Skip to main content

Mindset

by Carol Dweck · December 2025 · 16 min read

Dua Anak dengan Puzzle yang Sama

Table of contents

Dua Anak dengan Puzzle yang Sama 

Laboratorium psikologi Stanford University, sebuah ruangan dengan mainan dan puzzle. Carol Dweck, psikolog yang telah meneliti motivasi manusia selama puluhan tahun, duduk bersama dua anak berusia empat tahun. 

Dia memberikan puzzle sederhana kepada keduanya. Kedua anak menyelesaikannya dengan mudah, wajah mereka berseri-seri dengan kebanggaan. 

"Bagus sekali!" kata Carol. "Sekarang, kalian bisa memilih. Mau mengerjakan puzzle yang sama lagi, atau mencoba puzzle yang lebih sulit?" 

Anak pertama, tanpa ragu, menunjuk puzzle yang sudah diselesaikannya. "Yang ini saja." "Kenapa?" tanya Carol lembut. 

"Karena aku bisa. Aku tidak mau salah." 

Anak kedua, matanya berbinar, langsung menunjuk puzzle yang lebih rumit. "Yang sulit!" "Kenapa?" 

"Karena aku bisa belajar hal baru!" 

Dua anak. Satu pilihan sederhana. Dua respons yang sepenuhnya berbeda. 

Dan dalam perbedaan respons itu, Carol Dweck menemukan sesuatu yang akan mengubah pemahaman kita tentang kecerdasan, bakat, dan kesuksesan: mindset. 

Anak pertama menunjukkan apa yang Carol sebut sebagai "fixed mindset"—pola pikir tetap yang percaya bahwa kemampuan kita sudah ditentukan sejak lahir dan tidak bisa berubah. Baginya, puzzle mudah adalah cara aman untuk membuktikan bahwa dia pintar. Puzzle sulit adalah ancaman yang bisa membuktikan sebaliknya.

Anak kedua menunjukkan "growth mindset"—pola pikir berkembang yang percaya bahwa kemampuan bisa ditumbuhkan melalui usaha dan pembelajaran. Baginya, puzzle sulit bukan ancaman, tetapi kesempatan untuk bertumbuh. 

Tiga puluh tahun penelitian Carol Dweck mengungkapkan kebenaran yang luar biasa: pola pikir Anda—cara Anda melihat diri sendiri—menentukan seberapa jauh Anda akan pergi dalam hidup. 

Dan kabar baiknya? Mindset bukan sesuatu yang Anda terlahir dengannya. Anda bisa mengubahnya.


Bagian 1: Dua Dunia yang Berbeda 

Fixed Mindset: Dunia yang Harus Dibuktikan 

Bayangkan Anda hidup dalam dunia di mana kecerdasan, bakat, dan kepribadian Anda sudah ditentukan sejak lahir. Anda lahir dengan jumlah tertentu dari masing-masing, dan tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengubahnya. 

Dalam dunia ini, setiap situasi menjadi evaluasi

Apakah aku akan sukses atau gagal? Apakah aku akan terlihat pintar atau bodoh? Apakah aku akan diterima atau ditolak? Apakah aku pemenang atau pecundang? 

Ketika Anda percaya bahwa kualitas Anda tetap dan tidak bisa berubah, Anda merasa urgensi terus-menerus untuk membuktikan diri. Setiap tes adalah penilaian akhir tentang seberapa pintar Anda. Setiap proyek adalah bukti apakah Anda berbakat. Setiap interaksi sosial adalah pengadilan tentang kepribadian Anda. 

Hasil? Anda menghabiskan energi untuk terlihat pintar alih-alih belajar. Anda menghindari tantangan yang bisa membuat Anda gagal. Anda menyembunyikan kesalahan. Anda merasa terancam oleh kesuksesan orang lain. 

Growth Mindset: Dunia yang Harus Dijelajahi 

Sekarang bayangkan dunia yang berbeda. Dalam dunia ini, kualitas dasar Anda adalah hal yang bisa Anda kembangkan melalui dedikasi dan usaha keras. 

Otak dan bakat adalah titik awal, tetapi bukan takdir. Mereka adalah fondasi yang bisa Anda bangun di atasnya. 

Dalam dunia ini, setiap situasi menjadi kesempatan

Apa yang bisa aku pelajari dari ini? Bagaimana aku bisa berkembang? Apa strategi baru yang bisa kucoba? 

Ketika Anda percaya bahwa kualitas Anda bisa dikembangkan, Anda tidak perlu membuktikan apa-apa. Anda bebas untuk belajar, bertumbuh, dan bereksperimen. 

Kegagalan bukan cerminan dari siapa Anda—itu hanya informasi tentang apa yang perlu Anda tingkatkan. 

Hasil? Anda merangkul tantangan. Anda bertahan melalui hambatan. Anda melihat usaha sebagai jalan menuju penguasaan. Anda belajar dari kritik. Anda terinspirasi oleh kesuksesan orang lain.

Kekuatan Keyakinan 

Yang mengejutkan dari penelitian Carol Dweck adalah bahwa mindset ini bukan tentang seberapa pintar atau berbakat Anda sebenarnya. Ini tentang apa yang Anda yakini tentang diri Anda. 

Dua orang dengan kemampuan yang sama bisa mencapai hasil yang sangat berbeda tergantung pada mindset mereka. 

Seseorang dengan bakat luar biasa tetapi fixed mindset mungkin tidak pernah mencapai potensi penuhnya karena dia takut gagal dan berhenti mencoba. 

Seseorang dengan bakat rata-rata tetapi growth mindset bisa menjadi luar biasa karena dia terus belajar, bertumbuh, dan tidak pernah menyerah. 

Mindset Anda lebih penting daripada bakat awal Anda.


Bagian 2: Bagaimana Mindset Terbentuk 

Pesan yang Kita Terima Sejak Kecil 

Tidak ada bayi yang lahir dengan fixed atau growth mindset. Kita semua lahir dengan keinginan alami untuk belajar dan mengeksplorasi. 

Perhatikan balita yang belajar berjalan. Mereka jatuh ratusan kali. Tapi mereka tidak pernah berpikir, "Aku tidak berbakat dalam berjalan. Aku menyerah." Mereka terus mencoba sampai berhasil. 

Jadi kapan kita kehilangan keajaiban growth mindset ini? 

Dweck menemukan bahwa mindset terbentuk dari pesan yang kita terima dari orang tua, guru, dan masyarakat sejak sangat muda. 

Kekuatan (dan Bahaya) Pujian 

Dalam eksperimen yang mengubah segalanya, Carol Dweck dan timnya memberikan tes kepada ratusan anak. Setelah anak-anak menyelesaikan tes dengan baik, mereka dipuji dengan dua cara berbeda: 

Kelompok 1 dipuji untuk kecerdasan mereka: "Wow, kamu pasti sangat pintar!"

Kelompok 2 dipuji untuk usaha mereka: "Wow, kamu pasti bekerja sangat keras!" Hanya satu kalimat pujian. Tapi dampaknya luar biasa. 

Ketika anak-anak diberi pilihan untuk tes berikutnya: 

  • Kelompok yang dipuji untuk kecerdasan memilih tes yang mudah. Mereka tidak mau mengambil risiko yang bisa membuat mereka terlihat bodoh.
  • Kelompok yang dipuji untuk usaha memilih tes yang sulit. Mereka ingin tantangan yang bisa membuat mereka belajar.

Lalu mereka diberi tes yang sangat sulit yang semua anak gagal menyelesaikannya: 

  • Kelompok "pintar" menjadi frustrasi dan putus asa. Mereka mulai meragukan diri sendiri. Banyak yang berbohong tentang skor mereka.
  • Kelompok "usaha keras" menikmati tantangannya! Mereka bilang, "Ini menyenangkan!" dan mencoba strategi berbeda.

Akhirnya, mereka diberi tes dengan kesulitan yang sama dengan tes pertama:

  • Kelompok "pintar" skornya menurun 20%.
  • Kelompok "usaha keras" skornya meningkat 30%.

Satu kalimat pujian mengubah mindset mereka. Dan mindset itu mengubah performa mereka. 

Pesan yang Kita Kirim Tanpa Sadar 

Orang tua dan guru sering tidak menyadari pesan yang mereka kirim: 

"Kamu pintar sekali!" terdengar positif, tetapi mengajarkan bahwa kecerdasan adalah hal tetap yang harus dibuktikan. 

"Tidak apa-apa, matematika memang bukan bakatmu" terdengar pengertian, tetapi mengajarkan bahwa kemampuan tidak bisa dikembangkan. 

"Dia dapat A karena dia jenius" mengajarkan bahwa kesuksesan adalah tentang bakat alami, bukan usaha. 

Sebaliknya: 

"Kamu bekerja sangat keras untuk ini!" mengajarkan bahwa usaha menghasilkan pencapaian. "Belum bisa, tapi kamu terus meningkat!" mengajarkan bahwa kemampuan bisa dikembangkan. "Strategi apa yang bisa kamu coba?" mengajarkan bahwa ada selalu cara untuk belajar.


Bagian 3: Mindset dalam Pendidikan 

Eksperimen yang Mengubah Segalanya 

Dweck dan timnya bekerja dengan siswa yang berprestasi buruk di sekolah menengah. Mereka membagi siswa menjadi dua kelompok. 

Kelompok 1 diajarkan keterampilan belajar standar. 

Kelompok 2 diajarkan tentang cara kerja otak: setiap kali Anda mendorong diri keluar dari zona nyaman dan mempelajari sesuatu yang baru dan sulit, neuron di otak Anda membentuk koneksi baru dan lebih kuat. Seiring waktu, Anda bisa menjadi lebih pintar. 

Siswa dalam kelompok 2 diajarkan bahwa otak adalah otot yang bisa dilatih. Kecerdasan bukan tetap—itu bisa tumbuh. 

Hasilnya dramatis: 

Kelompok 1 terus menunjukkan nilai yang menurun. 

Kelompok 2 menunjukkan peningkatan tajam dalam nilai mereka. 

Hanya dengan mengajarkan mereka tentang growth mindset, performa akademik mereka berubah. 

Mengapa Ini Bekerja? 

Siswa dengan fixed mindset percaya bahwa jika mereka harus berusaha keras, itu berarti mereka tidak pintar. Jadi ketika materi menjadi sulit, mereka menyerah. 

Siswa dengan growth mindset percaya bahwa usaha adalah bagian dari proses menjadi pintar. Jadi ketika materi menjadi sulit, mereka berusaha lebih keras. 

Perbedaan kecil dalam keyakinan ini menciptakan spiral: 

Spiral Menurun (Fixed Mindset): Materi sulit → Merasa bodoh → Menyerah → Tidak belajar → Nilai turun → Konfirmasi: "Aku memang tidak pintar" 

Spiral Naik (Growth Mindset): Materi sulit → Kesempatan belajar → Berusaha lebih keras → Belajar strategi baru → Nilai naik → Konfirmasi: "Aku bisa tumbuh"


Bagian 4: Mindset dalam Olahraga 

Michael Jordan: Ikon Growth Mindset 

Banyak orang melihat Michael Jordan dan berpikir: "Dia dilahirkan dengan bakat luar biasa. Makanya dia jadi the GOAT." 

Tapi itu bukan cerita lengkapnya. 

Michael Jordan dipotong dari tim basket sekolah menengahnya. Dia tidak cukup bagus. 

Responsnya? Dia tidak bilang, "Aku tidak berbakat dalam basket." Dia berlatih. Keras. Setiap hari. Ia bahkan meminta pelatih untuk membiarkannya bergabung dengan latihan tim junior varsity agar bisa terus berkembang. 

Ketika akhirnya masuk NBA, dia tidak puas. Dia terus mencari cara untuk meningkatkan permainannya. Dia bangun jam 5 pagi untuk berlatih sebelum tim practice. Dia tetap setelah practice selesai. 

Dia berkata: "Saya kehilangan lebih dari 9.000 tembakan dalam karir saya. Saya kalah hampir 300 pertandingan. 26 kali saya dipercaya melakukan tembakan kemenangan dan meleset. Saya gagal berulang kali dalam hidup saya. Dan itulah sebabnya saya sukses." 

Itu adalah growth mindset yang sempurna. 

John McEnroe: Bakat yang Terbuang 

Sebaliknya, lihat John McEnroe—salah satu pemain tenis paling berbakat yang pernah ada. 

Tapi McEnroe punya fixed mindset. Dia percaya dia dilahirkan sebagai jenius tenis dan seharusnya menang tanpa harus bekerja terlalu keras. 

Ketika dia menghadapi kekalahan atau kesulitan, dia tidak melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar. Dia melihatnya sebagai ancaman terhadap bakatnya. 

Dia marah. Menyalahkan wasit. Menyalahkan kondisi. Melakukan tantrum. Tapi tidak pernah benar-benar memperbaiki kelemahan dalam permainannya. 

Hasilnya? Meski sangat berbakat, karirnya berakhir jauh lebih awal dari seharusnya. Dia tidak pernah mencapai potensi penuhnya. 

Fixed mindset membuat bakat terbuang.

Tiger Woods: Kombinasi Bakat dan Growth Mindset 

Tiger Woods lahir dengan bakat luar biasa—tidak ada yang menyangkalnya. Tapi yang membuatnya menjadi salah satu pegolf terhebat sepanjang masa adalah kombinasi bakat dengan growth mindset

Setelah turnamen Masters 1998, Tiger tidak menang tetapi finish di top 10. Reporter bertanya bagaimana perasaannya. 

Banyak atlet dengan fixed mindset akan kecewa dan membuat alasan. Tapi Tiger berkata: "Saya memeras handuk sampai kering minggu ini. Saya sangat bangga dengan cara saya bertahan." 

Dia tidak fokus pada tidak menang—dia fokus pada pertumbuhan dan usahanya. 

Dan kemudian dia terus bekerja untuk memperbaiki permainannya, meskipun dia sudah di puncak dunia. 

Itulah growth mindset: tidak pernah puas, selalu bertumbuh.


Bagian 5: Mindset dalam Bisnis 

Enron dan Kultus Bakat 

Enron pernah adalah perusahaan paling dikagumi di Amerika. Mereka hanya merekrut "yang terbaik dan tercerdas"—lulusan dari universitas top dengan IQ tinggi dan prestasi cemerlang. 

CEO mereka, Jeffrey Skilling, punya fixed mindset yang ekstrem. Dia percaya pada "kultus bakat"—bahwa beberapa orang dilahirkan brilian dan merekalah yang seharusnya memimpin. 

Dia membagi karyawan dalam sistem ranking: yang terbaik mendapat semua reward, yang terburuk dipecat. 

Hasilnya? Budaya kerja yang toksik. Orang takut mengakui kesalahan atau ketidaktahuan. Mereka berfokus pada terlihat pintar daripada benar-benar memecahkan masalah. 

Semua orang mencoba membuktikan mereka adalah "yang terbaik" sambil menyembunyikan masalah. 

Dan kita tahu bagaimana ceritanya berakhir: Enron bangkrut dalam salah satu skandal korporat terbesar dalam sejarah

Fixed mindset membunuh perusahaan. 

IBM dan Comeback yang Luar Biasa 

Pada awal 1990-an, IBM hampir mati. Mereka kehilangan miliaran dolar. Banyak yang bilang perusahaan ini sudah selesai. 

Lalu datang Lou Gerstner sebagai CEO baru. Dia tidak punya latar belakang teknologi—dan mungkin itulah keuntungannya. Dia tidak terikat pada "cara lama" melakukan hal-hal. 

Gerstner punya growth mindset. Dia percaya IBM bisa berubah, belajar, dan beradaptasi. 

Alih-alih hanya merekrut "orang terpintar," dia fokus pada membangun budaya pembelajaran. Dia mendorong kolaborasi daripada kompetisi internal. Dia merayakan usaha dan pembelajaran dari kegagalan. 

Dia berkata kepada karyawan: "Kami akan belajar bersama. Kami akan membuat kesalahan. Tapi kami akan terus maju." 

Hasilnya? IBM tidak hanya bertahan—mereka berkembang dan menjadi salah satu perusahaan teknologi paling sukses lagi. 

Growth mindset menyelamatkan perusahaan.


Bagian 6: Mindset dalam Hubungan 

Fixed Mindset dalam Cinta 

Orang dengan fixed mindset percaya bahwa jika seseorang benar-benar "pasangan jiwa" Anda, segalanya seharusnya mudah. Hubungan seharusnya sempurna tanpa usaha. 

Ketika konflik muncul—dan selalu ada—mereka melihatnya sebagai tanda bahwa pasangan mereka (atau hubungannya) cacat. 

Mereka berpikir: "Jika dia benar-benar mencintaiku, dia seharusnya tahu apa yang kubutuhkan tanpa aku harus mengatakannya." 

Atau: "Bertengkar berarti kita tidak cocok." 

Hasilnya? Hubungan yang rapuh. Pada tanda kesulitan pertama, mereka menyerah: "Ini bukan jodoh." 

Growth Mindset dalam Cinta 

Orang dengan growth mindset percaya bahwa hubungan yang baik membutuhkan usaha, komunikasi, dan komitmen untuk tumbuh bersama. 

Konflik bukan tanda kegagalan—itu adalah kesempatan untuk memahami satu sama lain lebih dalam dan tumbuh sebagai pasangan. 

Mereka berpikir: "Kita berbeda, dan itu okay. Mari kita belajar cara berkomunikasi lebih baik." Atau: "Ini sulit, tapi kita bisa melewatinya bersama." 

Dweck menemukan bahwa pasangan dengan growth mindset lebih bahagia, lebih puas, dan lebih mungkin bertahan melalui tantangan. 

Cinta bukan tentang menemukan orang sempurna. Ini tentang tumbuh bersama.


Bagian 7: Mengubah Mindset Anda 

Kabar Baik: Mindset Bisa Berubah 

Anda mungkin berpikir: "Oh tidak, aku punya fixed mindset. Aku terlambat untuk berubah." Tapi pikiran itu sendiri adalah fixed mindset! 

Kebenaran yang indah adalah: mindset itu sendiri bisa dikembangkan. Otak Anda bisa berubah. Anda bisa belajar cara berpikir baru. 

Langkah 1: Kenali Fixed Mindset Anda 

Kita semua punya campuran dari kedua mindset. Tidak ada yang 100% growth atau 100% fixed. 

Kenali kapan suara fixed mindset muncul: 

"Aku tidak bisa melakukan ini." "Aku bukan orang yang berbakat dalam..." "Jika aku gagal, semua orang akan tahu aku tidak cukup pintar." "Mengapa aku harus berusaha keras? Orang berbakat tidak perlu berusaha." 

Langkah 2: Pahami Bahwa Anda Punya Pilihan 

Ketika suara fixed mindset muncul, ingat: ini hanya suara, bukan kebenaran. Anda bisa memilih untuk merespons dengan growth mindset: 

Alih-alih: "Aku tidak bisa melakukan ini" Katakan: "Aku belum bisa melakukan ini. Apa yang bisa kupelajari?" 

Alih-alih: "Ini terlalu sulit" Katakan: "Ini akan membutuhkan waktu dan usaha" Alih-alih: "Aku gagal" Katakan: "Aku belajar" 

Langkah 3: Ubah Cara Anda Berbicara dengan Diri Sendiri

Bahasa yang Anda gunakan penting. 

Tambahkan kata "belum" ke kalimat Anda: 

  • Aku tidak bisa → Aku belum bisa
  • Aku tidak mengerti → Aku belum mengerti
  • Ini tidak berhasil → Ini belum berhasil

Kata "belum" mengubah segalanya. Itu mengakui bahwa Anda sedang dalam perjalanan, bukan di titik akhir. 

Langkah 4: Fokus pada Proses, Bukan Hasil 

Fixed mindset fokus pada: "Apakah aku menang? Apakah aku terlihat pintar?" Growth mindset fokus pada: "Apa yang aku pelajari? Bagaimana aku bisa membaik?" Rayakan usaha, strategi, dan pembelajaran—bukan hanya hasil akhir. 

Langkah 5: Lihat Kegagalan sebagai Informasi 

Kegagalan bukan cerminan dari siapa Anda. Itu hanya informasi tentang apa yang perlu Anda tingkatkan. 

Michael Jordan mengatakan: "Saya gagal berulang kali. Dan itulah sebabnya saya sukses." 

Thomas Edison berkata tentang menciptakan bola lampu: "Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil." 

Kegagalan adalah data, bukan identitas. 

Langkah 6: Rangkul Tantangan 

Fixed mindset menghindari tantangan karena takut gagal. 

Growth mindset mencari tantangan karena tahu di situlah pembelajaran terjadi. Tanyakan diri Anda setiap hari: "Apa peluang untuk pertumbuhan hari ini?"

Langkah 7: Belajar dari Kritik 

Fixed mindset merasa terancam oleh kritik karena melihatnya sebagai penilaian pribadi. Growth mindset melihat kritik sebagai informasi berguna untuk menjadi lebih baik. Ketika menerima feedback negatif, tanyakan: "Apa yang bisa kupelajari dari ini?"


Bagian 8: Membangun Growth Mindset pada Orang Lain

Untuk Orang Tua: Cara Memuji Anak 

Jangan: 

  • "Kamu sangat pintar!"
  • "Kamu berbakat sekali!"
  • "Kamu yang terbaik!"

Ini mengajarkan fixed mindset dan membuat anak takut gagal. 

Lakukan: 

  • "Kamu bekerja sangat keras untuk ini!"
  • "Aku suka strategi yang kamu coba"
  • "Kamu tidak menyerah bahkan ketika sulit—itu luar biasa"
  • "Kesalahan membantu otakmu tumbuh"

Ini mengajarkan growth mindset dan membuat anak merangkul tantangan.

Untuk Guru: Menciptakan Ruang Kelas Growth Mindset 

  • Ajarkan siswa tentang neuroplastisitas—otak bisa berubah dan tumbuh
  • Rayakan usaha dan strategi, bukan hanya hasil
  • Gunakan kata "belum" ketika siswa kesulitan
  • Bagikan cerita tokoh sukses yang gagal berkali-kali
  • Buat kesalahan sebagai kesempatan belajar, bukan hal memalukan

Untuk Pemimpin: Membangun Budaya Pertumbuhan 

  • Rekrut untuk potensi pertumbuhan, bukan hanya bakat saat ini
  • Rayakan pembelajaran dari kegagalan
  • Dorong mengambil risiko yang bijaksana
  • Berikan feedback yang fokus pada pengembangan
  • Model growth mindset dengan mengakui ketika Anda tidak tahu dan perlu belajar

Penutup: Jalan yang Berkelanjutan 

Tidak Ada Titik Akhir 

Growth mindset bukan tujuan yang Anda capai dan selesai. Ini adalah perjalanan yang berkelanjutan. 

Bahkan Carol Dweck sendiri mengakui bahwa dia kadang jatuh ke fixed mindset. Ketika menghadapi kritik atau kegagalan, suara lama itu bisa muncul: "Mungkin aku tidak cukup baik." 

Perbedaannya adalah dia mengenali suara itu, memahami dari mana asalnya, dan memilih untuk merespons dengan growth mindset. 

Setiap hari adalah kesempatan baru untuk bertumbuh. 

Pertanyaan untuk Memandu Anda 

Setiap pagi, tanyakan pada diri sendiri: 

"Apa peluang untuk pertumbuhan hari ini?" 

  • Untuk diri sendiri?
  • Untuk orang di sekitar saya?

Ketika menghadapi tantangan: 

"Apa yang bisa kupelajari dari ini?" 

Ketika menghadapi kegagalan: 

"Strategi apa yang bisa kucoba selanjutnya?" 

Ketika melihat kesuksesan orang lain: 

"Apa yang bisa kuambil inspirasi dari perjalanan mereka?" 

Kekuatan "Belum" 

Ingat anak-anak dengan puzzle di awal? Perbedaan antara mereka bukan bakat atau kecerdasan. Itu adalah keyakinan tentang apakah kemampuan mereka bisa berubah. 

Dan keyakinan itu membuat segala perbedaan. 

Jadi ketika Anda menghadapi sesuatu yang sulit, ketika Anda merasa tidak cukup pintar atau berbakat, ingat kata ajaib:

Belum. 

Anda belum bisa. Tapi Anda bisa belajar. Anda belum mengerti. Tapi Anda bisa bertumbuh. Anda belum sampai di sana. Tapi Anda sedang dalam perjalanan. 

Pesan Terakhir dari Carol Dweck 

"Untuk tiga puluh tahun, penelitian saya telah menunjukkan bahwa pandangan yang Anda adopsi untuk diri sendiri sangat mempengaruhi cara Anda menjalani hidup Anda. Ini bisa menentukan apakah Anda menjadi orang yang Anda ingin menjadi dan apakah Anda mencapai hal-hal yang Anda hargai." 

Tapi ada kabar baiknya: pandangan itu bisa diubah. 

Anda tidak terjebak dengan mindset yang Anda miliki sekarang. Otak Anda dirancang untuk berubah dan beradaptasi. 

Setiap hari adalah kesempatan baru untuk memilih growth mindset. Setiap tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh. Setiap kegagalan adalah data untuk perbaikan. 

Pertanyaannya bukan apakah Anda cukup pintar atau berbakat. Pertanyaannya adalah: Apakah Anda bersedia untuk terus belajar dan tumbuh? 

Jika jawabannya ya, tidak ada batas untuk apa yang bisa Anda capai. 

Jadi mulailah hari ini. Pilih satu area di mana Anda akan mengadopsi growth mindset. 

Rangkul tantangan. Belajar dari kritik. Rayakan usaha Anda. Dan ingat—Anda belum sampai di sana, tapi Anda sedang dalam perjalanan. 

Dan perjalanan itu sendiri adalah kesuksesan.


Tentang Buku Asli 

Mindset: The New Psychology of Success ditulis oleh Carol S. Dweck dan pertama kali diterbitkan pada 2006. Buku ini adalah hasil dari lebih dari tiga puluh tahun penelitian tentang motivasi manusia dan prestasi. 

Carol Dweck adalah Lewis and Virginia Eaton Professor of Psychology di Stanford University. Dia telah menerima berbagai penghargaan untuk karyanya dan penelitiannya telah mengubah cara kita memahami kecerdasan, bakat, dan kesuksesan. 

Buku ini telah terjual jutaan copy di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke puluhan bahasa. Konsep growth mindset sekarang diajarkan di sekolah-sekolah, digunakan oleh atlet Olimpiade, dan diterapkan oleh perusahaan-perusahaan Fortune 500. 

Edisi terbaru (2016) termasuk bab baru di mana Dweck membahas "false growth mindset"—ketika orang mengira mereka memiliki growth mindset tapi sebenarnya tidak—dan memberikan panduan untuk mengadopsi growth mindset yang lebih dalam dan lebih autentik. 

Untuk pemahaman lengkap, sangat disarankan membaca buku aslinya. Dweck memberikan banyak contoh penelitian, cerita inspiratif, dan latihan praktis yang tidak bisa sepenuhnya dicakup dalam ringkasan ini. 

Ringkasan ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif tentang konsep-konsep inti dalam Mindset, tetapi tidak menggantikan kekayaan detail, nuansa, dan latihan dalam buku aslinya. 

Sekarang giliran Anda untuk memulai perjalanan growth mindset. 

Ingat: Anda BELUM sampai di sana. Dan itu benar-benar okay.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: You Are a Badass
Back to top

Similar books