Skip to main content

In the Time of the Butterflies

by Julia Alvarez · April 2026 · 14 min read

Tiga Peti Mati dan Satu Saudara yang Tersisa

Table of contents

Tiga Peti Mati dan Satu Saudara yang Tersisa

Bayangkan Anda adalah satu-satunya saudara yang tersisa dari empat bersaudara. 

Tiga saudara Anda—wanita yang Anda tumbuh bersama, tertawa bersama, bermimpi bersama—dibunuh pada hari yang sama. Dipukuli sampai mati, lalu mobil mereka didorong dari tebing untuk membuat seolah-olah kecelakaan. 

Seluruh negara tahu ini bukan kecelakaan. Tapi tidak ada yang berani berbicara. 

Sekarang, 34 tahun kemudian, Anda duduk di rumah yang dulunya penuh dengan tawa empat saudara perempuan. Seorang wanita asing datang, ingin mendengar cerita tentang "Las Mariposas"—Kupu-Kupu—nama kode saudara-saudara Anda dalam gerakan bawah tanah. 

Dari mana Anda mulai? Bagaimana Anda menceritakan tentang bagaimana empat gadis biasa dari keluarga baik-baik menjadi simbol perlawanan melawan salah satu diktator paling brutal di Amerika Latin? 

Ini adalah pertanyaan yang Dedé Mirabal hadapi setiap hari—satu-satunya saudara yang selamat, yang hidup untuk menceritakan kisah Patria, Minerva, dan María Teresa. 

"In the Time of the Butterflies" adalah novel Julia Alvarez berdasarkan kisah nyata dari Saudari Mirabal—empat wanita yang berani melawan Rafael Trujillo, diktator yang memerintah Republik Dominika dengan tangan besi selama 31 tahun. 

Tapi ini bukan hanya cerita tentang heroisme yang besar. Ini adalah cerita tentang bagaimana orang biasa menemukan keberanian yang luar biasa—tentang pilihan-pilihan kecil yang mengubah Anda dari penonton menjadi pejuang, dari yang takut menjadi yang ditakuti oleh tirani. 

Mari kita masuk ke masa kupu-kupu—dan memahami mengapa tiga wanita ini memilih untuk terbang, meskipun mereka tahu sayap mereka mungkin terbakar.


Bagian 1: Empat Saudara, Empat Jalan yang Berbeda

Patria—Yang Saleh 

Patria adalah yang tertua. Sejak kecil, dia tahu apa yang dia inginkan: menjadi biarawati, mengabdikan hidupnya kepada Tuhan. 

Dia yang paling lembut, paling nurturing. Dia merawat saudara-saudarinya seperti anak-anaknya sendiri. Ketika dia berdoa, ada kedamaian di wajahnya—keyakinan yang teguh bahwa Tuhan menjaga segalanya. 

Tapi kehidupan punya rencana lain. Di masa remaja, dia jatuh cinta dengan Pedrito—seorang petani yang baik hati. Dia memilih pernikahan dan keluarga daripada biara. 

Dia pikir dia memilih jalan yang aman, jalan yang tenang. Dia salah. 

Dedé—Yang Praktis 

Dedé adalah yang paling praktis, paling realistis. Dia yang selalu memikirkan konsekuensi, yang menghitung risiko, yang mencoba melindungi keluarga dari bahaya. 

Ketika saudara-saudarinya mulai berbicara tentang perlawanan, Dedé khawatir. "Apa yang bisa kita lakukan? Kita hanya wanita. Trujillo terlalu kuat." 

Dia mencintai saudara-saudarinya dengan sepenuh hati. Tapi dia juga mencintai keamanan, stabilitas. Dia menikahi Jaimito—pria yang menginginkan istri yang patuh, yang tetap di rumah, yang tidak membuat masalah. 

Dan pilihan ini—pilihan untuk "aman"—akan menjadi penyesalan terbesar hidupnya.

Minerva—Yang Pemberontak 

Minerva adalah api. Sejak kecil, dia tidak bisa menerima ketidakadilan. 

Ketika dia melihat anak-anak miskin tidak bisa sekolah, dia marah. Ketika dia mendengar cerita tentang wanita yang diperkosa oleh pejabat Trujillo, dia geram. Ketika dia mengetahui bahwa ayahnya punya keluarga kedua secara rahasia, dia merasa dikhianati—bukan hanya oleh ayahnya, tetapi oleh sistem yang membiarkan pria melakukan apa pun yang mereka mau. 

Di sekolah, dia adalah yang paling cerdas. Dia bermimpi menjadi pengacara—mimpi yang hampir mustahil untuk wanita di Republik Dominika tahun 1940-an. 

Tapi Minerva tidak peduli tentang "mustahil." Dia percaya bahwa jika Anda melihat ketidakadilan, Anda punya kewajiban moral untuk melawan.

Dia akan menjadi jantung dari perlawanan. Dan dia akan membayar harga yang paling tinggi.

María Teresa—Yang Muda 

María Teresa, atau Mate, adalah yang termuda—dan yang paling innocent di awal. 

Ketika saudara-saudarinya berbicara tentang politik, dia lebih tertarik pada gaun, pesta, dan jatuh cinta. Dia menulis diary yang penuh dengan kekhawatiran remaja: "Apakah Ramón memperhatikan saya hari ini? Apakah rambut saya bagus?" 

Tapi bahkan jiwa yang paling innocent bisa diubah oleh kekejaman yang cukup besar. 

Mate akan tumbuh—dengan cara yang paling menyakitkan—dari gadis yang menulis tentang pesta menjadi wanita yang menulis tentang penyiksaan, penjara, dan keberanian untuk bertahan hidup.


Bagian 2: El Jefe—Diktator yang Tersenyum

Kultus Kepribadian 

Rafael Trujillo, yang menyebut dirinya "El Jefe" (Sang Bos), memerintah Republik Dominika sejak 1930. 

Dia bukan diktator yang sembunyi di istana. Dia ada di mana-mana—fotonya di setiap kantor pemerintah, namanya di jembatan dan gedung, lagu pujian untuknya diputar di radio. 

Anak-anak sekolah diajarkan untuk berdoa: "Tuhan di surga, Trujillo di bumi."

Tapi di balik senyuman dan kemegahan, ada mesin teror yang sistematis.

Teror yang Terorganisir 

Trujillo punya mata dan telinga di mana-mana—SIM (Servicio de Inteligencia Militar), polisi rahasia yang menculik, menyiksa, dan membunuh siapa pun yang dianggap ancaman. 

Anda tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi target. Cukup berbicara terlalu keras di bar. Cukup tidak tersenyum ketika konvoi Trujillo lewat. Cukup punya istri atau putri yang cantik yang El Jefe inginkan. 

Dan jika Anda menghilang? Keluarga Anda tidak akan pernah tahu apa yang terjadi. Tidak ada pengadilan. Tidak ada tubuh. Hanya kekosongan. 

Ini adalah dunia di mana Saudari Mirabal tumbuh—dunia di mana ketakutan adalah mata uang paling berharga.


Bagian 3: Kesadaran—Ketika Mata Terbuka 

Momen Minerva: Pesta yang Mengubah Segalanya 

Pada usia 19 tahun, Minerva dan keluarganya diundang ke pesta Trujillo—kehormatan besar yang tidak bisa ditolak. 

Di pesta itu, Trujillo menari dengan Minerva. Tangannya menyentuh dia dengan cara yang membuat dia merasa kotor. Dia berbisik hal-hal yang membuat darahnya mendidih. 

Tapi yang paling menghancurkan: dia menyadari bahwa ayahnya tahu Trujillo menginginkan putrinya, dan dia membawa Minerva ke pesta itu sebagai... persembahan. 

Dalam momen itu, sesuatu di dalam Minerva pecah. Bukan hanya kekecewaan pada ayahnya—tetapi kemarahan terhadap seluruh sistem yang memperlakukan wanita sebagai objek, sebagai hadiah untuk dictator. 

Dia menampar Trujillo. Di depan semua tamu. 

Seluruh ruangan membeku. Tidak ada yang menampar El Jefe dan hidup untuk menceritakannya. 

Tapi entah bagaimana, Minerva lolos—untuk saat itu. Mungkin Trujillo terlalu terkejut. Mungkin dia menganggap ini sebagai permainan. Mungkin dia suka tantangan. 

Tapi dari malam itu, Minerva Mirabal ada di radar. Dan begitu Anda di radar Trujillo, Anda tidak pernah benar-benar bebas. 

Momen Patria: Penglihatan di Gunung 

Patria adalah yang terakhir bergabung dengan perlawanan. Bagaimana bisa wanita yang begitu saleh, yang begitu percaya pada Tuhan, memilih kekerasan? 

Jawabannya datang dalam momen yang menghancurkan. 

Patria sedang dalam perjalanan spiritual di pegunungan ketika tentara Trujillo menyerang pemberontak yang bersembunyi di sana. 

Dari kejauhan, dia melihat seorang pemuda—tidak lebih tua dari anaknya sendiri—ditembak mati. 

Tubuhnya jatuh. Darah mengalir. Kehidupan hilang dalam sekejap. 

Dan Patria mendengar suara dalam hatinya, bukan suara Tuhan yang dia kenal—tetapi suara yang lebih mendesak: "Jika kamu diam sekarang, kamu ikut bersalah atas kematian anak-anak ini."

Dia menyadari: Kadang cinta membutuhkan perlawanan. Kadang iman membutuhkan pemberontakan. 

Jika Tuhan adalah cinta, bagaimana dia bisa diam sementara anak-anak Tuhan dibunuh? 

Dari hari itu, Patria mengubah rumahnya menjadi tempat pertemuan rahasia untuk pemberontak. Dia menggunakan doanya bukan hanya untuk keselamatan—tetapi untuk kekuatan untuk melawan. 

Momen María Teresa: Kehilangan Kepolosan 

Mate bergabung dengan perlawanan hampir tanpa berpikir—karena dia mencintai saudara-saudarinya, karena dia mencintai Leandro (yang juga pemberontak), karena di usia muda, perlawanan terasa seperti petualangan. 

Tapi dia kehilangan kepolosannya dalam cara yang paling brutal: di penjara. 

Ketika dia ditangkap, dia disiksa. Mereka menyetrum dia dengan listrik. Mereka mengancam akan membunuh ibunya. Mereka menempatkan dia di sel yang penuh dengan kecoak dan tikus. 

Dalam diarynya—yang dia tetap tulis bahkan di penjara—dia menulis dengan tulisan tangan yang gemetar: 

"Hari ini mereka mengambil sesuatu dari saya yang tidak bisa saya namakan. Tapi saya tidak akan membiarkan mereka mengambil roh saya. Itu tetap menjadi milik saya." 

Mate tumbuh dari gadis menjadi wanita di tempat paling gelap—dan dia muncul lebih kuat dari yang pernah dia bayangkan.


Bagian 4: Perlawanan Bawah Tanah 

Gerakan 14 Juni 

Saudari Mirabal, bersama dengan suami mereka dan ratusan orang lain, bergabung dengan gerakan bawah tanah yang disebut "Gerakan 14 Juni"—dinamai berdasarkan tanggal invasi yang gagal terhadap Trujillo. 

Mereka bertemu secara rahasia. Membagikan pamflet. Merekrut anggota baru. Merencanakan sabotase. 

Minerva menjadi "Mariposa #1"—Kupu-Kupu Nomor Satu. Nama kode yang akan menjadi legenda. 

Mengapa kupu-kupu? Karena kupu-kupu terlihat rapuh, tetapi bisa terbang melintasi pegunungan. Terlihat tidak berbahaya, tetapi bisa membawa benih perubahan. 

Hidup Ganda yang Melelahkan 

Bayangkan hidup seperti ini: 

Di siang hari, Anda ibu rumah tangga yang memasak untuk keluarga, mengurus anak, tersenyum pada tetangga. 

Di malam hari, Anda pemberontak yang membawa pesan terenkripsi, menyembunyikan senjata di bawah gaun Anda, merencanakan cara untuk menggulingkan dictator. 

Setiap ketukan pintu bisa menjadi SIM yang datang menangkap Anda. Setiap percakapan bisa menjadi jebakan. Setiap orang bisa menjadi informan. 

Tapi mereka terus. Karena diam berarti menerima. Dan menerima berarti menjadi ikut bersalah.


Bagian 5: Penjara dan Penyiksaan 

Tiga Saudara di Penjara 

Pada tahun 1960, Minerva, Mate, dan Patria ditangkap. 

Tuduhan: konspirasi melawan negara. Bukti: hampir tidak ada—tetapi di bawah Trujillo, bukti tidak diperlukan. 

Mereka dipenjara di La 40—penjara yang terkenal dengan penyiksaan brutalnya.

Di sana, mereka melihat kengerian yang tidak bisa dijelaskan: 

  • Wanita yang diperkosa oleh sipir
  • Tahanan yang disiksa dengan arus listrik
  • Orang yang "menghilang" di tengah malam

Tapi mereka juga menemukan sesuatu yang tidak terduga: solidaritas. 

Para tahanan wanita saling menjaga. Berbagi makanan yang langka. Menyanyikan lagu untuk memberikan keberanian. Menceritakan cerita untuk membuat waktu berlalu. 

Patria berdoa bersama mereka. Minerva mengajar mereka tentang hak-hak mereka. Mate menulis diary untuk mendokumentasikan kengerian—agar dunia suatu hari akan tahu. 

Dedé—Saudara yang Tidak Dipenjara 

Sementara tiga saudarinya di penjara, Dedé hidup dalam penyiksaan yang berbeda: rasa bersalah. 

Mengapa dia tidak bersama mereka? Mengapa dia memilih keamanan daripada keberanian? 

Suaminya, Jaimito, telah melarang dia bergabung dengan perlawanan. Dan dia mematuhi—memilih pernikahan daripada perjuangan. 

Sekarang, setiap hari dia membawa pakaian bersih ke penjara, makanan untuk saudara-saudarinya. Setiap hari dia melihat mereka semakin kurus, semakin terluka. 

Dan setiap hari dia bertanya pada dirinya sendiri: "Apakah keamanan saya sepadan dengan rasa malu ini?"


Bagian 6: Pembebasan dan Ancaman 

Tekanan Internasional 

Setelah beberapa bulan, tekanan internasional memaksa Trujillo untuk membebaskan Saudari Mirabal. 

Organisasi Amerika dan Katolik mengecam penangkapan mereka. Pers internasional mulai menulis tentang "Las Mariposas." 

Trujillo, yang peduli dengan citra internasionalnya, melepaskan mereka—tetapi dengan pesan yang jelas: "Ini hanya sementara. Kalian tetap di mata saya." 

Kebebasan yang Bukan Kebebasan 

Mereka dibebaskan, tetapi tidak bebas. 

SIM mengikuti mereka ke mana-mana. Telepon mereka disadap. Teman-teman mereka takut untuk dikaitkan dengan mereka. 

Suami-suami mereka masih di penjara—ditahan sebagai jaminan, cara untuk mengontrol para wanita. 

Setiap minggu, Minerva, Patria, dan Mate melakukan perjalanan panjang dan berbahaya melintasi pegunungan untuk mengunjungi suami mereka di penjara. 

Teman-teman mereka memperingatkan: "Jangan pergi. Terlalu berbahaya. Mereka menunggu kesempatan." 

Tapi mereka tetap pergi. Karena cinta membutuhkan keberanian. Dan kesetiaan membutuhkan risiko.


Bagian 7: 25 November 1960—Hari yang Mengubah Sejarah 

Perjalanan Terakhir 

25 November 1960. Minerva, Patria, dan Mate melakukan perjalanan seperti biasa untuk mengunjungi suami mereka. 

Mereka tahu risikonya. Mereka sudah diperingatkan. Tapi mereka tidak bisa membiarkan suami mereka sendirian. 

Di jalan pulang, di jalan pegunungan yang sepi, mereka dihentikan oleh SIM.

Apa yang terjadi selanjutnya brutal dan cepat: 

Mereka dipukuli sampai mati dengan tongkat baseball. Sopir mereka juga dibunuh. Lalu mobil mereka didorong dari tebing untuk membuat tampak seperti kecelakaan. 

Tapi seluruh negara tahu ini bukan kecelakaan. Luka-luka di tubuh mereka terlalu brutal. Ceritanya terlalu rapi. 

Trujillo pikir dengan membunuh Kupu-Kupu, dia membunuh perlawanan.

Dia salah. 

Kemarahan yang Menggulingkan Dictator 

Pembunuhan Saudari Mirabal tidak mematikan perlawanan—pembunuhan itu menyalakannya. 

Orang-orang yang sebelumnya takut sekarang marah. Mereka yang diam sekarang berbicara. Bahkan pendukung Trujillo mulai mempertanyakan. 

Enam bulan kemudian—30 Mei 1961—Rafael Trujillo ditembak mati dalam penyergapan. 31 tahun kediktatoran berakhir. 

Banyak yang mengatakan pembunuhan Saudari Mirabal adalah titik balik. Kekejaman yang akhirnya terlalu jauh. Tindakan yang membuktikan bahwa Trujillo bukan pelindung—tetapi monster. 

Las Mariposas tidak hidup untuk melihat kebebasan yang mereka perjuangkan. Tapi kematian mereka membuat kebebasan itu mungkin.


Bagian 8: Dedé—Hidup dengan Memori Mereka

Beban Survivor 

Dedé selamat. Dan untuk sisa hidupnya, dia akan bertanya: "Mengapa saya?" 

Dia merawat 12 anak—tiga anaknya sendiri dan sembilan anak yatim piatu dari saudara-saudarinya yang terbunuh. 

Dia menceritakan kisah mereka kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Dia mengubah rumah keluarga menjadi museum. Dia memberikan wawancara kepada penulis, jurnalis, peneliti. 

Dia hidup bukan untuk dirinya sendiri—tetapi untuk memastikan dunia tidak melupakan Patria, Minerva, dan Mate. 

25 November—Hari Internasional Melawan Kekerasan terhadap Perempuan 

Pada tahun 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 25 November—hari pembunuhan Saudari Mirabal—sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan. 

Tiga wanita dari negara kecil di Karibia menjadi simbol global untuk perlawanan terhadap penindasan. 

Kupu-kupu mereka tidak mati. Mereka berkembang biak dan terbang ke seluruh dunia.


Bagian 9: Pelajaran dari Kupu-Kupu 

1. Keberanian Bukan Tidak Takut—Tetapi Bertindak Meskipun Takut

Saudari Mirabal takut. Mereka tahu mereka bisa ditangkap, disiksa, dibunuh. 

Tapi mereka bertindak tetap. Karena keberanian bukan ketiadaan ketakutan—tetapi pilihan untuk melakukan yang benar meskipun takut. 

Pelajaran: Tunggu sampai Anda tidak takut, dan Anda tidak akan pernah bertindak. Keberanian adalah melangkah maju dengan kaki yang gemetar. 

2. Orang Biasa Bisa Melakukan Hal Luar Biasa 

Mereka bukan superhero. Mereka ibu rumah tangga, istri, ibu. Mereka memasak. Mereka mengurus anak. Mereka khawatir tentang hal-hal sehari-hari. 

Tapi ketika dihadapkan dengan ketidakadilan yang cukup besar, mereka menemukan kekuatan yang tidak mereka tahu mereka miliki. 

Pelajaran: Anda tidak perlu terlahir luar biasa untuk melakukan hal luar biasa. Situasi membentuk karakter. 

3. Diam adalah Pilihan—Dan Pilihan Punya Konsekuensi 

Dedé memilih keamanan. Dia memilih untuk tidak bergabung dengan perlawanan.

Pilihan itu menyelamatkan hidupnya—tetapi dia hidup dengan penyesalan seumur hidup. 

Pelajaran: Tidak memilih sisi adalah memilih sisi yang berkuasa. Diam di hadapan ketidakadilan adalah ikut bersalah. 

4. Perubahan Membutuhkan Pengorbanan 

Saudari Mirabal mengorbankan keamanan, kenyamanan, dan akhirnya hidup mereka.

Tapi pengorbanan mereka tidak sia-sia. Mereka mengubah sejarah. 

Pelajaran: Perubahan besar jarang datang tanpa harga. Pertanyaannya bukan apakah ada pengorbanan—tetapi apakah tujuannya sepadan dengan pengorbanan itu. 

5. Warisan Hidup dalam Tindakan, Bukan Kata-kata 

Saudari Mirabal tidak meninggalkan manifesto panjang atau pidato terkenal.

Mereka meninggalkan contoh—contoh keberanian, pengorbanan, dan kegigihan.

Pelajaran: Anda tidak perlu kata-kata yang sempurna. Anda perlu tindakan yang berani.


Penutup: Kupu-Kupu Masih Terbang 

Julia Alvarez menulis novel ini bukan hanya untuk menghormati Saudari Mirabal—tetapi untuk bertanya kepada kita semua: 

"Jika Anda hidup di masa kupu-kupu, apakah Anda akan terbang? Atau apakah Anda akan tetap di tanah yang aman?" 

Mudah untuk mengatakan kita akan berani ketika kita membaca tentang sejarah. Mudah untuk mengagumi Patria, Minerva, dan Mate dari kejauhan. 

Tapi pertanyaan yang lebih sulit adalah: Apa yang Anda lakukan sekarang? 

Ketika Anda melihat ketidakadilan di sekitar Anda—di tempat kerja, di komunitas Anda, di negara Anda—apakah Anda berbicara? Atau apakah Anda diam karena takut konsekuensinya? 

Ketika Anda harus memilih antara keamanan dan prinsip, mana yang Anda pilih?

Saudari Mirabal tidak sempurna. Mereka ragu. Mereka takut. Mereka membuat kesalahan. 

Tapi pada akhirnya, mereka memilih untuk terbang—meskipun mereka tahu sayap mereka mungkin terbakar. 

Pertanyaan untuk Anda 

  • Ketidakadilan apa yang Anda lihat tetapi pilih untuk mengabaikan?
  • Keamanan apa yang membuat Anda diam ketika Anda seharusnya berbicara?
  • Penyesalan seperti Dedé apa yang akan Anda miliki jika Anda tidak bertindak sekarang?
  • Warisan apa yang ingin Anda tinggalkan—kehati-hatian atau keberanian?

Kupu-kupu Mirabal mati pada tahun 1960. Tapi setiap kali seseorang memilih untuk melawan ketidakadilan, mereka terbang lagi. 

Setiap kali seorang wanita berbicara melawan kekerasan, mereka terbang lagi.

Setiap 25 November, ketika dunia mengenang mereka, mereka terbang lagi. 

Pertanyaannya adalah: Apakah Anda akan membiarkan mereka terbang sendirian? Atau apakah Anda akan bergabung dengan formasi?


Tentang Buku Asli 

"In the Time of the Butterflies" diterbitkan pada tahun 1994 oleh Julia Alvarez, seorang penulis Amerika-Dominika yang mendengar tentang Saudari Mirabal ketika dia masih kecil dan tinggal di Republik Dominika. 

Buku ini adalah fiksi historis—berdasarkan peristiwa nyata tetapi dengan dialog dan pemikiran internal yang dibayangkan. Alvarez melakukan penelitian ekstensif, mewawancarai Dedé Mirabal dan survivor lain, membaca dokumen sejarah, dan mengunjungi lokasi-lokasi penting. 

Novel ini menjadi bestseller internasional dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Diadaptasi menjadi film pada tahun 2001 dengan Salma Hayek sebagai Minerva. 

Yang paling penting: Buku ini membawa kisah Saudari Mirabal ke audiens global, memastikan bahwa pengorbanan mereka tidak dilupakan. 

Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas karakter, nuansa sejarah, dan keindahan prosa Alvarez, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi—pengalaman penuh dari suara-suara empat saudara yang berbeda dan perjalanan emosional mereka hanya bisa didapat dari teks lengkapnya. 

Sekarang pergilah dan terbang—dengan keberanian, dengan tujuan, dengan pemahaman bahwa perubahan dimulai dengan orang biasa yang memilih untuk melakukan hal luar biasa. 

Karena seperti yang ditunjukkan Las Mariposas: Kupu-kupu mungkin tampak rapuh, tetapi ketika mereka terbang bersama, mereka bisa mengubah arah angin.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Correspondent
Back to top

Similar books