Skip to main content

The Sales Bible

by Jeffrey Gitomer · December 2025 · 15 min read

Pertemuan dengan 10 Penerbit

Table of contents

Pertemuan dengan 10 Penerbit 

Jeffrey Gitomer masuk ke ruang pertemuan dengan penerbit pertama. Di tangannya, bukan hanya naskah buku. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: keyakinan total

Ia tidak datang dengan memohon, "Tolong terbitkan buku saya." Ia datang dengan presentasi multimedia yang sudah ia latih selama berminggu-minggu. Ia membawa surat rekomendasi dari berbagai tokoh. Dan—ini yang paling berani—ia sudah mendaftarkan merek dagang untuk judul bukunya: The Sales Bible

Jeffrey tahu bahwa ia tidak sedang menjual buku. Ia sedang menjual potensi penjualan buku itu

Ia menempatkan dirinya di posisi penerbit. Apa yang penerbit pedulikan? Bukan seberapa bagus tulisannya. Tetapi: Apakah buku ini akan laku? 

Jadi Jeffrey mempresentasikan bukan tentang isi buku, tetapi tentang bagaimana buku ini akan menjual dirinya sendiri. Tentang pasar yang lapar untuk panduan penjualan praktis. Tentang bagaimana judul yang provokatif akan membuat orang penasaran. 

Ia menjadwalkan pertemuan dengan 10 penerbit. Tapi ia hanya butuh satu. 

Penerbit pertama—terkesan dengan persiapan, keberanian, dan pemahaman Jeffrey tentang apa yang mereka butuhkan—menandatangani kontrak di tempat. 

Itu adalah penjualan yang sempurna. Dan seluruh buku ini adalah tentang bagaimana Anda bisa melakukan hal yang sama.


Bagian 1: Attitude adalah Segalanya 

Mengapa 50% Salesperson Gagal 

Jeffrey Gitomer memulai dengan statistik yang mengejutkan: 50% dari kegagalan dalam penjualan disebabkan oleh satu hal—attitude negatif. 

Bukan kurang training. Bukan produk yang buruk. Bukan kompetisi yang lebih kuat.

Tetapi pikiran mereka sendiri. 

Earl Nightingale pernah mengatakan dalam "The Strangest Secret": "Kita menjadi apa yang kita pikirkan." Pikiran Anda menciptakan attitude Anda. Attitude Anda menentukan tindakan Anda. Tindakan Anda menentukan hasil Anda. 

Seorang salesperson dengan attitude negatif akan: 

  • Melihat setiap penolakan sebagai kegagalan personal
  • Percaya bahwa produk mereka tidak cukup bagus
  • Takut untuk menelepon prospek baru
  • Menyalahkan ekonomi, harga, atau kompetisi untuk kurangnya penjualan

Seorang salesperson dengan attitude positif akan: 

  • Melihat penolakan sebagai langkah menuju "ya" berikutnya
  • Percaya pada nilai yang mereka tawarkan
  • Bersemangat untuk bertemu prospek baru
  • Mengambil tanggung jawab penuh atas hasil mereka

Penelitian menunjukkan bahwa salesperson dengan attitude optimis berkinerja 57% lebih baik daripada rekan mereka yang pesimis.

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Jeffrey mengajukan pertanyaan sederhana namun kuat: Apa yang Anda inginkan? 

Kebanyakan salesperson tidak tahu jawabannya. Mereka hanya ingin "lebih banyak penjualan" atau "lebih banyak uang"—tujuan yang terlalu samar untuk memotivasi. 

Jeffrey menyarankan untuk mendefinisikan tujuan dengan spesifik: 

  • Berapa banyak uang yang ingin Anda hasilkan bulan ini? Tahun ini?
  • Award apa yang ingin Anda menangkan?
  • Posisi apa yang ingin Anda capai?
  • Gaya hidup seperti apa yang ingin Anda jalani?

Ketika Anda tahu persis apa yang Anda inginkan, Anda bisa membuat rencana untuk mencapainya. Tanpa tujuan yang jelas, Anda hanya mengembara tanpa arah. 

Tulis tujuan Anda. Letakkan di depan muka Anda. Ucapkan dengan keras setiap kali Anda melihatnya.


Bagian 2: 30 Detik Pertama Menentukan Segalanya

Kesempatan Pertama yang Tidak Pernah Terulang 

Anda punya 30 detik—mungkin kurang—untuk membuat kesan pertama yang kuat. Dalam 30 detik itu, prospek Anda sudah memutuskan: 

  • Apakah mereka menyukai Anda
  • Apakah mereka mempercayai Anda
  • Apakah mereka ingin mendengarkan lebih lanjut

Jordan Belfort, penulis "The Wolf of Wall Street," bahkan mengatakan Anda hanya punya 4 detik untuk membuat kesan yang menentukan apakah Anda akan menutup penjualan atau tidak. 

Perkenalan yang Membuat Orang Penasaran 

Lupakan perkenalan membosankan seperti: "Halo, saya Jeffrey dari perusahaan XYZ. Kami menjual solusi software untuk bisnis Anda." 

Yawn. Tidak ada yang peduli. 

Sebagai gantinya, gunakan perkenalan yang kreatif dan mengundang rasa ingin tahu

"Halo, saya Jeffrey. Saya membantu perusahaan seperti Anda mengurangi biaya operasional hingga 30% tanpa mengurangi kualitas layanan. Apakah itu sesuatu yang ingin Anda dengar lebih lanjut?" 

Perhatikan perbedaannya: 

  • Anda tidak bicara tentang diri Anda. Anda bicara tentang nilai untuk mereka.
  • Anda spesifik (30%, bukan "banyak")
  • Anda mengajukan pertanyaan yang membuat mereka terlibat

Power Statement: Jantung dari Pitch Anda 

Jeffrey menyebutnya "Power Statement"—pernyataan yang cukup kuat untuk membuat prospek bertindak

Power Statement yang baik: 

1. Fokus pada manfaat, bukan fitur. Jangan katakan "Kami punya teknologi terbaru." Katakan "Anda bisa menyelesaikan pekerjaan dalam setengah waktu." 

2. Spesifik dan terukur. "Meningkatkan produktivitas" terlalu samar. "Menghemat 10 jam per minggu" konkret. 

3. Relevan dengan masalah mereka.  Anda perlu tahu apa yang membuat mereka tidak tidur di malam hari. 

Latih Power Statement Anda sampai Anda bisa menyampaikannya dalam tidur. Kemudian adaptasikan untuk setiap situasi.


Bagian 3: 75% Dengar, 25% Bicara 

Kesalahan Fatal yang Dilakukan Semua Orang 

Kebanyakan salesperson berbicara terlalu banyak. Mereka pikir tugas mereka adalah "menjual"—yang dalam pikiran mereka berarti berbicara tentang produk, fitur, keunggulan, testimonial, dan seterusnya. 

Tapi Jeffrey mengajarkan sesuatu yang radikal: Penjualan dimulai dengan mendengarkan, bukan berbicara. 

Aturan emas Jeffrey: Gunakan 25% waktu untuk berbicara dan bertanya. 75% waktu untuk mendengarkan. 

Mengapa? Karena ketika Anda mendengarkan, Anda: 

  • Memahami masalah sebenarnya yang mereka hadapi
  • Mengetahui motivasi mereka untuk membeli (atau tidak membeli)
  • Menemukan "hot button"—hal yang paling penting bagi mereka
  • Membangun kepercayaan—orang suka orang yang mendengarkan mereka Pertanyaan yang Mengungkap Segalanya

Tetapi "mendengarkan" tidak berarti diam saja. Anda perlu mengajukan pertanyaan power yang membuat prospek mengungkapkan informasi kritis: 

"Bagaimana Anda memilih [produk/layanan ini]?" Ini mengungkapkan kriteria mereka—apakah mereka prioritaskan kualitas, harga, atau kecepatan? 

"Apa yang membuat itu penting bagi Anda?" Ini menggali lebih dalam ke motivasi emosional mereka. 

"Bagaimana Anda mendefinisikan [kualitas/kesuksesan/nilai]?" Ini memastikan Anda dan mereka berbicara tentang hal yang sama. 

"Jika saya bisa [memecahkan masalah X], apakah saya akan menjadi kandidat untuk bisnis Anda?" Ini adalah pertanyaan kualifikasi yang menghemat waktu Anda. 

"Luar biasa! Kapan kita bisa mulai?" Ini adalah closing question yang terasa natural, bukan memaksa.

Dua Kata yang Harus Anda Kuasai 

Jeffrey meringkasnya dalam dua kata: SHUT UP. 

Setelah Anda mengajukan pertanyaan, diam. Biarkan mereka menjawab. Jangan terburu-buru mengisi keheningan. 

Kebanyakan salesperson tidak nyaman dengan keheningan dan mulai bicara lagi, sering kali justru merusak momentum yang sudah dibangun. 

Orang yang berbicara pertama setelah pertanyaan closing, biasanya kalah.


Bagian 4: Penjualan Dimulai Ketika Mereka Berkata "Tidak" 

Objection Bukan Penolakan—Itu Pertanyaan Tersembunyi 

Ini adalah mindset shift yang paling penting: Penjualan baru benar-benar dimulai ketika prospek mengajukan objection. 

Kenapa? Karena objection berarti mereka tertarik. Mereka sedang mempertimbangkan. Mereka hanya perlu yakin. 

Orang yang benar-benar tidak tertarik tidak akan repot-repot memberi objection. Mereka hanya akan bilang "tidak tertarik" dan mengakhiri percakapan. 

Mengungkap Objection yang Sebenarnya 

Masalahnya: kebanyakan prospek tidak mengatakan objection yang sebenarnya. Mereka mengatakan: 

  • "Saya perlu pikirkan dulu."
  • "Harganya terlalu mahal."
  • "Saya harus diskusikan dengan bos saya."
  • "Hubungi saya lagi dalam 6 bulan."

Tapi yang sebenarnya mereka maksud mungkin: 

  • "Saya tidak yakin ini akan berhasil untuk saya."
  • "Saya tidak melihat nilai yang cukup untuk membenarkan investasi ini."
  • "Saya tidak punya otoritas untuk memutuskan ini."
  • "Saya sedang tidak punya budget sekarang."

Tugas Anda adalah menggali objection yang sebenarnya. Caranya: 

Ketika mereka bilang "Harganya terlalu mahal," jangan langsung turunkan harga atau bela produk Anda. Sebagai gantinya, tanyakan: 

"Saya paham. Bisa Anda jelaskan apa yang Anda maksud dengan 'terlalu mahal'? Dibandingkan dengan apa?" 

Atau: 

"Harga memang penting. Selain harga, apa lagi yang Anda pertimbangkan?"

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu Anda memahami apa yang sebenarnya mereka khawatirkan, sehingga Anda bisa mengatasi kekhawatiran yang tepat. 

Teknik Mengubah "Tidak" Menjadi "Ya" 

1. Isolasi objection. "Selain [objection ini], apakah ada hal lain yang menahan Anda?" 

Jika mereka bilang tidak ada, Anda tahu ini adalah satu-satunya hambatan. Pecahkan ini, dan penjualan terjadi. 

2. Validasi perasaan mereka. "Saya mengerti mengapa Anda merasa seperti itu." Jangan pernah buat mereka merasa bodoh karena punya kekhawatiran. 

3. Reframe objection. "Apa yang Anda sebut mahal, saya sebut investasi. Mari saya tunjukkan bagaimana ini akan membayar dirinya sendiri dalam 3 bulan." 

4. Gunakan social proof. "Banyak klien kami awalnya merasa sama. Tapi setelah mereka melihat hasilnya, mereka menyadari ini adalah keputusan terbaik yang pernah mereka buat."


Bagian 5: Hubungan Mengalahkan Penjualan

Rahasia Terbesar dalam Penjualan 

Jeffrey mengungkapkan rahasia yang mengubah segalanya: 

"Lebih banyak penjualan terjadi karena persahabatan daripada karena teknik salesmanship." 

Orang membeli dari orang yang mereka kenal, percayai, dan sukai. 

Pikirkan tentang ini: Jika Anda punya dua tawaran yang hampir identik—satu dari seseorang yang Anda kenal dan suka, satu dari orang asing—mana yang akan Anda pilih? 

Jawabannya jelas. 

Membangun Hubungan, Bukan Hanya Melakukan Transaksi

Salesperson biasa berpikir dalam terms transaksi: "Bagaimana saya bisa menutup deal ini?" 

Salesperson hebat berpikir dalam terms hubungan: "Bagaimana saya bisa menjadi partner jangka panjang untuk orang ini?" 

Perbedaan ini mengubah everything tentang cara Anda menjual: 

Salesperson Transaksional: 

  • Fokus pada closing segera
  • Hilang setelah penjualan terjadi
  • Melihat prospek sebagai angka
  • Hanya peduli ketika ada deal

Salesperson Relasional: 

  • Fokus pada membangun kepercayaan
  • Tetap terhubung setelah penjualan
  • Melihat prospek sebagai manusia
  • Peduli bahkan ketika tidak ada deal

Cara Membangun Hubungan yang Nyata 

1. Cari kesamaan di luar bisnis. Hobi yang sama? Olahraga favorit? Kota asal? Almamater? Ini adalah fondasi persahabatan. 

2. Berikan nilai tanpa mengharapkan apa-apa. Bagikan artikel yang relevan untuk mereka. Perkenalkan mereka dengan kontak yang bisa membantu. Beri nasihat gratis. 

3. Ingat detail personal. Nama anak-anak mereka. Hari ulang tahun mereka. Restoran favorit mereka. Charity yang mereka dukung. 

4. Gunakan informasi itu dengan bijak. Jangan hanya memberi tiket pertandingan—ajak mereka bersama Anda untuk menonton. 

Jangan hanya ucapkan selamat ulang tahun—kirim kue favorit mereka dengan catatan tulisan tangan. 

Jangan hanya tanyakan tentang anak mereka—ingat bahwa putri mereka baru saja masuk universitas dan tanya bagaimana kabarnya. 

5. Jadilah konsisten. Hubungan tidak dibangun dalam satu pertemuan. Ini adalah investasi jangka panjang.


Bagian 6: The Non-Close Close 

Mengapa "Always Be Closing" Sudah Mati 

Dulu, mantra penjualan adalah "ABC—Always Be Closing." Tekan prospek. Paksa mereka membuat keputusan. Gunakan trik closing yang manipulatif. 

Itu tidak lagi bekerja. 

Konsumen modern terlalu cerdas untuk trik seperti itu. Mereka bisa mencium manipulasi dari jauh. Dan ketika mereka merasakannya, mereka lari. 

Jeffrey mengajarkan pendekatan yang berbeda: The Non-Close Close. 

Alih-alih memaksa penjualan, Anda membuatnya begitu jelas dan mudah sehingga prospek sendiri yang memutuskan untuk membeli. 

Prinsip Dasar 

"Orang tidak suka dibujuk untuk membeli. Tapi mereka SUKA membeli." 

Tugas Anda bukan "menutup penjualan." Tugas Anda adalah membantu mereka membuat keputusan terbaik untuk mereka. 

Ketika Anda mengubah mindset dari "Saya harus membuat mereka membeli" menjadi "Saya di sini untuk membantu mereka membuat keputusan terbaik"—segalanya berubah. 

Anda menjadi lebih rileks. Lebih autentik. Lebih bisa dipercaya. 

Dan paradoksnya, Anda menutup lebih banyak penjualan. 

19.5 Sinyal Beli 

Jeffrey mengajarkan untuk mengenali "buying signals"—tanda bahwa prospek sudah siap membeli. Berikut beberapa yang paling jelas: 

1. Mereka mulai bertanya tentang detail implementasi. "Berapa lama waktu setup-nya?" (Mereka sudah membayangkan menggunakannya) 

2. Mereka bertanya tentang opsi. "Apakah ini tersedia dalam warna lain?" (Mereka sudah memutuskan untuk membeli, hanya memilih varian) 

3. Mereka membicarakan masa depan. "Jadi setelah kami mulai, apa langkah berikutnya?" (Mereka sudah melihat diri mereka sebagai pelanggan)

4. Bahasa tubuh mereka berubah. Mereka condong ke depan, tersenyum, membuat kontak mata lebih intens. 

5. Mereka mengajak orang lain untuk ikut diskusi. "Saya ingin partner saya mendengar ini." (Mereka mencari validasi untuk keputusan yang sudah mereka buat) 

Ketika Anda melihat sinyal-sinyal ini, jangan terus menjual. Ajukan closing question dengan natural: 

"Kedengarannya ini cocok untuk Anda. Kapan Anda ingin memulai?" 

Puppy Dog Close 

Jeffrey membagikan salah satu teknik closing favoritnya: Puppy Dog Close

Nama ini datang dari toko hewan. Ketika seseorang sedang mempertimbangkan untuk membeli anak anjing tapi ragu, penjual bilang, "Bawa dia pulang untuk malam ini. Lihat bagaimana rasanya. Jika tidak cocok, Anda bisa kembalikan besok." 

Tentu saja, setelah semalam dengan anak anjing yang lucu, tidak ada yang akan mengembalikannya. 

Terapkan ini dalam penjualan Anda: 

  • "Coba produk ini selama 30 hari. Jika tidak sesuai harapan, kembalikan saja."
  • "Mari kita mulai dengan proyek pilot kecil. Anda akan lihat hasilnya sebelum berkomitmen penuh."

Ketika mereka mengalami nilai yang Anda tawarkan, selling yourself menjadi unnecessary.


Bagian 7: Pelanggan Terbaik Anda Adalah Pelanggan Sekarang 

Kesalahan yang Menghabiskan Jutaan Dolar 

Kebanyakan salesperson terobsesi dengan mendapatkan pelanggan baru. Mereka menghabiskan 90% energi mereka mencari prospek baru. 

Sementara itu, pelanggan yang sudah ada mereka diabaikan. 

Ini adalah kesalahan terbesar yang bisa Anda buat. 

Mengapa Pelanggan Sekarang adalah Emas 

1. Mereka sudah percaya Anda. Anda tidak perlu membangun kredibilitas dari nol.

2. Mereka tahu produk/layanan Anda bagus. Mereka sudah mengalaminya sendiri. 

3. Mereka lebih mungkin membeli lagi. Statistik menunjukkan jauh lebih mudah (dan lebih murah) menjual ke pelanggan yang ada daripada mendapat pelanggan baru. 

4. Mereka bisa mereferensikan Anda. Satu referensi dari pelanggan yang puas bernilai 100 cold call. 

5. Mereka bisa membeli produk/layanan tambahan. Cross-selling dan upselling adalah sumber revenue terbesar.

Cara Mengubah Pelanggan Menjadi Fans 

1. Berikan layanan yang melebihi ekspektasi. Jangan hanya memenuhi janji. Lampaui. 

2. Tetap terhubung. Jangan hilang setelah penjualan. Check-in secara regular. Tanya bagaimana mereka. Tawarkan bantuan. 

3. Tangani komplain dengan sempurna. Jeffrey mengatakan: "Komplain pelanggan adalah peluang penjualan." 

Kenapa? Karena ketika Anda menangani komplain dengan baik, Anda mengubah pelanggan yang tidak puas menjadi advocate yang loyal. 

4. Jadikan mereka Customer of the Month. Kirim award plaque. Posting tentang mereka di media sosial. Buat mereka merasa spesial. 

5. Minta referensi pada waktu yang tepat. Waktu terbaik untuk minta referensi adalah right after mereka memberi Anda compliment atau ketika mereka baru saja mengalami hasil yang bagus dari produk/layanan Anda.


Bagian 8: Networking: Membangun Jaringan yang Membuat Uang 

Work a Room dengan Benar 

Networking events adalah tambang emas—jika Anda tahu cara menambangnya. 

Kebanyakan orang datang ke networking event dan menghabiskan seluruh waktu dengan orang yang sudah mereka kenal. Atau mereka mencoba "menjual" ke semua orang yang mereka temui. 

Keduanya salah. 

Aturan 75/25 

Gunakan 75% waktu Anda untuk bertemu orang baru. Hanya 25% untuk mempertahankan hubungan yang ada. 

Orang yang sudah Anda kenal bisa Anda hubungi kapan saja. Networking event adalah kesempatan untuk memperluas jaringan. 

Tujuan Bukan Menjual—Tujuan adalah Membuat Appointment 

Jangan coba close sale di networking event. Terlalu bising. Terlalu banyak distraction. Tidak ada cukup waktu untuk conversation yang mendalam. 

Tujuan Anda sederhana: Dapatkan janji untuk pertemuan one-on-one. 

"Kedengarannya kita punya banyak kesamaan. Apakah Anda punya waktu untuk kopi minggu depan? Saya ingin tahu lebih banyak tentang bisnis Anda." 

Berikan Sebelum Meminta 

Dalam networking, the givers always win. 

Alih-alih fokus pada apa yang bisa Anda dapatkan, fokus pada apa yang bisa Anda berikan: 

  • Koneksi yang berharga
  • Informasi yang berguna
  • Bantuan untuk masalah yang mereka hadapi

Ketika Anda memberikan nilai terlebih dahulu, orang akan naturally ingin membalas. Dan ketika mereka atau seseorang yang mereka kenal butuh apa yang Anda tawarkan, Anda adalah orang pertama yang mereka pikirkan.


Penutup: Menjual adalah Sains, Bukan Seni

Selling Bisa Dipelajari 

Banyak orang berpikir salesperson yang hebat "dilahirkan" dengan bakat natural. Mereka karismatik. Mereka persuasif. Mereka punya "x-factor." 

Jeffrey menolak mitos ini sepenuhnya. 

Selling bukan seni yang misterius. Selling adalah sains—set skill yang bisa dipelajari, dilatih, dan dikuasai oleh siapa saja yang mau berusaha. 

Satu Teknik Baru Per Hari 

Jeffrey memberikan formula sederhana: Pelajari satu teknik baru per hari. Satu teknik per hari = 5 teknik per minggu = 220 teknik per tahun. 

Dalam setahun, Anda akan menjadi salesperson yang sepenuhnya berbeda. 

Tapi kuncinya adalah konsistensi. Jangan coba pelajari 10 teknik dalam sehari lalu berhenti. Pelajari satu. Praktikkan sampai mastery. Lanjut ke berikutnya. 

The Sales Bible Sebagai Sumber Daya 

Gunakan buku ini sebagai: 

  • Resource harian. Baca satu bab setiap pagi sebelum mulai hari.
  • Problem solver. Ketika stuck dengan objection atau situasi sulit, cari solusinya di buku.
  • Preparation tool. Sebelum sales call penting, review bagian yang relevan.
  • Meeting leader. Gunakan untuk memimpin diskusi dalam sales meeting.

Pesan Terakhir dari Jeffrey 

"People don't like to be sold, but they LOVE to buy." 

Ketika Anda mengubah mindset dari "Saya harus menjual ini" menjadi "Saya di sini untuk membantu mereka membeli apa yang mereka butuhkan"—segalanya menjadi lebih mudah. 

Anda berhenti memaksa. Anda mulai melayani. 

Anda berhenti memanipulasi. Anda mulai membantu. 

Anda berhenti menjadi "salesperson" dan mulai menjadi trusted advisor.

Dan ironisnya, Anda menutup lebih banyak penjualan daripada sebelumnya.

Selling bukan tentang trik atau manipulasi. Selling adalah tentang membangun hubungan, memberikan nilai, dan membantu orang membuat keputusan terbaik untuk mereka. 

Ketika Anda melakukan itu dengan integritas dan konsistensi, kesuksesan akan mengikuti. 

Sekarang keluar sana dan JUAL—dengan cara yang benar.


Tentang Buku Asli 

The Sales Bible: The Ultimate Sales Resource pertama kali diterbitkan pada 1994 dan telah menjadi salah satu buku penjualan paling berpengaruh sepanjang masa. Edisi terbaru mencakup strategi untuk social selling dan media sosial. 

Jeffrey Gitomer adalah otoritas global dalam penjualan dan customer service. Kolomnya "Sales Moves" dibaca lebih dari 4 juta orang setiap minggu. Kliennya termasuk Coca-Cola, BMW, IBM, Hilton, dan ratusan perusahaan Fortune 500 lainnya. 

Buku ini berisi: 

  • 10.5 Commandments of Sales Success
  • 39.5 ways to Sales Mastery
  • 25.5 ways to Get the Appointment
  • 19.5 Buying Signals
  • Dan ratusan tips praktis lainnya

Untuk pembelajaran lengkap, sangat disarankan membaca buku asli. Jeffrey menulis dengan gaya yang energik dan engaging, penuh dengan anekdot personal dan wisdom yang datang dari 40+ tahun pengalaman di lapangan. 

Ringkasan ini memberikan overview komprehensif, tetapi tidak bisa menggantikan kekayaan detail dan praktikalitas dari buku asli. 

Sekarang giliran Anda untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dan menjadi salesperson yang Anda ingin menjadi. 

Remember: Selling adalah tentang attitude, persiapan, mendengarkan, membangun hubungan, dan membantu orang. 

Do it right. Do it with integrity. And watch your sales soar.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Art of Closing the Sale
Back to top

Similar books