Skip to main content

Get It Done

by Ayelet Fishbach · December 2025 · 13 min read

Kartu Subway yang Mengubah Segalanya

Table of contents

Kartu Subway yang Mengubah Segalanya

Bayangkan Anda mendapat kartu loyalitas dari kedai kopi favorit. 

Kartu A: Beli 10 kopi, gratis 1. Kartu kosong—belum ada stempel. 

Kartu B: Beli 12 kopi, gratis 1. Tapi kartu sudah punya 2 stempel—jadi Anda hanya perlu 10 kopi lagi. 

Kedua kartu butuh usaha yang sama—10 pembelian lagi. Tapi pertanyaannya: Kartu mana yang membuat Anda lebih termotivasi untuk menyelesaikannya? 

Psikolog Ayelet Fishbach dan timnya melakukan eksperimen serupa dengan kartu cuci mobil. Hasilnya mengejutkan: 

Kartu B—yang sudah ada "kemajuan awal"—membuat orang 82% lebih mungkin menyelesaikan program loyalitas. Mereka juga menyelesaikannya lebih cepat. 

Mengapa? Karena otak kita tidak hanya peduli pada tujuan akhir. Otak kita sangat peduli pada kemajuan. 

Ini adalah salah satu dari puluhan insight yang Ayelet Fishbach—profesor psikologi di University of Chicago—ungkap setelah 20 tahun meneliti satu pertanyaan sederhana namun krusial: 

Mengapa kita sangat pintar menetapkan tujuan, tetapi sangat buruk dalam menyelesaikannya? 

Setiap tahun kita membuat resolusi. Setiap Senin kita memulai diet baru. Setiap bulan kita berjanji akan mulai olahraga, belajar bahasa baru, menulis buku, memulai bisnis. 

Dan setiap kali—dengan tingkat keberhasilan yang menyedihkan—kita menyerah di tengah jalan. 

Masalahnya bukan karena Anda tidak punya tujuan. Bukan karena Anda tidak termotivasi. Masalahnya adalah kita tidak memahami bagaimana motivasi sebenarnya bekerja.

"Get It Done" adalah buku tentang sains motivasi—bukan tips produktivitas yang klise, tapi prinsip-prinsip berbasis riset tentang bagaimana manusia benar-benar menyelesaikan hal-hal penting. 

Mari kita mulai dengan memahami mengapa kita begitu mudah menyerah.


Bagian 1: Menetapkan Tujuan yang Benar-Benar Bekerja

Masalah dengan SMART Goals 

Anda pasti pernah dengar tentang SMART goals—Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound. 

Kedengarannya sempurna, kan? 

Tapi inilah kenyataannya: SMART goals tidak cukup. 

Contoh SMART goal: "Saya akan menurunkan berat badan 5 kg dalam 3 bulan dengan olahraga 3 kali seminggu dan diet 1.500 kalori per hari." 

Specific? Cek. Measurable? Cek. Achievable? Cek. Relevant? Cek. Time-bound? Cek. 

Lalu mengapa 92% orang gagal mencapai resolusi tahun baru mereka meskipun sudah SMART? 

Karena SMART goals hanya fokus pada apa yang ingin Anda capai, tapi tidak memberi tahu Anda bagaimana bertahan ketika motivasi menghilang—dan motivasi selalu menghilang. 

Goals vs Means—Apa yang Benar-Benar Penting 

Fishbach membedakan antara: 

  • Goals (tujuan akhir) - apa yang ingin Anda capai
  • Means (cara) - tindakan yang membawa Anda ke sana

Contoh: 

  • Goal: Tubuh sehat dan bugar
  • Means: Olahraga, diet sehat, tidur cukup

Inilah insight kuncinya: Pada awalnya, fokus pada goal memotivasi Anda. Tapi untuk bertahan jangka panjang, Anda harus fokus pada means. 

Mengapa? Karena goal itu abstrak dan jauh. Means itu konkret dan sekarang. 

Ketika baru mulai diet, Anda membayangkan tubuh ideal Anda—itu memotivasi. Tapi minggu ketiga, ketika Anda capek dan tergoda donat, bayangan tubuh ideal tidak cukup kuat. Yang Anda butuhkan adalah alasan konkret untuk memilih salad daripada donat hari ini, sekarang.

Eksperimen Gym: Goals vs Means 

Fishbach melakukan studi dengan orang-orang yang baru join gym. 

Kelompok A diminta menulis tentang tujuan jangka panjang mereka (tubuh sehat, percaya diri, dll). 

Kelompok B diminta menulis tentang pengalaman konkret saat olahraga (musik yang mereka dengar, perasaan setelah workout, dll). 

Hasil setelah 3 bulan: 

  • Kelompok A: Datang ke gym rata-rata 4 kali
  • Kelompok B: Datang ke gym rata-rata 10 kali 

Fokus pada pengalaman konkret dari aktivitas—bukan hanya hasil akhir—membuat orang lebih konsisten. 

Pelajarannya: Jatuh cinta pada prosesnya, bukan hanya hasilnya.


Bagian 2: The Middle Problem—Mengapa Kita Menyerah di Tengah Jalan 

Kurva Motivasi Berbentuk U 

Fishbach menemukan pola yang konsisten dalam ratusan eksperimen: 

Motivasi tinggi di awal (excited memulai!). Motivasi turun drastis di tengah (stuck, bosan, overwhelmed). Motivasi naik lagi mendekati akhir (hampir selesai!). 

Ini disebut "the middle problem"—fase kritis di mana kebanyakan orang menyerah.

Contoh dalam kehidupan: 

  • Buku: Kita semangat bab pertama. Stuck di tengah. Kalau bertahan sampai 70%, kita akan selesaikan.
  • Proyek: Sprint awal penuh energi. Bulan kedua mulai drag. Mendekati deadline, adrenalin naik lagi.
  • Relationship: Fase bulan madu exciting. Tahun kedua-ketiga rutinitas membosankan. Jika bertahan, komitmen menguat.

Strategi Mengatasi The Middle Problem 

1. Chunking—Pecah Menjadi Sub-goal 

Jangan lihat satu tujuan besar. Pecah menjadi milestone kecil. 

Alih-alih: "Saya harus menulis buku 300 halaman" (menakutkan!). Gunakan: "Saya akan menulis 1 bab minggu ini" (manageable). 

Setiap sub-goal yang selesai memberikan sense of progress—dan progress adalah bahan bakar motivasi. 

2. Reframe the Middle sebagai Progress, Bukan Obstacle 

Eksperimen: Fishbach memberitahu peserta bahwa mereka sudah "40% selesai" vs "60% tersisa." 

Meskipun faktanya sama, framing "40% selesai" membuat orang lebih termotivasi melanjutkan.

Fokus pada apa yang sudah dicapai, bukan apa yang masih tersisa.

3. Inject Variety—Hindari Monoton 

The middle membosankan karena jadi rutinitas. Solusinya: variasi.

Contoh: 

  • Diet: Ganti resep setiap minggu, coba masakan negara berbeda
  • Olahraga: Ganti jenis workout (hari ini jogging, besok yoga, lusa berenang)
  • Belajar bahasa: Ganti metode (hari ini podcast, besok film, lusa chat dengan native speaker)

Variasi membuat otak tetap engaged tanpa mengubah tujuan akhir.


Bagian 3: Feedback yang Benar—Pujian atau Kritik?

Feedback Paradox 

Pertanyaan umum: Apakah feedback positif atau negatif lebih efektif? 

Jawaban Fishbach: Tergantung di mana Anda berada dalam perjalanan.

Untuk Pemula: Gunakan Feedback Positif 

Ketika baru mulai, Anda butuh encouragement—penguatan bahwa Anda di jalur yang benar. Eksperimen: Anak-anak yang belajar membaca. 

  • Kelompok A: Guru highlight kesalahan (feedback negatif)
  • Kelompok B: Guru rayakan setiap kemajuan kecil (feedback positif)

Hasil: Kelompok B lebih konsisten, lebih enjoy, dan akhirnya progress lebih cepat. 

Mengapa? Karena pemula butuh confidence building. Kritik terlalu dini membuat mereka menyerah. 

Untuk Expert: Gunakan Feedback Negatif 

Ketika Anda sudah mahir, feedback positif jadi kurang berguna. Anda butuh kritik konstruktif untuk improve. 

Eksperimen: Atlet profesional. 

  • Kelompok A: Coach fokus pada apa yang dilakukan dengan baik
  • Kelompok B: Coach fokus pada kelemahan dan area perbaikan

Hasil: Kelompok B improve lebih cepat. 

Mengapa? Karena expert sudah punya confidence. Mereka butuh informasi spesifik tentang kesenjangan antara performa sekarang dan potensi maksimal. 

Self-Feedback: Be Your Own Coach 

Anda adalah pemberi feedback terbesar untuk diri sendiri. Jadi gunakan dengan bijak: 

Awal perjalanan? Rayakan small wins. "Saya berhasil jalan kaki 10 menit hari ini—ini progress!" 

Sudah advanced? Kritik konstruktif. "Presentasi saya oke, tapi transisi antar poin masih awkward. Next time saya perlu practice itu."


Bagian 4: Motivasi Intrinsik vs Ekstrinsik—Mana yang Lebih Kuat? 

Overjustification Effect 

Eksperimen klasik psikologi: Anak-anak yang suka menggambar dibagi dua kelompok. 

Kelompok A: Diberi hadiah uang setiap kali menggambar. Kelompok B: Tidak diberi hadiah, hanya menggambar untuk fun. 

Setelah beberapa minggu, hadiah dihentikan. Apa yang terjadi? 

Kelompok A berhenti menggambar. Mereka kehilangan minat. Kelompok B terus menggambar. Mereka masih enjoy. 

Ini disebut overjustification effect—ketika reward eksternal menggantikan motivasi internal, aktivitas yang tadinya menyenangkan jadi terasa seperti pekerjaan. 

Kapan Gunakan Reward? 

Ini tidak berarti reward selalu buruk. Fishbach menjelaskan kapan reward efektif:

Gunakan reward eksternal untuk: 

  • Aktivitas yang tidak naturally enjoyable (tugas administratif, paperwork)
  • Memulai kebiasaan baru yang sulit (first few weeks di gym)
  • Task yang membosankan tapi perlu dilakukan

Jangan gunakan reward eksternal untuk: 

  • Aktivitas yang sudah Anda nikmati (hobi, passion project)
  • Kreativitas dan problem-solving (reward narrow fokus, menghambat creativity)
  • Long-term commitment (reward hanya efektif short-term)

Temptation Bundling—Hack Jenius 

Salah satu strategi favorit Fishbach: temptation bundling—menggabungkan aktivitas yang perlu dilakukan dengan aktivitas yang ingin dilakukan. 

Contoh: 

  • Gym + Netflix: "Saya hanya boleh nonton series favorit sambil di treadmill."
  • Paperwork + Coffee shop: "Saya kerjakan admin sambil di kafe favorit dengan pastry enak."
  • Commute + Audiobook: "Saya dengar buku bagus hanya selama perjalanan kerja."

Ini menciptakan positive association—tugas yang tadinya boring jadi sesuatu yang Anda anticipate. 

Riset Fishbach: Orang yang menerapkan temptation bundling 44% lebih konsisten pergi ke gym.


Bagian 5: Social Support—Kekuatan dan Bahaya

Ketika Memberitahu Orang Lain Backfire 

Konvensional wisdom bilang: "Share goal Anda dengan orang lain untuk accountability!"

Tapi riset Fishbach menunjukkan ini bisa backfire. 

Eksperimen: Peserta yang memberitahu orang lain tentang goal mereka (misalnya, "Saya akan jadi lawyer") merasa less motivated untuk actually work toward it. 

Mengapa? Karena memberitahu goal memberikan premature sense of accomplishment. Otak mendapat satisfaksi dari pengakuan sosial—sebelum Anda benar-benar melakukan apa pun. 

Peter Gollwitzer, kolega Fishbach, menyebutnya "social reality"—ketika goal terasa nyata karena orang lain tahu, padahal belum ada action. 

Kapan Social Support Benar-Benar Membantu 

Bagikan dengan orang yang tepat: 

  • Bukan yang hanya akan berkata "Wow, amazing!"
  • Tapi yang akan bertanya "Apa progress-mu minggu ini?"

Bagikan action, bukan hanya goal: 

  • Jangan: "Saya mau nurunin berat badan 10 kg." (identitas, belum action)
  • Lakukan: "Saya sudah jalan kaki 5 km hari ini." (action konkret)

Cari accountability partner yang punya goal serupa: 

  • Belajar bahasa bersama teman yang juga belajar
  • Workout dengan gym buddy
  • Menulis bersama writing group

Fishbach menemukan: Accountability partner dengan goal serupa meningkatkan konsistensi hingga 65%. 

Social Comparison—Pisau Bermata Dua 

Melihat orang lain yang lebih sukses bisa: 

  • Menginspirasi: "Kalau dia bisa, saya juga bisa!"
  • Demotivasi: "Saya jauh tertinggal, buat apa mencoba?"

Perbedaannya? Perceived attainability. 

Jika Anda merasa gap bisa dijembatani dengan usaha, comparison memotivasi. Jika gap terasa impossible, comparison merusak motivasi. 

Solusinya: Compare dengan past self, bukan dengan orang lain. 

"Apakah saya lebih baik hari ini dibanding bulan lalu?" adalah pertanyaan yang lebih produktif daripada "Apakah saya sebaik orang lain?"


Bagian 6: Self-Control—Willpower Adalah Mitos

Marshmallow Test Revisited 

Anda tahu eksperimen marshmallow terkenal—anak-anak yang bisa menunda gratifikasi (tidak makan marshmallow sekarang untuk dapat dua nanti) tumbuh jadi lebih sukses. 

Kesimpulan populer: Self-control adalah kunci sukses. 

Tapi Fishbach punya insight mengejutkan: Orang sukses bukan karena mereka punya willpower lebih kuat. Mereka sukses karena mereka lebih jarang dalam situasi yang memerlukan willpower. 

Strategi Orang Sukses: Situational Self-Control 

Alih-alih mengandalkan willpower (yang terbatas), orang sukses mendesain lingkungan mereka. 

Contoh

  • Diet: Jangan punya junk food di rumah. Kalau tidak ada, Anda tidak perlu resist temptation.
  • Produktivitas: Matikan notifikasi. Kalau ponsel tidak bunyi, Anda tidak perlu melawan urge untuk cek.
  • Olahraga: Tidur dengan baju olahraga. Pagi hari, barrier untuk mulai jadi lebih kecil.

Fishbach menyebutnya "precommitment"—membuat keputusan sebelum godaan muncul.

The "What-the-Hell" Effect 

Pernahkah ini terjadi pada Anda? 

Anda sedang diet. Anda "cheating" dengan sepotong pizza. Lalu pikiran Anda: "Ah, udah telanjur. Hari ini rusak. Yaudah makan sekalian banyak deh." 

Ini disebut "what-the-hell effect"—setelah satu slip, Anda menyerah total. 

Riset Fishbach: Ini terjadi karena kita melihat goal sebagai binary—berhasil atau gagal. Tidak ada abu-abu. 

Solusinya: Reframe slip sebagai data, bukan kegagalan. 

"Saya makan pizza hari ini. Okay. Besok saya kembali ke track." 

Satu slip tidak merusak semua progress. Progress bukan garis lurus—progress adalah tren naik dengan banyak zigzag.


Bagian 7: Attention Management—Fokus pada Yang Penting 

Urgency vs Importance—The Eisenhower Matrix 

Presiden Eisenhower pernah berkata: "Yang urgent jarang penting, dan yang penting jarang urgent." 

Kita menghabiskan hari kita mengatasi hal-hal urgent (email, meeting dadakan, request orang lain) dan tidak pernah punya waktu untuk hal-hal penting (strategic thinking, deep work, relationship). 

Fishbach menambahkan twist: Otak kita naturally attracted ke urgent karena memberikan immediate feedback. 

Email yang dijawab = instant satisfaction. Meeting yang diselesaikan = sense of accomplishment. Project penting yang butuh 3 bulan = no immediate reward. 

The 2-Minute Rule—Dengan Twist 

Banyak orang tahu "2-minute rule" dari David Allen: jika tugas bisa selesai dalam 2 menit, lakukan sekarang. 

Fishbach menambahkan: Tapi jangan biarkan 2-minute tasks mengganggu deep work.

Strategi yang lebih baik: 

  • Time blocking: Alokasikan slot khusus untuk 2-minute tasks (misalnya, 2x sehari, 20 menit per sesi untuk email).
  • Deep work first: Mulai hari dengan 2-3 jam untuk tugas paling penting, tanpa distraksi.
  • Batch processing: Kumpulkan semua small tasks dan kerjakan sekaligus.

Single-Tasking vs Multitasking 

Fishbach tegas: Multitasking adalah ilusi. 

Apa yang kita sebut "multitasking" sebenarnya "task switching"—dan setiap switch menelan biaya kognitif. 

Riset menunjukkan: Setiap kali Anda switch task, perlu rata-rata 23 menit untuk kembali ke fokus penuh. 

Jadi jika Anda cek email 10 kali sehari sambil kerja, Anda kehilangan hampir 4 jam produktivitas hanya untuk context switching.

Solusi: Protect your deep work time. 

Matikan notifikasi. Tutup semua tab browser yang tidak perlu. Beritahu tim Anda bahwa Anda "offline" untuk 2 jam. Treat deep work seperti meeting penting—non-negotiable.


Bagian 8: Membangun Sistem, Bukan Bergantung pada Motivasi 

Motivasi Tidak Reliable—Sistem Adalah 

Fishbach mengakhiri buku dengan insight paling powerful: Jangan bergantung pada motivasi. Bangun sistem. 

Motivasi fluktuatif. Hari ini Anda semangat. Besok capek. Lusa stressed.

Tapi sistem? Sistem bekerja bahkan ketika Anda tidak termotivasi. 

Contoh Sistem: 

  • Kebiasaan pagi: Ritual yang sama setiap pagi (exercise, journal, healthy breakfast) tanpa perlu keputusan baru.
  • Automated savings: Transfer otomatis ke tabungan setiap gajian—Anda tidak perlu "ingat untuk menabung."
  • Pre-scheduled reviews: Setiap Minggu jam 9 pagi, review goal mingguan—bukan "ketika sempat."

Implementation Intention—If-Then Plans 

Riset Fishbach dan Peter Gollwitzer menunjukkan: If-then plans meningkatkan follow-through hingga 300%. 

Alih-alih goal yang vague ("Saya akan olahraga lebih sering"), buat implementation intention yang spesifik: 

"Jika [situasi X], maka saya akan [aksi Y]." 

Contoh: 

  • "Jika jam 6 pagi alarm bunyi, maka saya langsung pakai sepatu lari dan keluar."
  • "Jika ada meeting, maka saya siapkan agenda 24 jam sebelumnya."
  • "Jika saya merasa ingin makan cemilan, maka saya minum segelas air dulu." Mengapa ini powerful? Karena menghilangkan kebutuhan untuk keputusan di momen.

Keputusan sudah dibuat sebelumnya. Anda hanya execute.


Penutup: Get It Done—Mulai Hari Ini 

Di akhir buku, Ayelet Fishbach mengingatkan kita: 

"Perbedaan antara orang yang mencapai goal dan yang tidak bukan bakat, bukan keberuntungan, bukan bahkan kerja keras. Perbedaannya adalah understanding bagaimana motivasi benar-benar bekerja—dan mendesain hidup Anda sesuai dengan itu." 

Lima Prinsip Inti untuk Diingat 

1. Fokus pada Means, Bukan Hanya Goals Jatuh cinta pada proses. Buat aktivitas itu sendiri rewarding, jangan hanya hasil akhir. 

2. Antisipasi The Middle Problem Ketika motivasi turun di tengah—dan akan turun—punya strategi untuk push through: chunking, reframing, inject variety. 

3. Gunakan Feedback yang Tepat Pemula butuh positivity. Expert butuh kritik. Know where you are. 

4. Desain Lingkungan, Jangan Andalkan Willpower Situational self-control mengalahkan force of will. Buat keputusan baik menjadi default. 

5. Bangun Sistem, Bukan Bergantung Motivasi Motivation fades. Systems persist. Automate sebanyak mungkin. 

Pertanyaan untuk Anda 

  • Apa satu goal penting yang sudah lama Anda tunda?
  • Apa yang membuat Anda stuck—apakah di middle problem? Kurang feedback? No system?
  • Apa satu perubahan kecil yang bisa Anda buat hari ini untuk increase likelihood of success?

Ingat eksperimen kartu loyalitas di awal: Progress—bahkan ilusi progress—adalah motivator kuat. 

Jadi jangan menunggu sampai "siap" atau "termotivasi" atau "punya waktu lebih."

Mulai sekarang. Mulai kecil. Tapi mulai. 

Karena seperti kata Fishbach: "The best way to get it done is to start getting it done."


Tentang Buku Asli 

"Get It Done: Surprising Lessons from the Science of Motivation" diterbitkan pada 2022 oleh Little, Brown Spark. 

Ayelet Fishbach adalah profesor psikologi di University of Chicago Booth School of Business dan salah satu ahli terkemuka dunia dalam motivasi dan goal pursuit. Penelitiannya telah dipublikasikan di jurnal top seperti Journal of Personality and Social Psychology, Psychological Science, dan Psychological Review. 

Fishbach telah menghabiskan lebih dari 20 tahun meneliti pertanyaan: Apa yang membuat orang bertahan pada goal mereka? Bukunya adalah sintesis dari ratusan eksperimen—miliknya dan peneliti lain—tentang bagaimana motivasi benar-benar bekerja (bukan bagaimana kita pikir ia bekerja). 

Buku ini berbeda dari kebanyakan buku produktivitas yang penuh tips dan tricks. Ini adalah science-backed framework untuk memahami dan leverage psikologi motivasi Anda sendiri. 

Untuk pemahaman mendalam tentang eksperimen-eksperimen spesifik dan aplikasi detail ke berbagai konteks (karir, kesehatan, relationship, parenting), sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap prinsip-prinsip inti, tapi buku lengkap memberikan nuance dan depth yang tidak bisa sepenuhnya dirangkum. 

Sekarang pergilah dan get it done. 

Tidak besok. Tidak "nanti kalau sempat." Tidak "ketika sudah siap." 

Sekarang

Karena seperti yang riset Fishbach buktikan berulang kali: Action menciptakan motivation, bukan sebaliknya.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Do It Today
Back to top

Similar books