Skip to main content

Theft

by Abdulrazak Gurnah · April 2026 · 12 min read

Lukisan di Ruang Tamu—dan Pertanyaan yang Tak Terjawab

Table of contents

Lukisan di Ruang Tamu—dan Pertanyaan yang Tak Terjawab 

Bayangkan Anda berjalan ke rumah teman Anda di Norwich, Inggris. 

Di ruang tamunya tergantung lukisan indah—potret seorang pria Arab dengan jubah tradisional, latar belakang pantai dan perahu layar. Lukisan tua, cat minyak yang sudah retak di beberapa bagian, frame kayu yang patina. 

"Lukisan keluarga," kata teman Anda dengan santai. "Warisan dari kakek."

Anda mengangguk. Tidak ada yang aneh. 

Tapi seandainya Anda tahu bahwa lukisan itu bukan "warisan keluarga." Itu dicuri dari rumah seorang pedagang di Zanzibar tahun 1960-an, ketika pemiliknya diburu dan dibunuh dalam revolusi yang penuh darah. 

Seandainya Anda tahu bahwa kakek teman Anda adalah administrator kolonial Inggris yang mengambil "hadiah kecil" sebelum meninggalkan Afrika. 

Seandainya Anda tahu bahwa cucu dari pria dalam lukisan itu sekarang bekerja sebagai security guard di Norwich—hanya beberapa kilometer dari rumah ini—dan tidak pernah tahu bahwa potret kakeknya tergantung di dinding orang asing. 

Apakah itu masih "warisan keluarga"? 

Atau itu pencurian yang digantung dengan bangga di ruang tamu? 

Inilah pertanyaan yang Abdulrazak Gurnah ajukan dalam novel "Theft"—dan jawabannya jauh lebih kompleks dan menyakitkan dari yang Anda kira. 

Gurnah, penulis Tanzania yang memenangkan Nobel Sastra 2021, tidak menulis tentang kolonialisme dengan cara yang kita harapkan. Tidak ada pertempuran heroik. Tidak ada penjahat yang jelas jahat. Tidak ada penyelesaian yang memuaskan.

Sebagai gantinya, dia menulis tentang kehilangan yang tidak terlihat—cara kolonialisme mencuri bukan hanya tanah dan emas, tetapi identitas, cerita, dan bahkan kemampuan untuk merasa di rumah di dunia Anda sendiri. 

Mari kita masuk ke dalam cerita ini—cerita tentang dua saudara, satu lukisan, dan pertanyaan tentang siapa yang benar-benar memiliki masa lalu.


Bagian 1: Dua Saudara, Dua Dunia 

Rashid—Yang Pergi 

Rashid meninggalkan Tanzania pada tahun 1960-an untuk kuliah di Inggris. 

Seperti banyak pemuda Afrika pada masa itu, dia datang dengan harapan: pendidikan yang lebih baik, kesempatan yang lebih luas, masa depan yang lebih cerah. Dia akan belajar, lalu pulang dan membangun negaranya yang baru merdeka. 

Tapi seperti banyak yang lain, dia tidak pernah benar-benar pulang. 

Bukan karena dia tidak ingin. Tapi karena "pulang" menjadi lebih rumit setiap tahun. 

Dia menikah dengan wanita Inggris. Punya anak yang tidak bisa berbahasa Swahili. Dapat pekerjaan di universitas. Beli rumah. Buat kehidupan. 

Dan perlahan, tanpa menyadarinya, dia menjadi orang asing di dua tempat—tidak cukup Inggris untuk benar-benar diterima, tidak cukup Tanzania untuk benar-benar pulang. 

Gurnah menangkap alienasi ini dengan cara yang subtle. Rashid tidak mengalami rasisme yang terang-terangan setiap hari. Dia punya pekerjaan yang baik. Kolega yang ramah (setidaknya di permukaan). 

Tapi ada momen-momen kecil yang menumpuk: 

  • Cara orang menyebutkan namanya dengan canggung
  • Cara mereka terkejut ketika dia mengutip Shakespeare atau Dickens dengan lancar
  • Cara mereka mengasumsikan dia ahli tentang "Afrika" seolah-olah itu satu negara kecil
  • Cara mereka tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai "orang sini"

Setelah 40 tahun di Inggris, Rashid masih merasa seperti tamu yang sudah terlalu lama tinggal. 

Karim—Yang Tinggal 

Karim, adiknya, membuat pilihan yang berbeda. Dia tinggal di Tanzania. 

Melalui revolusi Zanzibar yang berdarah. Melalui tahun-tahun sulit setelah kemerdekaan. Melalui korupsi, kemiskinan, dan kekacauan politik. 

Dia menikah, punya anak, bekerja keras dalam kondisi yang jauh lebih sulit dari yang pernah dialami Rashid. 

Dan dia marah.

Marah pada Rashid yang pergi dan hidup nyaman di Inggris sementara dia berjuang. Marah pada sistem yang membuat saudaranya punya kesempatan sementara dia tidak. Marah pada sejarah yang membuat hidup mereka begitu berbeda meskipun mereka lahir dari ibu yang sama. 

Tapi di balik kemarahan itu ada sesuatu yang lebih dalam: rasa ditinggalkan. 

Karim tidak mengakuinya dengan kata-kata. Tapi dalam setiap surat yang dia tulis (atau tidak tulis) kepada Rashid, ada pertanyaan yang tidak terucapkan: 

"Mengapa kamu pergi? Mengapa kamu tidak pulang?"


Bagian 2: Pencurian yang Nyata—Lukisan Itu

Artefak sebagai Saksi 

Di tengah kompleksitas hubungan dua saudara ini, ada objek fisik yang menjadi katalisator: sebuah lukisan tua. 

Lukisan ini adalah potret dari masa kolonial—karya seniman Eropa yang melukis subjek Afrika dan Arab dengan pandangan eksotis yang khas era kolonial. 

Lukisan itu pernah dimiliki oleh keluarga pedagang Arab di Zanzibar. Tapi ketika revolusi 1964 terjadi—ketika ribuan Arab dan India dibantai atau dipaksa mengungsi—lukisan itu "menghilang." 

Bertahun-tahun kemudian, Rashid melihat lukisan itu tergantung di rumah rekan kerjanya di Norwich. 

Martin, rekan kerjanya, mengatakan itu "warisan keluarga" dari kakeknya yang pernah bekerja sebagai administrator kolonial di Afrika Timur. 

Tapi Rashid mengenali lukisan itu. Dia ingat melihatnya ketika masih kecil, di rumah seorang keluarga kaya di Zanzibar. 

Pertanyaan menghantui dia: Apakah ini "warisan" atau "hasil rampasan"?

Dilema Moral yang Tidak Sederhana 

Rashid menghadapi dilema: 

Haruskah dia mengatakan sesuatu? Haruskah dia menuduh Martin—orang yang sudah menjadi temannya—bahwa lukisan itu dicuri? 

Tapi bagaimana dia bisa membuktikannya? Tidak ada dokumen. Tidak ada catatan kepemilikan. Pemilik aslinya mungkin sudah mati. 

Dan bahkan jika dia membuktikannya, lalu apa? Lukisan itu dikembalikan kepada siapa? Keluarga yang mungkin sudah tersebar di seluruh dunia? Pemerintah Tanzania yang tidak peduli tentang artefak budaya? 

Ini bukan pertanyaan sederhana tentang benar dan salah. 

Ini adalah pertanyaan tentang: 

  • Siapa yang punya hak atas masa lalu?
  • Apakah "warisan" yang diturunkan dalam keluarga kolonial adalah warisan yang sah?
  • Berapa generasi yang harus berlalu sebelum barang curian menjadi "milik"?
  • Apakah niat Martin—yang tidak terlibat dalam pencurian original—membuat perbedaan?

Gurnah tidak memberikan jawaban mudah. Dia hanya menunjukkan kompleksitas.


Bagian 3: Pencurian yang Tidak Terlihat—Identitas dan Cerita 

Nama yang Hilang 

Salah satu bentuk pencurian paling halus adalah pencurian nama dan cerita. 

Di Tanzania, keluarga Rashid dan Karim punya sejarah—nama-nama leluhur, cerita tentang dari mana mereka berasal, siapa yang menikah dengan siapa, konflik lama, persahabatan yang bertahan generasi. 

Tapi sejarah ini tidak pernah ditulis. Tidak pernah dianggap cukup penting untuk dicatat dalam buku sejarah kolonial. 

Sebaliknya, sejarah "resmi" ditulis oleh administrator Inggris—dan dalam sejarah itu, orang seperti keluarga Rashid hanya "natives," "penduduk asli," angka dalam sensus. 

Tidak punya nama. Tidak punya cerita individual. Hanya massa yang tidak memiliki wajah. 

Pencurian ini lebih permanen daripada pencurian emas atau tanah karena ketika cerita hilang, identitas hilang. Dan ketika identitas hilang, Anda menjadi hantu dalam sejarah Anda sendiri. 

Bahasa yang Diambil 

Gurnah juga menulis tentang pencurian bahasa—tapi dalam cara yang nuansa. 

Rashid fasih dalam bahasa Inggris. Dia mengajar sastra Inggris. Dia bisa mengutip Wordsworth dan Eliot dengan mudah. 

Tapi dia kehilangan bahasa ibunya. Tidak sepenuhnya—dia masih bisa berbicara Swahili. Tapi ada nuansa, idiom, cara berpikir dalam bahasa ibu yang perlahan menghilang. 

Dan anak-anaknya? Mereka tidak berbicara Swahili sama sekali. Mereka tahu lebih banyak tentang sejarah Inggris daripada sejarah Tanzania. 

Apakah ini pencurian? Atau pilihan? 

Mungkin keduanya. Mungkin pilihan yang dipaksa oleh sistem yang membuat bahasa Inggris menjadi bahasa kesuksesan, dan bahasa lokal menjadi bahasa "tradisi" yang tidak relevan.


Bagian 4: Keluarga—Hubungan yang Terkoyak oleh Jarak dan Waktu 

Surat yang Tidak Ditulis 

Sepanjang novel, Gurnah menunjukkan bagaimana komunikasi antara Rashid dan Karim lebih banyak yang tidak dikatakan daripada yang dikatakan. 

Mereka menulis surat—tapi selalu sopan, selalu permukaan. Tidak pernah menyentuh pertanyaan sebenarnya: 

"Apakah kamu menyesal pergi?" "Apakah kamu marah padaku?" "Apakah kamu merindukan rumah?" "Apakah kamu masih menganggapku sebagai saudara?" 

Mengapa? Karena menulis pertanyaan ini berarti menghadapi jawaban yang mungkin terlalu menyakitkan. 

Lebih mudah untuk menulis tentang cuaca, tentang anak-anak, tentang pekerjaan. Lebih mudah untuk mempertahankan hubungan permukaan daripada menghadapi kedalaman yang retak. 

Pertemuan yang Tidak Pernah Terjadi 

Karim berencana mengunjungi Rashid di Inggris. Tiket sudah dibeli. Tanggal sudah ditentukan. 

Tapi pada menit terakhir, ada alasan—sakit, masalah uang, komitmen yang tidak bisa ditinggalkan. 

Dan pertemuan dibatalkan. 

Ini terjadi berkali-kali. Dan setiap kali, jarak emosional antara mereka tumbuh sedikit lebih lebar. 

Gurnah menunjukkan bagaimana jarak fisik menciptakan jarak emosional—bukan karena saudara tidak peduli, tapi karena kehidupan yang berbeda menciptakan pengalaman yang berbeda, dan pengalaman yang berbeda menciptakan bahasa yang berbeda. 

Pada akhirnya, mereka menjadi orang asing yang kebetulan berbagi darah.


Bagian 5: Revolusi Zanzibar—Latar Belakang yang Menghantui 

1964—Malam Pisau Panjang 

Meskipun novel ini bukan tentang sejarah secara langsung, Revolusi Zanzibar 1964 menghantui setiap halaman. 

Pada Januari 1964, setelah kemerdekaan singkat dari Inggris, revolusi berdarah meledak di Zanzibar. Ribuan Arab dan India—yang selama berabad-abad mendominasi perdagangan dan ekonomi—dibantai atau dipaksa mengungsi dalam hitungan hari. 

Ini bukan revolusi yang rapi dengan ideologi yang jelas. Ini adalah ledakan kekerasan yang didorong oleh dendam sejarah, persaingan etnis, dan manipulasi politik. 

Keluarga Rashid dan Karim selamat—tapi dengan bekas luka. 

Gurnah tidak menggambarkan kekerasan dengan detail grafis. Sebagai gantinya, dia menunjukkan dampak jangka panjangnya: 

  • Keluarga yang tersebar
  • Trauma yang tidak pernah dibicarakan
  • Kepercayaan yang hancur antara komunitas
  • Kehilangan yang tidak pernah benar-benar sembuh

Warisan Kolonial dalam Kekerasan Postkolonial 

Yang powerful dalam penggambaran Gurnah adalah bagaimana dia menunjukkan bahwa kekerasan revolusi adalah warisan langsung dari struktur kolonial. 

Kolonialisme Inggris dengan sengaja memisahkan kelompok etnis—Arab di atas, Afrika di bawah. Mereka menciptakan hierarki ras. Mereka mendistribusikan sumber daya secara tidak merata. 

Ketika Inggris pergi, struktur itu runtuh—dan kekerasan yang meledak adalah akumulasi dari dendam yang ditanam selama berabad-abad. 

Tapi siapa yang bertanggung jawab? Inggris yang menciptakan sistem? Revolusioner yang melakukan kekerasan? Semua orang? Tidak ada yang bisa disalahkan? 

Sekali lagi, tidak ada jawaban mudah.


Bagian 6: Apa yang Benar-Benar Dicuri? 

Lebih dari Harta Benda 

Judul "Theft" bisa merujuk pada banyak hal: 

Pencurian literal: Lukisan, artefak, sumber daya alam yang diambil selama era kolonial.

Pencurian identitas: Nama, cerita, sejarah yang tidak pernah dicatat atau dihormati. 

Pencurian masa depan: Kesempatan, pendidikan, kesejahteraan yang seharusnya menjadi milik generasi postkolonial tapi dirampas oleh sistem yang tidak adil. 

Pencurian belonging: Perasaan bahwa Anda punya tempat di dunia, bahwa Anda "milik" suatu tempat—ini dicuri dari diaspora seperti Rashid yang tidak bisa merasa di rumah di mana pun. 

Pencurian hubungan: Jarak yang diciptakan oleh migrasi paksa atau pilihan yang dipaksa, membuat keluarga terpisah dan tidak pernah benar-benar bersatu kembali. 

Siapa yang Mencuri? 

Pertanyaan yang lebih sulit: Siapa pencurinya? 

Kolonialisme sebagai sistem? Ya, jelas. 

Tapi juga: 

  • Individu seperti kakek Martin yang mengambil "hadiah kecil"?
  • Martin sendiri yang mewarisi barang curian tanpa tahu?
  • Pemerintah postkolonial yang gagal melindungi warisan budaya?
  • Rashid yang "mencuri" kesempatan dari Karim dengan pergi ke Inggris?

Semua orang mencuri sesuatu.  Semua orang kehilangan sesuatu. 

Dan inilah yang membuat novel Gurnah begitu powerful—dia menolak narasi sederhana tentang korban yang murni dan penjahat yang murni.


Bagian 7: Pelajaran untuk Kita Hari Ini 

1. Sejarah Tidak Pernah "Selesai" 

Kita suka berpikir kolonialisme adalah masa lalu. "Itu sudah berakhir. Kita sudah merdeka. Sudah waktunya move on." 

Tapi Gurnah menunjukkan: Efek kolonialisme tidak berakhir ketika bendera diturunkan.

Efeknya berkelanjutan dalam: 

  • Ketidaksetaraan ekonomi global
  • Artefak budaya yang masih di museum Eropa
  • Struktur kekuasaan yang masih mencerminkan hierarki kolonial
  • Trauma yang diturunkan melalui generasi

Mengabaikan sejarah bukan "moving on." Itu memastikan kesalahan diulang.

2. Pencurian Budaya Bukan Abstrak 

Ketika kita bicara tentang "repatriasi artefak" atau "pengembalian warisan budaya," ini bisa terdengar abstrak. 

Tapi Gurnah membuat ini personal: Itu lukisan kakek yang seharusnya tergantung di rumah cucu, bukan di rumah orang asing. 

Setiap artefak adalah cerita. Setiap objek adalah hubungan dengan masa lalu. Ketika itu dicuri, bukan hanya objek yang hilang—koneksi dengan identitas yang hilang. 

3. Diaspora Adalah Kehilangan yang Kompleks 

Rashid punya kehidupan yang "lebih baik" secara material di Inggris. Tapi dia kehilangan rumah. 

Bukan rumah fisik—tapi perasaan belonging, perasaan bahwa Anda dikelilingi oleh orang yang memahami Anda tanpa penjelasan. 

Tidak semua yang "lebih baik" adalah lebih baik dalam semua hal. 

4. Keluarga Memerlukan Lebih dari Darah 

Rashid dan Karim adalah saudara kandung. Tapi setelah bertahun-tahun terpisah, mereka hampir tidak saling mengenal.

Hubungan memerlukan usaha. Memerlukan kehadiran. Memerlukan percakapan yang sulit. 

Jarak—baik fisik maupun emosional—tidak bisa diabaikan dan berharap hubungan tetap utuh.

5. Tidak Ada Jawaban Mudah untuk Pertanyaan Sulit 

Haruskah Martin mengembalikan lukisan? Kepada siapa? Berdasarkan bukti apa?

Haruskah Rashid pulang ke Tanzania? Setelah 40 tahun? Untuk apa? 

Haruskah negara-negara Eropa mengembalikan semua artefak kolonial? Bagaimana menentukan kepemilikan setelah berabad-abad? 

Gurnah tidak memberikan jawaban karena tidak ada jawaban yang sederhana. 

Tapi mengajukan pertanyaan itu sendiri adalah penting. Tidak bertanya adalah bentuk pencurian lain—pencurian keadilan.


Penutup: Apa yang Kita Wariskan? 

Di akhir novel, tidak ada resolusi yang rapi. 

Lukisan masih tergantung di rumah Martin. Rashid masih di Inggris, tidak sepenuhnya di rumah. Karim masih di Tanzania, masih membawa kemarahan yang tidak terselesaikan. 

Tapi ada sesuatu yang berubah: Kesadaran. 

Rashid lebih sadar tentang apa yang dia kehilangan—dan apa yang dia miliki. Martin lebih sadar tentang asal sebenarnya dari "warisan keluarga" nya. Pembaca lebih sadar tentang kompleksitas sejarah dan tanggung jawab masa kini. 

Pertanyaan untuk Anda 

Abdulrazak Gurnah mengundang kita untuk bertanya: 

  • Apa yang Anda "warisi" yang mungkin bukan sepenuhnya milik Anda?
  • Cerita siapa yang hilang dalam narasi yang Anda terima? 
  • Jarak apa—fisik atau emosional—yang Anda biarkan merusak hubungan penting?
  • Sejarah mana yang Anda anggap "selesai" padahal efeknya masih berlanjut?
  • Apa yang akan Anda wariskan kepada generasi berikutnya—dan apakah itu benar-benar milik Anda untuk diberikan? 

Theft—pencurian—bukan hanya tentang mengambil barang. 

Pencurian terjadi ketika kita mengabaikan sejarah. Ketika kita tidak bertanya tentang asal-usul. Ketika kita menerima narasi yang nyaman tanpa menggali lebih dalam. Ketika kita membiarkan jarak memutuskan hubungan yang seharusnya diperjuangkan. 

Kita semua pencuri dalam beberapa hal. Kita semua korban pencurian dalam hal lain.

Pertanyaannya bukan apakah Anda bersih dari kompleksitas ini—tidak ada yang bersih. 

Pertanyaannya adalah: Apakah Anda berani mengakuinya? Apakah Anda berani bertanya? Apakah Anda berani menghadapi ketidaknyamanan dari jawaban yang tidak sederhana? 

Karena seperti yang ditunjukkan Gurnah—keadilan dimulai dengan kejujuran tentang masa lalu, tidak peduli seberapa tidak nyamannya.


Tentang Buku Asli 

"Theft" diterbitkan pada tahun 2022, setahun setelah Abdulrazak Gurnah memenangkan Nobel Prize in Literature pada 2021. 

Abdulrazak Gurnah lahir di Zanzibar pada 1948 dan pindah ke Inggris sebagai pengungsi pada akhir 1960-an setelah Revolusi Zanzibar. Dia adalah Professor Emeritus di University of Kent dan telah menulis 10 novel yang mengeksplorasi tema kolonialisme, migrasi, dan identitas. 

Komite Nobel memuji Gurnah untuk "penetrasi tanpa kompromi dan penuh belas kasihan terhadap efek kolonialisme dan nasib pengungsi di jurang antara budaya dan benua." 

"Theft" adalah contoh sempurna dari pendekatan Gurnah—dia tidak menulis dengan kemarahan yang eksplisit atau tuduhan yang blak-blakan. Sebagai gantinya, dia menulis dengan nuansa, kompleksitas, dan kemanusiaan yang mendalam, menunjukkan bagaimana sejarah besar dimainkan dalam kehidupan individual yang kecil. 

Untuk pemahaman lengkap tentang gaya prosa Gurnah yang subtle dan karakterisasi yang mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap tema-tema utama, tapi kekuatan sejati novel ini ada dalam detail kecil, dalam percakapan yang tidak lengkap, dalam apa yang tidak dikatakan sebanyak apa yang dikatakan. 

Sekarang pergilah dan tanyakan: Apa yang telah dicuri dari Anda? Dan apa yang tanpa sadar Anda curi dari orang lain? 

Karena hanya dengan menghadapi pertanyaan ini—dengan segala ketidaknyamanannya—kita bisa mulai membayangkan keadilan yang lebih jujur untuk masa depan.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: A Visit From The Goon Squad
Back to top

Similar books