The Travelling Cat Chronicles
by Hiro Arikawa · April 2026 · 12 min read
Kucing yang Menolak Diadopsi
Table of contents
Kucing yang Menolak Diadopsi
Namaku Nana. Aku kucing.
Dan aku punya masalah: pemilikku, Satoru, mencoba memberiku kepada orang lain.
Ini tidak masuk akal. Kami baik-baik saja. Kami punya apartemen yang nyaman. Dia memberi makan tepat waktu. Dia tidak memaksaku memakai baju konyol seperti yang kuliat di internet. Kami hidup dalam harmoni yang sempurna—dengan pemahaman yang jelas bahwa dia ada untuk melayani kebutuhanku.
Jadi mengapa tiba-tiba dia memasukkanku ke dalam keranjang perak, memasukkanku ke dalam mobil yang mencurigakan itu, dan membawaku dalam "perjalanan" untuk menemukan "rumah baru"?
Aku mencoba memberitahunya: "Nyan! Nyan!" (Yang dalam bahasa manusia berarti: "Apa yang salah dengan rumah yang sekarang, bodoh?")
Tapi dia hanya tersenyum dengan senyuman sedih itu—senyuman yang tidak kupahami saat itu, tetapi yang akan membuatku mengerti segala sesuatu tentang cinta, kehilangan, dan apa artinya melepaskan.
Ini adalah kisah perjalanan kami melintasi Jepang. Perjalanan yang kukira tentang mencari rumah baru untukku.
Ternyata, ini adalah perjalanan tentang sesuatu yang jauh lebih besar—dan jauh lebih menyakitkan.
Tapi seperti yang akan kamu pelajari dari kisah ini: Kadang perjalanan paling menyakitkan adalah yang paling penuh cinta.
Bagian 1: Bagaimana Kami Bertemu—Kucing Jalanan yang Terselamatkan
Nana yang Sombong
Sebelum aku bertemu Satoru, aku adalah kucing jalanan yang bangga.
Ya, aku tidak punya rumah. Ya, kadang aku kelaparan. Ya, aku pernah ditabrak mobil dan kakinku terluka. Tapi aku bebas.
Aku tidak perlu tunduk pada manusia. Aku berburu sendiri (well, sebagian besar waktu aku mencuri dari tempat sampah, tapi itu detail teknis). Aku tidur di mana aku mau.
Tapi kemudian mobil itu menabrakku.
Aku tergeletak di jalan, kaki depanku terluka, tidak bisa bergerak. Aku pikir ini akhir. Tapi kemudian seorang pria muda berhenti.
Satoru.
Dia membawaku ke dokter hewan. Membayar operasi. Membawaku pulang ke apartemennya. Merawatku sampai aku sembuh.
Dan yang paling penting: dia tidak memaksaku untuk tinggal.
Setelah aku sembuh, dia membiarkan pintu terbuka. "Kamu bebas pergi kapan saja, Nana," katanya. (Ya, dia memberi nama padaku tanpa izin. Manusia selalu begitu.)
Tapi aku tidak pergi. Bukan karena aku tidak bisa—tetapi karena aku tidak mau.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menemukan seseorang yang menghormati kebebasanku sambil menawarkan tempat yang aman untuk pulang.
Jadi aku tinggal. Dan selama lima tahun berikutnya, kami hidup bersama—bukan sebagai pemilik dan hewan peliharaan, tetapi sebagai... well, teman.
Lima Tahun Kebahagiaan
Kehidupan kami sederhana tapi sempurna.
Setiap pagi, Satoru bangun untuk bekerja. Dia akan mengisi mangkuk makananku, mengelus kepalaku (yang boleh saja, karena aku dalam mood baik di pagi hari), dan pergi.
Aku menghabiskan hari dengan hal-hal penting: tidur di tempat favorit di dekat jendela, mengawasi burung yang tidak bisa kujangkau, tidur lagi.
Setiap sore, dia pulang. Kami makan bersama (dia makan makanan anehnya, aku makan makanan lebih superior-ku). Kadang dia membaca sambil aku duduk di pangkuannya. Kadang dia menonton TV sambil aku berpura-pura tidak peduli tetapi diam-diam menikmati kehangatan tubuhnya.
Sederhana. Rutin. Sempurna.
Jadi ketika dia mulai memasukkanku ke dalam keranjang perak itu dan berbicara tentang "mencari rumah baru," aku bingung dan sedikit terhina.
Apa yang salah dengan rumah kita?
Bagian 2: Perjalanan Dimulai—Mengunjungi Teman-Teman Lama
Pemberhentian Pertama: Kosuke dan Keluarganya
Satoru membawaku ke rumah di pedesaan—rumah dengan halaman luas, anak-anak yang berlarian, dan seorang pria bernama Kosuke yang menyambutnya seperti saudara.
Kosuke adalah teman masa kecil Satoru. Mereka tumbuh bersama, berbagi rahasia, bermimpi tentang masa depan.
Satoru menjelaskan: "Aku sedang mencari rumah untuk Nana. Bisakah kamu mengadopsinya?"
Aku marah. Kenapa dia mau memberiku kepada orang asing ini? Bahkan jika rumahnya bagus, bahkan jika ada halaman untuk dijelajahi—aku tidak tertarik!
Tapi kemudian aku mendengar percakapan mereka di malam hari.
Kosuke bercerita tentang masa kecil mereka—bagaimana Satoru selalu melindunginya dari pengganggu, bagaimana mereka berjanji akan selalu menjadi teman.
Dan Satoru bercerita tentang sesuatu yang lebih gelap: tentang bagaimana orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil ketika dia masih kecil.
Dia diadopsi oleh bibi dan pamannya, tapi mereka tidak pernah benar-benar menginginkannya. Dia tumbuh merasa seperti beban.
Kosuke adalah satu-satunya yang membuatnya merasa diterima.
Aku mulai mengerti: Satoru tidak hanya mencari rumah untukku. Dia sedang mengunjungi orang-orang penting dalam hidupnya.
Tapi kenapa sekarang? Kenapa tiba-tiba?
Pada akhirnya, Kosuke tidak bisa mengadopsiku. Anaknya alergi kucing. Satoru mengangguk—seolah dia sudah tahu jawabannya.
Kami melanjutkan perjalanan.
Pemberhentian Kedua: Yoshimine—Teman Sekolah Menengah
Selanjutnya, kami mengunjungi Yoshimine—teman Satoru dari SMA yang sekarang menjadi seniman miskin di Tokyo.
Apartemennya sempit. Berantakan. Penuh dengan kanvas dan cat.
"Bisakah kamu mengadopsi Nana?" tanya Satoru.
Yoshimine tertawa. "Satoru, aku hampir tidak bisa memberi makan diriku sendiri. Bagaimana aku bisa merawat kucing?"
Tapi mereka menghabiskan malam berbicara—tentang masa SMA, tentang mimpi mereka, tentang bagaimana hidup tidak berjalan seperti yang mereka rencanakan.
Satoru bercerita tentang bagaimana dia dulu ingin menjadi dokter hewan—karena dia ingin menyelamatkan hewan seperti bagaimana seseorang pernah menyelamatkannya.
Yoshimine bercerita tentang bagaimana keluarganya menolak pilihan karirnya sebagai seniman. Tapi Satoru adalah satu-satunya yang mendukungnya. "Kamu bilang, 'Ikuti hatimu. Aku akan selalu mendukungmu.'"
Dan aku mengerti lagi: Satoru sedang mengucapkan selamat tinggal.
Tapi kenapa? Kemana dia pergi?
Pemberhentian Ketiga: Sugi dan Chikako—Pasangan yang Tidak Bisa Punya Anak
Pemberhentian ketiga adalah rumah pasangan yang manis—Sugi dan Chikako.
Mereka teman kuliah Satoru. Mereka ingin punya anak, tapi tidak bisa. Mereka mencoba bertahun-tahun, dan kekecewaan mulai merusak pernikahan mereka.
Satoru mengusulkan: "Mungkin Nana bisa mengisi kekosongan itu?"
Untuk pertama kalinya, aku melihat kemungkinan. Mereka baik. Rumah mereka hangat. Mereka benar-benar ingin merawat seseorang.
Tapi di malam hari, aku mendengar Chikako menangis. "Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan kucing menggantikan anak yang tidak pernah kita miliki. Itu tidak adil—untuk kucing, atau untuk kita."
Satoru memeluknya. "Aku mengerti. Maafkan aku."
Kami pergi keesokan pagi. Dan aku mulai menyadari sesuatu: Satoru tidak benar-benar mencari rumah untukku. Dia sedang memastikan teman-temannya baik-baik saja sebelum dia... pergi.
Tapi pergi kemana?
Bagian 3: Noriko—Satu-Satunya Keluarga yang Tersisa
Akhirnya Mengunjungi Bibinya
Pemberhentian terakhir adalah rumah Noriko—bibi Satoru yang mengadopsinya setelah orang tuanya meninggal.
Aku mengharapkan pertemuan yang dingin. Berdasarkan cerita Satoru, Noriko tidak pernah benar-benar menginginkannya.
Tapi yang aku lihat mengejutkan: wanita tua yang menangis ketika melihat Satoru, memeluknya erat, berkata "Maafkan aku" berulang kali.
Ternyata, Noriko selalu menyayangi Satoru. Tapi dia muda, tidak siap, dan tidak tahu bagaimana menunjukkan cinta kepada anak yang terluka oleh kehilangan.
Dia kaku. Dia tidak tahu bagaimana memeluk. Dia mengekspresikan cinta dengan cara yang salah—dengan aturan ketat, dengan menjaga jarak.
Dan Satoru, yang sedang berduka dan membutuhkan kehangatan, menafsirkan itu sebagai penolakan.
Tapi sekarang, bertahun-tahun kemudian, mereka berdua lebih tua dan lebih bijak.
"Aku mencintaimu," kata Noriko. "Aku tidak pandai menunjukkannya, tapi aku selalu mencintaimu."
Satoru menangis untuk pertama kalinya di depanku. Dan aku mulai mengerti mengapa dia mengunjungi semua orang ini.
Kebenaran Terungkap
Malam itu, aku mendengar percakapan antara Satoru dan Noriko.
"Bisakah kamu mengadopsi Nana?" tanya Satoru.
"Tentu saja. Tapi Satoru... kenapa? Kamu mencintai kucing itu."
Hening panjang. Kemudian Satoru berkata dengan suara yang pecah:
"Aku sakit. Tumor otak. Inoperable. Dokter bilang aku punya beberapa bulan. Aku tidak ingin Nana sendirian ketika aku pergi."
Duniaku berhenti.
Semua perjalanan ini. Semua kunjungan ini. Semua percakapan tentang "mencari rumah baru."
Ini bukan tentang aku.
Ini tentang dia yang mempersiapkan kepergiannya.
Bagian 4: Pulang—Waktu yang Tersisa
Hari-Hari Terakhir Bersama
Kami kembali ke apartemen kami. Noriko setuju untuk mengadopsiku setelah... setelah Satoru pergi.
Tapi untuk saat ini, kami punya waktu. Tidak banyak, tapi ada.
Satoru mulai bergerak lebih lambat. Kadang dia pusing. Kadang dia harus duduk tiba-tiba. Tapi dia selalu, selalu, memastikan mangkuk makananku penuh.
Aku tidak meninggalkan sisinya. Aku tidur di sebelahnya setiap malam. Aku duduk di pangkuannya setiap sore. Aku ronrongan lebih keras daripada biasanya—berharap entah bagaimana itu bisa menyembuhkannya.
Aku tahu itu tidak bisa. Tapi aku harus mencoba.
Kami menghabiskan hari-hari kami dengan hal-hal sederhana: duduk di jendela menonton burung, berbagi makan siang (dia makan sandwich, aku makan makanan kucing premium), menonton matahari terbenam.
Hal-hal yang dulu kuanggap biasa sekarang terasa berharga.
Percakapan yang Tidak Bisa Kami Miliki
Aku ingin memberitahunya: "Terima kasih. Terima kasih telah menyelamatkanku. Terima kasih untuk lima tahun terbaik dalam hidupku. Terima kasih karena kamu tidak pernah memaksaku, tidak pernah menuntut, hanya mencintaiku apa adanya."
Tapi aku hanya bisa mengatakan: "Nyan."
Dan dia, dengan air mata di matanya, mengatakan: "Aku tahu, Nana. Aku juga mencintaimu."
Entah bagaimana, tanpa kata-kata yang sempurna, kami mengerti satu sama lain.
Bagian 5: Kepergian—Pelajaran Terakhir
Pagi Terakhir
Suatu pagi, Satoru tidak bangun.
Aku tahu sebelum Noriko datang. Aku tahu dari cara tubuhnya terlalu diam. Dari cara kehangatan perlahan meninggalkannya.
Aku berbaring di sebelahnya sampai Noriko datang. Aku tidak meninggalkannya. Bahkan ketika aku tahu dia sudah pergi.
Karena itulah yang kamu lakukan untuk orang yang kamu cintai: kamu tinggal sampai akhir.
Hidup dengan Noriko—Belajar Mencintai Lagi
Noriko membawaku ke rumahnya. Dia canggung pada awalnya—tidak yakin bagaimana merawat kucing, takut melakukan kesalahan.
Tapi dia mencoba. Dia membeli makanan favoritku. Dia menyiapkan tempat tidur yang nyaman. Dia berbicara padaku tentang Satoru—tentang bagaimana dia menyesal tidak menunjukkan cinta lebih baik ketika Satoru masih kecil.
Dan perlahan, kami berdua belajar bagaimana membiarkan diri dicintai lagi.
Aku belajar bahwa rumah baru tidak berarti mengkhianati memori Satoru. Noriko belajar bahwa tidak pernah terlambat untuk mencintai.
Apa yang Satoru Ajarkan Padaku
Satoru mengajarkan padaku pelajaran yang tidak pernah kuduga bisa kupelajari dari manusia:
Mencintai berarti melepaskan.
Dia melepaskanku—bukan karena dia tidak mencintaiku, tetapi karena dia mencintaiku terlalu banyak untuk meninggalkanku tanpa persiapan.
Dia mengunjungi semua temannya—bukan untuk mengucapkan selamat tinggal dramatis, tetapi untuk memastikan mereka tahu mereka dicintai, bahwa mereka penting, bahwa persahabatan mereka membuat hidupnya berarti.
Dia merekonsiliasi dengan Noriko—memberikan mereka berdua penutupan dan pengampunan.
Dan di hari-hari terakhirnya, dia tidak menghabiskan waktu berduka atas apa yang dia kehilangan. Dia menghabiskannya mensyukuri apa yang dia miliki.
Bagian 6: Pelajaran dari Seekor Kucing yang Bepergian
1. Rumah Bukan Tempat—Rumah adalah Orang
Aku pikir "rumah" adalah apartemen itu. Tapi sebenarnya, rumah adalah Satoru.
Ketika dia pergi, apartemen itu hanya ruangan kosong. Tapi ketika aku dengan Noriko—yang mencintai Satoru, yang menceritakan kisah tentang dia, yang menjaga memorinya hidup—aku menemukan rumah lagi.
Pelajaran: Rumah adalah di mana kamu dicintai, bukan di mana kamu tidur.
2. Waktu Terbatas Membuat Setiap Momen Berharga
Ketika aku pikir aku punya waktu tanpa batas dengan Satoru, aku mengambil hal-hal kecil sebagai hal yang diberikan.
Tapi ketika aku tahu waktunya terbatas, setiap ronrongan, setiap elus, setiap momen bersama menjadi berharga.
Pelajaran: Jangan tunggu sampai seseorang pergi untuk menghargai mereka. Hargai mereka sekarang.
3. Melepaskan adalah Bentuk Cinta Tertinggi
Satoru bisa saja menyimpanku sampai akhir, membuatku menyaksikan kesehatannya memburuk, membiarkanku bingung ketika dia pergi.
Tapi dia tidak. Dia melepaskanku dengan persiapan, dengan cinta, dengan memastikan aku akan aman.
Pelajaran: Kadang mencintai seseorang berarti melepaskan mereka—bukan karena kamu tidak peduli, tetapi karena kamu sangat peduli.
4. Tidak Pernah Terlambat untuk Rekonsiliasi
Satoru dan Noriko kehilangan bertahun-tahun karena kesalahpahaman. Tapi ketika mereka akhirnya berbicara, mereka menemukan pengampunan.
Pelajaran: Jika ada seseorang yang kamu cintai tetapi kamu berjauhan—hubungi mereka. Waktu tidak menunggu.
5. Kesederhanaan Adalah Kebahagiaan
Hari-hari terbaik kami bukan ketika terjadi sesuatu yang spektakuler. Hari-hari terbaik adalah ketika kami hanya ada bersama—duduk di jendela, berbagi keheningan yang nyaman, hanya menjadi.
Pelajaran: Kebahagiaan ada dalam momen sederhana yang kita habiskan dengan orang yang kita cintai.
Penutup: Apa yang Kucing Ajarkan tentang Hidup dan Mati
Perspektif Kucing tentang Kepergian
Manusia sangat takut pada kematian. Mereka menghabiskan banyak energi mencoba menghindarinya, menyangkalnya, berpura-pura itu tidak akan terjadi.
Tapi sebagai kucing, aku tahu: kematian adalah bagian dari hidup.
Itu tidak berarti itu tidak menyakitkan. Aku masih merindukan Satoru setiap hari. Aku masih mencarinya di tempat-tempat biasa. Aku masih menunggu suaranya memanggil namaku.
Tapi aku juga tahu: dia memberiku hadiah terbesar—lima tahun cinta tanpa syarat.
Dan hadiah itu tidak hilang hanya karena dia pergi. Hadiah itu hidup dalam bagaimana aku mencintai Noriko sekarang, dalam bagaimana aku membuka hati lagi, dalam bagaimana aku membiarkan diri dicintai.
Untuk Kamu yang Membaca Ini
Mungkin kamu punya seseorang dalam hidupmu yang kamu anggap remeh. Mungkin kamu berpikir kamu punya waktu tanpa batas.
Kamu tidak.
Tidak ada yang tahu berapa banyak waktu yang kita punya. Satoru tidak tahu dia hanya punya 30 tahun. Aku tidak tahu aku hanya akan punya lima tahun dengannya.
Jadi ini pesanku padamu, dari seekor kucing yang belajar tentang cinta dan kehilangan:
Katakan "aku cintamu" hari ini. Bukan besok. Bukan ketika kamu merasa "siap." Hari ini.
Habiskan waktu dengan orang yang kamu cintai. Matikan ponsel. Duduk bersama mereka. Dengarkan mereka. Hanya ada.
Maafkan mereka yang menyakitimu. Seperti Satoru dan Noriko, jangan biarkan kebanggaan atau kesalahpahaman mencuri waktu yang berharga.
Ketika waktunya melepaskan, lepaskan dengan cinta. Seperti Satoru melepaskanku—dengan persiapan, dengan kebaikan, dengan memastikan aku akan aman.
Dan hargai momen sederhana. Karena di akhir, bukan hal-hal besar yang kita ingat—tetapi momen-momen kecil: senyuman, pelukan, ronrongan, keheningan yang nyaman bersama orang yang kita cintai.
Tentang Buku Asli
"The Travelling Cat Chronicles" (Tabineko Ripōto) diterbitkan pada tahun 2012 di Jepang dan menjadi bestseller internasional. Diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa.
Hiro Arikawa adalah penulis Jepang yang dikenal karena kemampuannya menulis dari perspektif karakter yang tidak biasa—dalam hal ini, seekor kucing yang sinis namun penuh kasih sayang.
Buku ini bukan hanya tentang kucing. Ini tentang bagaimana hewan peliharaan melihat kita dengan lebih jelas daripada kita melihat diri kita sendiri, tentang bagaimana cinta tidak selalu keras dan dramatis—kadang cinta adalah makan bersama dalam keheningan, tentang bagaimana melepaskan kadang adalah bentuk mencintai yang paling berani.
Untuk pengalaman lengkap dengan humor Nana, kehangatan prosa Arikawa, dan detail emosional yang halus, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi—buku lengkapnya akan membuatmu menangis dan tersenyum di halaman yang sama.
Sekarang pergilah. Peluk seseorang yang kamu cintai. Katakan bagimu mereka penting. Dan jika kamu punya kucing—berikan mereka elus ekstra. Mereka mengerti lebih banyak daripada yang kamu kira.
Karena seperti yang Nana ajarkan pada kita: Perjalanan terpanjang adalah perjalanan yang kita tempuh bersama orang yang kita cintai—bahkan jika perjalanan itu harus berakhir.
Nyan. (Itu artinya: Terima kasih telah membaca kisahku.)