Skip to main content

Tenth of December

by George Saunders · March 2026 · 13 min read

Di Ambang Pilihan yang Mengubah Segalanya

Table of contents

Di Ambang Pilihan yang Mengubah Segalanya 

Bayangkan Anda duduk di sebuah ruangan steril yang serba putih. Di meja depan Anda ada tiga tombol dengan label berbeda. Seorang peneliti berjas lab menjelaskan dengan nada datar: 

"Tombol merah membuat Anda merasakan cinta yang luar biasa kepada orang di ruangan sebelah—yang bahkan tidak Anda kenal. Tombol biru membuat Anda merasakan kebencian mendalam. Tombol hijau? Tidak ada efek. Anda boleh memilih." 

Apa yang akan Anda lakukan? 

Sekarang pertanyaan sebenarnya: Bagaimana jika pilihan Anda tidak sepenuhnya Anda sendiri? Bagaimana jika ada obat yang bisa mengontrol emosi Anda? Bagaimana jika perasaan cinta, benci, atau ketidakpedulian Anda bisa diprogram? 

Apakah keputusan Anda masih bermakna? Apakah Anda masih manusia? 

Inilah dunia yang diciptakan George Saunders dalam "Tenth of December"—kumpulan 10 cerpen yang terasa seperti pukulan di ulu hati, diikuti pelukan hangat, lalu pertanyaan yang tidak bisa Anda lupakan. 

Saunders tidak menulis tentang masa depan yang jauh. Dia menulis tentang sekarang—hanya dengan volume yang dikeraskan. Kapitalisme yang sudah gila menjadi lebih gila. Ketidaksetaraan yang sudah mengerikan menjadi lebih eksplisit. Pilihan moral yang sudah sulit menjadi mustahil. 

Tapi di tengah semua absurditas, satire, dan distopia ringan, Saunders menemukan sesuatu yang mengejutkan: 

Kemanusiaan tetap ada. Kebaikan tetap mungkin. Cinta tetap menang—meskipun dengan cara yang tidak pernah kita duga. 

Mari kita jelajahi dunia ini. Dunia yang terasa asing tapi sangat familiar. Dunia yang membuat kita tertawa, menangis, dan yang paling penting—berpikir tentang siapa kita sebenarnya.


Bagian 1: Victory Lap—Heroisme dalam Bentuk yang Tidak Terduga 

Tiga Perspektif, Satu Momen 

Cerita dibuka dengan Alison Pope—remaja perempuan yang sedang menari di ruang tamu rumahnya. Dia membayangkan dirinya dalam video musik, berputar-putar dengan anggun, merasa sempurna dan bebas. 

Di seberang jalan, Kyle Boot—remaja laki-laki yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat overprotektif—sedang memikirkan kehidupannya yang dikontrol ketat. Setiap pikiran "negatif" harus segera dikoreksi dengan "afirmasi positif." Dia tidak boleh keluar tanpa izin. Tidak boleh berbicara dengan orang asing. Hidupnya adalah aturan dan lebih banyak aturan. 

Lalu ada pria ketiga—yang kita tidak tahu namanya. Dia sedang mengemudikan van putih, mencari korban. 

Tiga kehidupan yang akan bersinggungan dalam beberapa menit. 

Ketika Bencana Datang 

Pria itu mengetuk pintu Alison. Dia membuka. Dalam sekejap, dia diseret ke dalam van. Penculikan. Dalam skenario normal, ini adalah akhir cerita—atau awal dari tragedi yang mengerikan. 

Kyle melihat dari jendela. Dia tahu dia harus berbuat sesuatu. Tapi aturan ayahnya: "Jangan pernah ikut campur. Hubungi otoritas. Jangan jadi pahlawan." 

Konflik internal dimulai. Otak Kyle berputar: 

"Aku harus menolong. Tapi ayah bilang... Tapi dia dalam bahaya. Tapi aku bisa terluka. Tapi jika aku tidak berbuat apa-apa..." 

Dan di momen itu, Kyle membuat keputusan yang akan mendefinisikan siapa dia sebenarnya. Dia berlari keluar. Melompati pagar. Menabrak pria itu dengan seluruh tubuhnya. 

Alison selamat. 

Pelajaran yang Tersembunyi 

Saunders tidak membuat Kyle menjadi pahlawan sempurna. Dia tidak tiba-tiba menjadi berani dan percaya diri. Dia masih takut. Masih ragu. Bahkan setelah menyelamatkan Alison, pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran tentang hukuman dari ayahnya. 

Tapi dia bertindak meskipun takut.

Dan di sinilah Saunders menyampaikan pesan pertama: 

Heroisme bukan tentang tidak takut. Heroisme adalah bertindak meskipun takut. Keberanian adalah ketika sistem—entah aturan orang tua, norma sosial, atau voice dalam kepala kita—berkata "jangan," tapi kita tetap melakukan hal yang benar.


Bagian 2: Puppy—Dua Dunia yang Tidak Pernah Bertemu

Marie: Ibu Kelas Menengah yang "Peduli" 

Marie sedang mencari hadiah ulang tahun untuk putrinya: anak anjing. Dia menemukan iklan di koran dan mengemudi ke pinggiran kota untuk melihat. 

Rumah yang dia datangi sederhana. Halaman berantakan. Mainan berserakan. Seorang wanita bernama Callie menyambutnya—terlihat lelah, pakaian kumal, tapi ramah. 

Marie segera menghakimi. Dalam pikirannya, narasi berjalan: 

"Orang-orang ini miskin. Tidak terorganisir. Anak-anak mereka pasti tidak bahagia. Kasihan. Tapi setidaknya aku bisa memberi anak anjing ini kehidupan yang lebih baik." 

Lalu Marie melihat sesuatu yang mengganggunya: seorang anak laki-laki di halaman belakang, diikat dengan tali panjang ke pohon. 

Hati Marie hancur. "Astaga, mereka memperlakukan anak mereka seperti anjing!" Dia tidak bisa mengambil anjing dari keluarga yang "menyiksa" anak mereka. Dia pergi dengan campuran jijik dan kesedihan. 

Callie: Ibu yang Melakukan yang Terbaik 

Sekarang kita masuk ke kepala Callie. Dan cerita berubah total. 

Anak laki-laki yang diikat itu—Bo—memiliki kondisi medis serius. Dia bisa menyakiti dirinya sendiri. Dia bisa lari ke jalan raya. Dokter menyarankan untuk menguncinya di ruangan, tapi Callie tidak tahan melihat anaknya terkurung di dalam. 

Jadi dia mengikatnya dengan tali panjang di halaman—agar dia bisa bermain di luar, merasakan matahari, tapi tetap aman. 

Ini bukan penyiksaan. Ini adalah cinta dalam bentuk yang tidak konvensional. 

Callie melihat Marie pergi dan dia tahu—dia tahu persis apa yang Marie pikirkan. Tapi dia terlalu lelah untuk menjelaskan. Terlalu lelah untuk membela diri. Dia hanya ingin hari berlalu tanpa Bo menyakiti dirinya sendiri. 

Kesalahpahaman yang Tragis 

Saunders tidak memberi tahu kita siapa yang "benar." Dia hanya menunjukkan:

Kita semua adalah narator yang tidak bisa diandalkan dalam kehidupan orang lain.

Marie melihat penyiksaan di mana ada pengorbanan. Dia melihat kelalaian di mana ada cinta yang putus asa. 

Dan ini terjadi setiap hari. Kita melihat tunawisma dan berpikir "malas." Kita melihat anak yang berperilaku buruk dan berpikir "orang tua yang tidak becus." Kita melihat orang yang berbeda dari kita dan langsung membuat narasi—tanpa pernah tahu cerita sebenarnya. 

Pelajaran: Empati membutuhkan lebih dari sekadar melihat. Empati membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita mungkin tidak tahu apa-apa tentang perjuangan orang lain.


Bagian 3: Tenth of December—Cinta di Momen Terakhir

Don Eber: Pria yang Memilih Kematian 

Don Eber menderita kanker tahap akhir. Pengobatan gagal. Rasa sakitnya tak tertahankan. Hidupnya—yang dulu penuh dengan makna—sekarang hanya menjadi beban bagi keluarganya. 

Dia membuat keputusan: bunuh diri. 

Tapi bukan dengan cara yang dramatis. Dia akan berjalan ke hutan di musim dingin, duduk di dekat kolam yang membeku, dan membiarkan hipotermia mengambil alih. Tenang. Damai. Terkendali. 

Di hari kesepuluh bulan Desember, dia pergi. Berjalan meninggalkan rumah dengan jaket tipis, tanpa pamit. Dia siap mati. 

Robin: Anak Laki-Laki dengan Imajinasi Liar 

Pada hari yang sama, seorang anak laki-laki aneh bernama Robin sedang bermain di hutan—membayangkan dirinya sebagai pahlawan yang menyelamatkan kerajaan. Dia berbicara sendiri, menciptakan skenario fantasi, benar-benar tenggelam dalam dunia imajinasinya. 

Lalu dia melihat Don—duduk di tepi kolam, hampir tidak bergerak, mulai membeku. 

Robin tidak tahu tentang bunuh diri. Dia tidak tahu tentang depresi atau penyakit terminal. Dia hanya tahu: ada orang yang akan mati jika dia tidak bertindak. 

Jadi dia berlari ke Don, mencoba membangunkannya, menariknya menjauhi air. Don—setengah sadar—mendorong anak ini menjauh. "Tinggalkan aku," batinnya menjerit. "Biarkan aku pergi." 

Tapi Robin tidak berhenti. Dia terus mencoba. Bahkan ketika Don jatuh ke air es, Robin terjun masuk—risikonya sendiri yang mati—untuk menarik pria asing ini keluar. 

Epiphany di Tepi Kematian 

Ketika Don merasakan air es membekukan tubuhnya, sesuatu berubah. Dia melihat anak ini—yang bahkan tidak mengenalnya—mempertaruhkan nyawanya. 

Dan dia menyadari:

Jika anak asing ini mau mati untukku, mungkin hidupku masih punya nilai. Mungkin aku masih penting bagi seseorang—tidak hanya istriku atau anakku, tapi bagi kemanusiaan secara umum. 

Don berjuang. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dia berjuang untuk hidup. Mereka berhasil keluar dari air. Mereka berdua selamat. 

Pelajaran Mendalam 

Saunders menunjukkan sesuatu yang powerful di sini: 

Kadang kita membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita mengapa hidup layak dijalani. 

Don berpikir dia beban. Tapi bagi Robin—dan bagi siapa pun yang mencintainya—dia bukan beban. Dia adalah manusia yang berharga. 

Dan ini adalah pesan untuk semua orang yang pernah merasa hidupnya tidak berarti: 

Nilai Anda tidak ditentukan oleh produktivitas Anda, kesehatan Anda, atau kemampuan Anda untuk "tidak merepotkan." Nilai Anda inheren—karena Anda ada.


Bagian 4: The Semplica Girl Diaries—Kapitalisme yang Mengerikan 

Kehidupan Keluarga Kelas Menengah Bawah 

Cerita ini ditulis dalam bentuk diary dari seorang ayah yang bergulat dengan keuangan. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi uangnya selalu tidak cukup. 

Putrinya akan ulang tahun. Dia menginginkan pesta yang bagus—seperti pesta temannya yang kaya. Tapi dia tidak mampu. 

Lalu dia menang lotre kecil—$10,000. Tidak cukup untuk mengubah hidup, tapi cukup untuk membuat satu keputusan bodoh. 

SGs—Komodifikasi Manusia 

Di dunia cerita ini, ada hiasan halaman yang populer di kalangan kelas atas: Semplica Girls (SGs). 

Ini adalah wanita dari negara miskin yang—secara legal—"menyewakan" diri mereka sebagai hiasan. Mereka digantung di halaman dengan tali khusus yang melalui kepala mereka (tidak menyakitkan, teknologi futuristik), seperti bendera hidup. 

Ini adalah status symbol. "Lihat, aku punya SGs. Aku kaya." 

Ayah dalam cerita ini memutuskan: dia akan membeli SGs untuk pesta putrinya. Agar dia tidak malu. Agar dia merasa "normal." 

Runtuhnya Ilusi 

Awalnya, semuanya tampak "oke." SG-nya (kebanyakan dari Filipina dan negara berkembang lainnya) tersenyum. Mereka "setuju" dengan kontrak. Ini "legal." 

Tapi putri kecilnya—yang lebih murni hatinya—mulai bertanya: 

"Ayah, apakah mereka bahagia?" "Apakah mereka punya keluarga?" "Apakah mereka ingin di sini?" 

Dan kemudian dia melakukan sesuatu yang menghancurkan sistem: dia membebaskan mereka. 

SG-SG itu lari. Ayah kehilangan uangnya—dan sekarang terjerat utang kontrak. Hidupnya lebih buruk dari sebelumnya. 

Tapi putrinya melakukan hal yang benar.

Kritik Tajam Saunders 

Cerita ini adalah satire brutal tentang kapitalisme modern: 

Kita hidup di dunia di mana manusia bisa menjadi komoditas—dan kita menerima itu asalkan "legal" dan "semua orang melakukannya." 

Kita membeli sepatu yang dibuat oleh pekerja anak. Kita makan makanan yang dipanen oleh buruh yang dibayar di bawah upah minimum. Kita menggunakan gadget yang dibangun di pabrik dengan kondisi seperti penjara. 

Kita tahu. Tapi kita merasionalisasi: "Setidaknya mereka punya pekerjaan. Setidaknya ini legal."

SG adalah metafora yang ekstrem—tapi tidak terlalu jauh dari kenyataan. 

Pelajaran: Ketika sistem ekonomi membuat kita menormalkan eksploitasi, tugas kita adalah mempertanyakan sistem—bukan mencari cara untuk merasa lebih nyaman dengan ketidakadilan.


Bagian 5: Escape from Spiderhead—Ketika Emosi Dikendalikan 

Fasilitas Penelitian yang "Manusiawi" 

Jeff adalah narapidana yang memilih program eksperimental: alih-alih penjara tradisional, dia tinggal di fasilitas penelitian yang nyaman—dengan syarat dia menjadi subjek eksperimen obat. 

Fasilitas ini canggih. Setiap penghuni punya remote control yang bisa menyuntikkan obat ke sistem mereka melalui "MobiPak"—perangkat yang ditanam di tulang belakang. 

Obat-obatan ini bisa: 

  • Membuat Anda merasa cinta intens (Vivistif)
  • Membuat Anda berbicara fasih dan percaya diri (Verbaluce)
  • Menghilangkan rasa malu (Chattrease)
  • Membuat Anda patuh (Docilryde)

Eksperimen Cinta 

Peneliti—Abnesti—meminta Jeff untuk berpartisipasi dalam eksperimen: dia akan disuntik Vivistif dan ditempatkan di ruangan dengan wanita lain (juga disuntik Vivistif). 

Hasilnya? Cinta yang luar biasa. Hasrat yang tak tertahankan. Koneksi yang terasa "nyata." 

Tapi ketika obat berhenti, perasaan itu hilang sepenuhnya. Jeff melihat wanita yang sama dan merasa... tidak ada. 

Pertanyaan mengerikan muncul: Jika cinta bisa diprogram dengan obat, apakah cinta "nyata" pun hanya kimia otak? 

Ujian Moral Terakhir 

Eksperimen berlanjut. Abnesti memberikan Jeff obat baru—yang bisa membuat orang lain merasa takut ekstrem. Dia diminta untuk memberikan obat itu kepada wanita yang baru saja dia "cintai." 

Jeff menolak. 

Abnesti mencoba membujuk: "Ini hanya kimia. Dia tidak akan ingat. Tidak ada salahnya."

Tapi Jeff tahu: Jika dia melakukan ini, dia tidak lagi manusia. Dia menjadi alat. 

Ketika Jeff tetap menolak, Abnesti menggunakan Docilryde—obat yang membuat orang patuh—tanpa izin Jeff.

Dan di sinilah Jeff menyadari kebenaran mengerikan: Dia tidak pernah bebas. Persetujuan adalah ilusi. Dia adalah tikus percobaan. 

Pilihan Terakhir 

Jeff membuat keputusan: dia akan mengakhiri ini. Dengan cara apapun. 

Dia menggunakan remote untuk overdosis obat. Bunuh diri adalah satu-satunya cara untuk merebut kembali kontrol atas tubuh dan pikirannya sendiri. 

Pertanyaan untuk Kita 

Cerita ini menakutkan karena tidak terlalu spekulatif: 

Kita sudah hidup di dunia di mana obat-obatan bisa mengubah mood, kepribadian, dan perilaku kita.  Antidepresan.  Anxiolytic.  Stimulan.  Obat tidur. 

Di mana garis antara "pengobatan" dan "kontrol"? 

Dan pertanyaan yang lebih besar: Jika semua emosi kita hanya kimia, apakah pilihan kita masih bermakna? 

Saunders tidak memberikan jawaban. Tapi dia memaksa kita untuk bertanya. 

Pelajaran: Kemanusiaan kita terletak pada kemampuan untuk memilih—bahkan ketika pilihan itu sulit, menyakitkan, atau bertentangan dengan "logika." Ketika pilihan diambil, kita tidak lagi hidup—kita hanya berfungsi.


Bagian 6: Tema Universal—Apa yang Mengikat Semua Cerita? 

1. Orang Biasa dalam Situasi Luar Biasa 

Saunders tidak menulis tentang pahlawan super atau jenius. Dia menulis tentang: 

  • Remaja yang canggung
  • Orang tua yang berjuang secara finansial
  • Pria yang sakit
  • Narapidana yang penuh penyesalan

Orang biasa. Seperti kita. 

Tapi dia menempatkan mereka dalam situasi yang memaksa mereka membuat pilihan moral yang ekstrem. 

Dan di sinilah kita melihat: Kepahlawanan tidak tentang kekuatan super. Kepahlawanan adalah tentang pilihan yang kita buat ketika tidak ada pilihan yang mudah. 

2. Sistem yang Tidak Manusiawi 

Hampir setiap cerita Saunders memiliki sistem yang menekan individu: 

  • Aturan orang tua yang terlalu ketat
  • Kapitalisme yang mengkomodifikasi manusia
  • Penelitian medis yang mengeksploitasi narapidana
  • Norma sosial yang membuat kita menghakimi

Sistem-sistem ini tidak jahat karena dipimpin oleh orang jahat. Mereka jahat karena menormalkan ketidakmanusiawian. 

3. Empati sebagai Perlawanan 

Di setiap cerita, momen turning point adalah ketika karakter memilih empati di atas kepentingan pribadi: 

  • Kyle memilih menolong meskipun melanggar aturan
  • Robin menyelamatkan orang asing meskipun berisiko mati
  • Putri kecil membebaskan SGs meskipun itu merugikan keluarganya
  • Jeff menolak menyakiti orang lain meskipun dia diperintah

Empati adalah tindakan revolusioner.

4. Absurditas sebagai Cermin 

Saunders menggunakan absurditas—dunia yang sedikit aneh, teknologi yang tidak realistis—bukan untuk escapism. 

Dia menggunakannya sebagai cermin untuk memperbesar absurditas dunia kita. 

SGs terdengar mustahil. Tapi kita sudah punya pekerja migran yang diperlakukan hampir seperti itu. 

Obat kontrol emosi terdengar sci-fi. Tapi kita sudah punya obat yang mengubah kepribadian. 

Saunders berkata: "Lihat betapa gilanya ini terdengar? Nah, dunia kita tidak jauh berbeda."


Penutup: Pertanyaan yang Tidak Bisa Kita Hindari

Di akhir semua cerita ini, kita tertinggal dengan pertanyaan yang sama: 

Dalam dunia yang semakin tidak masuk akal, bagaimana kita tetap manusiawi?

George Saunders tidak memberikan jawaban mudah. Tapi dia memberikan petunjuk:

1. Pilih Empati, Bahkan Ketika Sulit 

Ketika sistem berkata "jangan peduli," pedulilah. Ketika logika berkata "itu bukan urusanmu," campur tanganlah. Ketika semua orang berkata "tidak ada yang bisa kita lakukan," lakukan sesuatu. 

2. Pertanyakan Narasi Anda Sendiri 

Kita semua seperti Marie dalam "Puppy"—membuat asumsi tentang orang lain berdasarkan apa yang kita lihat. 

Rendah hati untuk mengakui: kita mungkin salah. Kita tidak tahu cerita lengkapnya.

3. Kenali Nilai Inheren Manusia 

Don Eber merasa hidupnya tidak berharga karena dia tidak "produktif" lagi. 

Tapi Robin—dan Saunders—mengingatkan kita: Nilai manusia tidak transaksional. Anda berharga karena Anda ada, bukan karena apa yang Anda hasilkan. 

4. Tolak Sistem yang Mengeksploitasi 

Ketika sistem—ekonomi, sosial, medis, atau lainnya—memperlakukan manusia sebagai alat, tugas kita adalah menolak. 

Bahkan jika penolakan itu merugikan kita. Bahkan jika itu "tidak praktis."

5. Temukan Keindahan di Tempat yang Tidak Terduga 

Meskipun dunia Saunders gelap, dia selalu menemukan momen keindahan: 

  • Robin membayangkan dirinya pahlawan
  • Don mengingat cinta istrinya
  • Anak-anak bermain meskipun kemiskinan

Keindahan dan harapan ada—kita hanya perlu memilih untuk melihatnya.


Tentang Buku Asli 

"Tenth of December" diterbitkan pada 2013 dan langsung menjadi fenomena. The New York Times menyebutnya sebagai "the best book you'll read this year." 

George Saunders adalah salah satu penulis cerpen paling dihormati di Amerika. Gaya menulisnya unik—menggabungkan satire, empati, humor, dan heartbreak dalam cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun. 

Dia mengajar creative writing di Syracuse University dan telah memenangkan hampir semua penghargaan sastra utama, termasuk Man Booker Prize untuk novel "Lincoln in the Bardo" (2017). 

Untuk benar-benar merasakan keajaiban prosa Saunders, sangat disarankan membaca buku aslinya. Gaya menulisnya—dengan perspektif yang bergeser, humor yang halus, dan momen-momen yang menembus hati—tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Buku ini akan membuat Anda tertawa, menangis, dan yang paling penting—melihat dunia dengan mata baru. 

Sekarang pergilah dan baca buku lengkapnya. Lalu tanyakan pada diri sendiri:

Di dunia yang absurd, pilihan apa yang akan saya buat untuk tetap manusiawi? 

Karena seperti yang ditunjukkan Saunders: pilihan itu—besar atau kecil—adalah apa yang membuat kita manusia.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Humboldt's Gift
Back to top

Similar books