The Friend
oleh Sigrid Nunez · Maret 2026 · 14 menit baca
Telepon yang Mengubah Segalanya
Daftar isi
Telepon yang Mengubah Segalanya
Bayangkan ini: Anda sedang duduk di apartemen kecil Anda di New York, mencoba menulis, ketika telepon berdering.
Di ujung sana, suara yang gemetar memberitahu Anda bahwa sahabat Anda—mentor Anda, orang yang mengajarkan Anda hampir semua yang Anda tahu tentang menulis dan kehidupan—telah meninggal.
Bukan karena sakit. Bukan kecelakaan.
Dia memilih untuk pergi. Bunuh diri.
Dunia tiba-tiba terasa lebih sunyi. Lebih dingin. Lebih kosong.
Anda merasakan rasa sakit yang tidak punya nama yang tepat. Bukan hanya kesedihan—tapi juga kemarahan, kebingungan, pengkhianatan. Mengapa dia melakukannya? Mengapa dia tidak memberi tahu Anda? Mengapa dia meninggalkan Anda sendirian?
Lalu beberapa minggu kemudian, ada ketukan di pintu Anda.
Berdiri di sana adalah seorang wanita—istri ketiga almarhum mentor Anda—dengan tali di tangannya. Dan di ujung tali itu adalah seekor Great Dane seukuran kuda kecil. Matanya sedih. Kepalanya tertunduk.
"Dia milikmu sekarang," kata wanita itu. "Dia meninggalkan Apollo untukmu."
Anda ingin berteriak: "Saya tinggal di apartemen satu kamar di lantai tiga tanpa lift! Saya едва bisa memberi makan diri sendiri! Bagaimana saya bisa merawat anjing raksasa yang sedang berduka?"
Tapi Anda tidak berkata apa-apa. Karena bagaimana Anda bisa menolak warisan terakhir dari orang yang telah memberi Anda begitu banyak?
Ini adalah awal dari "The Friend"—novel luar biasa oleh Sigrid Nunez yang memenangkan National Book Award 2018.
Bukan hanya kisah tentang kehilangan. Bukan hanya kisah tentang anjing.
Ini adalah kisah tentang bagaimana kadang, di saat terdalam kesepian kita, kehadiran yang paling tidak terduga bisa menyelamatkan kita.
Mari kita mulai.
Bagian 1: Kehilangan yang Tidak Bisa Dipahami
Sahabat, Mentor, Hantu
Narator—seorang penulis wanita yang tidak disebutkan namanya—telah mengenal almarhum selama puluhan tahun. Dia bukan hanya temannya. Dia adalah gurunya, mentornya, confessor-nya.
Dia adalah penulis yang sukses, karismatik, brilian. Pria yang dikelilingi oleh mahasiswa yang memujanya, wanita yang jatuh cinta padanya (dan dia menikah tiga kali), dan rekan penulis yang menghormati atau iri padanya.
Tapi dia juga adalah pria yang rumit. Egois dalam beberapa cara. Rakus akan perhatian. Tidak setia dalam pernikahan. Obsesif tentang penuaan dan kematian.
Narator tahu semua kekurangannya. Tapi dia juga tahu kebaikannya: cara dia membaca naskah mahasiswanya dengan serius, cara dia mendukung penulis muda, cara dia bisa membuat Anda merasa bahwa apa yang Anda tulis penting.
Dan sekarang dia pergi.
Mengapa Dia Melakukannya?
Pertanyaan ini menghantui narator. Mengapa?
Dia tidak sakit parah. Tidak dalam krisis keuangan. Baru saja menerbitkan buku yang mendapat ulasan bagus.
Tapi dia telah berbicara tentang bunuh diri selama bertahun-tahun. Tentang bagaimana itu adalah hak setiap orang untuk memilih kapan pergi. Tentang penulis-penulis yang dia kagumi yang mengakhiri hidup mereka sendiri.
"Tapi kami pikir itu hanya pembicaraan," tulis narator. "Seperti orang yang bicara tentang menulis novel selama 20 tahun tapi tidak pernah menulis satu kata pun."
Ternyata, dia serius.
Dan yang paling menyakitkan: dia tidak meninggalkan catatan. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada kata perpisahan.
Hanya keheningan yang menghancurkan.
Bagian 2: Apollo—Warisan yang Berjalan dengan Empat Kaki
Seekor Anjing Seukuran Kuda Poni
Great Dane adalah anjing yang sangat besar. Apollo—dinamai sesuai dewa Yunani—bukan pengecualian. Beratnya 80 kilogram. Tingginya hampir setinggi narator ketika berdiri dengan kaki belakang.
Dan dia sekarang tinggal di apartemen kecil yang едва cukup untuk satu orang, apalagi satu orang ditambah hewan seukuran kuda kecil.
Masalahnya berlimpah:
Masalah 1: Apartemen melarang anjing—apalagi anjing raksasa. Pemilik gedung bisa mengusir narator kapan saja.
Masalah 2: Tidak ada lift—naik turun tiga lantai tangga beberapa kali sehari dengan anjing 80 kg? Tidak praktis ketika Apollo menolak bergerak.
Masalah 3: Biaya—makanan untuk anjing sebesar ini bisa melebihi budget makanan manusia. Belum lagi biaya dokter hewan.
Masalah 4: Ruang—di mana anjing raksasa tidur? Di mana dia bergerak tanpa menjatuhkan semua barang?
Tapi masalah terbesar bukan logistik. Masalah terbesar adalah Apollo sedang berduka.
Anjing yang Patah Hati
Apollo kehilangan tuannya—satu-satunya manusia yang benar-benar menjadi miliknya. Dan dia tidak mengerti mengapa.
Dia menolak makan. Dia berbaring di sudut, tidak bergerak, dengan mata yang kosong. Dia tidak tertarik pada mainan, jalan-jalan, atau apa pun.
Dokter hewan memperingatkan: anjing bisa mati karena kesedihan. Mereka bisa berhenti makan sampai tubuh mereka menyerah.
Narator menghadapi tanggung jawab yang dia tidak minta: menyelamatkan anjing yang tidak ingin diselamatkan.
Ironi yang menyakitkan: dia sendiri едва bisa bangun dari tempat tidur. Dia sendiri едва bisa makan. Dia sendiri sedang tenggelam dalam kesedihan.
Bagaimana Anda menyelamatkan yang lain ketika Anda sendiri tenggelam?
Bagian 3: Hidup Bersama Kesedihan—Manusia dan Anjing
Rutinitas yang Menyelamatkan
Hari-hari pertama sulit. Narator dan Apollo saling menatap dengan mata kosong—dua makhluk yang kehilangan orang yang sama, tapi tidak bisa berkomunikasi tentang kehilangan itu.
Tapi perlahan, rutinitas terbentuk.
Pagi: bangun, bawa Apollo keluar (menuruni tangga dengan susah payah), tunggu sampai dia mau buang air, bawa dia kembali.
Siang: coba buat Apollo makan. Kadang berhasil. Sering tidak.
Sore: jalan-jalan ke taman. Apollo berjalan dengan lambat, kepala tertunduk, tidak tertarik pada anjing lain.
Malam: Apollo berbaring di samping tempat tidur. Narator berbaring di tempat tidur. Keduanya menatap langit-langit, memikirkan orang yang tidak ada lagi.
Yang aneh adalah: rutinitas ini menyelamatkan keduanya.
Narator tidak bisa tenggelam sepenuhnya dalam kesedihan karena dia harus memberi makan Apollo. Dia tidak bisa tinggal di tempat tidur sepanjang hari karena Apollo perlu keluar. Dia tidak bisa menyerah karena ada makhluk hidup yang bergantung padanya.
Dan Apollo—perlahan, sangat perlahan—mulai makan sedikit lebih banyak. Mulai mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi.
Mereka saling menyelamatkan tanpa menyadarinya.
Menjadi Objek Perhatian di New York
Berjalan di New York dengan Great Dane adalah pengalaman yang unik.
Orang-orang berhenti. Mereka menatap. Mereka menunjuk. Anak-anak berlari mendekat (dan orang tua menarik mereka kembali dengan takut). Orang bertanya: "Itu kuda atau anjing?"
Narator—yang biasanya invisible di kota besar ini, hanya satu wajah di antara jutaan—tiba-tiba menjadi pusat perhatian.
Dia membenci ini. Dia tidak ingin berbicara dengan orang asing. Dia tidak ingin menjelaskan mengapa dia punya anjing raksasa. Dia tidak ingin tersenyum dan berpura-pura baik-baik saja.
Tapi ada sesuatu yang menarik: orang-orang terhubung melalui Apollo.
Seorang tunawisma yang biasanya diabaikan semua orang berhenti untuk mengagumi Apollo. Seorang wanita tua yang kesepian bercerita tentang anjingnya yang sudah mati. Seorang anak kecil yang pemalu tersenyum untuk pertama kalinya dalam berhari-hari.
Apollo—dengan kehadirannya yang besar dan tenang—membuka pintu untuk koneksi manusia. Di kota yang terkenal dengan kesepian meskipun penuh sesak, anjing raksasa ini membuat orang berbicara satu sama lain.
Bagian 4: Refleksi tentang Menulis, Kehidupan, dan Kematian
Penulis yang Tidak Bisa Menulis
Sebelum kematian mentornya, narator adalah penulis yang produktif. Dia mengajar. Dia menulis. Dia membaca naskah mahasiswa.
Sekarang? Kata-kata tidak datang.
Dia duduk di depan komputer. Layar kosong. Cursor berkedip. Tidak ada yang keluar.
"Bagaimana Anda menulis ketika dunia tidak masuk akal?" dia bertanya pada dirinya sendiri. "Bagaimana Anda menciptakan narasi ketika kehidupan nyata tidak punya narasi yang koheren?"
Mentornya dulu berkata: "Menulis adalah cara kita memberi makna pada kekacauan."
Tapi apa yang Anda lakukan ketika kekacauan terlalu besar untuk diberi makna?
Buku-Buku tentang Bunuh Diri
Narator mulai membaca obsesif tentang bunuh diri. Memoir dari orang yang selamat dari upaya bunuh diri. Analisis psikologis. Catatan yang ditinggalkan oleh mereka yang pergi.
Dia mencari jawaban. Mencari pola. Mencari sesuatu yang bisa menjelaskan mengapa orang yang dia cintai memilih untuk pergi.
Dia menemukan fakta yang mengejutkan: sebagian besar orang yang selamat dari upaya bunuh diri (seperti mereka yang melompat dari jembatan tapi selamat) mengatakan mereka menyesal di tengah jalan.
"Begitu kaki saya meninggalkan jembatan," kata seorang survivor, "saya menyadari bahwa setiap masalah dalam hidup saya bisa diperbaiki—kecuali bahwa saya baru saja melompat."
Tapi mentornya tidak punya kesempatan kedua. Tidak ada momen penyesalan. Tidak ada kesempatan untuk mengubah pikiran.
Dan itu yang paling sulit untuk diterima.
Bagian 5: Persahabatan yang Kompleks dan Rumit
Tiga Istri dan Banyak Wanita
Almarhum mentor menikah tiga kali. Dan di antara pernikahan (dan kadang selama), ada banyak wanita lain—mahasiswa, kolega, kenalan.
Narator adalah salah satu dari sedikit wanita dalam hidupnya yang tidak pernah menjadi kekasihnya. Mereka adalah teman. Hanya teman.
Tapi di dunia mentornya—di mana garis antara mentor dan kekasih sering kabur—persahabatan platonis mereka adalah sesuatu yang unik.
Sekarang, setelah kematiannya, narator menemukan dirinya berinteraksi dengan ketiga istri:
Istri pertama: Pahit, marah, merasa dia mencuri tahun-tahun terbaiknya.
Istri kedua: Pragmatis, sudah move on, punya kehidupan baru.
Istri ketiga: Hancur, masih di shock, tidak tahu bagaimana melanjutkan.
Masing-masing punya versi berbeda dari pria yang sama. Masing-masing merasa mereka adalah satu-satunya yang benar-benar mengenalnya.
Dan narator bertanya: Apakah kita benar-benar mengenal siapa pun?
Atau apakah kita hanya mengenal versi mereka yang mereka tunjukkan kepada kita?
Warisan Seorang Guru
Mentor narator adalah guru yang hebat. Ratusan mahasiswa belajar darinya. Puluhan penulis sukses menganggapnya sebagai pengaruh terbesar mereka.
Tapi dia juga punya reputasi yang rumit. Beberapa mahasiswanya merasakan dia mengubah hidup mereka. Yang lain merasa dia terlalu critical, terlalu demanding, terlalu terfokus pada favorit-favoritnya.
Beberapa wanita mengatakan dia adalah mentor yang luar biasa. Yang lain mengatakan dia melintasi batas yang seharusnya tidak dilintasi.
Apa warisannya? Apakah karya-karyanya yang brilian? Penulis-penulis yang dia bentuk? Atau juga rasa sakit yang dia tinggalkan?
Narator tidak punya jawaban. Yang dia tahu: orang-orang kompleks meninggalkan warisan yang kompleks.
Dan tidak apa-apa untuk mencintai seseorang sambil juga mengakui kekurangan mereka.
Bagian 6: Penyembuhan Melalui Kehadiran yang Diam
Apollo Sebagai Terapis
Apollo tidak bisa berbicara. Dia tidak bisa memberi nasihat. Dia tidak bisa mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja."
Tapi dia hadir.
Ketika narator menangis di tengah malam, Apollo berbaring di samping tempat tidur, kepalanya di lantai, matanya terbuka—tidak tidur, hanya menemani.
Ketika dia tidak bisa bangun karena kesedihan terlalu berat, Apollo duduk di samping tempat tidur dan menatapnya—tidak menghakimi, hanya menunggu.
Ketika dia akhirnya bangkit, Apollo berdiri juga—siap untuk apa pun yang dia butuhkan.
Kehadiran tanpa tuntutan. Ini adalah hadiah yang jarang dari manusia, tapi natural bagi anjing.
Perlahan, narator menyadari: Apollo tidak mencoba memperbaikinya. Dia tidak mencoba membuat kesedihannya hilang. Dia hanya bersedia duduk di dalamnya bersamanya.
Dan kadang, itu yang paling Anda butuhkan.
Kota yang Keras Hati Menjadi Sedikit Lebih Lembut
New York terkenal dengan kekerasannya. Orang tidak tersenyum pada orang asing. Orang tidak membantu tanpa alasan. Orang fokus pada kehidupan mereka sendiri.
Tapi Apollo mengubah ini—setidaknya di lingkungan kecil mereka.
Tetangga yang biasanya hanya mengangguk kini berhenti untuk bertanya tentang Apollo. Pemilik toko yang biasanya cuek kini menyimpan mangkuk air untuk Apollo. Anak-anak di taman yang biasanya takut pada anjing besar kini duduk di samping Apollo (yang sangat lembut dan sabar).
Narator menyadari: kadang kita terhubung bukan melalui kata-kata yang sempurna, tapi melalui kehadiran bersama.
Apollo tidak perlu berbicara untuk membuat orang merasa aman. Dia hanya perlu ada.
Dan dalam kehadirannya, orang-orang menemukan ruang untuk menjadi lebih baik versi diri mereka sendiri.
Bagian 7: Pertanyaan Tentang Makna
Mengapa Kita Menulis?
Di tengah kesedihannya, narator mempertanyakan segalanya—termasuk menulis.
Mengapa dia menulis? Untuk siapa? Apa gunanya?
Mentornya dulu berkata: "Kita menulis karena kita harus. Karena ada sesuatu di dalam kita yang perlu keluar."
Tapi sekarang narator tidak yakin. Mungkin menulis adalah cara untuk menghindari hidup. Mungkin semua diskusi tentang "craft" dan "art" hanya cara untuk merasa penting.
Atau mungkin—dan ini yang paling menakutkan—menulis tidak berarti apa-apa sama sekali.
Tapi kemudian dia ingat: mentornya menulis sampai hari terakhir. Bahkan di tengah keputusasaannya, dia masih menulis.
Mungkin menulis bukan tentang makna. Mungkin menulis adalah tentang bertahan.
Mengapa Kita Terus Hidup?
Ini pertanyaan yang lebih besar. Setelah kehilangan. Setelah pengkhianatan. Setelah rasa sakit.
Mengapa kita bangun setiap pagi? Mengapa kita terus mencoba?
Narator tidak punya jawaban filosofis yang mendalam. Yang dia punya adalah Apollo.
Setiap pagi, Apollo perlu keluar. Setiap hari, Apollo perlu makan. Setiap sore, Apollo ingin jalan-jalan.
Kadang alasan untuk terus hidup bukan grand purpose. Kadang itu hanya makhluk hidup yang membutuhkan Anda.
Dan itu cukup.
Bagian 8: Menemukan Perdamaian di Tempat yang Tidak Terduga
Belajar Hidup dengan Ketidakpastian
Narator tidak pernah mendapat penutupan yang dia inginkan. Tidak ada surat yang menjelaskan mengapa mentornya bunuh diri. Tidak ada moment epifani di mana semuanya masuk akal.
Yang dia dapatkan adalah belajar hidup dengan pertanyaan tanpa jawaban.
Beberapa hal tidak bisa dijelaskan. Beberapa kehilangan tidak bisa diperbaiki. Beberapa rasa sakit tidak pernah sepenuhnya hilang.
Tapi Anda masih bisa hidup. Anda masih bisa menemukan momen kebahagiaan. Anda masih bisa mencintai—bahkan ketika takut kehilangan lagi.
Apollo Mengajarkan Kehadiran
Anjing hidup di saat sekarang. Mereka tidak memikirkan kemarin. Mereka tidak khawatir tentang besok.
Apollo tidak duduk merenungkan kenapa tuannya meninggalkannya. Dia tidak memikirkan masa depan yang tidak pasti.
Dia hanya ada—di ruangan ini, di momen ini, dengan orang ini.
Dan perlahan, narator belajar melakukan hal yang sama.
Tidak selalu. Tidak sempurna. Tapi sedikit demi sedikit, dia belajar untuk hadir di hidupnya sendiri—alih-alih hidup di masa lalu atau takut akan masa depan.
Penutup: Hadiah dari Kehilangan
Sigrid Nunez menulis "The Friend" dari tempat yang sangat personal. Ini bukan hanya fiksi—ini adalah meditasi tentang duka, persahabatan, dan bagaimana kita bertahan setelah kehilangan yang tidak bisa diperbaiki.
Buku ini tidak memberikan jawaban mudah. Tidak ada formula untuk mengatasi kesedihan. Tidak ada langkah-langkah sederhana untuk menemukan makna setelah kehilangan.
Yang ditawarkannya adalah kebenaran: bahwa kesedihan itu berantakan, tidak linear, dan sangat personal. Dan bahwa kadang, hal yang menyelamatkan kita bukan yang kita harapkan.
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?
1. Kehadiran Lebih Kuat daripada Kata-Kata
Kita hidup di budaya yang obsesi dengan "memperbaiki" orang yang sedih. Kita ingin mengatakan hal yang tepat. Kita ingin membuat mereka merasa lebih baik.
Tapi kadang, yang paling dibutuhkan adalah hanya ada. Duduk dalam keheningan. Tidak mencoba memperbaiki. Hanya menemani.
Pelajaran: Jangan takut untuk hadir tanpa solusi. Kadang itu sudah cukup.
2. Tanggung Jawab Bisa Menyelamatkan
Ketika Anda tenggelam dalam kesedihan, mudah untuk menyerah. Mudah untuk berhenti peduli tentang segalanya.
Tapi ketika ada makhluk hidup yang bergantung pada Anda—anjing, kucing, tanaman, atau bahkan diri Anda sendiri—Anda harus bangkit.
Pelajaran: Kadang kita tidak bisa melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Tapi kita bisa melakukannya untuk orang (atau makhluk) lain. Dan itu bisa menyelamatkan kita.
3. Kesedihan Tidak Punya Timeline
Masyarakat memberitahu kita untuk "move on." Untuk "get over it." Untuk kembali normal setelah beberapa minggu atau bulan.
Tapi kesedihan tidak bekerja seperti itu. Kadang butuh tahun. Kadang tidak pernah sepenuhnya hilang.
Pelajaran: Beri diri Anda izin untuk bersedih selama yang Anda butuhkan. Tidak ada yang salah dengan Anda jika prosesnya lambat.
4. Koneksi Terjadi di Tempat yang Tidak Terduga
Narator tidak mencari koneksi. Dia tidak mencari komunitas. Dia hanya mencoba bertahan.
Tapi melalui Apollo, koneksi datang padanya—dengan tetangga, dengan orang asing di taman, dengan bagian dari dirinya yang dia pikir sudah mati.
Pelajaran: Tetaplah terbuka. Kadang hadiah datang dalam bentuk yang paling tidak kita harapkan.
Pertanyaan untuk Anda
Sigrid Nunez tidak memberikan jawaban. Dia memberikan pertanyaan.
Jadi sekarang untuk Anda:
- Kehilangan apa yang masih Anda bawa yang mungkin perlu Anda duduki, bukan lari darinya?
- Siapa atau apa yang hadir untuk Anda ketika Anda paling membutuhkannya—bahkan tanpa kata-kata?
- Tanggung jawab apa dalam hidup Anda yang sebenarnya menyelamatkan Anda?
Anda mungkin tidak punya Great Dane seberat 80 kg. Anda mungkin tidak kehilangan mentor karena bunuh diri.
Tapi kita semua punya kehilangan. Kita semua punya kesedihan. Kita semua bertanya-tanya bagaimana terus hidup ketika dunia terasa terlalu berat.
Dan jawaban yang "The Friend" tawarkan adalah sederhana dan mendalam:
Satu langkah pada satu waktu. Satu hari pada satu waktu. Dengan kehadiran—milik kita atau orang lain—sebagai jangkar.
Tidak selalu akan baik-baik saja. Tapi kita akan bertahan. Dan kadang, itu sudah cukup.
Tentang Buku Asli
"The Friend" diterbitkan pada tahun 2018 dan memenangkan National Book Award untuk Fiction. Ditulis oleh Sigrid Nunez, penulis kelahiran New York yang telah menulis delapan novel dan berbagai karya non-fiksi.
Buku ini adalah meditasi yang lembut namun powerful tentang duka, dengan gaya yang tidak konvensional—campuran memoir, esai, dan fiksi. Penuh dengan referensi sastra dari Flaubert hingga Simone Weil, dari Virginia Woolf hingga Susan Sontag.
Meskipun singkat (sekitar 200 halaman), buku ini sangat padat dengan observasi tentang kehidupan, kematian, menulis, persahabatan, dan hubungan manusia-hewan.
Untuk pengalaman lengkap, sangat disarankan membaca buku aslinya. Prosa Nunez sangat indah dan contemplatif—setiap kalimat dipilih dengan hati-hati. Ringkasan ini menangkap tema utama, tapi buku asli menawarkan kedalaman meditasi yang tidak bisa diringkas.
Sekarang pergilah dan temukan "friend" Anda sendiri—apakah itu orang, hewan, atau sesuatu yang lain yang menemani Anda dalam kesedihan dan membuat hidup sedikit lebih tertahankan.
Seperti yang Nunez tulis: "Aku tahu aku tidak sendirian dalam berpikir bahwa sangat mungkin untuk merasa kesepian di antara orang, tapi tidak pernah kesepian di hadapan anjing."