Daftar isi
Kotak Harta Karun
Bayangkan ini: Anda adalah anak kecil berusia enam tahun dengan kotak cerutu bekas yang Anda ubah menjadi "kotak harta karun."
Di dalamnya, Anda simpan semua hal yang menurut orang lain mungkin tidak berguna tapi bagi Anda sangat berharga: kerang dari pantai, biji aprikot kering, koin mengkilap, catatan kecil dari peri yang konon tinggal di halaman Anda.
Setiap kali ada tamu, Anda dengan bangga membuka kotak itu. Satu per satu, Anda ceritakan tentang setiap harta—dari mana asalnya, kenapa penting, apa yang membuatnya istimewa.
Bukan harta karunnya sendiri yang penting—tetapi cerita di baliknya. Koneksi yang tercipta ketika Anda berbagi. Senyum di wajah orang ketika mereka mendengar Anda bercerita dengan mata berbinar.
Ini adalah cerita yang diceritakan Samin Nosrat tentang tetangganya, Miya. Dan ini adalah metafora sempurna untuk apa yang dia lakukan dalam "Good Things."
Karena buku ini bukan hanya tentang resep. Buku ini adalah kotak harta karun Samin—diisi dengan hal-hal yang dia kumpulkan selama seumur hidup memasak: resep dari neneknya, teknik yang dipelajari dari chef dunia, ritual sederhana yang mengubah memasak dari tugas menjadi kegembiraan, dan pelajaran bahwa makanan paling enak adalah yang dibagi dengan orang yang kamu cintai.
Samin berkata: "Resep, seperti ritual, bertahan karena diwariskan kepada kita—entah dari leluhur, tetangga, teman, orang asing di internet, atau dari saya kepada Anda. Resep tertulis hanyalah umpan yang berkilau untuk warisan sejati: benang koneksi yang akan terurai ketika Anda memasaknya."
Dan dalam dunia yang semakin terisolasi, di mana kita makan sendirian sambil scroll telepon, di mana restoran cepat saji menggantikan makan malam keluarga—Samin mengingatkan kita: ada hal yang lebih penting dari sekadar kenyang. Ada koneksi. Ada ritual. Ada cinta.
Bagian 1: Dari Depresi ke Meja Makan—Perjalanan Samin
Setelah Kesuksesan, Kekosongan
Anda mungkin kenal Samin Nosrat dari buku pertamanya, Salt, Fat, Acid, Heat—buku masak yang revolusioner, bestseller, pemenang James Beard Award.
Atau dari serial Netflix dengan nama yang sama, di mana Samin berkeliling dunia mengeksplorasi empat elemen memasak dengan kegembiraan yang menular.
Atau dari podcast Home Cooking yang dia host bersama Hrishikesh Hirway selama pandemi—podcast yang membawa ketenangan dan komunitas ke dapur jutaan orang.
Dari luar, hidup Samin terlihat sempurna. Sukses. Terkenal. Dicintai jutaan fans.
Tapi di dalam? Samin sedang berjuang.
Setelah kesuksesan besar, dia jatuh ke dalam depresi. Merasa kesepian meskipun dikelilingi orang. Kehilangan kegembiraan dalam memasak—hal yang selalu menjadi sumber kenyamanannya.
Lalu ayahnya meninggal. Dan kesedihan yang sudah berat menjadi hampir tak tertahankan.
Pada satu titik, Samin bahkan mencoba mengembalikan uang muka untuk buku kedua ini ke penerbitnya. "Aku tidak bisa melakukannya," pikirnya. "Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan."
Ritual yang Menyelamatkan
Tapi di tengah kegelapan itu, ada cahaya kecil: ritual Senin malam.
Setiap Senin malam, Samin dan sekelompok kecil teman berkumpul untuk makan malam bersama. Tidak ada yang mewah. Kadang hanya pasta sederhana. Kadang roast chicken. Kadang semangkuk sup.
Yang penting bukan makanannya—tetapi ritual berkumpul. Duduk bersama. Berbagi cerita. Tertawa. Kadang menangis. Merasakan bahwa Anda tidak sendirian.
Perlahan, makan malam Senin malam ini menjadi jangkar yang menahan Samin tetap terhubung dengan kehidupan. Dan dari ritual sederhana ini, dia menemukan kembali mengapa dia jatuh cinta dengan memasak sejak awal:
Bukan karena teknik yang sempurna. Bukan karena plating yang Instagram-worthy. Tetapi karena memasak adalah cara untuk mencintai orang.
Dan dari pelajaran itu, lahirlah "Good Things."
Bagian 2: Filosofi di Balik Buku—Resep sebagai Ritual Transformasi
Resep Bukan Instruksi, Tetapi Warisan
Samin punya hubungan rumit dengan resep.
Di satu sisi, dia menulis resep—itu pekerjaannya. Di sisi lain, dia tahu bahwa resep membuat janji yang mustahil: "Ikuti instruksi ini, dan Anda akan mendapat hasil yang sama setiap kali."
Tapi itu tidak benar.
Jika Samin membuat saus tomat hari ini dan bulan depan, tomatnya berbeda. Jadi sausnya berbeda. Kompor dan panci Anda berbeda dari punyanya. Jadi hasilnya berbeda.
Resep bukan formula sains—resep adalah titik awal untuk percakapan antara Anda, bahan, dan intuisi Anda.
Samin mengutip penyair dan pembuat pie Kate Lebo yang mendeskripsikan resep sebagai "ritual yang mentransformasi."
Dan di sinilah filosofi "Good Things" berbeda dari banyak buku masak lain:
Samin tidak ingin Anda mengikuti resep dengan buta. Dia ingin Anda memahami resep—sehingga Anda bisa berimprovisasi, bereksperimen, dan akhirnya membuat makanan yang terasa seperti milik Anda sendiri.
Dua Jenis Resep
Dalam "Good Things," Anda akan menemukan dua jenis instruksi:
1. Resep Presisi—untuk hal-hal yang membutuhkan ketepatan. Seperti chili crisp Calabrian-nya, di mana bumbu diukur dalam gram karena keseimbangan rasa sangat penting. Atau focaccia tinggi yang kenyal, di mana timing dan teknik sangat krusial.
2. Paragraf Deskriptif—untuk hal-hal yang lebih intuitif. Seperti cara membuat salad dressing yang enak ("gunakan bahan terbaik Anda—ini bukan tempat untuk berhemat"), atau cara memanfaatkan sayuran apapun yang ada di kulkas dengan flowchart sederhana.
Beberapa pembaca frustrasi dengan pendekatan ini. "Saya ingin resep yang jelas!" kata mereka. "Bukan filosofi!"
Tapi Samin percaya: jika dia hanya memberikan ikan, Anda makan satu kali. Jika dia mengajarkan cara memancing—cara berpikir tentang rasa, tekstur, keseimbangan—Anda bisa makan selamanya.
Bagian 3: Hal-Hal Baik yang Ditemukan dalam Buku
1. Saus dan Bumbu—Fondasi Rasa
Buku dimulai dengan hal yang menurut Samin paling penting: saus dan bumbu.
Bukan karena dia tidak suka protein atau sayuran. Tetapi karena saus adalah cara termudah untuk mengubah makanan biasa menjadi luar biasa.
Ada Chili Crisp Calabrian—bumbu crunchy, pedas, sedikit manis yang bisa mengubah nasi putih polos menjadi hidangan yang membuat Anda ingin nambah lagi. Samin bilang dia membuat toples besar dan memberikannya sebagai hadiah—karena begitu orang mencoba, mereka akan selalu ingin lebih.
Ada Pasta Lemon Awet—bukan hanya lemon yang diasinkan, tetapi diblender menjadi pasta yang bisa ditambahkan ke segalanya: salad dressing, marinade, yogurt untuk dip. Satu sendok makan dan hidangan Anda punya brightness yang kompleks.
Ada Labneh dengan Herba dan Bawang Putih—yogurt Yunani yang digantung sampai super thick, dicampur dengan herba segar dan bawang putih. Sempurna untuk dioleskan di roti, dijadikan dip, atau bahkan diletakkan di atas sayuran panggang.
Samin tidak hanya memberikan resep—dia memberikan strategi. Dia bilang: "Buat ini di awal minggu. Simpan di kulkas. Dan sepanjang minggu, Anda punya building blocks untuk membuat makanan yang enak tanpa harus mulai dari nol setiap kali."
2. Sarapan—Ritual Pagi yang Menghibur
Ada Pancake Custard Ricotta—lembut di dalam, crispy di luar, dengan kekayaan ricotta yang membuat Anda tidak perlu sirup (meskipun sirup maple tetap ide bagus).
Samin bercerita bagaimana dia mengembangkan resep ini selama bertahun-tahun, mencari pancake yang tidak bikin berat di perut tapi tetap memuaskan. Hasilnya adalah pancake yang terasa seperti pelukan hangat di pagi hari.
Ada juga cara sederhana untuk membuat telur yang sempurna—bukan resep rumit, tetapi teknik: panaskan pan dengan benar, gunakan mentega yang cukup, jangan terburu-buru.
Karena sarapan, menurut Samin, bukan hanya tentang mengisi perut. Sarapan adalah cara Anda memulai hari. Jika Anda memasak dengan perhatian dan cinta untuk diri sendiri di pagi hari, Anda membawa energi itu ke seluruh hari.
3. Ayam Panggang Saffron—Centerpiece yang Showstopping
Ini adalah resep yang semua orang bicarakan ketika mereka membaca buku ini.
Ayam panggang dengan saffron—ayam utuh yang dilumuri dengan mentega saffron, dipanggang sampai kulitnya golden dan crispy, dagingnya juicy dan penuh rasa.
Saffron adalah bumbu termahal di dunia. Tapi Samin bilang: ini adalah saat yang tepat untuk menggunakannya. Karena ayam panggang adalah ritual—cara untuk mengumpulkan orang, cara untuk merayakan, cara untuk mengatakan "Anda penting bagi saya."
Dia memberikan tips detail: bagaimana mendapatkan kulit yang crispy (keringkan ayam dengan handuk kertas, biarkan uncovered di kulkas semalam). Bagaimana memastikan ayam matang merata (posisi sangat penting). Bagaimana membuat saus dari drippings (jangan buang cairan emas itu!).
Tapi yang lebih penting dari teknik adalah niat. Samin bilang: "Ketika Anda memasak ayam ini untuk seseorang, Anda tidak hanya memberi mereka makan. Anda memberitahu mereka bahwa mereka layak mendapat perhatian, waktu, dan usaha Anda."
4. Focaccia Setinggi Langit—Roti untuk Berbagi
Focaccia adalah roti Italia yang chewy, penuh dengan lubang udara, disiram olive oil, ditaburi garam flaky.
Resep Samin menghasilkan focaccia yang setinggi langit—begitu tinggi dan lembut, Anda akan berpikir ada keajaiban terlibat.
Tapi tidak ada keajaiban—hanya kesabaran. Adonan perlu waktu untuk fermentasi. Perlu dilipat dengan lembut. Perlu waktu untuk istirahat.
Samin bilang membuat focaccia adalah meditasi. Anda tidak bisa terburu-buru. Anda harus mempercayai proses. Anda harus memberikan waktu.
Dan ketika focaccia keluar dari oven—hangat, harum, sempurna—Anda merasakan kebanggaan yang tidak bisa dibeli. Karena Anda membuat ini dengan tangan Anda sendiri.
Lalu Anda memotongnya. Berbagi dengan teman-teman. Dan melihat mata mereka menyala ketika mereka gigit. Dan Anda tahu: ini adalah kenapa memasak itu penting.
5. Yellow Cake dengan Frosting Cokelat—Nostalgia dalam Kue
Ini adalah kue yang Samin sempurnakan selama bertahun-tahun—bukan karena dia pastry chef, tetapi karena dia ingin mereplikasi kue yang dia ingat dari masa kecilnya.
Yellow cake yang lembut, moist, dengan frosting cokelat yang creamy dan tidak terlalu manis.
Bukan kue yang sophisticated. Bukan kue untuk Instagram. Tapi kue yang membawa Anda kembali ke ulang tahun masa kecil, ke potluck gereja, ke momen sederhana ketika kue masih tentang kegembiraan murni—bukan tentang kesan.
Samin bilang: "Kadang yang kita butuhkan bukan makanan yang paling inovatif atau paling trendy. Yang kita butuhkan adalah makanan yang terasa seperti pulang."
Bagian 4: Bukan Hanya Resep—Pelajaran Hidup di Antara Halaman
Tentang Membeli Bahan
Samin bukan tipe chef yang bilang "Anda harus beli bahan organik premium untuk semua."
Dia realistis. Dia tahu tidak semua orang punya budget unlimited atau akses ke pasar petani.
Tapi dia memberikan hierarki prioritas:
Splurge (keluar uang lebih) untuk:
- Olive oil untuk salad dressing (karena rasanya akan sangat terasa—ini bukan tempat untuk olive oil murah)
- Garam berkualitas baik (karena Anda menggunakannya setiap hari)
- Produk musiman ketika sedang puncak rasa (tomat di musim panas, butternut squash di musim gugur)
Save (hemat) untuk:
- Bawang dan bawang putih (organic vs non-organic tidak membuat banyak perbedaan dalam rasa)
- Canned goods yang berkualitas (tomat kalengan dari brand bagus seringkali lebih enak daripada tomat segar di luar musim)
Dan tip paling penting: Cek tanggal panen olive oil. Kebanyakan orang tidak tahu bahwa olive oil punya tanggal terbaik. Semakin segar, semakin enak. Olive oil yang duduk di rak supermarket selama setahun sudah kehilangan banyak rasa.
Tentang Pressure Cooker
Samin adalah fans berat pressure cooker (Instant Pot atau sejenisnya).
Bukan untuk semua—tapi untuk dua hal spesifik yang dia buat secara religius:
1. Chicken Stock—yang biasanya butuh berjam-jam mendidih, bisa jadi dalam 45 menit di pressure cooker. Dan hasilnya sama kayanya, sama gelnya ketika dingin.
2. Dulce de Leche—karamel susu Argentina yang biasanya butuh berjam-jam mengaduk di kompor, bisa dibuat dengan memasukkan kaleng susu kental manis ke pressure cooker. Hasil: karamel yang sempurna tanpa usaha.
Samin bilang: "Teknologi bagus jika membantu Anda memasak lebih sering dengan lebih sedikit stres. Pressure cooker bukan tentang mengambil jalan pintas—tetapi tentang membuat hal-hal yang dulu tidak mungkin menjadi mungkin dalam kehidupan sibuk Anda."
Tentang Improvisasi
Salah satu bagian paling berharga dalam buku ini adalah flowchart sayuran.
Bukan resep spesifik, tetapi peta visual yang menunjukkan: "Punya sayuran apapun? Ini cara memasaknya: direbus, dipanggang, ditumis. Tambahkan ini untuk rasa. Sajikan dengan ini."
Beberapa orang frustrasi: "Ini terlalu vague!"
Tapi Samin percaya: "Jika saya memberitahu Anda persis cara membuat brokoli panggang dengan lemon dan bawang putih, Anda hanya tahu satu resep. Jika saya mengajarkan Anda bahwa SEMUA sayuran cruciferous (brokoli, kembang kol, Brussels sprouts) bekerja dengan cara yang sama—Anda sekarang bisa memasak puluhan sayuran tanpa resep."
Ini adalah filosofi mengajar vs filosofi memberikan ikan.
Bagian 5: Foto yang Berbicara—Kehidupan Nyata, Bukan Fantasi
Gambar dari Rumah Samin Sendiri
Fotografer buku ini adalah Aya Brackett—tetangga dan teman lama Samin.
Semua foto diambil di rumah Samin, di dapur Aya, di halaman mereka, dengan piring, mangkuk, dan kain yang sebenarnya mereka gunakan sehari-hari.
Tidak ada stylist profesional. Tidak ada set yang dibangun. Hanya kehidupan nyata—sedikit berantakan, sangat hangat, penuh cinta.
Anda melihat tangan yang tidak sempurna memotong roti. Anda melihat meja makan dengan taplak yang sedikit kusut. Anda melihat anjing Samin, Fava Bean, di latar belakang.
Dan itu membuat buku ini terasa accessible. Bukan fantasy kitchen dari majalah. Tetapi dapur nyata, di mana kehidupan nyata terjadi.
Desain yang Menyentuh
Designer Alvaro Villanueva menggunakan tekstil dan keramik favorit Samin sebagai backdrop dan pembuka bab.
Kertas yang digunakan adalah matte berkualitas tinggi yang terasa seperti kain—bukan glossy seperti kebanyakan buku masak.
Ada ribbon bookmark—detail kecil yang menunjukkan: buku ini dimaksudkan untuk digunakan, dibuka terus-menerus, ditandai dengan percikan minyak dan noda mentega.
Karena buku masak terbaik bukan yang duduk cantik di rak—tetapi yang hidup di dapur Anda, penuh dengan catatan di margin dan halaman yang terlipat.
Bagian 6: Pelajaran Terbesar—Memasak Adalah Cara Mencintai
1. Perhatian Adalah Cinta
Samin berkata: "Memasak adalah tentang berbagi waktu dan perhatian dengan orang dalam hidup kita."
Di dunia yang sibuk, memberikan perhatian penuh adalah hadiah terbesar.
Ketika Anda memasak untuk seseorang—bukan hanya melempar makanan di piring, tetapi benar-benar memasak dengan perhatian—Anda mengatakan: "Anda penting. Anda layak mendapat waktu saya. Saya peduli tentang Anda."
Pelajaran: Cinta bukan hanya kata-kata. Cinta adalah tindakan. Dan memasak adalah salah satu cara paling tua dan paling universal untuk menunjukkan cinta.
2. Ritual Menciptakan Koneksi
Makan malam Senin malam yang menyelamatkan Samin dari depresi bukan tentang makanan mewah.
Itu tentang konsistensi. Tentang tahu bahwa setiap Senin, ada tempat untuk Anda. Ada orang yang menunggu. Ada momen di mana Anda tidak sendirian.
Pelajaran: Ritual tidak perlu grand. Ritual bisa sederhana—kopi pagi dengan pasangan, makan malam Jumat dengan keluarga, Sunday brunch dengan teman. Yang penting adalah konsistensi dan niat.
3. Kesempurnaan Adalah Musuh Kegembiraan
Samin mengakui dia punya kecenderungan perfeksionis.
Tapi dia belajar: jika Anda menunggu sampai segalanya sempurna—resep sempurna, timing sempurna, tamu sempurna—Anda tidak akan pernah memasak.
Pelajaran: Lebih baik makan malam sederhana dengan teman yang Anda cintai daripada tidak ada makan malam sama sekali karena Anda takut tidak sempurna.
4. Berbagi Membuat Kesenangan Berlipat Ganda
Samin bilang: "Saya percaya berbagi kesenangan hidup hanya memperbesar mereka."
Ketika Anda menemukan resep yang enak, bagikan. Ketika Anda punya panen tomat melimpah, bagikan. Ketika Anda memasak terlalu banyak, undang tetangga.
Pelajaran: Kelimpahan yang dibagi menjadi lebih berlimpah. Kegembiraan yang dibagi menjadi lebih gembira.
5. Memasak Bukan Tugas—Memasak Adalah Hadiah
Banyak orang melihat memasak sebagai pekerjaan rumah tangga yang harus diselesaikan.
Tapi Samin mengundang kita untuk reframe: Memasak adalah hadiah yang Anda berikan—kepada diri sendiri, kepada orang yang Anda cintai, kepada komunitas Anda.
Pelajaran: Perubahan mindset kecil ini mengubah segalanya. Dari "Aku harus memasak" menjadi "Aku bisa memasak"—dari beban menjadi privilege.
Penutup: Hal-Hal Baik dalam Hidup
Samin Nosrat menulis "Good Things" di periode tergelap hidupnya—depresi, kesedihan, kehilangan.
Dan melalui proses menulis buku ini, dia menemukan kembali apa yang membuatnya jatuh cinta dengan memasak: bukan kesempurnaan, tetapi koneksi.
Buku ini bukan hanya kumpulan resep—meskipun resepnya luar biasa. Buku ini adalah undangan untuk hidup lebih penuh.
Undangan untuk memperlambat. Untuk memperhatikan. Untuk memasak dengan niat. Untuk berbagi dengan murah hati. Untuk menemukan kegembiraan dalam ritual sederhana.
Dan untuk mengingat bahwa hal-hal baik dalam hidup sering kali adalah hal-hal sederhana: roti yang baru dipanggang, teman yang tertawa di meja makan Anda, momen tenang memotong sayuran sambil mendengarkan musik.
Pertanyaan untuk Anda
Samin meninggalkan kita dengan undangan:
- Apa "hal-hal baik" dalam hidup Anda? Ritual apa yang membuat Anda merasa terhubung? Makanan apa yang membawa Anda kembali ke rumah?
- Kapan terakhir kali Anda memasak dengan benar-benar hadir? Tidak sambil scroll telepon. Tidak terburu-buru. Hanya Anda, bahan, dan proses.
- Siapa yang ingin Anda kumpulkan di meja Anda? Teman yang belum Anda lihat lama? Keluarga yang Anda ambil granted? Tetangga yang Anda selalu bilang "kita harus makan bareng suatu saat"?
- Ritual apa yang bisa Anda mulai? Tidak perlu grand. Mungkin hanya kopi Sabtu pagi dengan pasangan. Atau makan malam Minggu dengan anak-anak. Atau potluck bulanan dengan teman.
Dan yang paling penting:
Kapan Anda akan berhenti menunggu "waktu yang tepat" dan mulai memasak, berbagi, dan terhubung—sekarang?
Karena seperti yang Samin tunjukkan:
Waktu yang tepat adalah sekarang.
Orang yang tepat adalah mereka yang sudah dalam hidup Anda.
Dan makanan yang tepat adalah apa pun yang Anda masak dengan cinta.
Jadi ambil buku ini—atau resep favorit Anda. Undang seseorang. Nyalakan kompor. Dan mulai ritual Anda sendiri.
Karena hal-hal baik dalam hidup tidak menunggu kesempurnaan. Hal-hal baik terjadi ketika kita memilih untuk hadir, memilih untuk peduli, dan memilih untuk berbagi.
Tentang Buku Asli
"Good Things: Recipes and Rituals to Share with People You Love" diterbitkan September 2024 dan langsung menjadi New York Times Bestseller.
Samin Nosrat adalah chef, guru, dan penulis bestseller "Salt, Fat, Acid, Heat" yang memenangkan James Beard Award. Dia menjadi host serial Netflix dengan nama yang sama dan co-host podcast populer "Home Cooking" bersama Hrishikesh Hirway.
Dia telah dinamai salah satu dari 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia oleh TIME dan Chef of the Year oleh Eater.
Yang membuat "Good Things" special adalah kerentanannya—Samin berbagi dengan jujur tentang depresi, kesedihan, dan bagaimana memasak menyelamatkannya. Ini membuat buku ini lebih dari sekadar buku masak—ini adalah memoir tentang menemukan makna melalui ritual sederhana.
Untuk pengalaman penuh—foto-foto indah dari kehidupan nyata Samin, margin notes yang penuh wisdom, dan resep yang tested berkali-kali—sangat disarankan membaca buku fisiknya. Kualitas kertas, ribbon bookmark, dan desain keseluruhan membuat buku ini terasa seperti harta karun yang Anda ingin simpan dan buka terus-menerus.