Skip to main content

Year of Yes

by Shonda Rhimes · December 2025 · 15 min read

Enam Kata yang Mengubah Segalanya

Table of contents

Enam Kata yang Mengubah Segalanya 

Thanksgiving 2013. Di dapur yang hangat dengan aroma kalkun panggang, Shonda Rhimes—ratu televisi yang menguasai malam Kamis ABC dengan tiga acara hit—sedang memasak bersama kakak perempuannya, Delorse. 

Shonda, seperti biasa, sedang bercerita tentang undangan-undangan luar biasa yang ia terima. Acara penghargaan glamor. Pesta Hollywood. Wawancara televisi dengan selebriti terkenal. Kesempatan-kesempatan yang orang lain akan membunuh untuk mendapatkannya. 

Delorse mendengarkan sambil mengaduk saus. Lalu, tanpa mendongak, ia menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti komentar biasa—tetapi meledak di kepala Shonda seperti granat: 

"Kamu tidak pernah mengatakan ya untuk apa pun." 

Enam kata sederhana. Tapi mereka duduk di dada Shonda seperti bom yang berdetak. Karena Delorse benar. Sangat benar. 

Shonda Rhimes—pencipta Grey's Anatomy, Scandal, dan How to Get Away with Murder—adalah introvert ekstrem yang bersembunyi di balik kesuksesannya. Ia adalah wanita yang mempekerjakan publicist bukan untuk promosi, tetapi untuk menghindari promosi. Yang memeluk dinding di pesta Hollywood. Yang mengalami serangan panik sebelum wawancara televisi—begitu parahnya hingga ia tidak ingat apa pun setelahnya. 

Ya, ia sukses. Tapi ia juga sengsara

Hidup Shonda adalah sebuah penjara mewah yang ia bangun sendiri. Penjara yang dibangun dari kata "tidak"—tidak untuk undangan, tidak untuk petualangan baru, tidak untuk kehidupan di luar kantor dan rumah. 

Tapi kata-kata kakaknya itu mengubah segalanya. 

Bagaimana jika, selama satu tahun, ia mengatakan ya untuk segala sesuatu yang menakutkannya?

Inilah kisah tentang apa yang terjadi ketika seorang introvert keras kepala memutuskan untuk menantang dirinya sendiri. Tentang bagaimana mengatakan "ya" mengubah bukan hanya karirnya, tetapi seluruh hidupnya—kesehatan, keluarga, persahabatan, dan cara ia melihat dirinya sendiri. 

Ini adalah cerita tentang Year of Yes.


Bagian 1: Sebelum Ya—Penjara yang Nyaman

Anak yang Gemar Berkhayal 

Sejak kecil, Shonda adalah penghuni dunia imajiner. Tumbuh di Chicago, hobi favoritnya adalah bermain pura-pura—tetapi bukan seperti anak-anak lain. Shonda bersembunyi di pantry ibunya dan menciptakan cerita untuk kaleng-kaleng makanan. 

Kaleng ubi jalar memerintah kacang hijau. Pasta tomat merencanakan pemberontakan. Di kepala Shonda, rak makanan menjadi kerajaan dengan drama politik yang rumit. 

Ia juga anak yang membawa buku ke luar ketika ibunya memaksanya bermain. Yang lebih nyaman dengan kata-kata di halaman daripada orang-orang sungguhan. Seorang introvert sejati. 

Tapi introvert dengan ambisi besar dan sifat kompetitif yang luar biasa—Shonda adalah anak bungsu dari enam bersaudara yang semua sangat kompetitif. Mereka tidak peduli tentang kesuksesan Hollywoodnya. Bagi mereka, Shonda tetap adik kecil mereka yang canggung dan terlalu banyak bicara. 

"Tanda tangan? Shonda? Shonda RHIMES? Kamu yakin?" tanya saudara-saudaranya dengan ngeri saat seseorang meminta autografnya. 

Keluarga ini menjaga kakinya tetap di tanah. Dan mungkin, tanpa mereka sadari, juga menjaganya tetap aman—terlalu aman. 

Sukses Tapi Sengsara 

Perjalanan Shonda dari Dartmouth College ke USC Film School membawanya ke puncak dunia televisi. Tiga acara hit yang ditayangkan bersamaan. Jutaan penonton setiap minggu. Penghargaan demi penghargaan. 

Dari luar, hidupnya sempurna. Tiga putri cantik. Rumah indah. Karir yang kebanyakan orang hanya bisa bermimpi. 

Tapi dari dalam? Shonda merasa seperti tenggelam. 

Ia bekerja sampai kelelahan—kadang 16 jam sehari, 7 hari seminggu. Stres menumpuk seperti gunung yang tidak pernah berhenti tumbuh. Dan cara Shonda mengatasi stres? Makanan

Seluruh kue dimakan sendirian di sofa. Beberapa liter es krim dalam satu malam. Makanan menjadi pelarian, kenyamanan, dan hukuman sekaligus. 

Berat badannya melonjak. Kesehatannya memburuk. Tapi yang paling buruk adalah kesendirian.

Shonda mengatakan tidak untuk segalanya di luar pekerjaan. Tidak untuk pesta. Tidak untuk wawancara. Tidak untuk kesempatan bertemu orang baru. Tidak untuk kehidupan yang lebih besar dari rutinitas kerja-rumah-kerja. 

Ia mempekerjakan publicist—bukan untuk promosi, tetapi untuk menghindari promosi. "Alasan utama saya punya publicist," katanya, "adalah agar saya tidak perlu melakukan publisitas apa pun. Orang mengira itu lelucon. Saya tidak bercanda." 

Ketakutannya spesifik dan melumpuhkan: 

  • Takut melempar tulang ayam melintasi ruangan di pesta koktail
  • Takut jatuh dan berdarah di depan penonton live TV
  • Takut percakapan sulit yang karakternya di layar lakukan dengan mudah Jadi Shonda bersembunyi. Di balik layar laptop. Di balik kesibukan. Di balik kata "tidak".

Hingga kakaknya melempar granat itu: "Kamu tidak pernah mengatakan ya untuk apa pun."


Bagian 2: Lompatan Pertama—Ya kepada Ketakutan

Jimmy Kimmel dan Keputusan Besar 

Ya pertama datang dalam bentuk yang paling menakutkan: televisi live. 

Jimmy Kimmel telah meminta Shonda untuk tampil di acaranya bertahun-tahun. Ia selalu menolak. Tapi sekarang, dengan komitmen "Year of Yes," ia harus mengatakan ya. 

Panik segera menyerang. Shonda hampir pingsan memikirkannya. Bagaimana jika ia jatuh? Bagaimana jika ia mengucapkan sesuatu yang bodoh? Bagaimana jika ia membeku di depan kamera? 

Tapi kemudian ia menemukan solusi: negosiasi. Ia mengatakan ya—tetapi dengan syarat episode direkam lebih dulu, bukan live. 

Kimmel setuju. Dan episode special Scandal itu menjadi rating tertinggi untuk acaranya. 

Pelajaran pertama: Ya tidak harus sempurna atau mutlak. Anda bisa mengatakan ya dengan cara Anda sendiri. 

Dartmouth dan Menemukan Suara 

Ya kedua bahkan lebih besar: memberikan pidato kelulusan di almamaternya, Dartmouth College. 

Berbicara di depan publik adalah salah satu ketakutan terbesar Shonda. Tapi ia berkomitmen pada Year of Yes, jadi ia harus melakukannya. 

Yang mengejutkan—dan mengubah segalanya—adalah proses persiapan. 

Alih-alih fokus pada dirinya sendiri dan ketakutannya, Shonda mengalihkan fokus ke audiens: Bagaimana saya bisa membantu mereka? Apa yang mereka butuhkan untuk mendengar? 

Perpindahan perspektif ini mengubah segalanya. Pidato bukan lagi tentang performanya, tetapi tentang melayani

Di Dartmouth, Shonda memberikan pidato yang kuat dan jujur. "A hashtag is not a movement," katanya kepada para lulusan. "Mimpi itu tidak nyata. Saya suka mimpi. Tapi mimpi adalah impian. Ambisi saja tidak akan membuat Anda mencapai apa pun. Untuk sukses, Anda harus menjadi pelaku, bukan pemimpi." 

Pidato itu viral. Orang-orang menangis. Orang-orang terinspirasi. 

Dan Shonda menyadari sesuatu yang revolusioner: Suaranya penting. Dunia butuh mendengarnya.

Selama ini, ia telah bersembunyi di balik karakter-karakternya—khususnya Cristina Yang dari Grey's Anatomy. Ia membiarkan Cristina mengatakan semua hal berani yang ia sendiri takut katakan. 

Tapi sekarang ia mengerti: Dunia nyata juga bisa diuntungkan dari suaranya. Ia bisa berdiri dan berbicara tentang isu-isu penting dan benar-benar membuat perubahan.


Bagian 3: Ya kepada Keibuan yang Sesungguhnya

Gaun Malam dan Pertanyaan Sederhana 

Suatu malam, Shonda bersiap untuk acara mewah. Gaun ballgown biru laut. Sepatu hak tinggi yang menyakitkan. Rambut dan makeup sempurna. 

Ia sudah terlambat. Sudah waktunya pergi. 

Lalu putri kecilnya yang berusia dua tahun datang menghampiri dan bertanya dengan suara kecil: "Mommy, mau main?" 

Respons otomatis Shonda: "Tidak, sayang. Mommy harus pergi. Mommy terlambat."

Tapi kemudian ia ingat. Ini Year of Yes. Dan putrinya telah mengajukan pertanyaan.

Dalam sepersekian detik itu, segalanya berubah. 

Shonda melepas sepatu hak tingginya yang menyakitkan. Berlutut di lantai kayu keras, membuat gaun ballgown mengembang di sekitar pinggangnya. Gaun itu akan kusut. Ia tidak peduli. 

Karena apa arti hidup jika Anda hanya mengatakan ya untuk hal-hal yang orang lain inginkan Anda lakukan? Untuk pekerjaan? Jika Anda mengatakan ya untuk itu tetapi tidak untuk yang lain, Anda kalah. 

Malam itu, Shonda menemukan "happy place"-nya: bermain dengan anak-anaknya. 

Ia memutuskan: mulai sekarang, ia akan selalu mengatakan ya ketika salah satu putrinya meminta perhatiannya. 15 menit bermain. 10 menit membaca buku. 5 menit menari bodoh. 

Inkremen waktu kecil ini—ternyata—membuat perbedaan besar. Bukan hanya untuk anak-anaknya, tetapi untuk Shonda sendiri. Ia menjadi lebih bahagia. Lebih ringan. Lebih hidup. 

Melepaskan Perang Mommy 

Shonda juga mengatakan ya untuk menyerah dalam "Mommy War"—perang internal tentang menjadi ibu yang sempurna. 

Ia menyadari kebenaran yang membebaskan: Ia tidak bisa melakukan semuanya. 

Ia tidak bisa menjadi CEO perusahaan produksi senilai jutaan dolar dan ibu yang membuat kue buatan sendiri untuk acara sekolah. Ia tidak bisa menulis tiga acara TV sekaligus dan menjadi ibu yang hadir di setiap kegiatan anak.

Jadi ia berhenti mencoba. 

Ia memuji pengasuh anaknya—Jenny—sebagai pahlawan tak dikenal dalam hidupnya. "Jenny adalah orang tua yang mengasuh anak-anak saya," tulis Shonda dengan jujur. "Saya adalah orang tua yang mencintai mereka, bermain dengan mereka, dan memberikan nilai-nilai. Tapi Jenny yang ada di sana sehari-hari." 

Ketika orang bertanya, "Bagaimana kamu melakukan semuanya?" Shonda berhenti berbohong. Jawabannya: "Saya tidak melakukan semuanya. Saya punya bantuan luar biasa." 

Dan dalam kejujuran itu, ia menemukan kebebasan. Rasa bersalah memudar. Kebahagiaan tumbuh.


Bagian 4: Ya kepada Kesehatan—127 Pon Kebebasan

Momen yang Memalukan 

Suatu hari, Shonda sedang bermain dengan putri bungsunya yang berusia tiga tahun. Putrinya naik ke punggungnya, dan mereka mulai berlari mengelilingi rumah. 

Setelah 30 detik, Shonda kehabisan napas. Setelah satu menit, ia harus berhenti. Hatinya berdebar. Ia tidak bisa bernapas. 

Putrinya berusia tiga tahun. Beratnya mungkin 30 pon. Dan Shonda tidak bisa membawanya selama lebih dari satu menit. 

Momen itu adalah titik balik. 

Shonda menyadari: ia telah bekerja keras di setiap aspek hidupnya kecuali kesehatannya. Ia telah mengabaikan tubuhnya, menekan emosi dengan makanan, dan kehilangan dirinya dalam pound demi pound yang terakumulasi. 

Ia tahu ia harus berubah. Tapi—dan ini penting—bukan karena tekanan masyarakat atau standar kecantikan. 

Untuk waktu yang lama, Shonda merasa keinginannya untuk menurunkan berat badan adalah anti-feminis. "Kenapa saya harus peduli? Sebagai feminis, saya harus menerima tubuh saya apa adanya." 

Tapi kemudian ia menyadari perbedaan krusial: Ini bukan tentang menjadi kurus. Ini tentang menjadi sehat. 

Ini tentang bisa bermain dengan anak-anaknya. Tentang punya energi untuk hidup penuh. Tentang merawat diri sendiri dengan cara yang sama ia merawat karirnya. 

127 Pon dan Satu Tahun Perubahan 

Dengan bantuan dokter, Shonda memulai perjalanan kesehatan yang serius. Bukan diet kilat. Bukan trik cepat. Tetapi perubahan gaya hidup jangka panjang. 

Selama lebih dari setahun, ia mengubah cara ia makan, bergerak, dan berhubungan dengan makanan. 

Dan ia kehilangan 127 pon. 

Tetapi yang lebih penting dari angka adalah apa yang ia dapatkan: energi, kejernihan, kepercayaan diri, dan kemampuan untuk menggendong putri kecilnya di punggung dan berlari mengelilingi lorong selama 20 menit tanpa kehabisan napas.

"Saya masih suka ayam goreng," katanya dengan jujur. "Saya selalu akan menyukainya. Tapi sekarang saya punya pilihan. Dan saya memilih kesehatan." 

Shonda juga menyadari sesuatu yang mengejutkan: ketika ia kehilangan berat badan, orang-orang mulai melihatnya berbeda. 

Orang yang dulu tidak memperhatikan kini berhenti untuk mengobrol. Pintu yang dulu tertutup kini terbuka. Dan itu menyakitkan—menyadari bahwa dunia memperlakukan Anda berbeda berdasarkan penampilan Anda. 

Tapi alih-alih membiarkan itu membuat pahit, Shonda menggunakannya sebagai motivasi untuk lebih baik: untuk tidak menghakimi orang lain berdasarkan penampilan, untuk melihat lebih dalam, untuk lebih baik dari dunia yang menghakiminya.


Bagian 5: Ya kepada Percakapan Sulit 

Kebebasan di Seberang Ketidaknyamanan 

Salah satu "ya" paling transformatif dalam Year of Yes adalah ya kepada percakapan sulit. 

Sebelumnya, Shonda menghindari konflik seperti wabah. Ia ingin disukai. Ia tidak ingin membuat orang tidak nyaman. Jadi ia menelan perasaan, menghindari konfrontasi, dan membiarkan masalah membusuk. 

Hasilnya? Kecemasan. Dendam. Persahabatan palsu. Dan stres yang membuat ia makan seluruh kue. 

Tapi ketika Shonda mulai mengatakan ya untuk percakapan sulit—baik di tempat kerja maupun dalam hidup pribadinya—ia menemukan sesuatu yang mengejutkan: 

"Tidak peduli seberapa sulit percakapannya, saya tahu bahwa di seberang percakapan sulit itu terletak kedamaian. Jawaban disampaikan. Karakter terungkap. Gencatan senjata terbentuk. Kesalahpahaman diselesaikan. Kebebasan terletak di seberang ladang percakapan sulit. Dan semakin sulit percakapannya, semakin besar kebebasannya." 

Shonda menjadi terobsesi dengan percakapan sulit. Karena ia menyadari: ketika Anda bersedia menghadapi ketidaknyamanan, hidup menjadi jauh lebih tenang. 

Tidak ada lagi perasaan terpendam. Tidak ada lagi dendam yang terkubur. Tidak ada lagi hubungan yang toxic karena Anda terlalu takut untuk menghadapi masalahnya. 

Mengatakan Tidak dengan Cinta 

Paradoks yang indah dari Year of Yes: mengatakan ya kepada diri sendiri kadang berarti mengatakan tidak kepada orang lain. 

Ketika Shonda tumbuh dalam kepercayaan diri dan cinta diri, ia mulai melihat hubungan-hubungan dalam hidupnya dengan lebih jelas. 

Beberapa "teman" ternyata memiliki motif egois. Satu "teman" bahkan meminta sejumlah besar uang. Orang lain memanfaatkan kebaikannya tanpa pernah memberi balik. 

Dulu, Shonda akan mengatakan ya—karena ia ingin disukai, karena ia takut konflik, karena ia merasa wajib. 

Tapi sekarang, dengan kekuatan inner yang baru, ia belajar mengatakan tidak. Tidak untuk permintaan yang tidak pantas. Tidak untuk menjadi keset. Tidak untuk hubungan yang toxic. 

"Ketika Anda memahami bahwa Anda layak mendapat hal-hal baik," tulis Shonda, "mengatakan tidak untuk hal-hal buruk menjadi jauh lebih mudah."

Menetapkan Batasan 

Shonda juga belajar menetapkan batasan yang sehat—sesuatu yang sebagai orang yang menyenangkan, sangat sulit baginya. 

Ia belajar mengatakan: "Saya tidak bisa melakukan itu." "Itu bukan prioritas saya." "Saya butuh waktu untuk diri sendiri." 

Dan yang mengejutkan—langit tidak runtuh. Orang-orang tidak membencinya. Hubungan yang sejati menjadi lebih kuat karena dibangun atas kejujuran, bukan kewajiban.


Bagian 6: Ya kepada Menjadi Diri Sendiri—Badassery Sejati 

Bukan Istri Siapa pun 

Salah satu keputusan paling kontroversial dan berani yang Shonda bagikan dalam buku ini: ia memilih untuk tidak menikah. 

Bukan karena ia tidak pernah jatuh cinta. Bukan karena tidak ada yang menginginkannya. Tetapi karena setelah introspeksi mendalam, ia menyadari: ia tidak ingin menjadi istri seseorang. 

"Pekerjaan saya dan hidup saya memenuhi saya dengan cara yang pernikahan tidak akan," tulisnya dengan jujur. 

Keputusan ini mengejutkan banyak orang—termasuk pria yang ia cintai. Ia menyakiti mereka, dan itu bukan sesuatu yang ia ambil dengan ringan. 

Tapi ia juga menyadari: lebih jujur untuk tidak menikah daripada menikah sambil tahu bahwa hatinya tidak sepenuhnya ada di sana. 

Ini adalah bentuk badassery yang paling sejati: hidup sesuai kebenaran Anda sendiri, bahkan ketika itu tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat. 

Menerima Pujian 

Shonda juga belajar sesuatu yang mengejutkannya sederhana tapi sulit: terima pujiannya, brengsek! 

Dulu, ketika seseorang memujinya, ia akan meminimalkan, menyangkal, atau mengalihkan perhatian. 

"Acara Anda luar biasa!" "Oh, itu karena tim saya." "Anda terlihat cantik!" "Ah, ini gaun lama." "Pidato Anda menginspirasi!" "Saya gugup sekali." 

Ia tidak bisa hanya mengatakan: "Terima kasih." 

Mengapa? Karena menerima pujian berarti mengakui nilai Anda sendiri. Dan itu terasa arogan, egois, tidak rendah hati. 

Tapi Shonda menyadari: ketika Anda menolak pujian, Anda tidak menjadi rendah hati. Anda menolak gift yang seseorang berikan kepada Anda. Anda meremehkan observasi mereka. Anda membuat mereka merasa bodoh karena memuji Anda. 

Jadi ia belajar untuk hanya mengatakan: "Terima kasih. Saya menghargai itu."

Dan dalam kesederhanaan itu, ada kekuatan. 

Wonder Woman Pose 

Shonda juga menemukan trik sederhana untuk kepercayaan diri: Wonder Woman pose. 

Penelitian menunjukkan bahwa berdiri dalam "power pose"—kaki terbuka, tangan di pinggul, dada terbuka—selama dua menit dapat meningkatkan hormon kepercayaan diri dan mengurangi hormon stres. 

Kedengarannya konyol? Mungkin. Tapi itu berhasil. 

Sebelum wawancara besar, sebelum pidato penting, sebelum pertemuan yang menakutkan—Shonda melakukan Wonder Woman pose di kamar mandi. 

Berpura-pura sampai Anda menjadi bukan hanya slogan. Itu adalah strategi yang legitimate.


Penutup: Setelah Tahun Ya 

Transformasi yang Bertahan 

Pada akhir 2015, setelah 365 hari mengatakan ya, Shonda Rhimes telah berubah total: 

  • 127 pon lebih ringan dalam berat fisik
  • Lebih ringan dalam berat emosional—melepaskan rasa bersalah, kecemasan, dan kebutuhan untuk sempurna
  • Ibu yang lebih baik—hadir, bermain, bahagia
  • Pemimpin yang lebih kuat—bersedia menghadapi percakapan sulit, menetapkan batasan
  • Teman yang lebih baik—pada orang yang benar-benar penting, setelah melepaskan hubungan toxic
  • Dirinya yang lebih otentik—berbicara dengan suaranya sendiri, hidup sesuai kebenarannya

Dan yang paling penting: ia memutuskan untuk terus hidup dalam semangat "Ya".

Year of Yes bukan hanya eksperimen satu tahun. Ini adalah awal dari cara hidup baru.

Pelajaran yang Bisa Kita Ambil 

1. Keluar dari Zona Nyaman Anda Zona nyaman Anda mungkin nyaman, tetapi juga bisa menjadi penjara. Tantang diri Anda untuk mengatakan ya kepada hal-hal yang menakutkan—dan lihatlah bagaimana Anda tumbuh. 

2. Ya kepada Diri Sendiri Kadang Berarti Tidak kepada Orang Lain Anda tidak bisa menuangkan dari cangkir kosong. Merawat diri sendiri bukan egois—itu adalah tanggung jawab. 

3. Percakapan Sulit Membawa Kedamaian Di seberang ketidaknyamanan terletak kebebasan. Hadapi masalah. Bicarakan tentang hal yang sulit. Kedamaian menunggu di sisi lain. 

4. Anda Tidak Harus Melakukan Semuanya Lepaskan mitos superhero. Anda tidak bisa menjadi sempurna di setiap peran. Pilih prioritas Anda dan minta bantuan untuk yang lain. 

5. Suara Anda Penting Dunia membutuhkan perspektif unik Anda. Jangan bersembunyi di balik pekerjaan, karakter, atau ketakutan. Berdirilah dan bicaralah. 

6. Terima Pujiannya Ketika seseorang memuji Anda, jangan tolak. Cukup katakan terima kasih. Anda layak untuk diakui.

7. Hidup Sesuai Kebenaran Anda Masyarakat akan selalu punya ekspektasi. Tapi hanya Anda yang tahu apa yang benar untuk hidup Anda. Punya keberanian untuk hidup itu.


Undangan untuk Anda 

Shonda Rhimes mengakhiri bukunya dengan undangan sederhana namun kuat:

Apa Year of Yes Anda? 

Apa yang akan terjadi jika Anda menghabiskan satu tahun—atau bahkan satu bulan, satu minggu—mengatakan ya kepada hal-hal yang menakutkan Anda? 

Ya kepada kesehatan. Ya kepada petualangan. Ya kepada percakapan sulit. Ya kepada bermain. Ya kepada diri sendiri. 

Anda tidak perlu menjadi produser TV Hollywood untuk memulai Year of Yes Anda. Anda tidak perlu uang, koneksi, atau keberanian super manusia. 

Anda hanya perlu satu kata: Ya. 

Jadi di mana Anda akan memulai? Undangan apa yang Anda tolak karena takut? Percakapan apa yang Anda hindari? Impian apa yang Anda tunda? 

Katakan ya. Lihat apa yang terjadi. 

Karena seperti yang Shonda tulis: "Kalau Anda terus mengatakan tidak, hidup Anda menjadi sangat kecil. Jika Anda mengatakan ya, kehidupan Anda menjadi luar biasa."


Tentang Buku dan Penulis 

Year of Yes: How to Dance It Out, Stand in the Sun and Be Your Own Person diterbitkan pada November 2015 dan segera menjadi bestseller New York Times. 

Shonda Rhimes adalah pencipta dan produser acara televisi paling berpengaruh di dunia, termasuk Grey's Anatomy (yang telah berlangsung selama 20+ season), Scandal, How to Get Away with Murder, Bridgerton, dan banyak lagi. Melalui perusahaan produksinya Shondaland, ia telah merevolusi televisi dengan menampilkan karakter wanita kuat dan beragam. 

Buku ini berbeda dari memoir selebriti biasa. Ini bukan tentang glamor Hollywood atau gosip industri. Ini adalah cerita jujur, mentah, dan sangat relatable tentang wanita yang belajar mencintai dirinya sendiri dan hidup dengan berani. 

Untuk pengalaman penuh humor, kejujuran brutal, dan kebijaksanaan Shonda yang unik, baca buku aslinya. Gaya penulisannya seperti percakapan dengan teman dekat—hangat, lucu, dan sangat jujur. 

Sekarang giliran Anda untuk memulai Year of Yes Anda. 

Katakan ya. Dance it out. Stand in the sun. Be your own person.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: Greenlights
Back to top

Similar books