Skip to main content

Oye

by Melissa Mogollon · April 2026 · 12 min read

Panggilan Telepon yang Mengubah Segalanya

Table of contents

Panggilan Telepon yang Mengubah Segalanya

"Oye, mija—kamu dengar aku?" 

Berapa kali Anda mendengar suara di telepon yang langsung membawa Anda kembali ke rumah—ke aroma masakan keluarga, ke bahasa yang terasa lebih hangat di lidah, ke tempat di mana Anda adalah cucu, bukan orang dewasa yang mencoba mencari tahu hidup? 

Mari—atau Luciana, tergantung siapa yang bertanya—duduk di apartemennya yang gelap di Miami, ponsel di telinga, mendengarkan suara neneknya membanjiri telinganya dalam campuran Spanyol dan Inggris yang tidak pernah benar-benar terpisah dalam keluarga imigran. 

Ini bukan panggilan telepon biasa. Ini adalah percakapan yang telah ditunda selama bertahun-tahun—tentang hal-hal yang tidak pernah dibicarakan, trauma yang disimpan dalam diam, kebenaran yang terlalu menyakitkan untuk diakui. 

Dan semuanya terjadi karena ibunya akhirnya pergi. 

Tidak mati—pergi. Meninggalkan. Mengosongkan rumah dan menghilang tanpa penjelasan, meninggalkan Mari dengan pertanyaan yang telah dia simpan sejak kecil: "Mengapa ibu tidak pernah benar-benar mencintai aku?" 

Melissa Mogollon menulis "Oye" sebagai novel debut yang radikal dalam bentuknya—seluruh cerita adalah satu percakapan telepon panjang antara cucu dan nenek, berlapis dengan memori, trauma, dan kebenaran yang perlahan terungkap. 

Tapi ini bukan sekadar cerita tentang satu keluarga Kolombia di Miami. Ini adalah cerita tentang siapa pun yang pernah merasa terjebak di antara dua dunia—terlalu Kolombia untuk Amerika, terlalu Amerika untuk Kolombia. Terlalu banyak untuk beberapa orang, tidak pernah cukup untuk yang lain. 

Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika Anda akhirnya berani berkata: "Oye—dengarkan aku. Inilah kebenaranku."


Bagian 1: Mari—Wanita di Antara Dua Dunia

Pulang yang Bukan Pulang 

Mari kembali ke Miami setelah bertahun-tahun di New York—kota di mana dia mencoba "menemukan dirinya," mencoba menjadi versi dari dirinya yang tidak terikat pada trauma keluarga. 

Tapi New York tidak memberikan jawaban. Terapi tidak cukup membantu. Antidepresan hanya mematikan rasa, bukan menghilangkan rasa sakit. 

Jadi dia kembali. Kembali ke Miami—kota yang terasa seperti rumah dan pengasingan pada saat yang sama. Kembali ke apartemen kecilnya, ke panas yang menekan, ke suara Spanyol di setiap sudut yang membuatnya merasa dilihat dan tidak terlihat secara bersamaan. 

Kembali ke keluarga yang dia cintai dan yang melukai dia dengan cara yang sama.

Identitas yang Tidak Pernah Cukup 

Mari adalah apa yang orang sebut "Kolombia-Amerika"—tapi label itu tidak pernah cukup untuk menangkap kompleksitasnya. 

Di Amerika, dia "terlalu Latina." Aksennya kadang muncul. Namanya diucapkan salah. Orang berasumsi dia tahu cara membuat empanadas yang sempurna atau menari salsa—yang tidak dia lakukan, karena ibunya tidak pernah mengajari dia. 

Di dalam keluarga Kolombianya, dia "terlalu gringa." Spanyolnya tidak sempurna. Dia tidak tahu semua tradisi. Dia membuat pilihan yang "terlalu Amerika"—seperti pergi ke terapi, seperti tidak menikah, seperti tidak punya anak. 

Dia hidup di liminal space—ruang di antara—yang tidak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun. 

Dan yang paling menyakitkan: ibunya tidak pernah membantu menjembatani jarak itu. Justru, ibunya yang membuat jarak itu lebih besar.


Bagian 2: Ibunya—Narcissist yang Menyakitkan

Kecantikan sebagai Senjata 

Ibu Mari—yang dalam buku tidak pernah diberi nama, hanya "Mami"—adalah wanita yang cantik, karismatik, dan benar-benar destructive. 

Dia adalah tipe wanita yang masuk ke ruangan dan semua orang melihat. Tawa yang keras. Gaya yang sempurna. Pesona yang tidak bisa dilawan. 

Tapi di rumah, di balik pintu tertutup, dia adalah monster. 

Bukan monster yang berteriak atau memukul (meskipun kadang itu juga). Tapi monster yang lebih halus dan lebih menghancurkan—monster narcissistic yang membuat segalanya tentang dirinya, yang tidak pernah bisa mencintai anaknya dengan cara yang sehat. 

Ketika Mari kecil, ibunya akan berpakaian cantik dan membawa dia keluar—tapi bukan karena ingin menghabiskan waktu dengan anaknya. Karena anak yang lucu adalah aksesori yang membuat dia terlihat lebih baik. 

Ketika Mari remaja dan mulai berkembang menjadi wanita, ibunya tidak mendukung—dia kompetisi. Dia merasa terancam. Dia mulai mengkritik penampilan Mari, membuat komentar tentang berat badannya, tentang rambutnya, tentang cara dia berpakaian. 

"Kamu tidak akan pernah secantik aku," ibunya pernah bilang—bukan dengan kesedihan, tapi dengan kepuasan. 

Cinta yang Bersyarat 

Yang paling merusak: cinta ibu Mari selalu bersyarat. 

Dia mencintai Mari ketika Mari membuat dia terlihat baik—ketika Mari mendapat nilai bagus, ketika Mari berperilaku sempurna di depan keluarga, ketika Mari memuji ibunya di depan orang lain. 

Tapi ketika Mari tidak sempurna—ketika dia menangis, ketika dia butuh sesuatu, ketika dia punya pendapat sendiri—ibunya menarik cintanya dengan kejam. 

"Kamu terlalu sensitif," ibunya akan bilang ketika Mari menangis karena kata-kata kejamnya.

"Kamu egois," ibunya akan tuduh ketika Mari mencoba membela dirinya. 

"Tidak ada yang akan mencintaimu seperti aku mencintaimu," ibunya akan bisikkan—dan Mari, anak kecil yang putus asa untuk dicintai, akan percaya.

Dia tumbuh berpikir bahwa cinta selalu menyakitkan. Bahwa untuk dicintai, dia harus membuat dirinya lebih kecil. Bahwa kebutuhannya tidak penting.


Bagian 3: Abue—Nenek yang Melihat Segalanya

Suara di Telepon 

"Oye, mija—aku tahu ini sulit. Tapi kamu harus mendengar kebenaran sekarang." 

Abue—nenek Mari—adalah anchor dalam hidupnya. Suara yang hangat. Pelukan yang tulus. Satu-satunya orang dalam keluarga yang mencintai Mari tanpa syarat. 

Tapi bahkan Abue punya rahasia. Bahkan Abue menyimpan kebenaran yang terlalu menyakitkan untuk dikatakan—sampai ibunya pergi dan semuanya akhirnya harus keluar. 

Cerita yang Perlahan Terungkap 

Dalam percakapan telepon yang panjang itu, Abue mulai menceritakan hal-hal yang tidak pernah dia ceritakan sebelumnya: 

Tentang Kolombia yang mereka tinggalkan: Bukan hanya negara yang mereka rindukan dengan nostalgia, tapi tempat dengan kekerasan, dengan trauma, dengan alasan mengapa mereka harus melarikan diri. 

Tentang migrasi yang menghancurkan: Bagaimana datang ke Amerika bukan petualangan, tapi keputusasaan. Bagaimana kehilangan status, kehilangan bahasa, kehilangan identitas hampir membunuh jiwa mereka. 

Tentang ibu Mari sebagai anak: Bagaimana dia dulunya anak yang berbeda—ceria, penuh harapan. Tapi sesuatu patah dalam prosesnya. Sesuatu yang Abue tidak bisa—atau tidak mau—memperbaiki. 

Tentang mengapa ibu Mari seperti itu: Bukan sebagai excuse, tapi sebagai konteks. Trauma yang dia warisi. Kehilangan yang dia tidak pernah berduka. Cara dia belajar bahwa cinta adalah kontrol, bahwa kerentanan adalah kelemahan.


Bagian 4: Trauma Migrasi—Luka yang Tidak Terlihat

Apa yang Hilang dalam Perjalanan 

Salah satu tema paling powerful dalam "Oye" adalah apa yang hilang ketika keluarga bermigrasi—dan itu bukan hanya tentang tempat. 

Ketika keluarga Mari datang ke Amerika, mereka kehilangan: 

Status dan identitas: Di Kolombia, mereka punya tempat. Pekerjaan yang terhormat. Komunitas yang mengenal mereka. Di Amerika, mereka tidak ada—hanya "imigran," sering tidak terlihat atau dilihat dengan curiga. 

Bahasa dan suara: Tiba-tiba bahasa ibu mereka adalah "salah." Aksen adalah sesuatu yang memalukan. Mereka belajar diam—atau berbicara dalam bahasa yang tidak pernah terasa seperti milik mereka. 

Koneksi keluarga: Generasi yang lebih tua tertinggal di Kolombia. Ritual dan tradisi yang membuat mereka merasa terhubung perlahan memudar karena tidak ada yang mengajari generasi berikutnya. 

Narasi tentang diri mereka sendiri: Mereka menjadi karakter dalam cerita orang lain—"imigran yang sukses" atau "beban pada sistem," tergantung siapa yang bercerita. 

Trauma yang Diturunkan 

Yang paling tragic: trauma ini tidak berhenti pada satu generasi. 

Ibu Mari mewarisi trauma migrasinya dari orang tuanya. Lalu dia meneruskannya ke Mari—tidak dengan sengaja, tapi karena itu satu-satunya cara yang dia tahu. 

Dia mengajarkan Mari untuk: 

  • Tidak mempercayai orang luar
  • Tidak menunjukkan kelemahan
  • Tidak berbicara tentang perasaan ("Eso no se habla"—kita tidak membicarakan itu)
  • Berpura-pura segalanya baik-baik saja, bahkan ketika hancur

Dan Mari tumbuh dengan luka yang tidak dia pahami—luka dari kehilangan yang tidak pernah dia alami langsung, tapi yang hidup dalam tubuhnya, dalam cara dia berhubungan dengan dunia.


Bagian 5: Kesehatan Mental—Hal yang Tidak Boleh Dibicarakan 

"Eso No Se Habla" 

Dalam budaya banyak keluarga Latinx (dan banyak budaya imigran), ada aturan tidak tertulis: kita tidak membicarakan hal-hal yang sulit. 

Tidak depresi. Tidak anxiety. Tidak trauma. Tidak perasaan yang "memalukan." 

"Kamu pikir kamu punya masalah? Kami selamat dari perang, dari kemiskinan, dari kehilangan segalanya. Kamu punya atap di atas kepala dan makanan di meja. Apa lagi yang kamu mau?" 

Jadi Mari belajar menyimpan semuanya di dalam. Belajar tersenyum ketika dia ingin menangis. Belajar mengatakan "Aku baik-baik saja" ketika dia hancur. 

Sampai dia tidak bisa lagi. 

Terapi sebagai Pengkhianatan 

Ketika Mari mulai terapi—hal yang natural di New York, di antara teman-teman generasinya—keluarganya melihatnya sebagai pengkhianatan

"Kamu cerita tentang keluarga kita ke orang asing?" 

"Kamu pikir kamu lebih baik dari kita sekarang?" 

"Therapist itu cuma mau uangmu. Keluargamu ada di sini—kita yang peduli padamu." 

Tapi seperti yang Mari perlahan sadari: kadang keluarga yang peduli adalah yang paling menyakitimu—karena mereka terlalu dekat, terlalu invested, terlalu terluka mereka sendiri untuk melihat rasa sakitmu dengan jelas. 

Terapi bukan pengkhianatan. Terapi adalah penyelamatan.


Bagian 6: Ibunya Pergi—Akhir dan Awal 

Rumah yang Kosong 

Ketika Mari datang untuk kunjungan rutin, rumah ibunya kosong. 

Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Hanya ruang yang dibersihkan—foto diturunkan, pakaian hilang, jejak kehidupan dihapus. 

Pertama, Mari panik. Apakah ada yang terjadi? Apakah ibunya diculik? Sakit? Terluka? 

Tapi kemudian Abue menelepon dan mengkonfirmasi: "Dia pergi, mija. Dia memutuskan dia butuh... mulai baru." 

Mulai baru. Tanpa putrinya. Tanpa penjelasan. Tanpa goodbye. 

Dan Mari merasa... lega. 

Lalu segera merasa bersalah karena lega. 

Lalu marah. 

Lalu hancur. 

Semua pada saat yang sama. 

Berduka untuk Ibu yang Tidak Pernah Ada 

Yang paling sulit tentang ibunya pergi: Mari tidak kehilangan ibunya. 

Dia kehilangan kemungkinan bahwa ibunya suatu hari akan menjadi ibu yang dia butuhkan. 

Dia kehilangan harapan bahwa suatu hari ibunya akan meminta maaf, akan melihatnya dengan benar, akan mencintainya tanpa syarat. 

Dia kehilangan fantasi bahwa mereka bisa memperbaiki hubungan mereka. 

Dalam beberapa cara, ini lebih sulit daripada kematian. Karena ibunya masih hidup di luar sana—hanya memilih untuk tidak punya Mari dalam hidupnya. 

Penolakan terakhir.


Bagian 7: Percakapan dengan Abue—Healing Melalui Kebenaran 

"Oye, Mija—Dengarkan Aku Sekarang" 

Dalam percakapan panjang dengan Abue, perlahan-lahan, kebenaran keluar: 

Kebenaran 1: Ibu Mari selalu punya masalah mental yang tidak pernah ditangani. Bukan excusenya untuk menjadi narcissist, tapi konteksnya. 

Kebenaran 2: Abue tahu. Abue melihat. Tapi dia tidak tahu cara membantu—dan dia merasa bersalah setiap hari karenanya. 

Kebenaran 3: Mari bukan masalahnya. Dia tidak pernah "terlalu banyak" atau "tidak cukup." Ibunya tidak mampu mencintai siapa pun dengan sehat—termasuk dirinya sendiri. 

Kebenaran 4: Pergi adalah mungkin hal terbaik yang pernah ibu Mari lakukan untuk putrinya—karena akhirnya memaksa Mari untuk berhenti menunggu persetujuan yang tidak akan pernah datang. 

"Kamu Berhak untuk Dicintai" 

Yang paling powerful dari percakapan itu: Abue akhirnya mengatakan hal yang Mari perlu dengar seumur hidupnya: 

"Kamu berhak untuk dicintai, mija. Bukan karena kamu sempurna. Bukan karena kamu membuat orang lain nyaman. Tapi karena kamu ada.

"Ibumu tidak bisa memberikan itu. Itu bukan salahmu. Itu tidak pernah salahmu."

"Dan sekarang, tugas kamu adalah belajar memberikan cinta itu pada diri sendiri."


Bagian 8: Pelajaran dari "Oye" 

1. Trauma Keluarga Diturunkan—Sampai Seseorang Menghentikannya 

Trauma migrasi, trauma narcissistic parenting, trauma kehilangan—semua ini diturunkan dari generasi ke generasi, seperti DNA. 

Sampai seseorang berani mengatakan: "Berhenti. Siklus ini berhenti dengan aku." 

Pelajaran: Anda bisa mencintai keluarga Anda dan masih memilih untuk tidak mengulangi pola mereka. 

2. Kesehatan Mental Bukan Kemewahan—Ini Kebutuhan 

Dalam budaya yang mengatakan "eso no se habla," mencari bantuan mental health terasa seperti pengkhianatan. 

Tapi diam tidak melindungi kita. Diam membunuh kita perlahan. 

Pelajaran: Berbicara tentang rasa sakit bukan kelemahan. Itu kekuatan. Terapi bukan pengkhianatan. Itu perawatan diri. 

3. Anda Tidak Bisa Mengubah Orang yang Tidak Mau Berubah 

Mari menghabiskan bertahun-tahun mencoba menjadi cukup baik untuk ibunya—cukup sempurna, cukup membantu, cukup kecil. 

Tidak ada yang cukup. Karena masalahnya bukan Mari. Masalahnya adalah ibunya yang tidak mau menghadapi dirinya sendiri. 

Pelajaran: Anda bisa mencintai seseorang dan masih membiarkan mereka pergi. Kadang itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri Anda. 

4. Identitas Imigran Itu Kompleks—Dan Itu Oke 

Mari bukan "cukup Kolombia" dan bukan "cukup Amerika." Dan dia menghabiskan bertahun-tahun merasa buruk tentang itu. 

Tapi kamu tidak harus memilih satu identitas. Kamu bisa hidup di ruang di antara. Kamu bisa membuat identitas yang milik kamu sendiri. 

Pelajaran: Identitas bukan checklist. Itu spectrum. Itu fluida. Dan kamu mendefinisikan itu untuk dirimu sendiri. 

5. "Oye"—Dengarkan Aku—Adalah Tindakan Revolusioner

Judulnya "Oye"—dengarkan—adalah powerful karena banyak dari kita menghabiskan hidup tidak didengar. 

Tidak didengar oleh orang tua. Tidak didengar oleh masyarakat. Tidak didengar bahkan oleh diri kita sendiri. 

Pelajaran: Berkata "Oye—dengarkan aku, ini kebenaranku" adalah tindakan keberanian dan pembebasan.


Penutup: Suara yang Akhirnya Bebas 

Di akhir percakapan dengan Abue, Mari tidak punya semua jawaban. 

Ibunya masih pergi. Traumanya tidak hilang. Dia masih hidup di antara dua dunia.

Tapi ada yang berubah: Dia akhirnya mendengar suaranya sendiri. 

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba membuat dirinya lebih kecil. Dia tidak mencoba menjadi versi dari dirinya yang membuat orang lain nyaman. 

Dia hanya ada—dengan semua kompleksitasnya, dengan semua rasa sakitnya, dengan semua kekuatannya. 

Pertanyaan untuk Anda 

Melissa Mogollon menulis "Oye" untuk dirinya sendiri—untuk cucu dari imigran, untuk anak dari narcissist, untuk siapa pun yang pernah merasa terlalu banyak dan tidak pernah cukup pada saat yang sama. 

Jadi pertanyaannya untuk Anda: 

  • Siapa yang tidak mendengar Anda—dan kapan Anda akan berani berkata "Oye"?
  • Pola apa dari keluarga Anda yang Anda bawa tanpa menyadari?
  • Trauma apa yang Anda warisi—dan apakah Anda siap untuk menghentikan siklus?
  • Bagian dari diri Anda yang mana yang Anda sembunyikan untuk membuat orang lain nyaman?
  • Kapan Anda akan mulai mendengar suara Anda sendiri—bukan suara orang tua, bukan suara masyarakat, tapi suara Anda yang sebenarnya?

Mari tidak punya jawaban yang sempurna. Dia masih berjuang. Dia masih belajar.

Tapi dia punya satu hal yang dia tidak punya sebelumnya: suaranya sendiri.

Dan kadang, itu cukup untuk memulai.


Tentang Buku Asli 

"Oye" adalah novel debut Melissa Mogollon yang diterbitkan pada 2023 dan langsung mendapat pujian kritis untuk suara yang segar dan jujur. 

Melissa Mogollon adalah penulis Kolombia-Amerika yang tumbuh di Miami—sama seperti protagonisnya. Dia menulis dari pengalaman hidup di antara dua budaya, memahami trauma migrasi, dan navigasi identitas yang kompleks. 

Buku ini unik dalam strukturnya—seluruh novel adalah satu percakapan telepon dengan flashback berlapis. Ini menciptakan intimasi yang intens, seolah-olah kita menguping percakapan yang sangat personal. 

Mogollon tidak menulis dengan sentimentalitas. Dia menulis dengan kejujuran brutal yang juga penuh kasih—mengkritik pola toxic dalam budaya Latinx sambil juga merayakan kekuatan dan resiliensi komunitas. 

Untuk pemahaman lengkap tentang nuansa bahasa (Spanglish yang indah), kompleksitas hubungan keluarga imigran, dan kedalaman eksplorasi identitas, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi—pengalaman penuh dari suara Mari yang raw dan vulnerable hanya bisa didapat dari teks lengkapnya. 

Sekarang pergilah dan dengarkan—benar-benar dengarkan—suara Anda sendiri. 

Karena seperti yang Mogollon tunjukkan: Suara kita layak didengar. Kebenaran kita layak diceritakan. Dan healing dimulai ketika kita berani berkata: "Oye—dengarkan aku."

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: North Woods
Back to top

Similar books