Surrounded by Idiots
by Thomas Erikson · December 2025 · 15 min read
"Siapa yang Merekrut Semua Idiot Ini?"
Table of contents
"Siapa yang Merekrut Semua Idiot Ini?"
Sture adalah pengusaha sukses. Bisnisnya berkembang pesat. Angka penjualan bagus. Tapi ada masalah besar: ia tidak bisa bekerja sama dengan siapapun di kantornya.
Ketika Thomas Erikson, konsultan komunikasi, pertama kali bertemu Sture untuk konsultasi, pria itu duduk di belakang mejanya dengan wajah frustrasi.
"Saya dikelilingi oleh idiot," keluhnya. "Orang-orang di kantor ini tidak mengerti instruksi sederhana. Mereka lamban. Mereka bertele-tele. Mereka tidak bisa membuat keputusan."
Thomas mendengarkan dengan saksama. Lalu ia mengajukan pertanyaan yang mengubah segalanya.
"Anda punya sistem lampu di pintu ruangan Anda, kan? Merah, kuning, hijau—untuk menunjukkan kapan orang boleh masuk?"
"Ya," jawab Sture. "Merah berarti jangan ganggu. Kuning berarti tunggu. Hijau berarti silakan masuk."
"Dan orang-orang mengikutinya?"
"Tidak!" Sture meledak. "Itulah masalahnya! Orang-orang ini idiot. Lampu merah menyala, tapi mereka tetap mengetuk pintu. Atau mereka melihat lampu hijau dan... mereka tidak masuk! Mereka berdiri di luar menunggu!"
Thomas diam sejenak. Lalu ia bertanya pertanyaan yang membuat Sture marah sekaligus membuka matanya:
"Siapa yang merekrut semua idiot ini?"
Tentu saja, Sture sendiri yang merekrut mereka.
Pertanyaan sebenarnya bukan "Mengapa semua orang di sini idiot?" Pertanyaan sebenarnya adalah: "Mengapa saya tidak bisa memahami mereka?"
Setelah pertemuan yang canggung itu (Sture hampir mengusir Thomas), Thomas mulai berpikir. Ia menyadari bahwa masalah bukan pada karyawan Sture. Masalahnya adalah Sture melihat dunia hanya dari satu perspektif—perspektifnya sendiri. Dan setiap orang yang tidak berpikir atau bertindak seperti dia dianggap "idiot."
Dari momen itu, Thomas mendedikasikan karirnya untuk membantu orang memahami satu kebenaran fundamental: Orang yang kita anggap idiot sebenarnya bukan idiot. Mereka hanya berbeda dari kita.
Bagian 1: Empat Warna, Empat Dunia
Thomas Erikson menggunakan sistem warna untuk menjelaskan empat tipe kepribadian dasar manusia. Sistem ini berdasarkan model DISC yang dikembangkan oleh psikolog William Moulton Marston pada tahun 1920-an, tetapi Thomas mengadaptasinya dengan cara yang lebih mudah diingat dan diterapkan.
Mengapa warna?
Karena manusia mengingat warna lebih baik daripada istilah teknis. Lebih mudah mengingat "Dia orang Merah" daripada "Dia tipe Dominant."
Empat warna itu adalah:
- Merah (Dominan) - Tegas, berorientasi pada hasil, suka kontrol
- Kuning (Inspiring) - Sosial, optimis, ekspresif
- Hijau (Stabil) - Tenang, ramah, menghindari konflik
- Biru (Analitis) - Teliti, detail, perfeksionis
Yang penting untuk dipahami: Hanya 5% orang yang murni satu warna. Lebih dari 80% orang adalah kombinasi dua warna. Sisanya—15%—kombinasi tiga warna.
Tapi untuk memahami kombinasi, kita harus memahami setiap warna secara individual terlebih dahulu. Seperti resep kue—kita perlu mengerti semua bahan sebelum memanggang.
Mari kita bedah satu per satu.
Bagian 2: Merah—Si Penguasa yang Tidak Sabar
Bayangkan seseorang yang:
- Masuk ke ruangan dan langsung mengambil alih
- Berbicara dengan tegas dan to the point
- Tidak punya waktu untuk small talk
- Membuat keputusan cepat tanpa banyak konsultasi
- Jabat tangannya kuat dan tatapan matanya intens
Itu adalah orang Merah.
Karakteristik Inti
Ekstrovert dan Task-Oriented
Orang Merah fokus pada hasil, bukan pada proses atau perasaan. Mereka bertanya: "Apa yang perlu diselesaikan?" dan "Kapan deadline-nya?" bukan "Bagaimana perasaan semua orang tentang ini?"
Mereka ekstrovert dalam arti mereka tidak takut konfrontasi dan dengan percaya diri menyatakan pendapat mereka. Tapi berbeda dengan Kuning, mereka tidak butuh persetujuan sosial atau ingin semua orang menyukai mereka.
Ambisius dan Kompetitif
Merah dilahirkan dengan dorongan untuk menang. Mereka melihat hampir segala sesuatu sebagai kompetisi—bahkan percakapan biasa bisa terasa seperti pertandingan siapa yang benar.
Mereka sering berada di posisi kepemimpinan, bukan karena mereka haus kekuasaan atau prestise, tetapi karena mereka tidak suka dikontrol orang lain. Mereka berpikir, "Tidak ada yang akan memberitahu saya apa yang harus dilakukan—saya sudah tahu cara terbaik."
Tidak Sabar dengan Detail
Tanyakan pada orang Merah tentang detail proyek, dan mereka akan kesal. "Saya tidak peduli HOW kau melakukannya. Saya peduli bahwa kau MELAKUKANNYA."
Mereka big picture thinkers yang ingin tahu: "Apa intinya? Apa hasilnya? Kapan selesai?"
Cara Berkomunikasi dengan Merah
DO:
- Langsung ke intinya. Jangan berbelit-belit.
- Fokus pada hasil dan fakta
- Beri mereka pilihan, bukan perintah ("Kita bisa pilih A atau B" lebih baik dari "Kamu harus lakukan A")
- Jadilah percaya diri—mereka menghormati orang yang bisa stand their ground
- Efisien dengan waktu—meeting 10 menit lebih baik dari 2 jam
DON'T:
- Jangan bertele-tele atau bercerita panjang lebar
- Jangan terlalu emosional atau personal
- Jangan micromanage—beri mereka otonomi
- Jangan ambil sikap defensif mereka secara personal
Contoh Email ke Merah:
BURUK: "Hai! Apa kabar? Semoga akhir pekanmu menyenangkan. Jadi, aku mau cerita tentang proyek kemarin. Ada beberapa hal yang terjadi, dan aku pikir kita perlu diskusi..."
BAGUS: "Proyek X: Perlu keputusan Anda. Opsi A atau B? Deadline Jumat. Lampiran terlampir."
Kelemahan Merah (Persepsi Orang Lain)
- Overbearing: Mereka suka mengontrol, yang bisa membuat orang lain merasa tidak punya otonomi
- Insensitif: Mereka tidak subtle ketika bosan atau tidak setuju. Wajah mereka mengatakan semuanya
- Egois: Mereka fokus pada agenda mereka sendiri dan kadang lupa bahwa orang lain punya kebutuhan
Tapi ingat: Ini persepsi, bukan niat. Merah tidak mencoba menjadi jahat. Mereka hanya sangat fokus pada efisiensi dan hasil.
Bagian 3: Kuning—Si Optimis yang Tidak Bisa Diam
Masuk ke pesta. Dengar seseorang tertawa keras, menceritakan kisah lucu, dikelilingi orang? Itu pasti orang Kuning.
Karakteristik Inti
Ekstrovert dan People-Oriented
Kuning adalah "people person" sejati. Mereka mendapatkan energi dari interaksi sosial. Mereka BUTUH berbicara dengan orang. Diam sendirian terlalu lama membuat mereka gila.
Berbeda dengan Merah yang fokus pada task, Kuning fokus pada relasi. Mereka bertanya: "Apakah semua orang bahagia?" dan "Apakah ini menyenangkan?"
Optimis dan Antusias
Kuning melihat dunia melalui kacamata berwarna rose. Gelas mereka selalu setengah penuh. Bahkan ketika proyek gagal, mereka akan berkata, "Setidaknya kita belajar sesuatu! Dan kita bersenang-senang, kan?"
Antusiasme mereka menular. Mereka bisa membuat meeting membosankan menjadi menyenangkan. Mereka bisa mengangkat mood tim yang sedang down.
Impulsif dan Spontan
Kuning tidak suka planning detail. Mereka lebih suka "let's just do it and see what happens!" Ini bisa menghasilkan inovasi kreatif... atau kekacauan total.
Mereka juga mudah terdistraksi. Tengah meeting serius, mereka bisa tiba-tiba berkata, "Oh, omong-omong, aku lihat restoran baru yang harus kita coba!"
Cara Berkomunikasi dengan Kuning
DO:
- Mulai dengan small talk—tanyakan kabar mereka
- Buat percakapan menyenangkan dan energik
- Gunakan storytelling dan contoh personal
- Beri mereka pujian dan recognition (mereka butuh ini!)
- Beri mereka freedom untuk berekspresi dan berkreasi
- Jadilah antusias—energi mereka cocok dengan energi
DON'T:
- Jangan terlalu formal atau kaku
- Jangan hanya fokus pada data dan fakta kering
- Jangan kritik mereka di depan umum (mereka sangat sensitif terhadap penolakan sosial)
- Jangan expect mereka punctual atau sangat detail
Contoh Email ke Kuning:
BURUK: "Terlampir laporan keuangan Q3. Mohon review angka di spreadsheet dan konfirmasi keakuratan data."
BAGUS: "Hei! Proyek kita kemarin luar biasa! �� Semua orang senang dengan presentasi kamu. Ada beberapa hal seru yang mau aku diskusikan—kopi besok?"
Kelemahan Kuning (Persepsi Orang Lain)
- Superficial: Terlalu fokus pada fun, kurang substansi
- Tidak bisa diandalkan: Terlalu banyak janji, kurang follow-through
- Cerewet: Berbicara terlalu banyak, mendengarkan terlalu sedikit
- Tidak fokus: Mudah terdistraksi, sulit menyelesaikan tugas
Realitasnya: Kuning tidak bermaksud mengecewakan. Mereka hanya terlalu optimis tentang apa yang bisa mereka lakukan dan terlalu antusias untuk mengatakan ya pada semuanya.
Bagian 4: Hijau—Si Pendamai yang Menghindari Konflik
Orang Hijau adalah yang paling sulit dikenali—karena mereka paling tidak mencolok.
Mereka duduk diam di meeting. Mereka setuju dengan apapun yang diusulkan. Mereka tidak pernah complain. Mereka... invisible.
Tapi jangan salah. Mereka punya pendapat. Mereka hanya tidak mengatakannya.
Karakteristik Inti
Introvert dan People-Oriented
Hijau peduli tentang orang—seperti Kuning—tapi mereka introvert. Mereka tidak butuh menjadi pusat perhatian. Mereka bahagia di belakang layar, mendukung orang lain.
Mereka excellent listener. Ketika kau berbicara dengan Hijau, mereka benar-benar mendengar—tidak hanya menunggu giliran bicara.
Stabil dan Konsisten
Hijau adalah rock dalam badai. Ketika semua orang panic, Hijau tetap tenang. Ketika ada chaos, Hijau membawa stabilitas.
Mereka tidak suka perubahan. Rutinitas membuat mereka nyaman. Predictability adalah teman mereka.
Menghindari Konflik
Ini adalah karakteristik paling defining dari Hijau: mereka akan melakukan APAPUN untuk menghindari konflik.
Jika ada disagreement, Hijau akan setuju—bahkan jika mereka tidak setuju. Jika ada konfrontasi, Hijau akan mundur. Jika ada kritik, Hijau akan diam... dan kemudian complain di belakang.
Cara Berkomunikasi dengan Hijau
DO:
- Beri mereka waktu untuk berpikir—jangan expect jawaban instant
- Ciptakan safe space di mana mereka bisa berbicara tanpa judgment
- Tunjukkan apresiasi untuk kerja keras mereka (yang sering tidak terlihat)
- Beri advance notice untuk perubahan
- Jadilah patient dan gentle
- Tanyakan pendapat mereka secara langsung—jangan asumsikan diam = setuju
DON'T:
- Jangan paksa mereka untuk quick decision
- Jangan konfrontasi agresif
- Jangan berteriak atau tegang di sekitar mereka
- Jangan abaikan mereka karena mereka diam
Contoh Email ke Hijau:
BURUK: "Proyek berubah total. Meeting besok jam 8 pagi. Siap-siap presentasi. Tidak ada excuse."
BAGUS: "Hei, ada beberapa perubahan kecil di proyek. Aku tahu ini bisa challenging, jadi aku mau diskusi dengan kamu dulu sebelum kita finalize. Kapan waktu yang nyaman untukmu?"
Kelemahan Hijau (Persepsi Orang Lain)
- Passive-aggressive: Tidak konfrontasi langsung, tapi complain di belakang
- Lambat: Terlalu hati-hati, butuh terlalu banyak waktu untuk decide
- Tidak assertive: Tidak bisa say no, jadi overcommit
- Resistant to change: Stuck in their ways
Realitasnya: Hijau bukan tidak punya tulang punggung. Mereka hanya sangat menghargai harmoni dan stability. Konflik membuat mereka stressed.
Bagian 5: Biru—Si Perfeksionis yang Dingin
Orang Biru adalah yang paling misunderstood dari semua tipe.
Mereka sering dianggap "dingin" atau "tidak punya perasaan." Tapi itu tidak benar. Mereka punya perasaan—mereka hanya tidak menunjukkannya.
Karakteristik Inti
Introvert dan Task-Oriented
Seperti Merah, Biru fokus pada task. Tapi tidak seperti Merah yang ingin hasil cepat, Biru ingin hasil yang SEMPURNA.
Mereka introvert yang butuh waktu sendirian untuk berpikir dan bekerja. Social interaction adalah draining bagi mereka.
Analitis dan Detail-Oriented
Biru adalah data people. Mereka ingin fakta, angka, research, evidence. Mereka tidak percaya pada "feeling" atau "intuisi." Mereka percaya pada logika.
Mereka akan membaca seluruh kontrak 100 halaman—dan menemukan typo di halaman 87.
Mereka akan mengecek dan mengecek ulang pekerjaan mereka. Dan ketika mereka pikir sudah sempurna, mereka cek sekali lagi.
Perfeksionis
Biru tidak bisa submit pekerjaan yang "cukup baik." Harus sempurna. Harus akurat. Harus benar 100%.
Ini membuat mereka excellent dalam pekerjaan yang membutuhkan precision—accounting, engineering, programming, research, legal work.
Tapi ini juga membuat mereka lambat. Karena nothing is ever quite perfect enough.
Cara Berkomunikasi dengan Biru
DO:
- Beri mereka data dan fakta
- Jadilah presisi dan akurat
- Beri mereka waktu untuk analyze dan berpikir
- Kirim agenda sebelum meeting
- Hormati kebutuhan mereka untuk space dan privacy
- Jadilah logical, bukan emotional
DON'T:
- Jangan vague atau tidak jelas
- Jangan rush mereka untuk decision
- Jangan terlalu personal atau touchy-feely
- Jangan present information yang tidak accurate
Contoh Email ke Biru:
BURUK: "Proyek kayaknya udah oke deh. Kira-kira 80-90% selesai. Nanti kita lihat aja gimana."
BAGUS: "Status Proyek X: 87% complete. 3 task remaining (detail terlampir). Estimated completion: 14 Nov, 3pm. Budget tracking: 2% under projected. Let me know if you need additional data."
Kelemahan Biru (Persepsi Orang Lain)
- Cold dan tidak empati: Terlalu fokus pada fakta, lupa manusia punya perasaan
- Overcritical: Terlalu fokus pada apa yang salah, bukan apa yang benar
- Slow: Terlalu banyak analysis, terlalu sedikit action (analysis paralysis)
- Rigid: Tidak flexible, terlalu stuck pada "the right way"
Realitasnya: Biru peduli pada orang. Mereka hanya menunjukkannya dengan cara berbeda—dengan memastikan semuanya akurat dan benar, mereka protecting people dari kesalahan.
Bagian 6: Kombinasi Warna dan Dinamika Tim
Ingat: 80% orang adalah kombinasi dua warna. Ini membuat segalanya lebih kompleks—dan lebih menarik.
Kombinasi Umum
Merah-Kuning: Leader yang charismatic. Tegas tapi fun. Bisa jadi CEO yang inspirational—atau boss yang menuntut tapi everyone loves.
Merah-Biru: Efficient perfectionist. Hasil-oriented dan detail-minded. Excellent untuk project manager atau consultant.
Kuning-Hijau: Social tapi gentle. Sangat people-oriented. Great untuk HR atau customer service.
Hijau-Biru: Quiet perfectionist. Reliable dan detail-oriented. Perfect untuk supporting roles yang membutuhkan precision.
Tim yang Ideal
Thomas Erikson menekankan: Tidak ada tim yang baik jika semua orang tipe yang sama.
Bayangkan tim semua Merah: Semua orang mau jadi leader. Tidak ada yang mau execute. Constant power struggle.
Tim semua Kuning: Fun, creative ideas everywhere! Tapi tidak ada yang follow through. Chaos total.
Tim semua Hijau: Semua orang setuju dengan semuanya. Tidak ada yang membuat keputusan. Nothing happens.
Tim semua Biru: Perfect analysis. Perfect planning. Tapi tidak pernah launch karena "belum sempurna."
Tim terbaik adalah mix:
- Merah untuk drive dan leadership
- Kuning untuk creativity dan energy
- Hijau untuk stability dan support
- Biru untuk quality control dan analysis
Bagian 7: Stress dan Konflik—Ketika Warna Clash
Setiap tipe stress dan marah dengan cara berbeda. Memahami ini critical untuk managing conflict.
Ketika Merah Marah
Mereka explode. Loud. Aggressive. Direct.
Mereka akan confront kau langsung dan tell you exactly what the problem is.
Cara Handle:
- Jangan defensive
- Dengarkan tanpa interrupt
- Akui concern mereka
- Fokus pada solusi, bukan excuse
Ketika Kuning Stressed
Mereka menjadi lebih loud, lebih talkative, lebih... desperate untuk connection. Atau, sebaliknya, mereka withdraw totally—yang berarti mereka really stressed.
Cara Handle:
- Validation dan reassurance
- Remind them of past successes
- Inject humor dan lightness
- Give them social support
Ketika Hijau Upset
Kau tidak akan tahu. Mereka diam. Mereka tetap sopan. Tapi inside, mereka frustrated atau hurt.
Dan kemudian kau dengar dari orang lain bahwa Hijau complain tentangmu.
Cara Handle:
- Proactive check-in: "Apakah kamu ok? Really?"
- Create safe space untuk honest conversation
- Patience—mereka butuh waktu untuk express feelings
- Reassurance bahwa kamu tidak akan mad if they're honest
Ketika Biru Stressed
Mereka withdraw. Mereka butuh space. Mereka menjadi lebih critical dan rigid.
Cara Handle:
- Give them space dan time
- Provide data dan clear information
- Don't push for emotional disclosure
- Address issues logically
Bagian 8: Written Communication—Email, Chat, Reports
Thomas dedicated satu chapter untuk written communication karena banyak kerja sekarang virtual.
Email ke Merah:
Subject: URGENT: Decision Needed Body: Project X delayed. Option A: Push deadline 1 week. Option B: Reduce scope. Need your call by EOD.
Email ke Kuning:
Subject: Quick Update—Exciting News! Body: Hey! �� Remember that project we discussed? It's going amazing! Team loved your ideas. Let's grab coffee tomorrow to celebrate and brainstorm next steps?
Email ke Hijau:
Subject: Proyek Update (No Rush) Body: Hi, hope you're doing well. Just wanted to update you on where things are. No immediate action needed from you. Let me know if you have any questions or concerns—I'm here.
Email ke Biru:
Subject: Project Status Report - Week 45 Body: Attached: detailed status report with all metrics, timeline updates, and outstanding items. Please review section 3.2 regarding quality standards. Let me know if you need additional data.
Penutup: Tidak Ada yang Benar-Benar Idiot
Kisah Sture, pengusaha yang merasa "dikelilingi idiot," memiliki ending yang menarik.
Setelah Thomas menjelaskan sistem warna ini padanya, Sture mulai melihat karyawannya dengan cara berbeda.
Asisten yang "terlalu lambat"? Dia orang Hijau yang butuh waktu untuk proses dan menghindari rushing into mistakes.
Manager yang "terlalu cerewet"? Dia orang Kuning yang membangun tim morale dan keeping spirits up.
Akuntan yang "terlalu kaku"? Dia orang Biru yang memastikan tidak ada kesalahan finansial yang could destroy company.
Sture sendiri adalah Merah murni. Dan karena dia hanya melihat dunia dari perspektif Merah, semua orang yang berbeda terlihat seperti idiot.
Tapi begitu dia memahami bahwa orang berbeda bukan berarti salah—mereka hanya berbeda—segalanya berubah.
Pelajaran inti dari buku ini:
1. Tidak ada tipe yang lebih baik dari yang lain. Semua punya strength dan weakness.
2. Komunikasi terjadi di terms pendengar, bukan pembicara. Jika kau ingin didengar, kau harus berbicara dalam bahasa mereka, bukan bahasamu.
3. Diversity adalah kekuatan. Tim terbaik bukan yang semua orang sama, tapi yang combine different strengths.
4. Self-awareness adalah langkah pertama. Sebelum kau bisa understand others, kau harus understand yourself. Apa warnamu? Apa biasmu?
5. Adaptability adalah skill yang bisa dipelajari. Kau tidak harus berubah siapa kau—tapi kau bisa belajar flex communication style-mu untuk different situations.
Jadi, lain kali kau merasa "dikelilingi idiot"—berhenti dan tanya:
Apakah mereka benar-benar idiot? Atau mereka hanya berbeda dariku?
Apakah masalahnya pada mereka? Atau pada cara aku berkomunikasi dengan mereka?
Karena seperti yang Thomas Erikson tulis:
"Orang-orang idiot yang mengelilingimu... bukan idiot sama sekali. Sebaliknya, mereka adalah individu yang layak dihormati, dipahami, dan dihargai."
Sekarang kau punya toolbox. Gunakan dengan bijak.
Kenali warnamu. Kenali warna orang lain. Dan adjust.
Komunikasi yang efektif dimulai dengan understanding.
Tentang Buku Asli
Surrounded by Idiots: The Four Types of Human Behavior (and How to Effectively Communicate with Each in Business and in Life) ditulis oleh Thomas Erikson, konsultan komunikasi dan behavioral expert dari Swedia.
Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Swedia pada 2014, buku ini menjadi runaway bestseller dengan lebih dari 3 juta kopi terjual di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 42 bahasa.
Erikson telah memberikan seminar dan workshop ke perusahaan-perusahaan besar seperti IKEA, Coca-Cola, Microsoft, dan Volvo selama lebih dari 20 tahun.
Sistem yang ia gunakan—DISC (Dominance, Influence, Stability, Compliance) dengan adaptasi warna—bukan penemuan Erikson, tetapi cara ia mempresentasikan dan mengaplikasikannya sangat praktis dan accessible.
Kritik terhadap buku: Beberapa psikolog akademis mengkritik bahwa sistem DISC tidak punya basis ilmiah yang kuat—mirip horoskop. Tapi jutaan pembaca di seluruh dunia menemukan sistem ini practical dan useful dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk pemahaman lebih dalam, sangat disarankan membaca buku aslinya yang penuh dengan anekdot, contoh real-life, dan exercise praktis.
Ringkasan ini memberikan framework inti, tetapi aplikasi sesungguhnya membutuhkan praktek dan observation terus-menerus.
Mulai hari ini: Observe orang di sekitarmu. Apa warna mereka? Bagaimana kau bisa adjust communication style-mu?
Ingat: Memahami orang bukan tentang labeling atau judging. Ini tentang connecting dan communicating better.
Selamat berlatih!