Skip to main content

The Life Impossible

by Matt Haig · December 2025 · 15 min read

Wanita di Tepi Jurang

Table of contents

Wanita di Tepi Jurang 

Grace Winters, 72 tahun, berdiri di tepi tebing di Yorkshire, Inggris. 

Di bawahnya, laut bergemuruh. Di belakangnya, rumah kosong yang dulu penuh tawa—sekarang hanya penuh dengan hantu kenangan. 

Suaminya meninggal tiga tahun lalu. Putranya jarang menelepon, sibuk dengan kehidupannya sendiri di London. Teman-temannya satu per satu menghilang—ada yang pindah, ada yang sakit, ada yang meninggal. 

Grace merasa seperti sisa-sisa dari kehidupan yang sudah berakhir. Seperti seseorang yang terlambat keluar dari pesta yang sudah selesai. 

"Mungkin ini saatnya," bisiknya pada angin. 

Tapi tepat sebelum dia melangkah lebih dekat ke tebing, ponselnya berbunyi. Email. 

Dari alamat yang tidak dia kenal: christina.morales@ibizamail.es 

Subject: "Grace, aku butuh bantuanmu. Tolong datang." 

Christina. Teman masa mudanya. Sahabatnya dari 50 tahun lalu yang menghilang begitu saja dari hidupnya. Christina yang pindah ke Ibiza dan tidak pernah kembali. 

Grace membuka email itu dengan tangan gemetar. Pesannya singkat, mendesak, misterius. 

Dan dalam hitungan detik, sesuatu berubah. Bukan karena Grace tiba-tiba ingin hidup lagi. Tapi karena rasa ingin tahunya—emosi yang sudah lama mati—tiba-tiba tersulut kembali. 

Tiga hari kemudian, Grace terbang ke Ibiza. Dengan satu koper kecil, uang sedikit, dan tidak ada harapan apa-apa.

Dia tidak tahu bahwa perjalanan ini akan mengubah segalanya. Bahwa di pulau kecil di Mediterania itu, dia akan menemukan sesuatu yang dia pikir sudah hilang selamanya: 

Kehidupan.


Bagian 1: Ketika Hidup Terasa Sudah Berakhir

Anatomi dari Kematian yang Lambat 

Matt Haig memulai novel ini dengan penggambaran yang sangat intim tentang grief—bukan kesedihan yang dramatis, tapi kesedihan yang pelan-pelan menggerogoti kehidupan. 

Grace tidak menangis setiap hari. Dia tidak berteriak atau menghancurkan barang-barang. Dia hanya... berhenti. 

Berhenti memasak makanan yang enak—untuk apa? Tidak ada yang menikmatinya. Berhenti keluar rumah—untuk apa? Tidak ada tempat yang ingin dikunjungi. Berhenti menelepon teman—untuk apa? Mereka punya kehidupan sendiri. 

Dia hidup dalam rutinitas yang sama setiap hari: bangun, teh, TV, tidur. Repeat. "Aku tidak mati," tulisnya dalam jurnal. "Tapi aku juga tidak hidup. Aku hanya... ada." 

Ini adalah kondisi yang Haig sebut "the living death"—secara teknis hidup, tapi tidak benar-benar mengalami kehidupan. 

Pertanyaan yang Menghantui 

Sepanjang novel, Haig mengajukan pertanyaan yang universal: 

"Kapan sudah terlambat untuk memulai lagi?" 

Apakah di usia 40? 50? 60? 70? 

Masyarakat memberitahu kita ada timeline untuk kehidupan: 

  • 20-an: Bangun karir
  • 30-an: Berkeluarga
  • 40-an: Stabilitas
  • 50-an ke atas: Persiapan pensiun dan... tunggu sampai mati?

Grace percaya pada timeline ini. Dia pikir pada usia 72, semua petualangan sudah lewat. Semua pilihan sudah dibuat. Yang tersisa hanya menunggu akhir. 

Tapi Christina membuktikan sebaliknya.


Bagian 2: Ibiza—Pulau yang Tidak Seperti yang Dikira

Ekspektasi vs Realitas 

Grace tiba di Ibiza dengan ekspektasi tertentu: pulau pesta, turis mabuk, musik keras, tempat untuk anak muda yang mencari kesenangan semalam. 

Tapi Christina membawanya ke Ibiza yang lain—pulau tua yang penuh sejarah, desa-desa putih yang tenang di bukit, hutan pinus yang berbisik dengan angin, pantai-pantai tersembunyi yang hanya diketahui penduduk lokal. 

"Ibiza punya dua wajah," kata Christina. "Yang satu untuk turis. Yang satu untuk orang yang benar-benar tinggal di sini." 

Christina sendiri sudah berubah total. Dulu dia gadis pemalu dari Yorkshire yang bermimpi kabur dari kehidupan kecil. Sekarang dia wanita 72 tahun yang berbicara bahasa Spanyol dengan lancar, punya teman dari berbagai negara, berenang di laut setiap pagi, dan hidup di rumah kecil yang penuh dengan lukisan dan tanaman. 

Grace merasa sesuatu yang aneh di dadanya—sesuatu yang belum dia rasakan dalam bertahun-tahun: 

Iri. 

Bukan iri yang toxic. Tapi iri yang sehat—iri yang membisikkan: "Jika dia bisa, mungkin aku juga bisa." 

Undangan yang Sebenarnya 

Tapi ada sesuatu yang Christina tidak ceritakan. 

Dia tidak memanggil Grace hanya untuk reuni nostalgia. Ada alasan yang lebih dalam. Ada misi. 

Christina sakit. Kanker stadium akhir. Dokter memberinya 3-6 bulan. 

Tapi Christina tidak memanggil Grace untuk berduka. Dia memanggilnya untuk hidup

"Aku ingin kamu melihat," kata Christina di malam pertama mereka, duduk di teras menghadap laut. "Aku ingin kamu melihat bahwa tidak pernah terlambat. Bahkan di akhir, masih ada awal."


Bagian 3: Pelajaran dari Laut 

Berenang di Usia 72 

Pagi pertama, Christina membangunkan Grace jam 6. 

"Kita akan berenang," katanya. 

Grace panik. "Aku tidak berenang sejak... entahlah. 20 tahun yang lalu?" "Tubuh ingat," kata Christina. "Seperti mengendarai sepeda." 

Mereka berjalan ke pantai kecil yang sepi. Tidak ada turis. Hanya mereka, pasir, dan laut yang masih gelap. 

Christina masuk duluan—tanpa ragu, tanpa mengeluh tentang dingin, hanya... masuk. 

Grace berdiri di tepi, merasakan air di jari kakinya. Dingin. Menakutkan. Tubuhnya berteriak untuk kembali ke rumah, ke selimut hangat, ke zona aman. 

Tapi dia melihat Christina—wanita dengan kanker stadium akhir—berenang dengan percaya diri di laut. 

Dan Grace berpikir: "Jika dia bisa menghadapi kematian dengan berani, aku bisa menghadapi air dingin." 

Dia masuk. Langkah demi langkah. Dingin menusuk kulitnya. Napasnya tersengal. Tapi kemudian—setelah beberapa menit—sesuatu berubah. 

Tubuhnya menyesuaikan. Dinginnya tidak lagi menyakitkan, hanya... menyegarkan. Dia mulai berenang. Gerakan tangannya kaku di awal, tapi kemudian otot-otot mengingat. 

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Grace merasa hidup

"Laut tidak peduli berapa umurmu," kata Christina ketika mereka keluar. "Laut tidak menghakimi. Laut hanya menerima siapa pun yang berani masuk." 

Metafora yang Lebih Dalam 

Haig menggunakan berenang sebagai metafora powerful untuk menghadapi hidup: 

1. Air dingin = Ketakutan awal Setiap hal baru menakutkan. Setiap perubahan terasa seperti lompatan ke air dingin. Tapi ketakutan itu hanya di permukaan.

2. Berenang = Kepercayaan pada diri sendiri Tubuh ingat bagaimana berenang, bahkan setelah puluhan tahun. Begitu juga dengan kemampuan kita untuk hidup, untuk menikmati, untuk mencoba hal baru—itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya terlupakan. 

3. Laut = Kehidupan yang tidak peduli dengan usia Kehidupan tidak menolak Anda karena usia. Kehidupan menunggu Anda dengan tangan terbuka—Anda yang harus berani masuk.


Bagian 4: Bertemu dengan Orang-Orang yang Tidak Terduga 

Alberto—Pria yang Kehilangan Segalanya 

Di pasar lokal, Grace bertemu Alberto, pria 65 tahun yang menjual ikan. 

Alberto dulunya bankir sukses di Madrid. Mobil mewah, rumah besar, kehidupan yang "sempurna" menurut standar masyarakat. 

Lalu krisis keuangan 2008 menghancurkan segalanya. Dia kehilangan pekerjaan, rumah, pernikahan. 

Pada usia 55 tahun, dia terdampar di Ibiza dengan tidak ada apa-apa. 

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Grace. 

"Aku mulai lagi," jawab Alberto dengan sederhana. "Aku belajar memancing. Aku belajar bahasa baru. Aku belajar hidup dengan lebih sedikit—dan ternyata, aku lebih bahagia daripada sebelumnya." 

Alberto mengajarkan Grace tentang freedom that comes from letting go—kebebasan yang datang dari melepaskan. 

"Ketika kamu kehilangan segalanya," katanya, "kamu bebas menjadi siapa saja."

Lara—Gadis yang Menemukan Diri Sendiri 

Lara, 28 tahun, pelayan di kafe favorit Christina. Gadis dari Jerman yang datang ke Ibiza "untuk liburan" 5 tahun lalu dan tidak pernah kembali. 

"Aku kabur dari pekerjaan kantoran yang membosankan," ceritanya pada Grace. "Semua orang bilang aku gila. Aku punya gaji bagus, apartemen bagus, jalur karir yang jelas. Tapi aku tidak bahagia." 

"Apa yang membuatmu tinggal di sini?" tanya Grace. 

"Aku bangun setiap pagi dan merasa excited dengan hari itu," jawab Lara. "Di Jerman, aku bangun setiap pagi dan merasa mati di dalam." 

Lara mengajarkan Grace tentang courage to choose happiness over security—keberanian memilih kebahagiaan daripada keamanan. 

Pola yang Muncul

Haig sengaja memperkenalkan karakter-karakter yang berbeda usia tapi punya satu kesamaan: 

Mereka semua memilih untuk memulai lagi—dan semua menemukan bahwa tidak pernah terlambat. 

Alberto di usia 55. Christina di usia 50 (ketika pertama pindah). Lara di usia 28. 

Pesan dari Haig: Tidak peduli di usia berapa, selalu ada kesempatan untuk kehidupan yang berbeda.


Bagian 5: Menghadapi Hantu Masa Lalu 

Konfrontasi dengan Penyesalan 

Suatu malam, Christina dan Grace duduk di teras dengan sebotol anggur. "Kamu menyesal tidak datang bersamaku dulu?" tanya Christina. 

50 tahun yang lalu, Christina mengajak Grace untuk pindah ke Ibiza bersama. Mereka berdua muda, bebas, tidak punya komitmen. 

Tapi Grace memilih tetap tinggal. Menikah dengan pria "yang tepat." Punya kehidupan yang "normal." 

"Aku tidak tahu," jawab Grace jujur. "Aku mencintai suamiku. Aku mencintai putraku. Jika aku pergi denganmu, aku tidak akan punya mereka." 

"Tapi kamu juga tidak akan punya semua tahun kesepian ini," kata Christina lembut. Grace diam.

Pertanyaan itu menghantui: Apakah dia membuat pilihan yang benar?

Pelajaran tentang Jalan yang Tidak Diambil 

Haig menulis dengan sangat indah tentang konsep "jalan yang tidak diambil": 

"Kita tidak bisa hidup semua kehidupan yang mungkin. Kita harus memilih. Dan setiap pilihan berarti meninggalkan kemungkinan lain." 

Grace memilih kehidupan yang stabil, aman, konvensional—dan dia dapat cinta, keluarga, kenangan indah. Tapi dia juga dapat rutinitas yang membosankan, kehilangan yang menyakitkan, dan kesepian di akhir. 

Christina memilih kehidupan yang bebas, petualangan, tidak konvensional—dan dia dapat pengalaman luar biasa, persahabatan dari seluruh dunia, kehidupan yang penuh warna. Tapi dia juga tidak punya keluarga, tidak punya anak, dan menghadapi kematian sendirian. 

Tidak ada pilihan yang sempurna. 

Tapi pelajaran yang Grace pelajari: Meskipun kamu tidak bisa ubah pilihan masa lalu, kamu masih bisa membuat pilihan baru hari ini.


Bagian 6: Menemukan Keajaiban dalam Hal Biasa

Filosofi Christina tentang Kehidupan 

"Kebanyakan orang mencari keajaiban di tempat yang salah," kata Christina suatu hari ketika mereka berjalan di hutan. 

"Mereka pikir keajaiban itu harus luar biasa: memenangkan lotre, bertemu belahan jiwa, mendapat promosi besar. Jadi mereka menunggu keajaiban besar dan melewatkan keajaiban kecil yang terjadi setiap hari." 

Christina menunjukkan: 

  • Cara cahaya matahari menembus dedaunan pinus
  • Suara burung yang berbeda-beda di pagi hari
  • Rasa tomat segar yang baru dipetik
  • Sentuhan angin di kulit
  • Aroma laut yang asin

"Ini semua keajaiban," katanya. "Tapi kita terlalu sibuk mencari yang 'besar' sampai kita buta pada yang 'kecil.'" 

Grace Belajar Melihat Lagi 

Awalnya Grace skeptis. Ini terdengar seperti self-help cliché: "appreciate the little things." 

Tapi kemudian dia mulai berlatih. Setiap hari, dia mencatat satu hal kecil yang membuat dia merasa hidup: 

  • Rasa kopi pagi yang sempurna
  • Senyuman dari stranger di pasar
  • Warna sunset yang tidak pernah sama dua kali
  • Perasaan pasir di bawah kaki
  • Tawa spontan dengan Christina

Dan setelah seminggu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya: 

"Aku tidak lebih bahagia karena situasiku berubah. Aku lebih bahagia karena persepsiku berubah." 

Hidupnya masih punya masalah. Dia masih janda. Dia masih tua. Dia masih punya sakit di lutut dan punggung. 

Tapi dia mulai melihat kehidupan bukan sebagai sesuatu yang "sudah lewat" tapi sebagai sesuatu yang "masih terjadi."


Bagian 7: Ketika Kematian Mengajarkan Tentang Hidup

Christina Memburuk 

Minggu ketiga, Christina mulai lebih sering lelah. Dia tetap berenang, tapi tidak selama biasanya. Dia tetap tertawa, tapi kadang diselingi grimace dari rasa sakit. 

Grace panik. "Kita harus ke rumah sakit. Kita harus—" 

"Tidak," potong Christina. "Aku tidak mau menghabiskan sisa waktuku di rumah sakit. Aku mau menghabiskannya di sini. Dengan kamu. Di laut. Di bawah matahari." 

Grace tidak tahu harus berkata apa. Bagian dari dirinya ingin memaksa Christina ke dokter. Tapi bagian lain—bagian yang mulai belajar menghormati pilihan orang lain—mengerti. 

Christina tidak menyerah pada hidup. Dia memilih bagaimana hidup sisa waktu yang dia punya. 

Percakapan Terakhir di Tepi Laut 

Suatu sore, mereka duduk di pantai favorit Christina—tempat yang sepi, dikelilingi tebing, hanya bisa diakses dengan jalan setapak kecil. 

"Kamu takut?" tanya Grace. 

"Pada kematian? Kadang. Tapi tidak seperti dulu," jawab Christina. "Dulu aku pikir kematian adalah akhir dari segalanya. Sekarang aku pikir kematian hanya... bagian dari segalanya." 

Dia mengambil segenggam pasir dan membiarkannya jatuh melalui jari-jarinya. 

"Lihat. Setiap butir pasir ini dulunya adalah batu. Batu-batu besar yang pecah menjadi kecil melalui waktu, ombak, angin. Apakah batu itu 'mati' ketika jadi pasir? Atau hanya... berubah bentuk?" 

Grace tidak punya jawaban. Tapi dia mulai memahami sesuatu tentang 

impermanence—tentang bagaimana segala sesuatu berubah, dan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti. 

Pelajaran dari Kematian Christina 

Haig menggunakan karakter Christina untuk mengajarkan paradoks yang indah:

Menghadapi kematian dengan berani membuat kita lebih hidup.

Christina tidak menghabiskan waktu terakhirnya dengan menyesali masa lalu atau takut pada masa depan. Dia hadir. Dia menikmati setiap momen—berenang, tertawa, makan, berbicara, diam. 

"Kebanyakan orang hidup seperti mereka punya waktu selamanya," kata Christina. "Jadi mereka menunda-nunda. Besok aku akan traveling. Tahun depan aku akan mulai hobi baru. Nanti aku akan bilang 'aku cinta' pada orang yang aku sayangi." 

"Tapi besok tidak dijamin. Tahun depan tidak dijamin. Nanti mungkin tidak pernah datang."

"Jadi kamu harus hidup sekarang. Atau tidak sama sekali."


Bagian 8: Transformasi Grace 

Keputusan Besar 

Tiga minggu setelah tiba di Ibiza, Grace harus memutuskan: pulang ke Yorkshire atau tinggal. 

Christina sudah memberinya hadiah—bukan harta, tapi perspektif. Tapi apakah perspektif cukup untuk mengubah hidup? 

Grace duduk di teras, membuat daftar: 

Alasan untuk Pulang: 

  • Rumah yang familiar
  • Kenangan dengan suami
  • Dekat dengan putra (meski jarang ketemu)
  • Zona nyaman

Alasan untuk Tinggal: 

  • Hidup yang baru
  • Laut setiap pagi
  • Teman-teman baru
  • Merasa hidup lagi

Dia menyadari daftar kedua lebih pendek—tapi jauh lebih powerful. 

Telepon dengan Putranya 

"Mum, kamu gila," kata putranya ketika Grace menelepon memberitahu keputusannya. 

"Kamu 72 tahun. Kamu tidak bisa hanya... pindah ke negara lain. Kamu tidak bicara bahasa Spanyol. Kamu tidak punya pekerjaan. Apa yang akan kamu lakukan?" 

Grace tersenyum. "Aku akan hidup, sayang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku akan benar-benar hidup." 

Silence di ujung telepon. 

"Tapi Mum—" 

"Aku tahu ini terdengar gila," potong Grace. "Tapi yang lebih gila adalah menghabiskan sisa hidupku di rumah yang penuh hantu, menunggu sampai aku cukup tua untuk panti jompo atau cukup sakit untuk rumah sakit."

"Christina mengajariku sesuatu: tidak pernah terlambat untuk memulai lagi. Bahkan di 72. Bahkan ketika semua orang bilang kamu sudah selesai." 

Christina Meninggal 

Empat minggu setelah Grace tiba, Christina meninggal—dengan damai, di rumahnya, dengan Grace memegang tangannya. 

Kata-kata terakhir Christina: "Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah mau belajar." Grace menangis—tapi bukan tangisan despair. Tangisan gratitude. 

Christina tidak hanya memberikan beberapa minggu terakhirnya pada Grace. Dia memberikan sisa hidup Grace.


Penutup: The Life Impossible—Yang Sebenarnya Sangat Mungkin 

Enam Bulan Kemudian 

Grace masih di Ibiza. Dia tinggal di rumah kecil Christina (yang Christina wariskan padanya). Setiap pagi jam 6, dia berenang di laut—sekarang tanpa takut, dengan kepercayaan. 

Dia belajar bahasa Spanyol dari Lara. Dia membantu Alberto di pasar ikan dua kali seminggu. Dia mulai melukis—sesuatu yang tidak dia lakukan sejak sekolah seni 50 tahun lalu. 

Hidupnya tidak sempurna. Dia masih kesepian kadang-kadang. Dia masih rindu suami. Dia masih punya hari-hari sulit. 

Tapi dia hidup

Surat untuk Pembaca 

Di akhir novel, Haig menulis (melalui suara Grace): 

"Orang bilang beberapa hal dalam hidup mustahil. Terlambat untuk memulai karir baru. Terlambat untuk belajar bahasa baru. Terlambat untuk jatuh cinta lagi. Terlambat untuk petualangan." 

"Tapi aku belajar sesuatu di pulau kecil ini: Satu-satunya yang benar-benar mustahil adalah hidup jika kamu tidak berani mencoba." 

"Kehidupan yang impossible—yang semua orang bilang tidak bisa kamu lakukan—sebenarnya adalah kehidupan yang paling mungkin. Kalau saja kamu berani melangkah." 

Pelajaran Universal dari Matt Haig 

Matt Haig, yang sendiri pernah struggle dengan depresi dan suicide ideation, menulis buku ini sebagai love letter untuk siapa saja yang merasa stuck: 

1. Usia hanyalah angka Grace 72 tahun memulai hidup baru. Alberto 55 tahun membangun karir baru. Tidak ada deadline untuk kehidupan. 

2. Grief bukan akhir Kehilangan adalah bagian dari hidup. Tapi kamu bisa survive kehilangan dan menemukan kebahagiaan lagi—bukan menggantikan yang hilang, tapi menemukan yang baru.

3. Keberanian adalah pilihan Christina tidak lebih berani dari Grace secara alami. Dia hanya memilih untuk berani—dan pilihan itu tersedia untuk siapa saja. 

4. Kebahagiaan ada di hal-hal sederhana Bukan di pencapaian besar. Bukan di harta. Tapi di laut pagi, kopi hangat, teman yang peduli, sunset yang indah. 

5. Tidak pernah terlambat Sampai napas terakhir, selalu ada kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru, merasakan sesuatu yang berbeda, menjadi seseorang yang lebih hidup. 

Pertanyaan untuk Anda 

Matt Haig menutup bukunya dengan pertanyaan yang menggantung: 

"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu tidak ada kata terlambat?" 

Karir apa yang akan Anda kejar? Negara mana yang akan Anda tinggali? Hobi apa yang akan Anda pelajari? Hubungan mana yang akan Anda perbaiki? Impian mana yang akan Anda wujudkan? 

Kebanyakan orang tidak melakukan hal-hal itu bukan karena benar-benar mustahil. Tapi karena mereka percaya pada batasan yang sebenarnya tidak ada. 

Grace percaya dia terlalu tua—sampai Christina membuktikan sebaliknya.

Apa batasan palsu yang Anda percaya tentang hidup Anda? 

Dan yang lebih penting: Apa yang akan Anda lakukan hari ini untuk mulai membuktikan batasan itu salah?


Tentang Buku Asli 

"The Life Impossible" diterbitkan pada tahun 2024 sebagai novel terbaru Matt Haig. 

Matt Haig adalah penulis Inggris yang terkenal dengan novel-novelnya yang mengeksplorasi tema mental health, meaning of life, dan human connection. Buku-buku terkenalnya termasuk "The Midnight Library" (2020), "Reasons to Stay Alive" (2015), dan "How to Stop Time" (2017). 

Haig sendiri pernah mengalami depresi berat dan breakdown mental di usia 24 tahun. Pengalaman itu membentuk tulisan-tulisannya yang selalu mengeksplorasi pertanyaan: "Bagaimana kita menemukan meaning dan kebahagiaan dalam hidup yang sulit?" 

"The Life Impossible" adalah eksplorasi tentang ageism—bagaimana masyarakat (dan kita sendiri) membatasi orang-orang tua dari menjalani kehidupan yang penuh. Haig menantang asumsi bahwa kehidupan "selesai" di usia tertentu. 

Untuk pemahaman lengkap tentang journey Grace dan keindahan prosa Matt Haig, sangat disarankan membaca buku aslinya. Haig menulis dengan cara yang sangat personal, puitis, dan menyentuh hati—kualitas yang sulit ditangkap sepenuhnya dalam ringkasan. 

Buku ini cocok untuk siapa saja yang: 

  • Merasa stuck dalam hidup mereka
  • Berpikir sudah "terlambat" untuk perubahan
  • Menghadapi kehilangan dan kesedihan
  • Mencari inspirasi untuk memulai lagi
  • Ingin reminder bahwa kehidupan selalu punya kemungkinan baru

Sekarang pergilah dan lakukan sesuatu yang "impossible." 

Karena seperti yang Christina ajarkan pada Grace: "Satu-satunya hal yang benar-benar mustahil adalah hidup yang tidak pernah kamu coba jalani." 

Mulai sekarang. Mulai hari ini. 

Laut menunggu.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Dream Count
Back to top

Similar books