Skip to main content

The Leadership Challenge

by James M. Kouzes & Barry Z. Posner · December 2025 · 15 min read

Ketika Orang Biasa Melakukan Hal Luar Biasa

Table of contents

Ketika Orang Biasa Melakukan Hal Luar Biasa 

Tahun 1983. James Kouzes dan Barry Posner, dua profesor di Santa Clara University, memulai penelitian yang akan mengubah cara kita memahami kepemimpinan. 

Mereka tidak mencari rahasia dari CEO legendaris atau pemimpin terkenal di perusahaan Fortune 500. Sebaliknya, mereka mengajukan pertanyaan sederhana kepada ribuan orang biasa: 

"Ceritakan tentang saat Anda berada di puncak performa sebagai pemimpin. Apa yang Anda lakukan?" 

Dari ribuan cerita yang mereka kumpulkan—cerita dari manajer pabrik, kepala sekolah, pemimpin organisasi nirlaba, supervisor tim—sesuatu yang mengejutkan muncul: pola yang sama berulang kali. 

Terlepas dari usia, jenis kelamin, budaya, atau industri, ketika orang-orang menggambarkan momen kepemimpinan terbaik mereka, mereka menggambarkan perilaku yang sama. 

Ada kisah tentang produktivitas manufaktur yang meningkat 400% dalam setahun. Ada cerita tentang sekolah yang siswanya naik dari persentil terendah ke persentil ke-68 dalam dua tahun. Ada narasi tentang perusahaan yang tumbuh lima kali lipat dalam penjualan dan 750% dalam profit dalam enam tahun. 

Ini bukan kisah perencanaan yang sempurna atau strategi brilian. Ini adalah cerita tentang perubahan dinamis dan tindakan berani. Cerita tentang orang-orang yang menginspirasi tim mereka untuk mencapai yang tampaknya mustahil. 

Dari ribuan cerita itu, Kouzes dan Posner mengidentifikasi Lima Praktik Kepemimpinan Teladan—pola perilaku yang ditunjukkan oleh semua pemimpin hebat ketika mereka berada di puncak performa.

Lebih dari 40 tahun kemudian, dengan lebih dari 2,5 juta eksemplar terjual dan diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa, The Leadership Challenge tetap menjadi panduan paling dipercaya untuk kepemimpinan yang efektif. 

Mengapa? Karena kepemimpinan bukan tentang kepribadian. Kepemimpinan adalah tentang perilaku—keterampilan yang bisa dipelajari oleh siapa saja. 

Ini adalah cerita tentang bagaimana Anda—siapa pun Anda, di mana pun Anda—bisa menjadi pemimpin yang membuat perbedaan luar biasa.


Bagian 1: Fondasi Kepemimpinan—Kredibilitas

Apa yang Orang Inginkan dari Pemimpin Mereka? 

Sebelum membahas Lima Praktik, Kouzes dan Posner mengajukan pertanyaan fundamental: Apa yang orang cari dari pemimpin mereka? 

Mereka melakukan survei terhadap ribuan orang di seluruh dunia, menanyakan karakteristik apa yang paling mereka hargai dalam pemimpin. 

Hasilnya konsisten di berbagai budaya, generasi, dan industri: 

1. Kejujuran (Honesty) - 88% responden memilih ini sebagai karakteristik paling penting. Orang ingin pemimpin yang bisa dipercaya, yang berkata sebenarnya, yang tidak menyembunyikan agenda tersembunyi. 

2. Berorientasi Masa Depan (Forward-looking) - 71% menginginkan pemimpin yang punya visi jelas tentang ke mana organisasi akan pergi dan bagaimana sampai di sana. 

3. Menginspirasi (Inspiring) - 69% mencari pemimpin yang antusias, energik, dan positif tentang masa depan. 

4. Kompeten (Competent) - 68% membutuhkan pemimpin yang tahu apa yang mereka lakukan, yang punya keahlian dan track record kesuksesan. 

Keempat karakteristik ini—kejujuran, visi, inspirasi, dan kompetensi—membentuk satu kata yang mendefinisikan fondasi kepemimpinan: KREDIBILITAS

Hukum Kedua Kepemimpinan: DWYSYWD 

Kouzes dan Posner merumuskan apa yang mereka sebut "Hukum Kedua Kepemimpinan": 

"Anda membangun fondasi kredibilitas kepemimpinan ketika Anda DWYSYWD—Do What You Say You Will Do (Melakukan Apa yang Anda Katakan Akan Anda Lakukan)." 

Kedengarannya sederhana, bukan? Tapi ini adalah tes paling keras kepemimpinan. 

Pemimpin yang mengatakan akan hadir di rapat tetapi tidak datang. Pemimpin yang berjanji memberi feedback dalam seminggu tetapi lupa. Pemimpin yang mengumumkan nilai-nilai perusahaan tetapi melanggarnya ketika tertekan. 

Setiap kali Anda tidak melakukan apa yang Anda katakan, Anda mengikis kredibilitas Anda. Dan kredibilitas yang hilang sangat sulit untuk dibangun kembali. 

Penelitian mereka menunjukkan bahwa ketika orang menganggap pemimpin mereka memiliki kredibilitas tinggi, mereka:

  • Bangga memberitahu orang lain bahwa mereka bagian dari organisasi
  • Merasakan semangat tim yang kuat
  • Melihat nilai pribadi mereka konsisten dengan nilai perusahaan
  • Merasa terikat dan berkomitmen pada organisasi
  • Memiliki rasa kepemilikan terhadap operasi

Sebaliknya, ketika kredibilitas rendah, semua ikatan itu putus. 

Kredibilitas adalah mata uang kepemimpinan. Tanpa itu, Anda tidak punya apa-apa.


Bagian 2: Lima Praktik Kepemimpinan Teladan 

Sekarang mari kita menyelami Lima Praktik yang mengubah pemimpin biasa menjadi pemimpin luar biasa. 

Praktik 1: Menjadi Teladan (Model the Way) 

Komitmen 1: Klarifikasi nilai-nilai Anda Komitmen 2: Jadilah contoh 

Brian, seorang manajer, menyadari bahwa timnya tidak saling percaya. Produktivitas rendah. Moral turun. Orang-orang bekerja dalam silo. 

Ia mengumpulkan seluruh tim untuk diskusi empat jam. Ia memulai dengan transparan: "Saya ingin membangun lingkungan kepercayaan. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendirian. Saya perlu kalian memberitahu saya apa yang perlu saya ubah." 

Apa yang terjadi selanjutnya mengejutkannya. Orang-orang mulai berbicara—jujur, terbuka, kadang menyakitkan. Brian mendengarkan tanpa defensif. Ia mencatat setiap masukan. Ia mengakui kesalahannya. 

Lalu ia bertindak. Ia mengubah perilakunya berdasarkan feedback. Ia membuat nilai-nilai tim eksplisit dan meminta semua orang—termasuk dirinya—bertanggung jawab terhadapnya. 

Dalam enam bulan, tim berubah. Produktivitas naik 35%. Turnover turun drastis. Mengapa? Karena Brian tidak hanya mengatakan apa yang penting—ia menunjukkannya melalui tindakan. 

Inilah inti dari Model the Way: Anda tidak bisa meminta orang lain melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan sendiri. 

Jika Anda ingin tim datang tepat waktu, Anda harus datang tepat waktu. Jika Anda ingin orang mendengarkan satu sama lain, Anda harus mendengarkan mereka. Jika Anda ingin budaya feedback terbuka, Anda harus menerima feedback dengan anggun. 

Kepemimpinan dimulai dengan klarifikasi pribadi: Apa yang Anda yakini? Apa nilai-nilai inti Anda? Apa prinsip yang tidak akan Anda kompromikan? 

Kemudian, Anda harus menyelaraskan tindakan Anda dengan nilai-nilai itu—setiap hari, dalam setiap keputusan, terutama ketika sulit. 

Orang-orang menonton Anda. Mereka tidak mendengarkan kata-kata Anda sebanyak mereka mengamati tindakan Anda. Apa yang Anda lakukan berbicara lebih keras daripada apa yang Anda katakan.

Praktik 2: Menginspirasi Visi Bersama (Inspire a Shared Vision)

Komitmen 3: Bayangkan masa depan Komitmen 4: Ajak orang lain dalam visi itu 

Anne, kepala sekolah di daerah berpenghasilan rendah, mewarisi sekolah yang siswanya berada di persentil terendah secara nasional. Guru-guru frustasi. Orang tua putus asa. Siswa kehilangan motivasi. 

Tapi Anne melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat. Ia membayangkan masa depan di mana sekolah ini bukan hanya rata-rata—tetapi luar biasa. Di mana setiap siswa, terlepas dari latar belakang mereka, bisa unggul. 

Ia tidak menyimpan visi itu untuk dirinya sendiri. Ia berbagi dengan passion yang menginfeksi. 

Ia berbicara dengan setiap guru secara individual: "Bayangkan jika lima tahun dari sekarang, kita adalah sekolah yang menjadi model untuk distrik lain. Bayangkan siswa-siswa kita lulus dengan kepercayaan diri dan keterampilan untuk sukses. Apa peran Anda dalam membuat itu terjadi?" 

Ia melibatkan orang tua: "Anak-anak Anda memiliki potensi luar biasa. Mari kita ciptakan komunitas yang mendukung mereka untuk mencapainya." 

Ia bahkan berbicara dengan siswa: "Kalian tidak didefinisikan oleh skor tes atau kode pos kalian. Kalian mampu hal-hal luar biasa." 

Dalam dua tahun, sekolah itu naik dari persentil terendah ke persentil ke-68. 

Apa yang membuat perbedaan? Visi yang jelas, dikomunikasikan dengan passion, dan dibuat milik bersama. 

Inilah kebenaran tentang visi: Anda tidak bisa memaksakan visi pada orang lain. Anda harus membuat mereka melihat masa depan yang Anda lihat dan merasa excited tentangnya. 

Domain pemimpin adalah masa depan. Pekerjaan pemimpin adalah perubahan. Kontribusi paling signifikan yang dibuat pemimpin bukan untuk bottom line hari ini—tetapi untuk pengembangan jangka panjang orang dan institusi sehingga mereka bisa beradaptasi, berubah, berkembang, dan tumbuh. 

Visi tanpa tindakan hanya mimpi. Tindakan tanpa visi hanya aktivitas yang sibuk. Tapi visi dengan tindakan bisa mengubah dunia.

Praktik 3: Menantang Proses (Challenge the Process) 

Komitmen 5: Cari peluang untuk berinovasi dan tumbuh Komitmen 6: Eksperimen dan ambil risiko dengan merayakan kemenangan kecil 

Sarah, manajer di perusahaan manufaktur, melihat bahwa proses produksi mereka ketinggalan zaman. Kompetitor menggunakan teknologi baru yang membuat mereka 40% lebih efisien. 

Ia bisa saja berkata, "Begini cara kita selalu melakukannya." Tapi ia tidak. 

Sebagai gantinya, ia berkata kepada timnya: "Kita perlu berubah atau kita akan tertinggal. Saya tidak punya semua jawaban. Tapi saya yakin bersama-sama kita bisa menemukan cara yang lebih baik." 

Ia menciptakan budaya eksperimentasi yang aman. Ia mendorong tim untuk mencoba ide baru, bahkan jika beberapa gagal. 

"Kesalahan adalah bagian dari inovasi," katanya kepada tim. "Yang tidak bisa diterima adalah tidak mencoba sama sekali." 

Tim mulai bereksperimen—perubahan kecil dulu. Ketika perubahan kecil berhasil, mereka merayakannya. Kemenangan kecil itu membangun momentum. 

Dalam setahun, produktivitas naik 45%. Biaya turun 30%. Mereka tidak hanya mengejar kompetitor—mereka melewati mereka. 

Kepemimpinan selalu melibatkan perubahan. Status quo adalah musuh kemajuan. Pemimpin yang hebat: 

  • Mencari peluang untuk inovasi, pertumbuhan, dan perbaikan
  • Eksperimen dengan pendekatan baru, tahu bahwa beberapa akan gagal
  • Merayakan kemenangan kecil untuk membangun kepercayaan diri dan momentum
  • Belajar dari kegagalan tanpa menyalahkan

Seperti yang dikatakan Kouzes dan Posner: "Anda tidak bisa mengharapkan untuk menjadi pemimpin jika Anda hanya berdiri di sela menonton parade lewat." 

Praktik 4: Memberdayakan Orang Lain untuk Bertindak (Enable Others to Act) 

Komitmen 7: Bangun kepercayaan melalui kolaborasi Komitmen 8: Kuatkan orang lain dengan meningkatkan self-determination dan kompetensi 

Michael, CEO startup teknologi, bisa saja membuat semua keputusan sendiri. Ia brilian, berpengalaman, dan memiliki visi jelas.

Tapi ia memahami paradoks kekuasaan: Anda menjadi lebih kuat ketika Anda memberi kekuasaan Anda. 

Alih-alih mengontrol, ia mendelegasikan. Alih-alih micromanage, ia memberdayakan. Alih-alih menjadi hero tunggal, ia menciptakan tim hero. 

Ia berkata kepada timnya: "Saya mempekerjakan kalian karena kalian lebih pintar dari saya dalam bidang kalian. Saya percaya pada kalian. Ambillah keputusan. Eksperimen. Jika gagal, saya yang bertanggung jawab. Jika berhasil, kalian yang dapat kredit." 

Kepercayaan itu mengubah segalanya. Orang-orang merasa memiliki pekerjaan mereka. Mereka mengambil inisiatif. Mereka berinovasi. Mereka bekerja bukan karena harus, tetapi karena mereka percaya pada misi dan merasa didengar. 

Penelitian Kouzes dan Posner menunjukkan bahwa kepemimpinan yang memberdayakan meningkatkan: 

  • Motivasi intrinsik—orang bekerja keras karena mereka peduli, bukan karena dipaksa
  • Self-efficacy—kepercayaan bahwa mereka mampu mencapai tujuan mereka
  • Komitmen—dedikasi yang lebih dalam pada organisasi dan misi

Kepemimpinan bukan tentang mengumpulkan kekuasaan. Kepemimpinan adalah tentang membagikan kekuasaan. 

Ketika Anda memperkuat orang lain, Anda tidak melemahkan diri sendiri. Anda melipatgandakan dampak Anda. 

Praktik 5: Mendorong Hati (Encourage the Heart) 

Komitmen 9: Kenali kontribusi dengan menunjukkan apresiasi Komitmen 10: Rayakan nilai-nilai dan kemenangan dengan menciptakan semangat komunitas 

Tom, manajer call center, mewarisi tim dengan moral terendah di perusahaan. Turnover 60% per tahun. Karyawan merasa tidak dihargai dan tidak terlihat. 

Tom memutuskan untuk mengubah itu. Tapi ia tidak punya anggaran besar untuk bonus atau pesta mewah. 

Yang ia punya adalah perhatian genuine dan apresiasi autentik. 

Setiap hari, ia berjalan di lantai call center. Ia mendengarkan beberapa panggilan. Ketika ia mendengar seseorang menangani pelanggan yang sulit dengan baik, ia berhenti dan berkata, "Saya dengar panggilan itu. Cara Anda menenangkan pelanggan itu luar biasa. Terima kasih telah mewakili kita dengan baik."

Ia memulai ritual mingguan: "Shout-out Friday"—di mana siapa pun bisa mengenali rekan kerja yang membantu mereka minggu itu. 

Ia merayakan kemenangan kecil, bukan hanya pencapaian besar. Seseorang menyelesaikan pelatihan? Ia mengirim email ucapan selamat. Tim mencapai target? Ia membawa donat. 

Dalam setahun, turnover turun menjadi 20%. Kepuasan pelanggan naik 40%. Produktivitas meningkat 25%. 

Apa yang berubah? Tidak ada yang dramatis. Hanya konsistensi dalam menunjukkan bahwa orang-orang penting. 

Kouzes dan Posner menekankan bahwa Encourage the Heart adalah praktik yang paling jarang dilihat—dan paling underestimated. 

Banyak pemimpin berpikir ini "soft" atau tidak penting. Mereka salah. 

Orang butuh tahu bahwa usaha mereka diperhatikan, bahwa kontribusi mereka penting, bahwa mereka bukan hanya roda gigi dalam mesin. 

Dan penelitian membuktikannya. Organisasi dengan budaya penghargaan yang kuat memiliki: 

  • Engagement karyawan yang lebih tinggi
  • Produktivitas yang lebih tinggi
  • Retensi yang lebih baik
  • Kepuasan pelanggan yang lebih tinggi

Merayakan dan mengenali bukan luxury. Ini adalah necessity untuk kepemimpinan yang efektif.


Bagian 3: Kepemimpinan adalah Hubungan

Bukan tentang Anda 

Salah satu insight paling kuat dari The Leadership Challenge: Kepemimpinan bukan tentang pemimpin. Kepemimpinan adalah tentang hubungan. 

Anda bisa memiliki visi terhebat di dunia. Tapi jika tidak ada yang mengikuti Anda, Anda bukan pemimpin—Anda hanya berjalan sendirian. 

Kepemimpinan terjadi dalam konteks hubungan: 

  • Antara Anda dan tim Anda
  • Antara anggota tim satu sama lain
  • Antara organisasi Anda dan stakeholder
  • Antara nilai-nilai yang Anda klaim dan tindakan yang Anda ambil

Orang tidak berkomitmen pada rencana. Orang berkomitmen pada orang. 

Mereka berkomitmen pada pemimpin yang mereka percaya. Yang menunjukkan mereka peduli. Yang menghormati mereka. Yang memberdayakan mereka. Yang menghargai mereka. 

Kepemimpinan Bisa Dipelajari 

Berita baiknya: Anda tidak perlu dilahirkan sebagai pemimpin. 

Kouzes dan Posner tegas tentang ini: kepemimpinan adalah seperangkat praktik dan perilaku yang bisa dipelajari—bukan bakat bawaan atau traits kepribadian yang tetap. 

Introvert bisa menjadi pemimpin yang luar biasa. Mereka mungkin memimpin dengan cara yang lebih tenang, lebih one-on-one—tetapi mereka sama efektifnya dengan extrovert yang karismatik. 

Yang penting bukan siapa Anda, tetapi apa yang Anda lakukan. 

Lima Praktik adalah keterampilan. Seperti bermain tenis atau memainkan instrumen, Anda menjadi lebih baik melalui latihan yang disengaja dan konsisten. 

Semakin sering Anda: 

  • Klarifikasi dan komunikasikan nilai-nilai Anda 
  • Tunjukkan contoh perilaku yang Anda harapkan 
  • Bayangkan dan bagikan visi yang menarik 
  • Tantang status quo dan eksperimen 
  • Bangun kepercayaan dan berdayakan orang lain 
  • Kenali kontribusi dan rayakan kemenangan

...semakinbaikAndasebagai pemimpin.


Bagian 4: Dampak Kepemimpinan Teladan 

Angka-Angka Berbicara 

Kouzes dan Posner tidak hanya mengandalkan anekdot. Mereka mendukung klaim mereka dengan lebih dari 40 tahun penelitian empiris, lebih dari 5.000 studi kasus, dan 750+ studi penelitian independen. 

Mereka mengembangkan Leadership Practices Inventory (LPI)—alat penilaian 360 derajat yang mengukur seberapa sering pemimpin menampilkan 30 perilaku yang terkait dengan Lima Praktik. 

Hasil dari jutaan penilaian di seluruh dunia menunjukkan pola yang konsisten:

Pemimpin yang lebih sering menampilkan Lima Praktik memiliki: 

  • Engagement karyawan yang lebih tinggi 
  • Produktivitas tim yang lebih tinggi 
  • Kepuasan pelanggan yang lebih tinggi 
  • Retensi karyawan yang lebih baik 
  • Profitabilitas yang lebih tinggi 

Ini bukan soft skills. Ini adalah hard skills yang menghasilkan hard results.

Lebih dari Performa—Mengubah Kehidupan 

Tapi dampak kepemimpinan melampaui metrik bisnis. 

Kouzes dan Posner menerima ribuan surat dari orang-orang yang mengatakan bahwa mempelajari Lima Praktik tidak hanya membuat mereka pemimpin yang lebih baik—tetapi orang yang lebih baik. 

Seorang manajer menulis: "Saya belajar untuk benar-benar mendengarkan anak-anak saya, bukan hanya menunggu giliran untuk berbicara. Hubungan keluarga saya berubah total." 

Seorang CEO berkata: "Lima Praktik mengajarkan saya bahwa kerentanan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Saya menjadi lebih autentik, dan tim saya merespons dengan loyalitas dan dedikasi yang belum pernah saya lihat sebelumnya." 

Kepemimpinan teladan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan—tidak hanya performa bisnis.


Penutup: Tantangan Kepemimpinan Anda 

Kepemimpinan adalah Pilihan 

Pada akhirnya, The Leadership Challenge adalah undangan. 

Undangan untuk memilih kepemimpinan—tidak karena Anda punya titel atau posisi, tetapi karena Anda ingin membuat perbedaan. 

Kepemimpinan bukan tentang hirarki. Kepemimpinan adalah tentang pengaruh. Dan siapa pun—di level mana pun—bisa memiliki pengaruh. 

Anda tidak perlu menunggu promosi. Anda tidak perlu menunggu sampai Anda "siap." Anda bisa mulai memimpin hari ini, di mana Anda berada, dengan apa yang Anda punya. 

Lima Pertanyaan untuk Refleksi 

Kouzes dan Posner mengundang Anda untuk merenungkan: 

1. Apakah nilai-nilai saya jelas, dan apakah tindakan saya konsisten dengan nilai-nilai itu? Orang menonton. Apakah mereka melihat integritas atau inkonsistensi? 

2. Apakah saya punya visi yang menarik untuk masa depan, dan apakah saya mengkomunikasikannya dengan passion? Orang butuh arah. Apakah saya memberikan itu? 

3. Apakah saya mencari peluang untuk inovasi, atau apakah saya terjebak dalam status quo? Perubahan tidak nyaman, tetapi necessary. Apakah saya pemimpin perubahan atau penghambat? 

4. Apakah saya memberdayakan orang lain, atau apakah saya mencoba melakukan semuanya sendiri? Kepemimpinan bukan tentang menjadi hero. Apakah saya menciptakan hero lain? 

5. Apakah saya menunjukkan apresiasi genuine dan merayakan kontribusi? Orang butuh tahu mereka penting. Apakah saya menunjukkan itu? 

Langkah Pertama Anda 

Jangan coba menjadi sempurna dalam semua Lima Praktik sekaligus. Itu akan membuat Anda kewalahan. 

Pilih satu praktik untuk difokuskan minggu ini. Mungkin: 

  • Klarifikasi satu nilai inti Anda dan komunikasikan kepada tim
  • Bagikan visi tentang proyek Anda dengan cara yang membuat orang excited
  • Eksperimen dengan satu pendekatan baru, meskipun kecil
  • Delegasikan sesuatu yang biasanya Anda kontrol
  • Kenali satu orang yang kontribusinya sering diabaikan

Satu praktik. Satu minggu. Satu langkah kecil. 

Lalu minggu depan, praktik lain. Dan minggu berikutnya. Konsistensi adalah kunci.

Pesan Terakhir 

Kouzes dan Posner mengakhiri dengan pengingat yang kuat: 

"Kepemimpinan bukan urusan kepala. Kepemimpinan adalah urusan hati." 

Semua strategi, framework, dan praktik di dunia tidak akan berarti apa-apa jika Anda tidak benar-benar peduli—tentang misi, tentang orang-orang, tentang membuat perbedaan. 

Kepemimpinan yang terbaik datang dari tempat yang autentik. Dari keinginan genuine untuk melayani. Dari komitmen untuk membuat dunia sedikit lebih baik dari bagaimana Anda menemukannya. 

Anda punya kesempatan untuk memimpin. Setiap hari. Dalam setiap interaksi. 

Tantangannya sederhana tetapi mendalam: Akankah Anda menerima tantangan kepemimpinan? 

Akankah Anda klarifikasi nilai-nilai Anda dan hiduplah sesuai dengannya? Akankah Anda bayangkan masa depan yang lebih baik dan ajak orang lain ke sana? Akankah Anda tantang status quo dan berinovasi? Akankah Anda berdayakan orang lain dan bangun kepercayaan? Akankah Anda hargai kontribusi dan rayakan kemenangan? 

Lima praktik. Sepuluh komitmen. Satu pilihan. 

Pilihan untuk memimpin.


Tentang Buku Asli 

The Leadership Challenge: How to Make Extraordinary Things Happen in Organizations pertama kali diterbitkan pada tahun 1987 oleh James M. Kouzes dan Barry Z. Posner. 

Kouzes adalah Dean's Executive Professor of Leadership di Leavey School of Business, Santa Clara University, dan telah dinobatkan oleh Wall Street Journal sebagai salah satu dari dua belas pendidik eksekutif terbaik di Amerika Serikat. 

Posner adalah Accolti Professor of Leadership dan ketua Departemen Manajemen & Entrepreneurship di Leavey School of Business, Santa Clara University. 

Bersama-sama, mereka telah menulis lebih dari selusin buku tentang kepemimpinan, termasuk Credibility, Encouraging the Heart, dan A Leader's Legacy. 

Buku ini telah terjual lebih dari 2,5 juta eksemplar dan diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa. Edisi keenam dirilis pada tahun 2017, dengan studi kasus yang diperbarui, contoh internasional, dan fokus pada tantangan bisnis kontemporer. 

Leadership Practices Inventory (LPI) yang mereka kembangkan telah digunakan oleh lebih dari 1,65 juta pemimpin di lebih dari 70 negara. 

Untuk pemahaman yang lebih mendalam, disarankan membaca buku aslinya. Kouzes dan Posner menulis dengan gaya yang engaging, penuh dengan cerita nyata dari pemimpin di seluruh dunia, dan memberikan latihan praktis untuk setiap praktik. 

Ringkasan ini memberikan gambaran komprehensif, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan kekayaan insight, cerita, dan latihan dalam buku asli. 

Sekarang, ambillah tantangan kepemimpinan Anda. Dunia menunggu hal luar biasa yang hanya Anda bisa berikan.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Good Strategy Bad Strategy
Back to top

Similar books