Skip to main content

The Obvious Choice

by Jonathan Goodman · December 2025 · 16 min read

100 Pemilik Bisnis Diam-diam Kaya vs 1 Influencer Terkenal Tapi Bangkrut

Table of contents

100 Pemilik Bisnis Diam-diam Kaya vs 1 Influencer Terkenal Tapi Bangkrut 

Bayangkan dua orang: 

Orang A punya 500.000 followers di Instagram. Setiap post-nya ratusan likes. Story-nya selalu dilihat ribuan orang. Dia "terkenal" di internet. Tapi ketika dia mencoba menjual sesuatu? Hampir tidak ada yang beli. Revenue-nya tidak sampai $5.000 per bulan. Dia stres setiap hari, terus bikin konten, ngikutin algoritma, tapi hidupnya tidak berubah. 

Orang B punya 200 followers. Hampir tidak pernah posting. Tidak ada yang tahu siapa dia di luar komunitasnya. Tapi dia menghasilkan $50.000 per bulan—dengan konsisten, tanpa drama, tanpa burnout. Klien-kliennya dating sendiri lewat referral. Dia punya waktu untuk keluarga. Bisnis berjalan smooth. 

Siapa yang lebih sukses? 

Jika Anda menjawab Orang A, Anda telah terjebak dalam ilusi terbesar bisnis modern: kepercayaan bahwa Anda harus terkenal di internet untuk menghasilkan uang. 

Jonathan Goodman—entrepreneur yang telah membangun multiple bisnis multi-juta dolar, melatih lebih dari 200.000 pemilik bisnis kecil di 120 negara—menulis "The Obvious Choice" untuk satu alasan sederhana:

Mencoba memenangkan internet adalah cara yang sangat tidak efisien untuk membangun bisnis. 

Untuk setiap remaja 18 tahun yang berpikir mereka perlu jutaan followers hanya untuk jual beberapa produk, ada ratusan pemilik bisnis diam-diam yang menghasilkan lebih banyak uang dengan lebih sedikit usaha. 

Mereka tidak terkenal. Mereka tidak viral. Tapi mereka adalah pilihan yang jelas (obvious choice) bagi orang yang tepat. 

Dan itulah yang akan kita pelajari hari ini.


Bagian 1: Mengapa Anda Tersesat—Dan Itu Bukan Salah Anda 

Kebohongan yang Kita Percayai 

Dalam 10 tahun terakhir, sebuah narasi telah ditanamkan ke dalam kepala setiap entrepreneur dan pemilik bisnis: 

"Bangun personal brand. Jadilah influencer. Viral di TikTok. Posting setiap hari. 10x followers Anda. Algoritma adalah segalanya." 

Hasilnya? Entrepreneur habis waktu mencoba menjadi entertainer online—alih-alih fokus membangun bisnis yang sebenarnya menguntungkan. 

Goodman menyebutnya dengan blak-blakan: "Building a business dan becoming an online entertainer adalah dua permainan berbeda. Masalah muncul ketika Anda bermain dengan aturan satu permainan tapi menginginkan hadiah dari permainan lain." 

Anda ingin profit, waktu, dan kebebasan (reward dari bisnis). Tapi Anda bermain dengan aturan game influencer (likes, followers, viral). Tidak heran Anda lelah dan bangkrut. 

Ambisi Tanpa Arah = Kekacauan 

Goodman mulai dengan kebenaran yang tidak nyaman: ambisi yang tidak terkontrol adalah musuh, bukan teman. 

Masyarakat mengagungkan ambisi. "Dream big!" "Aim for the stars!" "10x your goals!" 

Tapi ambisi yang didorong oleh perbandingan konstan dan distraksi digital tidak menciptakan kemajuan. Ambisi seperti itu menciptakan kekacauan. 

Anda melihat seseorang launching produk baru—Anda berpikir, "Saya juga harus melakukan itu!" 

Anda melihat seseorang membuat kursus online—"Saya harus membuat kursus juga!" Anda melihat seseorang posting reel setiap hari—"Saya harus lebih aktif di sosmed!" 

Hasilnya? Anda melakukan 20 hal sekaligus. Tidak ada yang selesai dengan baik. Dan Anda bertanya-tanya mengapa tidak ada kemajuan. 

Solusinya bukan lebih banyak ambisi. Solusinya adalah lebih banyak klaritas.

Ekspektasi Naik Lebih Cepat dari Hasil 

Inilah masalahnya: konten tak terbatas dan paparan terus-menerus terhadap "kesuksesan" orang lain di media sosial membuat ekspektasi kita naik lebih cepat daripada kemampuan kita menghasilkan hasil. 

Kita melihat entrepreneur yang "tiba-tiba" sukses dalam 6 bulan (padahal mereka sudah kerja 5 tahun sebelumnya tapi tidak posting). 

Kita melihat produk yang "viral" dalam semalam (padahal ada tim marketing besar di belakangnya). 

Kita membandingkan tahun pertama kita dengan tahun kelima orang lain. Dan kita merasa gagal. 

Goodman mengingatkan: "Jika Anda merasa kesulitan menemukan jalan, masalahnya bukan Anda. Masalahnya adalah apa yang Anda percayai tentang apa yang diperlukan untuk sukses."


Bagian 2: The Obvious Choice Framework—Menjadi Pilihan yang Jelas 

Tiga Pilar Kepercayaan 

Goodman mengidentifikasi tiga elemen yang membuat seseorang atau bisnis menjadi "obvious choice": 

1. Community (Komunitas) 

Manusia adalah makhluk sosial. Kita membeli dari orang yang orang-orang di sekitar kita percayai. 

Ketika 5 teman Anda merekomendasikan restoran yang sama, Anda tidak perlu googling review. Anda langsung pergi. Itu obvious choice. 

Ketika semua orang di gym Anda berbicara tentang pelatih yang sama, Anda tidak perlu interview 10 pelatih. Itu obvious choice. 

Strategi: Daripada mencoba terkenal di internet, fokuslah menjadi terkenal dalam satu komunitas kecil. Satu grup. Satu niche. Satu network. 

2. Specificity (Kekhususan) 

Quote Goodman yang paling powerful: "The tighter your target, the clearer your vision, the simpler the execution, and the bigger your profit margin." 

Semakin spesifik Anda tentang siapa yang Anda layani, semakin mudah untuk menjadi pilihan yang jelas. 

Contoh buruk: "Saya membantu orang mencapai goals mereka." Terlalu luas. Tidak jelas. Tidak memorable. 

Contoh bagus: "Saya membantu ibu bekerja berusia 35-45 tahun yang ingin menurunkan 10kg tanpa harus meninggalkan anak-anak untuk ke gym." 

Super spesifik. Jelas. Jika Anda adalah ibu bekerja 38 tahun dengan masalah ini, orang ini adalah obvious choice untuk Anda. 

Paradoks: Semakin sempit niche Anda, semakin besar profit margin Anda. Mengapa? Karena kompetisi berkurang drastis, dan Anda bisa charge premium. 

3. Familiarity (Keakraban) 

Kita membeli dari orang yang kita kenal—atau setidaknya merasa kita kenal.

Ini mengapa konten personal berfungsi. Bukan untuk "engagement." Bukan untuk algoritma. Tapi untuk menciptakan rasa keakraban. 

Ketika seseorang merasa mereka "mengenal" Anda melalui konten Anda, keputusan membeli menjadi lebih mudah. 

Tapi ingat: keakraban membutuhkan waktu. Anda tidak bisa memaksa orang untuk percaya dalam seminggu. Ini adalah permainan jangka panjang.


Bagian 3: Famous to the Family, Not the Internet

Kesalahan Fatal: Mencoba Memenangkan Internet 

Goodman menantang asumsi terbesar entrepreneur modern: Anda tidak perlu terkenal di internet untuk sukses. 

Faktanya, untuk kebanyakan bisnis, mencoba viral di internet adalah waste of time and money. 

Mengapa? Karena: 

1. Algoritma berubah terus-menerus. Apa yang berhasil bulan lalu tidak berhasil bulan ini. Anda tidak pernah menang dalam permainan yang terus mengubah aturan. 

2. Reach ≠ Revenue. Jutaan views tidak membayar tagihan. Hanya sales yang membayar tagihan. 

3. Attention yang luas itu dangkal. 100.000 orang yang "tahu" Anda secara superficial tidak sebaik 100 orang yang benar-benar percaya pada Anda. 

Strategi yang Lebih Baik: Famous to the Family 

Daripada mencoba terkenal ke seluruh dunia, fokuslah menjadi terkenal di "keluarga" Anda—komunitas kecil orang-orang yang benar-benar peduli. 

Contoh dari Goodman: 

Seorang personal trainer mencoba viral di Instagram. Posting setiap hari. Mengikuti semua tren. Setelah 2 tahun, dia punya 15.000 followers—tapi hanya 3 klien. 

Lalu dia mengubah strategi: Dia berhenti posting di Instagram. Sebagai gantinya, dia fokus pada satu gym lokal. Dia datang ke gym itu 5 kali seminggu. Berbicara dengan orang. Membantu gratis. Menjadi wajah familiar. 

Dalam 6 bulan, dia punya 20 klien tetap—semua dari satu gym itu. Revenue-nya naik 5x lipat. Stressnya turun drastis. 

Pelajaran: Better to be well-known by 100 people than barely known by 100,000.


Bagian 4: Framework Konten 4 Langkah—Untuk Pemilik Bisnis, Bukan Influencer 

Goodman membenci konten generik yang dirancang hanya untuk "engagement." Dia menciptakan framework untuk pemilik bisnis—orang yang ingin konten mereka menghasilkan klien, bukan likes. 

Langkah 1: Identifikasi Masalah Spesifik 

Konten Anda harus mulai dengan masalah yang sangat spesifik yang dialami target audience Anda. 

Bukan: "5 tips untuk produktivitas." Terlalu luas. Tidak ada yang merasa itu untuk mereka. 

Tapi: "Mengapa founder startup merasa burn out meskipun bekerja 12 jam sehari—dan apa yang harus dilakukan." 

Sangat spesifik. Jika Anda founder startup yang burnout, ini for you. 

Langkah 2: Share Story atau Insight 

Manusia terhubung melalui cerita, bukan data. 

Goodman menulis: "Life isn't a story, but stories are how we talk about life."

Jangan hanya beri tips. Beri konteks. Beri cerita. Buat relatable. 

Contoh: "Saya dulu bekerja 14 jam sehari dan merasa produktif. Tapi ketika saya track, ternyata hanya 3 jam yang benar-benar menghasilkan hasil. Sisanya? Fake work. Rapat yang tidak perlu. Email yang tidak penting. Setelah saya cut semua itu, saya bekerja 6 jam sehari tapi hasil naik 2x lipat." 

Itu cerita. Orang bisa relate. Mereka berpikir, "Oh, mungkin saya juga melakukan itu."

Langkah 3: Berikan Solusi Actionable 

Jangan hanya diagnose masalah dan bercerita. Berikan solusi yang bisa mereka lakukan hari ini. 

"Hari ini, audit kalender Anda. Tandai setiap meeting dan task dengan warna: hijau untuk high-value work (yang directly generate revenue atau move needle), kuning untuk medium-value, merah untuk low-value. Lalu hapus semua yang merah minggu depan." 

Konkret. Actionable. Bisa dilakukan sekarang.

Langkah 4: Invitation untuk Next Step 

Konten bukan hanya untuk memberi value. Konten adalah awal dari conversation.

Di akhir konten, undang orang untuk next step—tapi jangan hard sell. 

Contoh: "Jika Anda merasa kalender Anda penuh tapi hasil tidak ada, saya punya framework 1 halaman untuk audit produktivitas. Reply 'AUDIT' dan saya kirim." 

Sederhana. Low-pressure. Tapi membuka pintu untuk hubungan lebih dalam.


Bagian 5: Pertanyaan Lebih Powerful Daripada Pernyataan 

Paradoks Keahlian 

Inilah insight counter-intuitive dari Goodman: Semakin banyak Anda bertanya, semakin ahli Anda terlihat. 

Kebanyakan "ahli" mencoba menunjukkan keahlian mereka dengan memberikan jawaban—banyak jawaban, dengan percaya diri, tanpa ragu. 

Tapi ini menciptakan masalah: Anda memberikan solusi generik tanpa tahu konteks spesifik klien. 

Ahli sejati bertanya dulu. Banyak bertanya. Karena mereka tahu setiap situasi unik, dan solusi yang tepat bergantung pada konteks. 

Kekuatan Curiosity 

Goodman menunjukkan: Semakin banyak pertanyaan yang Anda ajukan kepada customer, semakin percaya diri Anda tampak. 

Mengapa ini bekerja? 

1. Pertanyaan menunjukkan Anda peduli. Anda tidak hanya mau jual. Anda mau tahu masalah sebenarnya. 

2. Pertanyaan menunjukkan kedalaman keahlian. Hanya ahli yang tahu pertanyaan apa yang harus diajukan. 

3. Pertanyaan menciptakan kepemilikan. Ketika klien menjawab pertanyaan Anda, mereka mulai berpikir lebih dalam tentang masalah mereka—dan solusi yang Anda tawarkan menjadi lebih relevan. 

Contoh buruk: "Saya bisa bantu Anda menurunkan berat badan dengan program 12 minggu saya." 

Contoh bagus: "Sudah berapa lama Anda mencoba menurunkan berat badan? Apa yang sudah Anda coba sebelumnya? Apa yang membuat itu tidak berhasil? Apa yang berbeda sekarang sehingga Anda siap mencoba lagi?" 

Lihat perbedaannya? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan keahlian, empati, dan kedalaman pemahaman.


Bagian 6: Let Your Geek Flag Fly—Keunikan Adalah Kekuatan 

Berhenti Menjadi Generic 

Salah satu nasihat paling liberating dari Goodman: Embrace what makes you weird.

Kebanyakan bisnis mencoba menarik semua orang dengan menjadi "netral" dan "profesional." 

Hasilnya? Mereka jadi boring. Tidak memorable. Tidak ada yang bisa membedakan mereka dengan kompetitor. 

Goodman mendorong Anda untuk "kibarkan bendera geek Anda"—apa yang membuat Anda unik, aneh, berbeda. 

Contoh Konkret 

Goodman sendiri: Dia tidak pura-pura menjadi "business expert" yang serius. Dia mengakui dia suka bad-dad jokes. Dia traveling dengan keluarga dan tidak percaya anak harus sekolah tradisional. Dia seorang mantan personal trainer yang sekarang mengajar bisnis. 

Semua itu adalah bagian dari brand-nya. Dan orang yang relate dengan itu akan sangat tertarik. Orang yang tidak relate? Mereka bukan target audience-nya anyway. 

Savannah Bananas (baseball team): Mereka tidak mencoba jadi tim baseball "normal." Mereka menciptakan experience yang gila—pemain menari, rules yang diubah untuk lebih fun, harga tiket all-inclusive. Banyak puritan baseball benci mereka. Tapi fans mereka SANGAT loyal. Tiket sold out bertahun-tahun ke depan. 

Pelajaran: Jangan takut untuk polarizing. Lebih baik sangat disukai oleh sebagian kecil orang daripada sedikit disukai oleh banyak orang.


Bagian 7: Menghilangkan Pekerjaan yang Tidak Penting

Audit Brutal: Apa yang Benar-benar Bergerak? 

Goodman mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi sangat sulit dilakukan: Identifikasi kebiasaan dan aksi yang benar-benar menggerakkan bisnis Anda forward—dan fokus hanya pada itu. 

Kebanyakan entrepreneur sibuk, tapi tidak produktif. Mereka melakukan 50 hal, tapi hanya 5 yang benar-benar penting. 

Exercise Goodman: 

1. Buat list semua aktivitas bisnis Anda minggu lalu. 

2. Untuk setiap aktivitas, tanya: "Apakah ini directly menghasilkan revenue atau membangun relationship dengan klien?" 

3. Jika tidak, tandai sebagai "potential cut." 

4. Minggu depan, cut 50% dari aktivitas yang ditandai. 

Kedengarannya ekstrim? Itulah poinnya. 

Small Wins Compound 

Salah satu insight paling powerful: Bisnis sering mengabaikan peluang kecil karena terlihat tidak scalable. 

Tapi $200 dari satu sale, diulang secara konsisten dan berkelanjutan, bisa membangun bisnis lebih efektif daripada mengejar deal $20,000 yang tidak pernah datang. 

Goodman: "Goal bukan growth at all costs. Goal adalah clarity, consistency, dan compounding trust." 

Ini adalah antitesis dari kultur startup "unicorn" yang mengagungkan hypergrowth. 

Goodman berargumen: untuk 99% bisnis, slow and steady wins. Compound gains dari kepercayaan dan relationship adalah cara paling sustainable untuk profit.


Bagian 8: The Sesame Street Razor—Simplifikasi Semua

Prinsip Sederhana untuk Keputusan Kompleks 

Goodman memperkenalkan "Sesame Street Razor"—sebuah filter decision-making yang sangat sederhana: 

"Apakah seorang anak berusia 5 tahun bisa memahami ini?" 

Jika tidak, terlalu rumit. Simplify. 

Ini berlaku untuk: 

Hiring: Jangan buat job description 3 halaman dengan 50 requirements. Buat satu kalimat: "Kami cari orang yang bisa menulis email yang membuat orang ingin reply." 

Referral: Jangan minta klien untuk "spread the word." Terlalu vague. Sebagai gantinya: "Jika Anda punya teman yang complain tentang back pain, kasih tahu mereka tentang saya. Saya akan kasih mereka sesi gratis pertama." 

Spesifik. Actionable. Clear. 

Marketing: Jangan bilang "We provide holistic solutions for enterprise-level optimization." Bilang: "We help companies save time by automating boring tasks." 

Anak 5 tahun mengerti yang kedua. Mereka tidak akan mengerti yang pertama.

Kemudahan Membuat Keputusan = Kemudahan Penjualan 

Goodman mengingatkan: "The easier you make their decision, the more obvious the choice their purchase will be." 

Orang tidak membeli karena produk Anda terbaik. Orang membeli karena keputusan untuk membeli dari Anda adalah yang paling mudah dan jelas. 

Jika ada 10 langkah untuk membeli dari Anda, 7 orang akan menyerah di tengah jalan. Jika ada 2 langkah, hampir semua orang akan complete. 

Simplicity bukan tentang lazy. Simplicity adalah tentang respect untuk waktu dan attention klien Anda.


Bagian 9: Likes Don't Pay Bills—Metrik yang Benar-benar Penting 

Vanity Metrics vs Real Metrics 

Goodman sangat blak-blakan tentang ini: Likes, views, dan followers adalah vanity metrics. Mereka tidak membayar tagihan. 

Hanya ada beberapa metrik yang benar-benar penting: 

1. Revenue - Berapa banyak uang yang masuk? 

2. Profit Margin - Berapa banyak yang Anda simpan setelah biaya? 

3. Customer Lifetime Value - Berapa banyak satu customer menghasilkan selama relationship mereka dengan Anda? 

4. Referral Rate - Berapa persen customer Anda yang refer orang lain? Itu saja. Sisanya? Distraksi. 

Jika Anda punya 1 juta followers tapi hanya $5,000 revenue per bulan, Anda tidak punya bisnis. Anda punya hobby yang mahal. 

Jika Anda punya 500 followers tapi $50,000 revenue per bulan, Anda punya bisnis yang sehat.

Stop Membandingkan dengan Influencer 

Goodman mengingatkan entrepreneur untuk berhenti membandingkan diri mereka dengan influencer. 

Influencer bermain game yang berbeda. Revenue model mereka berbeda. Goal mereka berbeda. 

Jika Anda pemilik bisnis yang ingin profit dan kebebasan, berhenti mengejar metrik influencer. Itu akan membuat Anda miserable dan bangkrut.


Bagian 10: Pelajaran Praktis—Mulai Hari Ini

Action Steps Konkret 

Goodman sangat praktis. Dia tidak hanya memberi filosofi—dia memberi langkah konkret.

Minggu Ini: 

1. Tentukan satu target spesifik. Siapa yang Anda layani? Tulis dalam satu kalimat. Harus bisa dibaca oleh anak 5 tahun. 

2. Identifikasi satu komunitas. Di mana orang-orang ini berkumpul? Grup Facebook? Event lokal? Forum online? Pilih satu. Fokus di situ. 

3. Buat satu konten dengan framework 4 langkah. Masalah spesifik + Story + Solusi actionable + Invitation. Post hari ini. 

4. Audit kalender Anda. Hapus 3 hal yang tidak directly menghasilkan revenue atau membangun relationship. 

5. Hubungi 3 past customer. Tanya: "Bagaimana hasilnya sekarang? Ada yang bisa saya bantu?" Jangan jual apa-apa. Hanya peduli. 

Bulan Ini: 

1. Stop posting di platform yang tidak menghasilkan klien. Jika Anda sudah posting di Instagram selama 6 bulan dan belum ada satu klien pun dari sana, stop. Alihkan energy itu ke yang lebih produktif. 

2. Buat sistem referral sederhana. Tulis template message yang bisa customer Anda forward ke teman mereka. Buat sesederhana mungkin. 

3. Deep dive into one community. Jangan sebar tipis. Pilih satu grup/komunitas dan jadilah anggota yang paling aktif dan helpful di situ.


Penutup: Algoritma Berubah, Manusia Tidak

Jonathan Goodman menutup buku dengan pengingat yang powerful: 

"Algorithms change, humans don't." 

Platform datang dan pergi. TikTok naik, mungkin turun. Instagram berubah. Facebook berkembang. Algoritma di-update setiap bulan. 

Tapi sifat dasar manusia tidak berubah: 

  • Kita membeli dari orang yang kita percaya.
  • Kita percaya pada orang yang direkomendasikan oleh orang yang kita kenal.
  • Kita memilih hal yang familiar dan spesifik daripada yang asing dan generic.
  • Kita menghargai kesederhanaan.
  • Kita terhubung melalui cerita.

Jika Anda membangun bisnis berdasarkan prinsip-prinsip manusia yang timeless, bisnis Anda akan bertahan—tidak peduli platform apa yang naik atau turun. 

Pelajaran Inti 

1. Anda tidak perlu viral untuk sukses. Famous to the family lebih menguntungkan daripada famous to the internet. 

2. Semakin spesifik target Anda, semakin besar profit Anda. The tighter your target, the bigger your profit margin. 

3. Kepercayaan dibangun melalui community, specificity, dan familiarity. Tidak ada jalan pintas. 

4. Konten untuk bisnis ≠ konten untuk influencer. Buat konten yang menghasilkan klien, bukan likes. 

5. Pertanyaan lebih powerful daripada pernyataan. Curiosity menunjukkan keahlian.

6. Simplicity wins. Jika anak 5 tahun tidak mengerti, terlalu rumit. 

7. Fokus pada metrik yang benar-benar penting. Revenue, profit, customer lifetime value, referral rate. Sisanya noise. 

8. Small wins compound. $200 konsisten > $20,000 yang tidak pasti.

Pertanyaan untuk Anda 

Sebelum Anda menutup ringkasan ini, tanyakan pada diri Anda: 

  • Berapa banyak waktu yang Anda habiskan mencoba "memenangkan internet" minggu lalu?
  • Berapa dari waktu itu yang benar-benar menghasilkan revenue atau membangun relationship dengan klien?
  • Siapa target spesifik Anda? Apakah bisa dijelaskan dalam satu kalimat?
  • Komunitas mana yang Anda ingin menjadi obvious choice?

Goodman tidak menjanjikan hasil instan. Dia tidak menjual "3 secrets to 6-figure business in 30 days." 

Sebaliknya, dia menawarkan sesuatu yang lebih berharga: jalan yang sustainable, yang berdasarkan prinsip manusia timeless, yang bekerja jangka panjang. 

Jalan itu dimulai dengan satu keputusan: Berhenti mencoba memenangkan internet. Mulai fokus memenangkan kepercayaan dari orang yang tepat. 

Anda tidak membutuhkan 100,000 followers. Anda membutuhkan 100 orang yang benar-benar percaya pada Anda. 

Dan ketika Anda menjadi obvious choice bagi 100 orang itu, mereka akan membawa 100 orang lagi. Dan seterusnya. 

Itu cara bisnis dibangun. Bukan dengan viral moment. Tapi dengan kepercayaan yang compound dari waktu ke waktu.


Tentang Buku Asli 

"The Obvious Choice: Timeless Lessons on Success, Profit, and Finding Your Way" diterbitkan pada tahun 2024 oleh HarperCollins Leadership. 

Jonathan Goodman adalah creator of Personal Trainer Development Center dan host dari Obvious Choice podcast, salah satu podcast teratas untuk coaches, entrepreneurs, dan pemilik bisnis kecil. Konten dan materinya telah dibeli oleh lebih dari 200,000 coaches dan pemilik bisnis di lebih dari 120 negara. 

Dia telah disorot di Men's Health, Forbes, Entrepreneur, Robb Report, Inc., dan banyak publikasi besar lainnya. 

Yang unik dari Goodman: dia menghabiskan 13 musim dingin menjelajahi dunia—pertama solo, lalu dengan istrinya, dan sekarang dengan tiga anak mereka—sambil membangun multiple bisnis multi-juta dolar. Dia membuktikan bahwa Anda tidak harus memilih antara sukses profesional, hubungan yang bermakna, dan petualangan yang memuaskan. 

Ini adalah buku ke-12 nya. 

Untuk pemahaman lengkap tentang framework, case studies detail, dan nuansa yang lebih dalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Goodman menulis dengan gaya yang entertaining, penuh humor (bad-dad jokes yang dia peringatkan), dan sangat actionable. 

Ringkasan ini memberikan esensi—buku lengkapnya memberikan detail, contoh konkret, dan kedalaman yang akan benar-benar mengubah cara Anda berbisnis. 

Sekarang pergilah dan bangun bisnis yang benar-benar menguntungkan—bukan hanya yang terlihat bagus di Instagram. 

Karena seperti yang Goodman katakan: "Learn how to earn more and compete less." 

Dan remember: Untuk setiap 1 orang yang terkenal di internet, ada 100 pemilik bisnis diam-diam yang jauh lebih kaya dan lebih bahagia. 

Jadilah yang 100 itu.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Leadership and Self-Deception
Back to top

Similar books