Lompat ke konten utama

Business Adventures

oleh John Brooks · Desember 2025 · 15 menit baca

Buku Bisnis Terbaik yang Pernah Ada

Daftar isi

Buku Bisnis Terbaik yang Pernah Ada 

Tahun 1991. Warren Buffett, investor legendaris dengan kekayaan miliaran dolar, bertemu dengan Bill Gates, pendiri Microsoft yang masih muda. Mereka berbincang tentang banyak hal, termasuk buku. 

"Apa buku bisnis terbaik yang pernah kamu baca?" tanya Gates. 

Tanpa ragu, Buffett menjawab: "Business Adventures, karya John Brooks." 

Buffett bahkan meminjamkan copy-nya yang usang kepada Gates. Dan setelah membacanya, Gates setuju sepenuhnya: "Lebih dari dua dekade sejak Warren meminjamkannya—dan lebih dari empat dekade sejak pertama kali diterbitkan—Business Adventures tetap menjadi buku bisnis terbaik yang pernah saya baca." 

Apa yang membuat buku yang ditulis pada 1969 ini begitu abadi? 

Jawabannya sederhana namun profound: Teknologi berubah. Industri berubah. Tetapi sifat dasar manusia tidak berubah. 

Business Adventures adalah kumpulan 12 cerita tentang kejadian bisnis penting di Amerika pada 1950-1960an. Ditulis oleh John Brooks, kontributor lama The New Yorker, setiap cerita membawa kita ke momen dramatis di dunia korporat—dari crash pasar saham hingga skandal insider trading, dari kegagalan produk spektakuler hingga kesuksesan yang mengejutkan. 

Yang membuat cerita-cerita ini tetap relevan adalah insight Brooks tentang sifat manusia: keserakahan, ketakutan, arogansi, inovasi, dan keberanian yang mendorong keputusan bisnis. 

Inilah pelajaran abadi dari Business Adventures—cerita tentang bagaimana manusia, dengan semua kelebihan dan kekurangannya, membentuk dunia bisnis yang kita kenal hari ini.


Bagian 1: Ketika Emosi Mengalahkan Logika

Crash 1962: Kepanikan yang Tidak Masuk Akal 

28 Mei 1962. Senin pagi yang cerah di Wall Street. 

Dalam hitungan jam, pasar saham AS mengalami penurunan tajam yang mengingatkan pada crash 1929—hari Kamis Hitam yang memicu Great Depression. 

Investor panik. Mereka menjual saham dengan harga berapa pun. Telepon berdering tanpa henti. Ticker tape—mesin yang merekam setiap transaksi—tidak bisa mengikuti volume perdagangan yang luar biasa tinggi. Keterlambatan informasi ini membuat kepanikan semakin parah. 

Yang aneh: ekonomi Amerika sebenarnya dalam kondisi sehat. Tidak ada krisis mendasar. Tidak ada perang. Tidak ada bencana ekonomi. 

Lalu mengapa crash terjadi? 

Brooks mengidentifikasi beberapa faktor, tetapi yang paling penting adalah psikologi massa. Ketakutan menyebar seperti virus. Ketika orang melihat orang lain menjual, mereka ikut menjual—bukan karena analisis rasional, tetapi karena panik murni. 

Pada akhir hari, triliunan dolar nilai saham menguap. Banyak investor kehilangan tabungan seumur hidup. 

Tapi cerita tidak berakhir di situ. 

Pada hari-hari berikutnya, ketika kepanikan mereda dan logika kembali, pasar mulai pulih. Dalam beberapa minggu, sebagian besar kerugian sudah terpulihkan. 

Pelajaran pertama: Pasar saham bukanlah mesin logis yang sempurna. Pasar adalah kumpulan manusia dengan emosi. Dan emosi—khususnya ketakutan dan keserakahan—sering mengalahkan logika. 

J.P. Morgan Sr., ketika ditanya apa yang akan dilakukan pasar, menjawab dengan kering: "Itu akan berfluktuasi." 

Sederhana. Tapi sangat benar. 

Clarence Saunders dan Piggly Wiggly: Ego yang Membahayakan 

Clarence Saunders adalah inovator sejati. Pada 1916, ia membuka Piggly Wiggly—supermarket self-service pertama di dunia. Sebelum Piggly Wiggly, pelanggan harus meminta setiap item kepada pegawai toko. Saunders mengubah segalanya: pelanggan bisa mengambil barang sendiri, menaruhnya di keranjang, dan membayar di kasir.

Ini adalah revolusi ritel. Piggly Wiggly menyebar ke seluruh Amerika. 

Tapi Saunders punya ego yang besar. Sangat besar. 

Ketika spekulan Wall Street mencoba untuk "menyerang" saham Piggly Wiggly—mencoba menurunkan harga dengan short selling—Saunders mengambil tindakan dramatis dan emosional. 

Ia memutuskan untuk "corner" sahamnya sendiri—membeli hampir semua saham yang beredar sehingga ia bisa mengontrol harga. Tujuannya: memaksa short sellers membayar harga yang sangat tinggi ketika mereka harus menutup posisi mereka. 

Strategi ini bukan didasarkan pada analisis bisnis yang cermat. Ini adalah reaksi emosional terhadap penghinaan yang dirasakan. Ini adalah ego melawan Wall Street. 

Pada awalnya, rencana Saunders tampak berhasil. Harga saham meroket. Short sellers panik. 

Tapi New York Stock Exchange mengubah aturan untuk melindungi short sellers. Dan Saunders kehabisan uang untuk terus membeli saham. 

Akhirnya, Saunders bangkrut. Ia kehilangan Piggly Wiggly. Ia kehilangan segalanya. 

Pelajaran kedua: Keputusan bisnis yang didorong oleh emosi—arogansi, ego, dendam—jarang berakhir baik. Pasar tidak peduli pada perasaan Anda. Pasar hanya peduli pada fakta.


Bagian 2: Arogansi dan Kegagalan Spektakuler

Edsel: Mobil Terburuk dalam Sejarah 

1957. Ford Motor Company meluncurkan Edsel—mobil yang mereka yakini akan merevolusi industri otomotif. 

Ford menginvestasikan 350 juta dolar (setara dengan miliaran dolar hari ini) dalam pengembangan, produksi, dan marketing Edsel. Ini adalah peluncuran mobil paling ambisius dalam sejarah. 

Mereka melakukan riset pasar ekstensif. Mereka menggunakan psikolog untuk memahami apa yang pelanggan inginkan. Mereka menciptakan departemen khusus hanya untuk Edsel. 

Dan hasilnya? Kegagalan total yang memalukan. 

Edsel menjadi simbol kegagalan produk. Nama "Edsel" menjadi sinonim dengan bencana bisnis. 

Apa yang salah? 

Pertama, timing yang buruk. Ketika perencanaan dimulai pada 1955, ekonomi Amerika booming dan konsumen menginginkan mobil besar dan mewah. Tapi pada 1957 ketika Edsel diluncurkan, resesi sedang melanda dan konsumen beralih ke mobil yang lebih kecil dan ekonomis. 

Kedua, mobil itu biasa-biasa saja. Meskipun diiklankan sebagai revolusioner, Edsel sebenarnya tidak jauh berbeda dari mobil Ford lainnya. Desainnya—terutama grill depan yang aneh—dikritik habis-habisan. Beberapa orang bilang itu terlihat seperti "toilet seat." 

Ketiga, dan ini yang paling krusial: arogansi. Executive Ford begitu yakin dengan riset dan strategi mereka sehingga mereka tidak mendengarkan warning signals. Mereka percaya mereka bisa "menciptakan" demand hanya dengan iklan yang cukup. 

Mereka salah. 

Dalam tiga tahun, Edsel dihentikan. Ford kehilangan ratusan juta dolar. Lebih penting lagi, mereka kehilangan kredibilitas. 

Pelajaran ketiga: Riset pasar dan strategi yang sempurna tidak ada gunanya jika Anda tidak fleksibel terhadap perubahan kondisi. Ego besar membuat Anda buta terhadap realitas.


Bagian 3: Inovasi dan Kesuksesan—Lalu Kompromise

Xerox: Dari Revolusi ke Stagnasi 

Awal 1950an. Sebuah perusahaan kecil bernama Haloid Company berjuang untuk survive. Mereka membuat kertas fotografi, bisnis yang tidak menguntungkan dan penuh kompetitor. 

Tapi CEO mereka, Joseph Wilson, memiliki visi berani: mengembangkan mesin fotokopi otomatis pertama di dunia menggunakan teknologi xerografi. 

Semua orang bilang dia gila. Teknologi xerografi belum terbukti. Biaya pengembangannya akan sangat besar. Dan pasar untuk mesin fotokopi—apakah pasar itu bahkan ada? 

Wilson tidak peduli. Ia percaya pada visi ini. 

Haloid menginvestasikan semua yang mereka punya—75 juta dolar dan bertahun-tahun R&D—untuk mengembangkan Xerox 914, mesin fotokopi otomatis pertama. 

1959. Xerox 914 diluncurkan. 

Sukses luar biasa. 

Dalam beberapa tahun, Xerox mendominasi industri fotokopi. Perusahaan yang hampir bangkrut berubah menjadi raksasa bernilai miliaran dolar. Nama "Xerox" menjadi sinonim dengan fotokopi—orang bilang "xerox ini" seperti kita bilang "google ini." 

Xerox juga dikenal karena tanggung jawab sosial mereka. Mereka mendonasikan jutaan dolar untuk pendidikan dan seni. Mereka memperlakukan karyawan dengan baik. Mereka adalah contoh "good corporate citizen." 

Tapi kemudian sesuatu berubah. 

Setelah sukses dengan 914, Xerox menjadi complacent. Mereka berhenti berinovasi agresif. Mereka mulai fokus pada melindungi monopoli mereka daripada menciptakan produk baru yang lebih baik. 

Kompetitor mulai muncul—perusahaan Jepang seperti Canon dan Ricoh yang membuat mesin fotokopi lebih murah dan lebih baik. 

Xerox kehilangan market share. Perusahaan yang pernah identik dengan inovasi menjadi lambat dan birokratis. 

Pelajaran keempat: Kesuksesan bisa membuat Anda lengah. Kompanien yang berhenti berinovasi akan mati perlahan. Monopoli tidak pernah permanen—ada selalu seseorang yang lebih lapar dan lebih inovatif yang datang untuk mengambil alih.


Bagian 4: Ketika Integritas Hilang 

Skandal General Electric: Budaya "Winking" 

1959. Departemen Kehakiman AS menangkap 45 executive dari perusahaan elektronik terkemuka—termasuk General Electric dan Westinghouse—atas tuduhan price-fixing. 

Price-fixing adalah praktik di mana kompetitor berkolusi untuk menetapkan harga alih-alih bersaing. Ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap Sherman Antitrust Act dan merupakan kejahatan federal. 

Yang mengejutkan bukan bahwa price-fixing terjadi—itu sayangnya cukup umum. Yang mengejutkan adalah siapa yang terlibat dan bagaimana mereka melakukannya. 

Ini bukan beberapa executive nakal yang bertindak sendiri. Ini adalah praktik sistematis yang melibatkan ratusan orang di berbagai level organisasi. 

Lebih mengejutkan lagi: banyak executive yang terlibat adalah orang-orang yang terhormat—Ivy League graduates, anggota gereja, ayah keluarga yang baik. Bukan kriminal karir. 

Bagaimana ini bisa terjadi? 

Brooks mengidentifikasi budaya perusahaan yang memungkinkan ini: budaya "winking" (mengedipkan mata). 

Di GE, ada aturan tertulis yang jelas melarang price-fixing. Tetapi ada juga budaya tidak tertulis di mana manajer senior memberikan instruksi tersirat: "Penuhi target penjualan ini. Saya tidak peduli bagaimana caranya. Dan jangan beritahu saya detailnya." 

Ini adalah plausible deniability yang disengaja. Senior executives bisa bilang mereka tidak tahu apa-apa sambil secara implisit mendorong perilaku ilegal. 

Ketika skandal terungkap, beberapa executive diberi hukuman penjara—sesuatu yang sangat jarang untuk white collar crime pada era itu. GE didenda jutaan dolar. 

Tapi kerusakan terbesar adalah pada reputasi. GE, yang bangga dengan slogan "Progress Is Our Most Important Product," sekarang diasosiasikan dengan korupsi. 

Pelajaran kelima: Budaya perusahaan lebih kuat dari aturan tertulis. Jika leadership menciptakan lingkungan di mana "hasil mengalahkan etika," orang akan merasionalisasi perilaku buruk. Integritas harus datang dari top, bukan hanya di poster di dinding.

Texas Gulf Sulphur: Insider Trading Sebelum Itu Ilegal 

1963. Geolog Texas Gulf Sulphur Company menemukan deposit mineral masif di Ontario, Kanada—salah satu penemuan terbesar dalam dekade. 

Informasi ini sangat sensitif. Jika bocor sebelum perusahaan mengamankan hak mineral, kompetitor bisa masuk. 

Jadi perusahaan merahasiakannya. Bahkan kepada shareholders. 

Tapi beberapa executives dan employees yang tahu tentang penemuan ini melakukan sesuatu: mereka membeli saham TGS untuk diri mereka sendiri, keluarga, dan teman. 

Ketika penemuan akhirnya diumumkan secara publik, harga saham meroket. Orang-orang yang membeli saham sebelumnya mendapat keuntungan besar. 

Ini adalah insider trading klasik—menggunakan informasi non-publik untuk keuntungan pribadi. 

Masalahnya: pada 1963, insider trading belum jelas-jelas ilegal. Aturan tentang ini masih abu-abu. 

SEC (Securities and Exchange Commission) menyelidiki dan akhirnya menuntut TGS executives. Kasus ini menjadi preseden penting dalam mendefinisikan apa itu insider trading dan mengapa itu tidak etis. 

Court memutuskan bahwa siapa pun yang memiliki informasi material non-publik memiliki duty untuk mengungkapkannya atau abstain dari trading. 

Pelajaran keenam: Hukum mungkin abu-abu, tetapi etika harus jelas. Hanya karena sesuatu tidak secara eksplisit ilegal tidak berarti itu benar. Trust adalah fondasi pasar. Insider trading menghancurkan trust itu.


Bagian 5: Tanggung Jawab dan Kebaikan 

Menyelamatkan British Pound: Ketika Bisnis Bertindak untuk Kebaikan Bersama 

November 1964. British pound dalam krisis. 

Spekulan internasional menyerang pound, bertaruh bahwa Inggris akan dipaksa untuk devaluasi mata uangnya. Jika pound jatuh, itu bisa memicu krisis keuangan global—efek domino yang menghancurkan ekonomi dunia. 

Federal Reserve AS dan bank sentral lain mencoba membantu, tetapi mereka tidak punya cukup resources untuk melawan spekulan sendirian. 

Jadi mereka meminta bantuan sektor swasta—bank-bank besar New York. 

Ini adalah keputusan luar biasa. Bank-bank ini adalah kompetitor. Mereka tidak punya kewajiban hukum untuk membantu. Dan membantu berarti mempertaruhkan jutaan dolar mereka sendiri tanpa jaminan profit. 

Tapi para banker berkumpul. Mereka melihat ini bukan sebagai masalah Inggris, tetapi sebagai ancaman terhadap sistem keuangan global yang mereka semua bergantung padanya. 

Dalam operasi yang sangat terkoordinasi—berlangsung terutama di weekend Thanksgiving—bank-bank Amerika mengumpulkan 3 miliar dolar untuk mendukung pound. 

Itu berhasil. Spekulan mundur. Pound distabilkan. Krisis dihindari. 

Tidak ada pahlawan individual. Tidak ada yang mencari publicity. Mereka hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk kebaikan bersama. 

Pelajaran ketujuh: Bisnis tidak hanya tentang profit. Terkadang, bertindak untuk kebaikan yang lebih besar—bahkan jika itu berarti risiko finansial—adalah hal yang benar. Dan dalam jangka panjang, sistem yang stabil menguntungkan semua orang. 

David Lilienthal: Dari Public Service ke Private Success 

David Lilienthal adalah contoh menarik tentang bagaimana seseorang bisa sukses di kedua sektor—publik dan swasta—tanpa mengorbankan prinsip. 

Lilienthal pertama terkenal sebagai chairman Tennessee Valley Authority (TVA)—salah satu proyek New Deal paling sukses yang membawa listrik ke jutaan orang miskin di Amerika Selatan.

Kemudian ia menjadi chairman pertama Atomic Energy Commission, memainkan peran kunci dalam bagaimana Amerika mengelola kekuatan nuklir di era pasca-Perang Dunia II. 

Ia adalah public servant yang dihormati, dedicated pada kebaikan publik. 

Kemudian, pada 1950, Lilienthal meninggalkan pemerintahan dan masuk ke bisnis swasta. Ia mengambil alih Minerals and Chemical Corporation of America yang sekarat dan mengubahnya menjadi sukses, menghasilkan personal fortune dalam prosesnya. 

Banyak teman lamanya merasa dikhianati. Mereka menyebutnya "sellout"—seseorang yang meninggalkan idealisme untuk uang. 

Tapi Lilienthal tidak setuju. Ia berargumen bahwa big business adalah vital untuk ekonomi dan keamanan Amerika. Dan ia membuktikannya dengan mendirikan Development and Resources Corporation pada 1955—perusahaan yang membantu negara berkembang melakukan proyek infrastruktur besar. 

Lilienthal menunjukkan bahwa Anda bisa sukses secara finansial DAN peduli pada humanity. 

Pelajaran kedelapan: Profit dan purpose tidak harus bertentangan. Bisnis yang terbaik adalah yang menciptakan nilai—baik untuk shareholders maupun untuk society.


Bagian 6: Kekuasaan dan Partisipasi 

Stockholder Meetings: Suara yang Tidak Terdengar 

Setiap tahun, perusahaan publik diwajibkan mengadakan annual stockholder meeting—di mana pemegang saham bisa bertanya kepada management dan voting tentang keputusan penting. 

Dalam teori, ini adalah democracy in action. Shareholders memiliki perusahaan, jadi mereka seharusnya punya suara. 

Dalam praktek? Ini sering hanya pertunjukan. 

Brooks menghadiri beberapa stockholder meeting dan menggambarkan ritual yang sama: 

Management memberikan presentasi optimis tentang performance perusahaan. Mereka menunjukkan charts dan angka yang memukau. 

Kemudian sesi Q&A. Beberapa "gadfly shareholders"—individual investors yang selalu hadir dan selalu mengajukan pertanyaan kritis—mencoba menantang management. 

Management menjawab dengan diplomatik, tidak pernah benar-benar menjawab pertanyaan sulit. Mereka menggunakan jargon korporat untuk menghindar. 

Voting terjadi—tetapi hasilnya sudah ditentukan sebelumnya karena institutional investors (mutual funds, pension funds) yang memiliki mayoritas saham sudah memberikan proxy mereka kepada management. 

Individual shareholders—"the little guy"—tidak punya kekuatan nyata. 

Brooks menggambarkan satu stockholder wanita tua yang setiap tahun datang ke meeting dan mengajukan pertanyaan yang sama: "Mengapa dividend tidak lebih tinggi?" 

Setiap tahun, management memberikan jawaban diplomatic yang sama. Tidak pernah ada perubahan. Tapi wanita itu tetap datang, berharap suaranya akhirnya akan didengar. 

Pelajaran kesembilan: Corporate governance adalah challenge abadi. Bagaimana Anda memastikan bahwa management accountable kepada shareholders—terutama small shareholders yang tidak punya leverage? Tidak ada jawaban mudah. Tetapi transparency dan genuine engagement adalah langkah pertama.


Penutup: Pelajaran yang Bertahan Selamanya

Mengapa Business Adventures Tetap Relevan 

John Brooks menulis Business Adventures lebih dari 50 tahun lalu. Tidak ada smartphone. Tidak ada internet. Tidak ada cryptocurrency atau AI. 

Tapi setiap pelajaran dalam buku ini masih berlaku hari ini. Mengapa? 

Karena bisnis, pada intinya, adalah tentang manusia. Dan sifat dasar manusia tidak berubah. 

Kita masih driven oleh emosi—ketakutan dan keserakahan. Kita masih rentan terhadap arogansi ketika sukses. Kita masih tergoda untuk mengambil jalan pintas etika. Kita masih bisa complacent setelah mencapai puncak. Kita masih mampu kebaikan dan altruisme yang luar biasa. 

Sepuluh Pelajaran Utama 

Mari kita rangkum pelajaran abadi dari Business Adventures: 

1. Pasar adalah emosi, bukan logika Crash 1962 menunjukkan bahwa pasar saham tidak selalu rasional. Emotion drives behavior. Fear dan greed lebih kuat daripada spreadsheet. 

2. Ego adalah musuh kesuksesan Dari Clarence Saunders hingga Ford executives, arogansi membunuh lebih banyak bisnis daripada kompetisi. Stay humble. Listen to reality. 

3. Timing is everything Edsel mungkin sukses jika diluncurkan di waktu yang berbeda. Anda bisa punya produk bagus, strategi bagus, tetapi jika timing salah, semuanya bisa gagal. 

4. Inovasi adalah survival Xerox menang dengan inovasi radikal. Mereka mulai kalah ketika berhenti berinovasi. Tidak ada yang bisa hidup dari kesuksesan masa lalu. 

5. Budaya mengalahkan aturan Skandal GE menunjukkan bahwa policy tertulis tidak berguna jika budaya perusahaan mendorong perilaku yang berlawanan. Leadership harus walk the talk. 

6. Integritas adalah aset jangka panjang Kepercayaan butuh bertahun-tahun untuk dibangun, sedetik untuk hancur. Companies yang bermain dengan etika abu-abu akhirnya membayar harga tinggi. 

7. Sistem lebih besar dari individu Penyelamatan British pound menunjukkan bahwa kadang, acting untuk kebaikan yang lebih besar menguntungkan semua orang—termasuk Anda—dalam jangka panjang. 

8. Profit dan purpose bisa coexist David Lilienthal membuktikan Anda tidak harus memilih antara making money dan making a difference. Bisnis terbaik melakukan keduanya.

9. Democracy membutuhkan vigilance Stockholder meetings mengingatkan bahwa governance membutuhkan partisipasi aktif. Rights tanpa exercise of those rights adalah meaningless. 

10. Sejarah berulang Seperti yang Brooks tulis, "Sejarah benar-benar berulang sendiri." Nama berubah, teknologi berubah, tetapi pola manusia tetap sama. Pelajari sejarah untuk menghindari mengulangi kesalahan. 

Kata Akhir 

Business Adventures adalah pengingat bahwa tidak ada formula ajaib untuk sukses bisnis.

Setiap situasi unik. Setiap keputusan melibatkan trade-offs. 

Tapi ada prinsip-prinsip yang bertahan: 

  • Hormati pasar
  • Stay humble
  • Jaga integritas
  • Terus berinovasi
  • Peduli pada stakeholders, tidak hanya shareholders
  • Belajar dari sejarah

Yang paling penting: ingat bahwa Anda berurusan dengan manusia. Customers adalah manusia. Employees adalah manusia. Competitors adalah manusia. Investors adalah manusia. 

Dan manusia—dengan semua emosi, ambisi, ketakutan, dan harapan mereka—adalah variabel paling unpredictable namun paling penting dalam bisnis. 

Seperti yang J.P. Morgan katakan: pasar akan berfluktuasi. Bisnis akan naik turun. Tapi pelajaran tentang sifat manusia—pelajaran yang John Brooks dokumentasikan dengan begitu brillian—akan tetap relevan selama manusia masih menjalankan bisnis. 

Dan selama itu, Business Adventures akan tetap menjadi buku bisnis terbaik yang pernah ditulis.


Tentang Buku Asli 

Business Adventures: Twelve Classic Tales from the World of Wall Street pertama kali diterbitkan pada 1969. Buku ini adalah kumpulan esai yang sebelumnya diterbitkan di The New Yorker magazine. 

John Brooks (1920-1993) adalah jurnalis dan penulis yang dikenal karena tulisannya tentang Wall Street dan dunia korporat. Ia menulis dengan gaya naratif yang engaging, mengubah topik keuangan yang potentially membosankan menjadi cerita yang menarik dengan karakter yang kaya. 

Selain Business Adventures, Brooks menulis beberapa buku klasik lainnya termasuk "Once in Golconda" dan "The Go-Go Years." Ia juga menulis tiga novel dan review buku untuk Harper's Magazine dan New York Times Book Review. 

Buku ini sempat out of print selama bertahun-tahun sampai Bill Gates menyebut-nyebutnya sebagai buku bisnis favoritnya pada 2014. Setelah itu, Open Road Media menerbitkan ulang edisi e-book dan paperback, membuat Business Adventures accessible untuk generasi baru pembaca. 

12 cerita dalam buku (yang tidak semuanya tercakup dalam ringkasan ini): 

1. The Fluctuation - Crash pasar 1962 

2. The Fate of the Edsel - Kegagalan Ford Edsel 

3. The Federal Income Tax - Sejarah pajak pendapatan federal 

4. A Reasonable Amount of Time - Skandal insider trading Texas Gulf Sulphur 5. Xerox Xerox Xerox Xerox - Kebangkitan Xerox Corporation 

6. Making the Customers Whole - Skandal De Angelis salad oil 

7. The Impacted Philosophers - Price-fixing scandal di General Electric 8. The Last Great Corner - Clarence Saunders dan Piggly Wiggly 

9. A Second Sort of Life - David Lilienthal, businessman-public servant 

10. Stockholder Season - Annual meetings dan corporate power 

11. One Free Bite - Trade secrets dan hak pekerja 

12. [Mencakup penyelamatan British pound] 

Untuk pemahaman mendalam, sangat disarankan membaca buku aslinya. Gaya menulis Brooks yang vivid dan detailed membawa Anda ke dalam setiap cerita dengan cara yang ringkasan tidak bisa tangkap sepenuhnya. 

Sejarah adalah guru terbaik. Business Adventures adalah textbook-nya.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: The Essential Drucker
Kembali ke atas

Buku serupa