Table of contents
Di Balik Tembok yang Runtuh
Bayangkan bangun pagi dan mendapati semua institusi pemerintah menghilang dalam semalam.
Tidak ada polisi. Tidak ada pengadilan. Tidak ada tentara. Tidak ada aturan yang bisa ditegakkan. Tidak ada yang bisa Anda laporkan ketika dirugikan. Tidak ada yang melindungi properti Anda. Tidak ada yang mencegah tetangga Anda mengambil apa yang dia mau dari Anda.
Apa yang akan terjadi?
Sebagian orang optimis akan bilang: "Manusia pada dasarnya baik. Kita akan bekerja sama dan menciptakan masyarakat yang harmonis tanpa paksaan."
Thomas Hobbes, di tahun 1651, melihat Inggris tercabik-cabik oleh perang saudara—dan dia punya jawaban yang sangat berbeda:
"Kehidupan manusia akan soliter, miskin, kotor, brutal, dan pendek."
Tidak ada kalimat dalam filsafat politik yang lebih terkenal dan lebih mengerikan dari ini. Dan ini bukan sekadar pesimisme—ini adalah diagnosis tentang sifat dasar manusia yang mengubah cara kita berpikir tentang pemerintah, kekuasaan, dan peradaban.
Hobbes menulis "Leviathan" di tengah kekacauan perang saudara antara Royalis dan Parliamentarians. Dia menyaksikan negara runtuh. Dia melihat manusia berubah menjadi serigala bagi sesamanya. Dia mengajukan pertanyaan fundamental:
Mengapa kita membutuhkan pemerintah? Dan berapa banyak kekuasaan yang harus kita berikan padanya?
Jawabannya radikal, kontroversial, dan masih diperdebatkan hingga hari ini.
Hobbes bilang: kita membutuhkan monster—Leviathan—untuk melindungi kita dari monster yang lebih besar: sifat dasar kita sendiri.
Mari kita lihat mengapa.
Bagian 1: Keadaan Alamiah—Neraka Tanpa Pemerintah
Eksperimen Pikiran yang Mengerikan
Hobbes meminta kita membayangkan dunia sebelum pemerintah ada—apa yang dia sebut "state of nature" atau keadaan alamiah.
Tidak ada hukum. Tidak ada properti. Tidak ada benar atau salah yang bisa ditegakkan. Hanya manusia dengan keinginan, ketakutan, dan kekuatan fisik mereka.
Seperti apa dunia ini?
Manusia Itu Sama—dan Itulah Masalahnya
Hobbes memulai dengan observasi yang brilian: Manusia pada dasarnya setara.
Bukan setara dalam moral. Bukan setara dalam hak. Tapi setara dalam kemampuan untuk saling membunuh.
Orang terkuat bisa dibunuh oleh orang terlemah—dengan racun saat dia tidur, atau dengan persekutuan beberapa orang lemah. Orang terpintar bisa ditipu oleh orang bodoh yang lebih banyak. Orang terkaya bisa dirampok oleh kawanan orang miskin.
Tidak ada yang cukup kuat untuk merasa aman selamanya.
Dan dari kesetaraan ini muncul masalah: jika kita semua setara, kita semua kompetitor.
Tiga Sebab Perang
Hobbes mengidentifikasi tiga alasan mengapa manusia dalam keadaan alamiah akan selalu berperang:
1. Kompetisi (Competition)
Dua orang menginginkan sesuatu yang sama—makanan, tempat tinggal, pasangan, tanah. Tidak ada hukum yang mengatur siapa yang berhak. Jadi mereka bertarung.
Dalam keadaan alamiah, tidak ada konsep "kepemilikan" yang bisa ditegakkan. Anda hanya "memiliki" sesuatu selama Anda cukup kuat untuk mempertahankannya.
2. Ketidakpercayaan (Diffidence)
Bahkan jika Anda tidak agresif, Anda harus bertindak seolah-olah agresif—karena Anda tidak tahu siapa yang akan menyerang Anda.
Ini dilema keamanan klasik: Saya takut Anda akan menyerang saya, jadi saya menyerang Anda terlebih dahulu. Anda berpikir sama tentang saya. Kita berdua berakhir dalam perang—meskipun tidak ada yang benar-benar ingin perang.
Hobbes menulis: "Tidak ada jalan bagi manusia untuk mengamankan dirinya sendiri selain dengan antisipasi—yaitu, dengan kekuatan atau tipu daya, menguasai semua orang yang dia bisa."
3. Kebanggaan (Glory)
Manusia peduli dengan reputasi. Kita ingin dihormati, ditakuti, diakui. Di keadaan alamiah, cara terbaik untuk mendapat respek adalah dengan menunjukkan kekuatan—dengan menyerang mereka yang "meremehkan" Anda.
Seseorang menatap Anda terlalu lama? Serangan. Seseorang tidak memberi Anda cukup hormat? Serangan. Seseorang berbicara buruk tentang Anda? Serangan.
Karena jika Anda tidak membalas, Anda terlihat lemah. Dan terlihat lemah berarti menjadi target.
Perang Semua Lawan Semua
Kombinasi tiga faktor ini menciptakan apa yang Hobbes sebut "war of all against all"—perang semua melawan semua.
Dan bukan hanya perang sesekali. Tapi keadaan perang konstan.
Hobbes membedakan antara "pertempuran aktual" dan "keadaan perang":
"Seperti sifat cuaca buruk tidak terletak pada hujan sesekali, tetapi pada kecenderungan untuk hujan selama berhari-hari; demikian pula sifat perang tidak terletak pada pertempuran aktual, tetapi pada disposisi yang diketahui selama tidak ada jaminan sebaliknya."
Di keadaan alamiah, mungkin Anda tidak sedang berkelahi sekarang. Tapi Anda selalu siap berkelahi. Anda tidak pernah bisa menurunkan penjagaan. Anda tidak pernah bisa tidur nyenyak. Anda tidak pernah bisa percaya siapa pun sepenuhnya.
Tidak Ada yang Namanya Adil atau Tidak Adil
Inilah bagian yang paling radikal dari analisis Hobbes:
Di keadaan alamiah, tidak ada konsep "benar" atau "salah," "adil" atau "tidak adil."
Mengapa? Karena konsep-konsep ini memerlukan hukum. Dan hukum memerlukan kekuatan untuk menegakkannya.
Tanpa pemerintah, tidak ada yang bisa mengatakan "kamu tidak boleh membunuh" dan memaksakan aturan itu. Jadi dalam praktiknya, tidak ada yang "tidak boleh."
Hobbes menulis: "Di mana tidak ada kekuasaan bersama, tidak ada hukum; di mana tidak ada hukum, tidak ada ketidakadilan."
Ini bukan nihilisme moral. Hobbes tidak bilang moralitas tidak ada. Dia bilang moralitas tidak bisa eksis tanpa otoritas yang menegakkannya.
Anda mungkin secara pribadi berpikir membunuh itu salah. Tapi jika tidak ada yang menghentikan pembunuh, apa gunanya standar moral Anda? Anda tetap mati.
Kehidupan yang Soliter, Miskin, Kotor, Brutal, dan Pendek
Di keadaan alamiah:
Tidak ada industri—karena tidak ada jaminan Anda bisa menikmati hasilnya. Mengapa menanam jika orang lain akan mencuri panen Anda?
Tidak ada perdagangan—karena tidak ada cara untuk menegakkan kontrak. Mengapa berdagang jika orang bisa mengambil barang Anda tanpa membayar?
Tidak ada seni, tidak ada pengetahuan—karena tidak ada waktu untuk berpikir tentang hal-hal selain survival.
Tidak ada masyarakat—karena tidak ada kepercayaan.
Dan yang terburuk: ketakutan konstan dan bahaya kematian kekerasan.
Ini adalah neraka. Dan Hobbes bilang: Ini adalah kondisi default manusia tanpa pemerintah.
Bagian 2: Jalan Keluar—Kontrak Sosial
Hukum Alam: Cari Perdamaian
Hobbes percaya manusia punya akal. Dan akal memberitahu kita: keadaan perang itu buruk untuk semua orang.
Bahkan pemenang dalam keadaan alamiah tidak pernah benar-benar aman. Anda mungkin paling kuat hari ini, tapi besok ada yang lebih kuat. Atau Anda tertidur dan dibunuh.
Jadi akal menghasilkan apa yang Hobbes sebut "hukum alam pertama":
"Setiap orang harus berusaha mencari perdamaian, sejauh dia punya harapan untuk mendapatkannya; dan ketika dia tidak bisa mendapatkannya, dia boleh mencari dan menggunakan semua keuntungan perang."
Sederhana: Cari perdamaian jika mungkin. Jika tidak, pertahankan diri Anda.
Hukum Alam Kedua: Kontrak Timbal Balik
Tapi perdamaian memerlukan kompromi. Anda tidak bisa punya perdamaian jika semua orang terus mencoba membunuh semua orang.
Jadi hukum alam kedua:
"Seseorang bersedia, ketika orang lain juga bersedia, untuk melepaskan haknya atas segala sesuatu; dan puas dengan kebebasan yang sama terhadap orang lain seperti yang dia izinkan untuk orang lain terhadap dirinya."
Terjemahan: Saya akan berhenti mencoba membunuh Anda, jika Anda berhenti mencoba membunuh saya.
Ini adalah dasar dari kontrak sosial—perjanjian timbal balik untuk membatasi kebebasan kita demi keamanan bersama.
Masalah: Siapa yang Menegakkan Kontrak?
Tapi tunggu. Jika tidak ada pemerintah, apa yang mencegah orang untuk melanggar kontrak?
Bayangkan kita semua sepakat: "Oke, kita tidak akan saling bunuh. Deal?"
Tapi kemudian saya berpikir: "Jika saya curang dan membunuh mereka saat mereka tidak waspada, saya akan mendapat semua keuntungan."
Dan Anda berpikir sama tentang saya.
Jadi kita kembali ke keadaan perang—karena tidak ada yang bisa menegakkan perjanjian itu.
Hobbes menulis: "Perjanjian tanpa pedang hanyalah kata-kata, dan tidak punya kekuatan untuk mengamankan seorang pun."
Ini adalah insight brilian: Kepercayaan saja tidak cukup. Anda memerlukan kekuatan untuk menghukum pengkhianat.
Bagian 3: Leviathan—Monster yang Kita Ciptakan
Solusi: Serahkan Kekuasaan kepada Penguasa
Inilah argumen radikal Hobbes:
Untuk keluar dari keadaan alamiah, kita semua harus sepakat untuk menyerahkan semua kekuasaan kita kepada satu entitas—penguasa atau pemerintah—yang akan memaksakan aturan pada kita semua.
Bukan sekadar "kita sepakat untuk hidup damai." Itu tidak cukup.
Kita harus berkata: "Kami mengizinkan Leviathan ini untuk memaksa kami. Kami menyerahkan hak kami untuk menggunakan kekerasan. Hanya Leviathan yang boleh menggunakan kekerasan—dan dia akan menggunakannya terhadap siapa pun yang melanggar perdamaian."
Ini adalah transfer kekuasaan total.
Mengapa Leviathan Harus Mutlak
Hobbes bersikeras: Penguasa harus memiliki kekuasaan mutlak.
Mengapa?
1. Jika kekuasaan terbagi, kita kembali ke perang
Jika ada dua pusat kekuasaan (misalnya raja dan parlemen), mereka akan bertarung untuk supremasi. Dan kita kembali ke perang saudara—persis yang terjadi di Inggris pada masa Hobbes.
Kekuasaan yang terbagi adalah kekuasaan yang lemah. Dan kekuasaan yang lemah tidak bisa menegakkan perdamaian.
2. Rakyat tidak boleh menilai penguasa
Begitu Anda mengizinkan rakyat untuk menilai apakah penguasa mereka "adil" atau "tidak adil," Anda membuka pintu untuk pemberontakan.
Dan pemberontakan berarti perang saudara. Perang saudara berarti kembali ke keadaan alamiah.
Jadi Hobbes bilang: Lebih baik penguasa yang tidak adil daripada tidak ada penguasa sama sekali.
Bahkan tirani lebih baik daripada anarki.
3. Penguasa tidak terikat kontrak dengan rakyat
Ini yang paling kontroversial: Hobbes bilang penguasa tidak terikat oleh kontrak sosial.
Mengapa? Karena kontrak sosial adalah antara rakyat dengan sesama rakyat—bukan antara rakyat dengan penguasa.
Kita berjanji satu sama lain: "Kita akan mematuhi penguasa ini." Penguasa tidak berjanji apa-apa kepada kita. Dia hanya menerima kekuasaan.
Jadi penguasa tidak bisa "melanggar kontrak" karena dia bukan pihak dalam kontrak.
Leviathan: Manusia Buatan yang Lebih Besar dari Semua
Hobbes menyebut negara ini "Leviathan"—mengacu pada monster laut dalam Alkitab yang begitu besar dan kuat sehingga tidak ada yang bisa melawannya.
Tapi Leviathan bukan monster alami. Dia adalah "manusia buatan"—ciptaan kita untuk melindungi kita dari diri kita sendiri.
Di cover buku asli "Leviathan," ada gambar ikonik: raksasa yang tubuhnya terdiri dari ribuan manusia kecil, memegang pedang dan mahkota. Ini simbol: Negara adalah kita semua, disatukan di bawah satu kekuasaan.
Bagian 4: Kewajiban Rakyat dan Hak Penguasa
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Sebagai rakyat di bawah Leviathan, kewajiban kita sederhana: Patuhi.
Patuhi hukum. Patuhi penguasa. Jangan memberontak.
Bahkan jika penguasa tidak adil. Bahkan jika penguasa bodoh. Bahkan jika penguasa kejam.
Mengapa? Karena alternatifnya lebih buruk—kembali ke perang semua melawan semua.
Apa yang Boleh Dilakukan Penguasa?
Hobbes memberikan penguasa kekuasaan yang sangat luas:
- Membuat dan menegakkan hukum apa pun yang dia anggap perlu untuk perdamaian
- Mengontrol properti—semua kepemilikan ada karena penguasa mengakuinya
- Menghukum siapa pun yang melanggar hukum
- Menyensor pendapat yang bisa mengancam stabilitas
- Memimpin militer dan memutuskan perang dan damai
- Menunjuk pejabat dan mengatur pemerintahan
Pada dasarnya: Semua aspek kehidupan publik ada di bawah kontrol penguasa.
Hak yang Kita Pertahankan: Hak untuk Survival
Tapi—dan ini penting—ada satu hak yang tidak bisa kita serahkan: hak untuk mempertahankan hidup kita sendiri.
Jika penguasa memerintahkan Anda untuk membunuh diri sendiri, Anda tidak perlu mematuhi. Jika penguasa mencoba membunuh Anda tanpa alasan, Anda boleh membela diri.
Mengapa? Karena tujuan seluruh kontrak sosial adalah untuk melindungi hidup kita. Jika penguasa mengancam hidup kita, kontrak kehilangan tujuannya.
Tapi ini hak individual untuk membela diri—bukan hak untuk memberontak. Anda boleh lari atau melawan untuk diri Anda sendiri, tapi tidak mengorganisir pemberontakan.
Bagian 5: Kritik dan Keterbatasan
Kritik 1: Terlalu Pesimis tentang Manusia?
Kritikus Hobbes bilang: "Manusia tidak seburuk itu! Kita punya empati, altruisme, kemampuan bekerja sama tanpa paksaan."
Dan memang benar—ada banyak bukti bahwa manusia bisa kooperatif tanpa otoritas sentral.
Tapi Hobbes akan menjawab: "Saya tidak bilang manusia selalu jahat. Saya bilang tidak ada jaminan mereka akan baik. Dan tanpa jaminan, Anda tidak bisa bangun peradaban."
Satu apel busuk bisa merusak seluruh keranjang. Jika ada satu orang yang bersedia menggunakan kekerasan, semua orang harus waspada—dan Anda kembali ke dilema keamanan.
Kritik 2: Kekuasaan Mutlak = Tirani
Ini kritik terbesar: Hobbes memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada penguasa, tanpa checks and balances.
Bagaimana jika penguasa menjadi tiran? Bagaimana jika dia menyalahgunakan kekuasaan?
Hobbes sadar akan ini. Tapi dia berargumen: Tirani individu penguasa masih lebih baik daripada tirani semua orang terhadap semua orang.
Satu tiran bisa membunuh ratusan. Perang saudara bisa membunuh jutaan.
Tapi kritikus tidak puas dengan jawaban ini. Mereka bilang ada alternatif ketiga: pemerintah dengan kekuasaan terbatas, checks and balances, rule of law.
Locke, Montesquieu, dan filsuf liberal lainnya akan mengembangkan ide-ide ini sebagai respon terhadap Hobbes.
Kritik 3: Bagaimana Leviathan Terbentuk?
Hobbes mengatakan kita semua "sepakat" untuk membentuk Leviathan melalui kontrak sosial.
Tapi kapan persetujuan ini terjadi? Tidak ada momen historis di mana semua orang berkumpul dan menandatangani kontrak.
Kebanyakan kita lahir di bawah pemerintah yang sudah ada. Kita tidak pernah ditanya apakah kita setuju.
Hobbes akan bilang ini adalah "kontrak implisit"—dengan menikmati perlindungan negara, Anda secara implisit setuju untuk mematuhi.
Tapi kritikus bertanya: Apakah ini benar-benar persetujuan? Atau hanya rasionalisasi untuk kekuasaan yang sudah ada?
Bagian 6: Relevansi Hari Ini
Failed States dan Keadaan Alamiah
Hobbes tidak hanya teori. Kita bisa melihat "keadaan alamiah" dalam failed states—negara di mana pemerintah runtuh:
Somalia tahun 1990-an: Tidak ada pemerintah pusat. Warlords yang berbeda menguasai wilayah berbeda. Kehidupan menjadi sangat mirip dengan apa yang Hobbes gambarkan—brutal dan pendek.
Syria dalam perang saudara: Ketika otoritas pusat runtuh, berbagai faksi berperang. Kehidupan sipil hancur.
Venezuela hari ini: Ketika institusi negara melemah, kriminalitas meledak. Kehidupan menjadi tidak aman.
Hobbes benar dalam satu hal: Tanpa otoritas yang bisa menegakkan aturan, kehidupan menjadi sangat sulit.
Dilema Antara Keamanan dan Kebebasan
Setiap masyarakat menghadapi trade-off yang Hobbes identifikasi:
Lebih banyak kekuasaan pemerintah = lebih banyak keamanan, tapi kurang kebebasan
Lebih sedikit kekuasaan pemerintah = lebih banyak kebebasan, tapi kurang keamanan
Contoh modern:
- Pengawasan massal untuk mencegah terorisme—aman tapi tidak privat
- Lockdown untuk mencegah pandemi—aman tapi tidak bebas
- Kontrol senjata untuk mencegah pembunuhan—aman tapi membatasi hak
Tidak ada jawaban mudah. Tapi Hobbes memaksa kita mengakui: Ada trade-off. Kita tidak bisa punya keamanan total dan kebebasan total secara bersamaan.
Legitimasi Negara
Pertanyaan Hobbes tetap relevan: Mengapa kita harus mematuhi pemerintah?
Jawaban modern biasanya:
- Karena demokratis (rakyat memilih)
- Karena melindungi hak asasi
- Karena mewakili kehendak rakyat
Tapi Hobbes memberikan jawaban yang lebih fundamental: Karena alternatifnya adalah kekacauan total.
Bahkan dalam demokrasi, otoritas negara pada akhirnya bergantung pada monopoli kekerasan—kemampuan untuk memaksakan hukum.
Bagian 7: Pelajaran untuk Hidup Kita
1. Peradaban Itu Rapuh
Hobbes mengajarkan: Jangan anggap remeh stabilitas sosial.
Kita hidup dalam masyarakat yang relatif damai dan aman. Kita bisa tidur tanpa takut diserang. Kita bisa memiliki properti tanpa 24/7 menjaganya.
Tapi ini bukan keadaan default. Ini adalah hasil dari institusi yang kuat dan otoritas yang bisa menegakkan aturan.
Jika institusi ini runtuh—melalui perang, korupsi, atau kehancuran internal—kita bisa kembali ke keadaan yang mirip dengan keadaan alamiah.
Pertanyaan untuk Anda: Apa yang Anda lakukan untuk memperkuat institusi yang melindungi Anda? Atau Anda hanya menikmatinya tanpa kontribusi?
2. Kepercayaan Memerlukan Struktur
Hobbes benar bahwa kepercayaan saja tidak cukup. Anda memerlukan mekanisme penegakan.
Ini berlaku dalam:
Bisnis: Kontrak tidak berarti apa-apa tanpa sistem hukum yang menegakkannya.
Hubungan: Komitmen lebih kuat ketika ada "biaya" untuk mengkhianati—bukan hanya perasaan.
Masyarakat: Norma sosial bertahan karena ada konsekuensi untuk melanggarnya.
Pertanyaan untuk Anda: Dalam komitmen penting Anda, apa "pedang" yang menegakkannya? Atau hanya "kata-kata"?
3. Trade-off Kebebasan vs Keamanan Adalah Nyata
Hobbes memaksa kita jujur: Anda tidak bisa punya keamanan total tanpa mengorbankan kebebasan.
Setiap kali Anda meminta pemerintah untuk "melakukan sesuatu" tentang masalah—kejahatan, terorisme, pandemi, ketidaksetaraan—Anda meminta lebih banyak kekuasaan untuk negara.
Itu bukan selalu buruk. Tapi Anda harus sadar: Ada harga.
Pertanyaan untuk Anda: Di mana Anda menarik garis antara keamanan dan kebebasan? Berapa banyak kebebasan yang bersedia Anda korbankan untuk keamanan tambahan?
4. Penguasa Buruk vs Tidak Ada Penguasa
Hobbes mengajarkan pilihan yang sulit: Kadang, pemerintah yang buruk masih lebih baik daripada tidak ada pemerintah.
Ini tidak berarti kita harus menerima tirani. Tapi ini berarti kita harus sangat berhati-hati sebelum merobohkan institusi.
Revolusi terdengar heroik. Tapi jika tidak ada rencana yang jelas untuk apa yang datang setelahnya, Anda bisa berakhir dengan sesuatu yang lebih buruk—atau kekacauan total.
Pertanyaan untuk Anda: Ketika Anda kritik pemerintah atau institusi, apakah Anda punya visi konkret untuk pengganti yang lebih baik? Atau hanya ingin merobohkan?
5. Kita Memerlukan Satu Sama Lain
Di akhir, pelajaran Hobbes yang paling mendalam adalah: Kita tidak bisa hidup sendirian.
Individualisme ekstrem adalah fantasi. Dalam realitas, kita memerlukan struktur sosial, otoritas bersama, dan kesediaan untuk membatasi kebebasan kita demi kebaikan bersama.
Ini bukan kelemahan. Ini adalah sifat dasar dari menjadi manusia sosial.
Pertanyaan untuk Anda: Di mana Anda mengorbankan sedikit kebebasan pribadi untuk kebaikan bersama? Dan apakah Anda melakukannya dengan penuh kesadaran atau dengan paksaan?
Penutup: Hidup dengan Monster
Thomas Hobbes memberikan kita gambar yang tidak nyaman tentang sifat dasar manusia dan harga yang harus kita bayar untuk peradaban.
Dia tidak memberikan visi utopis. Dia tidak menjanjikan kebebasan tanpa batas atau pemerintah yang sempurna.
Yang dia tawarkan adalah kejujutan brutal tentang pilihan kita:
Pilihan bukan antara kebebasan dan tirani. Pilihan adalah antara berbagai bentuk pembatasan—yang manakah yang lebih bisa kita terima?
Kita bisa memilih:
- Pembatasan oleh negara yang kuat (Leviathan)
- Atau pembatasan oleh ketakutan konstan dan kekerasan (keadaan alamiah)
Hobbes memilih Leviathan. Dan meskipun kita tidak setuju dengan semua argumennya, sulit untuk menyangkal logikanya: Peradaban memerlukan kekuasaan. Kekuasaan memerlukan otoritas. Otoritas memerlukan kemampuan untuk memaksakan.
Monster yang kita ciptakan—negara dengan monopoli kekerasan yang sah—mungkin tidak sempurna. Tapi dia melindungi kita dari monster yang lebih besar: kekacauan total.
Pertanyaannya bukan apakah kita memerlukan Leviathan.
Pertanyaannya adalah: Leviathan seperti apa yang kita inginkan? Dan bagaimana kita memastikan monster kita tidak memakan kita?
Hobbes tidak punya jawaban sempurna untuk pertanyaan kedua. Tapi dia membuka diskusi yang masih berlanjut hingga hari ini—tentang kekuasaan, legitimasi, dan kontrak yang mendasari setiap masyarakat.
Selamat datang di bawah perlindungan Leviathan. Anda tidak punya pilihan. Tapi Anda punya tanggung jawab untuk memastikan monster ini melayani Anda—bukan sebaliknya.
Tentang Buku Asli
"Leviathan, or The Matter, Forme and Power of a Commonwealth Ecclesiasticall and Civil" diterbitkan pertama kali pada tahun 1651 oleh Thomas Hobbes.
Hobbes (1588-1679) adalah filsuf Inggris yang hidup melalui salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah Inggris—Perang Saudara Inggris (1642-1651) antara Royalis (pendukung raja) dan Parliamentarians.
Pengalaman menyaksikan negara runtuh dan masyarakat beradab berubah menjadi kekacauan sangat mempengaruhi pemikirannya. "Leviathan" ditulis di pengasingan di Paris, di mana Hobbes melarikan diri untuk menghindari kekerasan.
Buku ini segera kontroversial—baik Royalis maupun Parliamentarians tidak menyukainya. Royalis marah karena Hobbes tidak mengklaim raja memerintah dengan hak ilahi. Parliamentarians marah karena Hobbes mengadvokasi kekuasaan mutlak.
Gereja mengutuk buku ini sebagai ateis (meskipun Hobbes mengklaim sebagai Kristen).
Tapi pengaruh "Leviathan" tidak bisa disangkal. Ini menjadi salah satu teks fundamental dalam filsafat politik Barat—mempengaruhi Locke, Rousseau, Kant, dan hampir setiap pemikir politik setelahnya.
Buku asli sangat panjang dan padat—lebih dari 500 halaman dengan argumen yang kompleks. Hobbes menulis dalam gaya prosa abad ke-17 yang indah tapi sulit.
Untuk pemahaman lengkap tentang argumennya yang nuansa, sangat disarankan membaca buku aslinya—atau setidaknya Bagian 1 dan 2, yang berisi argumen inti tentang sifat manusia dan kontrak sosial.
Ringkasan ini menangkap ide-ide utama, tetapi buku lengkapnya memberikan kedalaman argumen, respons terhadap counter-argumen, dan nuansa yang membuat Hobbes menjadi salah satu pemikir paling brilian dan kontroversial dalam sejarah.
Sekarang pergilah dan renungkan: Leviathan seperti apa yang ingin Anda hidupi di bawahnya?
Karena seperti kata Hobbes: Pilihan bukan antara punya penguasa atau tidak. Pilihan adalah penguasa seperti apa—dan berapa banyak kekuasaan yang akan kita berikan padanya.