Skip to main content

The Remains of the Day

by Kazuo Ishiguro · April 2026 · 13 min read

Perjalanan yang Seharusnya Tidak Pernah Terjadi

Table of contents

Perjalanan yang Seharusnya Tidak Pernah Terjadi 

Bayangkan Anda sudah mengabdi pada satu pekerjaan selama hampir 40 tahun. Anda adalah yang terbaik di bidang Anda. Reputasi Anda sempurna. Dedikasi Anda tidak tertandingi. 

Tapi ada satu masalah kecil: Anda tidak pernah benar-benar hidup. 

Anda tidak pernah mengatakan apa yang Anda rasakan. Tidak pernah mengejar apa yang Anda inginkan. Tidak pernah mengakui bahwa Anda mencintai seseorang yang berada di ruangan yang sama dengan Anda selama 20 tahun. 

Sekarang Anda berusia 60-an. Rambut Anda memutih. Tangan Anda mulai gemetar. Dan tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam hidup Anda, Anda memiliki waktu luang. 

Majikan baru Anda—seorang Amerika yang ramah tapi tidak memahami tradisi Inggris seperti majikan lama—memberikan Anda mobil dan mendorong Anda untuk berlibur. 

Berlibur. Kata yang asing untuk Anda. 

Tapi ada alasan lain untuk perjalanan ini. Surat dari seseorang dari masa lalu. Seseorang yang pernah bekerja bersama Anda. Seseorang yang mungkin—hanya mungkin—masih peduli. 

Ini adalah perjalanan Stevens, kepala pelayan terbaik di Inggris. 

Tapi ini bukan cerita tentang liburan yang menyenangkan. Ini adalah cerita tentang seorang pria yang akhirnya, setelah seumur hidup menghindar, terpaksa menghadapi kebenaran tentang pilihan-pilihan yang dia buat—dan harga yang dia bayar untuk "martabat profesional." 

Kazuo Ishiguro menulis "The Remains of the Day" sebagai eksplorasi mendalam tentang pertanyaan yang menghantui kita semua: Apakah dedikasi pada pekerjaan atau prinsip bisa menjadi alasan untuk tidak pernah benar-benar hidup? 

Mari kita ikuti Stevens dalam perjalanan enam hari yang akan membongkar seluruh hidupnya.


Bagian 1: Stevens—Pria yang Mengabdi pada Martabat

Apa yang Membuat Butler Hebat? 

Stevens memulai perjalanannya dengan refleksi tentang satu pertanyaan: Apa yang membuat seorang butler hebat? 

Baginya, jawabannya sederhana: martabat. 

Martabat berarti tidak pernah keluar dari peran. Tidak pernah menunjukkan emosi. Tidak pernah membiarkan urusan pribadi mengganggu pelayanan profesional. 

Butler hebat adalah yang bisa melayani meja makan dengan sempurna bahkan ketika dunia runtuh di sekitarnya. Yang bisa menjaga wajah tenang bahkan ketika hatinya hancur. 

Stevens bangga bahwa dia telah mencapai standar ini. Dia menceritakan berbagai momen dalam karirnya di mana dia membuktikan martabatnya—tidak pernah goyah, tidak pernah gagal. 

Tapi saat dia menceritakan kisah-kisah ini, kita mulai melihat sesuatu yang Stevens sendiri tidak mau lihat: dia tidak membuktikan martabat—dia membuktikan penolakan diri yang tragis. 

Ayahnya yang Mati Sendiri 

Salah satu kenangan yang Stevens bagikan adalah tentang ayahnya. 

Ayahnya juga seorang butler—seorang profesional tua yang karirnya mulai menurun. Dalam usia senja, dia datang bekerja di Darlington Hall di bawah Stevens—anaknya sendiri—sebagai bawahan. 

Ini memalukan untuk pria tua itu. Tapi dia tidak pernah mengeluh. 

Suatu malam, ada konferensi penting di Darlington Hall—para diplomat dari berbagai negara berkumpul untuk membahas masa depan Eropa pasca-Perang Dunia I. 

Di tengah-tengah konferensi ini, ayah Stevens mengalami stroke. Dia terbaring sekarat di kamarnya di lantai atas. 

Stevens diberitahu. Dan apa yang dia lakukan? 

Dia terus melayani tamu. 

Dia naik turun tangga, membawa nampan, menuangkan anggur, menjaga percakapan tetap lancar—sementara ayahnya meninggal sendirian di atas.

Ketika akhirnya ada jeda, Stevens naik sebentar. Seseorang memberitahunya bahwa ayahnya telah meninggal. Stevens mengangguk, diam sejenak, lalu kembali ke bawah untuk melanjutkan tugasnya. 

Stevens menceritakan kisah ini dengan bangga—sebagai bukti martabatnya. Tapi kita yang membaca merasakan sesuatu yang lain: kesedihan yang mendalam untuk seorang pria yang bahkan tidak bisa berduka untuk ayahnya sendiri.


Bagian 2: Lord Darlington—Majikan yang Salah Memilih

Aristokrat yang "Baik Hati" 

Sebagian besar karir Stevens dihabiskan melayani Lord Darlington—aristokrat Inggris yang dia hormati sangat dalam. 

Lord Darlington adalah pria terhormat dari generasi lama. Dia percaya pada kehormatan, pada fairness, pada gentleman's agreement. 

Setelah Perang Dunia I, dia merasa bahwa Treaty of Versailles terlalu keras pada Jerman. Dia melihat penderitaan rakyat Jerman—kelaparan, inflasi, pengangguran—dan merasa kasihan. 

Jadi dia mulai mengadakan pertemuan informal di Darlington Hall—mencoba memfasilitasi dialog antara Inggris dan Jerman, berharap untuk "memperbaiki ketidakadilan." 

Stevens sangat bangga melayani dalam konferensi-konferensi ini. Dia merasa terlibat dalam sesuatu yang penting—sejarah sedang dibuat di rumah tempat dia bekerja. 

Tapi ada masalah: Lord Darlington, dengan niat baik tapi naif, dimanipulasi oleh Nazi.

Kebenaran yang Memalukan 

Seiring tahun 1930-an berlanjut, tamu-tamu di Darlington Hall berubah. Diplomat Jerman yang datang bukan lagi pria terhormat—mereka adalah agen Nazi. 

Lord Darlington, dalam kebodohan dan idealisme, menjadi alat propaganda Nazi tanpa menyadarinya. 

Dia bahkan memecat dua pelayan Yahudi karena tekanan dari tamu Jerman—keputusan yang kemudian dia sesali sangat dalam. 

Ketika Perang Dunia II datang, reputasi Lord Darlington hancur. Dia tidak pernah menjadi Nazi—dia hanya pria tua yang naif. Tapi namanya tercoreng selamanya sebagai "simpatisan Nazi." 

Dia meninggal dalam malu dan penyesalan. 

Dan Stevens? Stevens menghabiskan sisa hidupnya menyangkal bahwa dia pernah bekerja untuk Lord Darlington. 

Ketika orang bertanya, "Apakah Anda bekerja untuk Lord Darlington yang terkenal itu?" Stevens berbohong: "Tidak, saya bekerja untuk Mr. John Silvers"—nama yang dia buat-buat.

Mengapa? Karena mengakui kebenaran berarti mengakui bahwa dia menghabiskan seluruh karirnya melayani pria yang salah pilih—bahwa semua "martabat" dan "pelayanan" itu sia-sia.


Bagian 3: Miss Kenton—Cinta yang Tidak Pernah Diucapkan 

Kepala Housekeeper yang Menantang 

Pada akhir 1920-an, seorang wanita muda bernama Miss Kenton datang bekerja di Darlington Hall sebagai kepala housekeeper (kepala pengurus rumah tangga). 

Dia cerdas. Kompeten. Berpendapat. Dan dia tidak takut menantang Stevens. 

Awalnya, Stevens melihatnya sebagai gangguan. Dia terlalu vokal. Terlalu bersemangat. Tidak cukup "profesional." 

Tapi seiring waktu, sesuatu berubah. 

Mereka mulai punya ritual—minum kakao di malam hari sambil mendiskusikan urusan rumah tangga. Miss Kenton akan mampir ke kantor Stevens, dan mereka akan berbicara tentang staf, tentang jadwal, tentang... hal-hal kecil. 

Dan dalam momen-momen ini, ada sesuatu yang tidak terucapkan menggantung di udara.

Momen-Momen yang Hilang 

Stevens menceritakan beberapa momen dengan Miss Kenton—tapi dalam cara dia menceritakannya, kita melihat apa yang dia tidak mau lihat. 

Momen 1: Bunga di Kamar Stevens 

Miss Kenton mulai menaruh bunga segar di kantor Stevens setiap pagi. Stevens tidak meminta ini. Tapi dia tidak menolak juga. 

Ini adalah gesture sederhana—tapi bagi Miss Kenton, ini adalah cara untuk mengatakan "Saya peduli tentang Anda." 

Stevens, tentu saja, tidak mengakui ini. Dia hanya melihatnya sebagai "perbaikan dekoratif yang tidak perlu." 

Momen 2: Buku di Malam Hari 

Suatu malam, Miss Kenton datang ke kantor Stevens dan bertanya buku apa yang dia baca.

Stevens mengatakan itu buku "profesional"—tentang manajemen rumah tangga. 

Miss Kenton tidak percaya. Dia merebut buku dari tangannya—dan menemukan itu adalah novel percintaan murah.

Stevens malu sangat dalam. Bukan karena novelnya murah—tetapi karena Miss Kenton melihat sesuatu yang pribadi, sesuatu yang dia sembunyikan. 

Mereka berdiri sangat dekat. Miss Kenton memegang buku. Stevens membeku. Ada momen—momen di mana sesuatu bisa terjadi. 

Tapi Stevens mundur. "Tolong kembalikan buku saya, Miss Kenton." 

Dan momen itu berlalu. 

Momen 3: Mr. Benn 

Setelah bertahun-tahun, seorang pria lokal—Mr. Benn—mulai menaruh minat pada Miss Kenton. 

Dia sopan. Dia stabil. Dia menawarkan kehidupan yang normal—rumah, keluarga, masa depan. 

Miss Kenton memberitahu Stevens tentang Mr. Benn. Dia menunggu reaksi Stevens. Dia memberikan peluang terakhir untuk Stevens mengatakan sesuatu, untuk mengakui apa yang mereka berdua rasakan. 

Tapi Stevens hanya mengatakan: "Saya sangat senang untuk Anda, Miss Kenton. Saya harap Anda bahagia." 

Dingin. Profesional. Tidak ada emosi. 

Beberapa bulan kemudian, Miss Kenton menikah dengan Mr. Benn dan meninggalkan Darlington Hall. 

Stevens kehilangan satu-satunya orang yang pernah benar-benar peduli padanya.


Bagian 4: Perjalanan—Menghadapi Masa Lalu

Surat dari Mrs. Benn 

Dua puluh tahun setelah Miss Kenton pergi, Stevens menerima surat darinya—sekarang Mrs. Benn. 

Suratnya ambigu. Dia menyebutkan bahwa pernikahannya "mengalami kesulitan." Dia menyebutkan kenangan tentang Darlington Hall. Dia sepertinya menyiratkan bahwa dia mungkin terbuka untuk kembali bekerja. 

Stevens meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia merencanakan perjalanan ini untuk alasan profesional—Darlington Hall kekurangan staf, dan Miss Kenton adalah housekeeper yang sangat kompeten. 

Tapi kita tahu—dan jauh di dalam hati Stevens juga tahu—bahwa dia ingin melihatnya karena dia tidak pernah berhenti memikirkannya. 

Orang-Orang yang Dia Temui 

Selama perjalanan enam hari melintasi pedesaan Inggris, Stevens bertemu berbagai orang—dan setiap pertemuan membuka retakan kecil dalam pertahanan emosionalnya. 

Pemilik penginapan yang mengira dia seorang "gentleman" bukan butler—dan Stevens tidak mengoreksi, menikmati sejenak tidak didefinisikan oleh pekerjaannya. 

Pasangan tua yang berbicara dengan penuh kasih sayang tentang masa pensiun mereka bersama—mengingatkan Stevens tentang apa yang tidak pernah dia miliki. 

Dokter lokal yang menanyakan tentang Lord Darlington—memaksa Stevens berbohong lagi, merasa malu lagi. 

Setiap pertemuan adalah cermin—menunjukkan Stevens kebenaran yang dia hindari.


Bagian 5: Pertemuan dengan Miss Kenton—Kebenaran yang Menghancurkan 

Teh Sore di Tepi Laut 

Akhirnya, Stevens tiba di kota kecil di tepi laut di mana Miss Kenton—sekarang Mrs. Benn—tinggal. 

Mereka bertemu untuk teh. 

Awalnya, percakapan sopan. Kenangan tentang Darlington Hall. Cerita tentang anak-anaknya. Lelucon kecil tentang kesalahan lama. 

Tapi kemudian Stevens mulai berbicara tentang Darlington Hall, tentang bagaimana tempat itu berubah, tentang bagaimana dia membutuhkan bantuan—dan apakah dia mungkin tertarik untuk kembali? 

Miss Kenton diam sejenak. Lalu dia mengatakan sesuatu yang menghancurkan Stevens: 

"Saya tidak bisa kembali, Mr. Stevens. Hidup saya di sini sekarang. Cucu saya akan segera lahir. Pernikahan saya... ya, kami mengalami masa sulit. Tapi kami sudah melewatinya. Saya cukup bahagia." 

Cukup bahagia. 

Tidak bahagia sekali. Tidak sempurna. Tapi cukup

Lalu dia mengatakan sesuatu yang lebih menyakitkan: 

"Ada hari-hari—sering, sebenarnya—ketika saya memikirkan seperti apa hidup saya jika saya tetap di Darlington Hall. Jika sesuatu yang berbeda telah terjadi antara kita." 

Stevens membeku. Ini adalah pengakuan yang dia tunggu—dan takutkan—selama 20 tahun.

Tapi sebelum dia bisa merespons, Miss Kenton melanjutkan: 

"Tapi tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang, bukan? Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Yang bisa kita lakukan adalah menerima pilihan kita dan hidup dengan sebaik-baiknya." 

Mereka berpisah. Stevens menawarkan mengantar dia dengan mobil. Tapi dia menolak—suaminya akan menjemputnya. 

Stevens menonton dia pergi—untuk terakhir kalinya.


Bagian 6: Dermaga—Saat Segalanya Runtuh

Pria yang Menangis di Bangku 

Setelah pertemuan dengan Miss Kenton, Stevens duduk sendirian di bangku dermaga, menonton matahari terbenam. 

Dan untuk pertama kalinya dalam seluruh novel—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—pertahanan Stevens runtuh. 

Dia mulai menangis. 

Seorang pria tua duduk di sebelahnya—pensiun butler juga—dan mereka berbicara.

Stevens, akhirnya jujur untuk pertama kali, mengakui: 

"Saya memberikan yang terbaik untuk Lord Darlington. Saya memberikan segalanya. Dan sekarang orang-orang mengatakan dia bodoh, bahwa dia salah memilih. Dan mungkin mereka benar. Mungkin saya memberikan yang terbaik kepada seseorang yang... tidak layak." 

Pria tua itu mendengarkan, lalu berkata: 

"Tapi itu bukan akhirnya, kan? Malam masih muda. Masih ada waktu untuk menikmati sisa hari yang tersisa." 

Kalimat ini menggema: "Sisa hari yang tersisa." 

Ishiguro bermain dengan judul bukunya. "The Remains of the Day" bisa berarti dua hal: 

1. Sisa-sisa hari (seperti reruntuhan)—apa yang tertinggal dari hidup Stevens

2. Sisa hari yang tersisa (yang masih bisa dinikmati)—mungkin belum terlambat


Bagian 7: Pelajaran dari Hidup Stevens 

1. Martabat Tanpa Kemanusiaan Adalah Penjara 

Stevens mengabdikan hidupnya pada "martabat profesional." Tapi apa gunanya martabat jika itu berarti tidak pernah merasakan, tidak pernah mencintai, tidak pernah benar-benar hidup? 

Pelajaran: Profesionalisme adalah hal yang baik—tapi tidak ketika menjadi alasan untuk tidak pernah jadi manusia. 

2. Dedikasi Buta Bisa Mengarah pada Penyesalan 

Stevens sangat setia pada Lord Darlington sehingga dia tidak pernah mempertanyakan. Bahkan ketika tanda-tanda jelas bahwa majikannya salah pilih, Stevens tetap melayani—karena mempertanyakan berarti mengakui bahwa dia mungkin salah. 

Pelajaran: Loyalitas tanpa pemikiran kritis adalah berbahaya—baik untuk Anda maupun untuk orang yang Anda layani. 

3. "Nanti" Sering Tidak Pernah Datang 

Stevens selalu berpikir akan ada waktu "nanti" untuk perasaan pribadi. Nanti, ketika konferensi selesai. Nanti, ketika Lord Darlington tidak membutuhkannya. Nanti, ketika lebih nyaman. 

Tapi "nanti" tidak pernah datang. Dan sekarang sudah terlambat. 

Pelajaran: Jangan menunda hidup Anda untuk pekerjaan, untuk tanggung jawab, untuk "waktu yang tepat." Waktu yang tepat adalah sekarang. 

4. Kita Menipu Diri Sendiri untuk Menghindari Rasa Sakit 

Stevens adalah unreliable narrator—dia menceritakan kisahnya sendiri dengan cara yang menyembunyikan kebenaran, bahkan dari dirinya sendiri. 

Dia mengatakan dia melakukan perjalanan untuk merekrut housekeeper. Tapi sebenarnya dia ingin melihat Miss Kenton. 

Dia mengatakan dia bangga dengan martabatnya. Tapi sebenarnya dia takut pada emosi. 

Dia mengatakan dia tidak menyesal. Tapi seluruh buku adalah satu penyesalan panjang yang dia coba hindari. 

Pelajaran: Kita semua punya narasi yang kita ceritakan pada diri sendiri untuk membuat keputusan kita terlihat rasional. Tapi kejujuran dengan diri sendiri—betapapun menyakitkannya—adalah satu-satunya jalan untuk kedamaian.

5. Tidak Pernah Terlambat untuk Mulai Hidup—Atau Adalah? 

Buku ini berakhir dengan ambiguitas. Pria tua di dermaga mengatakan "malam masih muda"—masih ada waktu. 

Tapi apakah benar? Stevens sudah tua. Miss Kenton sudah pergi. Lord Darlington sudah mati. Karirnya sudah berakhir. 

Ishiguro tidak memberikan jawaban pasti. Dan mungkin itu yang dia inginkan—karena pertanyaan apakah terlambat atau tidak adalah pertanyaan yang harus kita jawab sendiri.


Penutup: Apa yang Tersisa dari Hari Anda? 

Ketika matahari terbenam di dermaga, Stevens membuat keputusan kecil tapi signifikan: dia akan belajar untuk "banter"—bercanda ringan, sesuatu yang majikan Amerika barunya lakukan tapi Stevens tidak pernah bisa. 

Ini adalah detail kecil. Tapi simbolisme-nya besar: Stevens, untuk pertama kali, akan mencoba menjadi sedikit lebih manusiawi, sedikit lebih ringan, sedikit kurang sempurna. 

Apakah sudah terlambat untuk Stevens? Mungkin. Tapi Ishiguro meninggalkan kita dengan secercah harapan—bahwa bahkan di sisa hari yang tersisa, ada kemungkinan untuk perubahan kecil. 

Pertanyaan untuk Anda 

Kazuo Ishiguro menulis "The Remains of the Day" bukan hanya tentang butler Inggris—dia menulis tentang kita semua yang menggunakan "profesionalisme" atau "tanggung jawab" sebagai alasan untuk tidak mengejar apa yang benar-benar penting. 

Jadi pertanyaannya untuk Anda: 

  • Apa yang Anda korbankan atas nama "profesionalisme" atau "martabat"?
  • Siapa Miss Kenton Anda—orang yang Anda tidak pernah katakan "Saya mencintaimu" padanya?
  • Narasi apa yang Anda ceritakan pada diri sendiri untuk menghindari kebenaran yang menyakitkan?
  • Apakah Anda hidup untuk pekerjaan Anda—atau hidup untuk diri Anda sendiri? 

Stevens memberikan seluruh hidupnya untuk "melayani dengan martabat." Dan di akhir, ketika dia duduk sendirian menonton matahari terbenam, dia menyadari: dia hampir tidak pernah benar-benar hidup. 

Jangan tunggu sampai matahari terbenam untuk menyadari ini. 

Karena sisa hari yang tersisa—bagi Anda—masih panjang. Pertanyaannya adalah: Bagaimana Anda akan menghabiskannya?


Tentang Buku Asli 

"The Remains of the Day" diterbitkan pada tahun 1989 dan memenangkan Man Booker Prize, salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di dunia. Buku ini diadaptasi menjadi film pada 1993 dengan Anthony Hopkins sebagai Stevens—performance yang memecahkan hati. 

Kazuo Ishiguro lahir di Nagasaki, Jepang, tapi tumbuh di Inggris. Dia memenangkan Nobel Prize untuk Sastra pada 2017. Novel-novelnya dikenal karena eksplorasi mendalam tentang memori, self-deception, dan penyesalan. 

Ishiguro memilih setting butler Inggris bukan karena dia tertarik pada kehidupan pelayan—tetapi karena butler adalah metafora sempurna untuk self-repression—seseorang yang seluruh identitasnya didefinisikan oleh menekan diri mereka sendiri. 

Buku ini ditulis dengan prosa yang tenang, terukur, dan sangat terkendali—persis seperti Stevens sendiri. Tapi di bawah permukaan yang tenang itu, ada lautan emosi yang tidak terucapkan. 

Untuk merasakan keindahan penuh dari prosa Ishiguro, ironi halus, dan devastasi emosional yang bertahap, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi—pengalaman penuh dari bahasa Ishiguro yang indah dan observasi tajam tentang self-deception hanya bisa didapat dari teks lengkapnya. 

Sekarang pergilah dan lihat sisa hari yang tersisa untuk Anda—dan jangan habiskan dengan penyesalan. 

Karena seperti yang Ishiguro tunjukkan: Hidup yang paling tragis bukan yang penuh kesalahan—tetapi yang tidak pernah benar-benar dijalani.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Missing Half
Back to top

Similar books