There's Always This Year
by Hanif Abdurraqib · March 2026 · 15 min read
Musim Gugur yang Tidak Pernah Berakhir
Table of contents
Musim Gugur yang Tidak Pernah Berakhir
Bayangkan ini: Kamu berusia 14 tahun, duduk di bangku gym sekolah yang keras dan dingin. Di lapangan, lima anak kulit hitam dari lingkungan yang sama denganmu sedang bermain basket melawan sekolah dari pinggiran kota yang lebih kaya.
Setiap tembakan yang masuk bukan hanya poin. Setiap assist bukan hanya statistik. Ini adalah pembuktian. Bahwa kalian ada. Bahwa kalian penting. Bahwa dari lingkungan yang diabaikan, bisa lahir keajaiban.
Dan ketika buzzer berbunyi dan skormu lebih tinggi, untuk sesaat—hanya sesaat—dunia terasa adil.
Lalu musim berakhir. Mungkin kamu menang kejuaraan. Mungkin kamu kalah di semifinal. Tidak masalah. Karena ada satu kalimat yang selalu menyelamatkan:
"There's always next year." "Selalu ada tahun depan."
Tapi apa yang terjadi ketika "tahun depan" datang, dan hasilnya sama? Atau lebih buruk? Apa yang terjadi ketika kamu menyadari bahwa "selalu ada tahun depan" sebenarnya adalah cara halus untuk mengatakan: "Tahun ini bukan tahunmu"?
Dan apa yang terjadi ketika kamu menyadari bahwa kamu bukan hanya berbicara tentang basket—tapi tentang seluruh hidupmu, seluruh komunitasmu, seluruh kotamu yang sudah menunggu "tahun depan" selama beberapa dekade?
Hanif Abdurraqib, penulis dan kritikus musik pemenang penghargaan, tumbuh di Columbus, Ohio—kota yang tidak pernah menjadi "the city." Bukan New York. Bukan LA. Bukan Chicago. Hanya Columbus—kota di tengah Ohio yang orang lupakan ada di mana.
Tapi di tahun 2002-2003, sesuatu yang luar biasa terjadi di Ohio: seorang anak SMA bernama LeBron James membuat seluruh dunia menonton basket sekolah menengah. Dan untuk sesaat, Columbus—dan seluruh Ohio—merasa penting.
"There's Always This Year" adalah buku tentang momen itu. Tapi lebih dari itu, ini adalah buku tentang apa yang terjadi ketika harapan menjadi beban. Ketika kesetiaan menjadi penjara. Ketika menunggu "tahun depan" menjadi satu-satunya cara kamu tahu bagaimana bertahan.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Columbus—Kota yang Tidak Pernah Menjadi "The City"
Kota yang Dilupakan
Columbus, Ohio bukan kota yang orang kunjungi. Bukan tujuan wisata. Bukan pusat budaya. Bahkan di Ohio sendiri, orang lebih bicara tentang Cleveland (punya Rock and Roll Hall of Fame) atau Cincinnati (punya chili yang unik).
Columbus adalah kota yang orang lewati dalam perjalanan ke tempat lain.
Tapi bagi mereka yang tumbuh di sana—terutama di East Side, lingkungan kulit hitam—Columbus adalah segalanya. Bukan karena megah. Tapi karena itu adalah rumah. Dan rumah, tidak peduli seberapa biasa atau diabaikan, selalu berarti sesuatu.
Abdurraqib menulis tentang tumbuh di lingkungan di mana:
- Toko sudut adalah tempat berkumpul
- Barbershop adalah tempat kamu mendengar filosofi hidup
- Gym sekolah adalah katedral di mana mukjizat basket terjadi
- Dan semua orang tahu semua orang—baik dan buruknya
Basket sebagai Bahasa
Di komunitas kulit hitam Columbus, basket bukan hanya olahraga. Basket adalah bahasa.
Cara kamu bermain basket mengatakan siapa kamu:
- Apakah kamu egois atau team player?
- Apakah kamu hanya bicara atau bisa back it up?
- Apakah kamu loyal pada teman atau cuma cari spotlight?
Di lapangan, tidak ada tempat bersembunyi. Karaktermu terungkap dalam setiap pick and roll, setiap pass, setiap keputusan untuk shoot atau pass the ball.
Dan untuk anak-anak yang tumbuh tanpa banyak—tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa akses ke peluang yang anak-anak dari pinggiran kota punya—basket adalah salah satu dari sedikit tempat di mana mereka bisa membuktikan diri mereka hanya berdasarkan skill.
Tidak peduli kamu dari mana. Tidak peduli ayahmu kerja apa. Tidak peduli bajumu bekas atau baru. Jika kamu bisa main, kamu bisa main.
Dan itu adalah bentuk kebebasan yang langka.
Bagian 2: LeBron James—Ketika Harapan Punya Nama dan Wajah
The Chosen One
Tahun 1984, LeBron James lahir di Akron, Ohio—kota industri yang sedang sekarat, satu jam dari Columbus.
Tumbuh dalam kemiskinan. Ibu tunggal. Berpindah-pindah rumah. Semua elemen cerita klise "anak miskin yang sukses" yang kita kenal.
Tapi ada yang berbeda tentang LeBron: dia terlalu bagus, terlalu cepat.
Ketika dia SMP, coach perguruan tinggi sudah menonton. Ketika dia SMA tahun pertama, game-nya disiarkan ESPN. Majalah Sports Illustrated menaruhnya di cover dengan judul "The Chosen One" ketika dia masih junior di SMA.
Seorang anak 17 tahun. Di cover Sports Illustrated. Sebagai "yang terpilih."
Tekanannya tidak masuk akal. Tapi LeBron tidak runtuh. Dia berkembang.
St. Vincent-St. Mary—Sekolah Katolik yang Tidak Punya Gym
Ironisnya, LeBron bermain untuk St. Vincent-St. Mary—sekolah Katolik kecil di Akron yang bahkan tidak punya gym sendiri.
Mereka bermain di University of Akron arena. Tapi tidak masalah. Karena di mana pun mereka bermain, ribuan orang datang. Bukan ratusan—ribuan. Untuk menonton basket SMA.
Game-game mereka dipindahkan ke arena yang lebih besar. 10,000+ penonton untuk game reguler season. ESPN menyiarkan game mereka secara nasional—sesuatu yang tidak pernah terjadi untuk basket SMA sebelumnya.
Dan Abdurraqib, sebagai anak dari Columbus yang tumbuh menonton basket SMA, merasakan sesuatu yang aneh:
Untuk pertama kalinya, Ohio—negara bagian yang sering dilupakan—adalah pusat dunia olahraga.
Tapi ini juga menciptakan masalah.
Harapan yang Terlalu Berat
LeBron tidak hanya mewakili dirinya sendiri. Dia mewakili:
- Akron yang sedang sekarat
- Ohio yang diabaikan
- Anak-anak kulit hitam yang tumbuh di kemiskinan
- Semua orang yang pernah dibilang mereka tidak akan jadi apa-apa
Itu terlalu banyak untuk seorang anak 17 tahun.
Tapi LeBron memikul beban itu. Dan dia menang. St. Vincent-St. Mary memenangkan tiga kejuaraan negara bagian. Tidak terkalahkan selama musim senior LeBron (di tingkat negara bagian).
Lalu dia ke NBA. Menjadi superstar. Memenangkan kejuaraan untuk Cleveland Cavaliers tahun 2016—membawa kejuaraan pertama kota itu dalam 52 tahun.
Kisah sukses sempurna, kan?
Tapi Abdurraqib mengajukan pertanyaan yang lebih gelap: Apa yang terjadi pada semua orang yang bukan LeBron?
Bagian 3: Yang Lain—Ketika Kamu Bukan "The Chosen One"
Teman Setim yang Dilupakan
LeBron punya empat teman setim inti di St. Vincent-St. Mary. Mereka semua talented. Beberapa bermain di college. Tapi tidak ada yang ke NBA. Tidak ada yang menjadi jutawan. Tidak ada yang namanya dikenang.
Mereka adalah catatan kaki dalam cerita LeBron.
Abdurraqib bertanya: Bagaimana rasanya berdiri di samping "The Chosen One" setiap hari? Tahu bahwa tidak peduli seberapa bagus kamu bermain, kamu tidak akan pernah menjadi cerita utama?
Bagaimana rasanya ketika kamu dan teman masa kecilmu sama-sama bermimpi NBA, tapi hanya dia yang sampai—dan kamu menonton dari TV seperti jutaan orang lain?
Ini bukan tentang iri hati. Ini tentang menghadapi kenyataan bahwa mimpimu berakhir, sementara mimpi temanmu jadi kenyataan.
Pemain Lokal yang Tidak Pernah "Make It"
Abdurraqib menulis tentang pemain basket lokal di Columbus yang legendaris di lingkungan mereka. Guys yang bisa melakukan hal-hal luar biasa di lapangan pickup. Yang semua orang bilang "dia bisa pro kalau dia serius."
Tapi mereka tidak pernah "make it." Beberapa karena cedera. Beberapa karena keputusan buruk. Banyak karena mereka tidak punya sistem support yang membawa mereka dari talented menjadi professional.
Dan sekarang mereka bermain di liga rekreasi. Bekerja di pekerjaan reguler. Hidup kehidupan biasa.
Tapi di barbershop, orang masih bercerita tentang game legendaris mereka 20 tahun yang lalu. "Kamu harus lihat dia main dulu. Dia akan jadi sesuatu."
Masa lalu yang gemilang. Masa depan yang tidak pernah terjadi.
Dan setiap tahun, mereka mengatakan hal yang sama: "Next year, I'm gonna get serious. Next year, I'm gonna make a comeback."
Tapi next year tidak pernah datang. Karena next year adalah tempat di mana kita menyimpan mimpi yang terlalu menyakitkan untuk dilepaskan tapi terlalu sulit untuk diwujudkan.
Bagian 4: Kesetiaan dan Pengkhianatan—The Decision
8 Juli 2010—Malam yang Mengubah Segalanya
LeBron James sudah tujuh tahun di Cleveland Cavaliers. Membawa mereka ke final NBA. Menjadi MVP. Tapi tidak pernah memenangkan kejuaraan.
Di tahun 2010, kontraknya habis. Dia menjadi free agent. Dan seluruh dunia basket menunggu keputusannya.
Cleveland—dan seluruh Ohio—berdoa dia akan stay. Karena LeBron bukan hanya pemain basket. Dia adalah anak Ohio. Dia adalah harapan mereka.
Lalu LeBron membuat acara TV khusus berjudul "The Decision" di mana dia akan mengumumkan pilihan timnya.
Abdurraqib, seperti jutaan orang Ohio lainnya, menonton. Dengan harapan. Dengan doa.
Dan kemudian kata-kata yang menghancurkan:
"I'm taking my talents to South Beach."
Miami. Dia pergi ke Miami.
Kemarahan yang Meledak
Reaksi di Ohio apocalyptic. Orang membakar jersey LeBron. Pemilik Cavaliers menulis surat terbuka yang mengutuk LeBron sebagai pengkhianat. Anak-anak yang punya poster LeBron merobeknya.
Ini bukan hanya tentang olahraga. Ini tentang pengkhianatan personal.
Karena LeBron tahu apa yang Ohio—terutama Cleveland—berikan padanya. Mereka mempercayainya ketika dia masih anak SMA. Mereka mendukungnya di setiap game. Mereka memberinya identitas.
Dan dia meninggalkan mereka untuk pantai Miami dan tim superstar yang sudah bagus.
Abdurraqib menggambarkan malam itu dengan detail yang menyakitkan: bagaimana barbershop yang biasanya ramai tiba-tiba sunyi. Bagaimana orang yang biasanya ceria tiba-tiba marah. Bagaimana sesuatu yang penting—kepercayaan, kesetiaan, identitas—hancur dalam satu pengumuman TV.
Pertanyaan yang Lebih Dalam
Tapi Abdurraqib juga mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman:
Apakah LeBron berutang pada Ohio?
Dia lahir di kemiskinan. Dia bekerja keras untuk skill-nya. Tidak ada yang memberinya apapun. Dia menciptakan kesuksesannya sendiri.
Jadi mengapa dia harus mengorbankan peluang terbaiknya untuk menang kejuaraan hanya karena kesetiaan pada tempat lahir?
Di satu sisi: kesetiaan adalah nilai fundamental. Kamu tidak meninggalkan orang yang mendukungmu.
Di sisi lain: impianmu lebih penting daripada ekspektasi orang lain. Kamu berhak mengejar kebahagiaan dan kesuksesanmu.
Tidak ada jawaban yang sempurna. Dan itu yang membuat cerita ini begitu menyakitkan dan begitu manusiawi.
Bagian 5: Kembali—Redemption yang Tidak Sempurna
"I'm Coming Home"
2014. Empat tahun kemudian. Setelah memenangkan dua kejuaraan di Miami.
LeBron menulis essay di Sports Illustrated dengan judul sederhana: "I'm Coming Home."
Dia kembali ke Cleveland.
Ohio meledak dalam kegembiraan. Jersey yang dibakar diganti dengan yang baru. Anak-anak yang merobek poster memasangnya lagi. Semua—hampir semua—dimaafkan.
2016—Kejuaraan yang Mustahil
2016 NBA Finals. Cleveland Cavaliers vs Golden State Warriors.
Warriors adalah tim terbaik dalam sejarah NBA regular season (73 kemenangan). Cleveland down 3-1 dalam series—tidak ada tim yang pernah comeback dari defisit itu di final.
Tapi LeBron melakukan yang mustahil. Membawa Cavaliers untuk memenangkan tiga game berturut-turut. Memenangkan kejuaraan pertama Cleveland dalam 52 tahun.
Abdurraqib menggambarkan malam itu: orang menangis di jalanan. Barbershop yang memutar game meledak dalam teriakan. Kakek-kakek yang menunggu seumur hidup untuk kejuaraan akhirnya melihatnya.
LeBron tidak hanya memenangkan trofi. Dia memenangkan redemption.
Tapi...
Tapi cerita tidak berakhir di sana.
2018, LeBron pergi lagi—kali ini ke Los Angeles Lakers. Dan meskipun kali ini reaksinya tidak se-brutal 2010, ada rasa sakit yang familiar:
"Kami tidak cukup. Sekali lagi."
Ohio bukan LA. Ohio bukan tempat di mana superstar ingin menghabiskan sisa karir mereka. Ohio adalah tempat yang kamu tinggalkan—atau tempat yang kamu kembali hanya untuk sesaat.
Dan Abdurraqib menyadari: tidak peduli berapa kali LeBron kembali, Ohio akan selalu menjadi tempat yang ditinggalkan.
Bagian 6: "There's Always Next Year"—Mantra yang Jadi Kutukan
Optimisme atau Penolakan?
"There's always next year" adalah kalimat yang Abdurraqib dengar sepanjang hidupnya.
Cavaliers kalah playoff? "There's always next year." Browns kalah lagi (seperti biasa)? "There's always next year." Ekonomi lokal memburuk? "Things will get better next year." Mimpimu tidak terwujud tahun ini? "There's always next year."
Tapi apa yang terjadi ketika "next year" tidak pernah datang?
Abdurraqib menyadari bahwa kalimat ini adalah bentuk harapan yang juga bentuk penolakan.
Harapan karena: kita percaya masa depan bisa lebih baik. Penolakan karena: kita menghindari menghadapi kenyataan bahwa mungkin ini sudah terbaik yang akan kita dapatkan.
Siklus yang Tidak Berakhir
Setiap musim basket baru, harapan kembali. Fans Cavaliers (bahkan setelah LeBron pergi lagi) tetap beli tiket. Tetap pakai jersey. Tetap percaya "this could be the year."
Tapi lebih sering daripada tidak, itu bukan tahun mereka.
Dan siklus berulang: Harapan → Kekecewaan → "There's always next year" → Harapan lagi
Ini adalah siklus yang membuat kita bertahan. Tapi juga siklus yang membuat kita stuck.
Karena selama kita selalu punya "next year," kita tidak pernah harus benar-benar menghadapi kenyataan: mungkin kita tidak akan pernah menang dengan cara yang kita bayangkan.
Pelajaran untuk Hidup
Abdurraqib membuat koneksi yang lebih luas: bukan hanya tentang basket.
Berapa banyak dari kita yang hidup dengan "next year mentality"?
- "Next year aku akan serius diet."
- "Next year aku akan cari pekerjaan yang lebih baik."
- "Next year aku akan mulai bisnis itu."
- "Next year aku akan perbaiki hubungan ini."
Dan tahun berganti tahun, tapi kita masih di tempat yang sama. Karena "next year" adalah cara kita menunda tindakan hari ini.
Tapi ada sisi lain: tanpa "next year," kita akan putus asa. Harapan—bahkan harapan yang mungkin delusi—adalah yang membuat kita bangun pagi dan mencoba lagi.
Jadi pertanyaannya bukan: haruskah kita berhenti percaya pada "next year"?
Pertanyaannya adalah: bagaimana kita hidup dengan harapan tanpa membiarkan harapan itu melumpuhkan kita dari bertindak hari ini?
Bagian 7: Komunitas—Apa yang Kita Warisi dari Tempat Kita
Identitas Terikat pada Tempat
Abdurraqib menyadari bahwa identitasnya tidak bisa dipisahkan dari Columbus.
Cara dia bicara. Cara dia melihat dunia. Nilai-nilai yang dia pegang. Bahkan cara dia mencintai basket—semua dibentuk oleh tempat dia dibesarkan.
Dan ini rumit. Karena dia juga melihat keterbatasan Columbus. Rasisme sistemik. Kemiskinan. Kurangnya peluang. Semua hal yang membuat banyak orang—termasuk LeBron—ingin pergi.
Tapi ada juga keindahan: komunitas yang saling mendukung. Barbershop yang menjadi tempat filosofi hidup diajarkan. Gym yang menjadi tempat anak-anak belajar disiplin dan teamwork.
Kamu bisa mencintai tempat dan juga frustrasi dengannya. Kamu bisa bangga dari mana kamu berasal sambil juga mengerti mengapa orang pergi.
Beban Representasi
Untuk anak kulit hitam dari Columbus—atau kota kecil manapun—ada beban representasi.
Ketika kamu "make it," kamu tidak hanya mewakili dirimu sendiri. Kamu mewakili lingkungan. Keluarga. Semua orang yang mirip denganmu.
Dan ketika kamu gagal, rasanya seperti kamu mengecewakan semua orang.
LeBron merasakan ini di tingkat yang ekstrim. Tapi setiap anak berbakat dari komunitas yang diabaikan merasakan versinya.
Abdurraqib menulis tentang teman-temannya yang punya talent—dalam musik, dalam seni, dalam akademik—dan bagaimana beban ekspektasi kadang menghancurkan mereka.
Karena tidak adil untuk meminta seorang anak memikul harapan seluruh komunitas.
Tapi itu yang terjadi ketika komunitas punya sangat sedikit yang bisa mereka banggakan.
Bagian 8: Pelajaran dari Lapangan dan Kehidupan
1. Kesetiaan Itu Rumit
LeBron meninggalkan Cleveland. Kembali. Meninggalkan lagi. Apakah dia loyal? Apakah dia pengkhianat?
Jawabannya: keduanya. Atau tidak keduanya. Tergantung bagaimana kamu melihatnya.
Pelajaran: Kesetiaan bukan hitam-putih. Kamu bisa loyal pada tempat asalmu sambil juga memilih jalan yang terbaik untukmu. Dan orang akan menghakimi. Tapi hidupmu adalah hidupmu—bukan milik ekspektasi orang lain.
2. Harapan Adalah Obat dan Racun
"There's always next year" membuat kita bertahan di saat sulit. Tapi juga membuat kita menunda tindakan hari ini.
Pelajaran: Punya harapan untuk masa depan. Tapi jangan gunakan masa depan sebagai alasan untuk tidak bertindak hari ini. Next year dimulai dengan keputusan yang kamu buat sekarang.
3. Kamu Bukan Hanya Dirimu Sendiri
Untuk LeBron, untuk Abdurraqib, untuk semua orang yang "make it" dari tempat yang tidak diharapkan—kamu membawa komunitasmu bersamamu.
Pelajaran: Kesuksesanmu bukan hanya milikmu. Kamu membuka jalan untuk orang lain. Dan itu adalah privilege dan tanggung jawab.
4. Tempat Membentuk Kita—Tapi Tidak Menentukan Kita
Columbus membentuk Abdurraqib. Tapi dia juga tumbuh melampaui batas-batas geografis dan mental kota itu.
Pelajaran: Hormati dari mana kamu berasal. Tapi jangan biarkan kode pos menentukan seberapa jauh kamu bisa pergi.
5. Kegagalan Adalah Bagian dari Cerita
Sebagian besar pemain basket di Columbus tidak jadi LeBron. Sebagian besar musim tidak berakhir dengan kejuaraan. Dan itu okay.
Pelajaran: Kegagalan bukan akhir cerita—itu adalah bagian dari cerita. Cara kamu merespons kegagalan adalah yang mendefinisikan karaktermu.
Penutup: Tahun Ini, Tahun Depan, dan Selamanya
Hanif Abdurraqib tidak menulis buku tentang basket. Dia menulis buku tentang apa artinya datang dari tempat yang diabaikan dan mencoba membuat sesuatu dari dirimu sendiri.
Dia menulis tentang bagaimana olahraga—dan LeBron James khususnya—menjadi simbol untuk semua harapan, frustrasi, dan kompleksitas dari tumbuh sebagai orang kulit hitam di Amerika tengah.
Dan dia menulis tentang mantra yang kita ulangi untuk bertahan: "There's always next year."
Tapi di akhir buku, Abdurraqib sampai pada kesadaran yang indah dan menyakitkan:
Mungkin "next year" bukan tentang menang. Mungkin "next year" adalah tentang tetap hadir. Tetap mencoba. Tetap peduli—bahkan ketika peduli itu menyakitkan.
Karena alternatifnya adalah apa? Berhenti peduli? Berhenti harap? Mati secara emosional sebelum tubuh kita mati?
Tidak. Kita terus harap. Kita terus coba. Kita terus bilang "there's always next year."
Bukan karena kita naif. Tapi karena harapan—bahkan harapan yang rapuh—adalah yang membuat kita manusia.
Pertanyaan untuk Anda
Abdurraqib meninggalkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan ini:
- Apa "next year" yang kamu tunggu? Dan apakah kamu benar-benar menunggu—atau hanya menunda?
- Siapa "LeBron James" dalam hidupmu—orang yang membawa harapan komunitasmu? Dan bagaimana kamu merespons ketika mereka "pergi"?
- Dari mana kamu berasal, dan bagaimana tempat itu membentukmu? Apa yang kamu terima dengan syukur, dan apa yang kamu pilih untuk tinggalkan?
- Apakah kamu loyal pada hal-hal yang tidak lagi melayanimu? Atau apakah kamu cukup berani untuk pergi—bahkan jika itu berarti mengecewakan orang?
Tidak ada jawaban yang mudah. Tapi pertanyaan-pertanyaan ini patut ditanyakan.
Karena hidup—seperti basket—bukan tentang one perfect season. Hidup adalah tentang tetap bermain, musim demi musim, dengan harapan bahwa suatu hari, mungkin, ini akan menjadi tahun kita.
Dan jika bukan tahun ini?
There's always next year.
Tentang Buku Asli
"There's Always This Year: On Basketball and Ascension" diterbitkan pada tahun 2024.
Hanif Abdurraqib adalah penyair, esais, dan kritikus budaya pemenang berbagai penghargaan. Buku-buku sebelumnya termasuk "A Fortune for Your Disaster" dan "Go Ahead in the Rain: Notes to A Tribe Called Quest" yang menjadi New York Times bestseller.
Abdurraqib dikenal untuk kemampuannya menggabungkan musik, olahraga, ras, dan memori personal dalam prose yang puitis dan mendalam. Dia menulis tentang budaya populer dengan cara yang mengungkap kebenaran lebih besar tentang Amerika, identitas, dan kemanusiaan.
Buku ini bukan buku olahraga tradisional. Ini adalah memoar, kritik sosial, dan puisi cinta untuk Ohio, untuk basket, dan untuk semua tempat dan orang yang diabaikan tapi tetap penting.
Untuk pengalaman lengkap dari prosa Abdurraqib yang indah dan refleksi yang mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Dia menulis dengan keindahan bahasa yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan—setiap kalimat dipilih dengan hati-hati, setiap metafora membawa berat emosional.
Ringkasan ini hanya memberikan kerangka ide. Buku lengkapnya memberikan pengalaman membaca yang transformatif—yang akan membuat Anda melihat basket, tempat asal Anda, dan konsep harapan dengan mata yang berbeda.
Sekarang pergilah dan pikirkan tentang "next year" Anda sendiri.
Dan kemudian tanyakan pada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan hari ini untuk membuat "next year" tidak hanya harapan, tapi kenyataan?
Karena seperti yang dikatakan setiap coach basket yang baik: "You miss 100% of the shots you don't take."
Jadi ambil tembakan itu. Hari ini. Bukan next year.
Musim ini. Tahun ini. Sekarang.