In the Plex
by Steven Levy · January 2026 · 16 min read
Di Dalam Mesin yang Mengubah Dunia
Table of contents
Di Dalam Mesin yang Mengubah Dunia
Januari 2008. Steven Levy, jurnalis teknologi veteran, berjalan memasuki Googleplex—kampus Google di Mountain View, California.
Dia bukan tamu biasa. Larry Page dan Sergey Brin—dua pendiri Google—telah memberinya sesuatu yang belum pernah diberikan kepada jurnalis luar mana pun: akses penuh dan tanpa batas ke dalam Google selama lebih dari dua tahun.
Levy bisa menghadiri meeting rahasia tentang strategi produk. Berbicara dengan engineer tentang algoritma search. Duduk di ruangan ketika keputusan besar dibuat. Bahkan mengakses data internal yang sangat dijaga.
Mengapa Larry dan Sergey memberikan akses ini? Karena mereka percaya transparansi—sampai titik tertentu. Dan mereka ingin dunia memahami bagaimana Google benar-benar bekerja, bukan hanya dari rumor dan spekulasi.
Apa yang Levy temukan mengejutkan bahkan untuk seseorang yang telah meliput Silicon Valley selama puluhan tahun:
Google bukan hanya perusahaan yang membuat search engine bagus. Google adalah eksperimen radikal tentang bagaimana organisasi besar bisa tetap inovatif, cepat, dan fokus pada misi ketika sebagian besar perusahaan besar menjadi birokratis, lambat, dan terdistraksi.
Tapi cerita ini dimulai jauh lebih sederhana—dengan dua mahasiswa PhD yang frustrasi dengan buruknya search engine di tahun 1996.
Mari kita mulai dari awal.
Bagian 1: BackRub—Awal dari Revolusi
Dua Pemuda yang Tidak Rukun
1995. Stanford University. Larry Page, mahasiswa PhD ilmu komputer berusia 22 tahun, menghadiri orientasi untuk mahasiswa baru.
Sergey Brin, 21 tahun, sudah di Stanford setahun lebih awal, ditugaskan sebagai guide untuk menunjukkan kampus kepada calon mahasiswa baru.
Mereka bertemu. Dan hampir langsung tidak suka satu sama lain.
Larry pikir Sergey terlalu arrogant dan cerewet. Sergey pikir Larry terlalu serius dan kaku.
Tapi Stanford PhD program memaksa mereka berinteraksi. Dan perlahan, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan: mereka berdua terobsesi dengan masalah yang sama.
Web sedang berkembang eksponensial. Tapi cara menemukan informasi di web—search engines seperti AltaVista, Yahoo, Excite—sangat buruk.
Masalahnya? Search engines saat itu hanya menghitung berapa kali kata kunci muncul di halaman web. Jadi kalau Anda cari "best pizza," hasilnya bisa jadi halaman yang menulis "best pizza" 100 kali tapi sebenarnya sampah.
Larry punya ide gila: "Bagaimana kalau kita ranking halaman web berdasarkan siapa yang link ke mereka?"
Logikanya sederhana tapi brilian: Jika banyak website bagus link ke sebuah halaman, kemungkinan halaman itu juga bagus. Seperti sistem kutipan akademis—paper yang banyak dikutip biasanya paper yang penting.
Tapi ini lebih kompleks. Tidak semua link sama. Link dari website terkenal seperti New York Times lebih berharga daripada link dari blog random.
Jadi mereka butuh algoritma yang bisa menghitung nilai setiap link secara rekursif—mempertimbangkan nilai dari website yang memberikan link.
BackRub—Proyek yang Mematikan Server Stanford
Larry dan Sergey mulai bekerja. Mereka beri nama proyek ini "BackRub"—karena menganalisis "backlinks" atau link yang mengarah ke sebuah halaman.
Untuk menganalisis web, mereka perlu crawl—mengunduh dan mengindeks setiap halaman web yang bisa mereka temukan.
Mereka mulai dengan beberapa komputer tua di dorm room mereka. Lalu beberapa lagi. Lalu lebih banyak lagi.
Dalam beberapa bulan, BackRub menggunakan setengah dari bandwidth internet Stanford.
Administrator IT Stanford mulai komplain. "Kalian mematikan seluruh jaringan!"
Tapi hasilnya tidak bisa dipungkiri: BackRub memberikan hasil search yang jauh lebih baik daripada apapun yang ada.
Cari "university"? Search engine lain mungkin memberikan halaman random yang kebetulan punya kata "university" banyak kali. BackRub memberikan Harvard, MIT, Stanford—karena universitas itu banyak di-link oleh website berkualitas tinggi.
PageRank—Algoritma yang Mengubah Segalanya
Algoritma mereka—yang mereka beri nama "PageRank" (nama dari Larry Page, tapi juga bermain kata dengan "web page")—adalah breakthrough.
Konsepnya: Setiap halaman web punya "PageRank score" dari 0-10. Score ini ditentukan oleh:
1. Jumlah link yang mengarah ke halaman itu
2. Kualitas (PageRank) dari website yang memberikan link
Ini adalah perhitungan rekursif yang kompleks. Butuh komputasi massive.
Tapi hasilnya? Google bisa mengurutkan 25 juta halaman web berdasarkan relevance dan authority dalam hitungan detik.
Tidak ada yang pernah melakukan ini sebelumnya.
Bagian 2: Dari Garasi ke Raksasa
Keputusan Sulit—Academia vs Bisnis
1998. Larry dan Sergey punya dilema.
BackRub sudah terbukti luar biasa. Tapi mereka masih mahasiswa PhD. Melanjutkan penelitian akademis? Atau membangun perusahaan?
Mereka coba jual teknologi mereka ke Yahoo dan AltaVista. Yahoo menawar $1 juta. Larry dan Sergey pikir: "Teknologi ini bisa mengubah dunia. Nilainya lebih dari $1 juta."
Yahoo menolak membayar lebih. "Search engine bukan bisnis besar," kata eksekutif Yahoo. "Portal dan content—itu yang penting."
(Keputusan yang akan Yahoo sesali selamanya.)
Jadi mereka putuskan: suspend PhD mereka dan mulai perusahaan.
Mereka mengganti nama dari BackRub (yang terdengar seperti layanan pijat) menjadi "Google"—permainan kata dari "googol" (angka 1 diikuti 100 nol), melambangkan misi mereka mengorganisir informasi dalam jumlah massive.
Investor Pertama—Check dari Andy Bechtolsheim
Mereka butuh uang untuk membeli server dan menyewa ruang kantor.
Andy Bechtolsheim, co-founder Sun Microsystems, setuju bertemu. Larry dan Sergey memberikan demo BackRub di depan rumah Sergey pagi-pagi.
Setelah 5 menit demo, Andy berkata: "Saya tidak perlu tahu lebih banyak. Ini akan besar." Dia menulis check sebesar $100,000—dibuat untuk "Google Inc."
Masalahnya: Google Inc. belum ada sebagai entitas legal. Mereka harus incorporate perusahaan terlebih dahulu sebelum bisa cash check itu.
Dua minggu kemudian, dengan uang dari Andy dan beberapa investor lain (total $1 juta), Google Inc. resmi berdiri pada September 1998.
Kantor pertama? Garasi di rumah teman mereka, Susan Wojcicki (yang kemudian menjadi CEO YouTube).
Prinsip yang Mengubah Segalanya
Sejak awal, Larry dan Sergey menetapkan prinsip yang radikal:
"Focus on the user, and all else will follow."
Ini berarti:
- Tidak ada iklan yang mengganggu di homepage (saat itu, portal lain penuh banner iklan)
- Hasil search harus objektif—tidak boleh dibeli
- Speed adalah fitur—hasil harus muncul dalam hitungan detik
- Simplicity—homepage Google hanya logo dan search box
Semua orang pikir mereka gila. "Bagaimana kalian akan make money kalau tidak ada iklan di homepage?"
Larry dan Sergey percaya: "Kalau kita membuat produk yang terbaik, uang akan datang."
Mereka benar.
Bagian 3: Budaya yang Tidak Biasa
Hiring—Hanya yang Terbaik
Google punya filosofi hiring yang ekstrem: "Lebih baik tidak hire siapa pun daripada hire orang yang salah."
Proses interview Google terkenal brutal:
- 5-10 putaran interview
- Pertanyaan teknis yang sangat sulit
- Tidak cukup pintar—Anda harus pintar DAN cocok dengan budaya
Larry punya aturan: "Hire orang yang lebih pintar dari Anda."
Hasilnya? Google menarik orang-orang terbaik dari Stanford, MIT, Carnegie Mellon.
Tapi menarik talent tidak cukup. Anda harus membuat mereka tetap engaged dan produktif.
20% Time—Rahasia Inovasi
Google meluncurkan kebijakan radikal: Setiap engineer bisa menghabiskan 20% waktu kerja mereka (satu hari per minggu) untuk proyek apa pun yang mereka inginkan—bahkan jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan utama mereka.
CEO mana yang akan setuju karyawannya "tidak bekerja" satu hari seminggu?
Tapi filosofi Larry dan Sergey: "Engineer tahu apa yang penting. Beri mereka kebebasan, dan mereka akan menciptakan hal-hal luar biasa."
Dan mereka benar.
Beberapa produk Google paling sukses lahir dari 20% time:
- Gmail—Paul Buchheit mengerjakan ini di waktu 20%-nya
- Google News—Krishna Bharat membuatnya setelah 9/11 ketika dia frustrasi dengan susahnya menemukan berita comprehensive
- AdSense—sistem iklan yang menghasilkan miliaran dollar
20% time bukan hanya tentang produk. Ini tentang membuat engineer merasa empowered dan trusted.
Makanan Gratis, Gym, dan Laundry
Google terkenal dengan fasilitas karyawan yang luar biasa:
- Makanan gratis—sarapan, makan siang, makan malam dari chef berkualitas tinggi
- Gym dengan trainer pribadi gratis
- Laundry gratis
- Pijat gratis
- Dokter di tempat
- Tempat bermain, game room, slide di antara lantai
Orang luar pikir: "Ini pemborosan uang."
Tapi Larry dan Sergey punya kalkulasi berbeda:
"Kalau engineer tidak perlu mikir tentang makan, laundry, atau kesehatan, mereka bisa fokus 100% pada pekerjaan. Dan jika mereka nyaman, mereka akan stay lebih lama di kantor—tidak karena dipaksa, tapi karena mereka ingin."
Hasilnya? Productivity meningkat. Retention tinggi. Dan yang paling penting: engineer bahagia menciptakan produk yang lebih baik.
Bagian 4: Mesin Uang—AdWords yang Mengubah Segalanya
Masalah Awal—Bagaimana Make Money?
1999-2000. Google tumbuh eksplosif. Traffic meningkat 50% setiap bulan.
Tapi mereka hampir tidak punya revenue. Mereka menolak banner ads. Mereka menolak menjual hasil search.
Investor mulai nervous. "Kapan kalian akan make money?"
Lalu datang ide: iklan berbasis teks yang relevan dengan search query.
Konsepnya:
- Ketika Anda search "pizza delivery," iklan kecil untuk restoran pizza muncul di samping
- Iklan itu relevant—bukan random banner yang tidak ada hubungannya
- Advertiser membayar per click (pay-per-click), bukan per impression
Tapi ada twist revolusioner: Ad auction.
Advertiser tidak bisa "membeli" posisi teratas. Mereka bid, tapi posisi ditentukan oleh kombinasi:
1. Berapa banyak mereka bid
2. Seberapa relevan dan berkualitas iklan mereka (click-through rate)
Jadi iklan yang lebih relevan bisa menang meskipun bid-nya lebih rendah. Ini melindungi user experience—hanya iklan berkualitas yang muncul.
Hasil yang Mengejutkan
2000: Google AdWords diluncurkan.
2001: Revenue $85 juta 2002: Revenue $400 juta 2003: Revenue $1.5 miliar 2004: Revenue $3.2 miliar (tahun IPO mereka)
Google menemukan mesin uang yang sempurna.
Dan yang luar biasa: mereka melakukannya tanpa mengorbankan user experience. Iklan relevan, kecil, tidak mengganggu.
User senang. Advertiser senang. Google senang.
Win-win-win.
Bagian 5: Ekspansi Agresif—Beyond Search
Gmail—April Fools yang Nyata
1 April 2004. Google mengumumkan Gmail—email gratis dengan 1GB storage.
Semua orang pikir ini April Fools joke. Saat itu, Hotmail dan Yahoo Mail hanya memberikan 2-4MB storage. 1GB adalah 250-500 kali lebih besar.
Tapi ini nyata.
Paul Buchheit, engineer yang membuat Gmail di 20% time-nya, punya visi: "Email seharusnya tidak pernah dihapus. Storage seharusnya tidak terbatas. Dan search—bukan folder—seharusnya cara kita menemukan email."
Gmail juga memperkenalkan:
- Conversation view (thread email)
- Powerful search
- Spam filtering yang luar biasa
- Interface yang cepat dan clean
Tapi ada kontroversi: iklan yang ditargetkan berdasarkan content email Anda.
Google scan email Anda untuk menampilkan iklan relevant. Orang berteriak: "Ini invasion of privacy!"
Google berargumen: "Tidak ada manusia yang membaca email Anda. Ini otomatis. Dan iklan lebih relevant lebih baik daripada iklan random."
Kontroversi berlanjut sampai hari ini. Tapi Gmail tetap tumbuh menjadi platform email terbesar di dunia.
Google Maps—Membeli Startup Kecil, Launching Revolusi
Google tidak invent semua produknya. Kadang mereka beli startup kecil dengan ide bagus.
2004: Google membeli Where 2 Technologies—startup Australia dengan 4 orang yang membuat web-based mapping software.
Google invest massive resources. Dalam setahun, mereka launching Google Maps dengan fitur yang mengejutkan dunia:
- Drag-and-drop interface (tidak ada reload halaman)
- Satellite view
- Street view (kemudian)
- Direction dengan multiple routes
Kompetitor seperti MapQuest tiba-tiba terlihat kuno.
Dan yang paling penting: Google Maps menjadi platform. Developer bisa build aplikasi di atasnya. Ribuan aplikasi dan website menggunakan Google Maps API.
Google tidak hanya membuat produk. Mereka membuat ecosystem.
Android—Taruhan Besar pada Mobile
2005. Larry dan Sergey melihat masa depan: Mobile.
Saat itu, mobile web sangat buruk. Kebanyakan orang masih menggunakan flip phone. iPhone belum ada.
Google membeli startup kecil bernama Android Inc. (didirikan oleh Andy Rubin) untuk $50 juta. Banyak orang di Google skeptis: "Mengapa kita masuk ke hardware? Kita software company."
Tapi Larry dan Sergey punya visi: "Jika masa depan adalah mobile, dan jika kita tidak kontrol platform mobile, kita akan dikontrol oleh orang lain."
Mereka benar. Dua tahun kemudian, iPhone diluncurkan—mengubah dunia. Dan Google sudah siap dengan Android.
Strategi Android brilian: Buat open source dan gratis. Biarkan semua phone manufacturer menggunakan Android gratis.
Mengapa gratis? Karena Google tidak make money dari OS. Mereka make money dari search dan ads.
Semakin banyak orang menggunakan smartphone Android, semakin banyak yang menggunakan Google Search, Gmail, Maps, YouTube.
Hari ini, Android adalah OS mobile terbesar di dunia—lebih dari 70% market share.
Bagian 6: Dilema Moral—Don't Be Evil?
Motto yang Kontroversial
Awal 2000-an, Google mengadopsi motto internal: "Don't be evil."
Ini terdengar mulia. Tapi juga naif.
Paul Buchheit, yang mengusulkan motto ini, menjelaskan: "Ini bukan tentang menjadi sempurna. Ini tentang punya kompas moral. Ketika kita membuat keputusan sulit, kita bertanya: 'Apakah ini evil?'"
Tapi siapa yang menentukan apa yang "evil"?
China—Keputusan yang Merusak Reputasi
2006. Google meluncurkan Google.cn—versi China yang disensor sesuai dengan permintaan pemerintah China.
Search "Tiananmen Square massacre"? Tidak ada hasil tentang pembantaian 1989. Hanya foto turis dan informasi sejarah yang di-sanitize.
Search "Tibet independence"? Hasil dikontrol untuk menunjukkan perspektif pemerintah.
Larry dan Sergey membuat argument: "Lebih baik memberikan akses internet yang disensor daripada tidak ada akses sama sekali. Orang China tetap mendapat manfaat dari Google—meskipun tidak sempurna."
Tapi kritik datang dari semua arah:
- Human rights activists: "Kalian mengkhianati prinsip kalian."
- Kongres AS: "Kalian membantu rezim otoriter menyensor rakyatnya."
- Karyawan Google sendiri: "Ini melanggar 'Don't be evil.'"
2010, setelah serangan cyber dari China dan tekanan sensor yang semakin berat, Google menarik diri dari China.
Sergey Brin, yang tumbuh di Uni Soviet dan mengalami censorship, berkata: "Saya tidak bisa sleep at night mengetahui kita menjadi complicit dalam censorship."
Keputusan ini mengorbankan miliaran dollar revenue potensial. Tapi ini tentang prinsip.
Privacy—Trade-off yang Tidak Nyaman
Google mengumpulkan data tentang Anda dalam jumlah yang luar biasa:
- Setiap search yang Anda lakukan
- Setiap email di Gmail Anda
- Setiap lokasi yang Anda kunjungi (jika Anda pakai Android)
- Setiap video YouTube yang Anda tonton
- Setiap website yang Anda kunjungi (melalui Google Analytics)
Google berargumen: "Kami perlu data ini untuk membuat produk lebih baik. Personalisasi. Relevance. Anda mendapat search results yang lebih baik karena kami tahu preferensi Anda."
Dan mereka tidak salah. Google Search, Google Maps, YouTube recommendations—semuanya jauh lebih baik karena personalisasi berbasis data.
Tapi ada trade-off: privacy.
Google tahu tentang Anda lebih dari yang pasangan Anda tahu. Mereka tahu kondisi kesehatan Anda (dari search), orientasi politik Anda, masalah finansial Anda, kebiasaan Anda.
Pertanyaannya: Apakah ini "evil"?
Google bilang: "Kami tidak jual data Anda. Kami proteksi data Anda. Dan Anda bisa opt-out."
Critics bilang: "Kekuasaan sebesar ini dalam satu perusahaan adalah bahaya—bahkan jika saat ini mereka 'good.'"
Debat ini belum selesai.
Bagian 7: Masa Depan—The Plex Continues
Visi Larry dan Sergey
Ketika Levy bertanya kepada Larry dan Sergey: "Apa visi jangka panjang Google?"
Sergey menjawab: "Artificial Intelligence yang sempurna."
Bukan hanya search engine. Bukan hanya organizing information.
Tapi komputer yang bisa mengerti Anda, mengantisipasi kebutuhan Anda, dan memberikan jawaban bahkan sebelum Anda bertanya.
Bayangkan:
- Anda tidak perlu search "restoran terbaik dekat sini"—Google tahu Anda lapar, tahu preferensi makanan Anda, dan suggest restoran yang perfect
- Anda tidak perlu set alarm—Google tahu meeting Anda besok pagi dan traffic pattern, jadi otomatis set alarm di waktu yang tepat
- Anda tidak perlu translate—Google real-time translate semua percakapan Anda dengan orang dari negara lain
Ini terdengar seperti sci-fi. Tapi Google berinvestasi miliaran dalam AI research untuk membuat ini nyata.
Tantangan Ahead
Tapi Google menghadapi tantangan besar:
1. Regulasi Antitrust Google control 90%+ dari search market. Apakah ini monopoli? Banyak pemerintah berpikir ya. EU sudah mengenakan denda miliaran dollar.
2. Privacy Backlash Orang semakin aware tentang berapa banyak data yang Google kumpulkan. Regulasi seperti GDPR membatasi apa yang bisa Google lakukan dengan data.
3. Competition Facebook, Amazon, Apple—semua berkompetisi di area yang sama. Google bukan lagi pemain tunggal yang dominan.
4. Internal Culture Ketika Google punya 20 orang, semua kenal semua. Sekarang Google (Alphabet) punya 150,000+ karyawan. Bisakah mereka maintain kultur inovasi dan "don't be evil"?
Penutup: Inside The Plex, Outside The Plex
Di akhir bukunya, Levy menulis refleksi powerful:
"Google telah mengubah bagaimana kita menemukan informasi, bagaimana kita berkomunikasi, bagaimana kita navigate, bagaimana kita berpikir tentang privasi, dan bahkan bagaimana kita berpikir tentang berpikir itu sendiri."
Google telah menjadi ekstensi dari otak kita.
Ketika kita tidak tahu sesuatu, refleks pertama: "Google it." Ketika kita tersesat: "Check Google Maps." Ketika kita ingin menonton sesuatu: "Search di YouTube."
Tapi dengan kekuasaan besar datang pertanyaan besar:
Apakah ini baik?
Pertanyaan untuk Anda
1. Seberapa dependent Anda pada Google?
Coba hitung: Gmail? Android? Google Maps? YouTube? Chrome? Search? Bisakah Anda hidup sehari tanpa produk Google?
2. Apakah convenience worth the trade-off privacy?
Google membuat hidup Anda lebih mudah. Tapi dengan cost: mereka tahu segalanya tentang Anda.
Apakah ini fair trade?
3. Siapa yang seharusnya organize world's information?
Misi Google terdengar mulia. Tapi apakah satu perusahaan—meskipun dengan "good intentions"—seharusnya punya kekuasaan sebesar ini?
Levy tidak memberikan jawaban pasti. Tapi dia memberikan insight mendalam ke dalam bagaimana keputusan dibuat di dalam plex.
Dan apa yang dia temukan kompleks: Google bukan villain. Tapi mereka juga bukan hero sempurna.
Mereka adalah perusahaan yang dijalankan oleh manusia brilian dengan visi besar, yang mencoba melakukan hal baik, sambil juga membuat uang, sambil juga membuat keputusan sulit yang kadang controversial.
Seperti Larry Page katakan dalam interview dengan Levy:
"Kami tidak sempurna. Kami membuat kesalahan. Tapi kami mencoba. Kami mencoba membuat dunia lebih baik dengan teknologi. Dan jika kadang kami salah, kami akan belajar dan improve."
Apakah itu cukup? Hanya waktu yang akan menjawab.
Yang pasti: Dunia yang kita tinggali hari ini—untuk baik atau buruk—telah dibentuk oleh dua orang yang bertemu di Stanford 25 tahun lalu dan memutuskan bahwa search engine bisa lebih baik.
Dan mereka tidak salah.
Tentang Buku Asli
"In the Plex: How Google Thinks, Works, and Shapes Our Lives" pertama kali diterbitkan pada April 2011.
Steven Levy adalah jurnalis teknologi senior yang telah meliput Silicon Valley sejak 1980-an. Dia adalah editor senior di Wired dan sebelumnya editor senior di Newsweek. Buku-bukunya termasuk "Hackers: Heroes of the Computer Revolution" (1984) dan "The Perfect Thing" (2006, tentang iPod).
Untuk "In the Plex," Levy mendapat akses unprecedented ke Google dari 2008-2010. Dia menghadiri meetings produk, interview ratusan karyawan dari founder sampai engineer baru, dan melihat langsung bagaimana keputusan dibuat.
"The Plex" dalam judul mengacu pada Googleplex—kampus Google di Mountain View—tapi juga permainan kata dengan "perplex" (membingungkan) dan "complex" (kompleks). Karena Google adalah organisasi yang sangat kompleks dan kadang membingungkan, bahkan dari dalam.
Untuk pemahaman lengkap tentang bagaimana salah satu perusahaan paling berpengaruh di dunia bekerja, sangat disarankan membaca buku aslinya. Levy menulis dengan gaya jurnalistik yang engaging, dengan ratusan anekdot, detail teknis, dan profil orang-orang di balik produk yang kita gunakan setiap hari.
Ringkasan ini menangkap tema utama dan story arc, tetapi buku lengkap memberikan depth, konteks sejarah, dan insight yang hanya bisa datang dari akses insider selama bertahun-tahun.
Sekarang setiap kali Anda membuka Google Search, Gmail, atau YouTube, Anda akan melihat produk-produk ini dengan perspektif berbeda.
Anda akan tahu bahwa di balik interface sederhana ada:
- Algoritma yang luar biasa kompleks
- Orang-orang brilian yang obsessed dengan detail
- Keputusan sulit tentang trade-off antara utility dan privacy
- Visi besar tentang masa depan AI dan information
Dan mungkin, itu akan membuat Anda lebih thoughtful tentang bagaimana Anda menggunakan teknologi ini.
Karena seperti yang Levy tunjukkan: Google bukan hanya tool. Google adalah force yang membentuk bagaimana kita berpikir, belajar, dan hidup.
Pertanyaannya: Apakah kita yang mengontrol tool? Atau tool yang mengontrol kita?
Jawabannya—seperti banyak hal tentang Google—masih being written.