Right/Wrong
by Juan Enriquez · May 2026 · 13 min read
Pertanyaan yang Mengguncang Kepastian
Table of contents
Pertanyaan yang Mengguncang Kepastian
Apakah Anda yakin 100% bahwa apa yang Anda anggap "benar" hari ini akan tetap benar 100 tahun lagi?
Apakah Anda yakin bahwa cara hidup Anda sekarang tidak akan dinilai "barbar" atau "tidak bermoral" oleh anak cucu Anda?
Apakah Anda yakin bahwa teknologi yang Anda gunakan setiap hari—smartphone, media sosial, kecerdasan buatan—tidak sedang mengubah standar moral manusia tanpa Anda sadari?
Juan Enriquez, salah satu pemikir teknologi paling provokatif di dunia, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman ini dalam bukunya "Right/Wrong: How Technology Transforms Our Ethics."
Bukunya dimulai dengan pengamatan sederhana namun mengguncang: Apa yang kita anggap benar dan salah terus berubah—dan teknologi adalah pendorong utama perubahan itu.
Pikirkan ini: 200 tahun yang lalu, membakar "penyihir" dianggap tindakan yang benar dan bermoral di banyak masyarakat. Pernikahan anak dianggap nilai keluarga yang mulia. Perbudakan dianggap wajar dan bahkan didukung kitab suci.
Hari ini, kita semua setuju bahwa praktik-praktik itu barbar dan tidak bermoral.
Tapi inilah pertanyaan yang mengganggu: Jika moral bisa berubah begitu drastis dalam 200 tahun terakhir, bagaimana dengan 200 tahun ke depan?
Apa yang kita lakukan hari ini—makan daging, mengurung hewan, membakar bahan bakar fosil, menggunakan teknologi surveillance, membiarkan kesenjangan ekonomi ekstrem—yang akan membuat anak cucu kita merasa malu dan terkejut?
Buku Juan Enriquez bukan sekadar diskusi filosofis. Ini adalah panduan praktis untuk navigasi di dunia di mana teknologi mengubah aturan etika lebih cepat dari kemampuan kita untuk beradaptasi.
Dan yang paling penting: ini adalah panggilan untuk humility. Humility untuk mengakui bahwa kita mungkin salah. Humility untuk mendengarkan sudut pandang berbeda. Humility untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia di mana definisi "benar" dan "salah" terus berevolusi.
Mari kita mulai dengan tiga premis yang akan mengubah cara Anda melihat etika.
Bagian 1: Tiga Premis yang Mengubah Segalanya
Juan Enriquez membangun argumennya di atas tiga premis sederhana namun revolusioner:
Premis 1: Kita Sering Salah Tentang Benar dan Salah
Sepanjang sejarah, manusia selalu yakin bahwa mereka tahu apa yang benar dan salah. Dan sepanjang sejarah, manusia terbukti salah.
Contoh paling nyata: perbudakan.
Selama ribuan tahun, perbudakan dianggap normal, legal, bahkan bermoral di hampir semua peradaban. Aristoteles, salah satu filsuf terbesar, menulis bahwa beberapa orang "secara alami" adalah budak. Kitab-kitab suci memberikan aturan tentang cara memperlakukan budak.
Tidak ada yang melihat perbudakan sebagai kejahatan moral universal sampai abad ke-18 dan ke-19. Dan bahkan saat itu, perubahan membutuhkan perang sipil berdarah.
Pelajaran: Konsensus moral yang tampak "universal" bisa jadi salah total.
Premis 2: Benar dan Salah Berubah Seiring Waktu
Ini bukan relativisme moral. Enriquez tidak mengatakan semua hal equally valid. Dia mengatakan standar moral evolve—dan biasanya ke arah yang lebih baik.
Contoh konkret:
Hak perempuan: 100 tahun lalu, perempuan tidak bisa memilih di sebagian besar negara. Mereka dianggap "secara alami" tidak cocok untuk politik. Hari ini, ide itu terdengar absurd.
Kekerasan pada anak: Dulu, memukul anak dianggap metode pendidikan yang baik ("spare the rod, spoil the child"). Kini, di banyak negara, itu adalah kejahatan.
Hak LGBT: 50 tahun lalu, homoseksualitas dianggap penyakit mental di hampir semua negara. Hari ini, pernikahan sesama jenis legal di puluhan negara.
Pelajaran: Apa yang "benar" hari ini mungkin terlihat barbar dalam 50 tahun.
Premis 3: Teknologi Mengubah Etika
Inilah inti argumen Enriquez: Perubahan teknologi memungkinkan—dan memaksa—perubahan etika.
Mengapa perbudakan akhirnya dihapus? Bukan hanya karena kesadaran moral, tapi karena Revolusi Industri membuat tenaga kerja mesin lebih efisien daripada tenaga manusia.
Mengapa hak perempuan berkembang pesat di abad ke-20? Karena teknologi kontrasepsi membebaskan perempuan dari kehamilan terus-menerus, dan teknologi industri membutuhkan lebih banyak pekerja.
Mengapa kita mulai peduli lingkungan? Karena satelit memungkinkan kita melihat bumi dari luar angkasa, dan teknologi komunikasi menyebarkan kesadaran global.
Pelajaran: Teknologi tidak netral. Teknologi mengubah kemungkinan moral.
Bagian 2: Teknologi Sebagai Game-Changer Moral
IVF dan Redefinisi Keluarga
Ketika Louise Brown, "bayi tabung" pertama, lahir tahun 1978, banyak orang menganggapnya menentang kehendak Tuhan. Surat kabar menulis tentang "bayi Frankenstein." Gereja mengutuk.
Hari ini? IVF telah membantu jutaan keluarga memiliki anak. Kita bahkan tidak menganggapnya kontroversial.
Tapi tunggu—teknologi reproduksi terus berkembang:
- Ektogenesis: kehamilan dalam rahim buatan
- Gene editing: mengedit DNA bayi untuk mencegah penyakit
- Artificial wombs: rahim buatan yang bisa "melahirkan" bayi tanpa perempuan
Enriquez bertanya: Jika anak cucu kita bisa memiliki kehamilan yang 100% aman, tanpa risiko, tanpa rasa sakit, apakah mereka akan menganggap kehamilan "alami" sebagai praktik barbar?
Daging dan Masa Depan Makanan
Hari ini, kita memakan 70 miliar hewan setiap tahun. Sebagian besar dari kita tidak memikirkan hal ini sebagai masalah moral—hewan adalah makanan.
Tapi teknologi mengubah persamaan:
- Lab-grown meat: daging yang ditumbuhkan dari sel tanpa membunuh hewan
- Plant-based protein: protein nabati yang rasanya identik dengan daging
- Precision fermentation: protein yang diproduksi mikroorganisme
Ketika anak cucu kita bisa mendapatkan "daging" tanpa membunuh hewan, apakah mereka akan melihat kita sebagai pembunuh massal?
Enriquez menunjukkan bahwa kita sudah melihat pergeseran ini. Generasi muda 3 kali lebih mungkin menjadi vegetarian atau vegan dibanding generasi tua.
AI dan Definisi Ulang Kerja
Dulu, kerja manual dianggap mulia. "Bekerja keras dengan tangan" adalah virtue.
Kemudian Revolusi Industri mengubah definisi kerja menjadi kerja di pabrik.
Sekarang, AI mengubah lagi definisi kerja:
- Apakah "kerja" masih bermoral jika robot bisa melakukannya lebih efisien?
- Apakah universal basic income—membayar orang tanpa bekerja—bermoral atau tidak?
- Bagaimana jika AI bisa menulis, melukis, mendiagnosis penyakit lebih baik dari manusia?
Pertanyaan moral: Apa artinya menjadi produktif di dunia di mana mesin bisa melakukan hampir semua hal?
Bagian 3: Melihat Masa Lalu dengan Lensa Masa Depan
Jangan Terlalu Cepat Menghakimi Leluhur
Salah satu pesan paling kuat Enriquez: Berhenti menghakimi leluhur kita terlalu keras.
Ya, mereka melakukan hal-hal yang sekarang kita anggap salah. Tapi mereka hidup dengan:
- Teknologi berbeda: Komunikasi lambat, informasi terbatas, dunia yang terasa lebih kecil
- Konteks berbeda: Harapan hidup pendek, penyakit merajalela, sumber daya terbatas
- Pengetahuan berbeda: Belum tahu tentang bakteri, DNA, perubahan iklim
Contoh: Christopher Columbus
Dulu dia pahlawan penjelajah. Sekarang banyak yang melihatnya sebagai simbol kolonialisme dan genocide.
Keduanya benar dalam konteksnya masing-masing. Columbus membuka era globalisasi yang akhirnya menguntungkan dunia—tapi juga membawa kehancuran bagi penduduk asli Amerika.
Pelajaran: History is complicated. Moral judgment across time is tricky.
Pertanyaan Incaman untuk Kita
Tapi jika kita tidak boleh terlalu keras menghakimi leluhur, itu berarti anak cucu kita akan menghakimi kita.
Enriquez mengajukan pertanyaan mengganggu:
Tentang lingkungan: Bagaimana anak cucu akan melihat generasi yang tahu tentang perubahan iklim tapi tetap membakar fossil fuels, terbang dengan jet pribadi, dan mengonsumsi secara berlebihan?
Tentang kesenjangan: Bagaimana mereka akan melihat dunia di mana Jeff Bezos memiliki $200 miliar sementara miliaran orang hidup dengan kurang dari $2 per hari?
Tentang penjara: Amerika memiliki 25% tahanan dunia dengan hanya 4% populasi dunia. Bagaimana ini akan terlihat bagi generasi mendatang?
Tentang factory farming: Kita mengurung miliaran hewan dalam kondisi mengerikan. Jika lab-grown meat menjadi standar, akankah ini terlihat seperti holocaust hewan?
Pertanyaan paling mengganggu: Apakah kita akan menjadi generasi yang dihujat dalam buku sejarah masa depan?
Bagian 4: Teknologi Masa Depan dan Dilema Etika Baru
Gene Editing dan Redesign Manusia
Teknologi CRISPR memungkinkan kita mengedit DNA dengan presisi tinggi. Saat ini digunakan untuk mencegah penyakit genetik. Tapi kemungkinannya jauh lebih luas:
- Enhancement: Membuat manusia lebih cerdas, lebih kuat, lebih tahan penyakit
- Life extension: Memperpanjang hidup hingga ratusan atau ribuan tahun
- Designer babies: Memilih karakteristik fisik dan mental anak
Dilema etika:
- Apakah kita punya kewajiban moral untuk membuat anak-anak kita "lebih baik"?
- Atau apakah mengubah DNA manusia adalah "bermain Tuhan"?
- Bagaimana jika hanya orang kaya yang bisa mengakses enhancement—apakah itu menciptakan species yang berbeda?
Enriquez menunjukkan: Dilema ini tidak abstrak. He Jiankui sudah menciptakan bayi dengan DNA yang diedit pada 2018.
Artificial Intelligence dan Conscious Machines
Seiring AI menjadi semakin pintar, kita menghadapi pertanyaan fundamental: Kapan mesin layak mendapat hak moral?
Jika AI mencapai kesadaran yang setara atau melebihi manusia:
- Apakah kita punya kewajiban moral terhadap mereka?
- Apakah mematikan AI yang sadar sama dengan pembunuhan?
- Bagaimana jika AI menganggap manusia sebagai ancaman eksistensi?
Precedent sejarah: Dulu kita tidak menganggap budak punya hak moral. Kemudian kita mengakui bahwa semua manusia punya hak yang sama. Sekarang kita sedang memperluas lingkaran moral ke hewan.
Pertanyaan: Apakah lingkaran moral akan terus mengembang hingga mencakup mesin yang sadar?
Immortality dan Redefining Life
Teknologi sedang mendekati kemampuan untuk:
- Menghentikan aging: Genom editing untuk memperlambat atau menghentikan penuaan
- Mind uploading: Upload kesadaran manusia ke komputer
- Regenerative medicine: Menumbuhkan organ baru dari stem cell
Dilema moral baru:
- Jika kematian menjadi pilihan, bukan takdir, apakah memilih mati menjadi bunuh diri?
- Bagaimana dengan overpopulasi jika orang hidup ribuan tahun?
- Siapa yang berhak mengakses immortality?
- Apakah hidup tanpa kematian masih bermakna?
Bagian 5: Navigasi di Dunia Etika yang Berubah
Prinsip untuk Era Perubahan Cepat
Enriquez tidak memberikan jawaban pasti—karena dia tahu jawaban akan berubah. Tapi dia memberikan framework untuk berpikir:
1. Embrace Uncertainty
Akui bahwa Anda mungkin salah. Orang yang paling yakin seringkali paling salah dalam sejarah.
2. Focus on Outcomes, Not Rules
Tanyakan: "Apakah ini mengurangi suffering? Apakah ini meningkatkan human flourishing?" bukan "Apakah ini melanggar aturan tradisional?"
3. Think Long-term
Bertanya: "Bagaimana anak cucu akan menilai keputusan ini?" membantu perspektif jangka panjang.
4. Stay Curious, Not Judgmental
Daripada langsung mengutuk teknologi baru, coba pahami dulu potensi positif dan negatifnya.
5. Prioritize Reducing Harm
Ketika ragu, pilih opsi yang mengurangi penderitaan paling banyak.
Teknologi Sebagai Kekuatan Moral Positif
Berlawanan dengan narasi populer bahwa teknologi merusak moral, Enriquez menunjukkan teknologi sering meningkatkan moral:
Mengurangi kekerasan: Steven Pinker menunjukkan bahwa dunia semakin damai. Teknologi komunikasi membuat kita lebih empati terhadap penderitaan orang lain.
Meningkatkan equality: Internet memberikan akses informasi yang sama ke siapa saja. Smartphone memungkinkan orang di desa terpencil mengakses pendidikan berkualitas.
Memperluas compassion: Kamera dan media sosial memungkinkan kita melihat penderitaan di belahan dunia lain dalam real-time.
Mendorong transparency: Sulit menyembunyikan korupsi atau abuse ketika semua orang punya kamera dan koneksi internet.
Bahaya Fundamentalisme Moral
Enriquez memperingatkan terhadap fundamentalisme moral—keyakinan bahwa standar moral Anda eternal dan tidak bisa berubah.
Fundamentalisme moral berbahaya karena:
- Mencegah progress moral
- Menciptakan konflik yang tidak perlu
- Membuat orang resistan terhadap informasi baru
- Menghambat empati terhadap perspektif berbeda
Contoh: Orang yang menolak vaksin COVID karena alasan "moral" atau "religius" membahayakan kesehatan publik berdasarkan prinsip yang mungkin akan terlihat absurd bagi generasi mendatang.
Bagian 6: Pelajaran Praktis untuk Hidup di Era Perubahan
1. Develop Moral Agility
Seperti halnya agility dalam business, kita butuh moral agility—kemampuan mengadaptasi prinsip moral ketika konteks berubah.
Ini bukan berarti jadi relativis moral. Ini berarti mengakui bahwa aplikasi prinsip moral bisa berubah seiring teknologi dan pengetahuan baru.
Contoh: Prinsip "tidak membahayakan" tetap sama. Tapi definisi "bahaya" berubah ketika kita tahu lebih banyak tentang dampak long-term dari tindakan kita.
2. Listen to the Margins
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan moral sering dimulai dari margin—orang-orang yang dianggap radikal atau ekstrim pada zamannya.
Abolitionists dianggap radikal sebelum perbudakan dihapus. Suffragettes dianggap ekstrim sebelum perempuan mendapat hak pilih. Environmental activists dianggap hippie tree-hugger sebelum perubahan iklim menjadi mainstream.
Pelajaran: Dengarkan suara-suara yang sekarang terdengar ekstrim. Beberapa dari mereka mungkin benar.
3. Invest in Reversible Decisions
Dalam dunia yang berubah cepat, buat keputusan yang bisa diubah ketika Anda mendapat informasi baru.
Dalam teknologi: Adopt technology secara gradual. Test dampaknya sebelum full implementation.
Dalam policy: Design policy dengan sunset clause. Evaluasi dan revisi secara berkala.
Dalam personal life: Buat commitment yang selaras dengan nilai core Anda, tapi fleksibel dalam implementasinya.
4. Teach Critical Thinking, Not Fixed Answers
Karena jawaban akan berubah, yang penting adalah kemampuan berpikir, bukan menghafal jawaban.
Ajarkan anak-anak untuk:
- Bertanya "mengapa?" dan "bagaimana jika?"
- Mempertimbangkan multiple perspectives
- Memahami trade-offs dalam setiap keputusan
- Mengupdate belief mereka berdasarkan evidence baru
5. Stay Humble
Ingat bahwa Anda hidup di titik tertentu dalam sejarah dengan teknologi dan konteks tertentu. Apa yang tampak obvious bagi Anda mungkin akan terlihat naif bagi generasi mendatang.
Humility adalah vaccine terbaik terhadap fanatisme moral.
Penutup: Masa Depan Etika dalam Tangan Kita
Juan Enriquez mengakhiri bukunya dengan reminder yang powerful: Kita sedang hidup di era yang akan menentukan masa depan spesies manusia.
Keputusan yang kita buat hari ini tentang AI, genetic engineering, climate change, dan inequality akan mempengaruhi peradaban manusia untuk berabad-abad.
Tanggung Jawab Generasi Kita
Kita adalah generasi pertama dalam sejarah yang punya kemampuan untuk:
- Mengubah DNA spesies kita sendiri
- Menciptakan intelligence yang melebihi manusia
- Menghancurkan atau menyelamatkan planet ini
- Mengalahkan kematian dan aging
Dengan great power comes great responsibility.
Pertanyaan untuk Anda
Enriquez mengundang kita untuk refleksi:
- Apa yang Anda lakukan hari ini yang mungkin akan dinilai salah oleh anak cucu Anda?
- Teknologi apa yang Anda tolak sekarang yang mungkin akan terlihat obviously beneficial di masa depan?
- Belief apa yang Anda pegang dengan yakin yang mungkin akan berubah dalam 20 tahun?
- Bagaimana Anda ingin diingat oleh generasi mendatang?
Hope dalam Uncertainty
Meskipun masa depan uncertain, ada alasan untuk optimis. Sejarah menunjukkan bahwa moral arc of universe bends toward justice—meskipun pelan dan dengan banyak kemunduran.
Teknologi, meskipun punya risks, juga memberikan tools untuk:
- Mengurangi penderitaan global
- Meningkatkan akses ke pendidikan dan healthcare
- Menciptakan abundance yang bisa mengakhiri kemiskinan
- Memperluas empati dan understanding antar manusia
Closing Thought
"Right/Wrong" bukan buku yang memberikan jawaban mudah. Ini buku yang mengajarkan kita cara bertanya yang lebih baik.
Dalam dunia di mana teknologi mengubah segalanya dengan kecepatan eksponensial, kemampuan beradaptasi moral mungkin adalah skill paling penting yang bisa kita kembangkan.
Masa depan tidak ditentukan oleh teknologi—masa depan ditentukan oleh bagaimana kita memilih menggunakan teknologi.
Dan pilihan itu, pada akhirnya, adalah pertanyaan moral.
Seperti yang Enriquez tulis: "We are not passive recipients of technological change. We are active participants in shaping the ethical landscape of tomorrow."
Jadi pertanyaannya bukan: "Apakah teknologi akan mengubah etika kita?"
Pertanyaannya adalah: "Etika macam apa yang akan kita pilih untuk masa depan?"
Tentang Buku Asli
"Right/Wrong: How Technology Transforms Our Ethics" diterbitkan oleh MIT Press pada 2020 dan telah menjadi salah satu buku teknologi-etika paling berpengaruh dekade ini.
Juan Enriquez adalah akademisi, pengusaha, dan pembicara TED terkenal dengan lebih dari 10 TED Talks. Dia adalah managing director of Excel Venture Management dan telah menulis beberapa buku bestseller termasuk "As the Future Catches You" dan "Evolving Ourselves."
Buku ini mendapat pujian dari tokoh-tokoh seperti George Church (Harvard Medical School), Jane Metcalfe (co-founder Wired), dan Danny Hillis (pioneer AI). Engineering & Technology Magazine menyebutnya "witty and insightful storytelling that challenges our perception."
Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas hubungan teknologi-etika, contoh-contoh sejarah yang lebih detail, dan framework berpikir yang lebih comprehensive, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi buku lengkapnya menawarkan depth dan nuance yang hanya bisa dihargai melalui kata-kata Enriquez sendiri.
Sekarang pergilah dan pikirkan: Dalam 100 tahun, apa yang akan anak cucu Anda katakan tentang cara hidup Anda hari ini?
Karena seperti yang ditunjukkan Enriquez—pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada semua kepastian moral yang kita pegang erat hari ini.