Table of contents
Pengakuan Seorang Penulis
Tahun 1946. Perang Dunia II baru saja berakhir. George Orwell—penulis "Animal Farm" yang baru saja sukses besar—duduk di mejanya untuk menulis sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya.
Bukan novel. Bukan reportase. Bukan kritik politik.
Dia menulis tentang dirinya sendiri.
Orwell, pria yang terkenal dengan kritik tajam terhadap totalitarianisme, yang mengajarkan jutaan orang untuk curiga terhadap propaganda—sekarang membedah motif-motifnya sendiri dengan kejujuran yang brutal.
Dia menulis essay berjudul "Why I Write"—Mengapa Saya Menulis.
Dan kalimat pembukaannya langsung mengejutkan:
"Dari usia yang sangat muda, mungkin lima atau enam tahun, saya tahu bahwa ketika saya dewasa, saya akan menjadi penulis."
Tidak ada keraguan. Tidak ada "mungkin" atau "semoga." Hanya kepastian yang tegas dari seorang anak kecil yang bahkan belum bisa mengeja dengan benar.
Tapi kemudian dia menambahkan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi:
"Antara usia sekitar tujuh belas dan dua puluh empat tahun, saya mencoba meninggalkan gagasan ini, dengan kesadaran bahwa saya melanggar sifat sejati saya."
Bayangkan itu. Tujuh tahun dari hidupnya—masa muda yang seharusnya produktif—dihabiskan untuk melawan takdirnya sendiri. Mencoba menjadi orang lain. Mencoba melarikan diri dari apa yang dia tahu dia dilahirkan untuk lakukan.
Mengapa?
Karena Orwell tidak menulis untuk alasan yang mulia. Setidaknya tidak di awal. Dan dalam essay ini, dia akan mengakui motif-motif yang membuat kebanyakan penulis tidak nyaman untuk diakui.
Ini bukan essay tentang panggilan suci menulis. Ini adalah pembedahan brutal tentang ego, ambisi, obsesi, dan terkadang—hanya terkadang—sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Mari kita mulai dari awal.
Bagian 1: Anak yang Kesepian
Dunia Khayalan Sebagai Pelarian
George Orwell lahir sebagai Eric Arthur Blair di India pada tahun 1903. Ayahnya bekerja untuk pemerintah kolonial Inggris. Keluarganya pindah ke Inggris ketika dia masih sangat kecil.
Dia adalah anak tengah. Kakak perempuannya lima tahun lebih tua. Adik perempuannya lima tahun lebih muda. Artinya: dia tumbuh sendirian.
"Saya adalah anak tengah antara dua saudara perempuan yang jauh berbeda usia," tulis Orwell, "dan selama bertahun-tahun saya nyaris tidak pernah melihat ayah saya sebelum saya berusia delapan tahun. Karena alasan-alasan ini, saya agak kesepian."
Agak kesepian adalah understatement.
Orwell mengembangkan sesuatu yang dia sebut "cerita yang berkelanjutan"—semacam narasi dalam kepalanya yang berjalan terus-menerus, seperti film pribadi yang tidak pernah berhenti.
Dia membayangkan dirinya sebagai pahlawan. Sebagai Robin Hood. Sebagai kapten kapal. Sebagai detektif cemerlang. Dalam khayalannya, dia selalu tokoh utama—selalu menang, selalu dikagumi, selalu penting.
Kedengarannya seperti imajinasi anak biasa? Mungkin. Tapi Orwell melakukannya dengan intensitas yang berbeda. Dia hidup di dalam cerita-cerita itu. Mereka adalah pelariannya dari dunia nyata yang kesepian dan tidak menarik.
Penulis Sejak Sebelum Bisa Menulis
Bahkan sebelum dia bisa menulis dengan benar, Orwell sudah "menulis" dalam kepalanya.
"Saya menulis puisi pertama saya pada usia empat atau lima tahun," kenangnya, "ibu saya menuliskannya untuk saya."
Puisi buruk? Tentu. Tapi bukan itu poinnya. Poinnya adalah: dorongan untuk menciptakan sesuatu dengan kata-kata sudah ada sejak dia hampir tidak bisa berbicara.
Pada usia sekitar tujuh atau delapan tahun, dia mulai menulis "buku" pertamanya—imitasi dari cerita-cerita yang dia baca. Tentang harimau dan petualangan eksotis. Semua tidak selesai, tentu saja. Tapi dorongan itu ada.
Dan yang paling penting: dia sudah memiliki kesadaran akan audiens.
"Saya menulis dengan perasaan bahwa saya menunjukkan 'kehebatan' saya kepada orang dewasa," akunya. "Ini selalu dilakukan dengan semacam... gaya. Bukan gaya saya sendiri, tetapi imitasi dari penulis yang saya kagumi."
Kata kuncinya: menunjukkan kehebatan.
Inilah benih pertama dari apa yang nanti dia sebut sebagai motif pertama menulis: ego.
Bagian 2: Melarikan Diri dari Menulis (dan Gagal)
Sekolah Elit dan Harapan Palsu
Orwell mendapat beasiswa ke Eton—salah satu sekolah paling elit di Inggris, tempat anak-anak aristokrasi belajar.
Tapi dia bukan aristokrasi. Dia adalah anak dari keluarga kelas menengah yang berjuang—"kelas menengah bawah atas," seperti yang dia gambarkan dengan sarkasme khas Orwell.
Di Eton, dia merasa tidak pada tempatnya. Teman-temannya punya uang. Punya koneksi. Punya masa depan yang jelas. Orwell? Dia hanya punya bakat menulis—dan pada saat itu, itu tidak terasa cukup.
Setelah lulus dari Eton, alih-alih ke universitas (yang tidak mampu dia bayar), Orwell mengambil keputusan yang aneh: dia bergabung dengan polisi kolonial Burma.
Mengapa? Karena dia mencoba melarikan diri dari menulis. Dia mencoba menjadi "orang biasa" dengan pekerjaan "terhormat."
Tapi Burma mengubah segalanya.
Burma—Mata Terbuka
Orwell menghabiskan lima tahun di Burma sebagai polisi imperialis. Dan apa yang dia lihat membuatnya muak.
Dia melihat imperialisme dari dalam. Dia melihat bagaimana sistem kolonial menghancurkan manusia—baik yang dijajah maupun yang menjajah. Dia melihat dirinya sendiri menjadi bagian dari mesin yang dia benci.
Dia menulis nanti dalam essay "Shooting an Elephant":
"Saya secara teoritis—dan diam-diam, tentu saja—mendukung orang Burma dan menentang penindas mereka, orang Inggris."
Tapi setiap hari, dia adalah penindas itu. Dia memakai seragam. Dia memberi perintah. Dia mewakili sistem yang dia benci.
Kontradiksi ini menghancurkannya.
Pada tahun 1927, pada usia 24 tahun, Orwell mengundurkan diri. Dia pulang ke Inggris dengan satu keputusan yang jelas:
"Saya akan menulis. Apapun yang terjadi, saya akan menulis."
Tidak ada lagi pelarian. Tidak ada lagi berpura-pura. Dia akan menghadapi sifat sejatinya.
Bagian 3: Empat Motif Besar Menulis
Inilah inti dari essay Orwell. Dia mengidentifikasi empat alasan mengapa orang menulis—dan dia mengakui keempat-empatnya ada dalam dirinya.
Motif 1: Ego Murni
Orwell memulai dengan yang paling tidak menyenangkan: ego.
"Keinginan untuk terlihat pintar, untuk dibicarakan, untuk diingat setelah kematian, untuk mendapat balas dendam pada orang dewasa yang meremehkan Anda di masa kecil, dll., dll."
Dia tidak memperhalus ini. Dia tidak mengatakan "apresiasi atas keahlian" atau "keinginan untuk diakui." Dia langsung ke inti: Anda ingin terlihat hebat.
Dan dia mengakui dengan jujur: "Ini adalah motif terkuat dari semua."
Kenapa penulis serius membenci penulis populer? Ego.
Kenapa penulis obsesif tentang review? Ego.
Kenapa penulis cemburu ketika teman mereka sukses? Ego.
Orwell tidak mengklaim dia di atas ini semua. Dia mengakui dia penuh dengan ego—keinginan untuk diingat, untuk penting, untuk lebih pintar dari orang lain.
"Penulis berbagi karakteristik ini dengan ilmuwan, seniman, politisi, pengacara, tentara, pengusaha sukses—singkatnya, dengan seluruh lapisan atas umat manusia," tulisnya. "Massa besar umat manusia tidak sangat egois."
Tapi ada perbedaan: penulis kreatif lebih egois daripada jurnalis atau penulis akademis. Mengapa? Karena pekerjaan mereka lebih sendirian, lebih personal, lebih tentang "saya."
Apakah ini buruk? Orwell tidak menilai. Dia hanya mengatakan: ini kenyataan. Akui atau bohong pada diri sendiri.
Motif 2: Antusiasme Estetis
Motif kedua adalah tentang keindahan.
"Persepsi keindahan dalam dunia eksternal, atau di sisi lain, dalam kata-kata dan susunan yang tepat. Kesenangan dalam dampak satu suara pada yang lain, dalam ketegasan prosa yang baik atau ritme cerita yang baik."
Ini tentang mencintai bahasa itu sendiri. Bunyi kata-kata. Ritme kalimat. Struktur yang elegan.
Orwell memberikan contoh: "Kalimat seperti 'Gereja Katolik Roma dikutuk karena kesombongannya' tidak akan pernah ditulis oleh orang yang memiliki selera estetika untuk kata-kata."
Mengapa? Karena bunyi "Roma" dan "dikutuk" terlalu dekat. Tidak enak didengar. Penulis dengan telinga yang baik akan merasakan ini secara instingtif dan mengubahnya.
Tapi Orwell juga jujur: motif estetis sendiri tidak cukup kuat untuk membuatnya menulis.
"Di atas level buku anak-anak sederhana, tidak ada yang akan repot-repot menulis bahkan sebuah cerita pendek jika mereka tidak memiliki pandangan 'politik'—menggunakan kata dalam arti luas."
Keindahan saja tidak cukup. Harus ada sesuatu yang lebih.
Motif 3: Dorongan Historis
Motif ketiga adalah tentang mencatat kebenaran.
"Keinginan untuk melihat hal-hal sebagaimana adanya, untuk menemukan fakta sejati dan menyimpannya untuk generasi mendatang."
Orwell adalah seorang reporter pada intinya. Dia ingin mencatat apa yang dia lihat—terutama hal-hal yang orang lain abaikan atau sembunyikan.
Kemiskinan di Paris dan London. Penambang batubara di Inggris utara. Perang saudara Spanyol. Totalitarianisme Soviet.
Dia ingin generasi mendatang tahu apa yang benar-benar terjadi—bukan versi yang disanitasi, bukan propaganda, tetapi kebenaran yang kasar dan tidak nyaman.
"Sejarah ditulis oleh pemenang," kata pepatah. Orwell menulis untuk pecundang—untuk orang-orang yang suaranya dihapus dari catatan resmi.
Motif 4: Tujuan Politik
Dan akhirnya, motif yang paling penting bagi Orwell: politik.
"Keinginan untuk mendorong dunia ke arah tertentu, untuk mengubah ide orang lain tentang jenis masyarakat yang mereka upayakan."
Ini bukan tentang politik partisan. Ini tentang pandangan dunia.
Orwell menulis:
"Tidak ada yang benar-benar bebas dari bias politik. Pendapat bahwa seni tidak boleh ada hubungannya dengan politik sendiri adalah sikap politik."
Bahkan jika Anda menulis tentang bunga atau cinta atau alam, Anda membuat pernyataan politik—pernyataan bahwa hal-hal itu penting, bahwa mereka layak perhatian.
Bagi Orwell, setelah Burma, setelah melihat kemiskinan, setelah berperang di Spanyol melawan fasisme—setiap kata yang dia tulis adalah tindakan politik.
"Apa yang paling saya inginkan," tulisnya, "adalah membuat tulisan politik menjadi seni."
Bukan propaganda. Bukan pamflet. Tetapi seni yang juga senjata.
Bagian 4: Spanyol—Titik Balik
Perang yang Mengubah Segalanya
Pada tahun 1936, Orwell pergi ke Spanyol untuk berperang melawan fasisme dalam Perang Saudara Spanyol.
Dia bergabung dengan milisi POUM (Marxis anti-Stalinis) dan bertempur di garis depan. Dia ditembak di leher oleh penembak jitu—peluru melewati tenggorokannya, hampir membunuhnya, merusak pita suaranya secara permanen.
Tapi lebih dari luka fisik, Spanyol memberinya luka yang lebih dalam: pengkhianatan.
Kawan-kawannya—orang-orang yang berperang di sisinya melawan fasisme—dikhianati oleh Stalin. Soviet mendukung faksi tertentu dalam perang saudara dan menghancurkan yang lain. POUM dinyatakan sebagai "pengkhianat Trotskyis" dan diburu.
Orwell harus melarikan diri dari Barcelona—bukan dari fasisme, tetapi dari komunis yang seharusnya menjadi sekutunya.
Ini menghancurkan ilusinya tentang politik kiri. Dia tetap sosialis, tetapi dia sekarang melihat bahaya totalitarianisme di kedua sisi spektrum politik.
Dari pengalaman ini lahir "Homage to Catalonia" (reportase perangnya), dan benih untuk "Animal Farm" dan "1984"—karya-karya yang akan mendefinisikan warisannya.
Orwell menulis:
"Perang Spanyol dan peristiwa lain pada tahun 1936-37 mengubah skala, dan setelah itu saya tahu di mana saya berdiri. Setiap baris karya serius yang telah saya tulis sejak 1936 telah ditulis, langsung atau tidak langsung, melawan totalitarianisme dan untuk sosialisme demokratis, sebagaimana saya memahaminya."
Sekarang dia tahu mengapa dia menulis.
Bagian 5: Ketegangan Antara Seni dan Propaganda
Konflik yang Tidak Pernah Selesai
Orwell jujur tentang ketegangan dalam dirinya sebagai penulis:
Di satu sisi, dia ingin menulis prosa yang indah—kalimat yang mengalir, deskripsi yang vivid, cerita yang kaya secara estetis.
Di sisi lain, dia ingin menulis pamflet politik—teks yang jelas, langsung, tanpa embel-embel, yang mengubah pikiran orang.
Dia menulis:
"Saya lihat bahwa ada dua pilihan: menerima periode non-kreatif sebagai penulis, atau menulis buku yang tidak penting dan tidak autentik."
Solusinya? Gabungkan keduanya.
"Animal Farm" adalah alegori politik yang jelas—kritik terhadap Revolusi Soviet. Tapi itu juga cerita yang indah, dengan karakter yang berkesan, dengan narasi yang mengalir.
"1984" adalah peringatan politik tentang totalitarianisme. Tapi itu juga novel yang mengharukan tentang cinta, identitas, dan kemanusiaan.
Orwell menemukan caranya: membuat pamflet yang dibaca seperti seni.
Bahasa sebagai Senjata
Dalam essay lain, "Politics and the English Language" (yang sering disertakan bersama "Why I Write"), Orwell berpendapat bahwa bahasa yang buruk memungkinkan pemikiran yang buruk.
Politikus menggunakan eufemisme untuk menyembunyikan kengerian. "Pembersihan etnis" alih-alih "pembantaian." "Kerusakan kolateral" alih-alih "warga sipil yang terbunuh."
Bahasa yang kabur memungkinkan kejahatan menjadi dapat diterima.
Jadi Orwell menetapkan aturan untuk dirinya sendiri:
1. Jangan pernah gunakan metafora, simile, atau figur bicara lain yang biasa Anda lihat di cetak.
2. Jangan pernah gunakan kata panjang jika kata pendek bisa digunakan.
3. Jika mungkin memotong kata, selalu potong.
4. Jangan pernah gunakan pasif jika Anda bisa menggunakan aktif.
5. Jangan pernah gunakan kata asing, kata ilmiah, atau jargon jika Anda bisa memikirkan padanan sehari-hari.
6. Langgar aturan apa pun sebelum mengatakan sesuatu yang sama sekali barbar.
Aturan keenam adalah yang paling penting: kejelasan di atas segalanya, tetapi bukan kejelasan yang membosankan.
Bagian 6: Pelajaran untuk Penulis Hari Ini
Orwell menutup essaynya dengan pengakuan terakhir:
"Melihat kembali pekerjaan saya, saya melihat bahwa di mana saya tidak memiliki tujuan politik, saya telah menulis buku tanpa kehidupan."
Buku-buku awalnya yang mencoba menjadi "sastra murni" tanpa pesan—gagal. Buku-buku yang ditulis dengan kemarahan, dengan misi, dengan sesuatu untuk dikatakan—bertahan.
Apa yang bisa kita pelajari dari ini?
1. Akui Ego Anda—Lalu Lampaui
Orwell tidak malu tentang egonya. Dia mengakui dia ingin terkenal, ingin penting, ingin diingat.
Tapi dia tidak berhenti di situ. Ego adalah bahan bakar awal, tetapi tidak boleh menjadi tujuan akhir.
Pelajaran: Ya, Anda menulis karena Anda ingin diakui. Itu manusiawi. Tapi jika hanya itu yang Anda tulis, karya Anda akan kosong. Temukan sesuatu yang lebih besar dari ego Anda.
2. Setiap Penulis Punya Pandangan Dunia—Akui Milik Anda
"Tidak ada yang benar-benar netral," kata Orwell. Bahkan jika Anda berpikir Anda tidak punya agenda politik, Anda punya.
Pelajaran: Jangan berpura-pura objektif jika Anda tidak. Lebih baik jujur tentang bias Anda dan menulis dengan jelas, daripada berpura-pura netral sambil diam-diam memanipulasi pembaca.
3. Keindahan Tanpa Makna Adalah Kosong
Orwell mencintai bahasa yang indah. Tapi dia tahu itu tidak cukup.
Pelajaran: Gaya tanpa substansi adalah perhiasan kosong. Tulis dengan indah jika Anda bisa—tapi pastikan Anda punya sesuatu untuk dikatakan.
4. Pengalaman Membentuk Tulisan—Hiduplah
Orwell tidak menjadi penulis dengan duduk di kamar. Dia pergi ke Burma. Dia hidup dalam kemiskinan. Dia berperang di Spanyol. Dia melihat totalitarianisme dari dekat.
Pelajaran: Anda tidak bisa menulis tentang kehidupan jika Anda tidak menjalaninya. Keluar. Alami. Luka. Belajar. Lalu tulis.
5. Tulis Untuk Mengubah Sesuatu
"Setiap baris karya serius yang telah saya tulis sejak 1936," kata Orwell, "telah ditulis melawan sesuatu dan untuk sesuatu."
Melawan totalitarianisme. Untuk keadilan. Melawan ketidakjujuran bahasa. Untuk kebenaran.
Pelajaran: Menulis tanpa tujuan adalah seperti menembak tanpa target. Temukan apa yang Anda lawan, apa yang Anda dukung—lalu tulis dengan semua yang Anda punya.
Penutup: Mengapa Anda Menulis?
Di akhir essay, Orwell tidak memberikan jawaban definitif. Dia hanya memberikan kejujuran brutal tentang motif-motifnya sendiri.
Dia menulis karena ego. Karena cinta bahasa. Karena ingin mencatat kebenaran. Karena ingin mengubah dunia.
Keempat motif ini selalu bertarung dalam dirinya. Kadang ego menang. Kadang estetika. Kadang politik. Tapi karya terbaiknya muncul ketika keempatnya bekerja bersama.
Sekarang pertanyaan untuk Anda:
Mengapa Anda menulis?
Jika Anda jujur—benar-benar jujur—mungkin jawabannya tidak semulia yang Anda ingin akui.
Mungkin Anda menulis karena ingin terkenal. Karena ingin diakui lebih pintar dari orang lain. Karena ingin mendapat validasi.
Itu oke. Orwell mengakui semua itu. Tapi dia tidak berhenti di situ.
Atau mungkin Anda menulis karena ada sesuatu yang membakar di dalam diri Anda—ketidakadilan yang Anda lihat, kebenaran yang disembunyikan, perubahan yang ingin Anda buat.
Itu lebih baik. Tapi pastikan Anda benar-benar peduli, bukan hanya berpura-pura peduli karena terdengar bagus.
Orwell menulis dengan kejujuran yang brutal, kejelasan yang tajam, dan tujuan yang tak tergoyahkan.
Dia tidak pernah berpura-pura. Dia tidak pernah menulis untuk menyenangkan orang. Dia menulis untuk mengatakan kebenaran—bahkan ketika kebenaran itu tidak populer.
Dan karena itu, 78 tahun setelah kematiannya, kita masih membaca karyanya.
Jadi tulislah. Tapi tulislah dengan jujur. Tulislah dengan tujuan. Tulislah seperti itu penting—karena jika tidak penting bagi Anda, itu tidak akan penting bagi siapa pun.
Seperti Orwell katakan di tempat lain:
"Dalam masa penipuan universal, mengatakan kebenaran adalah tindakan revolusioner."
Tulislah kebenaran Anda. Dunia memerlukannya.
Tentang Essay Asli
"Why I Write" pertama kali diterbitkan dalam jurnal Gangrel pada musim panas 1946, empat tahun sebelum Orwell meninggal karena tuberkulosis pada usia 46 tahun.
Essay ini ditulis setelah kesuksesan "Animal Farm" (1945) dan sementara dia sedang menulis "1984" (yang akan diterbitkan tahun 1949). Ini adalah refleksi penulis di puncak kekuatannya, melihat kembali pada perjalanannya.
George Orwell (nama pena dari Eric Arthur Blair) adalah salah satu penulis paling berpengaruh abad ke-20. "Animal Farm" dan "1984" telah terjual lebih dari 40 juta eksemplar dan diterjemahkan ke lebih dari 60 bahasa.
"Why I Write" sering dianggap sebagai salah satu essay terbaik tentang proses menulis yang pernah dibuat—tidak karena memberikan formula sukses, tetapi karena memberikan kejujuran tanpa kompromi tentang apa artinya menjadi penulis.
Untuk pemahaman lengkap, sangat disarankan membaca essay aslinya. Orwell menulis dengan kejelasan yang brilian—setiap kalimat dipoles sampai sempurna, tidak ada kata yang terbuang.
Sekarang pergilah dan tulis—dengan jujur, dengan jelas, dengan tujuan.
Dunia tidak butuh lebih banyak kata kosong. Dunia butuh kebenaran yang ditulis dengan keberanian.
Mulai hari ini.