Skip to main content

Steal Like an Artist

by Austin Kleon · November 2025 · 16 min read

Presentasi yang Mengubah Segalanya

Table of contents

Presentasi yang Mengubah Segalanya 

Tahun 2011. Austin Kleon, seorang seniman dan penulis, diminta berbicara di sebuah community college di upstate New York. Ia harus memberikan nasihat kepada para mahasiswa tentang kreativitas dan berkarya. 

Austin duduk dan membuat daftar sederhana: 10 hal yang ia harap seseorang telah memberitahunya ketika ia baru memulai. Tidak ada teori rumit. Tidak ada konsep abstrak. Hanya 10 hal praktis yang ia pelajari dari pengalaman nyata sebagai seniman. 

Ia berpikir presentasinya akan menjadi sekadar talk biasa yang akan dilupakan seminggu kemudian. 

Tapi sesuatu yang berbeda terjadi. Setelah presentasi, ia memposting teks dan slide-nya di blog. Dalam hitungan hari, postingan itu viral. Ribuan orang share. Puluhan ribu membacanya. Media menyebutnya "rocked the creative world." 

Mengapa? Karena Austin mengatakan sesuatu yang jarang dikatakan orang: Tidak ada yang namanya kreativitas orisinal. Semua seniman mencuri. 

Terdengar kontroversial? Mungkin. Tapi juga membebaskan. 

Dari presentasi viral itu, lahirlah buku kecil yang luar biasa ini. Sebuah manifesto untuk siapa saja yang ingin lebih kreatif—seniman, penulis, musisi, entrepreneur, atau siapa pun yang ingin menciptakan sesuatu. 

Buku ini bukan untuk jenius. Buku ini untuk orang biasa yang ingin membuat karya luar biasa. Seperti kata Austin: "Kamu tidak perlu jadi jenius. Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri."


Bagian 1: Mencuri Seperti Seniman 

Tidak Ada yang Orisinal 

Picasso pernah berkata: "Art is theft." T.S. Eliot menulis: "Penyair imatur meniru; penyair matang mencuri." 

Mereka bukan mendukung plagiarisme. Mereka mengatakan kebenaran yang jarang diakui: Tidak ada yang benar-benar orisinal. Semua karya kreatif dibangun di atas apa yang ada sebelumnya. 

Ketika orang menyebut sesuatu "orisinal," sembilan dari sepuluh kali mereka hanya tidak tahu referensinya. Mereka tidak tahu sumber aslinya. 

Beatles? Mereka mulai sebagai cover band. Steve Jobs? Dia bilang Macintosh "mencuri" ide dari Xerox. Setiap film karya Quentin Tarantino adalah pastiche dari puluhan film yang ia cintai. 

Tidak ada yang datang dari ketiadaan. Setiap ide adalah mashup atau remix dari satu atau lebih ide sebelumnya. 

Dan ini bukan hal yang menyedihkan. Ini membebaskan! 

Jika tidak ada yang orisinal, Anda tidak perlu stres tentang menciptakan sesuatu yang "belum pernah ada sebelumnya." Tekanan itu hilang. Anda bebas untuk mulai. 

Perbedaan Antara Mencuri dan Meniru 

Tapi tunggu—bukankah mencuri itu salah? 

Ini perbedaannya: 

Meniru = menyalin permukaan tanpa memahami. Kamu membuat sesuatu yang terlihat sama, tapi tidak punya jiwa. 

Mencuri = reverse-engineering. Kamu membongkar karya yang kamu kagumi untuk memahami cara kerjanya. Kamu tidak mencuri hasilnya, kamu mencuri pemikirannya. 

Seperti mekanik yang membongkar mobil untuk melihat bagaimana mesinnya bekerja. Seperti musisi yang mempelajari tangga nada. Seperti pelukis yang mereproduksi karya master untuk belajar teknik. 

Jangan curi gaya. Curi cara berpikir di balik gaya itu. 

Kamu tidak ingin terlihat seperti pahlawanmu. Kamu ingin melihat seperti pahlawanmu—melihat dunia dengan cara mereka melihatnya.

Bangun Pohon Leluhurmu 

Inilah latihan praktis dari Austin: 

1. Pilih satu pemikir/seniman/penulis yang benar-benar kamu cintai. 

2. Pelajari semua yang bisa kamu pelajari tentang orang itu. 

3. Cari tahu tiga orang yang orang itu cintai. 

4. Pelajari mereka juga. 

5. Ulangi. 

Ini seperti membangun family tree kreatif. Kamu naik ke pohon setinggi yang kamu bisa. Kamu mempelajari warisan kreatif yang membentuk pahlawanmu. 

Dan kemudian? Kamu mulai cabangmu sendiri. 

Penulis Wilson Mizner berkata: "Jika kamu menyalin dari satu penulis, itu plagiarisme. Tapi jika kamu menyalin dari seratus, itu riset." 

Jangan mencuri dari satu sumber. Curi dari ratusan. Campur mereka semua. Tambahkan dirimu ke dalam campuran. Itulah saat sesuatu yang baru muncul. 

Koleksi adalah Kreativitas 

Kamu hanya akan sebaik hal-hal yang kamu kelilingi. 

Jadi tugasmu adalah mengumpulkan ide-ide bagus. Buku-buku bagus. Seni yang bagus. Musik yang bagus. 

Austin menyebutnya "swipe file"—file barang yang layak dicuri. Setiap kali kamu melihat sesuatu yang menarik, simpan. Screenshot. Potong dari majalah. Simpan kutipan. Buat arsip inspirasi. 

Wartawan koran menyebutnya "morgue file"—tempat kamu menyimpan hal-hal mati yang nanti akan kamu hidupkan kembali dalam karyamu. 

"Lebih baik mengambil apa yang bukan milikmu daripada membiarkannya terbengkalai terabaikan."


Bagian 2: Jangan Tunggu Sampai Kamu Tahu Siapa Dirimu 

Imposter Syndrome itu Normal 

Ini definisi klinisnya: "Fenomena psikologis di mana orang tidak bisa menginternalisasi pencapaian mereka." 

Artinya, kamu merasa seperti penipu. Seperti kamu hanya berpura-pura. Seperti kamu tidak benar-benar tahu apa yang kamu lakukan. 

Kabar baiknya? Semua orang merasa begitu. 

Bahkan orang-orang sukses yang kamu kagumi. Mereka semua mulai tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka semua merasa seperti penipu. 

Perbedaannya? Mereka tetap membuat karya. Mereka tidak menunggu sampai merasa "siap."

Fake It 'Til You Make It 

Ada dua cara untuk menggunakan prinsip ini: 

1. Berpura-pura jadi sesuatu yang kamu bukan sampai kamu benar-benar menjadi itu. Fake it sampai kamu sukses, sampai semua orang melihatmu seperti yang kamu inginkan. 

2. Berpura-pura membuat sesuatu sampai kamu benar-benar membuat sesuatu. 

Tidak ada yang dilahirkan dengan gaya atau suara. Kita tidak keluar dari rahim sudah tahu siapa kita. 

Di awal, kita belajar dengan berpura-pura menjadi pahlawan kita. Kita belajar dengan menyalin. 

Ini bukan tentang plagiarisme—ini tentang latihan. Ini tentang memahami bagaimana sesuatu bekerja. 

Kita belajar menulis dengan menyalin alfabet. Musisi belajar dengan mempraktikkan tangga nada. Pelukis belajar dengan mereproduksi masterpiece. 

Bahkan Beatles mulai sebagai cover band.

Mulai dengan Meniru, Berakhir dengan Menemukan Diri 

Proses kreatif berjalan seperti ini: 

Copy → Transform → Combine 

Pertama, kamu menyalin. Kamu meniru pahlawanmu. Kamu mencoba terlihat seperti mereka. 

Tapi karena kamu bukan mereka—karena kamu punya perspektif unik, pengalaman unik, keterbatasan unik—hasilnya akan berbeda. Kegagalanmu dalam meniru sempurna adalah di mana gaya pribadimu muncul. 

Kemudian kamu transform—kamu mulai mengubah apa yang kamu salin untuk membuatnya lebih sesuai denganmu. 

Akhirnya, kamu combine—kamu menggabungkan berbagai pengaruh dengan caramu sendiri. Dan voila! Kamu menemukan suaramu. 

Tapi kamu tidak akan pernah menemukan suara itu jika kamu menunggu sampai "siap." Kamu harus mulai sekarang.

 


Bagian 3: Tulis Buku yang Ingin Kamu Baca

Buat Karya untuk Dirimu Sendiri Dulu 

Ini adalah manifesto Austin Kleon: 

Gambar seni yang ingin kamu lihat. Mulai bisnis yang ingin kamu jalankan. Mainkan musik yang ingin kamu dengar. Tulis buku yang ingin kamu baca. Bangun produk yang ingin kamu gunakan. Lakukan karya yang ingin kamu lihat dilakukan. 

Jangan tanya, "Apa yang akan laku?" Tanya, "Apa yang ingin aku lihat di dunia?" 

Ketika Drew Nikonowicz menyadari bahwa tidak ada situs web yang memberikan informasi film dengan cara yang ia inginkan, ia membuat IMDb. 

Ketika James Dyson frustasi dengan vacuum cleaner yang tersumbat, ia menghabiskan lima tahun menciptakan vacuum tanpa kantong. 

Masalahmu adalah peluangmu. Jika kamu menginginkan sesuatu yang tidak ada, kemungkinan besar orang lain juga menginginkannya. 

Tulis untuk Satu Orang 

Jangan coba membuat semua orang senang. Kamu akan berakhir membuat tidak ada yang senang. 

Sebaliknya, buat untuk satu orang spesifik. Mungkin versi dirimu yang lebih muda. Mungkin temanmu. Mungkin seseorang yang kamu tahu akan benar-benar menghargai ini. 

Ketika Austin menulis bukunya, ia membayangkan berbicara pada dirinya di masa lalu. "Ini adalah hal-hal yang saya harap seseorang telah memberitahu saya." 

Ironinya? Ketika kamu menulis untuk satu orang dengan tulus, kamu akhirnya berbicara kepada ribuan.


Bagian 4: Gunakan Tanganmu 

Komputer Membunuh Kreativitas 

Ini statement kontroversial dari Austin: "Komputer tidak bagus untuk menghasilkan ide." 

Mengapa? Karena terlalu banyak kesempatan untuk menekan delete. Komputer membawa perfeksionis yang kaku dalam diri kita—kita mulai mengedit ide sebelum kita memilikinya. 

Komputer menempatkan "selembar kaca" antara kita dan karya kita. Mengetik tombol keyboard tidak terasa seperti membuat sesuatu. Itu terasa abstrak. 

Analog + Digital = Kreativitas 

Solusi Austin: Punya dua meja. 

Meja 1: Analog. Di sini kamu membuat kekacauan. Pena. Kertas. Gunting. Lem. Marker. Kamu mencoret-coret. Kamu memotong dan menempel. Kamu menggunakan tanganmu. 

Di meja analog, tidak ada undo button. Tidak ada delete key. Kesalahan adalah bagian dari proses. Kamu bereksperimen tanpa takut. 

Meja 2: Digital. Di sini kamu mengedit. Kamu merapikan. Kamu memublikasikan ke dunia. 

Komputer sangat bagus untuk mengedit dan mempublikasikan. Tapi tidak bagus untuk menghasilkan. 

"Tangan adalah perangkat digital original." Gunakan mereka. 

Libatkan Tubuhmu 

John Cleese berkata: "Kita tidak tahu dari mana kita mendapat ide kita. Yang kita tahu adalah kita tidak mendapatkannya dari laptop kita." 

Cari cara untuk membawa tubuhmu ke dalam karyamu: 

  • Jika kamu penulis, tulis tangan draft pertama
  • Jika kamu desainer, sketch di kertas
  • Jika kamu programmer, gambar flowchart di whiteboard
  • Jika kamu musisi, mainkan instrumen fisik

Kreativitas adalah pengalaman seluruh tubuh. Jangan hanya gunakan otakmu.


Bagian 5: Proyek Sampingan dan Hobi itu Penting

Pekerjaan yang Kamu Lakukan Saat Menunda Adalah Karya Sejatimu 

Designer Jessica Hische punya kutipan yang cemerlang: "Pekerjaan yang kamu lakukan saat menunda mungkin adalah pekerjaan yang seharusnya kamu lakukan seumur hidupmu." 

Perhatikan apa yang kamu lakukan di waktu luangmu. Ketika tidak ada yang memintamu melakukannya. Ketika tidak ada yang membayarmu. 

Itulah passionmu yang sejati. 

Hobby Memberi, Tidak Mengambil 

Perbedaan antara hobi dan pekerjaan: 

Hobi = sesuatu yang memberi tanpa mengambil. Kamu melakukannya karena kamu suka. Tidak ada tekanan. Tidak ada deadline. Tidak ada ekspektasi. 

Pekerjaan = sesuatu yang juga mengambil. Energi. Waktu. Kadang kebahagiaan. Hobi membuat kamu tetap waras. Mereka mengisi ulang tangki kreativitasmu. 

Austin membuat musik hanya untuk dirinya dan teman-temannya. Bukan untuk dunia. Sementara seninya untuk dunia, musiknya hanya untuk kesenangan. 

Jangan Buang Passionmu 

"Jika kamu punya dua atau tiga passion sejati, jangan merasa harus memilih di antara mereka. Jangan buang. Simpan semua passion dalam hidupmu." 

Dunia akan memberitahumu untuk "fokus." Untuk "pilih satu hal." 

Tapi apa yang menyatukan karyamu bukanlah tema tunggal. Yang menyatukan karyamu adalah fakta bahwa kamu yang membuatnya. 

Steve Jobs adalah ahli kaligrafi DAN insinyur komputer. Kombinasi itu menghasilkan keindahan desain Mac. 

Penjaga toko siang hari bisa jadi novelis malam hari. Ibu rumah tangga bisa jadi blogger makanan. Programmer bisa jadi musisi. 

Jangan buang bagian dari dirimu. Biarkan mereka semua bermain bersama.


Bagian 6: Rahasia: Lakukan Karya Bagus dan Bagikan

Tidak Ada Lagi Formula Rahasia 

Dulu ada formula: pelajari keahlian, cari agen, tandatangani kontrak, promosikan melalui media tradisional. 

Sekarang? Internet telah mendemokratisasi segala sesuatu. 

Kamu tidak perlu izin dari gatekeeper. Kamu tidak perlu menunggu seseorang "menemukan" mu. 

Rahasianya sangat sederhana: Lakukan karya bagus. Bagikan dengan orang. Ulangi.

Dua Langkah Sederhana 

Langkah 1: Lakukan karya bagus. 

Tidak ada jalan pintas di sini. Kamu harus benar-benar baik dalam apa yang kamu lakukan. Kamu harus menaruh waktu, latihan, dedikasi. 

Tapi "bagus" itu relatif. Kamu tidak perlu menjadi yang terbaik di dunia. Kamu hanya perlu cukup bagus untuk layak diperhatikan. 

Langkah 2: Bagikan. 

Letakkan karyamu di tempat orang bisa melihatnya. Blog. Instagram. YouTube. Medium. Portfolio online. 

Tapi jangan cuma posting karya. Bagikan prosesmu. Bagikan pemikiranmu. Bagikan apa yang kamu pelajari. 

Ketika Kamu Tidak Dikenal, Kamu Bebas 

Ada tekanan nol ketika kamu tidak dikenal. Kamu bisa bereksperimen. Kamu bisa gagal. Tidak ada yang menonton. 

Gunakan waktu ini dengan bijak. Bereksperimenlah sebanyak mungkin. Temukan gaya mu. Temukan suaramu. 

Dan terus bagikan. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Tahun demi tahun. 

Konsistensi mengalahkan bakat. Orang yang terus muncul dan terus berbagi pada akhirnya akan diperhatikan.


Bagian 7: Geografi Bukan Lagi Penguasa Kita

Internet Meruntuhkan Tembok 

Dulu, jika kamu ingin jadi seniman, kamu harus pindah ke New York atau LA. Jika kamu ingin jadi penulis, kamu harus ke Paris atau London. Jika kamu ingin jadi musisi, kamu harus di Nashville atau Seattle. 

Tidak lagi

Internet berarti kamu bisa tinggal di mana saja dan terhubung dengan siapa saja. Komunitasmu bukan lagi dibatasi oleh lokasi geografis. 

Austin tinggal di Austin, Texas—bukan pusat dunia seni. Tapi ia terhubung dengan ribuan seniman, penulis, dan kreatif di seluruh dunia melalui internet. 

Tapi Tempat Masih Penting 

Meski internet memberi kebebasan, tempat fisikmu tetap penting untuk kreativitas.

"Temukan tempat yang memberi makan mu—secara kreatif, sosial, spiritual, dan literal." 

Beberapa tempat membuat otakmu bekerja lebih keras. Beberapa kota punya energi yang tepat. Beberapa lingkungan menginspirasi. 

Dan kadang kamu hanya perlu pindah. Tidak selamanya—hanya cukup lama untuk menggoyang otakmu. 

Perjalanan Membuat Dunia Terlihat Baru 

"Perjalanan membuat dunia terlihat baru, dan ketika dunia terlihat baru, otak kita bekerja lebih keras." 

Ketika kamu di lingkungan yang sama setiap hari, otakmu jadi autopilot. Semua familiar. Tidak ada stimulasi. 

Tapi ketika kamu pergi ke tempat baru—bahkan hanya kota tetangga—otakmu terbangun. Semuanya terasa berbeda. Pola lama rusak. 

Kamu tidak perlu pergi ke Paris atau Tokyo. Kadang cukup pergi ke coffee shop berbeda di kota lain. 

Kuncinya adalah membuat otakmu tidak nyaman. Dan perjalanan adalah cara paling mudah untuk melakukan itu.


Bagian 8: Jadilah Baik (Dunia Adalah Kota Kecil)

Internet Membuat Dunia Lebih Kecil 

Di era analog, kamu bisa jadi bajingan dan mungkin lolos. Orang di satu kota tidak tahu reputasimu di kota lain. 

Tidak lagi. Di dunia yang hyperconnected ini, reputasimu mengikutimu ke mana-mana. 

Tweet yang kamu hapus? Seseorang sudah screenshot. Email kasar yang kamu kirim? Bisa jadi viral. 

Dunia terasa besar, tapi sebenarnya kecil. Industri kreatif bahkan lebih kecil. Semua orang kenal semua orang. 

Jadilah Orang yang Orang Lain Ingin Bekerja Sama 

Ada talenta di mana-mana. Yang langka adalah orang berbakat yang juga: 

  • Menyenangkan diajak bekerja
  • Reliable
  • Sopan
  • Menghormati waktu orang lain
  • Mengucap terima kasih

"Jadilah orang yang ingin kamu lihat di dunia." Golden rule bahkan lebih golden di dunia digital. 

Berhenti Berkelahi, Mulai Menciptakan 

Mudah sekali untuk menghabiskan energi mengkritik, berkelahi di kolom komentar, membuktikan orang lain salah. 

Tapi itu menguras energi kreatifmu. 

Alihkan amarahmu menjadi karya kreatif. Buat sesuatu sebagai respons, bukan tweet marah. 

Jika kamu benci film buruk, buat film yang lebih baik. Jika kamu frustrasi dengan musik saat ini, buat musik yang ingin kamu dengar. 

Kritik yang terbaik adalah karya yang lebih baik.

Tunjukkan Apresiasi 

Ketika kamu melihat karya bagus, katakan sesuatu. Kirim email. Tweet. Tulis review. Bagikan. 

Orang sering meremehkan kekuatan apresiasi sederhana. Note kecil "Saya suka karya Anda" bisa membuat hari seseorang. 

Dan karma itu nyata. Orang yang murah hati dengan pujian sering menerima kembali.


Bagian 9: Jadilah Membosankan (Ini Satu-satunya Cara untuk Menyelesaikan Pekerjaan) 

Kreativitas Membutuhkan Rutinitas 

Ini kebenaran yang tidak populer: Seniman sukses itu membosankan. 

Mereka bangun jam yang sama. Bekerja di tempat yang sama. Makan makanan yang sama. Pakai baju yang sama. 

Mengapa? Karena mereka tidak ingin menggunakan energi mental untuk keputusan kecil. Mereka menyimpan semua energi kreatif mereka untuk karya. 

Punya Pekerjaan Harian

"Jadilah membosankan. Ini satu-satunya cara untuk menyelesaikan pekerjaan."

Banyak seniman besar punya day job: 

  • T.S. Eliot bekerja di bank
  • Kurt Vonnegut menjual mobil
  • Harper Lee bekerja sebagai resevationis penerbangan

Day job memberi: 

1. Jadwal rutin - Kamu terpaksa displin 

2. Pendapatan stabil - Tidak ada stress finansial yang melumpuhkan kreativitas 3. Materi - Kamu bertemu orang, melihat sisi kehidupan yang berbeda 4. Batasan waktu - Kamu harus efisien dengan waktu kreatifmu

Tetapkan Jadwal, Patuhi Itu 

Orang kreatif suka romantisasi tentang "menunggu inspirasi." Tentang bekerja kapan "moodnya datang." 

Itu resep untuk tidak menyelesaikan apa-apa. 

Profesional tidak menunggu mood. Mereka tetap pada jadwal. 

Tulis setiap pagi dari jam 6-8. Lukis setiap Sabtu. Latihan musik setiap hari setelah makan malam. 

Jadwal menghilangkan keputusan. Kamu tidak perlu "merasa mau." Kamu hanya duduk dan mulai. 

Dan inilah rahasianya: Inspirasi datang saat kamu bekerja, bukan sebelumnya.


Bagian 10: Kreativitas adalah Pengurangan 

Ketakutan akan Kertas Kosong 

Tidak ada yang lebih melumpuhkan daripada "kemungkinan tak terbatas." Kertas kosong. Kanvas putih. Dokumen baru. Semua kemungkinan terbuka. Dan kamu beku. Tidak bisa mulai. 

Mengapa? Karena terlalu banyak pilihan. 

Batasan Membebaskan 

Inilah paradoks kreativitas: Cara mengatasi blok kreatif adalah dengan menempatkan batasan pada dirimu sendiri. 

Kedengarannya kontra-intuitif, tapi dalam karya kreatif, keterbatasan berarti kebebasan. Contoh: 

  • Dr. Seuss menulis "The Cat in the Hat" dengan hanya 236 kata berbeda. Editornya bertaruh dia tidak bisa menulis buku dengan hanya 50 kata. Dr. Seuss memenangkan taruhan dengan "Green Eggs and Ham"—salah satu buku anak terlaris sepanjang masa.
  • Tulis lagu saat makan siang—kamu punya 30 menit.
  • Lukis lukisan dengan hanya satu warna.
  • Buat film dengan iPhone dan beberapa teman.
  • Buat bisnis tanpa modal awal.

Pilih Apa yang Ingin Kamu Tinggalkan 

"Dalam era kelimpahan informasi dan overload, mereka yang maju adalah yang tahu apa yang harus ditinggalkan." 

Kreativitas bukan hanya tentang apa yang kamu masukkan. Seringkali, yang membuat seni menarik adalah apa yang kamu tinggalkan. 

Apa yang tidak ditampilkan vs apa yang ditampilkan.

Fokus adalah superpower. Di dunia di mana semua orang mencoba melakukan segalanya, orang yang fokus pada satu hal menonjol. 

Mulai dengan Apa yang Kamu Punya 

Jangan membuat excuse tentang tidak memiliki: 

  • Peralatan yang tepat
  • Tempat yang sempurna
  • Waktu yang cukup
  • Uang yang cukup

Buat dengan waktu, ruang, dan material yang kamu punya, sekarang juga.

Mulai dengan apa yang ada. Perbaiki sambil berjalan.


Penutup: Sekarang Kembali ke Pekerjaan 

Austin Kleon menutup bukunya dengan pengingat sederhana: Sekarang kembali ke pekerjaan. 

Semua nasihat di dunia tidak ada gunanya jika kamu tidak membuat sesuatu. Buku ini bukan tentang teori. Ini tentang praktek. 

10 prinsip untuk diingat: 

1. Steal like an artist - Semua seniman mencuri. Curi dari yang terbaik. Remix dan buat jadi milikmu. 

2. Don't wait - Jangan tunggu sampai kamu "siap." Mulai sekarang. Cari tahu sambil jalan. 

3. Write the book you want to read - Buat karya untuk dirimu sendiri dulu. Jika kamu suka, orang lain mungkin juga. 

4. Use your hands - Komputer bagus untuk editing, tapi gunakan tangan untuk creating. Analog dulu, digital kemudian. 

5. Side projects matter - Hobi dan proyek sampingan sering menunjukkan passion sejatimu. Jangan buang mereka. 

6. Share your work - Lakukan karya bagus dan bagikan. Konsisten mengalahkan kesempurnaan. 

7. Geography is no master - Kamu bisa tinggal di mana saja. Internet adalah komunitasmu. 

8. Be nice - Dunia itu kecil. Reputasimu mengikutimu. Jadilah orang yang orang ingin bekerja sama. 

9. Be boring - Rutinitas dan disiplin adalah rahasia produktivitas. Simpan energi untuk karya, bukan keputusan kecil. 

10. Creativity is subtraction - Batasan membebaskan. Fokus pada apa yang penting. Tinggalkan sisanya.

Satu Hal Lagi 

Austin ingin kamu tahu ini: Kamu tidak perlu izin untuk menjadi kreatif. 

Kamu tidak perlu gelar. Tidak perlu studio mewah. Tidak perlu alat mahal. Tidak perlu seseorang yang "menemukan" mu. 

Kamu hanya perlu mulai. 

Buat sesuatu. Bagikan. Dapatkan feedback. Buat lagi. Bagikan lagi. 

Ulangi selama bertahun-tahun. Itulah karir kreatif. 

Tidak ada momen dramatis di mana tiba-tiba kamu menjadi "seniman." Kamu menjadi seniman dengan membuat seni. Hari demi hari. Karya demi karya. 

Jadi berhenti membaca dan mulai membuat. 

Dunia sedang menunggu karya yang hanya kamu bisa ciptakan.


Tentang Buku Asli 

Steal Like an Artist: 10 Things Nobody Told You About Being Creative ditulis oleh Austin Kleon dan pertama kali diterbitkan pada tahun 2012. 

Buku ini menjadi New York Times Bestseller dan telah terjual jutaan kopi di seluruh dunia. 

Austin Kleon adalah seniman dan penulis yang terkenal dengan "newspaper blackout poetry"—puisi yang dibuat dengan menggelapkan kata-kata dari artikel koran dengan spidol permanen, menyisakan hanya kata-kata terpilih yang membentuk puisi baru. 

Bukunya yang lain termasuk "Show Your Work!" dan "Keep Going"—ketiganya membentuk trilogi tentang kreativitas di era digital. 

Untuk pemahaman yang lebih dalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Buku fisiknya sangat indah—penuh ilustrasi hand-drawn, kutipan visual, dan desain yang membuat membaca menjadi pengalaman yang menyenangkan. 

Ringkasan ini memberikan overview dari konsep-konsep utama, tetapi buku asli mengandung banyak contoh tambahan, anekdot personal Austin, dan latihan praktis yang akan membantu kamu mengaplikasikan prinsip-prinsip ini dalam hidupmu. 

Sekarang tutup ini dan buat sesuatu. 

Apapun. Hanya buat. 

Dunia membutuhkan karyamu.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Love for Imperfect Things
Back to top

Similar books