Skip to main content

Mark Twain

by Ron Chernow · March 2026 · 14 min read

Pria Berjas Putih yang Menyembunyikan Kegelapan

Table of contents

Pria Berjas Putih yang Menyembunyikan Kegelapan 

Bayangkan seorang pria tua berjas putih, cerutu di tangan, kumis lebat yang ikonik, tersenyum sambil melontarkan sindiran tajam yang membuat seluruh ruangan tertawa. 

Inilah gambar Mark Twain yang kita kenal—komedian Amerika, jenius sastra, penulis "Tom Sawyer" dan "Huckleberry Finn," pria yang dijuluki "ayah sastra Amerika." 

Tapi di balik jas putih itu, di balik tawa dan lelucon, ada seorang pria yang mengubur tiga dari empat anaknya. Seorang suami yang menonton istri tercintanya mati perlahan. Seorang genius yang bangkrut karena investasi bodoh. Seorang aktivis antirasisme yang tumbuh di keluarga pemilik budak. Seorang humoris yang menderita depresi kronis dan obsesi dengan kematian. 

Mark Twain adalah kontradiksi berjalan—dan itulah yang membuatnya begitu manusiawi. 

Ron Chernow, biografer pemenang Pulitzer yang membawa Alexander Hamilton ke Broadway dan mengubah cara kita melihat George Washington, menghabiskan bertahun-tahun menyelami arsip Twain: ribuan surat pribadi, manuskrip yang belum pernah diterbitkan, catatan harian, dan dokumen keluarga. 

Hasilnya adalah biografi 1.200 halaman yang mengungkap kebenaran kompleks di balik legenda—bahwa Mark Twain adalah pria yang menciptakan persona publiknya dengan sangat hati-hati, tapi tidak bisa mengendalikan kehidupan pribadinya yang terus-menerus hancur. 

Ini bukan sekadar kisah seorang penulis terkenal. Ini adalah kisah tentang bagaimana seseorang bisa membuat dunia tertawa sementara hatinya sendiri patah. 

Mari kita mulai dengan sungai yang membentuk segalanya.


Bagian 1: Hannibal—Di Tepi Mississippi 

Samuel Langhorne Clemens 

30 November 1835. Malam ketika Halley's Comet terlihat di langit Missouri, seorang bayi lahir prematur dan lemah. Dokter tidak yakin dia akan bertahan. 

Tapi Samuel Langhorne Clemens—yang kelak menjadi Mark Twain—bertahan. Dan 75 tahun kemudian, dia akan mati tepat ketika Halley's Comet kembali muncul, persis seperti yang dia prediksi. 

Tapi masa kecilnya di Hannibal, Missouri, tidak seperti yang kita bayangkan dari membaca "Tom Sawyer." Tidak ada petualangan romantis. Tidak ada kebebasan manis di tepi sungai. 

Ayahnya, John Marshall Clemens, adalah pria dingin dan keras yang gagal di setiap bisnis yang dicoba. Dia berpindah dari satu kota ke kota lain, mencari kesuksesan yang tidak pernah datang. Keluarga hidup dalam kemiskinan yang mempermalukan—terutama karena ayahnya punya gelar "hakim" tapi tidak punya uang. 

Sam kecil menggambarkan hubungan dengan ayahnya sebagai "netralitas bersenjata"—tidak ada kehangatan, tidak ada pelukan, hanya jarak yang dingin. 

Ketika ayahnya meninggal saat Sam berusia 11 tahun, dia tidak menangis. Dia merasa lega.

Sungai yang Memanggil 

Tapi ada satu hal yang membuat masa kecil Sam bearable: Mississippi River. 

Sungai itu adalah jantung Hannibal. Steamboat datang dan pergi, membawa dunia luar ke kota kecil ini. Sam akan berdiri di dermaga selama berjam-jam, memandang kapal-kapal besar, bermimpi suatu hari dia akan menjadi pilot. 

Ini bukan mimpi sembarangan. Di tahun 1850-an, pilot steamboat adalah pekerjaan paling bergengsi dan paling dibayar tinggi di Amerika bagian barat. Mereka adalah raja di sungai—mengendalikan kapal senilai jutaan dolar, memiliki pengetahuan tentang setiap tikungan berbahaya, setiap pasir yang bergeser. 

Dan yang paling penting: mereka bebas. Mereka tidak punya bos. Mereka menjelajah. Mereka hidup dengan syarat mereka sendiri. 

Bagi Sam yang tumbuh dalam rumah tangga yang miskin dan dingin, ini adalah surga.


Bagian 2: Menjadi Mark Twain—Kelahiran Sebuah Persona 

Pilot Steamboat—Mimpi yang Terwujud 

Pada usia 21 tahun, Sam Clemens akhirnya menjadi pilot steamboat berlisensi—salah satu dari hanya beberapa ratus orang di seluruh Amerika yang memiliki skill ini. 

Dia mencintai pekerjaannya. Dia menghafal setiap detail 1.200 mil sungai Mississippi—di siang hari, di malam hari, di musim banjir, di musim kering. Ini adalah prestasi memori yang luar biasa. 

Dan gajinya? $250 per bulan—gaji yang fantastis untuk tahun 1859, setara dengan $8.000 hari ini. 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sam Clemens merasa sukses. 

Tapi Perang Saudara mengubah segalanya. 

Perang Saudara—Pelarian ke Barat 

Ketika perang pecah tahun 1861, trafik di Mississippi berhenti. Karir Sam sebagai pilot berakhir tiba-tiba. 

Dia bergabung sebentar dengan milisi Konfederasi (keluarganya pro-Selatan dan pemilik budak), tapi hanya bertahan dua minggu. Dia membenci disiplin militer dan bahaya nyata. 

Jadi dia melarikan diri—ke barat, ke Nevada Territory, bersama kakaknya Orion yang dapat posisi pemerintahan di sana. 

Di sinilah Samuel Clemens mulai mati, dan Mark Twain mulai lahir. 

Jurnalis dengan Nama Baru 

Di Nevada, Sam bekerja sebagai wartawan untuk Territorial Enterprise—koran lokal yang mencari penulis yang bisa menghibur pembaca dengan cerita-cerita liar tentang kehidupan di perbatasan barat. 

Sam menemukan bakatnya: menulis dengan humor yang tajam, satire yang menggigit, dan kejujuran yang brutal. 

Dan pada 3 Februari 1863, untuk pertama kalinya, dia menandatangani artikelnya dengan nama: Mark Twain.

Nama itu diambil dari istilah pilot steamboat: "mark twain" berarti kedalaman dua fathom (12 kaki)—batas aman untuk navigasi. Tapi ada ironi di situ—karena "mark twain" juga berarti "batas antara aman dan berbahaya." 

Dan Mark Twain, sebagai persona, akan hidup di perbatasan itu sepanjang hidupnya—antara humor dan kesedihan, antara ketenaran dan kehancuran, antara kebahagiaan dan tragedi.


Bagian 3: Ketenaran yang Meledak—dan Harga yang Harus Dibayar 

"The Celebrated Jumping Frog"—Viral di Tahun 1865 

Pada tahun 1865, Mark Twain menulis cerita pendek tentang seekor katak yang dilatih untuk melompat—"The Celebrated Jumping Frog of Calaveras County." 

Cerita itu diterbitkan di koran New York dan menjadi sensasi nasional. Semua orang membicarakannya. Semua orang mencetak ulang. Twain menjadi nama yang dikenal di seluruh Amerika. 

Dia berusia 30 tahun dan tiba-tiba menjadi selebriti. 

Tapi ketenaran tidak membawa uang—belum. Jadi Twain melakukan apa yang dilakukan semua penulis terkenal di era itu: tur kuliah keliling Amerika. 

Dan di sinilah dia menciptakan persona Mark Twain yang kita kenal: pria santai dengan aksen Selatan yang kental, menceritakan kisah-kisah lucu dengan timing yang sempurna, terlihat seperti tidak peduli tapi sebenarnya setiap kata sudah dilatih dengan hati-hati. 

Dia belajar bahwa orang tidak hanya ingin membaca Mark Twain—mereka ingin MELIHAT Mark Twain. Mereka ingin pria yang lucu, yang membuat mereka tertawa, yang terlihat seperti paman yang santai. 

Jadi dia memberikannya. Bahkan ketika dia sendiri tidak merasa lucu. 

Olivia Langdon—Cinta yang Mengubah Segalanya 

Pada tahun 1868, Twain bertemu Olivia Langdon—"Livy"—putri dari keluarga kaya di Elmira, New York. 

Livy adalah kebalikan total dari Twain: tenang, religius, terdidik dengan sempurna, dari keluarga yang kaya dan terhormat. Keluarganya adalah abolisionis—mereka aktif membantu budak yang melarikan diri melalui Underground Railroad. 

Twain jatuh cinta. Keras. 

Dia menulis surat cinta yang panjang dan puitis. Dia berjanji akan menjadi pria yang lebih baik. Dia bahkan berpura-pura lebih religius daripada yang sebenarnya untuk membuat keluarga Livy menerimanya. 

Dan berhasil. Mereka menikah tahun 1870.

Pernikahan ini mengubah hidup Twain. Livy menjadi editor pertamanya—membaca semua tulisannya sebelum dipublikasikan, memberikan saran, membantu dia mengendalikan amarahnya yang eksplosif. 

Chernow menulis bahwa Livy melatih Twain untuk melakukan sesuatu yang sekarang kita sebut "anger management." Ketika Twain menulis surat marah kepada seseorang, Livy melatihnya untuk menyimpan surat itu di laci, menunggu sehari, lalu menulis versi yang lebih tenang. 

Tanpa Livy, Mark Twain mungkin akan menghancurkan karirnya sendiri dengan mulut besarnya.


Bagian 4: Puncak Kreativitas—Masterpiece Lahir

Hartford—Rumah Mewah dan Karya Abadi 

Tahun 1874, Twain membangun rumah megah di Hartford, Connecticut—19 kamar, arsitektur Victorian yang rumit, penuh dengan teknologi terbaru (termasuk salah satu telepon pertama di Amerika). 

Rumah itu mahal—terlalu mahal. Tapi Twain sedang di puncak karirnya dan yakin uang akan terus mengalir. 

Di rumah ini, dikelilingi Livy dan tiga putri mereka (Susy, Clara, Jean), Twain menulis karya-karya terbaiknya: 

"The Adventures of Tom Sawyer" (1876) - Kisah masa kecil di Hannibal, penuh nostalgia dan petualangan. Buku ini sukses besar dan membuat Twain kaya. 

"Adventures of Huckleberry Finn" (1884) - Masterpiece-nya. Novel yang William Faulkner sebut "buku pertama sastra Amerika yang sejati." 

Mengapa "Huckleberry Finn" begitu revolusioner? 

Karena ditulis dalam bahasa rakyat biasa—dialek, slang, grammar yang "salah." Sebelumnya, sastra Amerika mencoba meniru gaya Eropa yang formal. Twain berkata: "Tidak. Ini adalah bagaimana orang Amerika yang sebenarnya berbicara. Ini adalah suara kita." 

Dan lebih dalam lagi: buku itu adalah kritik tajam terhadap perbudakan dan rasisme. Huck, anak kulit putih yang dibesarkan untuk percaya budak adalah property, secara perlahan menyadari bahwa Jim—budak yang melarikan diri—adalah manusia yang setara dengannya. Bahkan lebih baik dari kebanyakan orang "terhormat" yang dia kenal. 

Tapi inilah kontradiksi Twain yang paling menyakitkan: dia menulis novel antirasisme yang brilian, tapi menggunakan bahasa yang sekarang dianggap sangat ofensif. 

Kata-N muncul lebih dari 200 kali dalam buku. Chernow menulis bahwa Twain tetap "produk dari negara budak" dalam bahasanya, tapi "pelopor kemajuan rasial" dalam tindakannya. 

Dia membayar biaya kuliah untuk mahasiswa kulit hitam. Dia berbicara melawan hukum Jim Crow. Dia menulis esai yang mengecam imperialisme dan rasisme. 

Tapi dia tidak pernah bisa sepenuhnya melepaskan bahasa masa kecilnya—bahasa yang mencerminkan keluarga pemilik budak tempat dia tumbuh. 

Ini adalah kontradiksi yang tidak bisa diselesaikan. Dan Chernow tidak mencoba menyelesaikannya—dia hanya menunjukkan kompleksitas manusia yang nyata.


Bagian 5: Kehancuran Finansial—Genius Sastra, Idiot Bisnis 

Paige Typesetting Machine—Obsesi yang Menghancurkan

Inilah ironi tragis Mark Twain: dia jenius dalam menulis, tapi idiot total dalam bisnis. 

Pada tahun 1880-an, Twain menginvestasikan hampir seluruh kekayaannya—lebih dari $300.000 (setara $9 juta hari ini)—ke dalam Paige Typesetting Machine. 

Mesin ini seharusnya merevolusi industri percetakan. Itu bisa set type otomatis, lebih cepat dari pekerja manusia. Twain yakin ini akan menjadikannya lebih kaya dari Rockefeller. 

Masalahnya? Mesin itu terlalu rumit. 18.000 bagian bergerak. Selalu rusak. Terlalu mahal untuk diproduksi massal. 

Sementara Twain membuang uang ke dalam mesin yang gagal, kompetitor menciptakan Linotype—mesin yang lebih sederhana yang benar-benar bekerja. Linotype menjadi standar industri. 

Paige Typesetting Machine menjadi rongsokan. 

Twain kehilangan segalanya. 

Bangkrut pada Usia 58 

Tahun 1894, Mark Twain—penulis paling terkenal di Amerika—dinyatakan bangkrut

Dia berhutang ratusan ribu dolar. Rumah mewahnya di Hartford harus ditutup. Keluarganya harus pindah ke Eropa karena biaya hidup lebih murah di sana. 

Dan yang paling memalukan: dia harus berutang pada istri sendiri. Livy menggunakan uang warisannya untuk menutupi hutang Twain. 

Tapi Twain membuat keputusan yang mengejutkan: meskipun secara hukum dia bisa mengajukan kebangkrutan dan tidak membayar kreditor, dia memilih untuk membayar setiap sen yang dia hutang. 

Dia berusia hampir 60 tahun, kesehatan menurun, tapi dia melakukan tur kuliah keliling dunia—Amerika, Inggris, Australia, India, Afrika Selatan—berbicara di depan ribuan orang malam demi malam, mengumpulkan uang untuk melunasi hutang. 

Butuh empat tahun, tapi akhirnya dia membayar semuanya.

Integritas ini membuat reputasinya melonjak. Orang-orang kagum pada pria yang menolak jalan mudah dan memilih kehormatan. 

Tapi harga yang harus dibayar sangat tinggi—tidak hanya secara finansial, tapi juga secara emosional dan keluarga.


Bagian 6: Tragedi Beruntun—Kehilangan yang Tak Tertahankan 

Susy—Anak Tercinta yang Pertama Pergi 

Sementara Twain tur keliling dunia untuk melunasi hutang, putri tertua mereka, Susy, berusia 24 tahun, tinggal di Hartford. 

Pada Agustus 1896, Susy jatuh sakit dengan meningitis. 

Twain dan Livy sedang di Inggris. Mereka segera berangkat pulang, tapi terlambat.

Susy meninggal sebelum mereka tiba. 

Twain hancur. Susy adalah anak favoritnya—cerdas, sensitif, artistik. Dia menulis biografi ayahnya ketika masih remaja. Mereka sangat dekat. 

Dan sekarang dia pergi. 

Twain menulis dalam suratnya: "Saya tidak pernah tahu apa itu kesedihan sampai ini terjadi." 

Tapi kesedihan baru saja dimulai. 

Livy—Kehilangan Cinta Hidupnya 

Setelah kematian Susy, Livy tidak pernah benar-benar pulih. Kesehatannya runtuh—serangan jantung, asma parah, depresi. 

Tahun 1904, setelah 34 tahun pernikahan, Livy meninggal. 

Twain duduk di samping tempat tidurnya, memegang tangannya, sampai napas terakhir.

Dia menulis: "Hidupku selesai. Aku hanya menunggu." 

Tanpa Livy, Twain kehilangan jangkar. Dia kehilangan editor. Kehilangan kekasih. Kehilangan orang yang mengerti dia lebih baik dari siapa pun. 

Jean—Anak Terakhir 

Putri bungsunya, Jean, menderita epilepsi parah. Twain mencoba semua pengobatan yang tersedia—tidak ada yang berhasil. 

Pada Desember 1909, Jean ditemukan meninggal di bak mandi—kemungkinan serangan epilepsi yang menyebabkan dia tenggelam.

Sekarang hanya tersisa Clara. Dari empat anak, hanya satu yang bertahan. 

Twain menulis dengan pahit: "Saya dimaksudkan untuk mengubur mereka semua, rupanya."


Bagian 7: Tahun-Tahun Gelap—Angelfish dan Kontroversi

Obsesi yang Tidak Sehat 

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Twain mengembangkan obsesi yang membuat orang tidak nyaman: Angelfish Club. 

Ini adalah kelompok gadis-gadis muda (usia 10-16 tahun) yang dia kumpulkan sebagai "cucu pengganti." Dia menulis surat kepada mereka, mengundang mereka ke rumahnya, memberikan hadiah, menghabiskan waktu berjam-jam dengan mereka. 

Twain bersikeras ini tidak berbahaya—dia hanya kesepian, merindukan anak-anaknya yang hilang, mencari kepolosan dan kegembiraan yang telah hilang dari hidupnya. 

Tapi Chernow menulis dengan jelas: "Di era modern, perilaku ini akan menimbulkan pertanyaan serius." 

Tidak ada bukti pelecehan seksual. Tapi dinamikanya tidak sehat—pria tua yang kaya dan terkenal yang membentuk hubungan emosional intens dengan gadis-gadis muda yang rentan. 

Clara (putri yang bertahan) sangat tidak nyaman dengan ini, tapi tidak bisa menghentikan ayahnya. 

Ini adalah contoh lain dari kontradiksi Twain—pria yang menulis tentang keadilan dan moral, tapi memiliki blind spot besar dalam perilaku pribadinya sendiri.


Bagian 8: Kembali ke Halley's Comet—Akhir yang Diprediksi 

"Saya Datang dengan Komet, Saya Akan Pergi dengan Komet" 

Sejak tahun-tahun awalnya, Twain terobsesi dengan fakta bahwa dia lahir pada tahun Halley's Comet terlihat (1835). 

Dia menulis: "Saya datang dengan Halley's Comet pada tahun 1835. Komet itu akan kembali tahun depan, dan saya berharap pergi bersamanya. Akan menjadi kekecewaan terbesar dalam hidup saya jika saya tidak pergi dengan Halley's Comet." 

Dan pada 21 April 1910, sehari setelah Halley's Comet mencapai titik terdekatnya dengan Bumi, Mark Twain meninggal—usia 74 tahun. 

Prediksinya sendiri terpenuhi. 

Clara sedang hamil dengan satu-satunya cucu Twain. Tapi warisan Twain yang sebenarnya bukan dalam keturunan—warisan adalah dalam kata-kata.


Penutup: Kontradiksi yang Abadi 

Ron Chernow menutup biografinya tanpa mencoba "menyelesaikan" Mark Twain—karena Twain tidak bisa diselesaikan. 

Dia adalah: 

  • Aktivis antirasisme yang menggunakan bahasa rasis
  • Humoris publik yang menderita depresi privat
  • Genius sastra yang idiot dalam bisnis
  • Pria yang menuntut keadilan tapi memiliki obsesi yang tidak sehat

Tapi inilah yang membuat Twain tetap relevan 115 tahun setelah kematiannya: dia adalah manusia yang sangat kompleks, sangat jujur tentang kontradiksinya sendiri. 

Pelajaran dari Kehidupan Mark Twain 

1. Persona Publik Bukan Realitas Pribadi 

Twain menciptakan image pria yang santai, lucu, tidak peduli. Tapi di dalam, dia moody, temperamental, obsesif. Dia tidak "get over things"—dia menyimpan dendam selama bertahun-tahun. 

Pelajaran: Jangan pernah mengira Anda tahu seseorang dari persona publiknya. Semua orang memakai topeng. 

2. Genius di Satu Area Tidak Menjamin Kompetensi di Area Lain 

Twain jenius dalam menulis. Tapi dia bodoh total dalam bisnis. Dia terus-menerus membuat keputusan investasi yang menghancurkan. 

Pelajaran: Kenali kelemahan Anda. Jangan biarkan kesuksesan di satu bidang membuat Anda terlalu percaya diri di bidang lain. 

3. Integritas Lebih Penting dari Kenyamanan 

Twain bisa saja mengajukan kebangkrutan dan tidak membayar kreditor. Tapi dia memilih jalan yang sulit—membayar setiap hutang, meskipun butuh empat tahun tur melelahkan. 

Pelajaran: Karakter diukur bukan ketika mudah, tapi ketika sulit. 

4. Kesedihan Tidak Menghilangkan Kemampuan untuk Menciptakan 

Twain menulis beberapa karya terbaiknya setelah tragedi terbesar hidupnya. Kesedihan tidak membunuh kreativitasnya—malah memperdalam.

Pelajaran: Luka Anda bisa menjadi sumber kekuatan, jika Anda bersedia menghadapinya.

5. Kontradiksi Adalah Bagian dari Kemanusiaan 

Twain tidak konsisten. Dia berubah pendapat. Dia hypocrite kadang-kadang. Dia manusia dengan segala cacatnya. 

Pelajaran: Jangan mencoba menjadi sempurna konsisten. Evolusi, pertumbuhan, dan bahkan kontradiksi adalah tanda bahwa Anda masih berpikir dan berkembang.


Pertanyaan untuk Anda 

Mark Twain hidup dengan kontradiksi yang tidak terselesaikan. Dia tidak pernah menjadi versi "sempurna" dari dirinya sendiri. Tapi dia tetap menciptakan karya yang mengubah sastra Amerika selamanya. 

Sekarang pertanyaan untuk Anda: 

  • Kontradiksi apa dalam diri Anda yang terus Anda coba sembunyikan—dan mengapa Anda merasa harus menyembunyikannya? 
  • Apakah Anda lebih fokus pada menciptakan "persona" yang sempurna, atau pada menjadi manusia yang jujur? 
  • Jika Twain bisa bangkit dari kehancuran finansial total di usia 60 tahun, apa alasan Anda untuk tidak mencoba lagi? 

Ron Chernow menulis: 

"Mark Twain mengalir seperti Sungai Mississippi—kadang tenang, kadang berbahaya, tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya, tapi selalu bergerak maju." 

Hidup Anda juga seperti itu. Tidak sempurna. Penuh kontradiksi. Kadang lucu, kadang tragis.

Tapi tetap bergerak maju. 

Seperti Mark Twain sendiri pernah menulis: 

"Rahasia untuk maju adalah memulai. Rahasia untuk memulai adalah memecah tugas kompleks Anda yang sangat besar menjadi tugas-tugas kecil yang dapat dikelola, dan kemudian mulai dengan yang pertama." 

Jadi mulailah. Hari ini. Dengan semua kontradiksi Anda.


Tentang Buku Asli 

"Mark Twain" diterbitkan pada 13 Mei 2025 oleh Penguin Press dan langsung menjadi #1 New York Times Bestseller. 

Ron Chernow adalah biografer pemenang Pulitzer yang sebelumnya menulis biografi Alexander Hamilton (yang menginspirasi musikal Broadway hit), George Washington (pemenang Pulitzer Prize), dan Ulysses S. Grant. 

Buku ini adalah hasil penelitian bertahun-tahun di arsip Mark Twain yang sangat lengkap—ribuan surat, ratusan manuskrip yang belum diterbitkan, catatan pribadi, dan dokumen keluarga. 

Dengan panjang 1.200 halaman, ini adalah biografi yang komprehensif, jujur, dan tidak menghindar dari aspek-aspek gelap kehidupan Twain. 

Barack Obama memasukkannya dalam daftar buku favoritnya tahun 2025, menyebutnya "biografi komprehensif dari salah satu penulis dan komentator sosial paling penting dalam sejarah Amerika." 

Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas Mark Twain, sangat disarankan membaca buku aslinya. Chernow menulis dengan prosa yang mengalir, detail yang kaya, dan empati yang mendalam terhadap subjeknya yang penuh kontradiksi. 

Ringkasan ini hanya menangkap esensi—buku lengkapnya memberikan nuansa, konteks, dan kedalaman yang tidak bisa diringkas dalam beberapa ribu kata. 

Sekarang pergilah dan rangkul kontradiksi Anda sendiri. Seperti Mark Twain membuktikan: Anda tidak perlu sempurna untuk membuat dampak yang abadi. 

Anda hanya perlu jujur, berani, dan terus menciptakan.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Finding Chika
Back to top

Similar books