Skip to main content

The Whole-Brain Child

by Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson · January 2026 · 15 min read

Meltdown di Supermarket

Table of contents

Meltdown di Supermarket 

Bayangkan ini: Anda di supermarket dengan anak berusia 4 tahun. Antrian panjang. Anda lelah setelah seharian bekerja. 

Tiba-tiba anak Anda melihat permen di kasir. "Aku mau permen!" 

Anda sudah bilang tidak boleh jajan sebelum makan malam. "Tidak, sayang. Kita sudah sepakat." 

Dan kemudian... meledak

Anak Anda berteriak. Menangis. Melempar barang. Berbaring di lantai. Semua orang melihat. Anda merasa dihakimi. Wajah Anda panas. Anda ingin menghilang. 

Apa yang Anda lakukan? 

Opsi A: Marahi. "Kamu memalukan! Berhenti sekarang atau kita pulang tanpa apa-apa!"

Opsi B: Menyerah. "Baiklah, baiklah. Ambil permennya. Tapi hanya satu!" 

Opsi C: Sesuatu yang sama sekali berbeda—sesuatu yang kebanyakan orang tua tidak tahu karena tidak pernah diajari. 

Inilah yang Daniel Siegel dan Tina Payne Bryson—dua ahli perkembangan anak dan neuropsikiatri—ingin ajarkan kepada Anda: 

Meltdown anak Anda bukan tentang permen. Ini tentang otaknya yang sedang berkembang dan belum tahu bagaimana mengelola kekecewaan. 

Dan jika Anda memahami apa yang terjadi di dalam otak anak Anda, Anda bisa mengubah momen-momen sulit ini dari bencana menjadi kesempatan untuk mengajarkan keterampilan hidup yang penting.

"The Whole-Brain Child" bukan buku parenting biasa yang penuh dengan teori abstrak. Ini adalah panduan praktis berbasis neuroscience yang mengubah cara Anda melihat perilaku anak—dan cara Anda meresponsnya. 

Mari kita mulai dengan memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kecil itu.


Bagian 1: Otak Kanan vs Otak Kiri—Kenapa Anak Sulit "Pakai Logika" 

Cerita Joshua dan Remote TV 

Joshua, 5 tahun, sedang menonton kartun favoritnya. Tiba-tiba adiknya mengambil remote dan mengganti channel. 

Joshua meledak. Menangis seolah dunia berakhir. Memukul adiknya. 

Ibunya mencoba reasoning: "Joshua, kamu sudah nonton 30 menit. Sekarang giliran adikmu. Kamu bisa nonton lagi nanti. Ini adil, kan?" 

Joshua menjerit lebih keras: "TIDAK ADIL! AKU BENCI ADIK! AKU BENCI IBU!" Ibunya frustrasi. "Kenapa dia tidak bisa pakai logika?!" 

Jawabannya: Karena di momen itu, otak kirinya offline. 

Dua Sisi Otak yang Berbeda 

Otak Kiri: 

  • Logika, urutan, analisis
  • Bahasa, fakta, detail
  • "Masuk akal"
  • Linier dan terorganisir

Otak Kanan: 

  • Emosi, perasaan, pengalaman
  • Gambar, memori, kreativitas
  • "Merasakan"
  • Holistik dan intuitif

Pada orang dewasa yang sehat, kedua sisi ini bekerja sama—terintegrasi. Ketika Anda sedih, Anda bisa merasakan kesedihan (kanan) sambil tetap berpikir rasional tentang situasi (kiri). 

Tapi pada anak—terutama di bawah usia 7-8 tahun—otak kanan sering mendominasi.

Ketika Joshua melihat adiknya mengambil remote, otak kanannya bereaksi: 

  • "Ini tidak adil!"
  • "Aku kehilangan sesuatu yang penting!"
  • Perasaan overwhelming yang tidak bisa dia jelaskan

Dan ketika emosi otak kanan membanjiri, otak kiri mati. Dia tidak bisa mengakses logika, reasoning, atau perspektif. 

Ibunya mencoba mengajak bicara logika dengan anak yang otak kirinya sedang offline. Itu seperti mencoba mengirim email ke komputer yang mati. 

Strategi 1: Connect and Redirect 

Jangan langsung ke logika. Connect dulu dengan emosi. 

Yang TIDAK berhasil: "Joshua, kamu harus belajar berbagi. Ini tidak rasional untuk marah seperti ini." 

Yang BERHASIL: 

1. Connect (Otak Kanan dulu): 

○ Berlutut sejajar mata anak 

○ Sentuh dengan lembut 

○ Akui emosinya: "Kamu sangat kecewa ya remote-nya diambil. Kamu lagi asik nonton." 

○ Gunakan nada suara yang empati 

2. Redirect (Otak Kiri kemudian): Setelah anak lebih tenang (bisa makan waktu): 

○ "Ayo kita pikirkan solusinya. Bagaimana kalau adik nonton 15 menit, terus kamu bisa nonton lagi?" 

Prinsip emas: Otak kanan ke otak kanan dulu. Baru otak kiri ke otak kiri.

Strategi 2: Name It to Tame It 

Beri nama emosi untuk "menjinakkannya". 

Ketika anak bisa memberi label pada apa yang mereka rasakan, emosi kehilangan kekuatannya. 

Contoh

Anak Anda menangis setelah teman tidak mau bermain dengannya. 

Jangan: "Ah, itu bukan masalah besar. Besok kalian main lagi." 

Lakukan: "Kamu terlihat sedih. Apakah kamu merasa ditinggalkan oleh temanmu? Itu pasti sakit sekali rasanya."

Neuroscience menunjukkan: ketika kita memberi nama emosi, aktivitas otak kanan berkurang dan otak kiri mulai "online" kembali. 

Ini seperti melihat monster di kegelapan. Ketika Anda menyalakan lampu dan melihat itu hanya tumpukan pakaian, monster kehilangan kekuatannya. 

Ajari anak kosakata emosi: 

  • Frustrasi, kecewa, kesal, marah
  • Sedih, kesepian, terluka
  • Takut, cemas, khawatir
  • Bahagia, gembira, puas, bangga

Semakin banyak kosakata emosi anak, semakin mudah mereka mengelola perasaan mereka.


Bagian 2: Otak Bawah vs Otak Atas—Reptil Bertemu Einstein 

Cerita Emma dan Kue Ulang Tahun 

Emma, 6 tahun, sedang menunggu giliran memotong kue ulang tahun kakaknya. Kakaknya memotong kue dengan lambat. Emma tidak sabar. 

Tiba-tiba Emma merebut pisau dan mencoba memotong sendiri. 

Ayahnya refleks menarik Emma: "Berbahaya! Kamu bisa terluka!" 

Emma menangis dan berteriak: "AKU BENCI AYAH!" 

Ayahnya bingung. "Aku cuma melindunginya. Kenapa dia malah marah?"

Arsitektur Otak yang Bertingkat 

Bayangkan otak seperti rumah bertingkat: 

Otak Bawah (Basement/Lantai Dasar): 

  • Batang otak dan sistem limbik
  • Fungsi dasar: bernapas, berkedip, fight-or-flight
  • Emosi primitif: takut, marah, lapar
  • Sudah berkembang sejak lahir
  • Reaktif dan impulsif

Otak Atas (Lantai Atas): 

  • Cortex prefrontal
  • Fungsi eksekutif: perencanaan, empati, kontrol diri, moral
  • Berpikir sebelum bertindak
  • Tidak sepenuhnya matang sampai umur 25 tahun 
  • Pada anak kecil, masih dalam konstruksi

Ketika Emma melihat kue—sesuatu yang dia inginkan—otak bawahnya bereaksi: "AMBIL SEKARANG!" 

Otak atasnya yang seharusnya berkata: "Tunggu, itu berbahaya. Aku bisa minta tolong Ayah" masih belum sepenuhnya online. 

Flip Your Lid—Ketika Otak Atas Mati 

Dr. Siegel mengajarkan konsep "Flip Your Lid" untuk menjelaskan apa yang terjadi saat tantrum.

Instruksi sederhana: 

1. Buat tangan jadi kepalan (ini otak bawah—batang otak) 

2. Ibu jari di dalam kepalan (ini amygdala—pusat emosi) 

3. Lipat jari-jari ke atas ibu jari (ini cortex prefrontal—otak atas) 

Ini otak yang terintegrasi—otak atas menutupi dan mengelola otak bawah.

Sekarang: buka jari-jari Anda. Flip your lid! 

Ini yang terjadi saat anak tantrum—otak atas "lepas". Yang tersisa hanya otak bawah yang reaktif. 

Di momen itu, anak tidak bisa mengakses: 

  • Empati
  • Reasoning
  • Kontrol impuls
  • Moral reasoning

Mereka stuck di mode survival. 

Strategi 3: Engage, Don't Enrage 

Libatkan otak atas, jangan matikan otak atas. 

Ketika anak berperilaku buruk, respons instingtif kita sering justru mematikan otak atas mereka lebih jauh. 

Yang mematikan otak atas: 

  • Berteriak
  • Mengancam
  • Membuat mereka merasa tidak aman
  • Shaming ("Kamu anak nakal!")

Yang mengaktifkan otak atas: 

  • Nada suara tenang
  • Kontak mata yang lembut
  • Pertanyaan yang mengajak berpikir: "Apa yang bisa kamu lakukan berbeda?"
  • Memberikan pilihan: "Mau minta maaf sekarang atau setelah tenang?"

Contoh Praktis: 

Anak memukul adiknya.

Mematikan otak atas: "Kamu jahat! Tidak boleh pukul adik! Masuk kamar sekarang!"

Mengaktifkan otak atas

1. Stop perilaku dengan tenang: "Tidak boleh pukul." 

2. Connect: "Kamu kelihatan sangat marah." 

3. Engage: "Apa yang bikin kamu marah? Coba cerita dengan kata-kata."

4. Problem-solve: "Kalau adik ambil mainanmu, apa yang bisa kamu lakukan selain pukul?" 

Strategi 4: Use It or Lose It 

Latih otak atas atau dia tidak berkembang. 

Otak atas seperti otot—semakin dilatih, semakin kuat. 

Cara melatih: 

1. Ajak Membuat Keputusan: 

  • "Mau pakai baju merah atau biru?"
  • "Kita jalan lewat taman atau lewat jalan?"
  • Memberi pilihan melatih otak atas untuk menimbang options

2. Ajak Memikirkan Konsekuensi: 

  • "Menurutmu apa yang terjadi kalau kita tidak menyiram tanaman?"
  • "Kalau kamu pukul temanmu, bagaimana perasaan dia?"

3. Bermain Game yang Butuh Kontrol: 

  • Simon Says (mengikuti instruksi, menahan impuls)
  • Red Light Green Light (stop and go)
  • Memory games

4. Mindfulness dan Meditasi Sederhana: 

  • "Ayo kita tarik napas dalam 5 kali."
  • "Tutup mata, dengarkan suara apa yang kamu dengar."

Poin penting: Latihan ini paling efektif ketika anak tenang, bukan ketika tantrum.


Bagian 3: Membangun Memori dan Identitas

Strategi 5: Move It or Lose It 

Gerakan fisik mengubah state emosional. 

Ketika anak stuck di emosi negatif, mengubah state fisik mereka bisa membantu reset.

Ide praktis: 

  • "Ayo kita lompat 10 kali!"
  • "Mau push up bareng Ayah?"
  • "Kita jalan keliling rumah sambil cerita?"
  • Dance party dadakan

Neuroscience: Gerakan fisik mengaktifkan otak dan membantu "flip the lid" kembali ke posisi terintegrasi. 

Strategi 6: Use the Remote of the Mind 

Ajari anak bahwa mereka bisa "rewind" dan "fast forward" memori. 

Ketika anak mengalami sesuatu yang traumatis atau scary—jatuh dari sepeda, digigit anjing, nightmare—otak bawah mereka kadang stuck di "replay" mode. 

Teknik

Rewind dan Play dengan Aman: 

  • Minta anak menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai akhir
  • Ajukan pertanyaan: "Terus apa yang terjadi?"
  • Biarkan mereka menceritakan berkali-kali sampai cerita tidak lagi charged secara emosional

Ini membantu otak atas "memproses" pengalaman sehingga tidak stuck di otak bawah sebagai trauma. 

Fast Forward: 

  • "Kalau kamu nervous tentang hari pertama sekolah, ayo bayangkan sudah hari kedua. Kamu sudah punya teman. Sudah tahu di mana toilet. Bagaimana rasanya?"

Ini melatih otak atas untuk melihat ke depan dan tidak stuck di kecemasan saat ini.

Strategi 7: Remember to Remember

Ajari anak tentang dua jenis memori: 

Memori Implisit (body memory): 

  • Perasaan, sensasi, emosi
  • Tidak sadar
  • Contoh: Anak takut anjing tanpa ingat pernah digigit

Memori Eksplisit (story memory): 

  • Fakta, detail, narasi
  • Sadar
  • Contoh: "Aku ingat aku jatuh dari sepeda di taman saat umur 5 tahun"

Ketika anak punya memori implisit tapi tidak eksplisit, mereka bisa: 

  • Takut tanpa tahu kenapa
  • Marah tanpa alasan jelas
  • Cemas tanpa bisa menjelaskan

Solusi: Bantu anak membuat narasi dari pengalaman mereka. 

Setelah hari pertama sekolah yang penuh stress: 

  • "Coba cerita dari awal. Siapa yang kamu lihat pertama kali?"
  • "Apa yang bikin kamu nervous?"
  • "Apa bagian yang paling fun?"

Dengan menceritakan, pengalaman menjadi memori eksplisit yang lebih mudah dikelola.


Bagian 4: Strategi untuk Momen-Momen Sulit

Strategi 8: Let the Clouds of Emotion Roll By 

Ajari anak bahwa emosi itu seperti cuaca—datang dan pergi. 

Banyak anak (dan orang dewasa!) berpikir bahwa emosi negatif akan bertahan selamanya.

Ajari

  • "Perasaan itu seperti awan. Kadang ada awan gelap, tapi mereka akan berlalu."
  • "Kamu sedih sekarang. Itu oke. Tapi perasaan ini tidak akan selamanya."

Praktik: Ketika anak sedang marah atau sedih, setelah mereka lebih tenang, tanyakan: 

  • "Apakah kamu masih se-marah tadi?"
  • "Lihat, perasaan itu sudah mulai berlalu."

Ini melatih mereka untuk tidak teridentifikasi dengan emosi mereka—mereka bukan emosi mereka. 

Strategi 9: SIFT—Sensation, Image, Feeling, Thought 

Ajari anak untuk aware terhadap pengalaman internal mereka. 

S - Sensation (Sensasi): "Apa yang kamu rasakan di tubuhmu? Apakah perutmu terasa aneh? Tanganmu dingin?" 

I - Image (Gambar): "Apakah ada gambar atau bayangan di kepalamu?"

F - Feeling (Perasaan): "Perasaan apa yang ada? Marah? Sedih? Takut?"

T - Thought (Pikiran): "Apa yang kamu pikirkan? Apa cerita yang ada di kepalamu?"

Ini melatih mindfulness dan self-awareness—keterampilan otak atas level tinggi.

Strategi 10: Exercise Mindsight 

Mindsight = kemampuan untuk melihat ke dalam pikiran sendiri dan orang lain.

Dua komponen: 

1. Insight: Memahami pikiran dan perasaan sendiri 

2. Empathy: Memahami pikiran dan perasaan orang lain 

Cara melatih:

Untuk Insight: 

  • "Menurutmu kenapa kamu jadi marah tadi?"
  • "Apa yang kamu butuhkan ketika sedih?"

Untuk Empathy: 

  • "Menurutmu bagaimana perasaan adikmu ketika kamu ambil mainannya?"
  • "Kalau kamu jadi temanmu yang tidak diajak main, apa yang akan kamu rasakan?"

Ini adalah fondasi dari emotional intelligence.


Bagian 5: Strategi untuk Mengelola Konflik 

Strategi 11: Increase the Family Fun Factor 

Waktu bermain bersama membangun koneksi yang membuat disiplin lebih efektif.

Anak lebih mau mendengarkan orang tua yang mereka rasa connected dengan mereka.

Prinsip: Prioritaskan 10-15 menit quality time SETIAP HARI dengan setiap anak.

Tidak harus elaborate: 

  • Main petak umpet
  • Baca buku bersama
  • Masak bersama
  • Jalan sore
  • Cerita sebelum tidur

Yang penting: Full attention. Tidak sambil lihat HP atau pikiran ke pekerjaan.

Strategi 12: Connect Through Conflict 

Konflik adalah kesempatan untuk mengajarkan, bukan hanya menghukum.

Ketika anak berperilaku buruk, perspektif tradisional: "Anak harus dihukum agar kapok."

Perspektif whole-brain: "Anak butuh diajarkan keterampilan yang mereka belum punya."

Perbedaan Pendekatan: 

Punishment-based: 

  • Fokus: Membuat anak menderita agar kapok
  • "Karena kamu pukul adik, tidak boleh main game seminggu!"
  • Anak belajar: "Kalau ketahuan, aku akan dihukum"

Teaching-based: 

  • Fokus: Membantu anak belajar keterampilan baru
  • "Kamu pukul adik karena kamu marah. Ayo kita latih cara lain untuk ekspresikan marah. Mau coba?"
  • Anak belajar: "Aku punya pilihan lain selain pukul"

Framework 3 R's untuk Disiplin: 

1. Regulate (Atur dulu emosinya)

  • Anak tidak bisa belajar ketika masih tantrum
  • Connect dulu, calm down dulu

2. Relate (Hubungkan dengan empati) 

  • "Aku tahu kamu marah karena dia ambil mainanmu."
  • Validation membuat anak merasa didengar

3. Reason (Baru ajari dengan logika) 

  • "Tapi pukul itu menyakitkan. Apa yang bisa kamu lakukan lain kali?"
  • Ajak mereka problem-solve bersama

Catatan penting: Urutan INI yang penting. Regulate → Relate → Reason. Kebanyakan orang tua langsung ke Reason—dan heran kenapa anak tidak mendengar.


Bagian 6: Membangun Otak yang Terintegrasi

Integrasi Horizontal (Kanan-Kiri) 

Tujuan: Anak bisa merasakan emosi (kanan) DAN berpikir tentang emosi itu (kiri)

Aktivitas

  • Jurnal atau menggambar tentang perasaan
  • Bercerita tentang pengalaman emosional
  • "Kalau perasaanmu punya warna, warna apa?"

Integrasi Vertikal (Atas-Bawah) 

Tujuan: Otak atas bisa mengelola otak bawah 

Aktivitas

  • Latihan pernapasan
  • Mindfulness sederhana
  • Membuat keputusan dan konsekuensi
  • Role play situasi sulit sebelum terjadi

Integrasi Memori (Implisit-Eksplisit) 

Tujuan: Mengubah body memories yang scary menjadi stories yang bisa dimengerti

Aktivitas: 

  • Retell scary experiences dengan aman
  • Foto album dan bercerita tentang masa lalu
  • "Waktu kamu bayi, ini yang terjadi..."

Integrasi State (Berbagai Mood) 

Tujuan: Anak tidak stuck di satu emotional state 

Aktivitas

  • "Tadi kamu marah. Sekarang kamu sudah lebih tenang. Lihat, feeling bisa berubah."
  • Validasi bahwa normal punya berbagai perasaan
  • Tidak label anak: "Kamu anak pemalu" → "Kadang kamu butuh waktu untuk warming up"

Integrasi Interpersonal (Me-We)

Tujuan: Anak bisa maintain identitas sendiri sambil connect dengan orang lain

Aktivitas

  • Ajari boundaries: "Ini hakmu, ini hak temanmu"
  • Latih empati tanpa hilang diri sendiri
  • Role play: "Kalau temanmu mau main game A tapi kamu mau main game B, bagaimana?"

Penutup: Dari Surviving ke Thriving 

Daniel Siegel dan Tina Payne Bryson menutup buku dengan reminder penting:

"Tidak ada orang tua sempurna. Dan tidak perlu ada." 

Yang anak butuhkan bukan kesempurnaan. Yang mereka butuhkan adalah: 

1. Orang tua yang willing to repair 

Ketika Anda kehilangan kontrol dan berteriak, itu oke—selama Anda kembali dan repair: "Tadi Ibu salah berteriak. Maafkan Ibu. Ibu lagi stress tapi itu bukan alasan." 

2. Orang tua yang terus belajar 

Memahami otak anak adalah perjalanan, bukan destinasi. Setiap anak berbeda. Terus eksperimen dan adjust. 

3. Orang tua yang hadir 

Presence lebih penting daripada perfect. Anak Anda tidak butuh Instagram-worthy childhood. Mereka butuh Anda—hadir, attentive, responsif. 

Pertanyaan Reflektif 

1. Bagian otak mana yang sering "offline" pada anak Anda? 

  • Apakah mereka lebih struggle dengan emosi (otak kanan)?
  • Atau dengan kontrol impuls (otak atas)?

2. Respons default Anda ketika anak tantrum? 

  • Apakah Anda langsung ke logika dan reasoning?
  • Atau Anda connect dulu dengan emosi mereka?

3. Apakah Anda treating misbehavior sebagai opportunity to teach?

  • Atau hanya fokus pada punishment?

Prinsip Inti untuk Diingat 

1. Connect Before You Correct 

Otak kanan dulu, baru otak kiri. Emosi dulu, baru logika. 

2. Name It to Tame It 

Beri label pada emosi untuk mengurangi intensitasnya.

3. Engage the Upstairs Brain 

Ajak anak berpikir, jangan hanya dikasih tahu atau diancam. 

4. Use It or Lose It 

Latih otak atas setiap hari—small moments, big impact. 

5. Move It or Lose It 

Gerakan fisik adalah shortcut untuk mengubah emotional state. 

6. Brain Under Construction 

Ingat: otak atas mereka belum selesai dibangun. Beri grace. 

7. Conflict = Opportunity 

Setiap tantrum, setiap meltdown adalah kesempatan untuk melatih integrasi otak.

Pesan Terakhir 

Parenting yang berdasarkan neuroscience bukan tentang menjadi orang tua robot yang tidak emosional. 

Ini tentang memahami apa yang terjadi di balik perilaku anak Anda sehingga Anda bisa merespons dengan cara yang membantu mereka tumbuh, bukan hanya menghentikan perilaku di permukaan. 

Ketika anak Anda tantrum di supermarket—dan mereka AKAN tantrum, karena mereka anak-anak—Anda sekarang tahu: 

  • Otak atas mereka sedang offline
  • Otak kanan mereka overwhelmed
  • Mereka tidak sedang "nakal"—mereka sedang struggling dengan otak yang masih berkembang

Dan dengan pemahaman itu, Anda bisa: 

  • Connect dengan empati
  • Membantu mereka regulate
  • Mengajarkan keterampilan untuk next time
  • Membangun otak yang lebih terintegrasi, satu interaksi pada satu waktu

Seperti yang Siegel dan Bryson tulis: 

"Setiap interaksi dengan anak Anda adalah kesempatan untuk membentuk otak mereka. Pilih dengan bijak—bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk hadir dan responsif pada kebutuhan mereka." 

Jadi lain kali anak Anda flip their lid, ingat: Ini bukan krisis. Ini kesempatan.

Kesempatan untuk connect. Untuk mengajar. Untuk membantu otak kecil yang luar biasa itu tumbuh menjadi otak yang terintegrasi, resilient, dan capable. 

Dan itu adalah gift terbesar yang bisa Anda berikan kepada anak Anda.


Tentang Buku Asli 

"The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies to Nurture Your Child's Developing Mind" pertama kali diterbitkan pada 2011 dan menjadi New York Times bestseller. 

Daniel J. Siegel, M.D. adalah professor of psychiatry di UCLA School of Medicine dan executive director dari Mindsight Institute. Dia adalah pioneer dalam interpersonal neurobiology. 

Tina Payne Bryson, Ph.D. adalah psychotherapist dan executive director dari The Center for Connection di California. Dia specialisasi dalam child and adolescent development. 

Bersama-sama, mereka juga menulis "No-Drama Discipline" (2014) dan "The Yes Brain" (2018)—semua berbasis pada prinsip yang sama: memahami otak untuk menjadi orang tua yang lebih efektif dan empathetic. 

Untuk pemahaman lengkap dengan lebih banyak contoh kasus, ilustrasi otak, dan strategi spesifik untuk berbagai usia, sangat disarankan membaca buku aslinya. Buku ini ditulis dengan bahasa yang accessible, penuh humor, dan very relatable untuk semua orang tua. 

Ringkasan ini menangkap 12 strategi inti dan prinsip-prinsip utama, tapi buku lengkap memberikan depth, nuance, dan troubleshooting untuk berbagai situasi spesifik yang mungkin Anda hadapi. 

Sekarang pergilah dan parent with the brain in mind. 

Karena ketika Anda memahami otak, Anda bisa mengubah momen-momen tersulit dalam parenting menjadi kesempatan terbesar untuk pertumbuhan—bagi anak Anda dan bagi diri Anda sendiri. 

Happy parenting—whole-brain style!

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Marriageology
Back to top

Similar books