The Princess Bride
by William Goldman · May 2026 · 16 min read
Ketika Ayah Membacakan "Bagian-Bagian Seru"
Table of contents
Ketika Ayah Membacakan "Bagian-Bagian Seru"
Bayangkan Anda berusia 10 tahun, terbaring di tempat tidur karena pneumonia, dan ayah Anda duduk di samping membacakan sebuah buku.
Bukan sembarang buku. Bukan dongeng biasa dengan happy ending yang mudah ditebak.
Tapi sebuah cerita tentang putri cantik, petani tampan, raksasa baik hati, ahli pedang pendendam, dan bajak laut misterius. Cerita penuh dengan duel pedang, labirin api, dan cinta sejati yang bisa mengalahkan maut.
Yang paling penting: ayah Anda hanya membacakan "bagian-bagian seru."
Dia melewati deskripsi panjang tentang politik Florin. Dia melompati penjelasan bertele-tele tentang sejarah perdagangan Guilder. Dia fokus pada action, adventure, romance, dan humor.
Hanya bagian-bagian yang membuat Anda tidak bisa berhenti mendengarkan.
Itulah yang terjadi pada William Goldman kecil. Dan pengalaman itu mengubah hidupnya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Goldman sudah menjadi penulis skenario terkenal (Butch Cassidy and the Sundance Kid, All the President's Men), dia ingin memberikan pengalaman yang sama kepada anaknya. Dia membeli salinan buku itu—"The Princess Bride" karya S. Morgenstern—untuk hadiah ulang tahun anaknya.
Tapi anaknya tidak bisa melewati bab pertama.
Goldman bingung. Bukankah ini buku paling menarik di dunia?
Kemudian dia menyadari kebenaran yang mengejutkan: buku asli S. Morgenstern adalah buku yang membosankan, verbose, penuh dengan detail politik dan sejarah yang tidak perlu.
Ayahnya dulu hanya membacakan "bagian-bagian seru" sambil melewati bagian yang membosankan.
Jadi Goldman membuat keputusan: dia akan menulis versi "bagian-bagian seru" untuk dunia. Dia akan memberikan kepada pembaca pengalaman yang sama seperti yang dia dapatkan dari ayahnya.
Inilah "The Princess Bride"—bukan sekadar dongeng, tapi dongeng tentang storytelling itu sendiri.
Mari kita masuk ke dunia Florin dan Guilder, di mana cinta sejati bertemu dengan petualangan tinggi.
Bagian 1: Buttercup—Kecantikan yang Tidak Menyadari Kekuatannya
Gadis Desa yang Menjadi Legenda
Buttercup bukan putri. Dia gadis desa biasa di Florin yang hidup bersama orang tuanya dan mengurus peternakan kecil mereka.
Tapi ada yang tidak biasa dari Buttercup: dia adalah salah satu dari dua puluh wanita tercantik di dunia.
Masalahnya? Dia tidak peduli.
Buttercup tidak suka bersolek. Tidak suka memakai gaun fancy. Tidak suka bermain "wanita cantik." Dia lebih suka menunggang kuda, mengurus ternak, dan memerintah Westley—pembantu mereka.
Westley adalah pemuda desa yang bekerja di peternakan keluarga Buttercup. Setiap kali Buttercup memerintahkannya—"Ambilkan aku air," "Bersihkan kandang," "Perbaiki pagar"—Westley selalu menjawab dengan tiga kata yang sama:
"As you wish."
(Seperti yang kamu inginkan.)
Buttercup awalnya mengira Westley hanya pembantu yang patuh. Sampai suatu hari dia menyadari kebenaran yang mengubah segalanya:
"As you wish" artinya "I love you."
Cinta Sejati dan Kehilangan
Ketika Buttercup menyadari bahwa Westley mencintainya—dan bahwa dia juga mencintai Westley—dunia berubah.
Untuk pertama kalinya, Buttercup peduli dengan penampilannya. Dia ingin terlihat cantik untuk Westley. Dia menghabiskan waktu berdandan. Dia tersenyum lebih sering.
Tapi mereka miskin. Westley hanya pembantu. Mereka tidak bisa menikah tanpa uang.
Jadi Westley membuat keputusan yang mengubah hidup: dia akan pergi ke Amerika untuk mencari kekayaan. Kemudian dia akan kembali dan menikahi Buttercup.
"Aku akan kembali untukmu," janjinya.
"As you wish," jawab Buttercup—kata-kata pertamanya yang benar-benar berarti "I love you."
Tapi kapal Westley diserang oleh Dread Pirate Roberts—bajak laut paling ditakuti di laut yang tidak pernah meninggalkan korban hidup.
Westley dinyatakan mati.
Dari Cinta menjadi Kehampaan
Setelah kehilangan Westley, Buttercup berubah total.
Dia tidak lagi peduli dengan apa pun. Tidak peduli dengan penampilannya. Tidak peduli dengan hidupnya. Dia seperti zombie cantik—hidup tapi tidak benar-benar hidup.
"Saya tidak akan pernah mencintai lagi," dia bersumpah.
Dan di sinilah masalah dimulai. Karena Pangeran Humperdinck dari Florin sedang mencari istri.
Bagian 2: Pangeran Humperdinck—Penjahat yang Tampak Menawan
Pangeran yang Hanya Peduli Berburu
Pangeran Humperdinck adalah pewaris tahta Florin. Tampan, kuat, pintar—tapi hatinya kosong.
Humperdinck hanya peduli satu hal: berburu.
Dia punya "Zoo of Death"—koleksi pribadi monster dan binatang buas paling berbahaya di dunia. Dia menghabiskan waktu berburu makhluk-makhluk mengerikan ini untuk kesenangan.
Tapi Raja Lotharon, ayahnya, sudah tua dan sekarat. Humperdinck harus menikah untuk menjadi raja.
Dia tidak peduli cinta. Dia hanya butuh istri yang cantik untuk melahirkan pewaris dan membuat dia terlihat baik di mata rakyat.
Count Rugen—Tangan Kanan yang Sadis
Teman terdekat Humperdinck adalah Count Rugen—pria bertangan enam jari yang pintar, kejam, dan sadis.
Rugen adalah ahli strategi dan "perancang torture devices." Dia suka menyiksa orang, bukan untuk informasi, tapi untuk kesenangan ilmiah.
Dia juga pembunuh ayah Inigo Montoya—tapi itu cerita untuk nanti.
Rencana Jahat
Ketika Humperdinck melihat Buttercup, dia langsung memutuskan: dia harus menjadi istrinya.
Buttercup, yang masih dalam grief karena kehilangan Westley, tidak peduli siapa yang menikahinya. "Saya sudah bilang saya tidak akan pernah mencintai lagi."
"Sempurna," pikir Humperdinck. "Saya juga tidak mencari cinta."
Tapi Humperdinck punya rencana yang lebih jahat. Dia ingin memulai perang dengan Guilder—negara tetangga—untuk meningkatkan popularitasnya. Rencananya: bunuh Buttercup di perbatasan Guilder dan salahkan Guilder atas kematiannya.
Pernikahan hanya kamuflase untuk pembunuhan.
Bagian 3: Trio Kriminal—Tiga Penjahat yang Tidak Terduga
Vizzini—Mastermind Sicilia
Count Rugen menyewa tiga kriminal untuk menculik Buttercup:
Vizzini, mastermind dari Sicilia yang obsesif dengan kecerdasannya sendiri. Kata favoritnya adalah "Inconceivable!" (Tidak masuk akal!) yang dia gunakan setiap kali ada yang tidak sesuai rencananya.
Vizzini yakin dia jenius taktik. Masalahnya: dia tidak sejenius yang dia kira.
Fezzik—Raksasa dengan Hati Emas
Fezzik adalah raksasa—tinggi lebih dari dua meter, kuat seperti sepuluh orang, tapi hatinya lembut seperti anak kecil.
Fezzik suka berrhyme (bicara dengan sajak). Dia trauma masa kecil karena dipaksa bertarung oleh orang tuanya untuk menghasilkan uang. Sekarang dia hanya ingin punya teman.
Meski dia raksasa yang menakutkan, Fezzik membenci kekerasan. Dia hanya ikut dengan Vizzini karena kesepian dan butuh uang.
Inigo Montoya—Master Pedang dengan Misi
Inigo Montoya adalah ahli pedang terbaik di dunia—atau setidaknya di urutan kedua setelah "Man in Black" misterius.
Tapi Inigo bukan sekadar fighter. Dia punya misi hidup: balas dendam.
Ketika Inigo masih anak-anak, ayahnya—Domingo Montoya, pembuat pedang terbaik di Spanyol—dibunuh oleh bangsawan bertangan enam jari. Bangsawan itu membunuh ayah Inigo setelah ayahnya menolak menjual pedang masterpiece-nya dengan harga murah.
Sejak itu, Inigo mengabdikan hidupnya untuk satu hal: mencari pembunuh ayahnya dan mengatakannya:
"Hello, my name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die."
Dia sudah berlatih kalimat itu ribuan kali. Dia sudah berlatih pedang selama 20 tahun. Dia siap.
Masalahnya: dia tidak tahu siapa bangsawan bertangan enam jari itu.
Penculikan yang Berubah Jadi Petualangan
Ketika trio ini menculik Buttercup, semuanya berjalan sesuai rencana—sampai mereka diikuti oleh perahu hitam misterius.
"Inconceivable!" teriak Vizzini. "Siapa yang mengikuti kita?"
Di perahu hitam itu ada seorang pria berpakaian serba hitam—topi hitam, baju hitam, topeng hitam. The Man in Black.
Dan dia akan mengubah segalanya.
Bagian 4: The Man in Black—Identitas yang Mengejutkan
Tiga Duel Epik
Ketika Man in Black mengejar mereka ke Cliffs of Insanity (Tebing Kegilaan), Vizzini memberikan tugas kepada anak buahnya:
"Inigo, lawan dia dengan pedang. Fezzik, lawan dia dengan kekuatan. Jika dia berhasil mengalahkan kalian berdua, saya akan mengalahkannya dengan kecerdasan."
Duel 1: Inigo vs Man in Black—Battle of Swords
Inigo senang akhirnya bertemu lawan yang sepadan. Selama 20 tahun dia berlatih, jarang ada yang bisa menantangnya.
Man in Black ternyata ahli pedang yang luar biasa—mungkin bahkan lebih baik dari Inigo.
Mereka berduel di tebing curam. Pedang beradu, strategi berganti, keduanya menunjukkan teknik yang menakjubkan.
Akhirnya Man in Black menang—tapi dia tidak membunuh Inigo. Dia hanya membuatnya pingsan.
"Kamu baik sekali," kata Man in Black. "Sayang kamu bekerja untuk orang salah."
Duel 2: Fezzik vs Man in Black—Battle of Strength
Fezzik tidak ingin berkelahi. Dia raksasa gentle. Tapi dia loyal pada Vizzini.
Man in Black, yang jauh lebih kecil, harus menggunakan strategi melawan kekuatan. Dia berhasil membuat Fezzik pingsan dengan chokehold.
Tapi sekali lagi, dia tidak membunuh lawannya.
Duel 3: Vizzini vs Man in Black—Battle of Wits
Vizzini mengajak Man in Black untuk "battle of wits"—permainan logika dengan taruhan hidup mati.
Vizzini meletakkan dua gelas wine. Satu dicampur dengan iocane powder—racun yang mematikan, tidak berbau, tidak berasa.
"Tebak gelas mana yang beracun. Kita masing-masing minum satu. Siapa yang salah, mati."
Man in Black menerima tantangan.
Vizzini yakin dia jenius dan akan menang mudah. Dia sudah menyiapkan strategi rumit—psychology, reverse psychology, double reverse psychology.
Tapi Man in Black sudah kebal terhadap iocane powder setelah bertahun-tahun mengonsumsinya dalam dosis kecil.
Kedua gelas beracun.
Vizzini mati. Man in Black hidup.
"Inconceivable," kata Vizzini sebelum mati.
Pertemuan dengan Buttercup
Akhirnya Man in Black berhadapan dengan Buttercup.
Buttercup tidak takut mati. Sejak Westley mati, dia tidak peduli dengan hidupnya.
"Bunuh saja saya," katanya.
Tapi Man in Black tidak membunuh. Sebaliknya, dia memaksanya mengikutinya ke Fire Swamp—rawa berbahaya yang dipenuhi flame spurts (semburan api), lightning sand (pasir hisap), dan Rodents of Unusual Size (tikus raksasa).
Di tengah Fire Swamp, terjadi percakapan yang mengubah segalanya:
"Kenapa kamu begitu kejam?" tanya Buttercup.
"Mungkin karena aku sudah terlalu lama menjadi Dread Pirate Roberts," jawab Man in Black.
"KAMU Dread Pirate Roberts?" Buttercup shock. "Kamu yang membunuh Westley!"
"Iya."
Buttercup marah dan sedih. Tapi kemudian Man in Black berkata sesuatu yang mengubah dunia:
"Namaku Westley. Dan aku belum mati."
Kebenaran tentang Dread Pirate Roberts
Westley menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi:
Ketika kapalnya diserang, "Dread Pirate Roberts" tidak membunuhnya. Sebaliknya, dia membuatnya menjadi personal valet.
Ternyata "Dread Pirate Roberts" bukan nama orang—itu brand.
Roberts asli sudah pensiun bertahun-tahun lalu. Sebelum pensiun, dia melatih penggantinya untuk menggunakan nama dan reputasi yang sama. Penggantinya kemudian melatih penggantinya lagi.
Westley adalah Dread Pirate Roberts generasi terbaru.
"Saya mewarisi kapal, kru, dan reputasi. Tapi yang paling penting: saya mewarisi harapan untuk suatu hari bisa pensiun dan kembali kepada cinta sejati saya."
Westley selamat karena cinta pada Buttercup.
Bagian 5: The Rescue—Menyelamatkan Cinta Sejati
Tertangkap oleh Humperdinck
Meskipun Westley dan Buttercup sudah bertemu kembali, petualangan belum berakhir.
Mereka tertangkap oleh tentara Humperdinck. Count Rugen langsung mengenali Westley sebagai ahli pedang yang berbahaya.
Humperdinck cemburu pada Westley—dia melihat cara Buttercup memandang Westley dengan cinta, sesuatu yang tidak akan pernah dia dapatkan.
Jadi Humperdinck membuat keputusan: dia akan menyiksa Westley sampai mati di "Pit of Despair"—bagian terburuk dari Zoo of Death.
The Machine—Mesin Penyiksaan Ultimate
Count Rugen punya invension terbaru: "The Machine"—mesin yang bisa mengukur dan memberikan pain dalam level yang tepat.
Level 1: sakit gigi yang buruk. Level 20: pain terburuk yang pernah dialami manusia.
Rugen mulai dengan level 1, kemudian perlahan-lahan menaikkan levelnya. Ini bukan interogasi—ini torture untuk kesenangan sadis.
Ketika Humperdinck menggunakan The Machine pada level maksimum, Westley mengeluarkan teriakan yang bisa didengar di seluruh negara.
Teriakan itu mengubah segalanya.
Inigo Mendengar Panggilan
Di tempat lain, Inigo sedang mabuk di bar. Sejak ayahnya mati, dia kadang tenggelam dalam alkohol untuk melupakan rasa sakit.
Tapi ketika dia mendengar teriakan Westley—teriakan yang hanya bisa dikeluarkan oleh orang yang mengalami pain yang luar biasa—sesuatu terbakar dalam dirinya.
"Itu suara seseorang yang kehilangan cinta sejatinya," pikirnya. "Seperti aku kehilangan ayahku."
Inigo mencari Fezzik. Bersama-sama, mereka memutuskan: mereka akan menyelamatkan Man in Black.
Miracle Max—Pengobatan Ajaib
Ketika Inigo dan Fezzik menemukan Westley, dia sudah "mostly dead" (hampir mati).
Mereka membawanya ke Miracle Max—mantan miracle worker kerajaan yang diberhentikan oleh Humperdinck karena tidak bisa menyembuhkan Raja Lotharon.
"Mostly dead masih sedikit hidup," kata Miracle Max setelah memeriksa Westley. "Sedikit hidup masih bisa disembuhkan."
Dengan bantuan istrinya Valerie, Miracle Max membuat miracle pill yang bisa menghidupkan kembali Westley.
Tapi ada efek samping: Westley akan hidup, tapi tidak akan punya kekuatan untuk beberapa jam.
Assault on the Castle
Meskipun Westley lemah, dia masih punya otak strategis terbaik.
"Kita akan menyerang kastil," katanya kepada Inigo dan Fezzik.
"Kita bertiga melawan seluruh tentara?" tanya Fezzik.
"Tidak. Satu orang melawan seluruh tentara. Kalian berdua punya misi sendiri."
Rencana Westley: Fezzik akan dibakar (controlled burning) dan didorong ke arah gerbang kastil sebagai distraction. Sementara tentara panik, Inigo dan Westley akan menyelinap masuk.
Misi Inigo: cari dan bunuh Count Rugen. Misi Westley: cari dan selamatkan Buttercup.
Inigo's Revenge—Duel Terakhir
Di dalam kastil, Inigo akhirnya berhadapan dengan Count Rugen—pria bertangan enam jari yang membunuh ayahnya 20 tahun lalu.
"Hello," kata Inigo dengan suara tenang. "My name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die."
Count Rugen tidak ingat. "Saya sudah membunuh banyak orang. Harus lebih spesifik."
"Domingo Montoya. Pembuat pedang. Kamu membunuhnya ketika aku berusia 11 tahun."
"Ah ya, si kidal itu. Sayang sekali—dia pandai membuat pedang."
Inigo marah. Mereka berduel.
Count Rugen melukai Inigo—luka yang sama di tempat yang sama seperti 20 tahun lalu.
Tapi Inigo tidak mundur. Dengan luka berdarah, dia terus maju.
"Hello, my name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die."
Akhirnya, dengan combination move yang sempurna, Inigo menusuk jantung Count Rugen.
Balas dendam selesai. Roh ayahnya bisa beristirahat dengan tenang.
Westley vs Humperdinck—Bluffing Master Class
Sementara itu, Westley menemukan Buttercup—yang sudah menikah dengan Humperdinck dalam upacara singkat dan berencana bunuh diri.
"Jangan bunuh diri," kata Westley. "Aku masih hidup."
"Westley!" Buttercup bahagia.
Tapi Humperdinck datang dengan pedang terhunus, siap membunuh Westley.
Masalahnya: Westley masih tidak punya kekuatan untuk berkelahi.
Jadi dia menggunakan senjata terampuh yang dia punya: psychological warfare.
"Aku akan duel denganmu," kata Westley sambil berbaring lemah. "Tapi karena aku masih recovering, aku akan duel left-handed."
"Kamu left-handed?" tanya Humperdinck.
"Tidak. Tapi aku begitu superior, aku bisa mengalahkanmu dengan tangan yang salah."
Kemudian Westley mendeskripsikan dengan detail apa yang akan dia lakukan pada Humperdinck dalam duel—bagaimana dia akan memotong telinga, hidung, jari, sampai akhirnya meninggalkan Humperdinck hidup tapi cacat selamanya.
Humperdinck—yang sebenarnya pengecut—menjadi takut dan menyerah.
Westley menang tanpa mengangkat pedang.
Bagian 6: Happy Ending (Yang Tidak Sempurna)
Pelarian dan Kehidupan Setelahnya
Fezzik muncul dengan empat kuda putih terbaik dari kandang kerajaan. Westley, Buttercup, Inigo, dan Fezzik kabur dari kastil menuju kehidupan baru.
Tapi Goldman tidak mengakhiri cerita di sini.
Dia menjelaskan bahwa ayahnya dulu mengakhiri cerita dengan happy ending sederhana. Tapi dalam buku "asli" S. Morgenstern, ada kelanjutan yang tidak semulus itu.
Segera setelah mereka kabur, masalah mulai muncul:
- Kuda Fezzik pincang
- Humperdinck mengejar mereka dengan tentara
- Westley masih lemah dan tidak bisa bertarung
"Apakah mereka berhasil kabur?" tanya Goldman. "Apakah mereka hidup bahagia selamanya?"
Goldman menyerahkan keputusan kepada pembaca.
True Love dan Life Lessons
Di akhir buku, Goldman merenungkan apa yang membuat "The Princess Bride" begitu istimewa:
1. True Love Exists—But It's Not Perfect Westley dan Buttercup saling mencintai dengan tulus. Tapi cinta sejati tidak berarti hidup tanpa masalah. Mereka akan menghadapi tantangan, kesalahpahaman, dan kesulitan seperti pasangan lainnya.
2. Friendship and Loyalty Matter Inigo dan Fezzik—dua orang broken dengan trauma masing-masing—menemukan healing melalui persahabatan. Mereka saling membantu, saling melindungi, saling memberikan purpose.
3. Life Is Not Fair Ini adalah lesson terbesar dari buku ini. Orang baik menderita. Orang jahat kadang menang. Heroes tidak selalu kuat. Beautiful people punya masalah. Dan itu okay.
Yang penting bukan bahwa hidup fair, tapi bagaimana kita merespons ketika hidup tidak fair.
4. Stories Matter Goldman tidak hanya bercerita tentang Westley dan Buttercup. Dia bercerita tentang kekuatan storytelling itu sendiri.
Cerita menghubungkan generasi—seperti ayah Goldman yang membacakan buku kepadanya.
Cerita memberikan harapan—seperti yang diberikan "The Princess Bride" kepada pembaca.
Cerita mengajarkan nilai—tentang cinta, persahabatan, dan keberanian.
Pertanyaan untuk Anda
Di akhir perjalanan ini, Goldman mengajukan beberapa pertanyaan untuk pembaca:
- Apakah Anda percaya pada true love? Bukan cinta dalam dongeng yang sempurna, tapi cinta yang real—dengan masalah, tantangan, dan ketidaksempurnaan?
- Siapakah "Count Rugen" dalam hidup Anda? Trauma, ketakutan, atau kejahatan yang perlu Anda hadapi?
- Apakah Anda punya "Inigo dan Fezzik"? Teman sejati yang akan membantu Anda dalam misi paling penting?
- Bagaimana Anda menghadapi kenyataan bahwa "life is not fair"? Apakah Anda menjadi cynical, atau tetap percaya pada kebaikan?
"The Princess Bride" adalah dongeng untuk orang dewasa—orang yang tahu bahwa hidup tidak sempurna, tapi masih percaya bahwa cinta, persahabatan, dan keberanian bisa membuat hidup worth living.
Penutup: Mengapa Cerita Ini Abadi
William Goldman menulis "The Princess Bride" di awal 1970-an, tapi buku ini tetap relevant sampai hari ini. Mengapa?
Universal Truths
Karena buku ini bicara tentang hal-hal yang universal:
- Cinta yang real, bukan yang dalam fantasy
- Persahabatan yang born from shared struggle
- Revenge yang consuming tapi ultimately healing
- Adventure yang mengubah character
- Storytelling yang connects generations
Perfect Balance
Goldman menemukan balance yang sempurna antara:
- Sincerity dan Irony - Dia serious tentang emotions tapi playful tentang conventions
- Adventure dan Character - Action yang exciting tapi character yang deep
- Adult dan Child - Sophisticated enough untuk dewasa, fun enough untuk anak-anak
- Classic dan Modern - Struktur fairy tale tapi sensibility yang contemporary
Meta-Fiction yang Cerdas
Yang membuat buku ini unique adalah level meta-fiction-nya. Goldman tidak hanya bercerita tentang Westley dan Buttercup—dia bercerita tentang:
- Bagaimana cerita diturunkan dari ayah ke anak
- Bagaimana storyteller memilih apa yang diceritakan dan apa yang dilewati
- Bagaimana cerita berhubungan dengan real life—yang tidak perfect seperti fairy tale
- Bagaimana pembaca menjadi bagian dari storytelling process
Quotable Lines
"The Princess Bride" memberikan dunia beberapa quotes paling memorable dalam literatur:
"As you wish" - Expression of love yang subtle tapi powerful
"Hello, my name is Inigo Montoya. You killed my father. Prepare to die" - Line revenge yang iconic
"Inconceivable!" - Comedic catchphrase yang timeless
"True love is the greatest thing in the world, except for a nice MLT" - Humor yang mengimbangi sentimentality
Legacy yang Berkelanjutan
Film adaptasi 1987 memperkenalkan cerita ini ke generasi baru dan menjadi cult classic. Tapi buku tetap superior karena:
- Depth karakter yang lebih rich
- Goldman's wit yang full force
- Meta-commentary yang tidak bisa difilmkan
- Nuance yang hilang dalam adaptasi
Tentang Buku Asli
"The Princess Bride: S. Morgenstern's Classic Tale of True Love and High Adventure" diterbitkan tahun 1973 dan langsung menjadi beloved classic.
William Goldman (1931-2018) adalah salah satu screenwriter paling sukses di Hollywood. Dia memenangkan dua Oscar untuk "Butch Cassidy and the Sundance Kid" dan "All the President's Men." Tapi dia sering bilang bahwa "The Princess Bride" memberikan dia responses paling banyak dan paling passionate dari semua karya yang pernah dia buat.
Buku ini mulanya Goldman tulis sebagai bedtime story untuk kedua putrinya. Ketika mereka minta cerita tentang "princesses" dan "brides," dia menciptakan dunia Florin dan karakter-karakter yang kini iconic.
Disclaimer tentang S. Morgenstern: S. Morgenstern dan "buku asli" sepenuhnya fictional. Tidak ada Florin atau Guilder yang real. Ini semua literary device yang brilliant untuk bercerita tentang storytelling itu sendiri.
Untuk pengalaman lengkap tentang wit Goldman yang razor-sharp, character development yang sophisticated, dan meta-commentary yang brilliant tentang nature of storytelling, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi buku lengkapnya menawarkan layers of meaning yang hanya bisa diapresiasi melalui prose Goldman sendiri.
Sekarang pergilah dan temukan cerita Anda sendiri. Dan ingatlah:
"Life is not fair. But sometimes, if you're very lucky, you get a little bit of magic."
As you wish.