The Light Between Us
by Laura Lynne Jackson · December 2025 · 15 min read
Malam yang Mengubah Segalanya
Table of contents
Malam yang Mengubah Segalanya
Laura Lynne Jackson berusia 26 tahun, duduk di ruang tamu rumahnya di Long Island, New York. Di hadapannya duduk seorang wanita bernama Christine yang baru saja kehilangan anaknya dalam kecelakaan tragis.
Christine datang karena putus asa. Dia mendengar Laura punya "kemampuan khusus"—kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang yang telah meninggal. Dia skeptis. Tapi rasa sakitnya lebih besar dari skeptisisme.
Laura menutup mata. Tarik napas dalam. Dan kemudian...
"Saya melihat anak laki-laki. Rambut coklat keriting. Dia menunjukkan sesuatu di lehernya... seperti kalung? Tidak, medali. Ada inisial 'C.M.' Dia bilang kamu memakai medalinya setiap hari sejak dia pergi."
Christine tersentak. Matanya berkaca-kaca.
"Dia ingin kamu tahu... dia tidak kesakitan. Dia bilang 'quick'—semuanya terjadi sangat cepat. Dan dia bilang... ada seseorang bernama 'Gigi'? Atau bunyi mirip itu? Dia bilang Gigi menunggunya."
Christine pecah menangis. "Gigi adalah neneknya. Dia sangat dekat dengan Gigi. Kami memanggilnya dengan nama itu sejak dia balita."
Selama satu jam berikutnya, Laura menyampaikan pesan demi pesan—detail spesifik yang tidak mungkin dia tahu. Tentang jersey baseball yang dikubur bersama anaknya. Tentang boneka beruang di dashboard mobil Christine. Tentang lagu yang Christine putar berulang-ulang.
Ketika Christine pergi malam itu, dia tidak hanya meninggalkan rumah Laura. Dia meninggalkan beban duka yang menghancurkan. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dia tersenyum.
Dan Laura? Dia menangis sepanjang malam—bukan karena sedih, tapi karena akhirnya dia mengerti mengapa dia diberikan kemampuan ini.
Selama bertahun-tahun, Laura menyembunyikan kemampuannya. Dia seorang guru sekolah. Ibu dari tiga anak. Orang "normal" yang tidak ingin dianggap aneh. Dia takut dihakimi. Takut tidak dipercaya.
Tapi malam itu, melihat transformasi Christine—dari putus asa menjadi damai—Laura membuat keputusan yang mengubah hidupnya:
Dia akan menggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan, bukan menyembunyikannya karena takut.
"The Light Between Us" adalah hasil dari keputusan itu. Buku ini bukan tentang meyakinkan Anda untuk percaya pada kehidupan setelah kematian. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih universal:
Kita semua terhubung oleh cahaya—energi cinta yang tidak pernah mati. Dan jika kita membuka diri, kita bisa merasakan koneksi itu setiap hari.
Mari kita mulai.
Bagian 1: The Light—Benang yang Menghubungkan Kita Semua
Apa Itu "The Light"?
Laura menggambarkan The Light sebagai energi universal yang menghubungkan setiap jiwa yang pernah ada—yang masih hidup dan yang telah meninggal.
Bayangkan jaringan cahaya tak terlihat yang merentang ke segala arah. Setiap orang adalah titik cahaya dalam jaringan ini. Ketika seseorang meninggal, cahaya mereka tidak padam—ia hanya berpindah ke frekuensi berbeda.
Seperti radio: hanya karena Anda tidak bisa mendengar stasiun FM 101.5 saat radio Anda di 98.7, bukan berarti stasiun itu tidak ada. Anda hanya perlu mengubah frekuensi.
Laura percaya bahwa kematian hanyalah transisi dari satu bentuk energi ke bentuk lain. Jiwa tidak mati. Cinta tidak berhenti. Koneksi tetap ada—hanya dalam bentuk yang berbeda.
Bukti Ilmiah? Ya.
Laura bukan hanya bergantung pada kepercayaan. Dia telah diuji oleh Windbridge Research Center dan Forever Family Foundation—lembaga yang meneliti fenomena mediumship secara ilmiah.
Dalam tes double-blind (di mana baik Laura maupun peneliti tidak tahu identitas klien), Laura memberikan informasi spesifik yang akurat lebih dari 90% waktu. Informasi yang tidak mungkin dia dapat melalui tebakan atau cold reading.
Contoh: Dia menggambarkan detail spesifik—nama, tanggal lahir, penyebab kematian, kenangan pribadi—untuk orang yang bahkan tidak pernah dia lihat fotonya.
Dr. Julie Beischel, direktur Windbridge, berkesimpulan: "Ada fenomena nyata yang terjadi di sini yang layak dipelajari."
Tapi Laura tidak ingin fokus pada "membuktikan" kemampuannya. Dia ingin fokus pada apa yang kita semua bisa pelajari dari koneksi ini.
Bagian 2: Pesan dari Sisi Lain—Apa yang Orang yang Meninggal Ingin Kita Tahu
Pesan #1: "Kami Tidak Pernah Benar-benar Pergi"
Pesan paling konsisten yang Laura terima dari orang yang telah meninggal adalah ini:
"Kami masih di sini. Kami masih mencintaimu. Kami masih bersama dalam perjalanan hidupmu."
Laura menceritakan kisah Jennifer, yang kehilangan ayahnya dalam serangan jantung mendadak. Tidak ada kesempatan untuk pamit. Tidak ada kata-kata terakhir.
Dalam reading, ayah Jennifer datang dengan pesan:
"Dia mengatakan dia tahu tentang keputusanmu untuk kembali ke sekolah. Dia bilang dia bangga. Dan dia ingin kamu tahu bahwa di hari kelulusanmu nanti, jika kamu mencium aroma cerutu—itu dia. Dia akan ada di sana."
Jennifer terisak. Ayahnya selalu merokok cerutu di perayaan keluarga.
Dua tahun kemudian, Jennifer mengirim email: "Hari kelulusanku, tidak ada yang merokok di auditorium. Tiba-tiba aku mencium aroma cerutu yang kuat. Aku tahu itu Ayah. Dan aku tidak pernah merasa sendirian sejak saat itu."
Pelajaran: Orang yang kita cintai yang telah meninggal tidak meninggalkan kita. Mereka hadir dalam momen-momen penting kita—jika kita membuka mata dan hati untuk melihat.
Pesan #2: "Cinta Adalah Satu-satunya yang Abadi"
Laura melakukan ribuan reading. Tidak pernah—tidak pernah—ada jiwa yang datang dengan pesan: "Aku menyesal tidak menghasilkan lebih banyak uang" atau "Aku berharap aku punya rumah lebih besar."
Pesan-pesan yang datang selalu tentang cinta dan hubungan:
- "Katakan pada istriku aku mencintainya."
- "Beritahu anakku aku bangga padanya."
- "Minta maaf pada adikku untuk pertengkaran kita."
- "Terima kasih pada teman-temanku yang datang ke pemakamanku."
Pada akhirnya, hanya cinta yang bertahan melampaui kematian.
Segalanya yang lain—uang, status, kepemilikan, bahkan dendam dan kebencian—menguap ketika kita meninggalkan tubuh fisik.
Pelajaran: Jika hanya cinta yang abadi, mengapa kita menghabiskan begitu banyak waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak abadi?
Pesan #3: "Tidak Ada yang Kebetulan"
Salah satu reading paling mengharukan Laura adalah dengan Sarah, yang kehilangan suaminya, Tom, dalam kecelakaan kerja.
Tom mengirim pesan: "Katakan pada Sarah untuk perhatikan kardinal merah. Aku akan mengiriminya kardinal."
Sarah bingung. "Kami tidak pernah bicara tentang burung."
Tapi minggu berikutnya, Sarah melihat kardinal merah di jendela kamarnya—hal yang tidak biasa untuk musim itu. Lalu lagi. Dan lagi. Setiap hari selama dua minggu.
Kemudian Sarah menemukan sesuatu: di laci meja Tom, ada kartu ulang tahun yang belum diberikan. Di sampulnya ada gambar kardinal merah. Di dalam, tulisan tangan Tom: "Untuk Sarah-ku, cintaku selamanya. Seperti burung ini yang selalu kembali ke sarangnya, aku akan selalu kembali padamu."
Sarah pecah menangis. Tom sudah memberikan tanda—bahkan sebelum dia meninggal.
Pelajaran: Tanda-tanda ada di mana-mana. "Kebetulan" sering kali adalah cara alam semesta—dan orang yang kita cintai—berbicara dengan kita.
Bagian 3: Tanda-tanda dari Alam Lain
Bagaimana Tanda-tanda Datang?
Laura mengajarkan bahwa orang yang telah meninggal berkomunikasi dengan kita melalui tanda-tanda. Ini bisa berupa:
1. Sensasi Fisik
- Merasa kehadiran seseorang di ruangan
- Sentuhan lembut di bahu atau tangan
- Merinding tiba-tiba tanpa sebab
- Aroma yang mengingatkan pada mereka (parfum, makanan favorit, asap cerutu)
2. Tanda Visual
- Binatang atau burung yang muncul berulang kali
- Lampu yang berkedip
- Menemukan benda yang hilang di tempat yang sudah dicari berkali-kali
- Mimpi yang sangat vivid dan terasa nyata
3. Pesan Simbolis
- Lagu tertentu yang tiba-tiba diputar
- Lirik yang tepat di waktu yang tepat
- Nomor atau tanggal yang berulang (11:11, tanggal lahir mereka)
- Kata-kata atau nama yang muncul berulang
Kisah Kupu-kupu Kuning
Laura menceritakan pengalamannya sendiri dengan kakeknya yang telah meninggal.
Setelah kakeknya meninggal, Laura meminta tanda. "Kakek, jika kamu bisa mendengarku, tolong kirim tanda yang jelas."
Hari berikutnya, Laura berjalan di taman dengan anak-anaknya. Seekor kupu-kupu kuning besar mendarat di bahunya—dan tidak terbang pergi. Dia berjalan sepuluh menit dengan kupu-kupu itu di bahunya.
"Mungkin kebetulan," pikirnya.
Tapi kemudian anaknya berkata: "Mama, lihat!" Lima kupu-kupu kuning lain mengelilingi mereka. Mereka tidak terbang menjauh—mereka seperti menari di sekitar keluarga.
Sejak itu, setiap kali Laura meragukan dirinya atau merasa sendiri, kupu-kupu kuning muncul. Di kota. Di musim dingin. Di tempat-tempat yang tidak masuk akal.
Pelajaran: Minta tanda. Kemudian buka mata dan hati untuk melihatnya. Jangan dismiss sebagai kebetulan.
Mengapa Kita Melewatkan Tanda?
Laura menjelaskan bahwa kita sering melewatkan tanda karena:
1. Kita terlalu sibuk. Pikiran kita penuh dengan to-do list, kekhawatiran, distraksi. Kita tidak hadir.
2. Kita terlalu rasional. Kita dismiss semua yang tidak bisa dijelaskan secara logis sebagai "kebetulan" atau "imajinasi."
3. Kita tidak percaya kita layak. Kita pikir orang yang kita cintai tidak akan repot-repot menghubungi kita.
Kebenaran: Tanda-tanda selalu ada. Kita hanya perlu melambat dan memperhatikan.
Bagian 4: Pelajaran dari Reading—Apa yang Laura Pelajari
Lesson #1: Hidup Dengan Tujuan
Konsep "soul contract"—ide bahwa jiwa kita memilih pelajaran tertentu untuk dipelajari dalam kehidupan ini.
Laura percaya bahwa sebelum kita lahir, jiwa kita membuat perjanjian: "Dalam kehidupan ini, aku akan belajar tentang pengampunan" atau "Aku akan belajar tentang kekuatan melalui kesulitan."
Ini tidak berarti Tuhan "menghukum" kita dengan kesulitan. Ini berarti jiwa kita memilih tantangan karena itulah cara kita tumbuh.
Contoh: Seorang wanita bernama Maria kehilangan kedua orang tuanya muda. Dia bertanya pada Laura: "Mengapa aku? Apa yang aku lakukan untuk pantas ini?"
Dalam reading, ibunya datang dengan pesan: "Kamu tidak melakukan apa pun yang salah. Ini adalah jalan yang kita pilih bersama—untukmu belajar kekuatan, untuk hidup dengan tujuan lebih besar dari sekadar menjalani hidup yang nyaman."
Sepuluh tahun kemudian, Maria mendirikan yayasan untuk anak-anak yatim piatu yang telah membantu ribuan anak. "Tanpa kehilangan, aku tidak akan pernah menemukan tujuanku," katanya.
Pelajaran: Kesulitan bukan hukuman. Itu adalah undangan untuk menemukan kekuatan dan tujuan yang lebih dalam.
Lesson #2: Pengampunan Membebaskan Kita, Bukan Mereka
Laura sering melakukan reading di mana orang yang meninggal meminta maaf:
"Katakan padanya aku minta maaf atas apa yang aku lakukan." "Aku berharap bisa mengubah segalanya." "Tolong maafkan aku."
Dan yang mengejutkan: Orang yang masih hidup yang sering kali tidak bisa melepaskan dendam.
Laura menceritakan tentang Michael, yang tidak pernah berbicara dengan ayahnya selama 15 tahun terakhir hidupnya karena konflik keluarga. Ayahnya meninggal sebelum mereka berdamai.
Dalam reading, ayahnya datang dengan pesan penuh penyesalan. Meminta maaf. Mengatakan dia mencintai Michael.
Tapi Michael tetap marah. "Terlambat. Dia harus minta maaf saat masih hidup."
Laura lembut berkata: "Dia meminta maaf sekarang. Pertanyaannya: apakah kamu akan terus membawa kemarahan ini, atau kamu akan membebaskan dirimu sendiri?"
Pelajaran: Pengampunan bukan tentang membiarkan orang lain "lolos." Pengampunan adalah tentang membebaskan diri sendiri dari beban yang kamu bawa.
Lesson #3: Katakan "Aku Cinta Kamu" Hari Ini
Berulang kali, Laura mendengar penyesalan yang sama dari jiwa yang telah meninggal:
"Aku berharap aku lebih sering bilang aku cinta kamu." "Aku berharap aku menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka." "Aku berharap mereka tahu betapa berartinya mereka bagiku."
Tidak ada yang pernah menyesali terlalu banyak mencintai.
Laura bertanya pada pembacanya: "Jika orang yang kamu cintai meninggal besok, apa yang akan kamu sesali karena tidak pernah kamu katakan?"
Lalu dia berkata: "Sekarang katakan itu. Hari ini. Jangan tunggu."
Bagian 5: Mengembangkan Intuisi Anda
Kita Semua Memiliki Kemampuan Ini
Laura menekankan: Dia bukan "special." Dia hanya mengembangkan kemampuan yang kita semua miliki.
Setiap orang lahir dengan intuisi—gut feeling, firasat, "tahu" sesuatu tanpa tahu bagaimana kita tahu.
Tapi kebanyakan dari kita mematikan kemampuan ini karena:
- Kita diajarkan untuk hanya percaya pada logika
- Kita takut salah
- Kita dismiss intuisi sebagai "hanya perasaan"
Latihan untuk Membuka Intuisi
Latihan 1: Morning Meditation
Setiap pagi, luangkan 5 menit untuk duduk dalam keheningan.
- Tutup mata
- Tarik napas dalam
- Bayangkan cahaya putih mengitari tubuh Anda
- Katakan: "Aku terbuka untuk menerima bimbingan dan tanda hari ini."
Latihan 2: Intuition Journal
Setiap kali Anda mendapat gut feeling tentang sesuatu—tulis. Lalu lihat apa yang terjadi. Apakah intuisi Anda benar?
Dengan waktu, Anda akan belajar membedakan antara ketakutan (suara keras, panik) dan intuisi (suara lembut, tenang tapi yakin).
Latihan 3: Ask for a Sign
Bicara dengan orang yang Anda cintai yang telah meninggal. Tidak perlu keras—dalam hati juga bisa.
"Jika kamu bisa mendengarku, tolong kirim tanda. Sesuatu yang jelas. Sesuatu yang aku akan tahu itu dari kamu."
Lalu buka mata Anda. Dalam beberapa hari atau minggu, perhatikan apa yang terjadi.
Latihan 4: Dream Journaling
Mimpi adalah cara paling umum orang yang meninggal berkomunikasi dengan kita.
Simpan buku dan pena di samping tempat tidur. Setiap kali bangun dari mimpi—langsung tulis. Jangan tunggu sampai pagi karena detail akan hilang.
Lihat pola: apakah orang tertentu sering muncul? Pesan apa yang mereka bawa?
Percayai Diri Anda
Laura berkata: "Hal terburuk yang bisa terjadi adalah kamu salah. Tapi hal terbaik yang bisa terjadi adalah kamu menemukan koneksi yang mengubah hidupmu."
Jangan biarkan ketakutan akan kesalahan menghalangi Anda dari mengalami keajaiban.
Bagian 6: Hidup dengan Kesadaran akan The Light
Shift dalam Perspektif
Setelah bertahun-tahun melakukan reading, Laura hidup dengan kesadaran konstan:
Kita tidak sendirian. Kita tidak pernah sendirian.
Setiap keputusan yang kita buat, setiap tantangan yang kita hadapi, setiap momen sukacita dan kesedihan—kita dikelilingi oleh cinta dari sisi lain.
Kesadaran ini mengubah cara dia hidup:
Sebelum: Khawatir tentang hal-hal kecil. Stres tentang hal yang tidak penting.
Setelah: Fokus pada yang benar-benar penting—cinta, koneksi, kebaikan.
Sebelum: Takut mati. Takut kehilangan orang yang dicintai.
Setelah: Memahami bahwa cinta tidak pernah mati. Koneksi tetap ada selamanya.
Pertanyaan yang Mengubah Hidup
Laura mengakhiri setiap hari dengan pertanyaan:
"Apakah hari ini aku hidup dengan cara yang membuat orang yang aku cintai—di sisi ini dan sisi lain—bangga?"
Bukan tentang pencapaian besar. Tapi tentang:
- Apakah aku baik pada orang lain?
- Apakah aku menunjukkan cinta pada keluargaku?
- Apakah aku hidup dengan tujuan atau sekadar melewati hari?
- Apakah aku membuat perbedaan, sekecil apa pun?
Penutup: Cahaya yang Tidak Pernah Padam
Laura menutup buku dengan kisah yang membawa kita kembali ke awal:
Christine—wanita yang kehilangan anaknya, yang datang pada Laura sepuluh tahun lalu dalam keputusasaan.
Mereka tetap berhubungan. Dan sepuluh tahun kemudian, Christine menulis surat:
"Laura, terima kasih karena memberi aku hadiah untuk terus hidup. Karena percakapan kita, aku tahu anakku masih bersamaku. Aku merasakan tandanya setiap hari—dalam lagu yang diputar, dalam mimpi, dalam kupu-kupu yang hinggap di taman.
Aku tidak akan bilang rasa sakitnya hilang. Tapi aku tidak lagi merasa sendirian dalam rasa sakit itu. Dan aku menemukan tujuan—aku sekarang bekerja dengan orang tua lain yang kehilangan anak, membantu mereka menemukan cahaya di tengah kegelapan.
Kamu tidak hanya menyelamatkan hidupku. Kamu mengajarkanku untuk hidup dengan cara yang berbeda—dengan mata terbuka untuk tanda, dengan hati terbuka untuk cinta, dengan kesadaran bahwa kita semua terhubung oleh sesuatu yang lebih besar."
Ini adalah pesan inti dari "The Light Between Us":
Kematian bukan akhir. Cinta tidak pernah mati. Kita semua terhubung oleh cahaya—cahaya yang melampaui waktu, ruang, bahkan kematian itu sendiri.
Undangan untuk Anda
Laura tidak meminta Anda untuk "percaya" pada kemampuannya. Dia meminta sesuatu yang lebih sederhana dan lebih dalam:
Buka diri Anda untuk kemungkinan.
Kemungkinan bahwa orang yang Anda cintai yang telah meninggal masih bersama Anda. Kemungkinan bahwa tanda yang Anda dismiss sebagai "kebetulan" sebenarnya adalah pesan. Kemungkinan bahwa intuisi Anda lebih kuat dari yang Anda kira. Kemungkinan bahwa hidup ini memiliki tujuan yang lebih besar.
Coba ini:
1. Hari ini, bicara dengan seseorang yang Anda cintai yang telah meninggal. Tidak perlu formal. Hanya bicara seperti Anda dulu bicara dengan mereka. Katakan apa yang ada di hati Anda.
2. Minta tanda. Spesifik jika Anda mau. "Kirim kupu-kupu" atau "Biarkan lagu tertentu diputar." Lalu perhatikan.
3. Katakan "Aku cinta kamu" hari ini kepada orang yang penting bagi Anda. Jangan tunggu "waktu yang tepat." Waktu yang tepat adalah sekarang.
4. Tanyakan pada diri sendiri: "Apa tujuanku di sini?" Bukan karir atau pencapaian—tapi mengapa jiwa Anda memilih kehidupan ini? Pelajaran apa yang Anda di sini untuk belajar?
5. Hidup dengan kesadaran bahwa Anda tidak sendirian. Dalam momen sukacita maupun momen kesulitan, bagikan dengan orang yang Anda cintai di sisi lain.
Pesan Terakhir
Seperti yang Laura tulis:
"Cahaya yang menghubungkan kita semua tidak pernah padam. Bahkan dalam kegelapan terdalam, bahkan dalam duka terdalam, cahaya itu tetap ada—mengingatkan kita bahwa cinta tidak pernah berakhir, bahwa kita tidak pernah benar-benar kehilangan siapa pun yang kita cintai, dan bahwa kehidupan ini—dan kehidupan setelahnya—adalah tentang satu hal: cinta."
Jadi tutup mata Anda sebentar.
Tarik napas dalam.
Rasakan cahaya di sekitar Anda—cahaya dari setiap orang yang pernah mencintai Anda, yang masih hidup dan yang sudah meninggal.
Mereka semua di sini. Sekarang. Selalu.
Dan Anda tidak pernah, tidak akan pernah, sendirian.
Tentang Buku Asli
"The Light Between Us: Stories from Heaven, Lessons for the Living" diterbitkan pada tahun 2015 dan langsung menjadi bestseller New York Times.
Laura Lynne Jackson adalah psychic medium yang telah disertifikasi oleh Windbridge Research Center dan Forever Family Foundation—lembaga yang menggunakan metode ilmiah untuk meneliti fenomena mediumship.
Sebelum menjadi medium full-time, Laura adalah guru sekolah menengah yang menyembunyikan kemampuannya karena takut dihakimi. Butuh bertahun-tahun—dan dorongan dari orang-orang yang telah meninggal sendiri—untuk dia akhirnya menerima "gift"-nya dan menggunakannya untuk membantu orang lain.
Buku ini adalah kombinasi dari:
- Kisah-kisah personal dari reading yang paling mengharukan
- Pelajaran tentang cinta, kehilangan, tujuan, dan koneksi
- Panduan praktis untuk mengembangkan intuisi Anda sendiri
- Pesan dari orang yang telah meninggal tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup
Untuk pengalaman lengkap dari kisah-kisah yang mengubah hidup dan panduan mendalam tentang mengembangkan kemampuan intuitif Anda, sangat disarankan membaca buku aslinya.
Laura menulis dengan kerentanan, kejujuran, dan kehangatan yang membuat bahkan pembaca paling skeptis sekalipun terbuka pada kemungkinan.
Buku ini adalah untuk siapa pun yang:
- Pernah kehilangan seseorang yang mereka cintai
- Mencari tujuan lebih dalam dalam hidup
- Ingin mengembangkan intuisi mereka
- Merasa sendirian dan ingin tahu bahwa mereka tidak sendirian
- Penasaran tentang apa yang terjadi setelah kita mati
Sekarang pergilah dan buka mata Anda untuk cahaya—cahaya di sekitar Anda, cahaya dalam Anda, cahaya yang menghubungkan kita semua.
Karena seperti yang Laura buktikan dalam ribuan reading: Cinta tidak pernah mati. Kita hanya perlu belajar melihatnya dalam bentuk barunya.
Dan ketika Anda melihat, hidup tidak akan pernah sama lagi.