Waiting to Exhale
by Terry McMillan · April 2026 · 15 min read
Menahan Napas untuk Pria yang Salah
Table of contents
Menahan Napas untuk Pria yang Salah
Bayangkan ini: Anda berusia 36 tahun. Sukses dalam karier. Rumah bagus. Mobil bagus. Pakaian desainer. Di atas kertas, hidup Anda sempurna.
Tapi ada satu masalah: Anda menahan napas.
Menahan napas menunggu pria yang berjanji akan meninggalkan istrinya—tapi tidak pernah melakukannya.
Menahan napas menunggu suami yang ternyata lebih mencintai sekretarisnya yang berkulit putih daripada Anda yang telah mengorbankan karier untuk mendukungnya selama 11 tahun.
Menahan napas menunggu pria yang tampan dan seksi akhirnya memperlakukan Anda seperti lebih dari sekadar wanita simpanan—tapi dia tidak pernah akan melakukannya.
Menahan napas karena takut jika Anda melepaskan anak remaja Anda untuk tumbuh, Anda akan benar-benar sendirian.
Dan suatu hari, Anda menyadari: Anda tidak bisa menahan napas selamanya.
Suatu hari, Anda harus mengembuskan napas—melepaskan semua ekspektasi palsu, janji kosong, dan pria yang tidak layak—dan akhirnya bernapas untuk diri Anda sendiri.
Ini adalah cerita Savannah, Bernadine, Robin, dan Gloria.
Terry McMillan menulis "Waiting to Exhale" pada tahun 1992, dan buku ini mengubah lanskap sastra Amerika. Untuk pertama kalinya, wanita kulit hitam kelas menengah yang sukses, profesional, dan kompleks menjadi pusat cerita—bukan sebagai karakter pendukung, bukan sebagai stereotip, tetapi sebagai manusia utuh dengan mimpi, kekecewaan, dan kekuatan luar biasa.
Ini bukan hanya cerita tentang mencari cinta. Ini cerita tentang mencari diri sendiri di dunia yang terus memberitahu Anda bahwa Anda tidak lengkap tanpa pria.
Mari kita masuk ke Phoenix, Arizona, 1990—di mana empat wanita belajar bahwa kadang, hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah berhenti menunggu dan mulai hidup.
Bagian 1: Savannah Jackson—Bergerak untuk Melarikan Diri
Pindah untuk Kesekian Kalinya
Savannah Jackson berusia 36 tahun dan ini adalah kali keempat dia pindah dalam 15 tahun terakhir.
Denver. Atlanta. Washington DC. Dan sekarang Phoenix.
Setiap kali dia pindah dengan harapan yang sama: kali ini akan berbeda. Kali ini dia akan menemukan pria yang tepat. Kali ini hidupnya akan benar-benar dimulai.
Tapi setiap kali, hasilnya sama. Pria yang menjanjikan bulan tapi hanya memberikan bintang yang redup. Karier yang bagus tapi tidak memuaskan. Kehidupan yang terlihat sempurna dari luar tapi terasa kosong di dalam.
Savannah adalah produser televisi berbakat. Dia pintar, cantik, sukses. Di atas kertas, dia adalah wanita yang "punya segalanya."
Kecuali dia tidak punya—karena yang dia inginkan bukan mobil atau rumah atau promosi. Yang dia inginkan adalah seseorang untuk pulang. Seseorang yang benar-benar melihatnya. Seseorang yang tidak akan pergi.
Kenneth—Pria yang Tidak Pernah Akan Meninggalkan Istrinya
Ada Kenneth.
Kenneth yang terbang ke kota Savannah setiap beberapa bulan. Kenneth yang menginap di hotelnya, makan malam mewah, melakukan cinta sepanjang malam, dan berbisik janji-janji manis.
"Aku akan meninggalkan istriku," katanya. "Aku hanya perlu waktu yang tepat."
Dan Savannah percaya. Atau lebih tepatnya—dia ingin percaya.
Karena Kenneth adalah apa yang dia pikir dia inginkan: sukses, tampan, perhatian (ketika dia ada). Dan dia memberitahu dirinya sendiri bahwa menunggu sedikit lebih lama tidak apa-apa. Bahwa cinta sejati membutuhkan kesabaran.
Tapi di malam-malam ketika dia sendirian—ketika Kenneth kembali ke rumahnya, ke istrinya, ke kehidupan nyatanya—Savannah berbaring di tempat tidur dan bertanya pada dirinya sendiri: Berapa lama lagi saya akan menahan napas?
Pindah ke Phoenix
Ketika pekerjaan di stasiun TV Phoenix terbuka, Savannah mengambilnya—meskipun gajinya $12,000 lebih rendah dari posisi sekarang.
Dia bilang ke semua orang dia melakukannya untuk karier. Untuk kesempatan menjadi produser TV yang sebenarnya.
Tapi kebenaran yang tidak dia katakan keras-keras: dia berharap dengan pindah, dia bisa meninggalkan Kenneth. Meninggalkan pola ini. Memulai baru.
Dan Phoenix punya satu hal lagi: Bernadine Harris, sahabatnya sejak kuliah.
Jika ada seseorang yang bisa membantu Savannah menemukan jalan, itu Bernadine.
Tapi yang tidak Savannah tahu: Bernadine sendiri sedang tenggelam.
Bagian 2: Bernadine Harris—Ketika Dunia Sempurna Runtuh
Kehidupan yang Dibangun untuk Orang Lain
Bernadine Harris, 36 tahun, ibu dua anak, istri yang sempurna.
Atau lebih tepatnya—dulunya istri yang sempurna.
Selama 11 tahun, Bernadine melakukan segalanya dengan benar. Dia meninggalkan mimpinya memiliki bisnis katering untuk mendukung suaminya John membangun perusahaannya. Dia mengurus anak-anak. Dia menjadi istri korporat yang sempurna—menghadiri acara-acara, memasak makan malam untuk klien, tersenyum dan mendukung.
Dan John sukses. Sangat sukses. Perusahaan berkembang. Uang mengalir. Mereka punya rumah besar di pinggiran kota. Mobil mewah. Kehidupan yang semua orang iri.
Tapi ada satu masalah kecil yang Bernadine tidak tahu: John jatuh cinta dengan orang lain.
"Aku Meninggalkanmu"
Malam itu dimulai seperti biasa. Anak-anak sudah tidur. Bernadine membersihkan dapur.
John masuk, duduk di meja, dan dengan nada datar seperti sedang membicarakan cuaca, dia berkata:
"Aku meninggalkanmu. Aku jatuh cinta dengan Kathleen. Aku akan menikah dengannya."
Kathleen. Sekretaris berusia 24 tahun. Putih. Rambut pirang. Segalanya yang Bernadine tidak—dan tidak pernah bisa—menjadi.
Bernadine berdiri membeku. Pikirannya kosong. Lalu perlahan, seperti gunung es yang retak, kenyataan mulai menabrak:
11 tahun hidupnya—hilang.
Mimpi katering yang dia tunda—sia-sia.
Kepercayaan, cinta, masa depan—semuanya untuk seorang pria yang sekarang meninggalkannya untuk wanita yang cukup muda untuk menjadi putrinya.
"Kenapa?" tanyanya, suaranya hampir berbisik.
John mengangkat bahu. "Kathleen adalah satu-satunya wanita yang benar-benar aku cintai."
Dan dengan kalimat itu, dunia Bernadine runtuh.
Membakar Segalanya
Bernadine menghabiskan minggu-minggu berikutnya dalam kabut Xanax dan kesedihan.
Tapi kemudian kesedihan berubah menjadi kemarahan.
John tidak hanya meninggalkannya. Dia juga mencuri dari dia—mengosongkan rekening bersama, menjual sahamnya di perusahaan untuk menyembunyikan aset, meninggalkan Bernadine dengan tagihan yang tidak bisa dia bayar.
Dia menggunakan dia selama 11 tahun, mengambil segalanya, dan sekarang mencoba memastikan dia tidak mendapat apa-apa dalam perceraian.
Jadi Bernadine melakukan apa yang setiap wanita yang dikhianati ingin lakukan tapi kebanyakan tidak:
Dia mengambil semua pakaian John, melemparkannya ke mobilnya, dan membakarnya.
Api menyala tinggi di halaman depan. Tetangga keluar melihat. Pemadam kebakaran datang.
Dan Bernadine berdiri di sana, tenang, dan berkata: "Itu mobilnya. Dia bilang aku bisa mengambil apa yang aku mau dalam perceraian."
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Bernadine bisa bernapas.
Bagian 3: Robin Stokes—Wanita yang Jatuh Cinta dengan Pria yang Salah
Selalu Pria yang Salah
Robin Stokes, 35 tahun, eksekutif asuransi sukses yang menghasilkan jutaan untuk perusahaannya.
Di kantor, dia sharp, percaya diri, tak terkalahkan.
Tapi dalam kehidupan pribadinya? Bencana total.
Robin punya tipe: pria tampan dengan tubuh bagus, senyum menawan,
dan—sayangnya—tidak ada komitmen.
Teman-temannya selalu memperingatkan. "Robin, dia tidak akan meninggalkan istrinya." "Robin, dia menggunakan kamu untuk uang." "Robin, kamu layak lebih baik."
Tapi Robin tidak bisa mendengar. Karena setiap kali pria baru datang dengan mata coklat gelap dan bicara manis, dia meleleh.
Russell—Pria yang Tidak Pernah Akan Miliknya
Ada Russell.
Russell yang sudah menikah tapi bilang pernikahannya sudah mati. Russell yang datang ke apartemen Robin ketika dia mau, tidur di tempat tidurnya, makan makanannya, meminjam uangnya—dan kemudian pergi kembali ke istrinya.
"Aku akan meninggalkannya," katanya. Sama seperti Kenneth bilang ke Savannah. Sama seperti semua pria yang tidak akan pernah meninggalkan istri mereka.
Dan Robin menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu.
Dia membelikan Russell pakaian. Membayar tagihannya. Memberikan uang ketika dia "butuh bantuan kecil."
Teman-temannya bilang dia bodoh. Astrologinya—yang dia percayai dengan religius—bilang Russell bukan jodohnya.
Tapi Robin terus menunggu. Karena dalam pikirannya, jika dia cukup sabar, cukup baik, cukup sempurna—mungkin kali ini berbeda.
Tapi tentu saja, itu tidak pernah berbeda.
Hamil dan Sendirian
Ketika Robin mengetahui dia hamil, dia pikir ini adalah momen Russell akhirnya memilihnya.
Tapi ketika dia memberitahu Russell, responnya adalah: "Kamu yakin itu anakku?"
Dan Robin menyadari kebenaran yang menyakitkan: Russell tidak akan pernah meninggalkan istrinya. Dan bahkan jika dia melakukannya, dia bukan pria yang layak untuk dia atau bayinya.
Jadi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Robin membuat pilihan untuk dirinya sendiri—bukan untuk pria, bukan untuk mempertahankan hubungan yang rusak.
Dia akan membesarkan bayinya sendirian. Dan itu akan cukup.
Bagian 4: Gloria Matthews—Wanita yang Takut Sendirian
Hidup untuk Anaknya
Gloria Matthews, 38 tahun, pemilik salon kecantikan sukses.
Berbeda dengan ketiga temannya, Gloria tidak mencari pria. Dia sudah menyerah mencari cinta sejak lama.
Sebagai gantinya, dia menuangkan semua cinta, energi, dan hidupnya ke satu orang: Tarik, anak remajanya.
Gloria menjadi ibu tunggal sejak Tarik bayi. Ayah Tarik—David—adalah kesalahan satu malam ketika Gloria terlalu mabuk untuk ingat detailnya. Dan sejak itu, dia membesarkan Tarik sendirian.
Orang tuanya meninggal ketika Tarik masih kecil. Jadi Gloria tidak punya siapa-siapa selain anaknya. Dia membangun salon dari nol. Bekerja keras. Berkorban segalanya.
Dan Tarik adalah segalanya baginya—terlalu banyak, sebenarnya.
Takut Ditinggalkan
Masalahnya: Tarik sekarang remaja yang ingin kebebasan.
Dia ingin pergi ke Spanyol dengan program pertukaran pelajar. Dia mulai berkencan. Dia ingin hidupnya sendiri.
Dan Gloria tidak bisa melepaskan.
Setiap kali Tarik bicara tentang pergi, Gloria menemukan alasan mengapa dia tidak bisa. Terlalu berbahaya. Terlalu jauh. Dia terlalu muda.
Kebenaran yang tidak dia akui: dia takut. Takut jika Tarik pergi, dia akan benar-benar sendirian. Takut jika dia melepaskan—satu-satunya hal yang memberikan hidupnya makna—dia akan tidak punya apa-apa.
Serangan Jantung yang Mengubah Segalanya
Suatu malam, Gloria merasakan nyeri dada yang mengerikan.
Dia mencoba mengabaikannya. "Hanya kelelahan," pikirnya. "Hanya stres."
Tapi nyeri tidak hilang. Justru semakin buruk.
Tarik yang menemukan ibunya pingsan di lantai. Ambulans. Rumah sakit. Dokter dengan wajah serius.
"Serangan jantung," kata mereka. "Anda beruntung masih hidup."
Dan saat Gloria berbaring di tempat tidur rumah sakit—dengan kabel terpasang, mesin yang berisik, dan takut yang nyata bahwa dia hampir meninggal—dia menyadari sesuatu:
Dia menghabiskan seluruh hidupnya takut sendirian. Tapi dalam prosesnya, dia mencekik Tarik dan mengabaikan dirinya sendiri.
Jika dia ingin hidup—benar-benar hidup—dia harus melepaskan. Harus membiarkan Tarik tumbuh. Harus membuka hatinya untuk kemungkinan lain.
Dan mungkin—hanya mungkin—ada pria baik di luar sana yang bisa mencintai dia apa adanya.
Marvin—Pria Baik yang Muncul Saat yang Tepat
Tetangga barunya, Marvin, muncul di rumah sakit dengan bunga.
Marvin yang selalu ramah, yang memperbaiki hal-hal di rumahnya tanpa diminta, yang berbicara dengan Tarik dengan hormat—tidak merendahkan, tidak menggurui.
"Aku khawatir tentang kamu," kata Marvin. "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri."
Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Gloria membiarkan seseorang merawatnya.
Bagian 5: Persahabatan—Hal yang Menyelamatkan Mereka Semua
Panggilan Tiga Arah pada 2 Pagi
Ini dimulai dengan panggilan telepon.
Savannah tidak bisa tidur, jadi dia menelepon Bernadine. Bernadine sedang bangun, minum anggur dan menangis tentang perceraiannya. Mereka menelepon Robin. Robin menambahkan Gloria.
Dan tiba-tiba, jam 2 pagi, empat wanita ini—dengan semua kekacauan, kesedihan, dan frustrasi mereka—tertawa bersama.
Mereka tidak memberikan nasihat klise. Tidak menghakimi. Tidak mengatakan "Aku sudah bilang."
Mereka hanya... ada. Mendengarkan. Memahami.
Karena mereka semua berjuang dengan hal yang sama: mencoba menemukan cinta di dunia yang sepertinya tidak dirancang untuk wanita kulit hitam yang kuat, sukses, dan menolak untuk puas dengan yang kurang dari yang mereka layak dapatkan.
Malam Keluar Bersama
Mereka mulai pergi keluar bersama—ke bar, ke klub, ke restoran.
Kadang mereka bertemu pria. Kadang pria tersebut mengecewakan (yang sering terjadi). Kadang mereka hanya menari dan tertawa dan mengingat bahwa hidup lebih dari sekadar mencari pasangan.
Yang paling penting: mereka punya satu sama lain.
Ketika Bernadine hampir menyerah dalam perceraiannya, Savannah mendorongnya untuk terus berjuang.
Ketika Robin hamil dan takut, Gloria memberitahunya bahwa dia bisa melakukan ini—karena Gloria melakukannya dan bertahan.
Ketika Savannah akhirnya melepaskan Kenneth, Bernadine dan Robin merayakan dengan sampanye dan berteriak "Akhirnya!"
Mereka adalah keluarga yang mereka pilih—saudara perempuan yang tidak dilahirkan dari darah tetapi dari pilihan, dari pengalaman bersama, dari cinta yang tidak memerlukan janji selamanya tetapi ada selamanya.
Bagian 6: Mengembuskan Napas—Akhir yang Baru Dimulai
Savannah Melepaskan
Ketika Kenneth datang lagi dengan janji yang sama, Savannah melakukan sesuatu yang dia tidak pernah lakukan sebelumnya:
Dia mengatakan tidak.
"Aku tidak bisa melakukan ini lagi," katanya dengan tenang. "Aku pantas lebih dari ini. Aku pantas seseorang yang memilih aku—bukan seseorang yang aku harus berbagi."
Kenneth terlihat terkejut. "Tapi aku mencintaimu."
"Tidak," kata Savannah. "Kamu mencintai gagasan memiliki aku kapan kamu mau tanpa tanggung jawab. Tapi itu bukan cinta. Dan aku lelah berpura-pura itu cukup."
Dia menutup pintu. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia bisa bernapas.
Bernadine Menang
Perceraian Bernadine akhirnya selesai—dan dengan bantuan pengacara yang baik dan akuntan forensik yang menemukan semua aset yang John sembunyikan, dia mendapat settlement besar.
Bukan hanya uang—tetapi kebebasan.
Dan kemudian dia bertemu James—pengacara hak sipil yang istrinya sekarat karena kanker. Ini bukan situasi sempurna. Tapi James jujur tentang itu. Dia tidak berbohong. Tidak menggunakan.
Dan dalam satu malam yang penuh passion dan kejujuran, Bernadine menyadari: dia bisa mencintai lagi. Mungkin tidak sekarang, mungkin tidak sempurna—tapi dia bisa.
Yang lebih penting: dia akhirnya mengejar mimpi kateringnya. Dengan settlement divorce, dia punya modal. Dan kali ini, tidak ada yang akan menghentikannya.
Robin Menemukan Kekuatan
Robin tidak mendapatkan pria.
Tapi dia mendapat sesuatu yang lebih baik: dirinya sendiri kembali.
Dia akan menjadi ibu tunggal. Itu menakutkan. Tapi dia punya pekerjaan yang bagus, teman-teman yang luar biasa, dan untuk pertama kalinya, dia tidak menunggu pria untuk menyelamatkannya.
Dia menyelamatkan dirinya sendiri.
Gloria Membuka Hati
Gloria membiarkan Tarik pergi ke Spanyol.
Itu sulit—sangat sulit. Tapi dia tahu ini adalah hadiah cinta sejati: melepaskan orang yang kamu cintai untuk tumbuh.
Dan Marvin masih di sana, sabar, baik, mencintainya tanpa syarat.
Mereka mulai berkencan perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak ada drama.
Hanya dua orang dewasa yang menemukan satu sama lain di waktu yang tepat.
Bagian 7: Pelajaran dari Phoenix
1. Berhenti Menahan Napas untuk Pria yang Salah
Keempat wanita ini menghabiskan bertahun-tahun menahan napas—menunggu pria yang tidak akan pernah datang, atau pria yang tidak akan pernah berubah, atau pria yang tidak layak untuk mereka.
Dan dalam proses itu, mereka lupa bernapas untuk diri mereka sendiri.
Pelajaran: Jika Anda menahan napas menunggu seseorang, Anda akan mati lemas. Lepaskan. Bernapaslah. Hidup untuk diri Anda sendiri—bukan untuk pria yang mungkin tidak pernah memilih Anda.
2. Anda Tidak Bisa Mengorbankan Diri untuk Orang yang Tidak Menghargai Pengorbanan Anda
Bernadine memberikan 11 tahun hidupnya untuk John. Robin memberikan uang dan waktu untuk Russell.
Dan kedua pria itu tidak pernah menghargainya.
Pelajaran: Pengorbanan hanya berarti jika orang yang Anda korbankan melihat dan menghargai itu. Jika mereka tidak—Anda tidak sedang berkorban, Anda sedang kehilangan diri Anda.
3. Persahabatan Wanita Adalah Penyelamat
Dalam dunia yang terus memberitahu wanita bahwa mereka membutuhkan pria untuk lengkap, Terry McMillan menunjukkan kebenaran lain:
Kadang, hal yang paling Anda butuhkan bukan pria—tetapi wanita lain yang memahami perjuangan Anda.
Pelajaran: Investasikan dalam persahabatan Anda. Saudara perempuan yang Anda pilih akan ada ketika pria datang dan pergi.
4. Tidak Apa-apa untuk Melepaskan
Gloria harus melepaskan Tarik. Savannah harus melepaskan Kenneth. Robin harus melepaskan Russell. Bernadine harus melepaskan pernikahan yang sudah mati.
Melepaskan itu menyakitkan. Tapi itu juga membebaskan.
Pelajaran: Kadang hal paling mencintai yang bisa Anda lakukan—untuk orang lain dan untuk diri Anda sendiri—adalah melepaskan.
5. Anda Pantas Pria yang Memilih Anda
Bukan pria yang memilih Anda ketika nyaman.
Bukan pria yang memilih Anda sebagai pilihan kedua.
Bukan pria yang memilih Anda sambil mempertahankan opsi lain.
Pelajaran: Jika dia tidak memilih Anda dengan jelas, tanpa keraguan, tanpa syarat—dia tidak layak untuk napas yang Anda tahan.
Penutup: Akhirnya Bernapas
Terry McMillan menulis "Waiting to Exhale" di tahun 1992, dan buku ini mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, wanita kulit hitam melihat diri mereka di halaman—bukan sebagai stereotip, bukan sebagai karakter pendukung, tetapi sebagai protagonis yang kompleks, kuat, dan sangat manusiawi.
Buku ini menjadi fenomena. Film yang dibintangi Whitney Houston dan Angela Bassett menjadi hit besar. Soundtrack menjadi platinum berkali-kali.
Tapi lebih dari itu: buku ini memberikan suara untuk pengalaman yang jarang dibicarakan—pengalaman wanita sukses yang berjuang menemukan cinta dalam dunia yang tidak selalu ramah kepada mereka.
Pertanyaan untuk Anda
Terry McMillan meninggalkan kita dengan pertanyaan yang tidak nyaman tapi perlu:
- Untuk apa Anda menahan napas? Pria yang berjanji akan meninggalkan istrinya? Karier yang tidak memuaskan? Mimpi yang Anda tunda? Dan berapa lama lagi Anda akan menunggu sebelum mengambil napas untuk diri Anda sendiri?
- Apakah Anda mengorbankan diri untuk seseorang yang tidak menghargainya? Apakah Anda seperti Bernadine—memberikan tahun-tahun terbaik Anda untuk orang yang meninggalkan Anda di detik Anda paling membutuhkan mereka?
- Siapa "saudara perempuan" Anda? Siapa wanita dalam hidup Anda yang akan menjawab panggilan jam 2 pagi? Yang akan tertawa dengan Anda dan menangis dengan Anda dan memberitahu Anda kebenaran bahkan ketika itu menyakitkan?
- Jika Anda berhenti menunggu, apa yang akan Anda lakukan? Jika Anda berhenti menahan napas untuk pria yang salah—atau pekerjaan yang salah, atau kehidupan yang salah—apa yang akan Anda pilih untuk diri Anda sendiri?
Dan yang paling penting:
Kapan Anda akan berhenti menunggu dan mulai bernapas?
Karena seperti yang ditunjukkan Savannah, Bernadine, Robin, dan Gloria:
Hidup tidak dimulai ketika pria yang tepat datang.
Hidup dimulai ketika Anda berhenti menunggu dan mulai memilih diri Anda sendiri.
Hidup dimulai ketika Anda mengembuskan napas yang Anda tahan terlalu lama—dan akhirnya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Anda bernapas.
Tentang Buku Asli
"Waiting to Exhale" diterbitkan pada tahun 1992 dan langsung menjadi fenomena budaya.
Terry McMillan adalah penulis Afrika-Amerika yang mengubah lanskap sastra dengan karakter-karakter wanita kulit hitam yang kuat dan kompleks. Buku-buku lainnya termasuk "How Stella Got Her Groove Back" dan "Disappearing Acts."
Yang membuat "Waiting to Exhale" revolutionary adalah representasi jujur dari wanita kulit hitam kelas menengah profesional—sesuatu yang jarang terlihat dalam sastra mainstream sebelumnya.
Buku ini diadaptasi menjadi film pada tahun 1995, disutradarai oleh Forest Whitaker dan dibintangi Whitney Houston, Angela Bassett, Lela Rochon, dan Loretta Devine. Film ini menjadi hit box office dan soundtracknya—diproduksi oleh Babyface—menjadi salah satu soundtrack paling sukses sepanjang masa.
Pada tahun 2010, McMillan merilis sekuel "Getting to Happy" yang mengunjungi kembali keempat wanita 15 tahun kemudian.
Untuk pengalaman penuh—suara unik setiap karakter, humor tajam, dan kekuatan emosional dari persahabatan mereka—sangat disarankan membaca buku aslinya. Ringkasan ini hanya menangkap esensi, tetapi keajaiban penuh dari voice McMillan yang honest dan powerful hanya bisa dirasakan halaman demi halaman.