Lompat ke konten utama

The Chomsky-Foucault Debate

oleh John Rajchman · Desember 2025 · 14 menit baca

Malam yang Mengubah Filosofi

Daftar isi

Malam yang Mengubah Filosofi 

November 1971. Studio televisi di Belanda. 

Dua orang duduk berhadapan—keduanya brilian, keduanya revolusioner, keduanya berkomitmen pada perubahan sosial. Tapi cara mereka melihat dunia? Bertolak belakang total. 

Di sebelah kiri: Noam Chomsky, linguist Amerika berusia 42 tahun yang sudah mengubah pemahaman kita tentang bahasa dan pikiran manusia. Seorang aktivis anti-perang yang keras, percaya pada keadilan universal dan hak asasi manusia yang fundamental. 

Di sebelah kanan: Michel Foucault, filsuf Prancis berusia 45 tahun yang karya-karyanya tentang kekuasaan, pengetahuan, dan institusi sosial sedang mengguncang dunia akademis. Seorang pemikir radikal yang mempertanyakan semua asumsi, termasuk konsep "kebenaran" dan "keadilan" itu sendiri. 

Moderator mengajukan pertanyaan pembuka: "Apakah ada yang namanya sifat dasar manusia—human nature—yang bersifat universal dan tetap?" 

Pertanyaan sederhana. Tapi jawaban mereka akan membuka salah satu perdebatan intelektual paling tajam abad ke-20. 

Chomsky percaya human nature itu ada—dan pemahaman tentang itu adalah kunci untuk membangun masyarakat yang adil. 

Foucault percaya human nature adalah konstruksi—alat kekuasaan yang digunakan untuk mengontrol bagaimana kita berpikir tentang diri kita sendiri. 

Siapa yang benar? 

Pertanyaan ini bukan hanya soal filosofi abstrak. Ini tentang bagaimana kita memahami diri kita sendiri, bagaimana kita memperjuangkan keadilan, dan jenis masyarakat apa yang kita coba bangun.

Mari kita masuki ruangan itu. Mari kita saksikan pertarungan ide ini.


Bagian 1: Apakah Human Nature Itu Ada? 

Chomsky: Ada, dan Itu yang Membuat Kita Manusia 

Chomsky memulai dengan argumen linguistik—bidang di mana dia adalah otoritas dunia. 

"Ketika kita mempelajari bagaimana anak-anak belajar bahasa," dia menjelaskan, "kita menemukan sesuatu yang luar biasa: mereka belajar jauh lebih cepat dan lebih kompleks daripada yang bisa dijelaskan oleh pengalaman mereka saja." 

Seorang anak usia 3 tahun bisa memahami dan menciptakan kalimat yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Dia bisa mengerti struktur gramatikal yang sangat rumit tanpa pernah diajarkan secara eksplisit. 

Bagaimana ini mungkin? 

"Karena," kata Chomsky, "manusia dilahirkan dengan struktur mental bawaan—semacam 'template' untuk bahasa. Ini adalah bagian dari human nature kita." 

Dan ini bukan hanya tentang bahasa. Chomsky percaya ada aspek fundamental lain dari human nature: 

Kreativitas - Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, untuk melihat kemungkinan yang belum ada. 

Kebutuhan untuk kebebasan - Keinginan intrinsik untuk mengekspresikan diri, untuk tidak dikontrol. 

Kemampuan untuk berempati - Memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan. 

"Jika kita tidak memahami human nature," Chomsky berargumen, "bagaimana kita bisa tahu sistem sosial mana yang baik untuk manusia? Bagaimana kita bisa tahu apa itu keadilan?" 

Baginya, perjuangan untuk keadilan harus dimulai dari pemahaman tentang siapa kita sebagai manusia. 

Foucault: "Human Nature" Adalah Ilusi 

Foucault tersenyum tipis—senyum yang seakan mengatakan, "Saya tahu Anda akan mengatakan itu." 

"Pertanyaannya bukan apakah human nature itu ada," dia mulai dengan tenang. "Pertanyaannya adalah: mengapa kita begitu yakin bahwa itu ada? Dan siapa yang diuntungkan dari kepercayaan ini?" 

Dia melanjutkan dengan argumen yang lebih radikal:

"Konsep 'human nature' itu sendiri adalah produk sejarah. Di abad pertengahan, orang tidak berbicara tentang human nature—mereka berbicara tentang jiwa. Di zaman Renaissance, human nature berarti sesuatu yang sangat berbeda dari yang kita maksud sekarang." 

Foucault menunjuk ke contoh konkret: 

Di abad ke-18, dokter percaya bahwa histeria adalah penyakit biologis yang hanya menyerang wanita—karena "nature" wanita memang rentan terhadap itu. 

Di abad ke-19, psikiater percaya bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan dari human nature yang normal. 

Di kedua kasus, apa yang disebut "human nature" digunakan untuk membenarkan kontrol sosial. 

"Setiap kali seseorang mengatakan 'ini adalah human nature,' yang mereka lakukan adalah mengambil praktik sosial tertentu dan membuatnya tampak alami, tidak bisa diubah, universal—sehingga kita berhenti mempertanyakannya." 

Bagi Foucault, konsep human nature adalah alat kekuasaan. 

Pertarungan Ide Pertama 

Moderator menginterupsi: "Jadi, Professor Foucault, Anda mengatakan tidak ada yang namanya human nature sama sekali?" 

Foucault berpikir sejenak. "Saya mengatakan kita harus sangat hati-hati. Ketika sains mengatakan mereka menemukan 'human nature,' kita harus bertanya: Apa yang membuat mereka berpikir ini adalah 'nature' dan bukan 'kultur'? Apa kepentingan politik di balik klaim ini?" 

Chomsky menimpali dengan frustrasi yang terdengar: "Tapi pasti ada sesuatu yang membedakan manusia dari spesies lain! Pasti ada alasan mengapa semua budaya punya bahasa, tapi tidak ada spesies lain yang punya bahasa kompleks seperti kita. Ini bukan konstruksi sosial—ini adalah fakta biologis!" 

Foucault merespons dengan tenang: "Tentu, manusia berbeda dari spesies lain. Tapi perbedaan biologis tidak sama dengan 'human nature' dalam pengertian filosofis. Hanya karena semua manusia punya otak tidak berarti ada 'esensi' manusia yang tetap dan universal yang bisa kita gunakan sebagai dasar untuk etika dan politik." 

Perdebatan baru saja dimulai.


Bagian 2: Keadilan—Objektif atau Konstruksi?

Chomsky: Ada Standar Moral Universal 

Chomsky pindah ke pertanyaan politik yang lebih langsung: "Baiklah, mari kita bicara tentang keadilan. Kita semua tahu—secara intuitif—bahwa perbudakan itu salah. Bahwa menyiksa orang itu salah. Bahwa anak-anak berhak mendapat pendidikan." 

Dia menatap Foucault. "Apakah Anda mengatakan ini semua hanya konstruksi sosial? Bahwa tidak ada yang benar-benar salah dengan perbudakan kecuali bahwa budaya kita kebetulan tidak menyukainya?" 

Ini adalah tantangan langsung. Dan itu membuat Foucault berada dalam posisi yang sulit. 

Chomsky melanjutkan: "Saya percaya ada prinsip-prinsip moral yang universal. Dan prinsip-prinsip itu berakar pada human nature kita—pada kebutuhan kita untuk kebebasan, untuk kreativitas, untuk hubungan sosial yang bermakna." 

Dia memberikan contoh konkret: "Kapitalisme modern menciptakan sistem di mana kebanyakan orang menghabiskan sebagian besar hidup mereka melakukan pekerjaan yang repetitif, membosankan, dan dikontrol oleh orang lain. Ini bertentangan dengan human nature kita." 

"Kita tahu ini salah bukan karena Marx mengatakan demikian, atau karena budaya kita mengatakan demikian. Kita tahu ini salah karena itu mencegah manusia mengaktualisasi potensi mereka yang paling fundamental—kreativitas dan kebebasan." 

Bagi Chomsky, perjuangan untuk keadilan adalah tentang menciptakan sistem yang sesuai dengan human nature, bukan melawannya. 

Foucault: Keadilan Adalah Permainan Kekuasaan 

Foucault mendengarkan dengan sabar. Lalu dia memberikan respons yang mengejutkan: 

"Saya setuju bahwa kapitalisme menindas. Saya setuju kita harus melawannya. Tapi pertanyaan saya adalah: Atas nama apa kita melawan?" 

Dia menjelaskan: "Ketika Anda mengatakan 'ini tidak adil,' Anda menggunakan konsep keadilan dari sistem hukum tertentu—sistem yang dikembangkan oleh kelas penguasa untuk melayani kepentingan mereka." 

Foucault menunjuk ke contoh historis: "Di abad ke-18, borjuasi Prancis memperjuangkan 'keadilan' melawan aristokrasi. Mereka menggunakan bahasa hak asasi manusia, kebebasan, persamaan. Dan mereka menang!"

"Tapi apa yang terjadi? Mereka menciptakan sistem baru—kapitalisme—yang sama menindas, hanya dengan cara yang berbeda. Mereka mengganti satu sistem kekuasaan dengan sistem kekuasaan lain, semua atas nama 'keadilan.'" 

Moderator bertanya: "Jadi menurut Anda tidak ada keadilan objektif?" 

Foucault menjawab dengan hati-hati: "Saya mengatakan kita harus curiga terhadap konsep universal seperti 'keadilan.' Karena setiap kali seseorang berbicara tentang keadilan universal, yang mereka maksud adalah keadilan menurut sistem kekuasaan tertentu." 

"Yang kita butuhkan bukan perjuangan untuk 'keadilan yang sejati.' Yang kita butuhkan adalah analisis tentang bagaimana kekuasaan bekerja—bagaimana ia menciptakan kategori, norma, dan konsep yang kita gunakan untuk berpikir." 

Ketegangan Memuncak 

Chomsky terlihat frustrasi: "Tapi bagaimana Anda bisa memperjuangkan perubahan sosial tanpa konsep keadilan? Jika semuanya hanya kekuasaan melawan kekuasaan, apa bedanya antara melawan fasisme dan mendukungnya?" 

Foucault merespons tajam: "Saya tidak mengatakan semua sama. Saya mengatakan kita harus jujur tentang apa yang kita lakukan. Ketika kita melawan sistem kekuasaan, kita tidak melakukannya atas nama 'kebenaran universal'—kita melakukannya karena kita ingin bentuk kekuasaan yang berbeda." 

"Dan mungkin itu lebih jujur daripada berpura-pura kita punya akses ke keadilan objektif yang entah bagaimana berada di luar sejarah dan kekuasaan."


Bagian 3: Masyarakat Ideal—Apa yang Kita Perjuangkan?

Chomsky: Sosialisme Libertarian 

Chomsky menjelaskan visinya untuk masyarakat ideal: 

"Bayangkan masyarakat di mana orang bisa mengekspresikan kreativitas mereka. Di mana pekerjaan bukan hanya cara bertahan hidup, tapi cara mengaktualisasi diri. Di mana keputusan dibuat secara demokratis oleh orang-orang yang terkena dampak—bukan oleh elite kecil." 

Dia menyebutnya sosialisme libertarian atau anarkisme

  • Tanpa hierarki yang tidak perlu
  • Tanpa bos yang mengontrol hidup pekerja
  • Tanpa negara yang mendikte dari atas
  • Tapi dengan koordinasi dan kerjasama sukarela

"Ini bukan utopia yang mustahil," Chomsky bersikeras. "Ini adalah sistem yang sesuai dengan human nature kita. Anak-anak secara alami kreatif, kolaboratif, ingin tahu. Sistem kita saat ini mematikan karakteristik ini." 

"Tugas kita adalah menciptakan kondisi di mana sifat terbaik manusia bisa berkembang—bukan menciptakan manusia baru, tapi membebaskan manusia yang sudah ada." 

Foucault: Pertanyakan Segalanya 

Foucault mendengarkan, lalu berkata: "Pertanyaan saya adalah: Bagaimana Anda tahu bahwa masyarakat yang Anda bayangkan tidak akan menciptakan bentuk kekuasaan baru yang sama menindas?" 

"Sejarah penuh dengan revolusi yang dimulai dengan niat baik. 1789 di Prancis—liberte, egalite, fraternite! Hasilnya? Teror, Napoleon, empire. 1917 di Rusia—kebebasan untuk pekerja! Hasilnya? Stalin, gulag, totalitarianisme." 

"Masalahnya bukan hanya pada sistem, tapi pada cara kita berpikir tentang kekuasaan." 

Foucault mengusulkan pendekatan yang berbeda: "Alih-alih berjuang untuk masyarakat ideal yang sudah kita bayangkan, kita harus berjuang melawan bentuk-bentuk kekuasaan spesifik yang kita hadapi hari ini." 

"Melawan penjara yang menghukum alih-alih merehabilitasi. Melawan psikiatri yang mengontrol alih-alih menyembuhkan. Melawan sekolah yang mendisiplinkan alih-alih mendidik." 

"Tapi kita harus melawan tanpa membawa blueprint untuk masyarakat yang sempurna. Karena setiap blueprint adalah sistem kekuasaan yang menunggu untuk diterapkan."

Chomsky Merespons 

Chomsky tidak setuju: "Tapi jika kita tidak punya visi, bagaimana kita tahu ke mana kita pergi? Jika semua yang kita lakukan adalah melawan, tanpa tahu apa yang kita perjuangkan, kita hanya menciptakan kehampaan." 

"Saya setuju kita harus melawan institusi yang menindas. Tapi kita juga harus membangun alternatif. Dan untuk membangun, kita perlu visi—visi yang didasarkan pada pemahaman tentang human nature." 

Foucault merespons: "Atau visi yang didasarkan pada pemahaman kita akan menciptakan manusia baru yang cocok dengan visi kita—yang adalah inti dari setiap proyek totalitarian." 

Ketegangan di ruangan terasa.


Bagian 4: Peran Intelektual—Berbicara untuk Siapa?

Chomsky: Intelektual Punya Tanggung Jawab Moral 

Moderator mengalihkan diskusi: "Sebagai intelektual, apa tanggung jawab Anda terhadap masyarakat?" 

Chomsky menjawab tanpa ragu: "Tanggung jawab intelektual adalah mengatakan kebenaran dan mengekspos kebohongan." 

Dia memberikan contoh dari pengalamannya sendiri: "Selama Perang Vietnam, pemerintah AS mengatakan mereka membela kebebasan. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah pembantaian massa. Tugas intelektual adalah mengekspos perbedaan antara retorika dan realitas." 

"Intelektual punya privilege—akses ke informasi, platform untuk berbicara, waktu untuk berpikir. Dengan privilege datang tanggung jawab. Kita tidak bisa diam ketika ketidakadilan terjadi." 

Bagi Chomsky, intelektual harus: 

  • Berbicara atas nama mereka yang tidak punya suara
  • Menggunakan pengetahuan untuk melayani keadilan
  • Berani menghadapi kekuasaan dengan kebenaran

Foucault: Intelektual Tidak Boleh Berbicara untuk Orang Lain

Foucault tidak setuju secara fundamental: 

"Masalah dengan posisi Anda," dia berkata kepada Chomsky, "adalah asumsi bahwa intelektual tahu apa yang adil, apa yang benar, apa yang orang lain butuhkan." 

"Tapi ini adalah bentuk kekuasaan! Ketika intelektual mengatakan 'Saya berbicara untuk rakyat,' yang sebenarnya terjadi adalah: Saya membungkam suara rakyat dengan suara saya sendiri." 

Foucault mengusulkan peran yang berbeda untuk intelektual: "Tugas kita bukan berbicara untuk orang lain, tapi berbicara tentang sistem kekuasaan—bagaimana ia bekerja, bagaimana ia menciptakan kebenaran, bagaimana ia mengontrol." 

"Kita harus memberikan tools untuk analisis. Tapi kita tidak boleh menyatakan kita tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu adalah arogansi—dan arogansi intelektual adalah bentuk kekuasaan." 

Chomsky Menantang

Chomsky terlihat tidak puas: "Tapi jika kita sebagai intelektual tidak berbicara melawan ketidakadilan, siapa yang akan? Jika kita hanya menganalisis tanpa mengambil posisi moral, bukankah kita menjadi complicit?" 

"Ketika pemerintah membom desa di Vietnam, apakah tugas saya hanya 'menganalisis struktur kekuasaan'? Atau tugas saya untuk berteriak: Ini salah! Hentikan ini!" 

Foucault merespons dengan tenang: "Tentu, berteriak 'hentikan ini!' Tapi jangan klaim bahwa Anda melakukannya atas nama 'keadilan universal.' Lakukan karena Anda tidak mau hidup dalam dunia di mana hal ini terjadi." 

"Perbedaannya halus tapi penting. Yang satu mengklaim akses ke kebenaran objektif. Yang lain mengakui bahwa ini adalah pilihan politik—pilihan Anda, posisi Anda, berdasarkan nilai Anda."


Bagian 5: Revolusi—Bagaimana Perubahan Terjadi?

Chomsky: Revolusi Berdasarkan Prinsip 

Chomsky menjelaskan bagaimana perubahan sosial sejati harus terjadi: 

"Revolusi bukan hanya tentang menggulingkan pemerintah. Ini tentang menciptakan institusi baru yang mencerminkan nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan martabat manusia." 

Dia menekankan pentingnya prinsip moral yang jelas: "Kita harus tahu apa yang kita perjuangkan—bukan hanya apa yang kita lawan. Dan prinsip-prinsip itu harus berakar pada pemahaman kita tentang human nature." 

Foucault: Revolusi Harus Radikal 

Foucault mengajukan visi yang lebih radikal: "Revolusi sejati tidak hanya mengubah institusi. Ia mengubah cara kita berpikir.

"Masalahnya dengan revolusi masa lalu adalah mereka hanya mengganti satu sistem kekuasaan dengan yang lain. Mereka tidak mempertanyakan konsep fundamental seperti 'keadilan,' 'kebenaran,' 'human nature' itu sendiri." 

"Revolusi sejati harus mempertanyakan semua kategori yang kita gunakan untuk berpikir. Termasuk kategori yang kita gunakan untuk membayangkan revolusi itu sendiri." 

Paradoks 

Chomsky menunjuk paradoks dalam posisi Foucault: "Tapi jika Anda tidak percaya pada konsep universal, bagaimana Anda membenarkan perjuangan Anda sendiri? Mengapa melawan kapitalisme jika 'keadilan' hanya konstruksi?" 

Foucault tersenyum—pertama kalinya dalam debat: "Saya tidak membenarkannya dengan keadilan universal. Saya membenarkannya karena saya memilih untuk melawan. Dan pilihan itu tidak memerlukan fondasi filosofis yang dalam—itu memerlukan keberanian."


Penutup: Apa yang Bisa Kita Pelajari 50 Tahun Kemudian? 

Debat berakhir tanpa kesimpulan. Chomsky dan Foucault tidak mencapai konsensus. Tapi itulah kekuatan debat ini. 

Pelajaran 1: Pertanyaan tentang Human Nature Masih Relevan

Di era AI dan bioteknologi, pertanyaan tentang human nature menjadi semakin urgent: 

  • Jika kita bisa mengedit gen, apakah ada "nature" yang harus kita pertahankan?
  • Jika AI bisa melakukan semua yang manusia bisa, apa yang membuat kita unik?
  • Apakah gender, emosi, moralitas adalah aspek tetap dari human nature atau konstruksi yang bisa diubah?

Posisi Chomsky mengingatkan kita: Ada sesuatu tentang menjadi manusia yang berharga dan harus dilindungi. 

Posisi Foucault memperingatkan kita: Berhati-hatilah dengan siapa yang mendefinisikan "human nature"—karena definisi itu akan menentukan siapa yang dianggap normal dan siapa yang dianggap menyimpang. 

Pelajaran 2: Keadilan Memerlukan Fondasi—Tapi Fondasi Tidak Boleh Kaku 

Chomsky benar: Kita memerlukan prinsip moral untuk memperjuangkan perubahan. Kita tidak bisa hanya mengatakan "semua relatif" ketika menghadapi penindasan. 

Foucault juga benar: Setiap klaim tentang "keadilan universal" harus diperiksa secara kritis—karena seringkali itu adalah topeng untuk kekuasaan. 

Sintesis yang mungkin: Perjuangkan keadilan dengan sepenuh hati. Tapi selalu pertanyakan apakah konsep keadilan Anda sendiri tidak tanpa sadar menjadi alat penindasan baru. 

Pelajaran 3: Visi dan Kritik Sama-Sama Penting 

Chomsky mengingatkan kita untuk tidak kehilangan visi. Kita perlu tahu masyarakat macam apa yang kita inginkan. 

Foucault mengingatkan kita untuk tetap kritis. Setiap visi bisa menjadi penjara baru jika diterapkan tanpa fleksibilitas. 

Keduanya dibutuhkan: Visi tanpa kritik menjadi dogma. Kritik tanpa visi menjadi nihilisme.

Pelajaran 4: Intelektual Punya Peran—Tapi Bukan sebagai Nabi 

Chomsky benar bahwa intelektual tidak boleh diam. Tapi Foucault juga benar bahwa intelektual tidak boleh arogan. 

Peran terbaik intelektual: Memberikan tools untuk berpikir, mengekspos kebohongan, tapi tidak mendiktekan jawaban. Berbicara dengan rakyat, bukan untuk rakyat. 


Kata Terakhir: Pertanyaan untuk Anda 

Debat Chomsky-Foucault bukan hanya pertarungan akademis. Ini adalah pertanyaan yang kita hadapi setiap hari: 

Dari Chomsky, pertanyaan ini: 

  • Apa yang fundamental tentang menjadi manusia?
  • Prinsip moral apa yang tidak bisa Anda kompromi?
  • Masyarakat macam apa yang memungkinkan manusia berkembang?

Dari Foucault, pertanyaan ini: 

  • Konsep apa yang Anda terima tanpa pertanyaan—dan siapa yang diuntungkan?
  • Bagaimana kekuasaan bekerja dalam hidup Anda sendiri?
  • Apakah "normal" yang Anda percaya adalah fakta atau konstruksi?

Dan pertanyaan terakhir untuk kita semua: 

Ketika Anda memperjuangkan sesuatu—keadilan, kebenaran, kebebasan—apakah Anda melakukannya karena Anda tahu itu benar secara objektif (Chomsky)? Atau karena Anda memilih untuk mempercayainya (Foucault)? 

Mungkin jawabannya adalah: keduanya. Dan mungkin ketegangan antara kedua posisi ini—antara kepastian dan keraguan, antara prinsip dan kritik—adalah apa yang membuat kita tetap jujur. 

Seperti yang ditulis editor buku ini: 

"Kekuatan debat ini bukan pada siapa yang menang, tapi pada fakta bahwa pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dan tidak boleh diselesaikan dengan mudah. Ketegangan antara posisi Chomsky dan Foucault adalah ketegangan produktif—yang memaksa kita untuk berpikir lebih dalam, bertindak lebih hati-hati, dan tidak pernah puas dengan jawaban sederhana untuk pertanyaan kompleks." 

Jadi, di mana Anda berdiri?


Tentang Debat Asli 

The Chomsky-Foucault Debate terjadi pada November 1971 di televisi Belanda sebagai bagian dari program filosofis. Debat berlangsung lebih dari satu jam, dalam bahasa Inggris (bahasa kedua bagi keduanya). 

Transkrip lengkap pertama kali diterbitkan sebagai buku pada 2006 oleh The New Press, dengan pengantar oleh John Rajchman dan refleksi dari berbagai filsuf kontemporer. 

Noam Chomsky adalah linguist, filsuf, dan aktivis politik Amerika, lahir 1928. Dia mengembangkan teori tata bahasa universal yang merevolusi linguistik modern. Dia juga salah satu kritikus paling keras terhadap kebijakan luar negeri AS. 

Michel Foucault (1926-1984) adalah filsuf Prancis yang karya-karyanya tentang kekuasaan, pengetahuan, seksualitas, dan institusi sosial sangat berpengaruh dalam filosofi post-strukturalis. Buku-buku utamanya termasuk "Discipline and Punish," "The History of Sexuality," dan "Madness and Civilization." 

Untuk pemahaman lengkap tentang kompleksitas argumen mereka, sangat disarankan membaca transkrip lengkap. Debat ini penuh dengan nuansa, referensi filosofis, dan momen-momen di mana keduanya hampir setuju—sebelum perbedaan fundamental mereka kembali muncul. 

Ringkasan ini menangkap argumen inti, tetapi debat asli menawarkan kedalaman, ketegangan intelektual, dan kompleksitas yang tidak bisa sepenuhnya disampaikan dalam format ringkas. 

Sekarang pergilah dan pikirkan sendiri. 

Karena seperti yang dibuktikan oleh Chomsky dan Foucault: Pertanyaan besar tidak memiliki jawaban mudah—dan itulah mengapa pertanyaan itu layak ditanyakan.

 

Selesai. Kamu sudah menuntaskan ringkasan ini.

Baca berikutnya: When
Kembali ke atas

Buku serupa