Skip to main content

Originals

by Adam Grant · November 2025 · 14 min read

Kesalahan Finansial Terburuk dalam Hidupku

Table of contents

Kesalahan Finansial Terburuk dalam Hidupku 

Tahun 2009. Di ruang kelas Wharton School, Adam Grant—profesor muda yang cerdas dan analitis—duduk mendengarkan pitch dari seorang mahasiswanya. 

Neil Blumenthal, tinggi dan ramah dengan rambut hitam keriting, sedang menjelaskan ide bisnisnya: menjual kacamata online. Empat teman yang ingin mengganggu industri kacamata yang dikuasai monopoli. 

Adam mendengarkan dengan saksama. Sebagai seorang profesor psikologi organisasi, ia bangga dengan kemampuannya menganalisis ide bisnis. Tapi semakin ia mendengar, semakin banyak red flags yang ia lihat. 

"Kalian menghabiskan seluruh musim panas untuk ini, kan?" tanya Adam. "Tidak, kami semua magang—just in case ide ini tidak berhasil," jawab Neil. "Oke, tapi kalian akan full-time setelah lulus?" 

"Tidak persis. Kami semua sudah punya backup jobs." 

Adam mengerutkan dahi. Dalam pikirannya, ini adalah tanda kurangnya komitmen. Entrepreneur sejati harus all-in. Mereka harus berani mempertaruhkan segalanya. 

Enam bulan kemudian, sehari sebelum peluncuran, website mereka masih belum siap. 

"Guys, kalian sadar kan—seluruh perusahaan kalian ADALAH website. That's literally all it is," kata Adam dengan frustrasi. 

Keputusannya sudah bulat: ia menolak untuk berinvestasi. 

Perusahaan itu akhirnya diberi nama Warby Parker. 

Setahun kemudian, GQ menyebutnya "Netflix of eyewear." Fast Company menamakannya perusahaan paling inovatif di dunia. Nilainya melampaui satu miliar dolar.

Adam menyebutnya "keputusan finansial terburuk yang pernah saya buat." 

Tapi kesalahan ini membawanya pada perjalanan untuk memahami: Apa sebenarnya yang membedakan originals—orang-orang yang mengubah dunia dengan ide-ide baru—dari orang biasa? 

Jawabannya mengejutkan. Dan ia menuangkannya dalam buku ini.


Bagian 1: Mitos Tentang Risk-Taker 

Originals Bukan Penjudi Gila 

Ketika kita membayangkan inovator besar—Steve Jobs, Elon Musk, pengusaha yang sukses—kita membayangkan mereka sebagai risk-taker yang fearless. Orang yang bertaruh segalanya. Yang melompat tanpa jaring pengaman. 

Tapi Adam Grant menemukan sesuatu yang berbeda: Originals yang sukses bukanlah wild risk-takers. Mereka adalah calculated risk-takers yang sangat baik dalam mengelola risiko. 

Mari kita lihat buktinya: 

Phil Knight, pendiri Nike, mulai menjual sepatu dari bagasi mobilnya pada 1964. Tapi ia tetap bekerja sebagai akuntan sampai 1969—lima tahun kemudian. 

Steve Wozniak menciptakan Apple I pada 1976 dan memulai Apple bersama Steve Jobs. Tapi ia tetap bekerja full-time di Hewlett-Packard sampai 1977. 

Larry Page dan Sergey Brin menciptakan algoritma Google pada 1996. Tapi mereka baru cuti dari program PhD di Stanford pada 1998. Bahkan di 1997, mereka mencoba menjual Google seharga kurang dari 2 juta dolar karena khawatir mengganggu riset mereka. 

Pola yang sama: mereka tidak quit their day jobs sampai ide mereka terbukti.

Portfolio Risiko yang Seimbang 

Warby Parker adalah contoh sempurna dari prinsip ini. 

Dari awal, prioritas nomor satu mereka adalah mengurangi risiko. Dave, salah satu pendiri, berkata: "Warby Parker bukan keranjang di mana saya ingin menaruh semua telur saya." 

Setelah memulai perusahaan, ia tetap mengeksplorasi peluang bisnis lain. Neil tetap terhubung dengan nonprofit. Mereka semua punya backup plans. 

"Kami terus-menerus bicara tentang de-risking the business," kata Neil. "Seluruh perjalanan adalah serangkaian keputusan go/no-go. Di setiap langkah, kami punya checks and balances." 

Mereka bahkan mengambil kelas entrepreneurship bersama dan menghabiskan bulan-bulan mengasah business plan mereka.

Ini bukan kurangnya komitmen. Ini adalah strategi cerdas. 

Penelitian mendukung ini: studi terhadap entrepreneurs menunjukkan bahwa mereka yang tetap di day jobs mereka sementara membangun bisnis punya 33% lower odds of failure dibandingkan mereka yang quit sepenuhnya. 

Mengapa? Karena punya rasa aman di satu area memberi Anda kebebasan untuk mengambil risiko ekstrem di area lain. 

Kuncinya bukan menghindari risiko. Kuncinya adalah membangun portfolio risiko yang seimbang.


Bagian 2: Quantity Breeds Quality 

Rahasia Para Genius 

Kita sering berpikir bahwa genius punya hit rate yang lebih tinggi—bahwa ide mereka lebih sering berhasil. 

Ternyata tidak. 

Bach, Beethoven, Mozart—mereka tidak lebih baik dari peers mereka dalam rata-rata komposisi. Tapi mereka masing-masing menciptakan lebih dari 600 komposisi. Beberapa bahkan lebih dari 1.000. 

Dari volume itu, beberapa menjadi masterpieces yang mengubah musik selamanya. 

Shakespeare menulis beberapa karya terbaiknya—Hamlet, Macbeth—di periode yang sama ia juga menulis beberapa karyanya yang paling buruk seperti "The Merry Wives of Windsor" dan "Timon of Athens." 

Thomas Edison punya ribuan paten. Kebanyakan tidak ada yang ingat. Tapi beberapa—bola lampu, fonograf—mengubah dunia. 

Pola yang sama: Originals yang hebat tidak punya ide yang lebih baik. Mereka hanya punya lebih BANYAK ide. 

Anda Adalah Hakim Terburuk untuk Ide Anda 

Inilah masalah: Anda tidak bisa membedakan ide bagus Anda dari ide buruk Anda. 

Penelitian menunjukkan kita terrible dalam menilai ide kita sendiri. Kita overestimate kemampuan kita. Kita jatuh cinta pada ide-ide yang sebenarnya biasa-biasa saja. 

Solusinya? Generate banyak ide, lalu test mereka dengan: 

1. Colleagues yang believable - orang yang mengerti domain Anda dan akan jujur

2. Target audience - orang yang akan benar-benar menggunakan produk Anda 

Para pendiri Warby Parker menguji lebih dari 2.000 nama sebelum memilih "Warby Parker"—kombinasi dari karakter Jack Kerouac: Warby Pepper dan Zagg Parker. 

Mereka tidak mencoba menyempurnakan beberapa nama biasa. Mereka generate volume besar dan memilih yang terbaik.

Kebiasaan Questioning the Default 

Originals punya kebiasaan bertanya: "Mengapa ini seperti ini? Apakah ada cara yang lebih baik?" 

Dave, pendiri Warby Parker, punya pengalaman 60 tahun gabungan memakai kacamata (dihitung dari semua pendiri). Tapi suatu hari ia bertanya pertanyaan sederhana yang mengubah segalanya: 

"Mengapa kacamata sangat mahal?" 

Kacamata sudah ada 800 tahun. Tapi harganya lebih mahal dari iPhone. Itu tidak masuk akal. 

Ketika mereka meneliti, mereka menemukan industri dikuasai oleh monopoli yang mengendalikan harga. Mereka bisa membuat kacamata berkualitas dengan harga jauh lebih murah. 

Kebanyakan orang hanya menerima: "Kacamata ya mahal memang." Originals bertanya: "Tapi why?"


Bagian 3: Prokrastinasi Strategis 

Virtue of Delay 

Konsensus tentang produktivitas mengatakan: prokrastinasi adalah penyakit yang harus diberantas. Kita harus selalu punya timeline dan mulai lebih awal. 

Tapi Adam Grant menemukan sesuatu yang mengejutkan: Prokrastinasi bisa menjadi virtue untuk kreativitas. 

Ketika Warby Parker "mengulur waktu" selama enam bulan, Adam Grant melihat itu sebagai kurangnya urgensi. Mereka kehilangan first-mover advantage. 

Tapi sebenarnya mereka menghabiskan waktu itu untuk memecahkan masalah krusial: Bagaimana membuat orang nyaman membeli kacamata online? 

Solusi mereka—home try-on program di mana pelanggan bisa mencoba lima frame di rumah gratis—adalah hasil dari waktu itu. 

Jika mereka terburu-buru meluncurkan, mereka mungkin sudah bangkrut seperti banyak first-movers lainnya. 

First-Mover Disadvantage 

Ini adalah mitos lain yang dibongkar Grant: First-mover advantage sebagian besar adalah mitos. 

Penelitian klasik terhadap lebih dari 50 kategori produk membandingkan first movers (yang menciptakan pasar) dengan improvers (yang memperkenalkan sesuatu yang berbeda dan lebih baik). 

Hasilnya? First movers punya failure rate 47%, dibandingkan hanya 8% untuk improvers. 

Mengapa? Karena first movers membuat semua kesalahan. Improvers belajar dari kesalahan itu dan masuk dengan produk yang lebih baik. 

Google bukan search engine pertama. Facebook bukan social network pertama. iPhone bukan smartphone pertama. 

Tapi mereka adalah yang terbaik. Dan itu yang penting.

Inkubasi Ide 

Prokrastinasi strategis memberi waktu untuk: 

1. Divergent thinking - melihat masalah dari berbagai sudut dalam keadaan rileks

2. Incremental progress - menguji dan menyempurnakan berbagai kemungkinan

3. Input dari kolega - mendapat feedback sebelum terlalu commit pada satu ide 

Leonardo da Vinci mulai melukis Mona Lisa pada 1503, lalu meninggalkannya. Ia kembali beberapa tahun kemudian. Lukisan itu baru selesai pada 1519—16 tahun kemudian! 

Historian percaya prokrastinasi ini memberinya waktu untuk bereksperimen dengan teknik optik dan metode melukis baru. Tanpa itu, kita mungkin tidak punya Mona Lisa. 

Martin Luther King Jr. tidak mulai menulis pidato "I Have a Dream" sampai malam sebelum March on Washington. Bahkan kalimat paling ikonik itu sebagian improvisasi—Mahalia Jackson berteriak dari kerumunan, "Tell them about the dream, Martin!" 

Prokrastinasi memaksanya untuk lebih kreatif dan responsif terhadap momen.


Bagian 4: Speaking Truth to Power 

Tantangan Terbesar: Power Holders 

Ide original yang brilian seringkali mati bukan karena idenya buruk, tapi karena orang yang punya power menolaknya. 

Investor tidak memberi funding. Manager tidak approve. Audience menolak. Bagaimana mengatasinya? 

Tempered Radicalism 

Anda perlu mencapai Goldilocks zone dalam radikalisme—cukup radikal untuk stand for something, tapi cukup konservatif untuk tidak mengasingkan mainstream audience. 

Occupy Wall Street gagal sebagian besar karena ini. Taktik mereka—camping out, demonstrasi disruptive—terlalu radikal bagi banyak orang yang sebenarnya setuju dengan cause mereka. 

Jika mereka rally around tema "We are the 99%", itu akan menyatukan berbagai kelompok dengan taktik mereka sendiri. Gerakan mungkin masih berlanjut hari ini. 

Building Familiarity 

Orang cenderung menolak yang asing. Tapi exposure berulang membuat sesuatu menjadi familiar dan lebih acceptable. 

Meredith Perry pada 2011 punya ide: wireless charging menggunakan ultrasound. Semua professor dan expert mengatakan itu tidak mungkin. 

Alih-alih terus menjelaskan visi besarnya (yang terlalu radikal), ia break down menjadi langkah-langkah kecil. Ia minta acoustic experts mendesain transmitter. Orang lain mendesain receiver. Electrical engineer membuat electronics. 

Ia temper radikalisme idenya dengan menyembunyikan fitur paling ekstremnya. Hasilnya? Ia berhasil menciptakan teknologi yang semua expert katakan tidak mungkin.

Status vs Power 

Jika Anda tidak punya status untuk memaksakan ide dengan force, jangan overcompensate dengan projecting confidence berlebihan. 

Sebagai gantinya, praktikkan powerless communication: 

  • Tanyakan pertanyaan daripada membuat pernyataan
  • Akui kelemahan ide Anda sebelum orang lain menunjukkannya
  • Speak tentatively dan undang feedback

Ini membuat Anda terlihat lebih trustworthy dan analytical. Defenses pendengar turun.


Bagian 5: Mengatasi Groupthink 

Bahaya Homogenitas 

Groupthink terjadi ketika kelompok memprioritaskan menghindari konflik dan mencapai konsensus di atas membuat keputusan terbaik. 

Ini adalah masalah underlying dalam poor team decision making. 

Groupthink muncul dari: 

1. Budaya yang calcified - terlalu percaya diri tentang kepercayaannya

2. Punishing dissent - aktif menghukum suara yang berbeda 

3. Confirmation bias - hanya mencari informasi yang mendukung kepercayaan existing

Encourage True Devil's Advocate 

Jangan assign devil's advocate secara artifisial. Orang itu tidak fully sincere saat argue the other side, dan oposisi tahu itu. 

Sebagai gantinya, temukan true devil's advocate—orang yang benar-benar percaya pada sisi lain dan biarkan mereka argue dengan passion penuh. 

Ben Kohlmann dari Chief of Naval Operations' Rapid Innovation Cell (CRIC) membangun tim dengan orang-orang yang constantly question ideas. 

Hasilnya? Creative solutions yang luar biasa, termasuk menjadi yang pertama membawa 3D printer ke kapal untuk print spare parts saat sesuatu rusak di laut. 

Culture of Transparency 

Bridgewater Associates dan Ray Dalio's Principles adalah model bagus: budaya di mana surfacing non-consensus opinions dan transparansi adalah values inti. 

Setiap orang—tidak peduli level—didorong untuk challenge ide, bahkan ide dari CEO. 

Ini uncomfortable pada awalnya. Tapi ini menciptakan environment di mana ide terbaik win, bukan ide dari orang dengan title tertinggi.


Bagian 6: Menumbuhkan Originalitas 

Pada Anak-Anak 

Jika Anda ingin menumbuhkan originalitas pada anak, penelitian menunjukkan: 

1. Fokus pada values, bukan rules. Alih-alih "Jangan pukul saudaramu," jelaskan "Kita tidak menyakiti orang lain karena itu tidak baik." 

Anak belajar prinsip di balik aturan, bukan hanya aturannya. Ini membuat mereka berpikir independently. 

2. Provide varied role models. Jangan hanya show satu cara untuk sukses. Tunjukkan berbagai path yang berbeda. 

3. Encourage questioning. Jawab "Mengapa?" dengan penjelasan, bukan "Karena saya bilang begitu." 

Anak-anak yang terbiasa mempertanyakan akan tumbuh menjadi adults yang question status quo. 

4. Let them make choices. Bahkan choices kecil—apa yang ingin dimakan, baju apa yang ingin dipakai—melatih independent thinking. 

Pada Tim dan Organisasi 

1. Recruit dari top dan bottom. Senior people confident dalam status mereka dan willing mengambil risiko. Newcomers able to take high-risk high-reward bets. 

2. Job crafting. Biarkan orang memodifikasi jobs mereka sendiri untuk membuat lebih meaningful dan motivating. 

Penelitian di Google menunjukkan ini membuat people lebih engaged dan innovative. 

3. Broaden experiences. Fashion designers yang paling original adalah yang tidak hanya travel abroad, tapi spend significant time working abroad di negara yang maksimal berbeda dari mereka. 

Mereka bisa re-combine insights dari berbagai cultures untuk create different designs. 

Practice makes perfect; unfortunately, it doesn't make new. Anda perlu diverse experiences untuk generate original ideas.


Bagian 7: Emotional Challenges 

Fear and Doubt Are Normal 

Inilah yang jarang diakui: Originals juga merasa takut dan ragu. 

Martin Luther King Jr. worried tentang mengambil tugas yang diharapkan darinya. Copernicus hesitated untuk tahun-tahun sebelum publish teorinya tentang heliocentrism. 

Mereka bukan fearless. Mereka feel fear—tapi they act anyway. 

Perbedaan antara originals dan orang lain bukan absence of fear. Perbedaannya adalah action despite fear. 

Strategic Optimism and Defensive Pessimism 

Ada dua strategi untuk manage anxiety: 

Strategic optimists - fokus pada best-case scenarios untuk build confidence. Defensive pessimists - imagine worst-case scenarios dan prepare untuk semuanya. 

Keduanya bisa bekerja, tergantung personality Anda. Yang penting adalah recognize apa yang work untuk Anda dan use it deliberately. 

Channeling Doubt 

Self-doubt bisa destructive. Tapi bisa juga menjadi driving force yang memaksa Anda untuk improve dan prove ide Anda worth. 

Banyak originals yang sukses grapple dengan insecurity. Mereka channel uncertainty itu menjadi fuel untuk work harder dan smarter.


Bagian 8: Vuja De - Melihat Familiar dengan Fresh Eyes

Opposite of Déjà Vu 

Déjà vu adalah ketika kita encounter sesuatu yang new tapi feels seperti kita sudah melihatnya sebelumnya. 

Vuja de adalah facing sesuatu yang familiar dan seeing it with fresh eyes. 

Pikirkan tentang standing in line menunggu taxi. Berapa kali itu terjadi sebelum seseorang notice bahwa semua mobil yang lewat punya empty seats? 

Itulah bagaimana Uber dimulai. 

Warby Parker adalah Zappos-nya kacamata. So much innovation di dunia simply creative breakthrough pada old topic. 

Tanyakan diri Anda: 

  • "Apa yang orang sudah percaya sebagai true tentang ini?"
  • "Kapan opposite-nya akan true?"

Broadening Perspectives 

Untuk develop vuja de, Anda perlu broaden experiences dan look ke orthogonal fields untuk inspiration. 

Ini facilitate lateral thinking dan avoid incremental improvements pada apa yang sudah Anda tahu. 

Originals seringkali adalah orang dengan varied interests, bukan single obsession.


Penutup: Menjadi Original 

Anda Lebih Original Dari yang Anda Pikir 

Adam Grant mengakui: "Saya dulu berpikir saya tidak original. Saya pretty risk-averse. Itu salah satu alasan saya tertarik dengan education—karena job security dan tenure." 

Tapi ia belajar bahwa originalitas dan creativity jauh lebih tentang varied interests daripada wild ideas. 

Anda tidak perlu menjadi eccentric genius. Anda tidak perlu menjadi fearless risk-taker. Anda tidak perlu quit your day job dan bet everything. 

Anda hanya perlu: 

1. Question the default - Tanya "mengapa?" pada hal-hal yang semua orang terima begitu saja 

2. Generate lots of ideas - Volume breeds quality 

3. Procrastinate strategically - Beri waktu untuk inkubasi 

4. Build balanced risk portfolio - Secure in one area, risky in another

5. Temper your radicalism - Make your idea accessible 

6. Seek true dissent - Surround yourself dengan people who challenge you

7. Test your ideas - Anda terrible judge untuk ide Anda sendiri 

8. Act despite fear - Courage isn't absence of fear, it's action despite it

Browser Test 

Inilah test sederhana untuk gauge originalitas Anda: Browser apa yang Anda gunakan? 

Penelitian menunjukkan people yang use Firefox atau Chrome (yang harus di-download) are more likely to be original thinkers daripada yang use Safari atau Internet Explorer (yang pre-installed). 

Mengapa? Karena browser choice signals something tentang bagaimana Anda live your life. Jika Anda tipe orang yang just accept the default, Anda tend not to take as many original steps. 

Jika Anda punya instinct untuk say, "I wonder if there's a better browser out there," itu tiny clue bahwa Anda mungkin tipe orang yang willing to reject other defaults dalam hidup Anda juga.

Final Thought 

Kesalahan Adam Grant dengan Warby Parker mengajarkan pelajaran berharga: Originals seringkali tidak terlihat seperti yang kita bayangkan. 

Mereka procrastinate. Mereka have doubts. Mereka play it safe di beberapa area. Mereka have bad ideas. 

Dan sometimes, it's not in spite of those qualities but because of them that they succeed. Jadi ketika Anda see those things dalam diri Anda, don't count yourself out. Dan ketika Anda see those things dalam orang lain, don't write them off. Originality is not about being the first. It's about being different and better. 

Menjadi original bukan jalan termudah menuju happiness, tapi itu menempatkan Anda perfectly poised untuk happiness of pursuit. 

Sekarang giliran Anda untuk question, untuk create, untuk dare to be original. Dunia menunggu ide Anda.


Tentang Buku Asli 

Originals: How Non-Conformists Move the World ditulis oleh Adam Grant dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2016. 

Adam Grant adalah professor psikologi organisasi termuda yang pernah mendapat tenure di Wharton School, University of Pennsylvania, di usia 28 tahun. Ia adalah penulis bestseller lainnya, "Give and Take," dan kontributor reguler untuk New York Times. 

Buku Originals muncul dari kombinasi pengalaman personalnya (kesalahan dengan Warby Parker), penelitian akademis yang ketat, dan ratusan wawancara dengan originals dari berbagai bidang—dari bisnis hingga politik, sains hingga seni. 

Untuk pemahaman yang lebih dalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Grant menulis dengan style yang accessible tapi tetap rigorous, memberikan countless examples dan insights praktis yang tidak muat dalam ringkasan ini. 

Buku ini akan mengubah cara Anda melihat innovation, risk, dan creativity—dan mungkin membuat Anda menyadari bahwa Anda lebih original dari yang Anda pikir. 

Sekarang, pergi dan buat perubahan. Dunia membutuhkan originalitas Anda.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Most Human Human
Back to top

Similar books