Skip to main content

The Very Secret Society of Irregular Witches

by Sangu Mandanna · April 2026 · 14 min read

Rahasia yang Terlalu Berat untuk Ditanggung Sendiri

Table of contents

Rahasia yang Terlalu Berat untuk Ditanggung Sendiri 

Bayangkan Anda memiliki kekuatan yang luar biasa—kemampuan untuk menggerakkan benda dengan pikiran, menciptakan api dari udara kosong, menyembuhkan luka dengan sentuhan. 

Kedengarannya seperti mimpi, bukan? 

Sekarang bayangkan Anda tidak boleh memberitahu siapa pun. Tidak boleh berteman dekat dengan siapa pun. Tidak boleh tinggal di satu tempat terlalu lama. Dan yang paling menyakitkan: Anda tidak boleh bertemu dengan orang lain yang seperti Anda—karena jika penyihir berkumpul, kekuatan mereka menjadi tidak stabil dan berbahaya. 

Jadi Anda menghabiskan seluruh hidup Anda sendirian. 

Berpindah dari satu kota ke kota lain setiap beberapa bulan. Tidak punya sahabat. Tidak punya keluarga. Tidak punya siapa pun yang benar-benar mengenal Anda. 

Dan untuk mengatasi kesepian yang menekan itu, Anda membuat video di media sosial—video palsu tentang "penyihir" yang sebenarnya hanya trik kamera. Karena setidaknya dengan cara itu, Anda bisa berpura-pura berbagi bagian dari diri Anda dengan dunia. 

Ini adalah kehidupan Mika Moon. 

Dan ini adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika seseorang yang telah hidup dalam isolasi seumur hidup akhirnya menemukan sesuatu yang dia tidak pernah tahu dia butuhkan: keluarga

Sangu Mandanna menulis "The Very Secret Society of Irregular Witches" sebagai pelukan hangat dalam bentuk buku—cerita tentang kesepian, tentang keberanian untuk melanggar aturan yang salah, dan tentang menemukan rumah di tempat yang paling tidak terduga.

Ini bukan tentang pertempuran epik atau penyelamatan dunia. Ini tentang pertempuran kecil sehari-hari untuk tetap terhubung, untuk membiarkan diri Anda dicintai, dan untuk percaya bahwa Anda layak menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. 

Mari kita masuk ke dunia Mika—dan temukan mengapa kadang sihir paling kuat adalah keberanian untuk tinggal.


Bagian 1: Mika Moon—Penyihir yang Terlalu Kesepian

Aturan yang Membentuk Kehidupan 

Mika Moon adalah penyihir. 

Bukan dalam pengertian fantasi dengan tongkat sihir dan jubah. Tapi dalam pengertian yang sebenarnya—dia bisa melakukan sihir. Api menari di ujung jarinya. Benda bergerak dengan pikirannya. Dia bisa merasakan energi di sekitarnya. 

Tapi ada masalah: Aturan. 

Primrose, seorang penyihir tua yang membesarkan Mika setelah orang tuanya meninggal, mengajarkan dia tiga aturan besi yang harus diikuti setiap penyihir: 

Aturan 1: Jangan pernah berkumpul dengan penyihir lain. Ketika penyihir berkumpul, kekuatan mereka beresonansi dan menjadi tidak terkontrol. Berbahaya. Destruktif. 

Aturan 2: Jangan pernah tinggal di satu tempat terlalu lama. Orang akan mulai curiga. Mereka akan memperhatikan hal-hal aneh. Lebih baik terus bergerak. 

Aturan 3: Jangan pernah membiarkan siapa pun terlalu dekat. Semakin dekat seseorang dengan Anda, semakin besar risiko mereka menemukan kebenaran. Dan kebenaran berbahaya. 

Jadi Mika menghabiskan seluruh hidupnya—27 tahun—hidup sendirian. 

Dia pindah dari apartemen ke apartemen setiap beberapa bulan. Tidak punya teman dekat. Tidak punya hubungan romantis yang serius. Setiap kali seseorang mulai terlalu dekat, dia menciptakan alasan untuk pergi. 

Video Palsu—Teriak ke dalam Kekosongan 

Kesepian itu menghancurkan. 

Jadi Mika menemukan cara untuk mengatasinya: dia membuat video tentang "sihir" di media sosial. 

Tentu saja, dia berpura-pura itu semua trik. Editing kamera yang pintar. Efek visual. Semua palsu, katanya pada pengikutnya. 

Tapi sebenarnya? Sihir itu nyata. Dan membuat video ini adalah cara Mika untuk berbagi bagian dari dirinya tanpa benar-benar mengekspos dirinya. 

"Lihat, aku bisa membuat api!" dia berkata ke kamera dengan senyum—dan api benar-benar muncul di tangannya.

Komentar-komentar berdatangan: "Editing yang keren!" "Gimana caranya?" "Kamu harus bikin tutorial!" 

Dan Mika tersenyum sedih—karena dia tidak bisa mengatakan kebenaran. Tidak bisa mengatakan, "Ini bukan trik. Ini aku. Ini siapa aku sebenarnya." 

Sampai suatu hari, email yang mengubah segalanya tiba.


Bagian 2: Undangan ke Nowhere House 

Pesan yang Tidak Masuk Akal 

Email itu datang dari seseorang bernama Ian Hollowell, dari sebuah tempat yang disebut Nowhere House. 

Isinya sederhana tapi mengejutkan: "Kami tahu Anda penyihir yang sebenarnya. Kami punya tiga anak penyihir di sini yang membutuhkan bimbingan. Bisakah Anda datang mengajar mereka?" 

Mika pertama kali berpikir ini scam. Atau jebakan. 

Tapi kemudian dia menerima detail lebih lanjut: Nowhere House adalah rumah besar di pedesaan Inggris, rumah bagi tiga anak perempuan yatim piatu—Rosetta (15 tahun), Altamira (11 tahun), dan Terracotta (7 tahun)—yang semuanya penyihir. 

Mereka tinggal bersama Ian (wali mereka), Jamie (pustakawan), dan beberapa orang lain. Dan mereka membutuhkan seseorang untuk mengajarkan gadis-gadis itu bagaimana mengontrol kekuatan mereka. 

Ini melanggar semua aturan. 

Berkumpul dengan penyihir lain? Dilarang. Tinggal di satu tempat? Berbahaya. Membiarkan orang non-penyihir tahu kebenaran? Mustahil

Tapi ada sesuatu dalam email itu—nada keputusasaan, gambar tiga anak kecil yang bingung dan takut dengan kekuatan mereka—yang membuat Mika tidak bisa menolak. 

Jadi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia memutuskan untuk melanggar aturan.

Nowhere House—Tempat yang Seharusnya Tidak Ada 

Nowhere House adalah rumah besar Victoria di tengah pedesaan yang indah—tapi sedikit kusut. Cat mengelupas. Taman sedikit liar. Tapi ada kehangatan di sana yang Mika belum pernah rasakan. 

Dia disambut oleh: 

Ian: Seorang pria gay tua yang lembut, wali resmi gadis-gadis itu, yang berbicara dengan bijaksana dan punya mata yang hangat. 

Jamie: Pustakawan tampan yang awalnya sangat skeptis tentang "sihir" dan sangat protektif terhadap gadis-gadis itu. Dia dingin kepada Mika di awal—tapi ada sesuatu di balik ketidakpercayaan itu.

Ken dan Lucie: Pasangan elderly yang memasak dan merawat rumah, penuh dengan kehangatan dan humor. 

Dan tiga gadis: Rosetta yang pemberontak dan marah, Altamira yang cemas dan perfeksionis, dan Terracotta yang ceria tapi sering kewalahan dengan kekuatannya. 

Untuk pertama kalinya, Mika dikelilingi oleh orang-orang. Bukan hanya orang asing yang lewat—tapi keluarga, meskipun bukan keluarga darah. 

Dan itu menakutkan sekaligus indah.


Bagian 3: Mengajar Tiga Gadis—Dan Belajar dari Mereka

Rosetta—Amarah yang Menyembunyikan Rasa Sakit 

Rosetta adalah yang tertua dan paling marah. 

Dia kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan. Dia dipindahkan dari rumah ke rumah sebelum akhirnya tiba di Nowhere House. Dia tidak percaya orang dewasa akan tinggal. 

Jadi dia mendorong semua orang pergi—termasuk Mika. 

"Kamu akan pergi juga," dia menuduh. "Semua orang selalu pergi." 

Mika melihat dirinya sendiri dalam Rosetta—gadis yang membangun tembok untuk melindungi hatinya dari rasa sakit. 

Perlahan, melalui pelajaran sihir dan percakapan jujur, Mika menunjukkan kepada Rosetta: "Aku tidak akan pergi. Bahkan ketika kamu mendorong, aku akan tetap di sini." 

Dan perlahan, tembok Rosetta mulai runtuh. 

Altamira—Kecemasan yang Melumpuhkan 

Altamira sangat cerdas dan sangat cemas. 

Dia takut membuat kesalahan. Takut kekuatannya akan menyakiti orang. Takut tidak cukup baik. 

Sihirnya kadang meledak ketika dia panik—dan itu membuat kecemasannya semakin buruk. 

Mika mengajarkan dia sesuatu yang penting: "Sihir bukan tentang sempurna. Sihir tentang merasakan." 

Mereka berlatih meditasi. Bernapas. Membiarkan sihir mengalir alih-alih mengontrolnya dengan paksa. 

Dan Altamira mulai belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar, bukan bukti kegagalan. 

Terracotta—Kepolosan yang Rentan 

Terracotta adalah yang termuda dan paling polos. 

Dia melihat sihir sebagai permainan. Dia tidak mengerti bahaya. Dia membuat bunga tumbuh di tengah musim dingin, membuat mainan melayang, menciptakan percikan api untuk bermain.

Mika harus mengajarkan dia tanggung jawab—tanpa menghancurkan kegembiraannya. 

"Sihir adalah hadiah," kata Mika lembut. "Tapi hadiah datang dengan tanggung jawab. Kita harus berhati-hati." 

Terracotta mendengarkan dengan mata lebar—dan perlahan, dia mulai mengerti.

Yang Sebenarnya Mika Pelajari 

Tapi saat Mika mengajar gadis-gadis itu, dia menyadari sesuatu: Dia juga belajar dari mereka.

Rosetta mengajarkan dia tentang keberanian untuk marah ketika diperlakukan tidak adil.

Altamira mengajarkan dia bahwa kerentanan bukan kelemahan. 

Terracotta mengajarkan dia tentang kegembiraan yang dia lupakan—keajaiban sihir yang telah dia anggap sebagai beban. 

Dan untuk pertama kalinya, Mika mulai mempertanyakan aturan yang telah membentuk seluruh hidupnya.


Bagian 4: Jamie—Pustakawan yang Tidak Percaya Sihir

Ketegangan Awal 

Jamie tidak percaya pada sihir. 

Dia pikir Mika adalah penipu. Seseorang yang memanfaatkan anak-anak yang rentan. Dia sangat protektif terhadap gadis-gadis itu—dan dia tidak percaya pada Mika. 

"Buktikan," dia menantang. 

Jadi Mika membuktikan. Api muncul di tangannya. Buku melayang di udara. Jamie berdiri terpana—seluruh worldview-nya runtuh. 

Tapi menerima sihir itu nyata adalah satu hal. Mempercayai Mika adalah hal lain.

Perlahan Mencair 

Jamie memiliki luka sendiri. 

Dia kehilangan seseorang yang dicintai. Dia membangun tembok di sekitar hatinya. Dia tidak membiarkan siapa pun terlalu dekat. 

Kedengarannya familiar? Ya—Jamie dan Mika adalah cerminan satu sama lain. 

Keduanya hidup dalam isolasi emosional. Keduanya takut untuk dicintai karena takut kehilangan. 

Tapi perlahan, melalui percakapan larut malam di perpustakaan, melalui tawa bersama di meja makan, melalui momen-momen kecil keseharian—mereka mulai saling melihat. 

Bukan sebagai ancaman. Tapi sebagai kemungkinan

Jatuh Cinta—Dengan Lembut 

Cinta tidak datang sebagai ledakan dramatis. 

Cinta datang dalam momen-momen kecil: 

Jamie membawakan Mika teh tanpa diminta. Mika menertawakan lelucon bodoh Jamie. Mereka membaca buku berdampingan dalam keheningan yang nyaman. Mereka berbagi kekhawatiran tentang gadis-gadis itu. 

Dan suatu hari, Mika menyadari: Dia tidak ingin pergi.

Bukan hanya karena gadis-gadis itu. Tapi karena Jamie. Karena keluarga aneh yang telah mereka bentuk. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa dimiliki. 

Tapi aturan tetap menghantui: Penyihir tidak boleh tinggal. Penyihir tidak boleh dekat.


Bagian 5: Konflik—Ketika Aturan Datang Mengetuk

Primrose Menemukan Kebenaran 

Primrose—penyihir tua yang membesarkan Mika—menemukan bahwa Mika tinggal di Nowhere House dengan penyihir lain. 

Dia marah. Takut. Dan dia datang dengan peringatan: 

"Apa yang kamu lakukan berbahaya! Kekuatan kalian akan beresonansi! Akan ada ledakan! Kamu membahayakan semua orang!" 

Mika mencoba menjelaskan: "Kami baik-baik saja. Kami belajar mengontrol. Tidak ada masalah." 

Tapi Primrose tidak mendengar. Dia melihat hanya melalui lensa ketakutan—ketakutan yang telah dia pegang selama puluhan tahun. 

Pilihan yang Menyakitkan 

Primrose memberikan ultimatum: "Tinggalkan sekarang, atau aku akan melaporkan kalian ke dewan penyihir. Mereka akan memisahkan gadis-gadis itu. Mereka akan menghancurkan apa yang kalian bangun." 

Mika dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan: 

  • Tinggal dan risiko gadis-gadis itu dipisahkan
  • Atau pergi dan kembali ke kehidupan kesepian yang dia kenal

Jamie memohon: "Jangan pergi. Kita akan menemukan cara." 

Gadis-gadis menangis: "Kamu berjanji tidak akan meninggalkan kami!" 

Tapi Mika, terbiasa dengan isolasi, dengan mengikuti aturan untuk bertahan hidup, membuat keputusan: Dia akan pergi.


Bagian 6: Menyadari Apa yang Benar-Benar Penting

Kesepian yang Kembali—Lebih Buruk 

Mika kembali ke apartemen kosongnya. Kembali ke kehidupan berpindah-pindah. Kembali ke video palsu di media sosial. 

Tapi sekarang, kesepian itu tak tertahankan. 

Karena sekarang dia tahu apa yang dia lewatkan. Dia tahu bagaimana rasanya tertawa di meja makan yang penuh. Bagaimana rasanya dipeluk oleh anak-anak yang mencintainya. Bagaimana rasanya dicintai oleh seseorang yang melihat semua dirinya—sihir dan semua—dan masih memilih untuk tinggal. 

Dia tahu bagaimana rasanya punya rumah. 

Dan hidup tanpa itu sekarang terasa seperti hidup setengah mati. 

Pertanyaan yang Mengubah Segalanya 

Mika mulai mempertanyakan segala sesuatu: 

"Apa jika aturan itu salah?" 

Primrose bilang penyihir berkumpul itu berbahaya. Tapi mereka tinggal bersama selama berminggu-minggu tanpa masalah. 

Primrose bilang mereka harus hidup sendiri. Tapi mengapa? Siapa yang membuat aturan ini? Dan apakah aturan itu melindungi mereka—atau hanya memastikan mereka tetap terisolasi dan tidak berdaya? 

Apa jika ketakutan telah membentuk aturan—bukan kebijaksanaan? 

Keberanian untuk Kembali 

Mika membuat keputusan yang paling berani dalam hidupnya: 

Dia akan kembali. 

Bukan karena dia pikir aturan tidak penting. Tapi karena dia menyadari ada hal yang lebih penting dari aturan: keluarga, cinta, dan keberanian untuk hidup dengan penuh. 

Dia mengemasi tasnya dan kembali ke Nowhere House—siap untuk melawan siapa pun yang mencoba memisahkan keluarga yang telah dia temukan.


Bagian 7: Resolusi—Menciptakan Aturan Baru

Menghadapi Primrose dan Dewan 

Ketika Mika kembali, Primrose dan beberapa penyihir tua lainnya sudah menunggu.

Mereka datang untuk memisahkan gadis-gadis itu. Untuk "melindungi" mereka. 

Tapi Mika berdiri tegak—didukung oleh Jamie, Ian, dan yang paling mengejutkan: ketiga gadis itu. 

Rosetta berkata dengan marah: "Kamu tidak bisa memisahkan kami. Kami keluarga." 

Altamira, meskipun gemetar, berkata: "Kami tidak berbahaya. Kami belajar mengontrol. Mika mengajar kami." 

Terracotta, dengan kepolosan yang menusuk: "Kenapa kamu mau kami sendirian? Sendirian itu sedih." 

Bukti yang Mengubah Pikiran 

Mika menunjukkan sesuatu yang penting: Mereka telah hidup bersama tanpa masalah. 

Tidak ada ledakan sihir. Tidak ada kehilangan kontrol. Sebaliknya, dengan saling mendukung, mereka justru lebih kuat dan lebih terkontrol. 

"Aturan kalian didasarkan pada ketakutan," kata Mika. "Tapi ketakutan bukan cara untuk hidup. Kami membuktikan ada cara lain." 

Primrose, perlahan, mulai mendengar. Dia melihat kebahagiaan di wajah Mika—sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. 

Dan dia menyadari: Mungkin dia salah. Mungkin isolasi bukan perlindungan—tapi penjara.

Keluarga yang Dipilih 

Di akhir, dewan penyihir membuat pengecualian—sebuah eksperimen. 

Nowhere House akan menjadi tempat penyihir bisa hidup bersama, belajar bersama, dan menjadi keluarga. 

Bukan karena harus. Tapi karena memilih

Mika tinggal. Jamie mengakui perasaannya. Gadis-gadis mendapat keluarga yang stabil untuk pertama kalinya.

Dan Mika, untuk pertama kalinya dalam 27 tahun hidupnya, punya rumah.


Bagian 8: Pelajaran dari Nowhere House 

1. Aturan Dibuat Oleh Manusia—Dan Bisa Dipertanyakan 

Primrose dan penyihir lain hidup dengan aturan selama bertahun-tahun tanpa mempertanyakan. 

Tapi Mika bertanya: "Apa jika aturan ini salah? Apa jika ada cara yang lebih baik?" 

Pelajaran: Hanya karena sesuatu "selalu dilakukan dengan cara itu" tidak berarti itu cara terbaik. Berani mempertanyakan norma adalah awal dari perubahan. 

2. Kesepian Bukan Perlindungan 

Primrose pikir dia melindungi Mika dengan mengajarkan dia hidup sendiri.

Tapi yang sebenarnya dia lakukan: Dia memenjara Mika dalam isolasi. 

Pelajaran: Kadang apa yang kita pikir melindungi kita sebenarnya menyakiti kita. Koneksi manusia bukan kelemahan—itu kekuatan. 

3. Keluarga Bukan Hanya Darah 

Tidak ada di Nowhere House yang berhubungan darah. 

Tapi mereka adalah keluarga—karena mereka memilih satu sama lain. Karena mereka muncul untuk satu sama lain. Karena mereka peduli. 

Pelajaran: Keluarga yang paling kuat adalah yang kita pilih, bukan yang kita warisi.

4. Cinta Membutuhkan Kerentanan 

Baik Mika maupun Jamie terbiasa dengan isolasi emosional. 

Jatuh cinta berarti memilih untuk rentan—untuk membiarkan seseorang melihat semua diri Anda, dengan risiko ditolak. 

Pelajaran: Cinta yang sebenarnya tidak bisa ada tanpa keberanian untuk membiarkan diri dilihat. 

5. Keberanian Adalah Memilih Meskipun Takut 

Mika takut ketika dia memutuskan untuk tinggal. Takut ketika dia memutuskan untuk kembali.

Tapi dia melakukannya tetap—bukan karena dia tidak takut, tapi karena dia memilih cinta di atas ketakutan. 

Pelajaran: Keberanian bukan tidak adanya ketakutan. Keberanian adalah bertindak meskipun takut.


Penutup: Sihir Sejati Adalah Keberanian untuk Menjadi Milik 

Di akhir buku, Mika tidak berubah menjadi penyihir yang lebih kuat. 

Dia tidak menyelamatkan dunia. Dia tidak mengalahkan penjahat besar. 

Tapi dia melakukan sesuatu yang jauh lebih berani: Dia memilih untuk tinggal. 

Untuk membiarkan dirinya dicintai. Untuk membiarkan dirinya menjadi bagian dari sesuatu. Untuk percaya bahwa dia layak punya rumah. 

Dan itulah sihir yang sebenarnya—bukan tongkat atau mantra, tetapi keberanian untuk membiarkan diri Anda menjadi milik. 

Pertanyaan untuk Anda 

Sangu Mandanna menulis buku ini sebagai surat cinta untuk semua orang yang pernah merasa tidak pada tempatnya: 

  • Aturan apa dalam hidup Anda yang mungkin perlu dipertanyakan?
  • Isolasi apa yang Anda pilih karena takut terluka?
  • Siapa keluarga yang Anda pilih—orang-orang yang muncul untuk Anda meskipun bukan darah?
  • Kerentanan apa yang Anda hindari karena takut ditolak?

Mika menghabiskan 27 tahun hidup sendiri karena dia diberitahu itu satu-satunya cara yang aman. 

Sampai dia menemukan: Hidup yang paling aman sering kali adalah hidup yang paling kosong. 

Rumah sejati—entah itu tempat fisik atau orang-orang yang Anda cintai—membutuhkan keberanian untuk membuka pintu dan mengundang orang masuk.


Tentang Buku Asli 

"The Very Secret Society of Irregular Witches" diterbitkan pada tahun 2022 dan menjadi instant favorite dalam genre "cozy fantasy"—cerita fantasi yang lebih fokus pada kehangatan, komunitas, dan pertumbuhan karakter daripada aksi dan konflik besar. 

Sangu Mandanna adalah penulis kelahiran India yang tinggal di Inggris. Dia menulis dengan kehangatan yang luar biasa, menciptakan dunia yang terasa seperti pelukan—tempat yang ingin Anda kunjungi dan tidak ingin Anda tinggalkan. 

Buku ini beresonansi khususnya dengan pembaca yang pernah merasa kesepian, yang mencari keluarga mereka sendiri, atau yang mempertanyakan aturan yang membuat mereka terisolasi. 

Untuk pengalaman penuh dari kehangatan prosa Mandanna, chemistry antara Mika dan Jamie, dan kegembiraan interaksi dengan ketiga gadis, sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini menangkap esensi—tapi pengalaman lengkap dari "cozy magical hug" yang buku ini berikan hanya bisa didapat dengan membaca setiap halaman. 

Sekarang pergilah dan temukan Nowhere House Anda sendiri—tempat di mana Anda bisa menjadi diri Anda sepenuhnya, dengan sihir dan semua. 

Karena seperti yang Mika pelajari: Anda tidak perlu sempurna untuk layak punya rumah. Anda hanya perlu cukup berani untuk membuka pintu. 

Dan sihir sejati? Itu terjadi ketika Anda akhirnya berhenti lari dan memilih untuk tinggal.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Lincoln in the Bardo
Back to top

Similar books