Skip to main content

The Years

by Annie Ernaux · March 2026 · 13 min read

Foto-foto yang Berbicara

Table of contents

Foto-foto yang Berbicara 

Bayangkan Anda membuka album foto lama keluarga. 

Ada foto hitam putih seorang gadis kecil di tahun 1950-an, mengenakan dress dengan pita di rambut. Dia berdiri kaku di depan kamera, tidak tersenyum—seperti kebiasaan orang dulu ketika difoto. 

Lalu foto berwarna tahun 1970-an: perempuan muda dengan rok mini dan rambut panjang, tersenyum lebar di pesta dengan musik The Beatles di latar belakang. 

Kemudian foto tahun 1990-an: perempuan paruh baya dengan anak-anak remaja, di depan rumah pinggiran kota yang rapi. 

Dan terakhir, foto digital tahun 2000-an: wanita tua dengan rambut putih, memegang cucu, mata yang sudah melihat begitu banyak. 

Siapa perempuan-perempuan ini? 

Mereka adalah orang yang sama. Tapi juga bukan orang yang sama. 

Annie Ernaux, penulis Prancis pemenang Nobel Sastra 2022, menghabiskan bertahun-tahun menatap foto-foto seperti ini—foto-foto dirinya sendiri yang diambil sepanjang lebih dari enam dekade. 

Dan dia mengajukan pertanyaan yang mengganggu: "Bagaimana saya bisa menangkap semua perempuan yang pernah saya jadi?" 

Jawabannya adalah "The Years"—sebuah buku yang mengubah cara kita memahami memoir, memori, dan waktu itu sendiri. 

Ini bukan cerita tentang "saya." Ini adalah cerita tentang "kita." 

Karena Ernaux menyadari: kita tidak pernah hidup sendirian. Kita adalah produk dari waktu kita. Dari iklan yang kita lihat. Dari berita yang kita dengar. Dari lagu yang kita nyanyikan. Dari peristiwa yang kita saksikan di televisi.

Kehidupan pribadi kita adalah cermin dari sejarah kolektif. 

Mari kita mulai perjalanan melintasi waktu—bukan hanya waktu Annie Ernaux, tetapi waktu kita semua.


Bagian 1: Menulis dengan "Kami"—Revolusi Naratif

Menolak "Saya" 

Hal pertama yang mengejutkan dari "The Years" adalah pilihan naratif yang radikal: Ernaux menulis tentang dirinya sendiri tanpa pernah menggunakan kata "saya." 

Sebagai gantinya, dia menggunakan "kami" (we) dan "dia" (she). 

Mengapa? 

Karena Ernaux menyadari bahwa ketika kita mengingat masa lalu, kita tidak benar-benar mengingat "diri kita" secara individual. Kita mengingat diri kita sebagai bagian dari kelompok: 

"Kami yang lahir sebelum perang." "Kami yang remaja di tahun 60-an." "Kami yang menyaksikan jatuhnya Tembok Berlin di televisi." 

Memori bukan milik pribadi—memori adalah kolektif. 

Foto sebagai Pintu Gerbang Waktu 

Ernaux memulai setiap periode dengan foto. Tapi dia tidak menjelaskan foto itu dengan detail pribadi yang intim. Sebaliknya, dia mendeskripsikan apa yang terlihat—pakaian, latar belakang, ekspresi—dan membiarkan foto itu berbicara tentang eranya. 

Sebuah foto tahun 1950-an tidak hanya menunjukkan seorang gadis. Foto itu menunjukkan: 

  • Dress yang dibuat sendiri karena pakaian masih langka setelah perang
  • Rambut yang ditata rapi karena penampilan adalah segalanya
  • Ekspresi serius karena tersenyum di foto dianggap tidak sopan

Setiap foto adalah dokumen sosial, bukan hanya dokumen pribadi.


Bagian 2: Tahun-Tahun Awal—Dunia Sebelum Kita Lahir

Mewarisi Trauma Perang 

Ernaux lahir tahun 1940, tepat ketika Prancis jatuh ke tangan Nazi. Dia tidak ingat perang—dia terlalu kecil. Tapi perang membentuknya. 

Orang tuanya, seperti jutaan orang Prancis, hidup dengan trauma pendudukan. Mereka bicara tentang kelaparan, tentang ketakutan, tentang keputusan sulit yang harus dibuat untuk bertahan hidup. 

Dan meskipun Ernaux tidak mengalaminya langsung, trauma itu menjadi bagian dari siapa dia. 

Dia menulis: "Kami adalah anak-anak dari orang yang selamat dari perang. Kami dibesarkan dengan cerita tentang roti yang langka dan hari-hari tanpa listrik. Kami tidak pernah boleh membuang makanan." 

Inilah yang Ernaux ungkap: Kita tidak hanya produk dari pengalaman kita sendiri, tetapi juga dari pengalaman generasi sebelum kita. 

Dunia yang Kaku dan Hierarkis 

Tahun 1950-an di Prancis—dan di sebagian besar Eropa—adalah dunia dengan aturan yang sangat ketat: 

  • Perempuan harus patuh kepada ayah, lalu suami
  • Kelas sosial menentukan segalanya—dari cara bicara hingga apa yang boleh dimakan
  • Katolik mendominasi moral publik—perceraian adalah skandal, aborsi adalah kejahatan
  • Anak-anak harus "dilihat tapi tidak didengar"

Ernaux tumbuh di keluarga kelas pekerja yang menjalankan toko kelontong kecil. Dia melihat bagaimana ibunya—cerdas dan berbakat—terkurung dalam peran sebagai istri dan ibu. 

Generasi ibunya tidak punya pilihan. Tapi generasi Ernaux akan memilikinya.


Bagian 3: Tahun 60-an—Revolusi yang Mengubah Segalanya 

Ledakan Kebebasan 

Jika tahun 50-an adalah tentang keteraturan, tahun 60-an adalah tentang chaos yang membebaskan. 

Semuanya berubah sekaligus: 

  • Pil kontrasepsi memberi perempuan kontrol atas tubuh mereka sendiri untuk pertama kalinya dalam sejarah
  • Rock 'n' roll dari Amerika mengguncang budaya—The Beatles, Rolling Stones, musik yang membuat orang tua ngeri
  • Televisi membawa dunia ke ruang tamu—Vietnam War, pendaratan di bulan, protes mahasiswa
  • Mode berubah: rok mini, celana jeans, rambut panjang untuk pria—semua yang dulu dianggap skandal

Ernaux adalah mahasiswa di periode ini. Dan seperti jutaan pemuda Eropa, dia merasakan kemungkinan untuk pertama kalinya. 

Mei 1968—Titik Balik 

Mei 1968 di Paris adalah momen yang mendefinisikan seluruh generasi. Mahasiswa menduduki Sorbonne. Pekerja mogok. Jalanan penuh dengan barikade. 

Mereka meneriakkan slogan yang akan menggema puluhan tahun: "Dilarang melarang!" "Jadilah realistis, tuntut yang mustahil!" "Imajinasi ke kekuasaan!" 

Bukan hanya tentang politik—ini tentang menolak seluruh cara hidup lama. Menolak otoritas orang tua. Menolak moral Katolik yang kaku. Menolak peran gender tradisional. 

Ernaux menulis: "Kami merasa segala sesuatu mungkin. Kami akan mengubah dunia. Kami akan menciptakan masyarakat baru di mana semua orang bebas." 

Tentu saja, revolusi tidak lengkap seperti yang mereka bayangkan. Tapi sesuatu yang fundamental telah berubah, dan tidak akan pernah kembali.


Bagian 4: Tubuh Perempuan sebagai Jam Waktu

Menstruasi Pertama hingga Menopause 

Salah satu aspek paling powerful dari "The Years" adalah bagaimana Ernaux menggunakan perubahan tubuh perempuan sebagai penanda waktu. 

Menstruasi pertama di tahun 50-an—sesuatu yang memalukan, tidak boleh dibicarakan. Ibunya memberinya kain untuk digunakan, tidak ada penjelasan, hanya: "Sekarang kamu harus hati-hati dengan laki-laki." 

Kehamilan di tahun 60-an awal—sebelum aborsi legal. Dia menulis dengan brutal jujur tentang aborsi ilegal yang hampir membunuhnya. Tentang rasa sakit fisik dan emosional. Tentang rasa malu yang dipaksakan masyarakat. 

Melahirkan—transformasi dari "perempuan" menjadi "ibu." Identitas baru yang mengubah segalanya. 

Menopause di tahun 90-an—menjadi "tidak terlihat" dalam masyarakat yang terobsesi dengan pemuda. 

Setiap perubahan tubuh bukan hanya personal—ia juga sosial, politis, historis.

Seksualitas dan Kebebasan 

Ernaux menulis dengan jujur yang jarang tentang seksualitas—bukan dengan cara yang vulgar atau sensasional, tetapi sebagai bagian fundamental dari pengalaman manusia. 

Dia menulis tentang: 

  • Keinginan pertama yang membingungkan di masa remaja
  • Kebebasan seksual tahun 60-70an yang membebaskan tapi juga membingungkan
  • Perselingkuhan—bukan untuk skandal, tetapi untuk memahami mengapa orang melakukannya
  • Penuaan dan bagaimana masyarakat membuat perempuan tua merasa tidak berharga

Yang powerful adalah dia tidak pernah menulis "saya melakukan ini." Dia menulis "banyak dari kami melakukan ini"—mengakui bahwa pengalaman yang kita pikir sangat pribadi sebenarnya dibagikan oleh jutaan orang lain.


Bagian 5: Konsumerisme—Kita Adalah Apa yang Kita Beli 

Dari Kelangkaan ke Kelimpahan 

Salah satu transformasi paling dramatis yang dicatat Ernaux adalah perubahan dari dunia kelangkaan (tahun 50-an) ke dunia kelimpahan (tahun 80-an-2000-an). 

Tahun 50-an: Satu televisi untuk seluruh lingkungan. Orang berkumpul di rumah tetangga yang punya TV. 

Tahun 70-an: Setiap keluarga punya televisi. Mulai ada televisi warna. 

Tahun 90-an: Televisi di setiap kamar. Ratusan channel. 

Tahun 2000-an: Internet. Informasi tak terbatas. Semua orang terhubung tapi juga terisolasi.

Iklan Membentuk Kita 

Ernaux memperhatikan sesuatu yang kebanyakan orang tidak sadari: iklan membentuk siapa kita. 

Dia mencatat slogan iklan dari setiap era: 

  • "Persil mencuci lebih putih!" (tahun 60-an)
  • "Karena Anda layak mendapatkannya" (L'Oréal, tahun 70-an)
  • "Just Do It" (Nike, tahun 90-an)

Ini bukan sekadar iklan—ini adalah instruksi tentang bagaimana hidup, tentang apa yang penting, tentang siapa yang kita "seharusnya" jadi. 

Kita pikir kita punya pilihan bebas. Tapi pilihan kita sudah dibentuk oleh pesan-pesan yang kita serap sejak kecil. 

Supermarket dan Kebebasan Palsu 

Ernaux menulis tentang pengalaman pertama kali di supermarket besar tahun 70-an—rak-rak tak berujung dengan ribuan produk. 

Ini terasa seperti kebebasan. Pilihan tak terbatas! 

Tapi dia menyadari: kelimpahan pilihan bukan berarti kebebasan sejati. Semua yogurt pada dasarnya sama, diproduksi oleh tiga perusahaan besar yang sama. Kita memilih antara ilusi-ilusi yang sudah ditentukan.


Bagian 6: Peristiwa Besar yang Membentuk Kita

Dari Perang Dingin hingga 9/11 

Ernaux melacak bagaimana peristiwa global membentuk kehidupan sehari-hari: 

Tahun 60-an: Ketakutan akan perang nuklir Anak-anak latihan berlindung di bawah meja—seolah meja bisa melindungi dari bom atom. Tidur dengan mimpi buruk tentang jamur nuklir. 

Tahun 80-an: Jatuhnya Tembok Berlin Menonton di televisi—orang-orang memukul tembok dengan palu. Perang Dingin berakhir. "Kami pikir ini adalah akhir dari sejarah. Kami salah." 

Tahun 2001: 9/11 Menara kembar runtuh. Menonton berulang-ulang di televisi. Dunia tiba-tiba terasa tidak aman dengan cara yang baru. 

Setiap peristiwa ini bukan hanya "berita"—mereka mengubah cara kita melihat dunia, mengubah apa yang kita takuti, mengubah apa yang kita percayai mungkin. 

Media yang Memediasi Realitas 

Ernaux mencatat sesuatu yang mendalam: Kita tidak mengalami sejarah secara langsung—kita mengalaminya melalui media. 

Perang Vietnam bukan dialami langsung, tetapi melalui gambar di televisi. Jatuhnya Tembok Berlin ditonton dari ruang tamu. 9/11 dilihat di layar, diputar berulang-ulang sampai menjadi hampir tidak nyata. 

Memori kita tentang peristiwa besar sebenarnya adalah memori tentang bagaimana kita menontonnya.


Bagian 7: Penuaan—Kehilangan dan Transformasi

"Dia" yang Menua 

Di bagian akhir buku, Ernaux menulis tentang penuaan dengan kejujuran yang menyakitkan.

Dia menulis tentang: 

  • Melihat diri sendiri di cermin dan tidak mengenali perempuan tua yang menatap balik
  • Menjadi tidak terlihat—pelayan yang dulu flirty sekarang bahkan tidak melihatnya
  • Kehilangan orang tua, teman, orang-orang sezaman
  • Menyadari bahwa dunia milik generasi muda sekarang

Tapi yang paling menyakitkan: Kehilangan semua versi diri yang pernah dia jadi. 

Gadis kecil tahun 50-an—hilang. Pemudi revolusioner tahun 60-an—hilang. Ibu muda tahun 70-an—hilang. 

Semua versi itu ada di foto. Tapi perempuan-perempuan itu tidak ada lagi.

Foto sebagai Bukti Keberadaan 

Ini mengapa foto begitu penting dalam buku ini. Foto adalah satu-satunya bukti bahwa versi-versi lama dari diri kita pernah ada. 

Ernaux menulis: "Tanpa foto, kami tidak akan percaya bahwa kami pernah menjadi orang-orang itu. Kami tidak ingat seperti apa rasanya berada dalam tubuh itu, memiliki wajah itu." 

Foto adalah jembatan antara semua "kami" yang berbeda yang pernah ada.


Bagian 8: Apa yang Hilang, Apa yang Bertahan

Nostalgia yang Kompleks 

Ernaux tidak jatuh ke dalam nostalgia sentimentil. Dia tidak mengatakan "masa lalu lebih baik."

Beberapa hal yang hilang bagus hilang: 

  • Moralitas kaku yang menghukum perempuan
  • Ketidakadilan yang eksplisit berdasarkan kelas dan gender
  • Kurangnya pilihan untuk perempuan

Tapi beberapa hal yang hilang juga berharga: 

  • Kehidupan komunal yang lebih kuat—orang lebih mengenal tetangga mereka
  • Kecepatan hidup yang lebih lambat
  • Kemampuan untuk bosan—sebelum ada smartphone untuk mengisi setiap detik

Apa yang Tetap? 

Di tengah semua perubahan, apa yang tetap? 

Kebutuhan dasar manusia: 

  • Kebutuhan untuk dicintai
  • Ketakutan akan kematian
  • Keinginan untuk diingat
  • Harapan bahwa hidup kita berarti sesuatu

Teknologi berubah. Mode berubah. Politik berubah. 

Tapi inti dari pengalaman manusia tetap sama.


Penutup: Kita Semua Hidup di "The Years" 

Menulis Memori Kolektif 

Apa yang membuat "The Years" begitu powerful adalah pengakuan bahwa tidak ada yang hidup sendirian. 

Kita pikir kehidupan kita unik. Dan memang unik—tapi juga tidak. 

Gadis yang menstruasi pertama kali dengan rasa malu di tahun 50-an? Ada jutaan gadis lain dengan pengalaman yang sama. 

Pemuda yang merasa dunia terbuka lebar di tahun 60-an? Ada seluruh generasi yang merasakan hal yang sama. 

Orang tua yang merasa dunia digital membingungkan? Ada miliaran orang yang merasakan hal yang sama hari ini. 

Kehidupan pribadi kita adalah bagian dari pola yang lebih besar. 

Pelajaran untuk Kita 

1. Kita adalah produk dari waktu kita 

Nilai-nilai yang kita anggap "pribadi" sebenarnya sangat dibentuk oleh era tempat kita tumbuh. Generasi yang berbeda benar-benar hidup di dunia yang berbeda—bukan hanya secara teknologi, tetapi secara moral dan emosional. 

2. Memori adalah konstruksi sosial 

Cara kita mengingat masa lalu dibentuk oleh media yang kita konsumsi, cerita yang kita dengar, foto yang kita lihat. Tidak ada memori "murni" yang tidak terkontaminasi oleh pengaruh luar. 

3. Dokumentasi itu penting 

Tanpa foto, tanpa catatan, tanpa cerita—masa lalu hilang. Ernaux menulis "The Years" karena dia menyadari: jika dia tidak menulis, semua versi dirinya yang pernah ada akan hilang selamanya. 

4. Penuaan adalah kehilangan 

Tapi juga akumulasi. Setiap versi kita yang lama hilang—tapi kita mengakumulasi pengalaman, kebijaksanaan, perspektif. 

5. Kita lebih terhubung daripada yang kita kira

Pengalaman yang kita pikir sangat pribadi—jatuh cinta pertama kali, kehilangan orang tua, merasa tidak relevan saat tua—dibagikan oleh jutaan, miliaran orang lain. 

Kita tidak sendirian. 

Pertanyaan untuk Anda 

Annie Ernaux menulis "The Years" untuk menangkap semua versi dirinya yang pernah ada sebelum mereka hilang selamanya. 

Sekarang pertanyaan untuk Anda: 

  • Versi Anda yang mana yang sudah hilang? Siapa Anda sepuluh tahun lalu? Dua puluh tahun lalu? Apakah Anda ingat seperti apa rasanya berada dalam tubuh itu, dengan impian itu?
  • Bagaimana era Anda membentuk siapa Anda? Jika Anda lahir di dekade berbeda, apakah Anda akan menjadi orang yang sama?
  • Apa yang akan hilang ketika Anda pergi? Cerita apa yang hanya Anda yang tahu? Versi dunia apa yang akan hilang?
  • Apa yang layak didokumentasikan? Tidak semua orang akan menulis buku. Tapi kita semua bisa menulis. Kita semua bisa merekam. Kita semua bisa memastikan bahwa setidaknya sebagian dari kita bertahan.

Pesan Terakhir 

Ernaux menutup "The Years" dengan menyadari bahwa menulis buku ini adalah upaya untuk mengalahkan waktu—untuk menangkap apa yang akan hilang, untuk membuat permanen apa yang sementara. 

Tapi dia juga menyadari: upaya itu akan gagal. Waktu akan menang. Semua versi kita akan hilang. Semua foto akan pudar. Semua memori akan lenyap. 

Tapi untuk sesaat, dalam kata-kata yang dia tulis, semua versi dirinya hidup lagi.

Dan itu sudah cukup. 

Karena seperti yang dia tulis di halaman terakhir: 

"Menyelamatkan sesuatu dari waktu di mana kami tidak akan pernah ada lagi." 

Itulah satu-satunya kemenangan yang mungkin melawan waktu. Dan itu bukan kemenangan kecil.


Tentang Buku Asli 

"The Years" (Les Années) pertama kali diterbitkan dalam bahasa Prancis pada 2008 dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Alison Strayer pada 2017. 

Annie Ernaux lahir tahun 1940 di Normandy, Prancis. Dia dibesarkan dalam keluarga kelas pekerja dan menjadi profesor sastra. Dia telah menulis lebih dari 20 buku, sebagian besar autobiografi yang dia sebut "auto-sociobiographie"—menggunakan pengalaman pribadi untuk mengeksplorasi isu sosial yang lebih besar. 

Pada 2022, Ernaux memenangkan Nobel Prize in Literature "untuk keberanian dan ketajaman klinis dengan mana dia mengungkap akar, keterasingan, dan batasan kolektif dari memori pribadi." 

"The Years" dianggap sebagai karya masterpiece-nya—sebuah eksperimen naratif yang radikal yang mengubah cara kita berpikir tentang memoir, memori, dan hubungan antara kehidupan pribadi dan sejarah sosial. 

Untuk pemahaman lengkap tentang proyek ambisius Ernaux dan bagaimana dia menangkap enam dekade kehidupan dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya, sangat disarankan membaca buku aslinya. Gaya penulisannya yang unik—mengalir antara deskripsi foto, fragmen memori, headline berita, dan refleksi filosofis—tidak bisa sepenuhnya ditangkap dalam ringkasan. 

Buku ini bukan bacaan yang mudah—ia menuntut perhatian dan refleksi. Tapi bagi mereka yang bersedia berinvestasi, "The Years" menawarkan sesuatu yang jarang: cermin di mana kita bisa melihat tidak hanya Ernaux, tetapi juga diri kita sendiri dan waktu kita. 

Sekarang pergilah dan dokumentasikan kehidupan Anda—dalam bentuk apa pun yang bermakna bagi Anda. 

Karena suatu hari, semua versi Anda yang sekarang akan hilang. 

Dan satu-satunya cara untuk melawan kehilangan itu adalah dengan mengingat, menulis, merekam. 

Waktu akan menang pada akhirnya. 

Tapi kita tidak harus membiarkannya menang tanpa perlawanan.

 

That's the end — you've finished this summary.

Read next: The Light We Lost
Back to top

Similar books