Elon Musk: Tesla, SpaceX and the Quest for a Fantastic Future
oleh Ashlee Vance · Desember 2025 · 16 menit baca
Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Daftar isi
Pertanyaan yang Mengubah Segalanya
Tahun 2001. Seorang pria berusia 30 tahun duduk di dalam mobil di tengah-tengah Silicon Valley. Dia baru saja menjual perusahaannya dan menjadi jutawan—$22 juta di rekeningnya. Impian Amerika, bukan?
Kebanyakan orang akan pensiun. Atau membangun startup lain untuk menjadi lebih kaya. Atau membeli yacht dan pulau pribadi.
Tapi Elon Musk tidak seperti kebanyakan orang.
Dia bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang aneh: "Apa masalah paling penting yang harus diselesaikan untuk masa depan umat manusia?"
Bukan "bagaimana saya bisa jadi lebih kaya?" Bukan "startup apa yang sedang tren?"
Tapi: Apa yang benar-benar penting untuk kelangsungan hidup spesies manusia?
Jawabannya mengejutkan: Tiga hal—internet, energi berkelanjutan, dan menjadikan manusia spesies multi-planet.
Dan dalam satu dekade berikutnya, dia tidak hanya memilih satu. Dia mengejar ketiganya sekaligus.
Kebanyakan orang menganggapnya gila. Teman-temannya berpikir dia akan kehilangan semua uangnya. Investor menertawakannya. Media mengolok-oloknya.
Tapi pada tahun 2015, ketika Ashlee Vance menerbitkan biografi resmi Elon Musk setelah menghabiskan hampir 50 jam wawancara dengannya dan lebih dari 200 orang di sekitarnya, dunia melihat sosok yang berbeda:
Seorang pria yang telah mengubah tiga industri besar—pembayaran online, mobil listrik, dan eksplorasi ruang angkasa—dan dalam prosesnya menjadi salah satu entrepreneur paling berpengaruh di generasi ini.
Ini bukan cerita tentang jenius yang sempurna. Ini adalah cerita tentang seseorang yang bertaruh segalanya pada visi yang dianggap mustahil—dan hampir kehilangan segalanya dalam prosesnya.
Mari kita mulai dari awal.
Bagian 1: Masa Kecil di Afrika Selatan—Tempat Monster Terbentuk
Anak yang Berbeda
28 Juni 1971. Elon Musk lahir di Pretoria, Afrika Selatan. Dari awal, dia berbeda.
Ketika anak-anak lain bermain sepak bola, Elon membaca ensiklopedia. Ketika anak lain menonton TV, dia menelan buku sains fiksi. Pada usia 10 tahun, dia sudah membaca seluruh Encyclopedia Britannica.
Dia punya memori fotografis—sekali baca, dia ingat. Tapi karunia ini datang dengan harga. Anak-anak di sekolahnya tidak menyukainya. Dia terlalu pintar. Terlalu aneh. Terlalu... berbeda. Mereka mem-bully-nya. Bukan bullying biasa. Bullying brutal.
Suatu hari, sekelompok anak melemparnya dari tangga beton. Dia pingsan. Dibawa ke rumah sakit. Bertahun-tahun kemudian, dia harus operasi untuk memperbaiki hidungnya yang rusak permanen.
Perceraian dan Pilihan yang Sulit
Ketika Elon berusia 9 tahun, orang tuanya bercerai. Errol dan Maye Musk tidak bisa lagi bersama.
Elon dihadapkan pada pilihan: tinggal dengan ibu atau ayah?
Secara logika, dia harus memilih ibunya. Semua orang menyukainya. Dia hangat, suportif, penuh kasih.
Tapi Elon memilih ayahnya.
Mengapa? "Karena dia terlihat kesepian," Elon kemudian menjelaskan. "Aku merasa kasihan padanya."
Keputusan itu akan mempengaruhinya seumur hidup. Errol Musk adalah sosok yang kompleks—brilian tapi manipulatif, karismatik tapi kejam. Bertahun-tahun kemudian, Elon menggambarkan masa-masa itu sebagai "masa yang sangat sulit."
Dia tidak akan menjelaskan detailnya. Tapi dia mengatakan: "Kamu tidak bisa membayangkan betapa buruknya. Hampir setiap kejahatan yang bisa kamu pikirkan, dia lakukan."
Menemukan Pelarian: Komputer
Pada usia 10 tahun, Elon menemukan komputer—Commodore VIC-20. Buku manual programming datang bersamanya: bagaimana membuat program BASIC.
Manual itu dirancang untuk dikerjakan dalam enam bulan. Elon menyelesaikannya dalam tiga hari—tanpa tidur.
Pada usia 12 tahun, dia membuat game komputer bernama "Blastar" dan menjualnya ke majalah komputer seharga $500.
Ini adalah uang pertamanya dari coding. Dan ini adalah saat dia menyadari: Dengan teknologi, dia bisa menciptakan dunia yang lebih baik dari yang dia tinggali.
Bagian 2: Melarikan Diri ke Amerika—Mengejar Impian
Kanada: Titik Awal
Pada usia 17 tahun, Elon membuat keputusan berani: meninggalkan Afrika Selatan.
Mengapa? Karena di Afrika Selatan, dia harus wajib militer untuk pemerintah apartheid—sesuatu yang dia tolak untuk lakukan. Dan karena dia tahu bahwa untuk mengubah dunia, dia harus ke tempat di mana inovasi terjadi: Amerika.
Tapi dia tidak punya uang. Tidak punya koneksi. Yang dia punya hanya paspor Kanada (ibunya warga negara Kanada) dan tekad yang luar biasa.
Dia tiba di Montreal tanpa rencana. Menghabiskan setahun bekerja pekerjaan kasar—membersihkan tangki boiler, memotong kayu, bekerja di peternakan.
Lalu dia mendaftar ke Queen's University di Kingston, Ontario. Mengapa Queen's? "Karena di sana banyak wanita cantik," jawabnya dengan jujur.
University of Pennsylvania: Menemukan Misi
Setelah dua tahun di Queen's, Elon transfer ke University of Pennsylvania untuk double degree: ekonomi dan fisika.
Di sinilah dia mulai serius memikirkan masa depan.
Dia menulis paper tentang "pembangkit listrik masa depan"—array solar raksasa di luar angkasa yang mentransfer energi ke Bumi melalui microwave. (Dosennya memberinya nilai 98.)
Dia menulis paper lain tentang ultracapacitors sebagai penyimpanan energi. (Nilai 97.)
Dia menulis tentang menempatkan semua informasi dunia dalam satu database. (Ini sebelum Google ada.)
Pola mulai muncul: Elon tidak hanya bermimpi tentang masa depan. Dia merancangnya.
Sementara teman-temannya mabuk di pesta kampus, Elon membaca tentang energi, roket, dan komputer. Dia sudah tahu tiga area yang akan dia kejar:
1. Internet - akan mengubah cara manusia berkomunikasi
2. Energi berkelanjutan - untuk menyelamatkan Bumi
3. Eksplorasi ruang angkasa - untuk membuat manusia multi-planetary
Kebanyakan orang akan memilih satu. Elon memutuskan untuk mengejar ketiganya.
Bagian 3: Zip2—Pelajaran Pertama tentang Membangun Perusahaan
Startup dengan $2,000
Tahun 1995. Elon dan adiknya Kimbal memutuskan membuat startup. Modalnya? $2,000 yang mereka pinjam dari ayah mereka—satu-satunya uang yang pernah mereka terima darinya.
Idenya sederhana: membuat panduan kota online untuk koran. Ingat, ini tahun 1995—sebelum Google Maps, sebelum Yelp, bahkan sebelum kebanyakan orang tahu cara menggunakan internet.
Mereka menyebutnya Zip2.
Mereka tidak punya kantor. Jadi mereka menyewa ruangan kecil dan tidur di sana. Mereka mandi di YMCA. Mereka bekerja 20 jam sehari. Elon bahkan lebih—23 jam sehari, menurut Kimbal.
Pelajaran Keras tentang Kepemimpinan
Ketika Zip2 mulai tumbuh, investor masuk. Dan mereka membuat keputusan: Elon terlalu muda dan tidak berpengalaman untuk menjadi CEO.
Mereka membawa CEO profesional dari luar.
Elon terpukul. Ini perusahaannya.
Visinya. Kodenya. Tapi dia bukan yang memimpin.
Tapi dia tidak menyerah. Dia tetap sebagai CTO, tetap coding, tetap mendorong visi.
Tahun 1999, Compaq membeli Zip2 seharga $307 juta. Bagian Elon: $22 juta.
Pada usia 27 tahun, dia jutawan.
Apa yang Akan Kamu Lakukan dengan $22 Juta?
Kebanyakan orang akan pensiun. Atau beli rumah mewah. Atau berlibur keliling dunia.
Elon? Dia langsung memulai perusahaan berikutnya—dan menginvestasikan hampir semua uangnya ke dalamnya.
Mengapa? Karena baginya, uang bukan tujuan. Uang adalah alat untuk mengubah dunia.
Dan dia punya rencana besar berikutnya.
Bagian 4: X.com dan PayPal—Menciptakan Bank Online
Ide yang Dianggap Gila
Maret 1999. Elon mendirikan X.com—layanan keuangan online lengkap. Pada dasarnya, dia ingin membuat bank masa depan.
Orang-orang menganggapnya gila. Pada tahun 1999, konsumen bahkan takut memasukkan nomor kartu kredit di website. Amazon baru mulai menjual buku. Dan Elon ingin orang menyimpan uang mereka di internet?
Plus, hambatan regulasi sangat besar. Banking adalah industri yang paling diregulasi. Bagaimana mungkin startup bisa menghadapi itu?
Tapi Elon percaya: Banking belum berinovasi selama puluhan tahun. Ini matang untuk disruption.
Merger dan Kudeta
X.com tumbuh cepat. Lalu merger dengan Confinity—perusahaan yang punya produk bernama PayPal.
Elon menjadi CEO perusahaan gabungan. Tapi ada masalah: konflik internal tentang arah perusahaan. Elon ingin fokus pada visi besar X.com. Tim lain ingin fokus pada PayPal yang sudah terbukti bekerja.
September 2000. Elon pergi honeymoon terlambat—menikah awal tahun itu tapi baru sempat pergi sekarang. Dia pergi ke Afrika Selatan untuk safari.
Di sana, dia tertular malaria. Hampir mati.
Sementara dia sekarat di rumah sakit Afrika, timnya melakukan kudeta. Mereka memvote Elon keluar sebagai CEO dan menggantikannya dengan Peter Thiel.
Ketika Elon pulih dan kembali, dia bukan lagi CEO. Tapi dia tetap pemegang saham terbesar.
$165 Juta—dan Pelajaran Berharga
Tahun 2002, eBay membeli PayPal seharga $1.5 miliar. Bagian Elon: $165 juta setelah pajak.
Tapi uang bukan yang paling berharga. Yang paling berharga adalah pelajaran:
1. Membangun perusahaan hebat membutuhkan tim yang luar biasa—dan politik internal bisa menghancurkan visi terbaik sekalipun.
2. Sebagai founder, kamu harus lebih dari sekadar visioner. Kamu harus executer yang hebat.
3. Timing adalah segalanya. Terlalu cepat = kamu pioneer yang mati. Terlalu lambat = kamu sudah ketinggalan.
Sekarang, dengan $165 juta, Elon siap untuk dua taruhan terbesar dalam hidupnya.
Dan kali ini, dia akan mempertaruhkan segalanya.
Bagian 5: SpaceX—Taruhan Mustahil
"Mengapa Roket Begitu Mahal?"
Tahun 2001. Elon frustrasi. NASA tidak punya rencana ambisius untuk eksplorasi ruang angkasa. Anggaran dipotong. Tidak ada visi untuk pergi ke Mars.
Jadi dia memutuskan: "Baiklah, kalau tidak ada yang melakukannya, aku akan melakukannya sendiri."
Dia pergi ke Rusia untuk membeli roket bekas ICBM. Idenya: beli roket murah, kirim misi ke Mars untuk menginspirasi orang.
Orang Rusia menganggapnya sebagai turis kaya yang main-main. Mereka menawarkan harga yang konyol. Elon marah dan pulang dengan tangan kosong.
Tapi di pesawat pulang, dia membuka Excel dan mulai menghitung: Berapa biaya sebenarnya untuk membuat roket?
Bahan baku (aluminium, tembaga, bahan bakar) hanya 2% dari harga roket yang dijual. 98% sisanya adalah overhead, profit margin, dan inefficiency.
Light bulb moment: Jika dia bisa membuat roket dengan cara yang berbeda—dengan first principles thinking—dia bisa memotong biaya hingga 10x lipat.
Di situlah SpaceX lahir.
Tiga Kegagalan Berturut-turut
2006: Peluncuran pertama Falcon 1. Gagal. Roket meledak 33 detik setelah lepas landas.
2007: Peluncuran kedua. Gagal lagi. Roket berputar tak terkendali dan hancur.
2008: Peluncuran ketiga. Gagal lagi. Tahapan pertama dan kedua bertabrakan. Setiap kegagalan menghabiskan puluhan juta dolar. Uang Elon sendiri.
Di saat yang sama, Tesla (yang akan kita bahas sebentar lagi) juga hampir bangkrut. Krisis keuangan 2008 menghantam. Investasi berhenti.
Elon harus memilih: SpaceX atau Tesla. Dia tidak punya cukup uang untuk menyelamatkan keduanya.
Peluncuran Keempat—Semua atau Tidak Sama Sekali
September 2008. Peluncuran keempat Falcon 1. Ini adalah kesempatan terakhir. Jika gagal, SpaceX bangkrut.
Elon dan timnya berkumpul di Mission Control. Roket lepas landas. Mereka menahan napas.
Tahap pertama: Sukses. Tahap kedua: Sukses. Orbit: Sukses!
Falcon 1 adalah roket pertama yang dikembangkan swasta yang mencapai orbit.
Ruangan meledak dalam sorak-sorai. Orang-orang menangis. Elon menangis.
Mereka berhasil. SpaceX selamat.
Kontrak NASA dan Masa Depan
Dua bulan kemudian, NASA memberikan SpaceX kontrak $1.6 miliar untuk 12 misi resupply ke International Space Station.
SpaceX tidak lagi startup yang hampir bangkrut. Mereka adalah pemain serius di industri aerospace.
Hari ini, SpaceX adalah perusahaan aerospace swasta paling berharga di dunia. Mereka meluncurkan lebih banyak roket daripada siapa pun. Mereka mengirim astronaut ke ISS. Dan mereka sedang membangun Starship untuk pergi ke Mars.
Semua dimulai dari satu pertanyaan sederhana: "Mengapa roket begitu mahal?"
Dan kemauan untuk bertaruh segalanya pada jawabannya.
Bagian 6: Tesla—Mengubah Industri yang Tidak Mungkin Diubah
Mobil Listrik = Kegagalan (Atau Begitu Kata Semua Orang)
General Motors membuat EV1 di tahun 1990-an. Gagal dan dihentikan.
Semua orang di industri otomotif setuju: Mobil listrik tidak akan pernah mainstream. Terlalu mahal. Jarak tempuh terlalu pendek. Tidak ada yang mau membelinya.
Tapi Elon tidak setuju.
Dia tidak mendirikan Tesla—dia menginvestasikan dan bergabung sebagai chairman tahun 2004 ketika Martin Eberhard dan Marc Tarpenning mendirikannya. Tapi dengan cepat, dia menjadi jiwa perusahaan.
Strategi: Mulai dari Atas
Kebanyakan orang berpikir mobil listrik harus murah untuk sukses. Elon berpikir sebaliknya.
Strateginya:
1. Fase 1: Buat sports car mewah (Roadster) - untuk early adopters kaya yang mau bayar premium
2. Fase 2: Buat sedan premium (Model S) - untuk pasar yang lebih luas
3. Fase 3: Buat mobil mainstream (Model 3) - untuk massa
Mulai dari atas, lalu turun. Gunakan profit dari mobil mahal untuk mengembangkan teknologi mobil murah.
Ini kebalikan dari strategi industri konvensional—dan itulah yang membuatnya brilian.
Production Hell
Desain mobil itu sulit. Produksi massal itu 10 kali lebih sulit.
Tesla hampir bangkrut berkali-kali. Elon menginvestasikan seluruh uang pribadinya. Dia tidur di lantai pabrik. Dia bekerja 120 jam seminggu.
Ada periode di mana Elon harus memilih: membayar gaji karyawan atau membeli komponen untuk produksi. Dia meminjam uang dari teman untuk bayar sewa.
2008 adalah tahun terburuk. SpaceX hampir bangkrut. Tesla hampir bangkrut. Pernikahannya hancur. Dia kehilangan berat badan drastis dari stres.
Tapi dia tidak menyerah.
Model S—Game Changer
2012. Tesla meluncurkan Model S.
Bukan hanya mobil listrik terbaik. Ini adalah mobil terbaik, titik—listrik atau bukan.
Motor Trend menamainya Car of the Year. Consumer Reports memberinya rating tertinggi yang pernah ada. Orang-orang yang awalnya skeptis sekarang antre untuk membelinya.
Tesla membuktikan: Mobil listrik tidak harus kompromi. Mobil listrik bisa lebih baik.
Hari ini, Tesla adalah perusahaan otomotif paling bernilai di dunia—lebih besar dari Toyota, VW, dan Ford digabungkan.
Dan semua produsen mobil sekarang berlomba membuat mobil listrik—mengikuti jejak yang Tesla buka.
Bagian 7: Visi yang Menyatukan Semuanya
Bukan Tentang Uang
Inilah yang membuat Elon berbeda dari kebanyakan entrepreneur Silicon Valley:
Dia tidak digerakkan oleh uang. Dia digerakkan oleh misi.
Apa misinya? Menyelamatkan masa depan umat manusia.
Kedengarannya grandiose. Tapi dia serius.
- SpaceX: Membuat manusia multi-planetary. Jika asteroid menghantam Bumi atau perang nuklir terjadi, spesies manusia tidak punah.
- Tesla: Mempercepat transisi ke energi berkelanjutan. Menghentikan perubahan iklim sebelum terlambat.
- SolarCity (sekarang bagian dari Tesla): Membuat energi matahari lebih murah dan lebih accessible.
Semua perusahaannya melayani satu visi besar. Mereka saling melengkapi:
- Tesla membuat mobil listrik dan baterai
- SolarCity membuat panel surya yang bisa mengisi baterai Tesla
- SpaceX menggunakan teknologi energi Tesla
Ini bukan perusahaan terpisah. Ini adalah ekosistem yang dirancang untuk mengubah masa depan.
First Principles Thinking
Salah satu kemampuan terbesar Elon adalah cara dia berpikir: First Principles Thinking.
Kebanyakan orang berpikir dengan analogi: "Begini cara kita selalu melakukannya, jadi begini cara kita harus melakukannya."
Elon berpikir dari dasar: "Apa fakta fundamental yang kita tahu benar? Sekarang, bagaimana kita bisa membangun dari sana?"
Contoh:
- Roket mahal → Tapi kenapa? → Karena tidak bisa digunakan lagi → Bagaimana jika kita membuat roket yang bisa kembali dan digunakan lagi? → Boom, reusable rockets.
- Baterai mahal → Tapi kenapa? → Karena dibeli jadi dari supplier → Bagaimana jika kita membeli bahan baku dan membuat sendiri? → Boom, Gigafactory.
Ini bukan hanya tentang bertanya "apa?" Ini tentang bertanya "mengapa?" sampai kamu mencapai kebenaran fundamental.
Bagian 8: Sisi Gelap—Harga dari Obsesi
Bukan Pahlawan Sempurna
Ashlee Vance tidak menulis hagiografi. Dia menulis biografi jujur yang menunjukkan sisi gelap Elon.
Elon adalah bos yang demanding—sampai ke titik abusive.
- Dia memecat orang di tempat karena kesalahan kecil
- Dia berteriak di ruang rapat
- Dia memberikan deadline yang tidak mungkin dan marah ketika orang gagal
- Seorang karyawan memilih hadir di kelahiran anaknya daripada event perusahaan. Elon memarahinya dengan keras.
Work-life balance? Tidak ada.
Elon bekerja 80-100 jam seminggu. Dan dia mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama. "Kalau orang lain bekerja 40 jam seminggu dan kamu bekerja 100 jam, kamu akan mencapai dalam 4 bulan apa yang mereka capai dalam setahun."
Pernikahan yang hancur.
Elon sudah menikah tiga kali (dua kali dengan orang yang sama). Semua berakhir dengan perceraian. Alasannya selalu sama: dia menikah dengan pekerjaannya.
Istrinya yang pertama, Justine, mengatakan: "Elon tidak bisa tidak bekerja. Kalau dia tidak bekerja, dia tidak tahu siapa dia."
Pertanyaan Moral
Apakah mengubah dunia membenarkan menjadi bos yang kejam? Apakah visi besar membenarkan mengorbankan kebahagiaan pribadi dan orang-orang di sekitar Anda?
Vance tidak memberikan jawaban. Dia membiarkan pembaca memutuskan.
Yang jelas: Kebesaran datang dengan harga. Dan orang di sekitar orang besar seringkali membayar harga itu juga.
Penutup: Pelajaran dari Manusia yang Bertaruh pada Masa Depan
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
1. Kejar Misi, Bukan Uang
Elon bisa pensiun setelah PayPal dengan $165 juta. Tapi dia menginvestasikan hampir semuanya ke SpaceX dan Tesla—dan hampir kehilangan semuanya.
Mengapa? Karena dia tidak mencari kenyamanan. Dia mencari makna.
Uang adalah alat. Misi adalah tujuan.
2. First Principles Thinking
Jangan terima status quo. Bertanyalah: "Mengapa sesuatu dilakukan dengan cara ini? Apakah ada cara yang lebih baik?"
Pecah masalah menjadi komponen fundamental. Bangun dari dasar.
3. Belajar Apapun, Dengan Cepat
Elon tidak punya gelar aerospace engineering. Tapi dia belajar dengan membaca buku, bertanya pada ahli, dan mencoba sendiri.
Ketika membangun SpaceX, dia membaca textbook roket. Ketika membangun Tesla, dia mempelajari cara kerja mesin dan baterai.
Anda tidak perlu tahu segalanya. Anda perlu mampu belajar segalanya.
4. Risk-Taking yang Calculated
Elon bukan penjudi yang gegabah. Dia mengambil risiko besar—tapi calculated risks.
Dia melakukan research. Dia menghitung kemungkinan. Dan ketika dia yakin itu layak, dia bertaruh dengan semua yang dia punya.
5. Kerja Keras Mengalahkan Bakat
Banyak orang lebih pintar dari Elon. Banyak yang lebih berbakat. Tapi tidak banyak yang bekerja lebih keras.
80-100 jam seminggu. Tidur di lantai pabrik. Bekerja saat sakit. Bekerja saat stres.
Kerja keras masif + arah yang benar = hasil yang luar biasa.
6. Berpikir dalam Dekade, Bukan Kuartal
Wall Street berpikir dalam kuartal. Elon berpikir dalam dekade.
SpaceX kehilangan uang selama bertahun-tahun sebelum profit. Tesla hampir bangkrut berkali-kali. Tapi Elon tidak menyerah karena dia tahu: Visi jangka panjang membutuhkan kesabaran jangka panjang.
Pertanyaan untuk Anda
Elon Musk bertanya pada dirinya: "Apa yang paling penting untuk masa depan umat manusia?"
Sekarang tanyakan pada diri Anda:
- Apa yang benar-benar penting bagi saya?
- Apakah saya mengejar uang, atau mengejar makna?
- Apakah saya berani bertaruh pada visi saya—bahkan jika semua orang bilang saya gila?
Anda tidak perlu membangun roket atau mobil listrik. Tapi Anda bisa menerapkan prinsip-prinsip Elon dalam skala Anda sendiri:
1. Pilih masalah besar yang Anda pedulikan
2. Pelajari dari dasar dengan first principles
3. Bekerja lebih keras dari siapa pun
4. Jangan menyerah ketika gagal
5. Pikirkan jangka panjang
Elon Musk bukan pahlawan sempurna. Dia punya banyak kelemahan. Dia menyakiti orang. Dia membuat kesalahan.
Tapi dia membuktikan satu hal: Satu orang dengan visi yang jelas dan kemauan baja bisa mengubah dunia.
Pertanyaannya sekarang: Apa yang akan Anda ubah?
Tentang Buku Asli
"Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future" ditulis oleh Ashlee Vance dan diterbitkan pada tahun 2015. Ini adalah biografi resmi pertama Elon Musk.
Ashlee Vance adalah jurnalis teknologi veteran yang telah menulis untuk The New York Times, The Economist, dan Bloomberg Businessweek. Untuk buku ini, dia menghabiskan hampir 50 jam mewawancarai Elon Musk dan lebih dari 200 orang di sekitarnya—keluarga, teman, karyawan, dan rekan bisnis.
Proses Penulisan: Awalnya, Elon menolak bekerja sama. Vance memutuskan menulis buku tanpa kerja sama Elon—menggunakan wawancara dengan orang lain. Ketika Elon mendengar ini, dia meminta dinner dengan Vance dan mencoba bernegosiasi: "Aku mau tambahkan footnotes untuk kontrol cerita hidup ku."
Vance menolak. "Ini bukan buku PR. Ini biografi jujur."
Elon akhirnya setuju—dengan satu syarat: dia akan bicara dengan jujur, tapi Vance harus menulis dengan jujur juga, termasuk kelemahan dan kesalahannya.
Dan itulah yang membuat buku ini powerful: Ini bukan hero worship. Ini potret manusia kompleks yang mengubah dunia sambil membuat banyak kesalahan.
Buku ini telah:
- Menjadi New York Times bestseller
- Diterjemahkan ke puluhan bahasa
- Dijadikan inspirasi untuk serial TV HBO (dalam pengembangan)
- Menjadi referensi standar tentang Elon Musk
Catatan Penting: Buku ini diterbitkan tahun 2015. Banyak yang terjadi sejak itu—Neuralink, The Boring Company, akuisisi Twitter/X, drama publik, dll. Tapi fondasi siapa Elon Musk dan bagaimana dia berpikir tetap terungkap dengan jelas di buku ini.
Untuk pemahaman lengkap tentang salah satu entrepreneur paling influential di generasi kita, sangat disarankan membaca buku aslinya. Vance menulis dengan gaya jurnalistik yang engaging—detail, faktual, tapi tetap menarik seperti novel.
Sekarang Anda tahu ceritanya. Pertanyaannya: Apa yang akan Anda lakukan dengan pengetahuan ini?
Masa depan tidak akan membangun dirinya sendiri. Seseorang harus membangunnya.
Mengapa bukan Anda?