Skip to main content

A Long Walk to Water

by Linda Sue Park · May 2026 · 22 min read

Dua Anak, Dua Zaman, Satu Perjuangan

Table of contents

Dua Anak, Dua Zaman, Satu Perjuangan

Bayangkan Anda berusia 11 tahun. 

Di suatu pagi yang tampak biasa, Anda duduk di dalam kelas ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan. Guru Anda berteriak, "Lari! Semuanya lari ke hutan! Jangan pulang ke rumah!" 

Dalam hitungan detik, hidup normal Anda berakhir. 

Ini yang terjadi pada Salva Dut pada tahun 1985 di Sudan Selatan. 

Sekarang bayangkan Anda gadis 11 tahun di tahun 2008. Setiap hari, sebelum matahari terbit, Anda sudah harus bangun dan berjalan selama 2 jam untuk mengambil air dari kolam yang jauh. Air yang keruh, kotor, penuh kuman. Tapi ini satu-satunya air yang tersedia. 

Setelah sampai di kolam, Anda mengisi wadah berat di kepala dan berjalan 2 jam lagi pulang. Ketika sampai rumah, air sudah habis terpakai untuk keluarga. Jadi Anda harus melakukan perjalanan yang sama lagi di sore hari. 

Setiap hari. Selama bertahun-tahun. 

Tidak ada waktu untuk sekolah. Tidak ada waktu untuk bermain. Hanya jalan kaki mencari air.

Ini yang terjadi pada Nya di Sudan Selatan. 

"A Long Walk to Water" adalah kisah dua anak ini. Salva dan Nya. Dipisahkan oleh 23 tahun waktu, tapi disatukan oleh perjuangan yang sama: bertahan hidup dalam kondisi yang hampir mustahil. 

Yang membuat kisah ini luar biasa bukanlah penderitaan mereka—tapi bagaimana mereka berubah dari korban menjadi pembawa harapan. 

Kisah Salva adalah kisah nyata. Dia salah satu dari "Lost Boys of Sudan"—ribuan anak laki-laki yang terpisah dari keluarga karena perang saudara dan berjalan ribuan mil melintasi Afrika untuk mencari tempat yang aman.

Kisah Nya adalah fiksi, tapi mewakili realitas jutaan anak perempuan Afrika yang kehidupannya didominasi oleh pencarian air bersih. 

Di akhir cerita, kedua kisah ini bertemu dengan cara yang akan mengubah hidup ribuan orang.

Mari kita mulai dari suara tembakan itu.


Bagian 1: Salva—Ketika Dunia Runtuh dalam Sehari

Hari Biasa yang Menjadi Hari Terakhir 

1985. Salva Dut, 11 tahun, dari suku Dinka, duduk di kelasnya di desa Loun-Ariik, Sudan Selatan. 

Matematika. Pelajaran yang membosankan di pagi yang panas. Salva melamun tentang pulang, tentang susu sapi yang akan diminum, tentang bermain dengan teman-teman. 

Tiba-tiba: BANG! BANG! BANG! 

Suara tembakan. Dekat sekali. 

Guru berteriak dengan panik, "Keluar! Semuanya keluar! Lari ke hutan! Jangan pulang ke rumah! Mereka akan menyerang desa! Lari ke hutan!" 

Dalam kekacauan, anak-anak berlarian ke segala arah. Salva ikut lari, kakinya bergerak otomatis meskipun pikirannya bingung. 

Siapa "mereka"? Mengapa tidak boleh pulang? Di mana keluarganya? 

Salva lari dan terus lari sampai tidak mendengar suara tembakan lagi. Ketika dia berhenti, dia sendirian di tengah hutan. Tidak ada teman sekelas. Tidak ada guru. Tidak ada siapa-siapa. 

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Salva benar-benar sendirian. 

Perang Saudara Sudan—Konteks yang Menghancurkan 

Sudan pada 1980-an dilanda perang saudara yang brutal antara pemerintah Arab di utara dan pemberontak Kristen-Animis di selatan. 

Pemerintah utara ingin menerapkan hukum Islam (Syariah) ke seluruh Sudan, termasuk wilayah selatan yang mayoritas non-Muslim. Konflik ini bukan hanya tentang agama—juga tentang sumber daya, tanah, kekuasaan politik. 

Perang ini menewaskan 1-2 juta orang sipil dan membuat jutaan lainnya mengungsi. Lebih dari 20.000 anak laki-laki—kebanyakan dari suku Dinka—terpisah dari keluarga mereka dan menjadi "Lost Boys of Sudan." 

Salva adalah salah satunya. 

Malam Pertama—Belajar Takut 

Malam pertama sendirian di hutan, Salva mendengar suara-suara menakutkan. Binatang buas? Pemberontak? Tentara pemerintah?

Dia meringkuk di bawah pohon, menahan dingin dan ketakutan. Perutnya keroncongan—dia belum makan sejak pagi. Mulutnya kering—dia belum minum air. 

Tapi yang paling menyakitkan adalah pertanyaan yang berputar di kepalanya: "Di mana keluargaku? Apakah mereka selamat? Apakah aku akan bertemu mereka lagi?" 

Dia tidak tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan ini akan menghantuinya selama bertahun-tahun.

Bergabung dengan Kelompok—Ikatan Kelangsungan Hidup 

Keesokan harinya, Salva bertemu dengan sekelompok orang dari desanya yang juga mengungsi. Ada pria dan wanita dewasa, ada anak-anak lain. 

Mereka tidak tahu harus pergi ke mana. Yang mereka tahu: mereka harus terus bergerak untuk tetap hidup. 

Salva bergabung dengan kelompok ini. Dia tidak punya pilihan lain. 

Dimulailah perjalanan yang akan berlangsung bertahun-tahun.


Bagian 2: Nya—Kehidupan yang Didefinisikan oleh Air

Rutinitas yang Tidak Pernah Berubah 

Sudan Selatan, 2008. Nya bangun ketika langit masih gelap. 

Tidak perlu alarm. Tubuhnya sudah terbiasa bangun pada jam yang sama setiap hari selama bertahun-tahun. 

Dia mengambil wadah plastik besar dan menaruhnya di kepala. Keluar dari rumah. Mulai berjalan. 

Jalan kaki 2 jam ke kolam. Mengisi wadah dengan air keruh. Jalan kaki 2 jam pulang dengan beban 40 pound di kepala. Istirahat sebentar. Lakukan lagi di sore hari. 

Setiap hari. Tidak ada libur. Tidak ada pengecualian. 

Ini hidupnya sejak dia cukup besar untuk membawa wadah air. 

Mengapa Nya Harus Melakukan Ini? 

Di desa Nya di Sudan Selatan, air bersih adalah barang langka. 

Tidak ada keran air. Tidak ada sumur. Tidak ada sistem pipa. Sumber air terdekat adalah kolam yang berjarak bermil-mil dari desa. 

Dan kolam itu bukan air bersih. Airnya keruh, kotor, bercampur kotoran hewan dan manusia. Tapi ini satu-satunya pilihan. 

Dalam budaya suku Nuer (suku Nya), tugas mencari air adalah tanggung jawab perempuan dan anak perempuan. Laki-laki mengurus ternak. Perempuan mengurus air dan rumah tangga. 

Jadi Nya—seperti jutaan gadis Afrika lainnya—menghabiskan masa kecilnya berjalan kaki mencari air. 

Tidak ada sekolah. Sekolah hanya untuk anak laki-laki. Tidak ada bermain. Tidak ada waktu. Tidak ada mimpi tentang masa depan. Hanya hari ini, besok, dan perjalanan yang sama. 

Air Kotor, Penyakit Datang 

Air dari kolam itu tidak hanya kotor—juga berbahaya. 

Adik perempuan Nya, Akeer, sering sakit perut karena air yang terkontaminasi. Dia demam, muntah-muntah, lemah. Ibu mereka tahu air itu tidak bersih, tapi tidak punya pilihan lain. 

"Kalau airnya kotor, rebus sampai hitungan 200 sebelum diminum," kata ibu Nya.

Tapi kayu bakar langka. Dan merebus air membutuhkan waktu. Sementara mereka sudah haus.

Jadi mereka sering minum air mentah yang kotor. Dan terus sakit. 

Ini lingkaran setan kemiskinan: air kotor membuat sakit, sakit membuat lemah, lemah membuat sulit bekerja, sulit bekerja membuat tetap miskin.


Bagian 3: Salva—Perjalanan yang Tidak Berakhir

Berjalan Menuju Entah Kemana 

Kelompok pengungsi yang diikuti Salva terus berjalan hari demi hari. 

Mereka tidak tahu tujuannya. Yang mereka tahu: di belakang ada perang, di depan mungkin ada keamanan. 

Tapi "di depan" ternyata sangat jauh. 

Salva berjalan dengan kaki telanjang di tanah yang panas dan berbatu. Kakinya berdarah, tapi dia tidak boleh tertinggal. Tertinggal berarti mati. 

Makanan langka. Kadang mereka menemukan buah liar. Kadang ada yang berbagi sedikit jagung. Seringkali mereka tidak makan sama sekali. 

Air juga langka. Mereka minum dari kubangan lumpur, dari genangan air hujan, dari sungai yang sama diminum hewan ternak. 

Setiap hari adalah perjuangan untuk tidak mati. 

Kehilangan yang Pertama—Marial 

Di perjalanan, Salva berteman dengan anak laki-laki lain bernama Marial. Mereka dari desa yang sama, usia yang sama. 

Marial memberikan Salva sesuatu yang sangat dia butuhkan: teman

Mereka berbagi makanan sedikit yang ada. Berbagi cerita tentang keluarga. Berbagi harapan bahwa mereka akan bertemu keluarga lagi. 

Tapi suatu pagi, Marial tidak bangun. 

Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi. Mungkin singa. Mungkin penyakit. Mungkin kelelahan. Yang pasti, Marial pergi untuk selamanya. 

Salva menangis. Ini kehilangan pertamanya, tapi bukan yang terakhir. 

Di pengungsian, kematian adalah teman yang selalu dekat. 

Bertemu Paman Jewiir—Perlindungan dan Harapan 

Di tengah perjalanan yang terasa tanpa akhir, Salva bertemu seseorang yang mengubah segalanya: Paman Jewiir, adik ayahnya.

Paman Jewiir adalah pria yang kuat, berpengalaman, dan—yang paling penting—dia memiliki senapan. Ini berarti perlindungan dari binatang buas dan penyerang. 

Lebih dari itu, Paman Jewiir memberikan Salva sesuatu yang hampir hilang: harapan.

"Kita akan menemukan keluargamu," kata pamannya. "Kita akan sampai di tempat yang aman."

Dengan paman di sisinya, Salva merasa sedikit lebih berani. Sedikit lebih kuat.

Tapi di dunia yang keras ini, kebahagiaan selalu singkat. 

Tragedi yang Mengubah Segalanya 

Beberapa bulan kemudian, kelompok mereka diserang oleh tentara pemberontak. 

Para tentara memeriksa semua orang dalam kelompok. Mereka mencari siapa yang bisa berguna untuk perang mereka. 

Paman Jewiir, sebagai pria dewasa yang kuat dengan senapan, dipaksa bergabung dengan mereka. 

Beberapa hari kemudian, berita datang: Paman Jewiir dibunuh oleh tentara yang sama. 

Salva hancur. Orang satu-satunya yang membuatnya merasa aman, yang memberikan harapan, yang mengingatkannya pada keluarga—pergi untuk selamanya. 

Sekarang dia benar-benar yatim piatu di tengah-tengah perang. 

Menjadi Pemimpin Tanpa Pilihan 

Seiring berjalannya waktu, kelompok pengungsi mengalami perubahan. 

Para dewasa mulai menyerah. Ada yang sakit dan mati. Ada yang putus asa dan pergi sendiri. Ada yang bergabung dengan kelompok lain. 

Yang tersisa sebagian besar adalah anak-anak—anak laki-laki berusia 10-17 tahun yang semuanya kehilangan keluarga. 

Secara perlahan, Salva—yang kini berusia 15 tahun—menjadi pemimpin kelompok. 

Bukan karena dia dipilih. Bukan karena dia paling pandai. Tapi karena dia yang paling tidak menyerah. 

Ketika yang lain ingin berhenti, Salva berkata, "Kita lanjutkan besok." Ketika yang lain putus asa, Salva berkata, "Kita akan sampai." Ketika yang lain ingin menyebar, Salva berkata, "Kita tetap bersama."

Salva belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuatan—tapi tentang ketahanan.


Bagian 4: Perjalanan yang Semakin Berbahaya

Sungai Gilo—Pilihan Hidup atau Mati 

Setelah bertahun-tahun berjalan, kelompok Salva sampai di Sungai Gilo, yang memisahkan Sudan dan Ethiopia. 

Mereka dengar ada kamp pengungsi di Ethiopia. Tempat yang aman dengan makanan dan perlindungan. 

Tapi untuk sampai ke sana, mereka harus menyeberangi sungai yang penuh buaya dan kuda nil. 

Sungai ini sudah menelan nyawa ratusan pengungsi. Tapi tidak menyeberang berarti tetap di Sudan yang penuh perang. 

Pilihan: mati di sini, atau mungkin mati di sungai dengan harapan selamat.

Penyeberangan yang Mengerikan 

Penyeberangan Sungai Gilo adalah salah satu momen paling traumatis dalam hidup Salva. 

Ribuan orang berdesakan di tepi sungai. Perahu-perahu kecil yang tidak cukup untuk semua orang. Orang-orang panik, mendorong, berteriak. 

Salva melihat anak-anak tenggelam karena tidak bisa berenang. Melihat orang dimakan buaya. Melihat mayat-mayat hanyut di air. 

Dia sendiri hampir tenggelam. Tapi entah bagaimana—dengan bantuan orang lain dan keberuntungan—dia berhasil sampai di seberang. 

Dari kelompok awalnya yang ratusan orang, hanya puluhan yang selamat menyeberang.

Salva belajar bahwa hidup dan mati kadang hanya beda tipis. 

Kamp Pengungsi Itang—Kehidupan yang Bukan Kehidupan

Di Ethiopia, Salva dan yang selamat masuk ke Kamp Pengungsi Itang. 

Kamp ini "aman" dalam artian tidak ada tembak-menembak. Tapi hidup di kamp sama sekali bukan kehidupan normal. 

70.000 pengungsi Sudan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan: 

  • Makanan sangat terbatas, hanya cukup untuk tidak mati kelaparan
  • Air bersih langka
  • Tidak ada privasi
  • Tidak ada pekerjaan
  • Tidak ada masa depan yang jelas

Salva menghabiskan 6 tahun di kamp ini. Dari usia 11 sampai 17 tahun—masa remaja yang seharusnya penuh petualangan dan pembelajaran. 

Tapi dia tidak menyerah. Dia belajar membaca dan menulis dari pengungsi lain yang terdidik. Dia membantu mengurus anak-anak yang lebih kecil. Dia terus berharap suatu hari akan bertemu keluarganya. 

Diusir Lagi—Tidak Ada Tempat yang Aman 

1991. Pemerintah Ethiopia berubah. Pemerintah baru tidak mau lagi menerima pengungsi Sudan. 

Dalam satu malam, tentara Ethiopia menyerang kamp dan memaksa semua pengungsi keluar.

70.000 orang diusir secara brutal tanpa persiapan. 

Salva—kini 17 tahun—harus berlari lagi. Kali ini bersama ribuan orang lain yang juga panik. 

Mereka dipaksa kembali ke Sudan, melewati Sungai Gilo yang sama yang sudah menelan begitu banyak nyawa. 

Kali ini lebih chaos lagi. Lebih banyak yang tenggelam. Lebih banyak yang dimakan buaya.

Salva selamat lagi, tapi traumanya berlipat. 

Dia mulai mempertanyakan: "Apakah aku akan selamanya menjadi pengungsi? Apakah tidak ada tempat di dunia ini untukku?"


Bagian 5: Nya—Ketika Harapan Datang dari Langit

Orang Asing di Desa 

2008. Setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas yang sama, sesuatu berubah di desa Nya. 

Dua orang asing datang ke desa dan mulai berbicara dengan kepala suku. Mereka orang kulit putih, berbicara bahasa yang tidak Nya mengerti. 

Setelah beberapa hari diskusi, ada pengumuman: akan dibangun sesuatu di tengah desa, di antara dua pohon besar. 

Nya tidak mengerti apa yang akan dibangun. Yang dia tahu, orang-orang desa mulai membersihkan area di sekitar dua pohon itu. 

Pengeboran Dimulai—Skeptisisme dan Harapan 

Beberapa minggu kemudian, truk-truk besar datang membawa peralatan berat. 

Orang-orang mulai menggali tanah dengan mesin yang bersuara keras. Mereka menggali dalam-dalam, lebih dalam dari yang pernah Nya bayangkan. 

"Mereka mencari air," kata ibunya. 

Nya skeptis. Dia sudah hidup di desa ini selama 11 tahun. Tidak pernah ada air di sini. Kalau ada, kenapa selama ini mereka harus berjalan jauh-jauh ke kolam? 

"Air di bawah tanah? Tidak mungkin," pikir Nya. 

Proses yang Panjang dan Sulit 

Pengeboran ternyata bukan pekerjaan mudah. 

Hari demi hari, mesin terus bekerja. Kadang berhasil sedikit, kadang mandek. Ada hari-hari di mana para pekerja terlihat frustrasi dan hampir menyerah. 

Nya melihat ada satu orang yang jelas memimpin proyek ini. Dia selalu memberi semangat kepada para pekerja ketika mereka putus asa. Dia selalu yakin bahwa mereka akan menemukan air. 

Tapi Nya masih tidak percaya. Bagaimana mungkin air bisa keluar dari tanah kering seperti ini? 

Momen Keajaiban

Suatu hari, setelah berminggu-minggu pengeboran, sesuatu yang luar biasa terjadi. Air menyembur keluar dari lubang di tanah! 

Air yang jernih, bersih, segar. Bukan air keruh dari kolam yang jauh. Bukan air yang harus direbus berkali-kali. Tapi air bersih yang bisa langsung diminum. 

Seluruh desa berteriak girang. Orang-orang menari, menyanyi, menangis kebahagiaan. 

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Nya melihat air bersih muncul dari tanah desanya sendiri. 

Perubahan Hidup yang Total 

Dengan adanya sumur, hidup Nya berubah total. 

Tidak perlu lagi berjalan 4 jam setiap hari mencari air. Tidak perlu lagi membawa wadah berat di kepala. Tidak perlu lagi minum air kotor yang membuat sakit. 

Air bersih tersedia hanya 5 menit jalan kaki dari rumah. 

Yang lebih penting: untuk pertama kali, ada pembicaraan tentang sekolah

"Kalau tidak perlu mengambil air setiap hari, anak-anak perempuan bisa sekolah," kata kepala suku. 

Sekolah! Nya tidak pernah berani bermimpi tentang ini. Sekolah selalu hanya untuk anak laki-laki. 

Tapi sekarang, dengan waktu yang terbebaskan dari pencarian air, Nya punya harapan untuk belajar membaca, menulis, dan melihat dunia di luar desanya.


Bagian 6: Salva—Dari Sudan ke Amerika 

Kamp Kakuma—Harapan Terakhir 

Setelah diusir dari Ethiopia, Salva dan ribuan "Lost Boys" lainnya berakhir di Kamp Pengungsi Kakuma di Kenya. 

Kakuma lebih baik dari Itang, tapi tetap bukan tempat untuk hidup jangka panjang. Ribuan anak laki-laki Sudan hidup dalam tenda-tenda, menunggu masa depan yang tidak jelas. 

Salva kini 17 tahun. Dia sudah menghabiskan separuh hidupnya sebagai pengungsi. Dia hampir lupa bagaimana rasanya hidup normal. 

Tapi di Kakuma, ada rumor yang memberi harapan: Amerika Serikat akan mengambil beberapa "Lost Boys" untuk diresettle di Amerika. 

Apakah Salva akan terpilih? Apakah dia akan punya kesempatan hidup baru?

Daftar Nama yang Mengubah Hidup 

Suatu hari, pengumuman dibacakan di kamp: daftar nama 3.800 "Lost Boys" yang akan dibawa ke Amerika. 

Salva mendengar namanya dipanggil. 

Dia tidak percaya. Setelah bertahun-tahun penderitaan, kehilangan, trauma—akhirnya ada pintu terbuka menuju kehidupan baru. 

Tapi perasaannya campur aduk. Senang karena punya kesempatan baru. Sedih karena harus meninggalkan Afrika—dan harapan bertemu keluarga—untuk selamanya. 

Pilihan yang sulit: tetap di Afrika dengan harapan tipis bertemu keluarga, atau pergi ke negeri asing untuk memulai hidup baru. 

Salva memilih Amerika. 

Rochester, New York—Dunia yang Benar-Benar Baru 

1996. Salva, 22 tahun, tiba di Rochester, New York. 

Salju. Dia tidak pernah melihat salju sebelumnya. Dingin yang menusuk tulang. Bangunan tinggi. Mobil di mana-mana. Lampu listrik. Air keran yang bisa diminum langsung. 

Semuanya berbeda dari Afrika.

Keluarga angkat Amerika, Chris dan Louise Mawien, menjemputnya di bandara. Mereka baik hati, sabar, ingin membantu. Tapi komunikasi sulit—Salva hampir tidak bisa berbahasa Inggris. 

Malam pertama di Amerika, Salva duduk di kamar yang hangat, dengan tempat tidur empuk, makanan di kulkas, air bersih dari keran—dan menangis. 

Bukan menangis sedih. Tapi menangis karena overwhelmed. Setelah bertahun-tahun bertahan hidup, tiba-tiba dia berada di tempat yang sangat aman dan berlimpah. 

Belajar Menjadi "Amerika" 

Tahun-tahun pertama di Amerika sangat sulit bagi Salva. 

Bahasanya harus dipelajari dari nol. Budayanya sangat berbeda. Teknologinya membingungkan—dia tidak pernah melihat komputer, tidak pernah menggunakan telepon, tidak pernah naik lift. 

Di sekolah, dia merasa seperti alien. Teman-temannya tidak bisa membayangkan hidup tanpa listrik, tanpa air bersih, tanpa makanan yang cukup. 

Tapi Salva tidak menyerah. Dia belajar dengan keras. Bahasa Inggris, matematika, sains, sejarah—semua mata pelajaran yang tidak pernah dia pelajari di Afrika. 

Dia ingat pelajaran dari perjalanan panjangnya: "Satu langkah setiap waktu. Satu hari setiap waktu." 

College dan Kehidupan Baru 

Salva berhasil masuk college. Dia belajar business dan international studies. 

Di college, dia bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara. Dia menyadari bahwa dia tidak sendirian—ada banyak pengungsi dari berbagai konflik di dunia. 

Tapi dia juga menyadari sesuatu yang penting: dia punya cerita yang perlu dibagikan. 

Pengalaman bertahan hidup di perang, memimpin ribuan anak-anak di pengungsian, belajar beradaptasi di negara baru—semua ini memberikan dia perspektif yang unik. 

Dia mulai memberikan presentasi di sekolah-sekolah, menceritakan kisahnya, mengedukasi orang Amerika tentang realitas konflik di Afrika.


Bagian 7: Kembali ke Sudan—Lingkaran yang Tertutup

Email yang Mengubah Segalanya 

2002. Salva sudah 15 tahun tinggal di Amerika. Dia punya kehidupan yang mapan, pekerjaan yang baik, rumah yang nyaman. 

Tapi ada yang selalu mengganggu pikirannya: keluarganya di Sudan. 

Apakah mereka masih hidup? Apakah mereka tahu dia selamat? Apakah dia akan pernah bertemu mereka lagi? 

Suatu hari, dia menerima email dari teman yang bekerja untuk organisasi internasional di Sudan: 

"Aku menemukan ayahmu. Dia masih hidup." 

Salva tidak percaya. Setelah 17 tahun terpisah, setelah menyangka semua keluarganya sudah meninggal, ternyata ayahnya masih hidup! 

Reuni yang Ditunggu 17 Tahun 

Salva terbang kembali ke Sudan untuk pertama kalinya sejak dia meninggalkannya sebagai anak 11 tahun. 

Di bandara, dia bertemu ayahnya. Pria yang sudah tua, lemah, sakit—tapi masih ayahnya. 

Mereka berpelukan dan menangis. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan itu. 

Ayahnya bercerita: keluarga mereka diserang tidak lama setelah Salva lari dari sekolah. Ibu dan beberapa saudara Salva terbunuh. Yang selamat tersebar ke berbagai tempat. 

Salva adalah anak satu-satunya yang berhasil keluar dari Sudan dan membangun kehidupan baru. 

Menemukan Misi Hidup 

Selama kunjungan ke Sudan, Salva melihat kondisi yang masih sangat memprihatinkan. 

Perang sudah berakhir, tapi dampaknya masih terasa. Tidak ada infrastruktur. Tidak ada sekolah yang layak. Tidak ada rumah sakit. Dan yang paling mendasar: tidak ada akses air bersih. 

Salva ingat bagaimana dia dan ribuan anak lain hampir mati kehausan selama perjalanan pengungsian. Dia ingat bagaimana air kotor menjadi sumber penyakit dan kematian.

Di sinilah dia menemukan misi hidupnya: membawa air bersih ke Sudan Selatan. 

"Jika aku bisa bertahan hidup dari perang, jika aku bisa belajar hidup di Amerika, aku pasti bisa membantu memberikan air bersih untuk rakyatku," pikirnya. 

Water for South Sudan—Dari Mimpi Menjadi Kenyataan 

2003. Salva mendirikan organisasi nirlaba "Water for South Sudan". 

Misinya sederhana tapi powerful: mengebor sumur-sumur air bersih di desa-desa terpencil Sudan Selatan. 

Dimulai dari satu sumur. Kemudian dua. Kemudian puluhan. Kemudian ratusan.

Setiap sumur yang dibangun mengubah kehidupan ratusan orang: 

  • Anak-anak tidak perlu berjalan jauh mencari air
  • Anak perempuan bisa sekolah karena tidak menghabiskan hari untuk mencari air
  • Penyakit yang disebabkan air kotor berkurang drastis
  • Komunitas punya lebih banyak waktu untuk aktivitas produktif

Salva mengubah trauma masa lalunya menjadi misi untuk membantu orang lain.


Bagian 8: Pertemuan Dua Dunia 

Salva Datang ke Desa Nya 

2009. Salva datang untuk mengawasi pembangunan sumur di sebuah desa suku Nuer di Sudan Selatan. 

Ini ironis, karena suku Nuer dan Dinka (suku Salva) secara tradisional adalah musuh. Mereka sering bertarung memperebutkan tanah dan sumber daya. 

Tapi Salva tidak peduli suku. Dia hanya peduli memberikan air bersih kepada siapa pun yang membutuhkannya. 

"Air tidak mengenal suku. Haus tidak mengenal suku. Kita semua manusia yang butuh air untuk hidup." 

Nya Bertemu Pembangun Sumur 

Ketika sumur di desa Nya selesai dibangun, ada acara kecil untuk merayakan. 

Nya, yang kini bisa sekolah karena tidak perlu mencari air setiap hari, datang ke acara itu bersama teman-teman sekolahnya. 

Dia ingin berterima kasih kepada orang yang bertanggung jawab membangun sumur ini.

Kepala suku memperkenalkannya kepada pria yang memimpin proyek: Salva Dut. 

Nya bingung. "Pak, mengapa bapak membantu desa kami? Kami suku Nuer, bapak suku Dinka. Biasanya suku kita bermusuhan." 

Salva tersenyum. "Adik, ketika saya masih kecil, saya hampir mati kehausan. Saya berjalan ribuan mil mencari air dan tempat yang aman. Sekarang saya ingin memastikan tidak ada anak lain yang harus mengalami apa yang saya alami." 

"Nama saya Salva Dut. Dan kamu?" 

"Nya," jawab gadis itu. 

Dua dunia bertemu. Masa lalu dan masa depan. Trauma dan harapan. Anak yang selamat dari perang dan anak yang diselamatkan dari kehidupan mencari air. 

Lingkaran yang Tertutup 

Pertemuan Salva dan Nya bukan kebetulan. Ini adalah culmination dari tema-tema yang berkembang sepanjang cerita:

Dari penderitaan menjadi penyembuhan. Salva mengalami trauma luar biasa, tapi dia tidak membiarkan trauma itu menghancurkannya. Dia mengubahnya menjadi motivasi untuk membantu orang lain. 

Dari kebencian menjadi cinta. Meskipun suku Dinka dan Nuer tradisional bermusuhan, Salva memilih membantu semua orang tanpa melihat suku. 

Dari putus asa menjadi harapan. Nya yang hidupnya terjebak dalam rutinitas mencari air, sekarang punya akses pendidikan dan masa depan yang cerah. 

Dari sendirian menjadi bersama. Salva yang dulunya anak yatim piatu sendirian di hutan, sekarang memimpin komunitas global yang peduli air bersih.


Bagian 9: Pelajaran dari Perjalanan Panjang

1. Satu Langkah pada Satu Waktu 

Pelajaran terpenting dari kisah Salva adalah tentang ketekunan

Ketika menghadapi perjalanan ribuan mil, Salva tidak berpikir tentang keseluruhan perjalanan. Itu akan terlalu overwhelming. 

Dia berpikir: "Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi. Kemudian satu langkah lagi." 

Pelajaran: Masalah besar diselesaikan dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Jangan fokus pada betapa besarnya masalah—fokus pada langkah berikutnya yang bisa Anda ambil. 

2. Air adalah Kehidupan 

Kisah Nya menunjukkan betapa fundamentalnya akses air bersih. 

Tanpa air bersih, anak-anak tidak bisa sekolah karena harus menghabiskan hari mencarinya. Tanpa air bersih, orang sakit-sakitan. Tanpa air bersih, tidak ada pembangunan yang berarti. 

Pelajaran: Hal-hal yang kita anggap remeh (seperti membuka keran dan mendapat air bersih) adalah kemewahan luar biasa untuk miliaran orang di dunia. Kita harus lebih grateful dan berbagi dengan yang membutuhkan. 

3. Trauma Bisa Diubah Menjadi Kekuatan 

Salva bisa saja tenggelam dalam trauma masa kecilnya. Dia bisa menjadi pahit, penuh kebencian, atau putus asa. 

Tapi dia memilih mengubah rasa sakitnya menjadi motivasi untuk membantu orang lain. "Saya tidak mau ada anak lain yang mengalami apa yang saya alami." 

Pelajaran: Pengalaman buruk bisa menjadi sumber kekuatan jika kita memilih untuk menggunakannya membantu orang lain. 

4. Pendidikan adalah Kunci Perubahan 

Salva berhasil keluar dari kemiskinan dan pengungsian karena dia tidak pernah berhenti belajar. 

Di kamp pengungsi, dia belajar membaca dan menulis. Di Amerika, dia belajar bahasa Inggris dengan keras. Di college, dia mempelajari bisnis dan hubungan internasional. 

Pendidikan memberikan dia tools untuk tidak hanya selamat, tapi juga membantu orang lain.

Pelajaran: Investasi terbaik adalah investasi pada pendidikan. Knowledge adalah satu-satunya harta yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun. 

5. Suku dan Ras Tidak Penting—Kemanusiaan yang Penting 

Salva suku Dinka membantu desa-desa suku Nuer yang secara tradisional bermusuhan dengan sukunya. 

Keluarga angkat kulit putih di Amerika mengangkat anak kulit hitam dari Afrika dengan cinta tanpa syarat. 

Pelajaran: Di level paling dasar, kita semua manusia yang punya kebutuhan yang sama—air, makanan, keamanan, cinta. Perbedaan suku, ras, atau agama tidak sepenting kemanusiaan kita yang sama. 

6. Air Mengalir, Kebaikan Juga Harus Mengalir 

Air tidak berhenti di satu tempat—dia terus mengalir, memberikan kehidupan ke mana pun dia pergi. 

Salva belajar bahwa kebaikan juga harus seperti air—terus mengalir dari orang yang sudah ditolong ke orang lain yang butuh pertolongan. 

Pelajaran: Ketika kita sudah berhasil atau punya kelebihan, jangan berhenti di situ. Teruskan kebaikan itu kepada orang lain yang membutuhkan. 

7. Harapan adalah Kebutuhan Pokok 

Sepanjang perjalanannya, yang membuat Salva terus berjalan bukan hanya makanan atau air—tapi harapan

Harapan bertemu keluarga. Harapan sampai di tempat aman. Harapan hidup yang lebih baik.

Ketika harapan hampir hilang, dia mencari harapan baru—membantu orang lain. 

Pelajaran: Harapan bukan kemewahan—harapan adalah kebutuhan pokok. Tanpa harapan, manusia tidak bisa bertahan dalam kesulitan.


Penutup: Air yang Terus Mengalir 

Di akhir cerita, Salva terus membangun sumur-sumur di Sudan Selatan. Sampai hari ini, organisasinya "Water for South Sudan" telah membangun ratusan sumur yang melayani ratusan ribu orang. 

Nya bersekolah dan bermimpi menjadi guru untuk mengajar anak-anak di desanya. 

Perjalanan panjang mereka tidak berakhir—tapi berubah dari perjalanan mencari keselamatan menjadi perjalanan memberikan harapan. 

Pertanyaan untuk Anda 

Kisah Salva dan Nya menginspirasi kita untuk bertanya: 

  • Apa yang Anda anggap remeh yang sebenarnya adalah kemewahan luar biasa?
  • Trauma atau kesulitan apa dalam hidup Anda yang bisa diubah menjadi kekuatan untuk membantu orang lain?
  • Perjalanan panjang apa yang sedang Anda jalani yang butuh ketekunan "satu langkah pada satu waktu"?
  • Siapa yang bisa Anda bantu dengan kelebihan atau kemampuan yang Anda miliki?

Seperti air yang terus mengalir, kebaikan harus terus bergerak dari satu orang ke orang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Salva membuktikan bahwa satu orang yang bertekad bisa mengubah hidup ribuan orang lain. 

Nya membuktikan bahwa ketika diberi kesempatan, setiap anak punya potensi untuk berkembang. 

Perjalanan panjang menuju air—secara literal dan metaforis—adalah perjalanan menuju kehidupan, harapan, dan kemanusiaan. 

Dan perjalanan itu belum berakhir. Masih ada jutaan orang di dunia yang belum punya akses air bersih. Masih ada jutaan anak yang kehidupannya terbatas oleh keadaan yang tidak mereka pilih. 

Pertanyaannya: Apakah Anda akan menjadi bagian dari solusi? 

Karena seperti yang ditunjukkan Salva dan Nya—perjalanan panjang bukan tentang jarak yang ditempuh, tapi tentang visi yang dicapai dan kehidupan yang diubah. 

Air terus mengalir. Kebaikan harus terus mengalir juga.


Tentang Buku Asli 

"A Long Walk to Water" diterbitkan oleh Clarion Books pada tahun 2010 dan telah memenangkan numerous awards termasuk Jane Addams Children's Book Award. 

Linda Sue Park adalah penulis Amerika keturunan Korea yang memenangkan Newbery Medal untuk novel "A Single Shard" pada 2002. Dia menulis "A Long Walk to Water" setelah bertemu dan menjadi teman dengan Salva Dut yang nyata. 

Kisah Salva Dut adalah kisah nyata yang didokumentasikan dengan baik. Dia benar-benar salah satu dari "Lost Boys of Sudan" yang diresettle ke Amerika dan benar-benar mendirikan organisasi "Water for South Sudan" yang masih aktif hingga hari ini. 

Kisah Nya adalah fiksi, tapi mewakili realitas jutuan anak perempuan Afrika yang kehidupannya didominasi oleh pencarian air bersih. 

Untuk memahami sepenuhnya kekuatan cerita ini, sangat disarankan membaca buku aslinya. Park menulis dengan bahasa yang sederhana tapi powerful, cocok untuk pembaca muda tapi juga menyentuh hati pembaca dewasa. 

Buku ini juga tersedia dalam audiobook yang dinarasikan oleh dua narrator berbeda untuk kisah Salva dan Nya. 

Sekarang pergilah dan mulai perjalanan panjang Anda sendiri—apapun bentuknya—dengan tekad bahwa setiap langkah akan membawa Anda dan orang lain menuju kehidupan yang lebih baik. 

Karena seperti yang diajarkan Salva: "Satu langkah pada satu waktu, satu hari pada satu waktu—dan kita akan sampai."

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: One Good Thing
Back to top

Similar books