Skip to main content

A Vindication of the Rights of Woman

by Mary Wollstonecraft · March 2026 · 15 min read

Surat dari Abad ke-18 yang Masih Berbicara Hari Ini

Table of contents

Surat dari Abad ke-18 yang Masih Berbicara Hari Ini 

London, 1792. 

Seorang perempuan berusia 33 tahun duduk di meja kerjanya, pena di tangan, amarah di hati. Di luar jendela, Revolusi Perancis mengubah tatanan dunia. Orang-orang berbicara tentang "hak asasi manusia," "kebebasan," "kesetaraan." 

Tapi Mary Wollstonecraft melihat ironi yang menyakitkan: para filsuf dan revolusioner yang berbicara tentang kebebasan untuk semua manusia... tidak menganggap perempuan sebagai manusia yang setara. 

Jean-Jacques Rousseau, salah satu pemikir paling berpengaruh di Eropa, baru saja menulis bahwa perempuan harus dididik untuk menyenangkan pria. Bahwa kelemahan perempuan adalah natural dan menarik. Bahwa peran perempuan adalah menjadi hiasan cantik untuk pria yang rasional. 

Dan seluruh Eropa mengangguk setuju. 

Wollstonecraft tidak bisa diam lagi. 

Dalam waktu enam minggu—dengan kemarahan yang fokus dan kejelasan yang brilian—dia menulis "A Vindication of the Rights of Woman" (Pembelaan Hak-Hak Perempuan). 

Bukan sekadar protes. Ini adalah serangan intelektual yang sistematis terhadap seluruh struktur pemikiran yang menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua. 

Argumennya sederhana namun radikal untuk zamannya: 

Perempuan bukan makhluk yang inferior secara intelektual. Mereka hanya dijadikan inferior melalui pendidikan yang sengaja melemahkan mereka.

Bayangkan keberanian yang dibutuhkan untuk menulis ini pada tahun 1792—ketika perempuan tidak boleh memilih, tidak boleh memiliki properti setelah menikah, tidak boleh mengakses pendidikan tinggi, dan bahkan tidak boleh makan malam dengan tamu laki-laki tanpa izin suami. 

Lebih dari 230 tahun kemudian, buku ini masih berbicara. Masih menantang. Masih relevan.

Mari kita dengarkan apa yang Mary Wollstonecraft ingin katakan kepada kita.


Bagian 1: Perempuan Bukan Mainan—Mereka Manusia

Mainan Cantik yang Rapuh 

Wollstonecraft membuka bukunya dengan observasi yang tajam: 

Perempuan di zamannya dididik untuk menjadi mainan—cantik, lemah, tergantung, dan tidak berguna. 

Sejak kecil, anak perempuan diajarkan: 

  • Penampilan adalah segalanya
  • Kelemahan itu menarik
  • Kebodohan itu imut
  • Ketergantungan pada pria adalah kebajikan
  • Tujuan hidup adalah menarik suami

Mereka diberi boneka, bukan buku. Diajarkan bordir, bukan matematika. Diperingatkan agar tidak terlalu banyak berpikir karena "itu tidak menarik untuk pria." 

Hasilnya? Perempuan tumbuh menjadi makhluk yang superfisial, lemah dalam karakter, dan tidak mampu berpikir mandiri. 

Tapi—dan ini poin krusial Wollstonecraft—ini bukan karena perempuan secara natural inferior. Ini karena mereka sengaja dibuat inferior melalui pendidikan yang buruk. 

Argumen Brilian: Kebajikan Membutuhkan Akal 

Wollstonecraft menggunakan argumen yang sulit dibantah oleh kritikusnya:

Para filsuf dan pemuka agama di zamannya percaya bahwa: 

1. Manusia harus berbudi luhur (virtuous) 

2. Kebajikan membutuhkan penalaran rasional—Anda tidak bisa baik hanya karena meniru, Anda harus memahami mengapa sesuatu itu baik 

3. Perempuan adalah manusia 

4. Ergo, perempuan harus mampu bernalar secara rasional 

Tapi sistem pendidikan malah mengajarkan perempuan untuk tidak berpikir—hanya patuh, hanya cantik, hanya menyenangkan. 

Ini adalah kontradiksi fundamental. 

Jika perempuan harus berbudi luhur (dan semua orang setuju mereka harus), maka mereka harus dididik untuk menggunakan akal mereka. Tidak ada jalan lain.

Wollstonecraft menulis dengan sarkasme yang menusuk: 

"Jika perempuan memang makhluk yang hanya hidup untuk menyenangkan pria, mereka harus mencoba menyenangkan mereka melalui akal—satu-satunya hal yang memberikan perbedaan permanen antara manusia dan hewan."


Bagian 2: Pendidikan—Akar dari Semua Masalah

Penjara yang Dibangun Sejak Lahir 

Wollstonecraft mengidentifikasi pendidikan sebagai mesin utama yang menciptakan subordinasi perempuan. 

Bukan hukum (meskipun hukum memang diskriminatif). Bukan agama (meskipun sering disalahgunakan). Tapi pendidikan yang sejak awal menghancurkan potensi perempuan. 

Bayangkan seorang anak perempuan cerdas lahir pada tahun 1750: 

Usia 5 tahun: Dia ingin tahu bagaimana dunia bekerja. Tapi dia diberi boneka, bukan eksperimen sains. Saudaranya yang laki-laki belajar Latin; dia belajar menjahit. 

Usia 10 tahun: Dia mulai bertanya pertanyaan filosofis. Tapi dia diberitahu, "Perempuan yang terlalu pintar tidak akan dapat suami." Dia belajar untuk menyembunyikan kecerdasannya. 

Usia 15 tahun: Semua pendidikannya fokus pada satu hal: bagaimana terlihat cantik dan menarik suami. Buku yang dia baca adalah novel romantis yang mengajarkan bahwa cinta adalah segalanya. 

Usia 20 tahun: Dia menikah. Sekarang semua propertinya—bahkan tubuhnya—secara legal milik suaminya. Dia tidak punya hak legal. Dia adalah anak selamanya dalam mata hukum. 

Ini bukan pendidikan. Ini adalah proses sistematik untuk membuat perempuan tidak berdaya. 

Konsekuensi yang Menghancurkan 

Wollstonecraft menunjukkan dampak dari pendidikan yang buruk ini: 

1. Perempuan Menjadi Tiran Kecil di Rumah 

Karena tidak punya kekuasaan di dunia luar, perempuan menggunakan senjata satu-satunya yang mereka punya: manipulasi, tangisan, dan tipu daya untuk mendapatkan keinginan mereka. 

Ini bukan karena perempuan secara natural manipulatif. Ini karena orang yang tidak punya kekuasaan terbuka akan menggunakan kekuasaan tersembunyi. 

2. Ibu yang Buruk 

Bagaimana perempuan yang dididik untuk menjadi bodoh dan bergantung bisa mendidik anak-anak dengan baik?

Mereka tidak bisa mengajar nilai-nilai rasional karena mereka sendiri tidak pernah belajar berpikir rasional. Mereka tidak bisa menjadi teladan kemandirian karena mereka sendiri tidak mandiri. 

Hasilnya: generasi berikutnya juga rusak. 

3. Masyarakat yang Lebih Lemah 

Wollstonecraft berargumen: jika setengah dari populasi dibuat tidak berguna melalui pendidikan yang buruk, seluruh masyarakat menderita. 

Bayangkan berapa banyak dokter, ilmuwan, filsuf, dan pemimpin yang hilang dari dunia—hanya karena mereka lahir sebagai perempuan.


Bagian 3: Membongkar Mitos Feminitas 

Mitos 1: "Kelemahan Perempuan itu Natural dan Menarik" 

Rousseau dan banyak pemikir lain mengklaim bahwa perempuan secara natural lemah—fisik dan mental—dan kelemahan ini adalah bagian dari pesona mereka. 

Wollstonecraft meledak: 

"Ini omong kosong berbahaya!" 

Perempuan tampak lemah karena sejak kecil mereka diajarkan untuk menjadi lemah. Mereka tidak boleh berlari. Tidak boleh berteriak. Tidak boleh kuat. Korset yang ketat merusak kesehatan mereka. Latihan fisik dianggap tidak pantas. 

Tentu saja mereka lemah—mereka dibuat lemah! 

Dan mengapa kelemahan dianggap menarik? Karena pria ingin merasa superior. Karena lebih mudah mengontrol perempuan yang lemah. 

Wollstonecraft menulis: 

"Saya tidak ingin mereka memiliki kekuasaan atas pria—tetapi atas diri mereka sendiri."

Mitos 2: "Perempuan Harus Dididik untuk Menyenangkan Pria" 

Rousseau menulis bahwa pendidikan perempuan harus fokus pada menjadi pasangan yang menyenangkan untuk pria. 

Wollstonecraft bertanya dengan tajam: 

"Dan siapa yang akan mendidik pria untuk menjadi pasangan yang layak untuk perempuan?" 

Mengapa hanya perempuan yang harus mengubah diri mereka? Mengapa hanya perempuan yang harus belajar untuk menyenangkan? 

Lebih fundamental lagi: Jika tujuan hidup perempuan hanya untuk menyenangkan pria, apa yang terjadi ketika kecantikan memudar? Ketika dia tua? Ketika suami bosan? 

Dia tidak punya apa-apa. Tidak punya pikiran yang berkembang. Tidak punya skill yang berguna. Tidak punya tujuan. 

Dia menjadi boneka tua yang sudah tidak menarik lagi. 

Mitos 3: "Perempuan Secara Natural Lebih Emosional, Kurang Rasional"

Kritikus Wollstonecraft bilang: "Lihat betapa emosionalnya perempuan! Mereka menangis untuk hal kecil. Mereka tidak bisa berpikir logis." 

Wollstonecraft menjawab: 

"Tentu saja mereka emosional—mereka tidak pernah diajarkan cara lain untuk mengekspresikan diri!" 

Sejak kecil, perempuan diberitahu: 

  • Jangan berdebat (itu tidak feminin)
  • Jangan menunjukkan kemarahan (itu tidak cantik)
  • Jangan menggunakan logika (itu membuat pria tidak nyaman)

Satu-satunya ekspresi yang diizinkan adalah tangisan dan merajuk. 

Jika Anda melarang seseorang menggunakan akal dan hanya mengizinkan emosi, tentu saja mereka akan menjadi emosional! 

Ini bukan bukti bahwa perempuan secara natural lebih emosional. Ini bukti bahwa pendidikan membentuk perilaku.


Bagian 4: Kritik Terhadap Rousseau—Pertarungan Intelektual 

Émile dan Sophie—Pelajaran Berbeda untuk Jenis Kelamin Berbeda 

Jean-Jacques Rousseau menulis "Émile, or On Education"—buku yang sangat berpengaruh tentang bagaimana mendidik anak. 

Untuk Émile (laki-laki), Rousseau menganjurkan: 

  • Pendidikan berbasis akal
  • Pengalaman langsung dengan dunia
  • Kemandirian dan berpikir kritis
  • Pengembangan kebajikan melalui pemahaman

Untuk Sophie (perempuan), dia menganjurkan: 

  • Pendidikan untuk menyenangkan suami masa depan
  • Penampilan dan kepatuhan
  • Ketergantungan pada pria
  • Menghindari berpikir terlalu dalam

Wollstonecraft membaca ini dan hampir melempar buku. 

Dia menulis respon yang menghancurkan: 

"Bagaimana Rousseau bisa menganjurkan akal untuk pria, tetapi kepatuhan buta untuk perempuan—ketika kedua-duanya harus hidup bersama dan mendidik anak-anak bersama?" 

Jika pria rasional menikah dengan perempuan yang bodoh dan tidak berpendidikan, apa yang mereka bicarakan? Bagaimana mereka bisa menjadi partner sejati? 

Dan yang lebih buruk: jika ibu bodoh, bagaimana dia bisa mendidik anak laki-lakinya untuk menjadi rasional seperti yang Rousseau inginkan? 

Sistem Rousseau menghancurkan dirinya sendiri melalui kontradiksi internal.

"Kesempurnaan" Palsu 

Rousseau berargumen bahwa perempuan mencapai "kesempurnaan" mereka dengan menjadi lembut, lemah, dan patuh. 

Wollstonecraft meledak:

"Kesempurnaan itu untuk apa? Untuk menjadi budak yang cantik?" 

Dia menunjukkan bahwa "kesempurnaan" yang Rousseau gambarkan bukan kesempurnaan manusia—itu kesempurnaan boneka. 

Kesempurnaan sejati manusia adalah: 

  • Akal yang berkembang
  • Kebajikan yang didasarkan pada pemahaman
  • Kemandirian dalam berpikir dan bertindak
  • Kontribusi pada masyarakat

Dan semua ini membutuhkan pendidikan yang sama—untuk laki-laki dan perempuan.


Bagian 5: Solusi—Jalan Menuju Kesetaraan

Reformasi Pendidikan 

Wollstonecraft tidak hanya mengkritik—dia menawarkan solusi konkret.

1. Pendidikan Campuran (Co-education) 

Anak laki-laki dan perempuan harus belajar bersama, terutama di usia muda. Mengapa? 

  • Mereka akan belajar saling menghormati sebagai individu yang setara
  • Perempuan akan mendapat akses ke kurikulum yang sama
  • Laki-laki akan terbiasa melihat perempuan sebagai makhluk yang rasional
  • Kompetisi sehat akan mendorong semua untuk berkembang

2. Kurikulum yang Sama 

Perempuan harus belajar: 

  • Matematika dan sains (bukan hanya bordir)
  • Filsafat dan logika (bukan hanya novel romantis)
  • Sejarah dan politik (bukan hanya etiket)
  • Latihan fisik (bukan hanya menari)

3. Pendidikan untuk Kemandirian 

Tujuan pendidikan bukan untuk membuat perempuan lebih menarik untuk pria—tetapi untuk membuat mereka mampu berdiri sendiri, berpikir sendiri, dan berkontribusi pada masyarakat. 

Pernikahan sebagai Partnership, Bukan Kepemilikan 

Wollstonecraft membayangkan pernikahan yang berbeda: 

Bukan pria superior dengan perempuan yang patuh. Bukan master dengan budak yang cantik. 

Tetapi dua individu rasional yang memilih untuk berbagi hidup, saling menghormati intelektualitas dan kemandirian masing-masing. 

Ini radikal untuk tahun 1792—dan masih menantang untuk banyak orang hari ini.

Motherhood yang Tercerahkan 

Wollstonecraft sangat menghargai peran ibu. Tapi dia berargumen: 

Untuk menjadi ibu yang baik, perempuan harus terdidik.

Ibu yang terdidik akan: 

  • Mengajarkan anak-anak untuk berpikir, bukan hanya patuh
  • Menjadi teladan rasionalitas dan kebajikan
  • Mempersiapkan anak-anak (laki-laki dan perempuan) untuk menjadi warga negara yang berguna

Ibu yang bodoh hanya akan menghasilkan generasi berikutnya yang sama bodohnya.


Bagian 6: Perlawanan dan Hinaan 

Reaksi Terhadap Buku 

Ketika "A Vindication of the Rights of Woman" diterbitkan, reaksinya... eksplosif. 

Pendukung merayakannya sebagai karya jenius yang akhirnya mengungkapkan kebenaran yang telah lama dibungkam. 

Kritikus menyerangnya dengan vicious: 

  • "Perempuan gila yang ingin menghancurkan tatanan natural"
  • "Hyena in petticoats" (Hyena berbaju)
  • "Perempuan yang tidak feminin dan berbahaya"

Beberapa kritik berfokus pada argumennya. Tetapi banyak yang menyerang pribadinya—karena dia tidak menikah dengan ayah anak pertamanya, karena dia punya kehidupan cinta yang rumit, karena dia tidak sesuai dengan stereotip perempuan yang "baik." 

Ini adalah strategi klasik: ketika Anda tidak bisa membantah argumen seseorang, serang karakternya. 

Tragedi Personal 

Ironisnya, hidup Wollstonecraft sendiri mendemonstrasikan bahaya dari sistem yang dia kritik. 

Dia jatuh cinta dengan pria yang tidak menghargai intelektualnya. Dia punya anak di luar nikah—skandal besar di zamannya. Dia mencoba bunuh diri dua kali karena patah hati. 

Kemudian dia menikah dengan filsuf William Godwin dan hamil lagi. Pada usia 38 tahun, dia meninggal karena komplikasi setelah melahirkan putri keduanya—Mary Shelley, yang kelak akan menulis "Frankenstein." 

Kritikus menggunakan hidupnya yang "tidak konvensional" untuk mendiskreditkan ide-idenya. 

Tapi seperti yang Wollstonecraft sendiri akan katakan: kebenaran argumen tidak tergantung pada kesempurnaan pribadi orang yang mengatakannya.


Bagian 7: Warisan—230 Tahun Kemudian 

Apa yang Telah Berubah 

Dalam banyak hal, dunia sudah berubah sejak 1792: 

✓ Perempuan bisa mengakses pendidikan tinggi ✓ Perempuan bisa memilih ✓ Perempuan bisa memiliki properti ✓ Perempuan bisa bekerja di profesi apa pun (secara legal) 

Tapi... 

Apa yang Belum Berubah 

1. Pendidikan Informal Masih Membatasi Perempuan 

Anak perempuan masih diberikan boneka pink dan didorong untuk "cantik." Anak laki-laki diberikan lego dan didorong untuk "pintar." 

Media sosial menciptakan tekanan yang belum pernah ada sebelumnya untuk perempuan agar terlihat sempurna—bentuk baru dari obsesi penampilan yang Wollstonecraft kritik. 

2. "Menyenangkan Pria" Masih Menjadi Tekanan 

Berapa banyak perempuan yang masih merasa harus: 

  • Kurus agar menarik?
  • Tidak terlalu ambisius agar tidak "mengintimidasi" pria?
  • Tidak terlalu vokal agar tidak dianggap "agresif"?

Bahasa berubah. Tapi tekanan tetap sama. 

3. Double Standards Masih Ada 

Pria yang tegas: pemimpin. Perempuan yang tegas: bossy. 

Pria yang ambisius: driven. Perempuan yang ambisius: ruthless. 

Pria dengan banyak partner seksual: playboy. Perempuan dengan banyak partner seksual: ...Anda tahu labelnya. 

4. Care Work Masih Dianggap "Pekerjaan Perempuan" 

Meskipun perempuan bekerja full time di luar rumah, mereka masih diharapkan melakukan mayoritas pekerjaan rumah dan mengurus anak.

Ini yang Wollstonecraft prediksi: selama masyarakat menganggap mengurus sebagai "pekerjaan perempuan," kesetaraan sejati tidak akan tercapai.


Bagian 8: Pelajaran untuk Kita Semua 

1. Pendidikan Membentuk Realitas 

Wollstonecraft mengajarkan bahwa apa yang kita anggap "natural" sering kali adalah hasil dari pendidikan dan kondisioning. 

Pertanyaan untuk Anda: 

  • Kepercayaan apa tentang gender yang Anda anggap "natural" tetapi sebenarnya adalah hasil dari bagaimana Anda dididik?
  • Bagaimana Anda akan mendidik anak-anak (jika punya) berbeda dari cara Anda dididik?

2. Kesetaraan Bukan Ancaman—Itu Keuntungan untuk Semua 

Wollstonecraft berargumen bahwa mendidik perempuan bukan hanya baik untuk perempuan—itu baik untuk masyarakat keseluruhan. 

Ibu yang terdidik menghasilkan anak-anak yang lebih baik. Partner yang setara menghasilkan pernikahan yang lebih bahagia. Masyarakat yang menggunakan semua talenta (bukan hanya setengahnya) menjadi lebih kuat. 

Pertanyaan untuk Anda: Apakah Anda melihat kesetaraan sebagai zero-sum game (jika perempuan naik, pria turun)? Atau sebagai win-win? 

3. Kritiklah Sistem, Bukan Hanya Individu 

Wollstonecraft tidak menyalahkan perempuan karena lemah atau pria karena dominan.

Dia menyalahkan sistem pendidikan dan sosial yang menciptakan dinamika ini. 

Pertanyaan untuk Anda: Ketika melihat ketidaksetaraan, apakah Anda menyalahkan individu? Atau Anda mencoba memahami sistem yang menciptakan ketidaksetaraan itu? 

4. Kebajikan Sejati Membutuhkan Akal 

Anda tidak bisa baik hanya karena patuh atau meniru. Anda harus memahami mengapa sesuatu itu baik. 

Ini berlaku untuk semua—laki-laki dan perempuan. 

Pertanyaan untuk Anda: Berapa banyak dari nilai-nilai Anda yang benar-benar Anda pahami vs. yang Anda terima tanpa pertanyaan? 

5. Perlakukan Manusia sebagai Tujuan, Bukan Sarana

Kant, filsuf kontemporer Wollstonecraft, menulis bahwa kita harus memperlakukan manusia sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri—bukan sebagai sarana untuk tujuan orang lain. 

Wollstonecraft menerapkan ini pada perempuan: 

Perempuan bukan ada untuk menyenangkan pria. Mereka ada untuk menjadi manusia yang lengkap—dengan tujuan dan dignitas mereka sendiri. 

Pertanyaan untuk Anda: Apakah Anda memperlakukan orang (terutama lawan jenis) sebagai individu yang utuh dengan tujuan mereka sendiri? Atau sebagai sarana untuk kebahagiaan Anda?


Penutup: Perjalanan yang Belum Selesai 

Mary Wollstonecraft meninggal pada usia 38 tahun, hanya lima tahun setelah menulis "A Vindication of the Rights of Woman." 

Dia tidak pernah melihat perempuan mendapat hak pilih. Tidak pernah melihat universitas membuka pintu untuk perempuan. Tidak pernah melihat perempuan menjadi dokter, pengacara, ilmuwan, pemimpin negara. 

Tapi bijinya telah ditanam. 

Suffragettes yang berjuang untuk hak pilih pada awal abad ke-20 membaca bukunya. Feminis gelombang kedua pada tahun 1960-an mengutipnya. Aktivis hari ini masih terinspirasi olehnya. 

Karena meskipun banyak yang berubah, perjuangan belum selesai. 

Selama anak perempuan masih diajarkan bahwa penampilan lebih penting daripada intelektualitas... Selama perempuan masih dibayar lebih rendah untuk pekerjaan yang sama... Selama "feminin" masih dianggap inferior terhadap "maskulin"... Selama masyarakat masih membatasi orang berdasarkan gender mereka lahir... 

Pesan Wollstonecraft masih relevan.


Tantangan untuk Anda 

Wollstonecraft menulis dengan keyakinan bahwa perubahan dimulai dengan pendidikan—mengubah cara kita berpikir tentang apa yang "natural" dan apa yang "benar." 

Jadi sekarang, tantangan untuk Anda: 

1. Perhatikan Bahasa Anda Berapa kali Anda mengatakan atau mendengar: 

  • "Anak laki-laki tidak menangis"
  • "Itu tidak feminin"
  • "Perempuan secara natural lebih..."
  • "Pria secara natural lebih..."

Bahasa membentuk pemikiran. Pemikiran membentuk tindakan. 

2. Tanyakan "Mengapa?" Ketika seseorang bilang "begitulah adanya," tanyakan: "Mengapa begitu?" 

Mengapa anak perempuan harus pakai pink? Mengapa pria harus "kuat"? Mengapa care work adalah "pekerjaan perempuan"? 

Sering kali, Anda akan menemukan tidak ada alasan baik—hanya "tradisi" atau "kebiasaan." 

3. Didik untuk Kemandirian Jika Anda punya atau akan punya anak, didik mereka—laki-laki dan perempuan—untuk: 

  • Berpikir kritis
  • Mandiri secara emosional dan ekonomi
  • Menghargai intelektualitas dan karakter lebih dari penampilan
  • Menjadi partner yang setara, bukan superior atau inferior

4. Jadilah Teladan Perubahan tidak hanya melalui kata-kata tetapi tindakan. 

Jika Anda percaya pada kesetaraan, hidup sesuai dengan itu. Dalam pernikahan, pekerjaan, persahabatan.


Kata Terakhir dari Mary 

Jika Mary Wollstonecraft bisa berbicara kepada kita hari ini, saya percaya dia akan mengatakan: 

"Saya tidak menulis untuk membuat perempuan menjadi seperti pria, atau untuk membuat pria menjadi seperti perempuan. Saya menulis agar keduanya bisa menjadi lebih manusiawi—rasional, berbudi luhur, mandiri, dan saling menghormati sebagai individu yang setara." 

"Pendidikan yang sejati tidak membuat kita menjadi master atau budak—tetapi menjadi manusia yang utuh, mampu berpikir, memilih, dan berkontribusi pada dunia dengan kapasitas penuh kita." 

"Perjalanan menuju kesetaraan dimulai bukan dengan hukum atau revolusi—tetapi dengan bagaimana kita mendidik anak-anak kita, bagaimana kita berbicara satu sama lain, dan bagaimana kita melihat potensi dalam setiap manusia—tanpa memandang apakah mereka lahir laki-laki atau perempuan." 

Sekarang, pertanyaannya untuk Anda: 

Akankah Anda menjadi bagian dari generasi yang akhirnya mewujudkan visi Wollstonecraft? 

Atau akankah kita meneruskan pola yang sama ke generasi berikutnya—dan membiarkan bibit berbakat mati hanya karena mereka lahir dengan jenis kelamin yang "salah"? 

Pilihan ada di tangan Anda.


Tentang Buku Asli 

"A Vindication of the Rights of Woman" diterbitkan pertama kali pada tahun 1792 oleh Mary Wollstonecraft (1759-1797), penulis, filsuf, dan salah satu suara feminis pertama dalam sejarah. 

Wollstonecraft menulis buku ini sebagai respons terhadap laporan pendidikan yang diajukan kepada Majelis Nasional Perancis yang mengecualikan perempuan, dan sebagai kritik terhadap "Émile" karya Jean-Jacques Rousseau. 

Buku ini ditulis dengan cepat—hanya enam minggu—di tengah gejolak Revolusi Perancis. Gaya penulisannya passionate, kadang berulang, tapi selalu brilian dan menusuk. 

Wollstonecraft meninggal pada 1797 setelah melahirkan putrinya, Mary Wollstonecraft Godwin—yang kemudian dikenal sebagai Mary Shelley, penulis "Frankenstein." 

Setelah kematiannya, suaminya William Godwin menerbitkan memoar jujur tentang hidupnya—termasuk affair dan percobaan bunuh diri. Ini memicu skandal dan merusak reputasinya selama lebih dari satu abad. 

Baru pada awal abad ke-20, dengan gelombang suffragette, karyanya ditemukan kembali dan diakui sebagai teks fundamental dalam sejarah feminisme. 

Untuk pemahaman lengkap tentang argumen revolusionernya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Wollstonecraft menulis dengan kemarahan yang terfokus, sarkasme yang tajam, dan logika yang menghancurkan—pengalaman yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Sekarang pergilah dan gunakan akal Anda—untuk diri sendiri dan untuk mengubah dunia. 

Seperti Mary katakan: "Saya tidak ingin mereka memiliki kekuasaan atas pria—tetapi atas diri mereka sendiri." 

Kebebasan dimulai dari dalam.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: A Human History of Emotion
Back to top

Similar books