tentang bertahan hidup, manipulasi, dan amarah yang terkubur. Dia adalah wanita yang berjuang untuk setiap hal yang dia punya—dan yang rela melakukan apa pun untuk mempertahankannya. 

Mana yang benar? Keduanya. Dan tidak satupun. 

Karena itulah kecemerlangan dari Fates and Furies: Groff menunjukkan bahwa kebenaran dalam hubungan tidak pernah sederhana. Bahwa dua orang bisa hidup dalam pernikahan yang sama dan punya pengalaman yang sama sekali berbeda. Bahwa apa yang terlihat seperti fairytale dari luar bisa menjadi medan perang dari dalam. 

Pertanyaan untuk Anda 

Lauren Groff menulis Fates and Furies untuk membuat kita bertanya: 

  • Berapa banyak yang Anda benar-benar tahu tentang pasangan Anda? Atau siapa pun yang dekat dengan Anda? Apakah Anda mengenal versi mereka—atau hanya versi yang mereka tunjukkan?
  • Rahasia apa yang Anda simpan? Dan apakah rahasia itu melindungi hubungan Anda—atau mencegahnya menjadi sepenuhnya nyata?
  • Apakah kesuksesan Anda benar-benar hanya milik Anda? Siapa orang-orang yang tidak terlihat yang berkontribusi—dan apakah Anda mengakui mereka?
  • Apakah lebih baik untuk tahu kebenaran yang menyakitkan—atau hidup dalam ilusi yang indah?

Dan yang paling penting: 

Jika pasangan Anda menulis cerita pernikahan kalian—apakah ceritanya akan terdengar seperti cerita Anda? 

Karena seperti yang Lotto dan Mathilde tunjukkan: Kadang dua orang bisa hidup dalam pernikahan yang sama—tapi tinggal di dunia yang sama sekali berbeda. 

Dan kadang, kunci pernikahan yang bertahan bukan kebenarannya—tapi rahasia yang dijaga dengan baik.


Tentang Buku Asli 

Fates and Furies diterbitkan pada 2015 dan langsung menjadi sensasi literatur. 

Buku ini masuk finalis National Book Award, dipilih sebagai Buku Terbaik Tahun 2015 oleh Washington Post, NPR, Time, dan banyak publikasi lainnya. Bahkan Presiden Barack Obama menyebutnya sebagai buku favoritnya tahun itu. 

Lauren Groff adalah penulis Amerika yang dikenal karena prosa yang indah dan eksplorasi mendalam tentang hubungan manusia. Fates and Furies adalah novel ketiganya, dan banyak yang menganggapnya sebagai karya terbaiknya. 

Novel ini dipuji karena: 

  • Struktur inovatif dua bagian yang memberikan perspektif berbeda
  • Prosa yang puitis dan kaya akan referensi sastra dan mitologi Yunani
  • Eksplorasi kompleks tentang pernikahan, kreativitas, dan persepsi
  • Karakter yang dalam dan tidak mudah dilupakan

Groff menggunakan referensi mitologi Yunani—khususnya Fates (dewi takdir) dan Furies (dewi pembalasan)—untuk memberikan kedalaman pada narasi. Bahkan ada komentar omniscient dalam kurung siku sepanjang novel yang berfungsi seperti chorus dalam tragedi Yunani. 

Untuk pengalaman penuh dari prosa Groff yang memukau, twist yang mengejutkan, dan kompleksitas emosional pernikahan Lotto dan Mathilde, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi—keindahan penuh dari bahasa Groff dan kedalaman karakternya hanya bisa dirasakan dari novel lengkap. 

Sekarang pergilah dan lihat pernikahan di sekitar Anda—termasuk milik Anda sendiri—dengan mata baru. 

Karena seperti yang Groff tunjukkan: Tidak ada yang benar-benar sempurna. Tidak ada yang sepenuhnya seperti yang terlihat. Dan kadang, cerita terbaik adalah yang punya dua sisi—sisi takdir yang indah, dan sisi amarah yang tersembunyi. 

Dan dalam tegangan antara keduanya—antara Fates dan Furies—itulah kehidupan sejati terjadi.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Testaments
Back to top

Similar books