How to Be Content
by Horatius · December 2025 · 15 min read
Surat dari 2000 Tahun Lalu
Table of contents
Surat dari 2000 Tahun Lalu
Roma, 23 SM.
Seorang pria duduk di rumah petak kecilnya di bukit Sabine, jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Dia bukan orang kaya. Bukan kaisar. Bukan jenderal terkenal.
Nama dia Quintus Horatius Flaccus—atau yang kita kenal sebagai Horatius.
Ayahnya adalah budak yang dibebaskan. Horatius sendiri pernah berperang di sisi yang kalah dalam perang saudara dan kehilangan segalanya. Tapi kemudian, melalui puisi dan kebijaksanaannya, dia mendapat hadiah dari Maecenas—seorang patron seni yang kaya: sebuah rumah petak kecil di pedesaan.
Dan di rumah sederhana inilah, Horatius menulis beberapa karya paling abadi dalam sejarah sastra tentang satu pertanyaan sederhana tapi fundamental:
Bagaimana cara hidup yang baik? Bagaimana cara merasa puas?
Lebih dari 2000 tahun kemudian, surat-surat dan puisi Horatius masih dibaca. Bukan karena dia menulis dengan bahasa yang indah (meskipun dia melakukannya). Tapi karena dia menulis tentang hal-hal yang tidak pernah berubah:
Bagaimana menghadapi keinginan yang tidak pernah puas. Bagaimana menghadapi kematian. Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Bagaimana menjadi teman yang baik. Bagaimana hidup dengan bijaksana di dunia yang gila.
Orang Romawi kuno menghadapi masalah yang sama dengan kita: terlalu banyak ambisi, terlalu sedikit waktu, terlalu banyak kecemasan, terlalu sedikit kepuasan.
Dan Horatius—penyair bijak dengan humor kering dan hati yang hangat—menulis panduan untuk mereka. Dan untuk kita.
Mari kita dengarkan apa yang dia katakan.
Bagian 1: Aurea Mediocritas—Jalan Tengah Emas
Kisah Dua Tetangga
Horatius menceritakan tentang dua tetangganya:
Tetangga pertama adalah pedagang kaya yang tidak pernah puas. Dia punya satu gudang penuh dengan gandum—lalu ingin dua. Punya dua, ingin empat. Punya empat, ingin delapan.
Dia bekerja 18 jam sehari. Tidak pernah tidur nyenyak karena khawatir tentang bisnis. Tidak punya waktu untuk teman atau keluarga. Rumahnya besar, tapi kosong. Mejanya penuh makanan mewah, tapi dia makan tergesa-gesa sambil menghitung uang.
Tetangga kedua adalah petani sederhana. Dia punya tanah kecil yang cukup untuk keluarganya. Bekerja dari pagi sampai siang, lalu berhenti. Sore hari dia duduk di teras, minum anggur murah, mengobrol dengan teman.
Rumahnya kecil. Makanannya sederhana—roti, keju, zaitun, sayuran dari kebun. Tapi ketika dia makan, dia benar-benar menikmatinya. Ketika dia tertawa, tawanya tulus. Ketika dia tidur, dia tidur nyenyak.
Horatius bertanya: Siapa yang lebih kaya?
Jawaban yang jelas bagi kebanyakan orang adalah pedagang. Dia punya lebih banyak uang, lebih banyak properti, lebih banyak "kesuksesan."
Tapi Horatius bilang: Petani lebih kaya. Karena dia punya sesuatu yang pedagang tidak pernah miliki: kepuasan.
Ini adalah inti dari konsep Horatius tentang aurea mediocritas—"golden mean" atau jalan tengah emas.
Tidak Terlalu Banyak, Tidak Terlalu Sedikit
Kebijaksanaan kuno ini sederhana tapi powerful: Kehidupan yang baik ada di tengah, bukan di ekstrem.
Bukan kemiskinan. Tapi juga bukan kekayaan berlebihan. Bukan kemalasan. Tapi juga bukan kerja tanpa henti. Bukan pertapaan. Tapi juga bukan kemewahan dekaden.
Cukup.
Cukup uang untuk hidup nyaman tanpa khawatir, tapi tidak begitu banyak sampai menjadi beban. Cukup ambisi untuk berkembang, tapi tidak begitu banyak sampai tidak pernah puas. Cukup kenikmatan untuk menikmati hidup, tapi tidak begitu banyak sampai rusak.
Horatius menulis:
"Orang bijak tidak menginginkan lebih dari yang dia butuhkan, dan tidak iri pada yang punya lebih."
Masalah dengan "Lebih"
Di Roma kuno, seperti sekarang, ada perlombaan tanpa akhir untuk lebih.
Lebih besar rumah. Lebih banyak budak. Lebih mewah pesta. Lebih tinggi status.
Horatius mengamati—dengan ironi khasnya—bahwa orang-orang terkaya di Roma adalah yang paling tidak bahagia:
Mereka takut kehilangan kekayaan mereka. Mereka curiga pada semua orang (apakah mereka berteman karena uang?). Mereka tidak pernah puas karena selalu ada seseorang dengan lebih. Mereka menghabiskan hidup mengejar hal-hal yang tidak membuat mereka bahagia.
"Apa gunanya gudang penuh dengan emas jika kamu tidak punya waktu untuk menikmati matahari terbenam?" tulis Horatius.
Pelajaran untuk Hari Ini
2000 tahun kemudian, kita masih terjebak dalam perlombaan yang sama.
Rumah lebih besar. Gaji lebih tinggi. Followers lebih banyak. Like lebih banyak.
Dan seperti orang Romawi kuno, kita menemukan bahwa "lebih" tidak pernah cukup.
Horatius mengundang kita untuk bertanya:
- Apa sebenarnya yang aku butuhkan untuk hidup dengan baik?
- Berapa "cukup" bagiku?
- Apa yang aku korbankan dalam mengejar "lebih"?
Jawabannya akan berbeda untuk setiap orang. Tapi prinsipnya sama: Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang seimbang.
Bagian 2: Carpe Diem—Petik Hari Ini
Puisi yang Mengubah Dunia
Salah satu puisi Horatius yang paling terkenal dimulai dengan kata-kata ini:
"Carpe diem, quam minimum credula postero."
"Petik hari ini, percayalah sesedikit mungkin pada hari esok."
Kalimat ini telah dikutip jutaan kali. Tapi sering disalahpahami.
"Carpe diem" bukan berarti: "Hidup liar tanpa memikirkan konsekuensi." Bukan berarti: "Beli mobil mahal dengan kartu kredit karena YOLO."
Ini berarti sesuatu yang lebih dalam dan lebih bijaksana:
Jangan menunda hidup menunggu masa depan yang sempurna.
Cerita Leuconoe
Horatius menulis puisi ini untuk seorang wanita muda bernama Leuconoe yang terus-menerus khawatir tentang masa depan.
Dia berkonsultasi dengan peramal. Membaca ramalan bintang. Mencoba menghitung berapa lama dia akan hidup dan apa yang akan terjadi.
Dan dalam prosesnya, dia tidak benar-benar hidup.
Horatius memberitahunya (dengan lembut tapi tegas):
"Berhentilah bertanya berapa lama kamu akan hidup—kamu tidak bisa tahu. Lebih baik, apapun yang diberikan, terimalah itu. Entah ini adalah musim dingin terakhirmu atau banyak lagi yang akan datang, nikmati sekarang. Saringlah anggurmu. Pangkas harapan-harapan panjangmu. Bahkan saat kita berbicara, waktu yang iri telah berlalu. Petik hari ini, percayalah sesedikit mungkin pada besok."
Bukan tentang Hidup Impulsif
Ini bukan ajakan untuk hidup ceroboh.
Horatius sendiri adalah orang yang sangat terencana. Dia menulis dengan disiplin. Dia mengurus propertinya dengan hati-hati. Dia menyimpan persahabatan dengan bijaksana.
Tapi dia juga tahu: Anda tidak bisa mengendalikan masa depan. Yang bisa Anda kendalikan adalah hari ini.
Jadi jangan:
- Menunda kebahagiaan sampai kamu "sukses"
- Menunda hubungan sampai kamu "siap"
- Menunda kehidupan sampai kamu "punya cukup uang"
- Menunda segalanya sampai "nanti"
Karena "nanti" mungkin tidak pernah datang.
Aplikasi Hari Ini
Berapa banyak dari kita yang hidup seperti Leuconoe?
"Aku akan bahagia ketika aku dapat promosi." "Aku akan mulai hidup ketika aku pensiun." "Aku akan pergi traveling ketika aku punya cukup uang."
Dan sementara itu, hari ini berlalu. Dan besok. Dan lusa.
Sampai suatu hari kamu menyadari bertahun-tahun telah berlalu dan kamu masih menunggu "waktu yang tepat."
Horatius mengingatkan kita: Waktu yang tepat adalah sekarang.
Bukan untuk melakukan segalanya. Bukan untuk hidup tanpa rencana. Tapi untuk benar-benar hadir dalam hidupmu sendiri.
Nikmati makanan yang kamu makan. Perhatikan orang yang kamu cintai. Hargai matahari yang terbit. Tertawa dengan teman.
Jangan menunda hidup.
Bagian 3: Menolak Perbudakan pada Keinginan
Tirani dari "Harus"
Horatius menulis dengan tajam tentang orang-orang yang menjadi budak dari ambisi mereka sendiri.
Di Roma, ada orang yang bangun sebelum fajar untuk pergi ke Forum—tidak karena mereka suka, tapi karena mereka "harus" dilihat di sana.
Ada orang yang mengadakan pesta mewah—tidak karena mereka ingin, tapi karena mereka "harus" menunjukkan status.
Ada orang yang mengejar posisi politik—tidak karena mereka peduli pada pelayanan publik, tapi karena mereka "harus" punya kekuasaan.
Dan dalam prosesnya, mereka kehilangan kebebasan mereka.
Siapa yang Benar-Benar Bebas?
Horatius bertanya: Siapa yang benar-benar bebas?
Bukan kaisar yang harus selalu khawatir tentang konspirasi. Bukan senator yang harus selalu menjaga penampilan. Bukan pedagang kaya yang harus selalu menjaga kekayaan.
Orang yang benar-benar bebas adalah orang yang tidak dikontrol oleh keinginannya.
Orang yang bisa makan makanan sederhana dan puas. Orang yang bisa tidur di tempat sederhana dan nyaman. Orang yang bisa kehilangan uang tanpa kehilangan ketenangan. Orang yang bisa menghadapi kematian tanpa ketakutan.
Ini adalah kebebasan sejati—bukan kebebasan untuk melakukan apa pun yang kamu inginkan, tapi kebebasan dari perlu melakukan sesuatu untuk merasa cukup.
Pelajaran Stoic
Horatius sangat dipengaruhi oleh filosofi Stoic, yang mengajarkan:
"Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi padamu, tapi kamu bisa mengendalikan bagaimana kamu merespons."
Kamu tidak bisa mengendalikan cuaca. Tapi kamu bisa memilih untuk tidak membiarkannya merusak harimu.
Kamu tidak bisa mengendalikan apakah orang lain menyukaimu. Tapi kamu bisa memilih untuk tidak membiarkan itu menentukan nilai dirimu.
Kamu tidak bisa mengendalikan apakah kamu menjadi kaya. Tapi kamu bisa memilih untuk bahagia dengan apa yang kamu punya.
Kebebasan datang dari melepaskan kebutuhan untuk mengendalikan hal-hal di luar kontrolmu.
Bagian 4: Persahabatan—Harta yang Sebenarnya
Surat untuk Maecenas
Horatius menulis banyak surat untuk Maecenas—patronnya yang kaya dan powerful.
Tapi yang menarik adalah tone dari surat-surat ini. Horatius tidak menulis seperti orang bawahan kepada atasan. Dia menulis seperti teman kepada teman.
Dia menolak undangan Maecenas ketika dia tidak ingin pergi. Dia mengejek kebiasaan Maecenas dengan humor. Dia menasihati Maecenas dengan jujur, tidak hanya mengatakan apa yang Maecenas ingin dengar.
Mengapa? Karena Horatius memahami sesuatu yang penting:
Persahabatan sejati tidak berdasarkan status atau keuntungan. Persahabatan sejati berdasarkan respek mutual dan kejujuran.
Teman vs Koneksi
Di Roma, seperti sekarang, ada perbedaan besar antara teman dan koneksi.
Koneksi adalah orang yang kamu kenal karena bisa memberimu sesuatu—pekerjaan, uang, akses, status.
Teman adalah orang yang kamu kenal karena kamu menikmati kebersamaan mereka, karena mereka membuatmu menjadi orang yang lebih baik, karena mereka ada untukmu bahkan ketika kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan.
Horatius menulis:
"Seorang teman adalah harta yang tidak bisa dibeli dengan emas. Dan persahabatan sejati adalah yang bertahan bahkan ketika keberuntungan berbalik."
Kualitas, Bukan Kuantitas
Horatius tidak tertarik pada jaringan luas dari kenalan dangkal.
Dia lebih suka beberapa teman sejati daripada ratusan koneksi superficial.
Pesta besar dengan 100 tamu? Tidak menarik. Makan malam intim dengan 3-4 teman dekat? Sempurna.
"Lebih baik lima teman yang benar-benar mengenalmu daripada 500 followers yang tidak peduli."
(Oke, Horatius tidak pernah bilang tentang followers, tapi prinsipnya sama.)
Aplikasi Hari Ini
Di era media sosial, kita punya lebih banyak "koneksi" daripada sebelumnya.
Tapi berapa banyak dari mereka yang benar-benar teman?
Berapa banyak yang akan ada untukmu ketika kamu gagal? Berapa banyak yang mengenalmu di balik pose Instagram? Berapa banyak hubungan yang lebih dalam dari like dan comment?
Horatius mengundang kita untuk berinvestasi dalam persahabatan yang nyata—yang membutuhkan waktu, kejujuran, kerentanan, dan komitmen.
Karena pada akhirnya, teman sejati adalah kekayaan yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa hilang.
Bagian 5: Kesederhanaan yang Kaya
Pesta di Rumah Horatius
Horatius sering menulis tentang makan malam di rumahnya di Sabine.
Menu-nya sederhana:
- Roti yang baru dipanggang
- Keju dari peternakan lokal
- Zaitun dari kebun
- Sayuran musiman
- Anggur murah tapi enak dari vineyardnya sendiri
Tidak ada daging eksotis dari Afrika. Tidak ada saus rumit dengan 20 bahan. Tidak ada piring emas atau dekorasi mewah.
Tapi Horatius menulis bahwa makan malam ini lebih memuaskan daripada pesta termahal di Roma.
Mengapa?
Karena dia makan dengan teman-teman yang dia cintai, di rumah yang dia miliki sendiri, tanpa tekanan untuk mengesankan siapa pun.
Makanan sederhana yang dimakan dengan kebahagiaan lebih nikmat daripada hidangan mewah yang dimakan dengan kecemasan.
Kontras dengan Kemewahan Roma
Horatius sering mengejek kemewahan yang berlebihan dari orang-orang kaya Roma:
Mereka mengadakan pesta dengan ratusan tamu yang sebagian besar tidak mereka kenal. Mereka menyajikan hidangan eksotis—lidah flamingo, otak burung unta, tiram dari laut jauh. Mereka minum anggur yang harganya lebih mahal dari gaji tahunan pekerja biasa. Mereka bersaing untuk memiliki rumah yang lebih besar, lebih mewah, lebih mengesankan.
Dan hasilnya?
Mereka tidak lebih bahagia. Seringkali, mereka lebih cemas, lebih lelah, lebih kosong.
Karena kemewahan tanpa kepuasan adalah kemiskinan terselubung.
Pelajaran tentang "Enough"
Horatius mengajukan pertanyaan yang masih relevan hari ini:
Berapa banyak yang benar-benar kamu butuhkan untuk hidup dengan baik?
Apakah kamu benar-benar butuh rumah 5 kamar tidur jika kamu tinggal sendiri? Apakah kamu benar-benar butuh mobil mewah jika yang lama masih berfungsi dengan baik? Apakah kamu benar-benar butuh baju baru setiap bulan?
Horatius tidak mengatakan kamu harus hidup dalam kemiskinan atau menyangkal semua kenikmatan.
Dia mengatakan: Cari tahu apa yang cukup untukmu. Dan ketika kamu mendapatkannya, berhenti mengejar lebih.
Karena kebahagiaan tidak datang dari memiliki lebih, tapi dari menginginkan lebih sedikit.
Bagian 6: Menghadapi Kematian dengan Bijaksana
Memento Mori—Ingat Kamu Akan Mati
Horatius, seperti banyak pemikir Stoic, sering menulis tentang kematian.
Bukan dengan cara yang morbid atau depresif. Tapi dengan cara yang memberikan perspektif.
Dia menulis:
"Hidup singkat. Tidak ada yang tahu berapa lama. Jadi jangan buang waktu pada hal-hal yang tidak penting."
Kisah Posthumus
Dalam salah satu sajaknya, Horatius menulis tentang temannya Posthumus yang terus-menerus menunda hidup:
"Tahun depan aku akan mulai bisnis yang aku impikan." "Tahun depan aku akan pergi ke Yunani yang selalu aku ingin kunjungi." "Tahun depan aku akan punya waktu untuk teman dan keluarga."
Tapi "tahun depan" tidak pernah datang. Posthumus meninggal tiba-tiba.
Dan semua rencana, semua impian, semua "nanti" itu—hilang.
Horatius tidak menulis ini untuk menakuti. Dia menulis untuk membangunkan.
Kematian adalah guru terbaik tentang bagaimana hidup.
Bukan tentang Ketakutan
Orang modern sering salah paham tentang meditasi kematian.
Mereka pikir ini tentang menjadi paranoid atau cemas. Tapi sebenarnya kebalikannya.
Ketika kamu benar-benar menerima bahwa hidupmu terbatas, kamu:
- Berhenti membuang waktu pada drama kecil yang tidak penting
- Berhenti menunda hal-hal yang benar-benar penting
- Lebih menghargai momen-momen sederhana
- Lebih mudah memaafkan dan melepaskan
- Lebih fokus pada apa yang benar-benar berarti
Mengingat kematian bukan tentang hidup dalam ketakutan. Ini tentang hidup dengan prioritas yang jelas.
Bagian 7: Seni Hidup Puas—Sintesis
Resep Horatius untuk Kehidupan yang Baik
Setelah membaca semua tulisan Horatius, kita bisa mengekstrak resep sederhana untuk kepuasan:
1. Temukan "cukup" dan berhenti di sana Jangan mengejar lebih untuk kepentingan lebih. Temukan titik di mana kamu punya cukup untuk hidup nyaman dan aman, lalu alihkan energimu ke hal-hal yang benar-benar memberi makna.
2. Nikmati hari ini Jangan menunda hidup. Jangan terjebak dalam kekhawatiran tentang masa depan atau penyesalan tentang masa lalu. Hari ini adalah satu-satunya hari yang kamu punya—gunakan dengan baik.
3. Bebaskan diri dari perbudakan keinginan Kebebasan sejati datang dari tidak membutuhkan hal-hal eksternal untuk merasa puas. Ketika kamu bisa bahagia dengan sederhana, tidak ada yang bisa mengambil kebahagiaanmu.
4. Investasi dalam persahabatan sejati Beberapa teman yang dalam lebih berharga dari ratusan kenalan dangkal. Berikan waktu dan perhatian pada hubungan yang benar-benar berarti.
5. Hargai kesederhanaan Makanan sederhana yang dimakan dengan kebahagiaan. Rumah sederhana yang dipenuhi cinta. Kehidupan sederhana yang dijalani dengan kesadaran. Ini lebih kaya dari kemewahan yang kosong.
6. Ingat kematian, hidup sepenuhnya Hidupmu terbatas. Tidak ada "nanti" yang dijamin. Jadi hidup sekarang—dengan bijaksana, dengan cinta, dengan keberanian.
Paradoks Kepuasan
Horatius memahami paradoks yang indah:
Kepuasan datang ketika kamu berhenti mengejarnya.
Ketika kamu berhenti mengejar lebih banyak uang, status, validasi—dan mulai menghargai apa yang kamu punya—kepuasan datang.
Ketika kamu berhenti mencoba mengontrol masa depan dan mulai hadir sekarang—kepuasan datang.
Ketika kamu berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain dan mulai menerima siapa kamu—kepuasan datang.
Kepuasan bukan tujuan yang dicapai. Ini adalah cara hidup yang dipilih.
Penutup: Surat untuk Anda dari Horatius
Bayangkan Horatius menulis surat langsung kepada Anda hari ini. Mungkin dia akan menulis sesuatu seperti ini:
Kepada Teman yang Sedang Mencari Kepuasan,
Saya menulis ini dari rumah kecil saya di bukit Sabine, 2000 tahun sebelum Anda membacanya. Tapi saya pikir Anda menghadapi pertanyaan yang sama dengan yang saya hadapi:
Bagaimana cara hidup dengan baik di dunia yang terus mengatakan bahwa apa yang kita punya tidak pernah cukup?
Anda hidup di zaman yang berbeda. Anda punya teknologi yang tidak bisa saya bayangkan. Tapi saya curiga Anda masih punya tantangan yang sama:
Terlalu banyak keinginan. Terlalu sedikit waktu. Terlalu banyak perbandingan. Terlalu sedikit kepuasan.
Izinkan saya berbagi apa yang saya pelajari:
Kepuasan bukan tentang memiliki segalanya. Ini tentang menginginkan apa yang Anda punya.
Bukan tentang tidak punya ambisi. Tapi tentang tahu kapan cukup.
Bukan tentang menolak kenikmatan. Tapi tentang tidak menjadi budak mereka.
Bukan tentang tidak peduli pada masa depan. Tapi tentang tidak mengorbankan hari ini untuk "nanti" yang mungkin tidak pernah datang.
Lihat di sekitar Anda hari ini. Tidak dengan keinginan untuk lebih, tapi dengan apresiasi untuk apa yang ada:
Apakah Anda punya atap di atas kepala? Makanan di meja? Orang yang peduli pada Anda? Momen-momen kecil keindahan—matahari terbit, tawa teman, rasa makanan yang enak?
Jika ya, Anda sudah kaya.
Sisa dari hidup adalah tentang mengingat ini—setiap hari, setiap saat.
Carpe diem, teman saya. Petik hari ini.
Bukan dengan keserakahan atau kepanikan. Tapi dengan kebijaksanaan dan rasa syukur.
Karena ini—hari ini, momen ini, napas ini—adalah satu-satunya yang pasti Anda punya.
Dan itu cukup. Anda cukup. Hidup ini cukup.
Dengan kehangatan dari masa lalu untuk masa depan,
Horatius
Tentang Karya Asli
Horatius (65-8 SM) adalah salah satu penyair terbesar Roma kuno. Karya-karyanya—terutama Odes, Satires, dan Epistles—telah dibaca dan dikagumi selama lebih dari 2000 tahun.
Lahir sebagai anak dari budak yang dibebaskan, Horatius naik melalui pendidikan dan bakat sastranya. Setelah berperang di sisi yang kalah dalam perang saudara Romawi, dia kehilangan properti keluarganya. Tapi melalui puisinya, dia mendapat perlindungan dari Maecenas—seorang patron seni yang kaya—dan diberikan rumah petak kecil di pedesaan Sabine.
Di sana, jauh dari hiruk pikuk Roma, Horatius menulis beberapa refleksi paling mendalam tentang bagaimana hidup dengan baik. Filosofinya menggabungkan Stoicism (kontrol diri, ketenangan menghadapi kesulitan) dengan Epicureanism (apresiasi untuk kenikmatan sederhana).
Karya-karyanya sangat mempengaruhi pemikiran Barat. Frase seperti "carpe diem" dan "aurea mediocritas" telah menjadi bagian dari bahasa dan budaya kita.
Untuk pemahaman lengkap tentang wisdom Horatius, sangat disarankan membaca terjemahan puisi dan surat-suratnya. Edisi modern seperti How to Be Content oleh Penguin Classics memberikan seleksi yang accessible dengan pengantar yang baik.
Ringkasan ini menangkap tema-tema inti, tetapi puisi asli Horatius—dengan keindahan bahasa, humor halus, dan pengamatan tajam tentang sifat manusia—menawarkan pengalaman yang jauh lebih kaya.
Sekarang pergilah dan praktikkan apa yang Anda pelajari.
Temukan "cukup" Anda. Nikmati hari ini. Bebaskan diri dari keinginan yang tak pernah puas. Investasi dalam persahabatan sejati. Hargai kesederhanaan.
Karena 2000 tahun kemudian, kebijaksanaan Horatius tetap benar:
Kepuasan bukan tentang memiliki lebih. Ini tentang menjadi lebih hadir dengan apa yang sudah Anda punya.
Dum loquimur, fugerit invida aetas: carpe diem.
"Bahkan saat kita berbicara, waktu yang iri telah berlalu: petik hari ini."