Too Big to Fail
by Andrew Ross Sorkin · December 2025 · 15 min read
Pagi yang Mengubah Segalanya
Table of contents
Pagi yang Mengubah Segalanya
Sabtu pagi, 13 September 2008. Pukul 7:00. Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase—bank terbesar ketiga di Amerika—berdiri di dapur apartemen mewahnya di Park Avenue, menuangkan kopi ke cangkirnya. Kepalanya berdenyut. Hangover ringan dari semalam, tapi bukan itu yang membuatnya sakit.
Yang membuatnya sakit adalah: ia tahu terlalu banyak.
Malam sebelumnya, ia menghadiri pertemuan darurat di Federal Reserve Bank of New York bersama dengan selusin CEO Wall Street lainnya. Misi mereka: menyelamatkan Lehman Brothers—bank investasi terbesar keempat di negara itu.
Dimon tahu bahwa Lehman mungkin tidak akan bertahan hingga akhir pekan ini. JPMorgan telah memeriksa buku mereka seminggu sebelumnya sebagai pemberi pinjaman potensial. Hasilnya? Tidak terkesan. Bahkan, JPMorgan meminta jaminan tambahan dari Lehman karena takut perusahaan itu akan jatuh.
Tapi Dimon khawatir tentang lebih dari sekadar Lehman Brothers.
Ia tahu bahwa jika Lehman jatuh, efek dominonya bisa menghancurkan seluruh sistem keuangan global. Bukan hanya Wall Street. Bukan hanya Amerika. Tetapi seluruh dunia.
Dan ia benar.
48 jam kemudian, Lehman Brothers—perusahaan berusia 158 tahun yang selamat dari Perang Saudara, Depresi Besar, dan dua Perang Dunia—akan bangkrut. Kebangkrutan terbesar dalam sejarah Amerika.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah kisah paling dramatis dalam keuangan modern: bagaimana segelintir orang—didorong oleh ego, ketakutan, keserakahan, dan insting bertahan hidup—membuat keputusan yang menentukan nasib ekonomi global.
Ini bukan cerita tentang angka dan grafik. Ini adalah cerita tentang manusia di bawah tekanan luar biasa, mencoba menyelamatkan dunia dari jurang kehancuran.
Selamat datang di "Too Big to Fail"—kisah di balik layar krisis keuangan 2008 yang nyaris membawa kita ke Great Depression II.
Bagian 1: Fondasi Kehancuran
Era Keserakahan yang Luar Biasa
Untuk memahami bagaimana semuanya runtuh pada September 2008, kita perlu kembali beberapa tahun sebelumnya—ke era yang oleh banyak orang disebut sebagai "Gilded Age II"—zaman keemasan kedua Wall Street.
Selama tahun 2000-an awal, Wall Street sedang pesta. Boom real estate membuat semua orang kaya. Bank-bank investasi menciptakan produk keuangan kompleks yang dijanjikan memberikan return tinggi dengan risiko rendah—sebuah fantasi yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Lima bank investasi terbesar—Bear Stearns, Goldman Sachs, Lehman Brothers, Merrill Lynch, dan Morgan Stanley—mencetak keuntungan rekor. Tahun 2006 saja, mereka membagikan $36 miliar dalam bonus. Goldman Sachs sendiri membagikan $20 miliar—lebih dari $661,000 per karyawan. CEO Lloyd Blankfein membawa pulang $54 juta.
Tapi uang ini bukan datang dari bisnis yang solid. Ini datang dari leverage yang gila-gilaan.
Leverage: Taruhan dengan Uang yang Tidak Ada
Pada 2008, lima bank investasi terbesar memiliki rasio leverage 40:1. Artinya: untuk setiap $1 modal mereka sendiri, mereka meminjam $40.
Bayangkan Anda punya $1 juta. Dengan leverage 40:1, Anda bisa bermain dengan $40 juta. Jika investasi Anda naik 10%, Anda untung $4 juta dari modal $1 juta—return 400%. Luar biasa!
Tapi ada catch: jika investasi Anda turun hanya 2,5%, Anda kehilangan seluruh modal $1 juta. Bangkrut.
Inilah yang terjadi. Bank-bank ini bertaruh besar-besaran pada mortgage-backed securities—sekuritas yang didukung oleh hipotek rumah. Selama harga rumah terus naik, semuanya baik-baik saja. Ketika harga rumah mulai turun...
Subprime Mortgage: Bom Waktu
Bank-bank memberikan hipotek kepada orang-orang yang seharusnya tidak pernah mendapat pinjaman—orang tanpa pekerjaan tetap, tanpa uang muka, bahkan tanpa verifikasi pendapatan. Ini disebut "subprime mortgages."
Mengapa bank melakukan ini? Karena mereka tidak memegang hipotek itu. Mereka membungkusnya menjadi sekuritas kompleks (Collateralized Debt Obligations/CDO), memberikan rating AAA palsu, dan menjualnya ke investor di seluruh dunia.
Pada 2007, tingkat kredit macet subprime mortgage mencapai 14,5%. Tahun 2008? 21%. Rumah kartu mulai runtuh.
Dan pada akhir 2008, 91% dari CDO diturunkan ratingnya menjadi junk status oleh lembaga pemeringkat kredit.
Bagian 2: Tanda-Tanda Pertama Kehancuran
Bear Stearns: Domino Pertama
17 Maret 2008, pukul 5 pagi. Greenwich, Connecticut. Masih gelap.
Richard Fuld Jr., CEO Lehman Brothers, menyeret dirinya keluar dari rumah mewahnya. Lingkaran hitam di bawah matanya—bukti hanya empat jam tidur yang ia dapat. Mercedes hitam menunggu di jalan masuk, siap membawanya ke kantor.
Semalam, Bear Stearns—bank investasi nomor lima di Amerika—hampir bangkrut. Dalam 48 jam terakhir, mereka kehilangan akses ke pasar kredit. Tidak ada yang mau meminjamkan uang kepada mereka. Tanpa uang, mereka tidak bisa beroperasi. Game over.
Federal Reserve dan Treasury bekerja sepanjang malam. Hasilnya: JPMorgan Chase setuju membeli Bear Stearns seharga... $2 per saham. Dua dolar.
Seminggu sebelumnya, saham Bear Stearns diperdagangkan di $172.
Fuld menatap bayangannya di jendela mobil. Ia tahu Lehman bisa menjadi berikutnya.
Timothy Geithner: Pemadam Kebakaran
Timothy F. Geithner—presiden Federal Reserve Bank of New York yang berusia 46 tahun—datang ke Washington untuk bersaksi di depan Senate Banking Committee.
Tugasnya: menjelaskan mengapa Federal Reserve memfasilitasi akuisisi Bear Stearns dengan memberikan pinjaman $30 miliar kepada JPMorgan.
Beberapa senator marah. "Kenapa kita harus menyelamatkan bank yang serakah dengan uang pembayar pajak?" tanya mereka.
Geithner mencoba menjelaskan: "Jika Bear Stearns bangkrut tanpa terkendali, efek domino bisa menghancurkan seluruh sistem. Overnight lending market—yang membuat bisnis di Amerika bisa berfungsi sehari-hari—bisa berhenti. Itu artinya kekacauan total."
Tapi tidak semua orang yakin. Banyak yang berpikir ini adalah "moral hazard"—menyelamatkan perusahaan yang mengambil risiko bodoh hanya akan mendorong risiko bodoh lainnya di masa depan.
Geithner tidak tidur nyenyak malam itu. Ia tahu Bear Stearns hanyalah awal.
Bagian 3: Musim Panas yang Mengerikan
Lehman Brothers: Denial hingga Detik Terakhir
Dick Fuld, CEO Lehman, adalah orang yang keras kepala. Dijuluki "The Gorilla" karena gaya manajemennya yang agresif, Fuld menolak mengakui bahwa Lehman dalam masalah serius.
Ketika harga saham Lehman terus jatuh sepanjang musim panas 2008, Fuld menyalahkan short sellers—spekulan yang bertaruh saham akan turun. "Ini konspirasi!" teriaknya di meeting internal. "Mereka mencoba menghancurkan kita!"
Tapi masalahnya bukan konspirasi. Masalahnya adalah Lehman punya puluhan miliar dolar aset real estate beracun yang tidak ada yang mau beli.
Fuld mencoba mencari pembeli. Ia menelepon Bank of America. Menelepon Barclays di London. Bahkan mencoba investor Korea. Semua menolak atau menginginkan deal yang Fuld anggap menghina.
"Lehman worth lebih dari itu!" Fuld bersikeras, menolak menurunkan harga aset-aset busuk mereka.
Pride-nya akan menghancurkan perusahaan.
Fannie Mae dan Freddie Mac: Raksasa yang Jatuh
7 September 2008. Henry Paulson—Menteri Keuangan AS—mengumumkan berita mengejutkan: pemerintah mengambil alih Fannie Mae dan Freddie Mac, dua perusahaan penjamin hipotek terbesar di dunia.
Ini adalah intervensi pemerintah paling dramatis dalam sejarah modern Amerika.
Fannie dan Freddie menjamin hampir setengah dari semua hipotek di Amerika—senilai $5 triliun. Jika mereka bangkrut, pasar perumahan dan hipotek akan collapse sepenuhnya.
Paulson tidak punya pilihan. Ia menggunakan wewenang darurat yang diberikan Kongres untuk mengambil alih kedua perusahaan. Taxpayer Amerika sekarang menjamin triliunan dolar hipotek.
Wall Street panik. Jika perusahaan sebesar Fannie dan Freddie bisa jatuh, siapa yang berikutnya?
Jawabannya datang satu minggu kemudian.
Bagian 4: Akhir Pekan yang Mengubah Dunia
Jumat, 12 September: Countdown Dimulai
Pasar tutup Jumat sore dengan Lehman Brothers di ambang kehancuran. Saham mereka turun 45% dalam satu hari. Rating kredit mereka diturunkan. Tidak ada yang mau berbisnis dengan mereka lagi.
Paulson tahu ia hanya punya 48 jam—sebelum pasar dibuka kembali Senin pagi—untuk menemukan solusi.
Ia menelepon Geithner: "We've got to get some foam down on the runway!" (Kita harus meletakkan busa di landasan pacu—metafora untuk mencegah kecelakaan fatal).
Jumat malam, Paulson mengumpulkan CEO bank-bank terbesar Wall Street di kantor Federal Reserve New York:
- Jamie Dimon (JPMorgan Chase)
- Lloyd Blankfein (Goldman Sachs)
- John Mack (Morgan Stanley)
- Vikram Pandit (Citigroup)
- John Thain (Merrill Lynch)
- Dan lainnya
Pesannya jelas: "Pemerintah tidak akan memberikan uang taxpayer untuk menyelamatkan Lehman. Jika Lehman harus diselamatkan, Anda—Wall Street—yang harus melakukannya."
Sabtu-Minggu: Maraton Negosiasi
48 jam berikutnya adalah salah satu periode paling intens dalam sejarah keuangan.
Bank of America sempat tertarik membeli Lehman. Tapi ketika memeriksa buku Lehman lebih detail, mereka menemukan "lubang" $20-30 miliar dalam nilai aset. Terlalu berisiko.
Barclays (bank Inggris) juga tertarik. Tapi regulator Inggris—Financial Services Authority—menolak menyetujui akuisisi. "Kami tidak akan mengizinkan Barclays mengimpor masalah Amerika ke Inggris," kata mereka.
Wall Street CEOs mencoba membuat konsorsium untuk membeli aset buruk Lehman—mirip dengan apa yang dilakukan untuk menyelamatkan Long-Term Capital Management di 1998. Tapi tidak ada yang mau menanggung risiko sebesar itu.
Minggu sore, jelas: tidak ada solusi. Lehman Brothers akan bangkrut.
Plot Twist: Merrill Lynch
Sementara semua fokus pada Lehman, John Thain—CEO Merrill Lynch—menyadari sesuatu: Merrill bisa menjadi berikutnya.
Jika Lehman bangkrut Senin pagi, short sellers dan panik pasar akan mengarah ke target berikutnya. Dan Merrill Lynch—yang juga punya masalah aset beracun—adalah kandidat sempurna.
Minggu malam, Thain menelepon Ken Lewis, CEO Bank of America, yang baru saja menolak membeli Lehman: "Bagaimana jika Anda membeli Merrill Lynch sebagai gantinya?"
Dalam negosiasi kilat semalam, deal ditutup: Bank of America akan membeli Merrill Lynch seharga $50 miliar.
Merrill diselamatkan. Lehman tidak.
Bagian 5: Senin Hitam dan Domino Berikutnya
15 September 2008: Lehman Bangkrut
Senin pagi, 1:45 a.m. Lehman Brothers mengajukan kebangkrutan. Kebangkrutan terbesar dalam sejarah Amerika—$613 miliar aset.
Ketika pasar dibuka, chaos meledak.
Dow Jones turun 504 poin—4,4%. Tapi itu hanya permulaan.
Yang lebih menakutkan adalah apa yang terjadi di pasar yang tidak terlihat oleh publik: overnight lending market mulai freeze.
Bank-bank tiba-tiba tidak mau meminjamkan uang satu sama lain, bahkan untuk semalam. Tanpa lending ini, bisnis tidak bisa membayar gaji. Tidak bisa membeli inventori. Tidak bisa beroperasi.
Sistem keuangan global mulai berhenti.
AIG: Lubang Hitam Berikutnya
Selasa, 16 September. Telepon Geithner berbunyi. Ini adalah berita yang lebih buruk: American International Group (AIG)—perusahaan asuransi terbesar di dunia—dalam masalah besar.
AIG telah menjual triliunan dolar Credit Default Swaps (CDS)—pada dasarnya asuransi terhadap default mortgage-backed securities. Ketika sekuritas ini mulai default en masse, AIG harus membayar.
Masalahnya: AIG tidak punya uang untuk membayar. Mereka butuh $85 miliar. Segera.
Christine Lagarde, Menteri Keuangan Prancis, menelepon Paulson: "Anda TIDAK BOLEH membiarkan AIG gagal. Ini bukan hanya masalah Amerika. Seluruh sistem keuangan Eropa terhubung dengan AIG."
Paulson dan Geithner menghadapi dilema etis: Mereka baru saja membiarkan Lehman bangkrut untuk menghindari moral hazard. Sekarang, 24 jam kemudian, mereka harus menyelamatkan AIG?
Tapi Ben Bernanke—Chairman Federal Reserve—menjelaskan perbedaannya: "Lehman adalah broker-dealer. AIG adalah infrastructure. Jika AIG jatuh, seluruh sistem global collapse. Kami tidak punya pilihan."
Rabu pagi, Federal Reserve memberikan pinjaman $85 miliar kepada AIG. Pemerintah Amerika sekarang memiliki 79,9% dari perusahaan asuransi terbesar dunia.
Bagian 6: Minggu yang Menentukan Nasib Dunia
Panik Menyebar
Dengan Lehman bangkrut dan AIG nyaris collapse, kepanikan menyebar seperti api.
Morgan Stanley dan Goldman Sachs—dua bank investasi tersisa dari Big Five—sekarang menjadi target. Harga saham mereka jatuh bebas. Klien menarik uang. Counterparties menolak trading dengan mereka.
John Mack, CEO Morgan Stanley, menelepon Paulson: "Kami punya likuiditas untuk beberapa hari lagi. Setelah itu, kami mati."
Money market funds mulai "break the buck" (nilai turun di bawah $1 per share)—sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam sejarah modern. Investor panic, menarik $500 miliar dalam beberapa hari.
Credit markets completely froze. Perusahaan yang sehat dan profitable tidak bisa mendapatkan pinjaman—bukan karena mereka berisiko, tetapi karena tidak ada yang mau meminjamkan kepada siapa pun.
General Electric—salah satu perusahaan paling solid di dunia—tidak bisa menjual commercial paper. Jika GE tidak bisa mendapat kredit, sistem benar-benar rusak.
TARP: Bailout $700 Miliar
Paulson dan Bernanke menyadari mereka membutuhkan solusi sistemik, bukan hanya menambal lubang satu per satu.
Mereka merancang Troubled Asset Relief Program (TARP)—program $700 miliar untuk membeli aset beracun dari bank-bank dan menyuntikkan kapital.
Tapi pertama, mereka harus meyakinkan Kongres. Dan itu tidak mudah.
Rabu, 24 September. Paulson dan Bernanke datang ke Capitol Hill untuk meeting dengan pemimpin Kongres.
Bernanke, yang biasanya tenang dan akademis, memberikan warning paling menakutkan yang pernah didengar para politisi itu: "If we don't act immediately, we will not have an economy by Monday." (Jika kita tidak bertindak sekarang, kita tidak akan punya ekonomi pada Senin.)
Senator-senator terdiam. Bernanke tidak hyperbola. Ia benar-benar percaya tanpa intervensi, Amerika akan mengalami Great Depression II.
Drama Politik
Tapi meyakinkan Kongres untuk memberikan $700 miliar uang taxpayer kepada Wall Street—yang baru saja menghancurkan ekonomi dengan keserakahan mereka—adalah menjual yang hampir mustahil.
Publik Amerika marah. "Kenapa kita menyelamatkan bank-bank yang serakah sementara rakyat biasa kehilangan rumah dan pekerjaan?" protes mereka.
29 September, voting pertama TARP di House of Representatives: DITOLAK.
Pasar bereaksi dengan brutal. Dow Jones jatuh 777 poin—penurunan terbesar dalam sejarah saat itu. $1,2 triliun nilai saham menguap dalam satu hari.
Paulson harus melobi keras. Bernanke memberikan presentasi teknis. Presiden Bush membuat panggilan telepon personal ke anggota Kongres yang ragu.
3 Oktober, voting kedua: DISAHKAN.
TARP menjadi hukum. Tapi Paulson segera menyadari sesuatu: membeli aset beracun akan terlalu lambat. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih cepat.
Columbus Day: Pertemuan yang Menentukan
13 Oktober—Columbus Day. Paulson mengumpulkan CEO dari sembilan bank terbesar Amerika di Treasury Department:
- JPMorgan Chase
- Citigroup
- Bank of America
- Wells Fargo
- Goldman Sachs
- Morgan Stanley
- Merrill Lynch (sekarang bagian dari BofA)
- Bank of New York Mellon
- State Street
Paulson dan Sheila Bair (Chairman FDIC) memberitahu mereka sesuatu yang mengejutkan: "Anda semua akan menerima capital injection dari pemerintah. Ini bukan permintaan. Ini adalah instruksi."
Total: $125 miliar akan disuntikkan ke sembilan bank ini.
Beberapa CEO protes—mereka tidak butuh uang pemerintah. Tapi Paulson bersikeras: "Jika hanya bank lemah yang menerima uang, itu akan stigmatisasi mereka. Semua harus menerima agar tidak ada yang terlihat lemah."
Pada akhir meeting, semua CEO menandatangani agreement. Pemerintah Amerika sekarang pemilik sebagian dari bank-bank terbesar negara.
Bagian 7: Aftermath dan Pelajaran
Apa yang Terjadi Setelahnya
Intervensi pemerintah berhasil—dalam arti mencegah total collapse. Tapi dengan harga yang mahal:
Taxpayer Amerika membayar ratusan miliar dolar untuk menyelamatkan institusi yang menciptakan masalah ini.
Pengangguran melonjak ke 10%. Jutaan orang kehilangan rumah, pekerjaan, dan tabungan pensiun.
Resesi berlangsung dua tahun—the Great Recession, resesi terburuk sejak Great Depression.
Wall Street compensation terus naik. Pada 2010, bonus Wall Street mencapai $135 miliar—lebih tinggi dari sebelum krisis. Bank-bank yang diselamatkan dengan uang publik memberikan bonus raksasa kepada executives yang menciptakan kekacauan.
Kepercayaan publik pada sistem keuangan hancur. Gerakan Occupy Wall Street dan populisme kiri-kanan tumbuh dari kemarahan ini.
Siapa yang Harus Disalahkan?
Tidak ada villain tunggal dalam cerita ini. Kegagalan bersifat sistemik:
Bank investasi yang mengambil leverage crazy dan risiko bodoh untuk bonus jangka pendek.
Rating agencies yang memberikan rating AAA pada sekuritas sampah karena dibayar oleh penerbit sekuritas tersebut—conflict of interest yang jelas.
Regulator yang tidur atau tidak punya tools untuk mengawasi shadow banking system.
Kongres yang mencabut Glass-Steagall Act (yang memisahkan commercial dan investment banking) dan memungkinkan banks menjadi "too big to fail."
Fed dan Treasury yang tidak melihat bubble housing datang—atau memilih untuk tidak melihat.
Ideologi pasar bebas yang berlebihan yang percaya pasar always self-correcting dan regulasi always bad.
Pelajaran yang Seharusnya Dipelajari
Andrew Ross Sorkin mengakhiri bukunya dengan pertanyaan-pertanyaan mengganggu:
Apakah kita belajar sesuatu? Dodd-Frank Act 2010 membuat beberapa reforma, tapi banyak kritik mengatakan tidak cukup. Bank-bank masih "too big to fail"—bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Apakah moral hazard tercipta? Dengan menyelamatkan institusi besar, apakah pemerintah membuat president untuk bailout masa depan? Apakah ini mendorong risk-taking berlebihan karena executives tahu taxpayer akan menyelamatkan mereka?
Apakah ini akan terjadi lagi? Banyak ahli percaya ya. Shadow banking tumbuh. Leverage ada di tempat lain sekarang. Risiko sistemik masih ada.
Inkonsistensi keputusan: Mengapa Lehman dibiarkan jatuh tapi AIG diselamatkan? Mengapa Bear Stearns diselamatkan tapi Lehman tidak? Keputusan tampak arbitrary, tergantung pada timing, politik, dan siapa yang punya leverage di ruangan negosiasi.
Penutup: Too Big to Fail, Too Connected to Ignore
Ironi Pahit
Judul "Too Big to Fail" menangkap ironi sistem keuangan modern: institusi tertentu menjadi begitu besar dan terhubung dengan sistem sehingga kegagalan mereka akan menghancurkan seluruh ekonomi.
Ini menciptakan asymmetric risk: ketika bank-bank ini menang, mereka keeping all profits. Ketika mereka kalah, taxpayer covering losses.
Privatisasi keuntungan. Sosialisasi kerugian.
Ini bukan kapitalisme. Ini oligarki keuangan.
Pertanyaan untuk Kita
Sorkin tidak memberikan jawaban mudah. Ia menyajikan fakta dengan detail luar biasa dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan sendiri.
Tapi beberapa pertanyaan perlu kita renungkan:
Haruskah ada batasan ukuran institusi keuangan? Jika bank too big to fail, bukankah mereka too big to exist?
Haruskah investment banking dan commercial banking dipisahkan lagi? Glass-Steagall bekerja selama 60 tahun mencegah krisis major.
Bagaimana mencegah excessive leverage? Apakah 40:1 leverage seharusnya legal?
Siapa yang harus membayar ketika sistem collapse? Apakah adil taxpayer menanggung biaya kesalahan Wall Street?
Bagaimana dengan akuntabilitas individual? Tidak ada CEO besar yang masuk penjara.
Hampir tidak ada yang bahkan dipecat. Apakah ini mendorong behavior yang sama di masa depan?
Warisan Krisis 2008
Krisis 2008 bukan hanya cerita keuangan. Ini adalah turning point dalam sejarah modern:
- Memicu gerakan populis kiri dan kanan
- Mengubah percakapan politik tentang inequality
- Merusak kepercayaan pada institusi—bank, pemerintah, media
- Menunjukkan bahwa globalitas finansial berarti crisis di satu tempat instantly global
- Membuktikan bahwa dalam sistem modern, decision segelintir orang bisa affect miliaran lives
Andrew Ross Sorkin berhasil menangkap drama manusia di balik headline. Ia menunjukkan bahwa ini bukan tentang angka abstrak, tapi tentang orang-orang real membuat keputusan impossible dengan informasi incomplete di bawah tekanan luar biasa.
Beberapa dari mereka heroes. Beberapa villains. Kebanyakan just manusia yang imperfect trying their best dalam situasi yang tidak ada seorang pun siap hadapi.
Kata Terakhir
"Too Big to Fail" adalah reminder powerful bahwa sistem keuangan kita—yang begitu kompleks sehingga bahkan experts tidak fully understand—ada di foundation ekonomi global.
Ketika sistem ini rusak, konsekuensinya tidak hanya dirasakan oleh Wall Street. Tapi oleh guru di Ohio yang kehilangan pension. Pekerja pabrik di Michigan yang di-layoff. Keluarga muda di California yang kehilangan rumah.
Kita semua connected. Dan apa yang terlalu besar untuk gagal, terlalu penting untuk diabaikan.
Tentang Buku Asli
Too Big to Fail: The Inside Story of How Wall Street and Washington Fought to Save the Financial System—and Themselves ditulis oleh Andrew Ross Sorkin dan diterbitkan pertama kali pada tahun 2009.
Sorkin adalah jurnalis pemenang penghargaan untuk The New York Times dan co-anchor CNBC's Squawk Box. Ia juga founder DealBook—platform berita keuangan terkemuka.
Buku ini adalah hasil dua tahun investigasi mendalam dengan akses unprecedented ke key players—lebih dari 200 wawancara dengan CEOs, regulator, dan officials yang terlibat langsung dalam crisis.
Dengan 624 halaman detail yang menakjubkan, buku ini menjadi definitive account dari krisis 2008. Tom Wolfe menyebutnya "fascinating, scene-by-scene saga." The Economist menyebutnya "too good to put down."
Buku ini diadaptasi menjadi film HBO pada 2011, dinominasikan untuk 11 Emmy Awards.
Untuk pemahaman lengkap tentang krisis finansial terbesar dalam generasi kita, buku asli adalah must-read.
Karena those who don't learn from history are doomed to repeat it.
Dan krisis berikutnya mungkin sudah di corner, waiting.