No More Tears
by Gardiner Harris · December 2025 · 16 min read
Percakapan di Bar Bandara yang Mengubah Segalanya
Table of contents
Percakapan di Bar Bandara yang Mengubah Segalanya
Tahun 2004. Bandara di suatu tempat di Amerika.
Gardiner Harris, reporter kesehatan untuk The New York Times, datang lebih awal untuk penerbangan. Dia duduk di bar bandara, memesan kopi, berencana membaca dokumen untuk artikel berikutnya.
Di sebelahnya duduk seorang wanita. Mereka mulai berbincang—small talk biasa antar penumpang yang menunggu.
"Kerja di bidang apa?" tanya Harris.
"Sales rep untuk Johnson & Johnson," jawabnya.
Harris langsung tertarik. Sebagai reporter farmasi, nama Johnson & Johnson selalu muncul—tapi selalu dalam konteks positif. Perusahaan terpercaya. Amerika paling dicintai. Band-Aid. Baby Powder. Tylenol. Produk yang ada di setiap rumah.
"Bagaimana rasanya bekerja di sana?" tanya Harris.
Wanita itu diam sebentar. Lalu dia mulai bercerita.
Cerita tentang tekanan brutal untuk menjual obat ke populasi yang tidak seharusnya menerimanya. Cerita tentang bonus besar jika mereka bisa membuat dokter meresepkan obat untuk penggunaan yang tidak disetujui FDA. Cerita tentang bagaimana pekerjaannya—yang dia pikir membantu orang—sebenarnya menyakiti mereka.
Dan cerita tentang bagaimana tekanan itu menghancurkan keluarganya.
Harris mendengarkan, terpaku. Ini bukan sekadar keluhan karyawan yang tidak puas. Ini adalah jendela ke dalam sesuatu yang jauh lebih gelap.
Percakapan itu berlangsung 30 menit. Tapi dampaknya berlangsung 20 tahun.
Sejak saat itu, Harris mengubah cara dia meliput Johnson & Johnson—dan seluruh industri farmasi. Investigasinya mengarah pada artikel-artikel yang mengungkap skandal demi skandal. Dan akhirnya, pada tahun 2025, semua itu terkumpul dalam buku yang mengguncang Amerika: "No More Tears: The Dark Secrets of Johnson & Johnson."
Buku ini bukan sekadar exposé tentang satu perusahaan. Ini adalah cerita tentang bagaimana perusahaan paling dipercaya di Amerika—yang logonya ada di setiap kotak P3K, di setiap kamar bayi—menghabiskan puluhan tahun menyembunyikan kebenaran yang mengerikan:
Produk-produk mereka telah membunuh diperkirakan dua juta orang.
Lebih banyak dari semua tentara Amerika yang gugur di setiap perang sejak negara ini berdiri.
Dan mereka tahu. Sejak awal, mereka tahu.
Mari kita buka rahasia yang mereka sembunyikan selama hampir seabad.
Bagian 1: The Golden Egg—Kepercayaan yang Dibangun untuk Dimanfaatkan
Telur Emas yang Tak Ternilai
Dalam dokumen internal Johnson & Johnson tahun 1999, sebuah slide deck menyebut Baby Powder sebagai "Golden Egg"—telur emas perusahaan.
Bukan karena keuntungannya. Baby Powder dan Tylenol sebenarnya tidak berkontribusi signifikan pada profit J&J sejak tahun 1980-an. Bisnis besar mereka adalah farmasi—obat-obatan resep yang menghasilkan miliaran dolar.
Tapi Baby Powder adalah sesuatu yang jauh lebih berharga: kepercayaan emosional.
Dokumen itu menjelaskan: Perusahaan lain punya "rational trust"—kepercayaan berdasarkan logika dan performa. Tapi hanya Johnson & Johnson yang punya "emotional trust"—kepercayaan yang berakar pada kenangan masa kecil, pada momen-momen paling lembut dalam hidup kita.
Bayi yang baru lahir dibedaki dengan Johnson's Baby Powder. Lutut yang terluka diobati dengan Band-Aid J&J. Demam diturunkan dengan Tylenol.
Produk-produk ini menjadi bagian dari ritual paling intim keluarga Amerika. Dan kepercayaan itu—seperti yang dijelaskan dokumen internal—menciptakan "beliefs yang sangat kuat di antara karyawan J&J bahwa perusahaan ini adalah etis secara unik dan merupakan kekuatan untuk kebaikan di dunia."
Inilah yang brilian dan mengerikan sekaligus: Kepercayaan itu menjadi perisai.
Ketika tuduhan muncul, publik tidak percaya. "Johnson & Johnson? Perusahaan yang membuat Baby Powder? Tidak mungkin."
Karyawan tidak percaya. Mereka telah dicuci otak dengan cerita heroik perusahaan—terutama respons Tylenol tahun 1982—sampai mereka tidak bisa membayangkan perusahaan mereka melakukan kesalahan.
Bahkan regulator tidak terlalu keras. Bagaimana mungkin menyerang perusahaan yang identik dengan bayi yang tersenyum?
Tapi di balik senyum itu, ada kegelapan yang mengejutkan.
Bagian 2: Baby Powder—Asbes yang Dibedakkan ke Bayi
Rahasia yang Tersembunyi Sejak 1950-an
Johnson's Baby Powder pertama kali diluncurkan tahun 1894. Terbuat dari talc—mineral yang dihaluskan menjadi bubuk lembut—digunakan untuk menenangkan ruam popok dan menjaga kulit bayi tetap kering.
Masalahnya: Talc dan asbes adalah mineral kembar.
Mereka punya komposisi kimia yang hampir identik. Perbedaannya hanya pada waktu dan tekanan geologis. Di alam, vena talc hampir selalu mengandung serat asbes.
Dan asbes adalah karsinogen yang sangat mematikan. Partikelnya sangat kecil sehingga mereka benar-benar "menusuk DNA," menyebabkan mutasi genetik yang mengarah ke kanker—terutama mesothelioma (kanker jaringan paru-paru) dan kanker ovarium.
Johnson & Johnson tahu ini sejak tahun 1950-an.
Ketika mereka membeli tambang talc di Vermont tahun 1964, salah satu tambang itu berada hanya beberapa meter dari tambang asbes. Testing internal menunjukkan kontaminasi asbes antara 1-3%.
Tahun 1973, direktur riset mereka merekomendasikan untuk beralih ke cornstarch (tepung jagung)—alternatif yang aman dan tidak mengandung asbes.
Perusahaan menolak.
Mengapa? Karena beralih ke cornstarch akan menjadi pengakuan bersalah. Itu akan membuka pintu untuk tuntutan hukum. Lebih baik terus menjual produk berbahaya dan menyangkal masalahnya.
Memanipulasi Sains
Tapi bagaimana mereka bisa terus mengklaim produk mereka "bebas asbes" ketika testing menunjukkan sebaliknya?
Jawabannya brilian dan jahat: Mereka menciptakan metode testing yang dirancang untuk melewatkan asbes.
Tahun 1970-an, J&J mengembangkan protokol testing yang disebut J4-1. Metode ini menetapkan batas deteksi tepat di atas level kontaminasi yang mereka tahu ada di produk mereka.
Dengan kata lain: jika produk mereka mengandung 1% asbes, mereka membuat test yang hanya bisa mendeteksi di atas 1,5%. Hasilnya? "Tidak ada asbes terdeteksi."
Lebih buruk lagi, J&J melobi industri untuk mengadopsi J4-1 sebagai standar industri. Jadi bukan hanya produk mereka yang bisa lolos—semua perusahaan talc bisa mengklaim produk mereka "bebas asbes" meskipun tidak.
Mereka juga:
- Menekan ilmuwan independen untuk menarik penelitian mereka
- Mendanai penelitian yang dirancang untuk menemukan hasil yang mereka inginkan
- Melakukan eksperimen tidak etis pada tahanan dan anak-anak melalui peneliti yang mereka bayar
Korban Nyata
Berapa banyak orang yang terkena dampak?
Sekitar setengah dari semua bayi yang lahir di Amerika selama abad ke-20 dibedaki dengan Johnson's Baby Powder.
Bayi diganti popok 6-12 kali sehari. Setiap kali, talc dibedakkan. Bubuknya sangat halus sehingga tetap mengambang di udara lebih dari satu jam. Bayi bernapas. Ibu bernapas.
Untuk wanita yang menggunakan bedak talc untuk "kebersihan feminin"—praktek yang J&J secara aktif promosikan—asbes masuk ke sistem reproduksi mereka. Risiko kanker ovarium meningkat drastis.
Ketika kasus-kasus mulai sampai ke pengadilan, J&J berjuang dengan segala cara. Mereka tidak settle kecuali benar-benar dipaksa. Sejak 2011, J&J telah menghabiskan $35 miliar untuk pengacara dan biaya litigasi—lebih dari perusahaan mana pun di Amerika.
Tahun 2020, J&J akhirnya menarik Baby Powder berbasis talc dari pasar Amerika dan Kanada. Tahun 2022, dari seluruh dunia.
Tapi kerusakan sudah terjadi. 93.000 tuntutan hukum diajukan. J&J mencoba membekukannya dengan mengajukan kebangkrutan berulang kali—taktik yang ditolak pengadilan pada April 2025.
Mereka menawarkan trust fund $10 miliar untuk settlement. Tapi untuk berapa banyak nyawa yang hilang? Berapa banyak wanita yang tidak bisa punya anak karena kanker ovarium? Berapa banyak bayi yang bernapas asbes di bulan-bulan pertama hidup mereka?
Tidak ada uang yang bisa mengembalikan itu.
Bagian 3: Risperdal—Anak-Anak dengan Payudara
Obat yang Dicari Pasar
Tahun 1993, J&J meluncurkan Risperdal—obat antipsikotik untuk mengobati skizofrenia.
Masalahnya: pasar skizofrenia kecil. J&J baru saja kehilangan paten untuk Haldol, obat antipsikotik lama mereka. Mereka butuh Risperdal menjadi blockbuster.
Jadi mereka memutuskan untuk memperluas pasar.
Risperdal hanya disetujui FDA untuk skizofrenia. Tapi J&J mulai memasarkannya secara ilegal untuk:
- Anak-anak dengan "gangguan perilaku" (ADHD, depresi, agitasi)
- Lansia dengan demensia di nursing homes
- Pasien dengan gangguan mood ringan
Ini disebut "off-label marketing"—dan itu ilegal. FDA melarang perusahaan farmasi mempromosikan obat untuk penggunaan yang tidak disetujui.
Tapi J&J tidak peduli. Potensi profit terlalu besar.
Membuat Penyakit Baru
Sebelum tahun 1990-an, diagnosis "bipolar disorder pada anak" hampir tidak ada. Itu kontroversial—banyak psikiater tidak percaya anak-anak bisa punya gangguan bipolar.
Lalu J&J membayar Dr. Joseph Biederman dari Harvard—salah satu psikiater anak paling berpengaruh di Amerika—jutaan dolar.
Tiba-tiba, Biederman mulai mempublikasikan penelitian yang mengklaim bipolar pada anak sangat umum dan harus diobati dengan antipsikotik seperti Risperdal.
Antara 1994 dan 2003, diagnosis bipolar pada anak meningkat 40 kali lipat.
Sales rep J&J mengadakan "ice cream parties" di klinik psikiatri anak di seluruh negara. Mereka mendistribusikan chart yang disebut "DART: Depression, Agitation, and Racing Thoughts"—dirancang untuk menurunkan ambang batas diagnosis sehingga lebih banyak anak yang "memenuhi kriteria."
Efek Samping yang Disembunyikan
Risperdal meningkatkan level prolaktin—hormon yang mengontrol produksi susu.
Hasilnya pada anak laki-laki: gynecomastia—pertumbuhan payudara permanen.
Label asli Risperdal menyatakan risiko ini kurang dari 1 per 1.000 pasien.
Tapi analisis ulang internal J&J tahun 2001 terhadap 151 anak laki-laki menunjukkan risiko 3,8%.
J&J tidak melaporkan ini ke FDA. Sebaliknya, mereka menyewa statistician untuk memanipulasi angka—menghapus anak di atas 10 tahun dan memasukkan anak perempuan ke dalam denominator untuk membuat persentase terlihat lebih kecil.
Data pengadilan kemudian menunjukkan risiko sebenarnya bisa mencapai 5,5% dalam satu tahun dan 12,5% setelah dua tahun.
Gardiner Harris memperkirakan secara konservatif: 12.000 anak laki-laki mengalami pertumbuhan payudara permanen dalam satu tahun saja.
Satu-satunya cara menghilangkannya? Mastektomi ganda.
Bayangkan: Anda seorang remaja laki-laki. Anda diberi obat untuk "gangguan perilaku" yang mungkin tidak Anda miliki. Dan sekarang Anda punya payudara yang hanya bisa dihilangkan dengan operasi besar.
Trauma psikologis? Tidak terukur.
Lansia di Nursing Homes
Risperdal juga dipasarkan agresif ke nursing homes untuk lansia dengan demensia.
Masalahnya: Risperdal meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, dan kematian pada lansia dengan demensia. FDA mengeluarkan peringatan "black box"—peringatan paling serius—pada tahun 2005.
Tapi J&J terus mendorong penjualan. Sales rep diberitahu untuk meyakinkan dokter bahwa mereka tidak akan bertanggung jawab secara hukum untuk meresepkan obat yang bisa membunuh pasien mereka.
Mengapa nursing homes terus menggunakan Risperdal?
Karena obat ini adalah "chemical straitjacket"—penenang kimia yang membuat pasien demensia diam di malam hari.
Pasien Alzheimer yang tidak diobati sering bangun di malam hari, bingung, mencari perawatan. Jika mereka diberi Risperdal, mereka tidak bangun.
Penelitian menunjukkan: ketika biaya staffing naik, penggunaan antipsikotik di nursing homes naik.
Dengan kata lain: nursing homes menggunakan Risperdal untuk mengurangi biaya tenaga kerja—dengan mengorbankan nyawa pasien.
Gardiner Harris memperkirakan: Lebih dari satu juta orang Amerika telah meninggal karena Risperdal dan antipsikotik atipikal serupa.
Itu lebih dari dua kali lipat kematian dari krisis opioid—yang semua orang bicarakan.
Tapi karena korbannya lansia yang mendekati kematian, kematian mereka dilihat sebagai "alami." Keluarga bahkan kadang melihatnya sebagai "berkah."
Realitasnya? Ini adalah euthanasia massal yang tidak disadari.
Bagian 4: Duragesic—Kingpin Krisis Opioid
Fentanyl Sebelum Fentanyl Terkenal
Semua orang tahu tentang keluarga Sackler dan OxyContin. Empire of Pain. Opioid crisis.
Tapi apa yang tidak banyak orang tahu: Johnson & Johnson adalah pemain yang lebih besar.
Tahun 1990—enam tahun sebelum Purdue meluncurkan OxyContin—J&J mendapat persetujuan FDA untuk Duragesic: patch fentanyl transdermal yang melepaskan obat selama 72 jam.
Fentanyl adalah opioid sintetis yang 50-100 kali lebih kuat dari morfin.
J&J memasarkannya sebagai "non-addictive pain reliever"—klaim yang lebih berbahaya dan tidak masuk akal daripada klaim Purdue tentang OxyContin.
Ketika OxyContin menjadi blockbuster di akhir 1990-an, eksekutif J&J iri. Mereka bahkan menjajaki kemitraan dengan Purdue untuk co-marketing opioid mereka.
Tahun 2002, J&J menyewa konsultan McKinsey—ya, McKinsey yang sama yang membantu Purdue—yang menyarankan:
- Target pasien dengan "high abuse risk" (laki-laki di bawah 40) untuk treatment jangka panjang
- Pasarkan Duragesic untuk nyeri punggung kronis—kondisi yang mempengaruhi jutaan orang
Kedua strategi ini memastikan tingkat kecanduan dan kematian yang meroket.
Noramco—Suplai untuk Seluruh Epidemi
Tapi peran J&J dalam krisis opioid lebih dalam lagi.
Anak perusahaan J&J, Noramco, adalah pemasok utama bahan aktif opioid untuk seluruh industri. Mereka menyediakan sekitar 80% dari bahan baku opioid yang digunakan untuk membuat OxyContin, Vicodin, dan obat opioid lainnya.
Dengan kata lain: J&J bukan hanya pemain dalam krisis opioid. Mereka adalah fondasi dari epidemi itu.
Mereka menyediakan bahan baku, lalu memasarkan produk mereka sendiri dengan klaim palsu tentang risiko kecanduan.
Hasilnya? 500.000 orang Amerika meninggal karena opioid resep dalam gelombang pertama epidemi opioid.
Dan itu hanya menghitung kematian dari opioid resep—bukan gelombang kedua dengan heroin dan fentanyl ilegal yang menyusul.
Bagian 5: Procrit—Obat Kanker yang Mempercepat Kematian
Menyembunyikan Data Selama 20 Tahun
Procrit adalah obat yang merangsang produksi sel darah merah, digunakan untuk mengobati anemia—terutama pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
Masalahnya: Procrit mempercepat pertumbuhan tumor kanker dan meningkatkan kematian.
J&J menemukan ini dalam studi mereka sendiri. Tapi mereka menyembunyikan data selama hampir 20 tahun.
Alih-alih memperingatkan dokter dan pasien, J&J malah memperluas marketing Procrit—mendorong dokter untuk menggunakannya lebih agresif, untuk lebih banyak pasien, dengan dosis lebih tinggi.
Mereka bahkan terlibat dalam Medicare fraud: memberikan Procrit ke provider dengan biaya rendah atau gratis, lalu meminta reimbursement pemerintah dengan harga penuh.
Berapa Banyak yang Mati?
Sulit untuk mengetahui angka pasti. Tapi penelitian independen—seperti yang dipublikasikan oleh Paul Goldberg di The Cancer Letter—menunjukkan bahwa dalam uji klinis kanker payudara, wanita yang menerima Procrit memiliki hampir tiga kali lipat jumlah kematian dibandingkan kelompok kontrol.
Jika diekstrapolasi ke seluruh populasi pasien yang menggunakan Procrit selama dua dekade, kita berbicara tentang ribuan kematian yang bisa dicegah.
Bagian 6: Sistem yang Membiarkan Ini Terjadi
FDA yang Ditangkap
Salah satu revelasi paling mengganggu dari buku Harris adalah peran FDA—atau lebih tepatnya, kegagalan FDA.
75% dari anggaran divisi obat FDA berasal dari "user fees"—biaya yang dibayar oleh perusahaan farmasi sendiri.
Dengan kata lain: FDA dibiayai oleh industri yang seharusnya mereka atur.
Lebih buruk lagi: Banyak pejabat FDA kemudian bekerja untuk perusahaan farmasi setelah meninggalkan agensi—menciptakan konflik kepentingan yang jelas.
Hasilnya? Apa yang Harris sebut "regulatory servility"—kepatuhan regulator yang membiarkan J&J lolos dengan pembunuhan massal.
Dokter yang Dibayar
J&J juga secara sistematis menyuap dokter—meskipun mereka menyebutnya "consulting fees" atau "speaker honorariums."
Biederman dari Harvard menerima jutaan dolar. Ribuan dokter lain menerima ribuan hingga ratusan ribu dolar untuk "berbicara" tentang produk J&J atau "berkonsultasi."
Hasil? Dokter meresepkan obat J&J lebih sering—bahkan ketika obat itu tidak tepat atau berbahaya.
Media yang Diam
Iklan farmasi TV sangat menguntungkan bagi stasiun TV dan publikasi medis sehingga mereka enggan untuk mengkritik industri.
The Wall Street Journal bahkan menulis editorial yang membela J&J—sementara menerima jutaan dolar dari iklan farmasi.
Bagian 7: Produk Lain, Cerita Sama
Harris juga mendokumentasikan:
Ortho Evra (Patch KB): Melepaskan hormon 60% lebih tinggi dari pil KB, meningkatkan risiko bekuan darah. J&J menyembunyikan risiko sampai wanita mulai meninggal.
Pinnacle Hip Implants: Desain metal-on-metal yang cacat. J&J tahu design itu bermasalah tapi tetap memasarkannya. Ribuan pasien harus menjalani operasi revisi yang menyakitkan.
Prolift Vaginal Mesh: Perangkat medis yang seharusnya mengobati prolaps organ panggul. Tapi design-nya menyebabkan erosi, nyeri kronis, dan komplikasi serius. J&J memasarkannya tanpa uji klinis yang memadai dengan mengeksploitasi loophole FDA.
Vaksin COVID J&J: Kurang efektif dari kompetitor dengan efek samping lebih serius. Tapi J&J tetap memasarkannya agresif.
Polanya sama di setiap kasus: Profit di atas keselamatan pasien. Setiap. Kali.
Bagian 8: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Alex Gorsky—Promoted for Criminality
Alex Gorsky bergabung dengan J&J tahun 1988. Dia dengan cepat naik dengan kesediaannya "push legal boundaries."
Sebagai kepala Janssen Pharmaceuticals, dia mengawasi marketing ilegal Risperdal ke anak-anak. Ketika whistleblower mengajukan tuntutan tahun 2004, Gorsky dengan nyaman pindah ke Novartis—kembali tahun 2008 setelah panasnya mereda.
Dia mengawasi marketing Duragesic yang memicu epidemi opioid. Dia terlibat dalam menyembunyikan kematian Procrit.
Dan sebagai reward? Dia dipromosikan menjadi CEO tahun 2012 dan Chairman tahun 2016.
Di bawah kepemimpinannya, J&J membayar miliaran dalam denda kriminal—sementara Gorsky menerima $150 juta dalam kompensasi.
Tahun 2021, Presiden Biden memuji Gorsky secara publik di acara White House, menyebutnya "partner dalam melawan COVID-19."
Karir Gorsky membuktikan: Di J&J, eksekutif yang menghasilkan profit melalui aktivitas kriminal dihargai, bukan dihukum.
Penutup: Dua Juta Nyawa dan Hitungan
Angka yang Tak Terbayangkan
Gardiner Harris memperkirakan secara konservatif: Produk J&J telah membunuh lebih dari dua juta orang.
Mari kita uraikan:
- Epidemi opioid (yang J&J bantu ciptakan): 500.000+ kematian
- Risperdal dan antipsikotik atipikal: 1.000.000+ kematian
- Vioxx (yang J&J jual internasional): 140.000 kematian
- Procrit: Ribuan kematian pasien kanker
- Baby Powder: Ribuan kematian kanker selama 50 tahun
- Tylenol: 150-500 kematian Amerika per tahun
- Patch KB cacat, hip implants, vaginal mesh, perangkat jantung: Ribuan lagi
Angka sejati tidak akan pernah diketahui karena J&J secara sistematis menyembunyikan data kematian. Mereka menghancurkan dokumen. Mereka settle kasus dengan perjanjian kerahasiaan. Mereka menggunakan kebangkrutan untuk menyembunyikan liability.
Mengapa Mereka Lolos?
Karena sistem dirancang untuk melindungi mereka:
- FDA dibiayai oleh J&J
- Sekolah kedokteran bergantung pada uang mereka
- Dokter menjadi kaya dengan meresepkan obat mereka
- Media takut kehilangan revenue iklan
- Politisi yang mereka danai menolak menuntut mereka
Bahkan setelah membayar miliaran dalam denda kriminal, mereka masih dirayakan sebagai "America's most admired company" oleh Fortune Magazine.
Mereka membuktikan bahwa Anda bisa membunuh jutaan orang dan tetap dihormati—jika Anda punya cukup uang dan PR yang baik.
Pelajaran untuk Kita Semua
Buku Harris bukan hanya tentang Johnson & Johnson. Ini tentang sistem healthcare Amerika yang rusak.
Ini tentang apa yang terjadi ketika:
- Regulator dibiayai oleh yang mereka atur
- Profit menjadi satu-satunya metrik kesuksesan
- Kepercayaan emosional dieksploitasi untuk keuntungan
- Hukuman untuk kejahatan korporat hanya "biaya berbisnis"
Pertanyaan untuk Anda
Coba lihat medicine cabinet Anda sekarang. Berapa banyak produk J&J yang Anda punya? Band-Aid? Tylenol? Listerine? Neutrogena? Aveeno?
Setiap kali Anda membeli produk J&J, Anda memberi uang kepada perusahaan yang secara sadar membuat keputusan untuk membiarkan orang mati demi profit.
Apa yang akan Anda lakukan dengan informasi ini?
Gardiner Harris menghabiskan lima tahun menyelidiki J&J untuk buku ini. Dia mendapat akses ke testimony Grand Jury yang disegel. Dia mewawancarai whistleblower yang kehilangan karir mereka. Dia menggali dokumen internal yang J&J coba sembunyikan.
Hasilnya adalah 400+ halaman bukti yang tidak terbantahkan: Johnson & Johnson, untuk mengutip Harris, "adalah perusahaan kriminal."
Tapi mereka bukan satu-satunya. Mereka hanya yang paling sukses dalam menyembunyikannya di balik senyum bayi.
Seperti yang Harris tulis di akhir buku:
"Skandal Johnson & Johnson bukan hanya tentang satu perusahaan jahat. Ini adalah cermin gelap dari sistem healthcare Amerika—sistem di mana profit lebih penting dari nyawa, di mana regulator gagal melindungi publik, di mana dokter bisa dibeli, dan di mana kepercayaan dieksploitasi dengan cara yang paling mengerikan."
No more tears?
Seharusnya ada lebih banyak air mata—untuk dua juta nyawa yang hilang, untuk keluarga yang hancur, untuk kepercayaan yang dikhianati.
Tapi mungkin alih-alih menangis, kita harus marah.
Dan menggunakan kemarahan itu untuk menuntut perubahan.
Tentang Buku Asli
"No More Tears: The Dark Secrets of Johnson & Johnson" diterbitkan pada April 2025 dan langsung menjadi New York Times Bestseller.
Gardiner Harris adalah jurnalis investigasi pemenang penghargaan yang sebelumnya bekerja sebagai reporter kesehatan dan farmasi untuk The New York Times selama lebih dari satu dekade. Sebelum itu, dia bekerja untuk The Wall Street Journal, di mana investigasinya mengarah pada denda terbesar dalam sejarah SEC pada waktu itu.
Harris memenangkan Robert Worth Bingham Prize untuk jurnalisme investigatif dan George Polk Award untuk pelaporan lingkungan setelah mengungkap bahwa perusahaan batu bara sengaja dan ilegal mengekspos penambang ke tingkat debu batu bara yang beracun.
Buku ini telah dipilih sebagai Best Book of the Year oleh Chicago Public Library dan New York Public Library, dan dibandingkan dengan "Empire of Pain" karya Patrick Radden Keefe tentang keluarga Sackler.
Untuk pemahaman lengkap tentang skandal yang mengubah cara kita melihat industri farmasi, sangat disarankan membaca buku aslinya. Harris memberikan ratusan detail, dokumen internal, testimony pengadilan, dan wawancara dengan whistleblower yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan.
Buku ini wajib dibaca untuk siapa pun yang:
- Bekerja di industri healthcare
- Peduli tentang keamanan produk konsumen
- Ingin memahami bagaimana sistem regulasi Amerika gagal
- Ingin membuat keputusan yang lebih informed tentang produk yang mereka beli
Sekarang pergilah dan buat pilihan yang lebih sadar—tentang produk yang Anda beli, perusahaan yang Anda dukung, dan sistem yang Anda toleransi.
Karena seperti yang Harris buktikan: Kepercayaan yang tidak dipertanyakan adalah bahaya paling mematikan dari semuanya.