Skip to main content

Isola

by Allegra Goodman · April 2026 · 14 min read

Satu Keputusan yang Menghancurkan Dunia

Table of contents

Satu Keputusan yang Menghancurkan Dunia 

Bayangkan ini: Anda berdiri di geladak kapal yang bergoyang, melihat pulau kecil yang akan menjadi penjara Anda. 

Tidak ada rumah. Tidak ada orang. Hanya batu, pasir, beberapa pohon kerdil, dan lautan yang mengamuk di segala arah. 

Anda mengenakan gaun sutra yang sekarang compang-camping. Sepatu bot berbahan halus yang tidak dirancang untuk berjalan di bebatuan tajam. Rambut yang dulu ditata rapi dengan mutiara sekarang kusut oleh angin laut. 

Tiga orang lain berdiri di samping Anda: Auguste, pria yang Anda cintai. Damienne, perawat yang telah menjadi ibu bagi Anda. Dan seorang pelaut muda yang memohon untuk tidak ditinggalkan. 

Kapal mulai berlayar menjauh. 

Anda berteriak. Memohon. Menangis. Tapi wali Anda—pria yang seharusnya melindungi Anda—berdiri di geladak dengan wajah dingin seperti batu, membiarkan kapal membawa Anda semakin jauh. 

Ini bukan mimpi buruk. Ini nyata. 

Dan pulau kecil ini—yang bahkan tidak punya nama—akan menjadi rumah Anda untuk dua tahun tersulit dalam hidup Anda. 

Ini adalah kisah Marguerite de la Rocque. 

Wanita muda Prancis yang lahir dalam kemewahan, dibesarkan dengan harapan untuk kehidupan yang nyaman, tapi akhirnya menemukan kekuatan sejati justru di tempat yang paling brutal dan terisolasi di dunia.

Allegra Goodman mengambil catatan sejarah yang tipis tentang Marguerite—seorang bangsawan yang benar-benar diasingkan di pulau di Teluk St. Lawrence pada tahun 1542—dan mengubahnya menjadi epik tentang survival, cinta, iman, dan penemuan diri. 

"Isola" bukan sekadar cerita petualangan. Ini adalah pertanyaan mendalam tentang siapa kita ketika semua yang kita kenal dilucuti dari kita. 

Mari kita mulai perjalanan yang luar biasa ini.


Bagian 1: Marguerite—Bangsawan Tanpa Kekuasaan

Yatim Piatu dengan Warisan 

Marguerite tidak pernah mengenal ibunya—dia meninggal saat melahirkan. Ayahnya tewas dalam pertempuran ketika Marguerite baru berusia satu tahun. 

Tiba-tiba, seorang bayi menjadi pewaris château di Périgord—tanah luas dengan kebun anggur, desa, dan kekayaan. 

Tapi apa artinya kekayaan ketika Anda tidak punya kekuasaan? 

Marguerite dibesarkan dalam kemewahan, ya. Gaun sutra. Pelajaran musik dan tari. Taman yang indah. Tapi dia juga hidup dalam bayang-bayang kontrol orang lain. 

Walinya, Jean-François de La Rocque de Roberval, adalah kerabat jauh—pria yang seharusnya menjaga warisan Marguerite sampai dia dewasa. 

Tapi Roberval punya rencana lain. 

Wali yang Menghancurkan 

Roberval adalah pria yang penuh kontradiksi: taat beragama tapi kejam, penyembah Tuhan tapi haus kekuasaan. 

Dia menghabiskan warisan Marguerite untuk membiayai ambisinya sendiri—sebuah ekspedisi ke New France (Kanada modern) untuk mencari emas, mendirikan koloni, dan mengkristenkan "orang-orang biadab." 

Marguerite tidak punya suara. Tidak punya pilihan. Dalam masyarakat abad ke-16, seorang wanita—bahkan bangsawan—adalah properti yang dikontrol oleh pria: ayah, wali, atau suami. 

Roberval memutuskan bahwa Marguerite akan ikut dalam ekspedisi ini. Alasannya? Dia membutuhkan wanita bangsawan untuk memberikan legitimasi pada koloninya. 

Jadi pada usia hampir 20 tahun, Marguerite dipaksa naik kapal menuju dunia yang tidak dia kenal—meninggalkan satu-satunya rumah yang pernah dia tahu, tanpa jaminan dia akan pernah kembali. 

Damienne—Ibu yang Sesungguhnya 

Tapi Marguerite tidak sendirian.

Damienne, perawatnya sejak kecil, bersikeras ikut. Wanita yang lebih tua, kuat, dengan tangan yang kasar dari kerja keras dan hati yang lembut terhadap Marguerite. 

Damienne adalah satu-satunya keluarga sejati yang Marguerite punya. 

Bukan ibu biologis—tapi ibu dalam segala hal yang penting. Damienne yang menenangkan ketika Marguerite mimpi buruk. Damienne yang mengajarkan doa. Damienne yang melindungi Marguerite dari kekejaman dunia sebisa dia bisa. 

Dan ketika kapal berlayar menuju New France, Damienne duduk di samping Marguerite di kabin sempit, memegang tangannya ketika ombak mengamuk dan perut mereka bergejolak. 

Perjalanan ini akan mengubah segalanya.


Bagian 2: Cinta Terlarang di Lautan 

Auguste—Pelayan yang Menjadi Lebih 

Di kapal, Marguerite bertemu Auguste. 

Dia adalah pelayan Roberval—pria muda yang cerdas, lembut, dengan mata yang penuh mimpi tentang dunia baru. 

Auguste tidak dilahirkan dengan privilege seperti Marguerite. Dia bukan bangsawan. Tapi dia punya sesuatu yang langka: kebaikan sejati. 

Dia berbicara dengan Marguerite bukan sebagai properti atau simbol status, tapi sebagai manusia

Dalam pelayaran panjang melintasi Atlantik, percakapan mereka berkembang. Tentang buku yang mereka baca. Tentang harapan dan ketakutan. Tentang kehidupan yang mereka impikan. 

Dan tanpa mereka sadari—atau mungkin mereka tahu tapi tidak peduli—mereka jatuh cinta.

Larangan yang Berbahaya 

Tapi cinta mereka adalah dosa. 

Bukan karena cinta itu sendiri buruk. Tapi karena melanggar hierarki sosial yang ketat. 

Marguerite adalah bangsawan. Auguste adalah pelayan. Dalam masyarakat abad ke-16, ini adalah jurang yang tidak boleh diseberangi. 

Dan Roberval—fanatik religius yang melihat dosa di mana-mana—dengan cepat menyadari apa yang terjadi. 

Dia tidak hanya marah. Dia murka dengan kemarahan yang berbau kebencian patriarkal. 

Bagaimana berani Marguerite, seorang wanita yang seharusnya tunduk, memilih cintanya sendiri? Bagaimana berani Auguste, seorang pelayan, menyentuh properti yang berharga? 

Roberval membuat keputusan: hukuman. 

Pulau Pengasingan 

Ketika mereka tiba di perairan dekat New France, Roberval memerintahkan Marguerite, Auguste, dan Damienne diturunkan di sebuah pulau kecil yang terisolasi—Île aux Démons (Pulau Iblis), dinamai demikian karena angin yang meraung seperti jeritan hantu.

Tidak ada bangunan. Tidak ada makanan yang tersimpan. Hanya beberapa perlengkapan minimal: sedikit bubuk mesiu, dua senapan, beberapa pisau. 

Seorang pelaut muda—tersentuh oleh belas kasihan atau mungkin jatuh cinta pada Marguerite—melompat dari kapal untuk bergabung dengan mereka. 

Empat orang. Satu pulau kecil. Ribuan kilometer dari peradaban. 

Kapal berlayar menjauh. Dan Marguerite menyadari dengan ngeri yang menusuk: Roberval bermaksud membiarkan mereka mati.


Bagian 3: Survival—Ketika Alam Menjadi Guru Kejam

Musim Panas yang Menipu 

Bulan-bulan pertama di pulau adalah pembelajaran brutal. 

Marguerite, yang seluruh hidupnya diurus pelayan, tiba-tiba harus belajar: 

  • Menyalakan api dengan batu dan kayu basah
  • Mencari makanan—telur burung laut, kerang, ikan
  • Membangun shelter dari kayu apung dan batu
  • Berburu burung angsa yang bersarang di pulau

Auguste mengajarkan apa yang dia tahu tentang berburu. Damienne menggunakan pengetahuannya tentang tanaman untuk menemukan yang bisa dimakan. 

Pelaut muda membantu membangun shelter yang lebih baik—gua kecil yang diperluas dengan batu. 

Mereka bertahan. Tapi bertahan bukan hidup. 

Musim Dingin yang Membunuh 

Lalu musim dingin Arktik datang. 

Marguerite tidak pernah membayangkan dingin seperti ini. 

Angin yang memotong seperti pisau. Salju yang menimbun setinggi pinggang. Laut membeku. Matahari hampir tidak muncul—hanya beberapa jam cahaya redup setiap hari. 

Makanan menipis. Burung bermigrasi. Ikan menghilang ke bawah es yang tebal.

Dan bahaya baru muncul: beruang kutub. 

Makhluk putih raksasa yang mendatangi pulau mencari makanan. Auguste harus berjaga dengan senapan, siap menembak jika beruang terlalu dekat. 

Pelaut muda jatuh sakit pertama kali. Demam. Batuk. Dalam beberapa minggu, dia meninggal—tubuhnya terlalu lemah untuk melawan dingin dan kekurangan nutrisi. 

Mereka menguburkannya dengan tangan yang hampir membeku, memohon Tuhan untuk jiwa pria yang memilih pengasingan daripada meninggalkan mereka sendirian. 

Kehilangan yang Menghancurkan 

Lalu Auguste jatuh sakit.

Marguerite merawatnya dengan putus asa—menjaganya tetap hangat, memberinya semua makanan yang tersisa, berdoa tanpa henti. 

Tapi tidak cukup. 

Auguste meninggal di pelukannya, bisikannya yang terakhir adalah kata-kata cinta.

Marguerite ingin menyerah. Ingin berbaring di salju dan tidak bangun lagi. 

Tapi Damienne—selalu Damienne—memegang bahunya dan berkata: "Kamu harus hidup. Untuk dia. Untuk semua orang yang kita cintai. Kamu harus hidup." 

Damienne yang Pergi 

Tapi bahkan Damienne, yang kuat seperti batu, akhirnya kalah. 

Musim dingin kedua lebih brutal. Makanan hampir habis. Dingin merembes ke tulang. 

Damienne—yang telah menjadi ibu, pelindung, satu-satunya keluarga—meninggal dengan tenang suatu malam, tangannya dipegang oleh Marguerite. 

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Marguerite benar-benar sendirian

Tidak ada suara manusia lain. Tidak ada tangan untuk dipegang. Tidak ada yang akan mengatakan "semuanya akan baik-baik saja." 

Hanya Marguerite. Pulau. Dan Tuhan—jika Dia mendengarkan.


Bagian 4: Menemukan Diri dalam Kesendirian

Survival Bukan Hanya Fisik 

Yang luar biasa dari kisah Marguerite adalah: dia tidak mati. 

Melawan semua kemungkinan, melawan logika, dia bertahan—sendirian—selama berbulan-bulan. 

Bagaimana? 

Bukan hanya karena keterampilan survival. Auguste dan Damienne telah mengajarinya itu.

Tapi karena sesuatu yang lebih dalam: transformasi spiritual dan psikologis. 

Marguerite mulai berbicara dengan Tuhan—bukan dengan doa formal yang dia pelajari di gereja, tapi dengan percakapan jujur. 

"Mengapa Anda membiarkan ini terjadi?" "Apa yang Anda inginkan dari saya?" "Apakah saya pantas untuk hidup?" 

Dan dalam keheningan pulau, dalam kesendirian yang menakutkan, dia mulai mendengar jawaban—bukan dari langit, tapi dari dalam dirinya sendiri. 

Kebebasan dalam Pengasingan 

Ironi terbesar dari kisah ini: Marguerite menemukan kebebasan sejati justru ketika dia paling terkurung. 

Di Prancis, dia adalah boneka. Dikendalikan oleh wali. Ditentukan oleh status sosial. Tidak punya suara tentang hidupnya sendiri. 

Di pulau, semua itu dilucuti. 

Tidak ada gaun sutra yang mendefinisikan dia. Tidak ada nama keluarga yang memberikan identitas. Tidak ada pria yang memberitahu dia apa yang harus dilakukan. 

Hanya Marguerite—dalam esensi paling murni—memutuskan setiap hari untuk hidup atau menyerah. 

Dan dia memilih hidup. 

Rutinitas yang Menyelamatkan 

Marguerite menciptakan rutinitas untuk menjaga kewarasannya:

Setiap pagi, dia bangun dengan matahari (ketika matahari muncul). Dia berdoa—bukan doa hafalan, tapi percakapan dengan Tuhan. 

Dia mengumpulkan kayu. Menjaga api tetap menyala. Mencari makanan—apapun yang bisa ditemukan. 

Dia berbicara dengan dirinya sendiri. Kadang dengan suara Auguste atau Damienne dalam ingatannya. Kadang dia membaca satu-satunya buku yang dia punya—sebuah buku doa yang selamat dari perjalanan. 

Rutinitas ini bukan hanya tentang survival fisik. Ini tentang mempertahankan kemanusiaan di tengah isolasi yang menghancurkan.


Bagian 5: Penyelamatan—Kembali ke Dunia yang Berubah 

Kapal yang Muncul 

Setelah lebih dari dua tahun—setengah mengamat-amati, setengah bertahan hidup—Marguerite melihat sesuatu di horizon. 

Layar. 

Kapal. 

Dia tidak percaya matanya. Berapa kali dia membayangkan penyelamatan? Berapa kali dia salah mengira awan sebagai layar? 

Tapi kali ini nyata. 

Dia berlari ke pantai, berteriak, melambai-lambaikan apa pun yang bisa menarik perhatian.

Kapal mendekat. Nelayan Basque—mereka berburu paus di perairan ini. 

Mereka melihat sosok kurus, compang-camping, dengan rambut kusut dan pakaian yang nyaris rongsokan. 

Mereka hampir tidak mengenalinya sebagai manusia—apalagi sebagai wanita bangsawan Prancis. 

Tapi mereka mengangkatnya ke kapal. Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Marguerite mendengar suara manusia yang berbicara padanya. 

Kembali ke Peradaban—Tapi Bukan Sama 

Nelayan membawa Marguerite kembali ke Prancis. 

Tapi dunia yang dia tinggalkan tidak menunggunya. 

Château-nya telah diambil alih oleh kerabat lain. Warisannya hilang. Reputasinya—sebagai wanita yang "jatuh cinta dengan pelayan"—membuatnya dikucilkan dari masyarakat bangsawan. 

Tidak ada yang mau mengakuinya. Tidak ada yang mau mendengar kisahnya.

Kecuali satu orang: Claire

Seorang wanita tua yang menjalankan sekolah kecil untuk anak-anak perempuan. Claire melihat Marguerite bukan sebagai skandal, tapi sebagai survivor yang luar biasa.

Claire memberinya tempat tinggal. Pekerjaan sebagai tutor. Dan yang paling penting: mendengarkan kisahnya. 

Menemukan Tujuan Baru 

Marguerite menghabiskan sisa hidupnya mengajar anak-anak perempuan. 

Dia mengajarkan membaca, menulis, sejarah. Tapi lebih dari itu, dia mengajarkan sesuatu yang jarang diajarkan kepada gadis pada masa itu: bahwa mereka lebih dari sekedar properti. 

Dia menceritakan kisahnya—bukan untuk mencari simpati, tapi untuk menunjukkan bahwa seorang wanita bisa bertahan hidup, bisa kuat, bisa bebas bahkan dalam situasi terburuk. 

Dan dalam mengajar, Marguerite menemukan kedamaian yang tidak pernah dia temukan di château mewahnya. 

Dia tidak kaya. Dia tidak punya status. Tapi dia punya sesuatu yang lebih berharga: kehidupan yang dia pilih sendiri.


Bagian 6: Pelajaran dari Pulau yang Terisolasi

1. Kebebasan Sejati Adalah Internal 

Marguerite paling terkurung secara fisik di pulau—tapi justru di sana dia merasakan kebebasan sejati untuk pertama kalinya. 

Pelajaran: Kebebasan bukan tentang di mana Anda berada. Kebebasan adalah tentang apakah Anda mengontrol kehidupan Anda sendiri—pikiran, pilihan, identitas Anda. 

Anda bisa hidup di istana dan menjadi tahanan. Anda bisa hidup di pulau terpencil dan menjadi bebas. 

2. Survival Adalah Pilihan Harian 

Marguerite tidak selamat karena dia "kuat secara alami." Dia selamat karena setiap hari dia memilih untuk tidak menyerah. 

Ada banyak momen di mana menyerah akan lebih mudah. Berbaring di salju dan membiarkan dingin mengambil alih. Berhenti mencari makanan. Berhenti menyalakan api. 

Tapi setiap pagi, dia bangun dan berkata: "Hari ini, saya akan hidup." 

Pelajaran: Dalam situasi tersulit, survival adalah kumpulan dari ribuan keputusan kecil untuk tetap berjalan—bahkan ketika Anda tidak tahu mengapa. 

3. Kita Lebih Kuat dari yang Kita Kira 

Marguerite dibesarkan untuk menjadi istri bangsawan. Untuk duduk cantik, bermain musik, mengelola rumah tangga dengan pelayan. 

Tidak ada yang mempersiapkannya untuk berburu beruang, bertahan hidup di musim dingin Arktik, atau hidup sendirian selama berbulan-bulan. 

Tapi dia melakukannya. 

Pelajaran: Anda tidak tahu seberapa kuat Anda sampai kekuatan adalah satu-satunya pilihan Anda. Kebanyakan dari kita tidak pernah diuji seperti Marguerite—tapi kita semua punya cadangan kekuatan yang belum pernah kita sentuh. 

4. Koneksi Manusia Adalah Segalanya 

Yang menyelamatkan Marguerite di pulau bukan hanya keterampilan survival.

Itu adalah kenangan cinta: Auguste, Damienne, bahkan pelaut muda yang tidak dia kenal lama. 

Kenangan mereka memberinya alasan untuk hidup ketika survival terasa tidak ada gunanya. 

Pelajaran: Kita adalah makhluk sosial. Koneksi yang kita bangun dengan orang lain—cinta, persahabatan, kebaikan—adalah yang membuat hidup bernilai, bahkan dalam isolasi. 

5. Patriarki Menghancurkan Semua Orang 

Roberval menghancurkan Marguerite bukan karena dia jahat secara inheren—tapi karena sistem patriarkal yang memberinya kekuasaan mutlak atas wanita. 

Dia melihat Marguerite sebagai properti, bukan manusia. Cintanya dengan Auguste sebagai pencurian properti, bukan kebahagiaan dua orang. 

Pelajaran: Sistem yang tidak memberi wanita (atau siapa pun) kontrol atas hidup mereka sendiri adalah sistem yang menciptakan tragedi. Kebebasan sejati membutuhkan otonomi untuk semua orang. 

6. Faith Ditemukan dalam Kegelapan 

Marguerite berdoa sepanjang hidupnya—tapi doa di gereja terasa kosong, hafalan. 

Di pulau, ketika dia benar-benar sendirian dan putus asa, dia menemukan hubungan sejati dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. 

Bukan karena dia tiba-tiba "diselamatkan secara ajaib." Tapi karena dalam kegelapan, dia belajar percaya bahwa hidupnya punya makna, bahkan ketika tidak ada bukti jelas. 

Pelajaran: Faith sejati tidak datang dari ritual atau ajaran. Itu datang dari konfrontasi dengan ketidakpastian—dan memilih untuk percaya bahwa hidup bernilai untuk diperjuangkan.


Penutup: Kisah yang Perlu Diceritakan Kembali

Mengapa Allegra Goodman Menulis Isola? 

Goodman menemukan catatan historis tentang Marguerite de la Rocque pada tahun 2002—sebuah footnote kecil dalam sejarah kolonialisme Prancis. 

Seorang wanita yang diasingkan di pulau dan entah bagaimana selamat. Tidak ada detail. Hanya fakta dasar. 

Goodman terpesona: Bagaimana cerita ini tidak lebih terkenal? Bagaimana wanita yang luar biasa ini hampir dilupakan sejarah? 

Dan dia menyadari: karena sejarah ditulis oleh pria, tentang pria. Kisah wanita—terutama wanita yang tidak "patuh"—sering diabaikan atau dihapus. 

Jadi Goodman menulis "Isola" untuk memberikan suara pada Marguerite—untuk membayangkan kehidupan penuh dari wanita yang sejarah hanya berikan satu paragraf. 

Pertanyaan untuk Anda 

Kisah Marguerite mengajukan pertanyaan yang relevan untuk kita semua: 

  • Apa yang mendefinisikan Anda? Apakah status, kekayaan, dan opini orang lain? Atau sesuatu yang lebih dalam?
  • Apakah Anda hidup dengan kebebasan sejati—atau hanya ilusi kebebasan? Berapa banyak keputusan Anda sebenarnya pilihan Anda sendiri?
  • Jika semua yang Anda kenal dilucuti, siapa Anda? Tanpa pekerjaan, tanpa titel, tanpa peran sosial—apa yang tersisa?
  • Dalam isolasi—ketika tidak ada yang melihat—apakah Anda masih akan memilih untuk hidup dengan integritas? 
  • Siapa yang menceritakan kisah Anda? Apakah Anda membiarkan orang lain mendefinisikan narasi Anda, atau Anda yang menulisnya sendiri?

Warisan Marguerite 

Marguerite de la Rocque yang sesungguhnya meninggal di suatu tempat di Prancis, kemungkinan sebagai tutor yang tidak dikenal.

Tapi kisahnya bertahan—pertama sebagai legenda lokal, lalu sebagai catatan sejarah, sekarang sebagai novel yang menginspirasi jutaan pembaca. 

Dan pesan dari kisahnya jelas: 

Anda lebih kuat dari yang Anda bayangkan. Anda lebih bebas dari yang Anda sadari. Dan cerita Anda—tidak peduli seberapa tidak sempurna—layak untuk diceritakan. 

Jadi ceritakan. 

Dengan semua kerumitan, rasa sakit, keindahan, dan kekuatan Anda. 

Karena seperti yang ditunjukkan Marguerite: bertahan hidup itu penting, tapi hidup dengan tujuan dan kebebasan—itulah yang membuat hidup bernilai.


Tentang Buku Asli 

"Isola: Reese's Book Club: A Novel" diterbitkan pada Februari 2025 dan langsung menjadi national bestseller. Dipilih sebagai Reese's Book Club pick, finalis untuk Kirkus Prize, dan masuk dalam daftar Best Books of the Year oleh TIME, The New York Times, The Washington Post, NPR, dan banyak lagi. 

Allegra Goodman adalah penulis tujuh novel termasuk "Sam" (Read with Jenna selection), "The Chalk Artist," dan "Intuition." Fiksinya telah muncul di The New Yorker dan diantologikan dalam The O. Henry Awards dan Best American Short Stories. Dia tinggal dengan keluarganya di Cambridge, Massachusetts. 

Goodman menulis "Isola" selama pandemi COVID-19, terinspirasi oleh buku anak-anak tentang sejarah Kanada yang dia baca hampir 20 tahun sebelumnya saat menyusui putrinya. Kisah Marguerite menggema dengan momen isolasi global—mengingatkan kita bahwa bahkan dalam kesendirian terdalam, kekuatan manusia bisa bangkit. 

Novel ini berdasarkan kisah nyata, tapi Goodman mengisi detail yang hilang dari catatan sejarah dengan imajinasi yang mendalam—menciptakan Marguerite yang hidup, bernafas, dan sangat relatable meskipun dia hidup 500 tahun yang lalu. 

Untuk pengalaman lengkap dari prosa yang lush, detail survival yang mencengkeram, dan transformasi emosional Marguerite, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi perjalanan, tapi buku lengkap menawarkan kedalaman psikologis dan keindahan bahasa yang tidak bisa diringkas. 

Sekarang pergilah dan temukan pulau Anda sendiri—bukan pulau fisik, tapi tempat di mana Anda menghadapi diri Anda dengan jujur, melepaskan apa yang tidak lagi melayani Anda, dan menemukan kebebasan sejati. 

Seperti yang ditunjukkan Marguerite: 

Kadang kita harus kehilangan segalanya untuk menemukan siapa kita sebenarnya.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: A Thousand Acres
Back to top

Similar books