Skip to main content

Siblings Without Rivalry

by Adele Faber & Elaine Mazlish · January 2026 · 15 min read

Pertengkaran yang Tak Pernah Berakhir

Table of contents

Pertengkaran yang Tak Pernah Berakhir

Pukul 7 pagi. Anda sedang menyiapkan sarapan. Tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar atas: "MAMA! Kakak ambil mainan aku!" 

"Aku duluan yang lihat!" 

"Bohong! Itu punyaku!" 

Suara tangisan. Suara barang jatuh. Suara pintu dibanting. 

Anda menarik napas panjang. Ini baru pagi dan perang sudah dimulai. 

Anda naik ke atas. Mencoba menjadi hakim yang adil. Menanyakan siapa yang duluan. Siapa yang salah. Mencoba memutuskan solusinya. 

Tapi tidak peduli siapa yang Anda bela, satu anak akan marah. Dan 20 menit kemudian, pertengkaran baru dimulai lagi. 

Anda bertanya pada diri sendiri: "Mengapa anak-anak saya tidak bisa rukun? Kemana saya salah?" 

Inilah kenyataan yang dihadapi jutaan orang tua setiap hari. Dan inilah yang membuat Adele Faber dan Elaine Mazlish—dua ibu yang juga educator terkenal—menulis buku "Siblings Without Rivalry." 

Mereka memulai dengan pertanyaan sederhana namun powerful: 

"Bagaimana jika persaingan antar saudara bukanlah sesuatu yang 'alami' dan 'tidak bisa dihindari'? Bagaimana jika itu adalah hasil dari cara kita sebagai orang tua tanpa sadar menciptakan kompetisi di antara mereka?"

Setelah puluhan workshop dengan ribuan orang tua, mereka menemukan pola yang konsisten—dan solusi yang mengubah dinamika keluarga. 

Buku ini bukan teori. Ini adalah panduan praktis berisi percakapan nyata, situasi konkret, dan tools yang langsung bisa Anda gunakan hari ini. 

Mari kita mulai.

 


Bagian 1: Akar Masalah—Mengapa Saudara Bertengkar

Eksperimen Pikiran 

Bayangkan ini: 

Suatu hari, pasangan Anda pulang ke rumah dengan orang lain dan berkata: 

"Sayang, aku punya berita baik! Mulai hari ini, kita akan tinggal bertiga. Ini adalah [sebut nama]. Dia akan tinggal bersama kita selamanya. Aku harap kamu bisa berbagi perhatianku dengannya. Oh, dan dia akan tidur di kamar kita juga. Kamu nggak keberatan kan? Kamu kan sudah besar dan dewasa." 

Bagaimana perasaan Anda? 

Marah? Cemburu? Khianati? Takut kehilangan cinta pasangan Anda? 

Itulah yang dirasakan anak pertama Anda ketika adiknya lahir. 

Mereka tidak meminta adik. Tiba-tiba ada "pesaing" yang mengambil perhatian orang tua—orang yang paling mereka cintai di dunia. 

Dan kemudian kita berkata: "Kamu harus sayang sama adik. Kalian kan saudara!"

Tidak heran mereka bertengkar. 

Perasaan yang Diabaikan 

Masalahnya bukan hanya kelahiran adik. Masalahnya adalah bagaimana kita merespons perasaan anak tentang itu. 

Respons yang umum (tapi tidak membantu): 

Anak: "Aku benci adik! Kembalikan dia ke rumah sakit!" 

Orang tua: "Jangan bicara begitu! Kamu sayang sama adik kok. Dia adikmu!" 

Apa yang anak dengar: 

"Perasaanmu salah. Kamu tidak boleh merasa seperti ini." 

Apa yang terjadi: 

Anak belajar bahwa perasaan negatif mereka tidak valid. Tapi perasaan itu tidak hilang—mereka hanya tertekan dan keluar dalam bentuk perilaku buruk. 

Respons yang Lebih Baik

Akui perasaan mereka: 

Anak: "Aku benci adik! Kembalikan dia ke rumah sakit!" 

Orang tua: "Kedengarannya kamu lagi kesal banget sama adik." 

Anak: "Iya! Dia nangis terus. Mama cuma perhatiin dia!" 

Orang tua: "Kamu merasa mama nggak punya waktu lagi buat kamu seperti dulu."

Anak: (mulai tenang) "Iya... Aku kangen mama." 

Apa yang terjadi: 

Ketika perasaan diakui, anak merasa dimengerti. Mereka tidak perlu acting out untuk mendapat perhatian. Intensitas emosi berkurang. 

Prinsip pertama: Perasaan yang diakui kehilangan intensitasnya. Perasaan yang diabaikan tumbuh lebih kuat.


Bagian 2: Jebakan Perbandingan 

Cerita dari Workshop 

Seorang ibu bercerita: 

"Saya punya dua anak. Yang sulung pemalu dan pendiam. Yang kecil outgoing dan supel. Saya sering bilang ke orang, 'Kakak ini pemalu, tapi adiknya beda—dia extrovert banget!'" 

"Suatu hari, kakak saya (7 tahun) tanya: 'Mama lebih suka anak yang extrovert atau yang pemalu?'" 

"Saya jawab, 'Mama sayang kalian berdua sama.'" 

"Dia diam sebentar, lalu berkata: 'Tapi mama kan selalu bilang aku pemalu. Itu artinya ada yang salah sama aku, kan?'" 

Ibu itu baru sadar: Dia tanpa sengaja memberi label yang membuat anaknya merasa inferior. 

Bahaya Perbandingan 

Setiap kali kita membandingkan anak—bahkan jika kita pikir itu netral atau positif—kita menciptakan kompetisi. 

Contoh perbandingan yang terdengar "innocent": 

❌ "Kakak pintar matematika, adik pintar seni." 

Pesan tersembunyi: Kamu hanya bagus di satu area. Saudaramu lebih baik di area lain. 

❌ "Adik lebih rapi dari kakak." 

Pesan tersembunyi: Kakak, kamu kurang dalam hal ini. 

❌ "Kenapa nggak bisa seperti kakak? Dia selalu nurut." 

Pesan tersembunyi: Kamu lebih buruk dari saudaramu. 

Apa yang Terjadi dalam Pikiran Anak 

Ketika anak mendengar perbandingan, mereka tidak berpikir: "Oh, kita punya kekuatan berbeda." 

Mereka berpikir: "Siapa yang lebih baik? Siapa yang lebih Mama sayang?" 

Dan begitu mereka berpikir begitu, mereka mulai berkompetisi. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena mereka ingin memastikan mereka tetap dicintai.

Solusi: Describe, Don't Compare 

Alih-alih membandingkan, describe apa yang Anda lihat: 

❌ "Kakak lebih rajin dari adik." 

✅ "Kamu sudah selesai PR tanpa diingatkan. Itu tanggung jawab yang bagus!" 

❌ "Adik lebih kreatif dari kakak." 

✅ "Wah, gambarmu punya detail yang menarik di bagian sini." 

❌ "Kenapa kamu nggak bisa seperti kakak?" 

✅ "Saya lihat mainanmu belum dibereskan. Apa yang perlu kamu lakukan?" 

Describe = fokus pada individu. 

Compare = fokus pada siapa yang lebih baik. 

Prinsip kedua: Hindari perbandingan. Describe apa yang Anda lihat pada SATU anak tanpa menyebut anak lain.


Bagian 3: Mitos "Adil" vs Realitas "Unik" 

Pertanyaan dari Orang Tua 

"Tapi bukankah saya harus adil? Jika saya kasih kakak mainan baru, saya harus kasih adik juga kan? Kalau tidak, mereka akan bertengkar!" 

Inilah yang Faber dan Mazlish temukan: Mencoba "adil" justru menciptakan lebih banyak masalah. 

Cerita Nyata 

Seorang ayah membeli sepatu baru untuk anak pertamanya karena sepatunya sudah rusak.

Anak kedua protes: "Kenapa cuma kakak? Aku juga mau sepatu baru!" 

Ayah (mencoba adil): "Oke, kamu juga dapat." 

Hasil: 

  • Anak kedua belajar: "Kalau aku protes, aku dapat apa yang aku mau"
  • Anak pertama belajar: "Bahkan ketika aku butuh sesuatu, adik tetap harus dapat juga"
  • Kedua anak fokus pada: "Apa yang dia dapat?" bukan pada kebutuhan masing-masing

Alternatif: Equal is not always Fair 

Respons yang lebih baik: 

Anak kedua: "Kenapa cuma kakak? Aku juga mau sepatu baru!" 

Ayah: "Sepatunya kakak sudah rusak, jadi dia butuh yang baru. Sepatumu masih bagus. Ketika sepatumu rusak atau kekecilan, Papa juga akan belikan kamu yang baru." 

Atau: 

"Kedengarannya kamu juga mau sesuatu yang spesial untuk kamu." 

Anak: "Iya..." 

Ayah: "Apa yang kamu butuh atau mau?" 

Apa yang terjadi: 

  • Anak belajar bahwa setiap orang mendapat apa yang mereka BUTUHKAN, bukan "sama rata"
  • Mengurangi fokus pada "siapa dapat lebih banyak"
  • Mengajarkan konsep yang lebih dewasa tentang keadilan

Prinsip: Give According to Need, Not According to Equality

Contoh aplikasi: 

❌ "Kakak dapat 30 menit screen time, jadi adik juga harus 30 menit." 

✅ "Kakak 10 tahun dan bisa manage waktu dengan baik, jadi dia dapat 30 menit. Adik 5 tahun dan masih belajar, jadi 15 menit sudah cukup untuk sekarang." 

❌ "Aku harus belikan mainan untuk adik juga meskipun dia tidak butuh." ✅ "Kakak dapat mainan ini karena ulang tahunnya. Giliran adik di bulan depan waktu ulang tahunnya." 

Prinsip ketiga: Treat children uniquely, not equally. Setiap anak berbeda, jadi perlakuan pun berbeda sesuai kebutuhan mereka.


Bagian 4: Mengelola Konflik Tanpa Jadi Hakim

Skenario Umum 

Anak A: "MAMA! Kakak pukul aku!" 

Anda berlari ke tempat kejadian. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Siapa yang mulai. Siapa yang salah. 

Masalahnya: Begitu Anda jadi hakim, ada yang menang dan ada yang kalah. Yang kalah merasa unfair. Yang menang merasa punya kekuatan untuk melibatkan Anda lagi di masa depan. 

Dan yang paling buruk: Anak-anak tidak belajar menyelesaikan konflik sendiri.

Pendekatan Baru 

Langkah 1: Acknowledge perasaan KEDUA anak 

"Wah, kalian berdua lagi kesal banget! Kamu (anak A) lagi marah karena dipukul. Dan kamu (anak B) juga pasti ada alasan kenapa kamu lakukan itu." 

Jangan memihak. Akui bahwa kedua anak punya perspektif. 

Langkah 2: Reflect perasaan masing-masing 

"Kamu (A) lagi main balok terus tiba-tiba dipukul. Kamu (B), kedengarannya kamu frustrasi sama sesuatu." 

Langkah 3: Describe masalahnya dengan sederhana 

"Jadi ini masalahnya: Ada satu set balok. Dua anak yang mau main. Kalian perlu cari cara biar berdua bisa main atau bergantian." 

Langkah 4: Express keyakinan bahwa mereka bisa menyelesaikannya

"Saya yakin kalian berdua bisa mikir solusinya. Saya mau dengar idenya."

Langkah 5: Leave the room (jika memungkinkan) 

Beri mereka ruang untuk solve sendiri. 

Apa yang Sering Terjadi 

Awalnya: Mereka akan tetap bertengkar. Mereka terbiasa Anda yang selesaikan.

Setelah beberapa kali: Mereka mulai mencoba negosiasi. Kadang masih kasar, tapi mereka trying. 

Setelah konsisten: Mereka develop skills untuk problem-solving. Mereka bertengkar lebih jarang dan bisa resolve sendiri. 

Ketika Keamanan Terancam 

Jika ada kekerasan fisik yang berbahaya: 

Stop tindakan: "Tidak boleh memukul. Itu menyakiti." 

Pisahkan: "Kalian berdua butuh cooling time. Kakak di kamarmu, adik di ruang keluarga. Nanti kalau sudah tenang kita bicara." 

Tapi tetap tidak mencari "siapa yang salah." Fokus pada safety dan memberi space untuk tenang. 

Prinsip keempat: Jangan jadi hakim. Akui perasaan semua pihak dan beri mereka tools untuk menyelesaikan konflik sendiri.


Bagian 5: Menghentikan Provokasi 

Pola yang Familiar 

Anak A (kakak) sedang main. Anak B (adik) datang dan mengganggu mainannya. Kakak marah dan mendorong adik. Adik menangis. 

Anda datang: "Kakak! Kenapa kamu dorong adik? Dia masih kecil!" 

Kakak merasa: "Mama selalu bela adik. Tidak adil!" 

Apa yang Sebenarnya Terjadi 

Adik belajar: "Kalau aku ganggu kakak, dia akan marah, dan mama akan memarahi dia. Jadi aku punya power." 

Kakak belajar: "Mama selalu bela adik. Tidak peduli siapa yang mulai." 

Siklus ini menciptakan resentment yang mendalam. 

Pendekatan yang Lebih Baik 

Alih-alih otomatis membela yang lebih kecil: 

"Saya lihat kalian berdua lagi upset. Kakak, kamu lagi asyik main terus diganggu. Adik, kamu kayaknya mau join tapi nggak tahu caranya." 

Kepada kakak: "Kamu boleh bilang ke adik dengan kata-kata: 'Aku lagi main sendiri sekarang. Nanti ya.'" 

Kepada adik: "Kalau kamu mau main sama kakak, tanya dulu: 'Boleh aku ikut main?' Kalau dia bilang tidak, itu oke. Kamu bisa cari mainan lain." 

Apa yang terjadi: 

  • Kakak merasa haknya dihormati
  • Adik belajar boundaries dan cara yang appropriate untuk berinteraksi
  • Tidak ada yang merasa jadi "villain"

Prinsip kelima: Lindungi hak anak yang lebih besar juga. Jangan otomatis bela yang lebih kecil hanya karena usianya.


Bagian 6: Menghindari Peran Tetap 

Bahaya Labeling 

"Si kakak yang bertanggung jawab." 

"Si adik yang kreatif." 

"Si tengah yang suka cari perhatian." 

Setiap kali kita beri label—bahkan yang positif—kita mengunci anak dalam peran tertentu.

Cerita dari Keluarga 

Keluarga dengan tiga anak: 

  • Anak pertama: "Si pintar"
  • Anak kedua: "Si atlet"
  • Anak ketiga: "Si lucu"

Apa yang terjadi: 

Anak pertama takut gagal akademis karena "pintar" adalah identitasnya. Anak kedua tidak develop interest lain karena "olahraga" adalah perannya. Anak ketiga merasa tidak diambil serius karena dia "si lucu." 

Dan yang terburuk: Mereka merasa harus bersaing dalam "area" mereka masing-masing untuk tetap special. 

Membebaskan Anak dari Peran 

Alih-alih label: 

❌ "Kamu kan si pintar di keluarga." 

✅ "Kamu bekerja keras untuk nilai ini. Usahamu terlihat!" 

❌ "Kamu selalu yang berantakan." 

✅ "Mainanmu masih di lantai. Apa rencanamu untuk membereskannya?" 

❌ "Kamu kan si pemalu." 

✅ "Kadang kamu butuh waktu untuk merasa nyaman di situasi baru. Dan itu oke."

Beri kesempatan untuk keluar dari peran: 

Jika anak yang biasa "berantakan" tiba-tiba rapi, notice: "Wow, kamumu sangat rapi hari ini!" 

Jika anak yang "pemalu" berani speak up, acknowledge: "Tadi kamu berani ngomong di depan orang banyak!"

Prinsip keenam: Avoid labeling. Biarkan setiap anak free untuk menjadi versi lengkap dari diri mereka, bukan terkunci dalam satu karakteristik.


Bagian 7: Membangun Hubungan Positif Antar Saudara

Menciptakan Momen Kerja Sama 

Alih-alih selalu memisahkan: 

"Kalian berdua, bisakah tolong bantu Papa pindahkan meja ini?" 

"Kakak, tolong ajari adik cara mengikat tali sepatu. Kamu kan sudah expert."

Beri tugas bersama yang membutuhkan kolaborasi. 

Hindari Mengadu 

❌ "Kakak lebih cepat selesai dari adik." 

✅ "Kalian berdua sudah selesai! Thank you!" 

❌ "Kenapa kamu nggak bisa seperti kakak yang selalu rapi?" 

✅ "Kamarmu belum rapi. Apa yang bisa kamu lakukan?" 

Ceritakan Cerita Positif 

Di depan anak-anak, ceritakan momen ketika mereka bekerja sama atau saling peduli: 

"Kemarin saya lihat kakak ngajarin adik main puzzle. Adik terlihat sangat happy. Dan kakak sabar banget ngejelasinnya." 

Anak-anak akan cenderung hidup sesuai dengan narasi yang kita ceritakan tentang mereka. 

Beri "Special Time" Individual 

Setiap anak butuh waktu eksklusif dengan orang tua—tanpa saudara kandung lainnya. 

Tidak harus lama. Bahkan 15 menit berkualitas bisa mengisi "tangki cinta" mereka dan mengurangi kebutuhan untuk berkompetisi. 

Prinsip ketujuh: Actively build connection. Ciptakan peluang untuk kerja sama dan celebrate momen positif antar saudara.


Bagian 8: Tools Praktis untuk Situasi Sehari-hari

Situasi 1: "Mama, dia ganggu aku!" 

❌ "Adik, jangan ganggu kakak! Pergi main sendiri!" 

✅ "Kedengarannya kamu (kakak) butuh space. Kamu bisa bilang ke adik: 'Aku lagi mau sendiri sekarang.'" 

Situasi 2: "Dia duluan yang mulai!" 

❌ "Saya nggak peduli siapa yang mulai. Kalian berdua stop!" 

✅ "Saya lihat kalian berdua lagi upset. Daripada cari siapa yang salah, mari kita cari solusinya." 

Situasi 3: Pertengkaran di mobil 

❌ "Kalau kalian nggak berhenti, nanti Papa putar balik dan kita nggak jadi pergi!" 

✅ "Saya tidak bisa fokus nyetir kalau di belakang ribut. Saya butuh ketenangan. Tolong kerja sama." 

Jika terus ribut: Berhenti di pinggir jalan, diam sampai mereka berhenti, lalu lanjut.

Situasi 4: Salah satu anak mengeluh "tidak adil" 

❌ "Hidup memang tidak adil. Biasain aja." 

✅ "Kedengarannya kamu merasa ini tidak fair buat kamu. Cerita dong, apa yang bikin kamu merasa begitu?" 

Dengarkan. Acknowledge. Kadang anak hanya butuh didengar, bukan diberi solusi.

Situasi 5: Pertengkaran physical 

Stop tindakan: "Tidak boleh hitting. Itu menyakiti orang." 

Pisahkan jika perlu: "Kalian berdua butuh cooling time." 

Setelah tenang, facilitate conversation: 

"Apa yang terjadi?" 

"Bagaimana perasaanmu?" 

"Apa yang bisa dilakukan lain kali ketika kamu merasa begitu?"


Penutup: Perjalanan, Bukan Destinasi 

Di akhir buku, Faber dan Mazlish mengingatkan kita: 

"Tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak ada anak yang sempurna. Dan tidak ada hubungan saudara yang sempurna—tanpa konflik sama sekali." 

Tujuannya bukan untuk menghilangkan konflik sepenuhnya. Itu tidak realistis.

Tujuannya adalah: 

1. Mengurangi intensitas dan frekuensi konflik 

Dari bertengkar 20 kali sehari menjadi 5 kali. Itu sudah kemajuan besar! 

2. Memberi anak-anak tools untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri

Daripada selalu bergantung pada Anda, mereka belajar negosiasi dan problem-solving. 

3. Mengurangi perasaan persaingan dan meningkatkan connection

Anak-anak tidak lagi merasa harus bersaing untuk mendapat cinta Anda. 

Apa yang Bisa Anda Mulai Hari Ini 

1. Stop membanding-bandingkan 

Notice setiap kali Anda ingin bilang "Kenapa nggak seperti kakak/adik?" dan bite your tongue. 

2. Acknowledge perasaan negatif 

Ketika anak bilang "Aku benci adik!", jangan panic. Katakan: "Kedengarannya kamu lagi very upset." 

3. Describe, don't compare 

Alih-alih "Kamu lebih rajin dari adik," katakan "Kamu sudah selesai PR tanpa diingatkan." 

4. Give according to need 

Stop mencoba "sama rata" dan mulai berpikir "apa yang MASING-MASING anak butuhkan?" 

5. Facilitate, don't judge 

Ketika mereka bertengkar, jangan langsung cari siapa yang salah. Acknowledge kedua perspektif. 

Pertanyaan Refleksi 

1. Pola apa yang saya lihat dalam pertengkaran anak-anak saya? 

  • Siapa yang biasanya "memulai"?
  • Siapa yang saya cenderung bela?
  • Apakah ada pola waktu (capek, lapar, bosan)?

2. Label apa yang tanpa sadar saya berikan pada anak-anak saya? 

  • "Si rajin," "si malas," "si pintar," "si nakal"?
  • Bagaimana label ini mempengaruhi cara mereka melihat diri sendiri dan saudara mereka?

3. Seberapa sering saya membandingkan anak-anak saya? 

  • Apakah saya lakukan di depan mereka?
  • Apakah saya lakukan di depan orang lain saat mereka mendengar?

4. Apa yang bisa saya lakukan berbeda mulai besok? 

  • Satu small change yang bisa saya implement?

Pesan Terakhir 

Faber dan Mazlish menutup dengan story yang mengharukan: 

Seorang ibu yang sudah menggunakan teknik-teknik di buku ini selama setahun memberikan testimonial: 

"Anak-anak saya masih bertengkar. Tapi sekarang, setelah bertengkar, saya kadang dengar mereka bicara satu sama lain: 'Sorry aku dorong kamu tadi.' 'Oke, aku juga sorry aku ambil mainanmu tanpa izin.'" 

"Mereka resolve conflict sendiri. Dan yang paling amazing: kemarin saya dengar kakak bilang ke adiknya, 'Kamu tahu nggak? Kamu adikku yang paling favorite.' Adik jawab: 'Aku juga cuma punya satu kakak. Dan dia the best.'" 

"Saya tahu ini not always gonna be perfect. Tapi mereka sedang belajar. Dan itu cukup."

Itu juga cukup untuk Anda. 

Mulai dari satu small step. Satu moment di mana Anda choose untuk acknowledge feelings daripada dismiss. Satu moment di mana Anda describe daripada compare. 

Small changes, repeated consistently, create transformation. 

Saudara kandung Anda tidak perlu jadi best friends setiap saat. Tapi mereka bisa belajar untuk respect, understand, dan eventually appreciate satu sama lain. 

Dan perjalanan itu dimulai dengan Anda—dan pilihan yang Anda buat hari ini.


Tentang Buku Asli 

"Siblings Without Rivalry: How to Help Your Children Live Together So You Can Live Too" pertama kali diterbitkan pada tahun 1987 (edisi revisi 2012). 

Adele Faber dan Elaine Mazlish adalah penulis bestseller dan ahli komunikasi orang tua-anak. Mereka juga menulis "How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk"—salah satu buku parenting paling berpengaruh sepanjang masa. 

Buku "Siblings Without Rivalry" lahir dari workshop yang mereka adakan dengan ribuan orang tua di New York. Setiap teknik dalam buku ini telah diuji dalam kehidupan nyata oleh orang tua biasa seperti Anda. 

Untuk pemahaman lengkap dengan dialog lengkap, ilustrasi kartun yang membantu, dan puluhan contoh situasi spesifik, sangat disarankan membaca buku aslinya. Format buku ini sangat reader-friendly dengan comic strips yang mengilustrasikan setiap konsep. 

Ringkasan ini menangkap prinsip-prinsip inti, tetapi buku asli menawarkan nuance, variasi situasi, dan troubleshooting untuk kasus-kasus sulit yang tidak bisa sepenuhnya dirangkum. 

Sekarang pergilah dan mulai menciptakan peace di rumah Anda—satu percakapan, satu acknowledgment, satu moment pada satu waktu. 

Karena seperti yang Faber dan Mazlish tulis: 

"Hubungan saudara kandung yang sehat adalah hadiah yang akan bertahan seumur hidup—jauh setelah kita sebagai orang tua tidak ada lagi." 

Investasi Anda hari ini adalah warisan untuk masa depan mereka.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Education and Peace
Back to top

Similar books